Ini adalah chapter 3, akhirnya fanfic ini tetap dilanjutkan karena tampaknya banyak juga yg berminat membaca ^^. Silahkan dinikmati ya!!!
Review!!!!!!
Chapter 3: Storm of Wishes
Temari duduk di meja yang berhadapan dengan jendela di kamarnya. Tangannya menari dengan lincah di atas buku catatannya yang terbuka. Cahaya dari lampu belajar memberikan sedikit penerangan dari gelapnya malam.
Di bukunya, ia menulis begini....
Tanggal X bulan
Dari diriku yang kemarin
Untuk diriku esok hari
Hari ini Shikamaru datang memenuhi janji kecil kami kemarin. Aku tak menyangka ia akan benar-benar datang pagi ini. Saat pertama melihatnya aku tak mengenalinya dan beranggapan ia hanyalah orang asing. Namun dengan segera saat kuingat video yang kutonton tadi pagi, aku menyadari ialah Shikamaru.
Kenapa aku membuat janji dengannya untuk bertemu dengannya hari ini? Aku tak ingat. Mengapa aku menjalin kontak dengan orang lain meskipun aku seharusnya tetap sendiri? Aku tak bisa ingat.
Aku tak bisa ingat.
Tangan Temari berhenti menulis, setitik air mata jatuh mengalir menetes di bukunya. Tangan kirinya berusaha menghapus air matanya namun air matanya tetap mengalir tak terhentikan. Bukunya kini terhujani oleh air mata yang berasal darinya. Dengan tangan gemetar dan dirInya yang masih terisak, Temari kembali menulis.
Ya, meskipun aku tak ingat, namun Shikamaru datang hari ini. Pada awalnya aku takut, namun ia ternyata orang yang cukup baik. Menurut dari segi pandangku, hari ini Shikamaru terlihat sedih dan muram. Atau ia memang begitu juga kemarin? Aku tak begitu ingat.
Kami juga membicarakan banyak hal. Tidak, tidak terlalu banyak. Namun aku tahu Shikamaru suka bolos sekolah. Ia mengatakan ia tidak memiliki motivasi untuk pergi sekolah. Padahal, kalau aku bisa, aku ingin pergi ke sekolah. Bukankah di sekolah kita bisa mendapatkan banyak kenangan yang berharga? Entahlah, aku berusaha memberitahunya tentang hal itu namun ia mengatakan ia tak akan memiliki kenangan apapun tentang sekolah jika ia tertidur terus. Mengapa ia selalu tidur saat sekolah? Aku lupa menanyakan hal itu. Akan kutanyakan itu besok.
Tolong tanyakan itu besok.
Kemudian, aku menanyakan pada Shikamaru apakah kami bisa kami bisa menjadi teman, ia mengatakan sesuatu yang membingungkan namun aku menganggapnya sebagai "ya".
Kami adalah teman.
Air mata Temari kembali tumpah menghujani buku serta telapak tangannya. 'Teman', 'esok hari' dan juga 'kebahagiaan' adalah suatu hal yang tak pernah Temari ingat sampai saat ini.
Ia dan Shikamaru adalah teman.
Dan besok ia akan melupakannya.
Temari kembali mencoba menenangkan dirinya. Ia kembali menulis.
Setelah itu, aku memeluk Shikamaru. Tanpa sadar, aku melakukan hal itu. Jika kuingat sekarang, hal itu membuatku malu. Shikamaru tampak kaget, namun ia tak memberontak dan justru berusaha menenangkanku dengan mengelus kepalaku. Sayang sekali, aku tak merekam semua itu dengan video. Benar-benar sayang sekali. Saat itu adalah kenangan manis yang sangat jarang kudapatkan. Seandainya aku merekamnya dengan video, aku akan selalu memutarnya agar aku selalu ingat.
Akhirnya, setelah sore datang, kami pun pulang. Kami pulang ke rumah masing-masing setelah membuat janji untuk kembali bertemu untuk keesokkan harinya. Hanya sebuah janji sederhana. Namun, Shikamaru berjanji untuk bertemu dengan diriku yang esok hari, sama halnya dengan ia membuat janji pada diriku yang kemarin untuk bertemu dengan diriku hari ini.
"Sampai besok", begitu katanya.
Apakah aku telah berbuat kesalahan? Padahal seharusnya aku menjauhi kontak dengan orang lain. Tapi....tapi....
"Sampai besok," Temari menggumamkannya disela-sela isak tangisnya, mengingat ulang janji yang telah ia buat dengan Shikamaru. Ia hanya seorang gadis biasa. Manusia biasa. Bagaimanapun juga, ia mengakui kalau ia merasa hampa hidup di dunianya sendiri. Dunia yang terdiri dari 'masa sekarang' tanpa masa lalu dan masa depan. Dunia dimana ia hidup sendirian. Dunia dimana ia merindukan kehadiran seseorang di sisinya.
"Apakah aku akan bertemu dengan Shikamaru besok? Apakah ia akan menepati janji itu? Apakah aku akan mengingatnya?"
Shikamaru menatap jendela di luar kelas. Ia melihat awan kelabu, disertai dengan petir dahsyat dan juga hujan lebat. Betapa mengherankannya, padahal kemarin cuaca masih cerah namun tiba-tiba cuaca menjadi berubah seekstrim ini. Memang beginilah cuaca kota Konoha, sulit disangka dan ditebak. Buktinya, sekarang Shikamaru tidak membawa payung dan ia tahu seusai sekolah pun hujan ini tidak akan reda.
Dan tepat seperti dugaan, setelah sekolah usai sekalipun, hujan deras masih mengguyur seluruh kota Konoha. Bahkan meski Shikamaru menunggu di dalam sekolah dan terpaksa mengikuti semua pelajaran – meskipun ia terus tertidur – hujan masih belum reda juga.
Akhirnya, Shikamaru memutuskan untuk menerjang hujan dan pulang ke rumah. Ia tak heran melihat dirinya basah kuyup setelah sampai ke rumah. Setelah mengunci pintu depan, Shikamaru masuk ke rumah dan menghiraukan lantai yang basah oleh semua air hujan yang menetes dari seragam sekolahnya.
Shikamaru mendesah saat menyadari rumahnya kosong dan dengan segera naik ke lantai atas. Ia mengambil baju ganti di kamarnya dan segera pergi mandi, baju seragamnya yang basah ia lempar ke keranjang tempat baju kotor. Setelah selesai mandi dan merasa telah segar kembali, ia kembali ke kamar dan mengambil novel untuk kembali ia baca.
Shikamaru merebahkan dirinya di tempat tidur yang hangat dengan sebuah novel untuk mengusir kebosanannya. Suasana tenang – bunyi petir adalah pengecualian – seperti ini cukup ia nikmati.
Jam demi jam berlalu, namun hujan masih tak kunjung reda. Shikamaru melihat jam dan menyadari sekarang sudah jam 7 malam. Saatnya untuk makan malam, namun sayang ia sama sekali tidak lapar.
Shikamaru mengalihkan perhatiannya dan menatap keluar jendela dimana hujan mengguyur deras semua yang ada di luar. Ia bangun dari tempat tidur dan mendekati jendela. Tangannya yang tak memegang novel menyentuh permukaan kaca jendela yang dingin dan lembab karena hujan. Sesekali petir menyambar, menciptakan seberkas cahaya menyilaukan.
'Apakah Temari datang hari ini?' tanya Shikamaru dalam hati. Dari rumahnya ini, ia tak bisa melihat bukit yang terletak di sudut kota. Shikamaru mendesah, tak mungkin Temari datang hari ini. Hujan sudah turun semenjak jam sembilan pagi, ia tidak tahu biasanya jam berapa Temari datang ke bukit namun jelas hari ini Temari tidak akan datang. Atau setidaknya walapun gadis aneh itu datang namun ia pasti sudah pulang. Lagipula sekarang sudah malam.
Namun, suatu perasaan ganjil membuat Shikamaru merasa gelisah. Entah kenapa ia takut Temari ada di bukit dan sedang menanti kedatangannya.
'Itu tidak mungkin,' pikir Shikamaru cepat. Orang macam apa yang akan menunggu berjam-jam di bawah terpaan hujan selebat ini?
Namun Shikamaru mengingat janji kecil yang ia buat bersama Temari. "Sampai besok" adalah sebuah kalimat perpisahan sederhana, bagi Shikamaru itu hanyalah sekedar basa-basi. Tapi, Shikamaru ingat betapa senangnya Temari ketika melihat ia datang kemarin, ia juga ingat Temari sempat menangis dalam pelukannya kemarin.
'Apa-apaan ini!? Aku baru kenal dia dua hari!?' pikir Shikamaru kesal karena membiarkan dirinya sibuk memikirkan seorang gadis yang tidak begitu ia kenal.
Shikamaru berbalik dan berjalan kembali ke tempat tidurnya. Dalam hatinya, ia merasa gelisah. Semua wajah Temari yang tertawa dan juga janji kecil yang ia buat kembali terngiang di telinganya
'Ok, aku akan pergi ke bukit itu cuma untuk memastikan Temari memang tidak ada di sana,' pikir Shikamaru dalam hati dan dengan cepat mengambil payung dan segera keluar menerjang hujan.
Shikamaru menyadari memakai payung di bawah terpaan hjan sederas ini merupakan hal yang percuma. Ia berusaha untuk tidak memperdulikan sepatu dan celananya yang basah. Ia hanya terus berjalan menelusuri jalanan sepi menuju bukit.
Ia kembali teringat saat Temari mengucapkan 'sampai besok' dengan senyum polosnya. Shikamaru menggelengkan kepalanya dan mulai berlari. Ia memiliki firasat buruk bahwa Temari sungguh menunggunya di bawah terpaan hujan ini, meskipun jam ditangannya telah menunjukkan pukul setengah delapan malam, Shikamaru merasa Temari sungguh menunggunya di sana.
Dengan cepat Shikamaru mendaki bukit kecil dan segera pergi ke tempat biasanya ia memandangi awan.
Tak ada siapapun.
Shikamaru mendesah lega, ia senang apa yang ia takutkan ternyata memang hanya sebuah prasangka buruk, bukan kenyataan. Shikamaru berbalik arah namun wajahnya segera memucat ketika melihat sesosok gadis berambut pirang terduduk di bawah pohon tak jauh darinya.
"Temari!" Shikamaru tanpa sadar berteriak dan menghampiri Temari yang terduduk lemas menyandarkan diri ke pohon. Ia melihat Temari sangat basah kuyup, ia tak bisa melihat bagian mana dari seluruh tubuh gadis itu yang tak basah karena air. Mata Temari tertutup dan dadanya turun naik. Shikamaru menyentuh kening Temari dan terkejut saat merasakan hawa panas di kening gadis itu.
'Tentu saja ia terkena demam! Ia menungguku di bawah terpaan hujan mungkin lebih dari 10 jam!!' omel Shikamaru dalam hati ke dirinya sendiri. Shikamaru merasa menyesal. Ia melepaskan jaketnya – yang setidaknya cukup tahan air – dan menyelimuti tubuh Temari dengan itu. Dengan hati-hati Shikamaru mengangkat tubuh Temari dari tanah, ia tak peduli dengan gendongan macam apa yang harus ia gunakan. Apakah itu gendongan di belakang seperti sedang menggendong anak kecil ataukag gendongan di depan seperti pengantin baru.
Shikamaru melihat mata Temari perlahan-lahan terbuka, ia berusaha tidak memikirkan dirinya yang sedang mengendong Temari ala pengantin baru. Dengan lemah mata Temari melihat Shikamaru. Shikamaru terpaku sejenak ketika seutas senyum terpulas di sana, di bibir Temari.
"Akhirnya kau datang."
Deg!
"Kau datang, Shikamaru-kun. Kau menepati janjimu."
Deg!
"Aku senang, aku tetap menunggumi di sini, aku tak bisa pergi karena kupikir kau pasti akan datang."
Deg!
"Dan kau datang."
Shikamaru terdiam sejenak. Muncul perasaan aneh di hatinya. Di matanya, Temari terlihat begitu aneh. Abnormal. Apakah gadis ini benar-benar menunggunya selama itu hanya untuk seseorang yang baru ia kenal kurang dari tiga hari? Shikamaru tidak dapat mengerti pikiran gadis yang ada dalam gendongannya ini. Dalam benaknya muncul rasa takut dan perasaan tak nyaman pada Temari. Abnormal merupakan suatu kondisi di luar normal. Kenapa Temari bersikap abnormal? Shikamaru tak tahu jawabannya.
Pemuda itu menggelengkan kepalanya. Berusaha mengusir rasa tak nyaman yang hinggap di dadanya. Ia segara berlari di bawah terpaan hujan, dengan Temari yang sakit demam di dalam gendongannya.
Segitu aja dulu chapter 3.....duh makin lama ini fanfic beneran makin sulit, ini benar-benar tantangan buatku!!!!! Ok, untuk yg udah setia mengikuti sampai sini, kuucapkan terima kasih banyak!!! Terus dukung ya (emangnya pertandingan?)!!!!!!
Reviewnya jangan lupa!!!!!
