Tittle : When We Called It Love
Maincast : Super Junior Members, and another characters
Pairing : Donghae – Eunhyuk (jika saya menghendaki. Huahaha)
Rated : T (entah kalo ntaran berubah)
Summary : Eunhyuk benci dengan segala hal tentang masa lalunya. Semua masa lalu yang berhubungan dengan pertemuan, kesetiaan, perjanjian, dan... cinta. /"Hyukkie, bolehkah aku menemanimu?"/ "Donghae ssi, kenapa pertemuan kita harus secepat ini? /
Disclaimer : All casts belongs to God and their parents. But this fanfict is, definitely, belong to me.
Warning : Maybe typo(s), no genderswitch. Kata-katanya mungkin sedikit kasar, makanya ratednya aku buat T.
Eunhyuk sama Donghae umurnya sama-sama 10 tahun waktu ini ^^
So, I really hope you love it! Happy reading ^_^
-And you stole my heart, with just one look-
Part II : Just a Moment, Really?
"Aku mengganggumu ya? Ah, mianhe" lelaki di hadapan Eunhyuk membungkuk sedikit, "Tapi.. bisakah aku duduk disini? Tempat lain sudah penuh" ucapnya sopan.
Eunhyuk kembali terpaku. Ia terjebak di dua momen yang bertolak belakang ; Menyenangkan –entah itu dideskripsikan dengan menyenangkan atau apa, karena pada intinya perutnya dihinggapi kupu kupu yang berterbangan bebas– tapi juga menyebalkan. Pita suaranya, demi Tuhan, tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Eunhyuk merutuki dirinya. Pita suara, apa yang kau lakukan? Jangan jadi pengangguran! Enak saja, majikanmu ini sedang kehabisan suara, tahu!
Anak lelaki itu masih menatap Eunhyuk polos, kedua tangannya yang membawa gimbap mulai bergerak tidak nyaman, "Tidak boleh ya?" Wajahnya berubah mendung, "Yasudah, tidak apa-apa. Aku bisa menunggu meja lain kosong. Sekali lagi, mianhe sudah mengganggumu, aku—"
"Aniyo" Eunhyuk memotong perkataan anak lelaki itu cepat. Tuhan, terima kasih telah mengembalikan suaraku sebelum semuanya terlambat. Sebelum semuanya terlambat, berarti, ia, Lee Hyukjae, tidak ingin anak-imut-dihadapannya-yang-sedang-membawa-gimbab itu pergi.
"Maksudku, kau bisa duduk disini. Tidak apa-apa, kok" Eunhyuk mengukir senyum termanis yang pernah ia pasang.
"Aaah" anak itu tersenyum senang, matanya berbinar-binar. Eunhyuk hampir saja mengeluarkan isi tteokbokki dari mulutnya. "Kau benar-benar penyelamatku" anak itu berkata riang sambil mulai memakan gimbapnya.
"Ngomong-ngomong," Anak itu mulai membuka pembicaraan setelah mereka berdua terhanyut dengan makanan masing-masing, "Namamu siapa?"
Eunhyuk tersenyum, "Lee Hyukjae. Tapi panggil saja Eunhyuk"
"Ah, Lee Donghae imnida. Sepertinya kita sebaya bukan? Aku 10 tahun"
Eunhyuk kembali tersenyum manis, "Ne, kita seumuran ternyata"
Pembicaraan mereka selanjutnya menyusuri banyak hal. Eunhyuk berkali-kali tersenyum sembari menanggapi pembicaraan anak malaikat dihadapannya yang telah ia ketahui bernama Donghae. Rasanya agak aneh –tapi sangat menyenangkan– karena sosok dihadapannya itu benar-benar istimewa. Donghae bisa membuat Eunhyuk mempertahankan lekukan senyum di bibirnya. Biasanya, Eunhyuk paling tidak suka harus tersenyum lama-lama –pipinya bisa kempot, katanya.
"Setelah makan, kau mau berkeliling?" Tanya Donghae. Eunhyuk terdiam. Tidak ada yang menarik disini –setidaknya itu menurut Eunhyuk. Tidak ada yang menarik selain makanan-makanan yang baru disantapnya, "Entahlah"
"Sudah berapa kali kau kesini?" Donghae bertanya tanpa memandang Eunhyuk. Ia memandangi gimbapnya yang tinggal sedikit, menatapnya seolah-olah gimbap adalah barang kesayangannya yang paling berharga sedunia.
"Satu kali ini" Eunhyuk menjawab lalu memberikan cengiran lebar ketika melihat Donghae bingung. "Hahaha, waeyo?"
"Ani, tidak apa-apa. Hanya saja... rumahmu tidak jauh dari sini bukan? Kenapa baru sekali?"
Eunhyuk menghela nafas, "Aku anak rumahan, tidak suka ikut bepergian. Biasanya kalau orang tuaku pergi, aku dirumah. Yah, semacam penjaga rumah" ia tersenyum sendiri menyebut dirinya penjaga rumah.
"Kalau begitu," Donghae menatap Eunhyuk berkobar-kobar, "kau harus berkeliling taman ini."
"Memangnya harus?"
Donghae tertawa kecil, "Katamu appa, umma, dan hyungmu sedang-mengurusi-urusan-mereka-sendiri. Kalau kau kesepian, mungkin aku bisa menemanimu. Yah, kalau mau sih"
Eunhyuk tertegun. Entah kenapa rasa malas itu menguap dengan mudahnya setelah diusir dengan kata-kata aku-bisa-menemanimu. Yang ada di dirinya sekarang, adalah ingin berjalan menikmati Taman Bukhansan bersama Donghae. Sejauh mungkin, bahkan luas taman ini yang berhektar-hektar pun sanggup dikelilinginya, dengan Donghae disampingnya, tentu saja.
Eunhyuk tidak tahu sejak kapan ia merasa seperti 'itu'. Ini baru pertemuan pertama mereka, bukan? Jadi tidak seharusnya ada perasaan yang aneh. Bukan, bukan ada. Banyak perasaan aneh yang bersarang. Perasaan aneh yang benar-benar menyenangkan dan menenangkan.
Senyum itu, astaga, senyum itu, menenangkan sekali. Liku-liku wajahnya, bentuh hidungnya, bibir merahnya... Eunhyuk langsung menyukai segala hal yang ada dalam Donghae. Aneh sekali. Ini tidak normal.
Eunhyuk bahkan benar-benar berpikir bahwa Donghae adalah malaikat. Kepala dari para malaikat. Karena sepertinya pasukan malaikatnya telah menyengatkan sejuta watt listrik di kulitnya. Lalu dengan mudahnya melewati nadi, berjalan bersama sel-sel darahnya. Entah ia harus merutuk atau berterima kasih kepada para malaikat itu, telah membuatnya merasa benar-benar bahagia.
Ia merasa sedang berada di dongeng, drama, sinetron, film, atau apapun itu yang penting absurd. Sebelumnya, ia merasa jika jatuh cinta yang berada di film itu benar-benar mengerikan. Bahkan di kartun kesukaannya –Naruto Shippuden– jatuh cintanya pun dibuat sangat absurd. Mereka berkenalan, saling curi-curi pandang, berusaha mencari kesempatan, dan beragam sikap naif lainnya. Benar-benar absurd.
Tapi mengapa sekarang ke-absurd-an itu menghilang begitu saja? Kenapa semuanya terasa begitu nyata, real, atau apapunlah yang mengungkapkan bahwa itu bukanlah khayalan atau jatuh cinta yang dibuat-buat. Lihatlah Eunhyuk sendiri, ada yang salah dengan dirinya. Ia yakin itu.
"Bagaimana," Donghae membuka suara kembali, menyadari Eunhyuk tidak menjawab tawarannya, "mau tidak?"
Eunhyuk tersenyum lebar, "Kupikir itu bukan ide yang buruk"
Mereka berdua terdiam . Diam ini bukan tipe diam yang menegangkan, tidak sama sekali. Diam yang menenangkan. Sama seperti objek yang sedang mereka pandangi. Danau entah-apa-namanya airnya tenang, jernih, benar-benar mendamaikan.
Eunhyuk tidak yakin sudah berapa lama atau seberapa jauh ia menyusuri Taman Bukhansan, tapi yang jelas tenaganya masih penuh, tidak terkuras sedikitpun. Resep rahasianya, manusia-malaikat yang duduk disampingnya.
Ia menatap langit biru yang cerah dihiasi awan, lalu bibirnya membentuk senyum kecil. Bisakah ia menempuh jarak yang lebih jauh lagi? Berikan aku titian sejauh mungkin! 1000 kilometer? Tidak masalah. Biarkan Donghae disampingku, maka aku akan menyelesaikannya tanpa keringat.
Gila. Tapi Eunhyuk sepertinya tidak akan pernah mengakui bahwa ia telah merasakan cinta-pada-pandangan-pertama. Nah, cinta-pada-pandangan-pertama merupakan kata-kata paling absurd yang ia dengar. Ia benci dengan segala hal yang absurd.
Eunhyuk melirik Donghae yang menatap air danau dengan pandangan kosong. Wajah malaikatnya terlihat begitu tenang, damai, menyenangkan. Umurnya 10 tahun, tapi sudah memiliki garis ketampanan yang luar biasa. Ia tidak tahu akan setampan apa Donghae pada 10 tahun lagi. Garis ketampanannya bertambah , badannya kekar... membayangkan saja sudah membuatnya mau pingsan.
Astaga, ia terdengar seperti yeoja centil yang memikirkan sunbaenya.
Tapi imajinasinya tidak bisa dihentikan, terus-menerus melukis wajah Donghae masa depan. Matanya mungkin akan tetap sama, bibirnya, hidungnya—
"Hyukkie!" Eunhyuk menoleh dan mendapati hyungnya berdiri dengan wajah kesal, "Kemana saja sih? Kau apakan ponselmu, hah? Jangan menghilang tanpa jejak! Ujung-ujungnya kan aku yang repot" Taecyeon menggerutu sebal.
"Mianhe hyung. Aku mematikan ponselku. Hehehe" Eunhyuk menampilkan cengiran lebarnya. Taecyeon mendesah sebal, "Terserahlah, umma dan appa sudah menunggu di tempat parkir. Ayo cepat pulang!"
Eunhyuk tersentak... pulang? Ia tidak mempunyai minat untuk pulang. Lagi-lagi, malaikat disampingnya sudah memberinya kenyamanan seolah-olah ia berada di rumah, "Mwo? Kenapa cepat sekali?"
"CEPAT!? Cepat apanya?" Ah, Eunhyuk menyesal, Taecyeon hyung pasti kesal karena mencari kemana-mana, "Kita sudah berada di sini hampir tiga jam! Cepat apanya?"
Eunhyuk takjub, tidak menyangka. Memangnya sudah selama itu ya, ia dan Donghae berkeliling? Sepertinya tidak jauh, dan juga tidak lama kok.
"Eh" Taecyeon menoleh dan mendapati seorang anak laki-laki imut sedang menatapnya bingung, "Hyukkie, ini temanmu kah?"
Temanku. Ya, Lee Donghae adalah teman dari Lee Hyukjae. Maka Eunhyuk hanya mengangguk seadanya.
"Wah, berarti mengganggu ya?" Taecyeon memasang wajah menyesal, "Tapi bagaimana lagi, umma dan appa sudah menunggu. Maaf ya, kalau sudah mengganggu"
Eunhyuk memutar bola matanya. Bukan hanya sudah mengganggu, tapi sangat mengganggu.
Ia benci perpisahan. Sangat benci. Apalagi dengan segala hal yang sudah Donghae –dan pasukan malaikatnya– lakukan kepadanya hari ini. Perasaan senang, gembira, lenyap seketika. Kupu-kupu yang sejak tadi berterbangan di perut Eunhyuk, bersembunyi entah dimana.
Ia benar-benar berharap bisa bertemu dengan Donghae lagi. Pasti akan menyebalkan (dan menyedihkan) sekali hari-harinya. Suram.
Eunhyuk berdiri dengan gontai, tidak mengatakan apapun kepada Donghae yang memandangnya dengan ekspresi polos. Taecyeon tersenyum, "Nah, maafkan kami harus pergi dulu. Terima kasih telah menemani dongsaengku. Semoga harimu menyenangkan!"
Taecyeon menggeret adiknya dengan cara yang sedikit kurang manusiawi.
Malam harinya Eunhyuk sulit tidur memikirkan kejadian yang sudah ia lewati hari ini. Kejadiannya membuat segalanya berjalan menjadi lebih baik –sekaligus lebih buruk. Ia benci sekali saat berpisah, sungguh, benci tiada tanding.
Dan sekarang, perasaannya tidak tenang, tidak nyaman. Eunhyuk bangkit. Aah, ada satu rutinitas yang ia lupa lakukan sebelum tidur! ia membuka laci di samping meja belajar, mengambil buku dan pulpen, lalu mendudukkan badannya di singgasana tidur.
Tangannya membuka halaman per halaman, lalu di halaman kosong jemarinya mulai menari-nari.
Senin, 20 Juli 2002
Tahu tidak, pagi hari tadi aku bertemu seorang lelaki tampan. Umurnya 10 tahun, sama denganku. Kami bertemu di Taman Bukhansan. Namanya Lee Donghae. Omoo, bagus sekali bukan? Donghae sangat baik juga ramah. Menyenangkan sekali, sayang itu hanya perkenalan singkat. Kuharap, aku bisa bertemu denganmu lagi!
Bisa kan Donghae-ssi? Pasti bisa! Hwaiting!
Nah, sekarang inilah fase paling menyebalkan. Ketika semuanya terlihat benar-benar salah, padahal tidak ada yang salah. Ada yang aneh pada dirinya.
Dan ia yakin penyebabnya adalah Lee Donghae.
Annyeong readers ^^ Makasih yang udah mau ngasih saran ataupun kritik buat akuuuh. Maklum, namanya juga baru belajar ya. Haha :D
Jujur ini fanfict pertama yang aku buat untuk Super Junior. Jadi kritik atau saran di review dibutuhin bangeeet! Mohon bantuannya ya semua. Kalau masih banyak kata-kata yang membingungkan, ehm, mungkin harus lebih efektif kaliya? Haha, Maklum, namanya juga baru belajar. hehehe :D
Nurul. : Disitu kan udah ada penjelasannya chingu, kalo Eunhyuk itu paling benci kalau misalnya ada yang ganggu dia makan. Donghae-nya kan secara sadar-nggak sadar udah ngganggu acara makannya Eunhyuk.
Lee Nichi : Thankiiiieees changi ({}) Gomawo so much (?) Iya haha, masih awal. Sip deh. kapan-kapan jempolnya nambah yaa :p
ryon : Mianhe, waktu aku masukin cerita ke Doc Manager, itu ternyata chapternya sama dengan prolog. Sekarang udah diperbaharui kok. Sekali lagi, mianhaeyo kalau nggak nyaman ^^
ressijewell : Udah dilanjut changi. Makasih reviewnya ^^
SsungMine : Iyaaawwss. Ada kesalahan teknis hehew. Tapi sekarang udah diperbaharui kok. Thankiees RnR nya changi :)
