Caption : Boobs on The Bus Chapter 3/?
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kim Jongin, Moonbyul, Oh Sehun, Park Sooyoung (Joy)
Pairing : Chanbaek (Genderswitch ; Baekhyun and other uke as GIRL)
Genre : (crispy) Comedy, Smut, College-life, PWP gaje
Rating : M
Forward :
Saya minta maaf sebesar-besarnya karena late update, baru kelas uas dan beberapa urusan alhamdulillah selesai :') ini ff bikinnya sampe berhari-hari banget karna emang kadang idenya susah keluar(?) makasih buat yang udah nungguin dan nanyain kapan updatenya :""") doain ya saya udah libur jadi bisa update cepet wkwkwkwkw
Ini mostly dari sisi Baekkie nya ya XD wwkkwkwkwkk
Happy reading guys^^
'Menarik..'
'Kenapa semua orang menyiksa perempuan cantik sepertiku ini, hah?!'
'Baekhyun-ah, ada apa? Mengapa menangis?'
'Mati kau, Chanseol!'
'Chanseol-ah, apa yang kau lakukan? Apa kau ingin menggambar payudara noona?'
.
.
.
.
.
Baekhyun menatap layar laptopnya nanar. Huruf demi huruf, kata demi kata mulai berjejer rapi di lembar kosong itu. Sore ini ia harus menemui dosen pembimbingnya untuk menyerahkan hasil revisi terkait skripsi miliknya dan itu membuat dirinya nyaris meledak. Sungguh, Baekhyun benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran dosen yang bergelar professor itu. Berkali-kali ia merevisi bagian yang diperintahkan dosen tersebut, tetapi kerja keras nya selalu ditolak mentah-mentah.
Perempuan itu merasa berat badannya menyusut secara drastis, kantung mata yang mulai muncul ke peradaban, dan wajah yang kusam tidak bercahaya. Tidak, ia tidak bisa menjalani hari yang suram seperti ini, atau ia akan mati dalam keadaan perawan tua. Tidak tidak tidak!
Bagaimana jika tidak ada laki-laki yang menyukainya? Bagaimana jika tidak ada seorang pun yang ingin melirik ke arahnya karena wajah nya yang mulai berubah menjadi buruk rupa?
"Aishh.. aku harus ke salon minggu ini.. huaaaaa Eomma aku tidak ingin memiliki wajah yang keriputan!" keluh Baekhyun sambil mengacak-acak poninya kesal. Ia tidak ingin kehilangan reputasi sebagai 'mahasiswi cantik nan pintar' di jurusannya hanya lantaran masalah skripsi yang tak kunjung usai.
Baekhyun benar-benar ingin menenggelamkan dirinya ke dasar jurang, di saat-saat sulit seperti ini tak ada satu pun manusia yang berada di sisinya. Baekhyun adalah seorang perantau, keluarganya berada jauh dari kota Seoul. Beberapa teman nya telah menyelesaikan skripsi mereka dan mungkin mereka semua sedang asyik bergerumul di bawah selimut menunggu waktu sidang mereka.
Pacar?
Tidak perlu ditanyakan karena itu akan membuat dada Baekhyun sesak bukan main, mengingat mantan pacarnya yang mencampakkan dan membuangnya seperti sampah pembalut. Kotor dan tak berbentuk, itulah gambaran yang tepat bagaimana keadaan Byun Baekhyun saat itu.
Sudahlah, tidak perlu membahas kenangan pahit Byun Baekhyun dan menambah beban pikiran perempuan itu berkali-kali lipat..
"P-permisi.."
Saraf pendengaran Baekhyun menangkap sebuah suara berat yang menginterupsi kegiatan mengeluhnya beberapa detik yang lalu. Baekhyun mengalihkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan mendapati seorang laki-laki (yang Baekhyun tidak kenali) berdiri di bibir pintu dengan ekspresi gugup.
Baekhyun mengernyit sambil berjalan menghampiri laki-laki itu. Nampaknya laki-laki itu adalah seorang mahasiswa. Namun Baekhyun yakin laki-laki itu bukan berasal dari fakultas yang sama dengannya karena Baekhyun adalah seorang aktivis organisasi fakultas, ia dapat mengenali hampir seluruh wajah-wajah mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis.
"Ya? Kau mencari siapa?" ujar Baekhyun sambil menyampirkan rambutnya ke belakang telinganya.
"B.. b-byun.."
Baekhyun memiringkan kepalanya, meneliti cara bicara laki-laki di hadapannya yang mendadak gugup seolah-olah dirinya adalah sosok hantu perempuan yang akan menerkam laki-laki itu. Baekhyun menyipitkan kedua matanya, mencoba mengetahui benda mencurigakan apa yang berada di balik punggung laki-laki jangkung itu.
Baekhyun menghentikan langkah kakinya 2 meter di hadapan laki-laki itu. Baekhyun harus mengambil jarak khusus saat berbicara dengan orang yang tidak ia kenal. Di dalam tubuh perempuan itu, seluruh ototnya sudah menegang untuk mengambil ancang-ancang jikalau laki-laki di hadapannya berbuat macam-macam padanya.
"A.. ada t-titipan untukmu, sunbae." Ujar laki-laki bersuara berat itu masih dengan bahasa tubuh yang gugup dan kikuk. Baekhyun bertanya-tanya dalam hati, apakah penampilannya sangat mengintimidasi laki-laki di hadapannya itu? Atau jangan-jangan penyakit ayan laki-laki itu selalu kambuh saat melihat perempuan cantik seperti dirinya?
"Untukku? Siapa yang memberikannya?" tanya Baekhyun saat menerima sebuah benda persegi panjang bebrungkus yang ia ketahui sebagai sebuah kanvas dari tangan laki-laki jangkung itu.
Alis Baekhyun beradu saat mengamati kanvas pemberian Chanyeol. Siapa orang yang mengirimkan pemberian super klasik di zaman modern seperti saat ini? Siapa orang yang bersedia repot-repot menitipkan benda itu pada laki-laki jangkung di hadapannya? Siapa orang yang tidak berani menunjukkan batang hidungnya di depan Baekhyun dan menggunakan cara klasik seperti ini?
Baekhyun menatap kanvas dan wajah laki-laki jangkung itu secara bergantian. Perempuan mungil itu menerka apakah laki-laki di hadapannya yang sebenarnya menjadi dalang dibalik kiriman di tangannya, beralasan bahwa kiriman itu berasal dari 'seseorang' di luar sana. Apakah laki-laki jangkung di hadapannya adalah satu dari beberapa fans Baekhyun yang tersebar di seluruh penjuru kampus?
Laki-laki jangkung itu seakan mengerti maksud tatapan menyelidik Baekhyun, hanya bisa mengisyaratkan bahwa bukan dirinya lah pemilik kiriman itu. Baekhyun mengangguk dan mendapati sebuah label yang tertera di permukaan kertas koran itu.
'KimKa and PCY Production'. Seketika sebuah senyuman mengembang dari bibir mungil Baekhyun. Ia pernah mendengar dari beberapa temannya tentang ada mahasiswa jurusan Arsitektur tampan yang membuka jasa gambar karikatur dan lukisan. Beberapa teman kelas Baekhyun bahkan berniat memesan sebuah lukisan hanya untuk bisa mendapatkan kontak mahasiswa Arsitektur tampan itu. Jadi, pengirim kanvas ini menggunakan jasa mahasiwa Arsitektur itu?
Kriekk..
"J-jangan dibuka sekarang!" pekik laki-laki jangkung itu saat kuku-kuku cantik Baekhyun menancap dan membuat sebuah robekan pada bungkus koran itu. Baekhyun mendengus pelan dan mengangguk. Laki-laki jangkung ini ada benarnya juga, akan menjadi canggung nantinya jika Baekhyun melihat isi kanvas itu dan asyik mengagumi isi kanvas itu dengan laki-laki jangkung yang tidak ia kenal berdiri mematung di bibir pintu.
"Kalau begitu aku akan membukanya saat pulang nanti…..." ucap Baekhyun menggantung karena tidak mengetahui nama laki-laki jangkung yang.. ehm.. lumayan tampan itu.
"Park Chanyeol. Namaku Park Chanyeol!"
Ah… Park Chanyeol? Mahasiswa yang berinisial PCY? Mahasiswa jurusan Arsitektur yang belakangan ini menjadi perbincangan di kelasnya karena proyek barunya kini ada di hadapannya! Baekhyun dapat melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Chanyeol lumayan tampan. Lumayan.. jika laki-laki jangkung itu menghilangkan kantung mata hitamnya dan mengobati beberapa jerawat kecil yang muncul di pipinya, ia akan dipuja penjuru kampus bak anggota boyband yang selalu datang ke festival kampus mereka.
Baekhyun terkekeh pelan melihat kecanggungan pada diri laki-laki jangkung bernama Chanyeol itu. Baekhyun terkekeh melihat betapa polos dan sopannya laki-laki itu. Baekhyun selalu beranggapan bahwa laki-laki tampan adalah makhluk paling brengsek di muka bumi. Mungkin Park Chanyeol merupakan sebuah pengecualian.
"Aku Byun Baekhyun, terima kasih untuk kirimannya."
Baekhyun membungkuk, membalas apa yang Chanyeol lakukan padanya dengan senang hati. Namun setelah Baekhyun bangkit dan mengucapkan salam perpisahan pada laki-laki tampan di hadapannya, ia nyaris tersedak melihat Park Chanyeol mematung dengan bulir-bulir keringat yang mengalir di dahinya.
Laki-laki itu seperti… kerasukan? Tubuhnya menegang seperti patung tanpa mengeluarkan sepatah kata pun! Kedua mata bulat Chanyeol seakan-akan melompat keluar, belum lagi mulutnya yang menganga. Laki-laki ini memiliki kelainan atau apa?
"Chanyeol-ssi? Kau tidak apa-apa?"
Baekhyun mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah laki-laki itu. Ia takut jika ternyata laki-laki ini memiliki kelainan jiwa dan akan mengamuk di tempat ini. Sayang sekali jika wajah tampan seperti itu memiliki kelainan jiwa, padahal Baekhyun sudah memasukan Chanyeol ke dalam 'Daftar Junior Lucu dan Tampan' milik teman-teman dekatnya.
Baekhyun melirik ke sekitar, tidak ada apa-apa dan siapa-siapa untuk dimintai pertolongan. Ternyata, tidak hanya tubuh jangkung itu yang menegang. Baekhyun menggigit bibir bawahnya menyadari sesuatu di selangkangan Chanyeol mulai menyembul di balik celana jeans ketat itu. Baekhyun menatap Chanyeol mencoba mencari penjelasan dan mendapati kedua mata lebar itu mengarah pada benda di dadanya.
Baekhyun mengerjapkan matanya mencoba mencerna apa yang terjadi. Ia menunduk dan mengintip ke dalam kemeja merah muda miliknya. Perempuan itu tersenyum simpul saat menyadari bahwa hari itu ia mengenakan bra hitam kekecilan pemberian sepupunya. Bra hitam itu benar-benar berukuran kecil dan sempit, membuat payudara Baekhyun seperti akan 'tumpah' keluar dari bra itu.
Laki-laki bernama Chanyeol itu terus menunjukkan ketololannya. Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya dan memukul-mukul dahinya seolah seekor kecoa menginvasi rongga kepalanya. Chanyeol bertingkah seperti orang sakau karena kurang mendapat asupan kokain. Wajahnya dan telinganya perlahan-lahan memerah seperti pantat kera.
"Park Chan—"
"AKU HARUS PERGI, SUNBAE!"
Baekhyun menutup mulutnya dengan punggung tangannya, mencegah sebuah tawa keluar dari bibir mungilnya. Laki-laki itu benar-benar polos menurut Baekhyun. Lihatlah bagaimana Chanyeol berlari secepat kilat sambil mencoba menutupi selangkangannya. Untungnya kelas sedang sepi, jika tidak, Chanyeol pasti akan menjadi bulan-bulanan teman sekelasnya.
Baekhyun mengangkat bahunya sambil memandangi kanvas di tangannya. Ia beranjak kembali ke tempat duduknya dengan bayang-bayang mahasiswa jurusan Arsitektur yang masih memenuhi kepalanya. Ia tersenyum simpul. Ternyata Park Chanyeol adalah laki-laki tampan yang sangat polos. Tentu saja, ia tidak mengetahui siapa Byun Baekhyun seperti para mahasiswa di fakultasnya.
"Menarik.."
.
.
.
.
.
"YA TUHAN!"
Baekhyun memekik histeris saat membuka kedua mata sipitnya. Beberapa mahasiswa yang berada di perpustakaan itu berdecak dan melemparkan pandangan kesal pada Baekhyun. Baekhyun bergegas memasukkan buku catatan dan beberapa alat tulisnya ke dalam tas dengan sembarang. Perempuan menutup laptop putih kesayangannya dan beranjak dari kursi yang ia tempati dengan mata yang baru setengah terbuka.
Sial, umpatnya dalam hati. Jam di tangannya menunjukkan pukul 16.45 dan Baekhyun belum mencetak bab revisi yang diperintahkan dosen pembimbingnya. Perempuan itu berlari terseok-seok karena hak tingginya, ia menggigit bibirnya panik. Baekhyun benar-benar tidak dalam mood yang baik untuk mendengar ceramah panjang dosen pembimbingnya yang menegur kecerobohannya.
"BERHENTI!" pekik Baekhyun melihat seorang petugas percetakan fakultas sedang mengunci ruangan keramat yang menjadi tujuannya. Pria paruh baya itu menghentikan kegiatannya dan mendapati seorang perempuan tengah berlari-lari bak ingin buang air besar. Pria tua itu berdecak dan membuka kembali pintu gagang pintu yang nyaris ia kunci tadi.
"Mengapa anak muda hanya bisa menyusahkan saja? Ya! Apa kau tidak punya tata krama, hah?!"
Pria tua itu mencibir melihat bagaimana Baekhyun merangsek masuk ke dalam ruangan itu dengan tergesa-gesa seperti orang kesetanan, mencari komputer mana yang terhubung dengan printer di ruangan itu.
Perempuan itu tidak menghiraukan kehadiran pria paruh baya itu, ia sibuk pada suara mesin printer yang meraung-raung memenuhi ruangan itu. Baekhyun mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya tanda tidak sabar, sambil terus memperhatikan jarum panjang pada jam dinding di ruangan itu yang terus bergerak menghimpit waktu Baekhyun.
5 menit lagi…
Entah kenapa Baekhyun merasa kecepatan mesin printer yang ia gunakan semakin melambat. Baekhyun benar-benar jengkel, ia mengutuk bagaimana petugas percetakan masih mempertahankan printer tua itu dan membuat banyak mahasiswa kehilangan waktu berharganya hanya untuk menunggu lembaran-lembaran kertas yang sudah tercetak keluar dari benda butut itu.
"Aishh.. ahjusshi kenapa mesin ini payah sekali? Kenapa kau masih menggunak–OH MY GOD!" protes Baekhyun pada pria paruh baya itu berganti dengan teriakan histeris ketika jam dinding di ruangan itu berdentang kencang sebanyak 5 kali. Sial! Baekhyun membuat janji dengan dosen pembimbing skripsinya tepat pukul 5 sore untuk mengoreksi hasil revisi bab yang diperintahkan dosen itu.
Dengan kesal bercampur panik, Baekhyun menyambar setumpuk kertas yang telah keluar dari mesin printer itu dengan kasar. Baekhyun menyampirkan tas hitam nya dan dengan kesusahan menenteng sebuah kanvas yang sejak siang selalu ia bawa kemana-mana.
"Ahjusshi, ku mohon cepatlah!" cicit Baekhyun sambil menggigiti kuku-kuku tangannya. Ia menjadi panik membayangkan wajah super seram sang dosen sudah menanti kedatangannya dari balik pintu. Kalian pasti tahu bagaimana tipikal dosen tua yang banyak kemauan, benci mahasiswa yang tidak disiplin dan selalu berulah, serta wajah menyeramkan yang mengalahkan karakter Joker di film Batman.
Namun pria paruh baya di hadapannya hanya membisu sambil sibuk menjilid kertas-kertas revisi milik Baekhyun dengan gerakan anggun bak tuan Putri. Baekhyun melirik ke arah jam dinding, ia sudah menghabiskan waktu 5 menit hanya untuk menunggu tangan-tangan lamban pria itu merapikan kertas-kertasnya. Baekhyun sempat mengumpat karena terlalu banyak orang-orang tua di kampusnya yang menguji batas kesabarannya.
"Lain kali, belajar lah sopan santun. Kau sudah berada di tingkat akhir, jika kau masih mempertahankan watak tidak sabaranmu itu, tidak ada perusahaan yang mau menerimamu, Byun Baekhyun-ssi. Lagipula ini kesalahanmu karena datang beberap menit sebelum aku menutup pintu, harusnya kau berterima kasih pa—"
"IYA, TERIMA KASIH, AHJUSSHI!"
BLAMMM
Baekhyun membanting pintu dengan kesal dan mengambil langkah seribu untuk menghindari kuliah dadakan yang diberikan petugas percetakan itu. Ia ngin sekali menyumpal mulut pria itu dengan sepatu hak tingginya, jika tidak mengingat usia petugas percetakan itu sudah memasuki kepala enam. Kedua hak tinggi Baekhyun beradu lantai, menciptakan suara yang menggema di sepanjang lorong. Baekhyun berlari seperti penguin karena hak tingginya yang membuat ruang geraknya terhambat.
Ya Tuhan..
Ujian apa lagi yang akan kau berikan…..
"Aishhh… mati saja kau, jinjja!"
Baekhyun menendangi pintu lift berwarna abu-abu di hadapannya dengan brutal. Rasanya ingin meluluh lantahkan seisi kampus saat menyadari bahwa lift berhenti beroperasi setiap pukul empat sore. Dengan kesal Baekhyun membuka kedua hak tinggi berwarna merah mudanya, memasukan sepatu itu ke dalam tas, dan berlari dengan telanjang kaki menaiki anak tangga untuk mencapai lantai tempat ruangan dosen itu berada.
Lantai 5
Langkah kaki Baekhyun semakin melambat, kaki-kakinya terasa berat seperti ada seseorang yang memeluk pergelangan kakinya. Bulir-bulir keringat bercucuran membasahi wajah dan kemeja merah muda yang dikenakan Baekhyun, belum lagi rambut panjangnya yang basah dan menempel di sekitar pipinya. Persis seperti calon korban pemerkosaan yang kabur setelah nyaris dibobol penis tersangka.
"Hoshhh…
Ruangan dosen itu sudah berjarak 1 meter di hadapannya. Baekhyun membungkuk memegangi lututnya untuk mengatur nafas, dadanya naik turun untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Baekhyun bisa gila dan terancam tidak bisa wisuda jika setiap hari harus mendapatkan kesialan yang bertubi-tubi seperti ini. Walaupun hati kecilnya menyadari bahwa ini semua adalah kesalahannya karena tertidur seperti babi di perpustakaan.
Baekhyun menghela napasnya dan merapikan kemeja nya yang sedikit berantakan akibat berlari, tidak lupa mengikat rambut hitam panjangnya ke belakang. Hal yang paling penting untuk bertemu dosen selain tepat waktu ialah berpakaian rapi. Baekhyun sudah mencoreng poin pertama dan ia tidak ingin menghilangkan poin berpakaian rapi itu, kesempatan terakhirnya dipandang baik oleh sang dosen pembimbing.
Tok tok tok..
Baekhyun menunggu selama beberapa detik, tak ada jawaban. Ia mengerutkan dahinya bingung. Jari-jari lentik Baekhyun berganti membuka kenop pintu tersebut. Namun nihil, pintu keramat itu tidak bisa dibuka alias terkunci. Mungkin dosen itu sedang ke kamar mandi? Ah tidak! Di dalam ruangan itu terdapat kamar mandi, bahkan dapur, home-theater, juga minimarket jika dosen itu mau.
TOK TOK TOK…
Baekhyun mengetuk, tidak, memukul pintu itu lebih kencang persis seperti polisi yang sedang memergoki pasangan mesum di rumah kontrakan. Tangannya mengepal kesal, air mukanya menunjukkan kelelahan dan kesal teramat sangat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana.
Atau mungkin sang dosen murka pada Baekhyun karena keterlambatannya?
Tidak mungkin…
Baekhyun merogoh ponselnya dari saku celananya, berharap bisa menghubungi sang dosen untuk mecari pencerahan. Sedetik setelah Baekhyun membuka layar kunci ponselnya rasanya seperti petir menyambar di siang bolong. Tubuh Baekhyun merosot dan jatuh dengan posisi menyedihkan di lantai bak pemeran protagonist wanita di drama televisi.
Dosen Shin
Byun Baekhyun-ssi, hari ini saya ditugaskan komisi pendidikan untuk melakukan survey di daerah Busan. Saya tidak ada di tempat, silahkan kembali lagi minggu depan.
"YAAAAAAAA!"
"Bajingan sialan!"
"Kenapa semua orang menyiksa perempuan cantik sepertiku ini, hah?!"
"YA TUHAN…"
"Sabar, Byun. Kau tidak perlu marah dan membuat kulitmu keriputan… AISHHH TETAP SAJA!"
Baekhyun menendang-nendang kakinya seperti anak kecil yang sedang merajuk. Ia mengacak-acak rambutnya kesal. Baekhyun lelah, sangat lelah. Otaknya telah diforsir untuk memikirkan revisi bab skripsinya, tubuhnya letih dan sakit karena berlari-lari dari lantai 2 menuju ke ruangan dosen itu.
Apakah ini yang namanya kutukan skripsi?!
Bahkan dosen itu tidak mengucapkan permohonan maaf sama sekali! Hal itu yang paling membuat Baekhyun kesal. Baekhyun sama sekali tidak terima dengan cara dosen yang seenaknya pada mahasiswa lemah seperti dirinya, dosen yang menganggap derajat dirinya lebih tinggi. Baekhyun benar-benar ingin menangis saat itu juga.
Kalau bisa, detik itu juga Baekhyun ingin berguling-guling seperti babi untuk melampiaskan kekesalannya. Sungguh, penampilan perempuan itu jauh dari kata menarik. Namun persetan dengan penampilan, Baekhyun hanya ingin berteriak dan mengamuk untuk meluapkan amarahnya.
"Aku ingin menikah saja!"
"Ya Tuhan, aku lelah sekali…"
"Hahh.. soju… ya ya ya, aku harus minum malam ini!" gumam Baekhyun setelah mendapat sedikit pencerahan. Pelarian, lebih tepatnya.
Dengan kasar ia mengeluarkan sepatu hak tingginya dari tas hitam merk rumah mode ternama dan memakainya. Baekhyun berdiri –walaupun sedikit oleng dan mulai memunguti barang-barangnya yang sempat luluh lantah karena kemurkaannya. Kedua matanya tertuju pada kanvas berbungkus koran yang sudah berada beberapa meter jauh dari hadapannya.
Baekhyun tersenyum tipis sembari mengambil kanvas itu dan beranjak pergi. Setidaknya masih ada satu hal yang bisa menghiburnya dan akan mengembalikan senyumnya. Siapapun pengirimnya, untuk saat ini Baekhyun sangat berterima kasih atas hal itu.
.
.
.
.
.
"Ahjumma, 2 botol soju dan 1 porsi kerang rebusnya!" pekik Baekhyun pada seorang wanita dengan model rambut keriting yang membulat seperti helm.
Baekhyun mencari kursi yang kosong di dalam kedai soju yang dipenuhi mahasiswa dan pekerja kantoran itu. Beberapa menit kemudian, Baekhyun tersenyum saat bibi pemilik kedai itu menyajikan 2 botol soju dengan sebuah gelas kecil lengkap dengan sepiring kerang rebus di mejanya.
Brakk…
"Ahh.. leganya..." ucap Baekhyun saat menenggak langsung satu gelas soju tanpa tersisa. Ia menyukai bagaimana sensasi manis bercampur getir dan asam membasahi kerongkongannya. Seakan-akan semua kesialannya mengalir dan larut bersama cairan soju itu menuju saluran pencernaanya.
Baekhyun memerhatikan kanvas di atas mejanya dengan tatapan berbinar. Mendadak jantungnya berdegup kencang, ia sedikit tersipu persis seperti anak remaja yang baru mengenal cinta. Ia mengambil kanvas tersebut dan meletakkannya di atas pangkuannya.
Katakan saja Baekhyun seorang multi-tasker karena mulutnya tak berhenti mengunyah daging-daging kerang, sementara tangan kirinya mengelus permukaan kanvas itu, dan tangan kanan yang tak henti nya menuangkan soju ke dalam gelas kecil itu. Entah sudah berapa teguk ia meminum cairan bening itu, yang jelas penglihatannya sedikit kabur dan kepalanya mulai terasa ringan.
"Aigoo.. benarkah bukan laki-laki jangkung itu yang mengirimkannya untukku? Ya.. siapa lagi penggemarku di kampus.. hmm.. Seunghyun? Jinki? Joonmyeon? Aishh.."
Baekhyun memandangi langit-langit tenda kedai soju sambil memegangi jari-jari tangannya, bermaksud menghitung jumlah laki-laki yang mengejarnya sejak semester awal. Wajah Baekhyun mulai memerah, perempuan itu kini memegangi kepalanya agar tidak terjatuh dan terantuk meja. Botol pertama sudah ia habiskan dalam sekejap, kini perempuan itu bersiap memegangi botol kedua.
Kriekk..
Sebuah robekan panjang kini menghiasi permukaan koran itu. Kuku-kuku Baekhyun dengan susah payah mencabik-cabik bungkus koran itu hingga kini terpampang sebuah lukisan di permukaan kanvas tersebut.
Kedua mata sipit Baekhyun mengerjap mencoba memahami apa yang kini ia lihat. Mungkin efek soju yang ia minum dapat mengubah objek pandangan seseorang, oleh karena itu Baekhyun mengangkat tinggi-tinggi kanvas itu. Mencoba menerawang dan mencari sudut pandang lain untuk melihat kanvas itu. Ia memiringkan kepalanya ke berbagai arah dan mengucek-ngucek kedua mata sipitnya.
"BAJINGAN GILA!"
BRAKKKK
Baekhyun membanting kanvas persegi empat itu dengan murka. Kedua mata sipitnya memerah dan berkaca-kaca. Batinnya seakan terguncang saat berhasil mengumpulkan sebagian kesadarannya dan berhasil mencerna isi kanvas itu.
Siapa laki-laki brengsek, mesum, dan tidak punya akal sehat yang berani mengirimkan lukisan laknat pada perempuan lugu dan cantik seperti dirinya?!
Atas dasar apa laki-laki itu menggambar kedua buah payudaranya lengkap dengan puting yang menegang padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya?!
INI BENAR-BENAR SEBUAH PENGHINAAN!
RASANYA SEPERTI DITELANJANGI SECARA TIDAK LANGSUNG!
Kedua mata Baekhyun seakan meloncat keluar melihat lukisan dirinya yang hanya menggunakan kaos putih ketat dengan jari-jari yang meremas sebelah payudara kanannya. Payudaranya digambarkan berbentuk bulat dengan ukuran lumayan besar, serta kedua puting yang mengeras seperti sedang terangsang. Belum lagi ekspresi wajah Baekhyun yang digambarkan dengan kedua bibir yang terbuka dan mata yang setengah terpejam menahan kenikmatan yang menjalar dari remasan di payudaranya. Lukisan ini membuatnya terlihat seperti wanita jalang.
"Hiks…"
Sebuah isakkan terdengar dari kedua bibir mungil itu. Baekhyun mengacak-acak rambutnya frustrasi. Sebuah kenangan pahit mendadak memenuhi kepalanya lagi, kenangan yang benar-benar ingin ia kubur dalam-dalam di dasar otaknya dan takkan sudi ia ingat kembali. Baekhyun memukul-mukul dadanya yang sesak dengan kencang. Isakkan dan pukulan itu begitu keras hingga beberapa pasang mata menatapnya prihatin.
"Baekhyun-ah, ada apa? Mengapa menangis?" suara bibi penjaga kedai itu memasukki gendang telinga Baekhyun. Perempuan cantik itu menengadahkan kepalanya dan memandangi bibi penjaga itu dengan tatapan kabur karena air mata membasahi kedua matanya.
Tanpa berkata-kata Baekhyun menunjuk lukisan di kanvas itu pada bibi penjaga, membuat bibi penjaga terperanjat dan memandangi Baekhyun dengan perasaan iba. Tangan bibi itu terangkat untuk mengusap-usap punggung Baekhyun, mencoba menguatkan Baekhyun yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri (karena Baekhyun sering mengunjungi kedai tersebut).
"Apa payudaraku benar-benar sebesar itu, ahjumma? Apa kau melihatnya? Bukankah tidak ada yang salah dari ukuran payudaraku? Apa perlu aku mendatangi orang itu dan menunjukkan kedua payudaraku di depan wajahnya?!" racau Baekhyun sambil memukul-mukul meja di hadapannya.
"B..baek.."
"Tadi siang, seorang laki-laki mengirimkan kanvas itu padaku. Ku pikir isi kanvas ini adalah sesuatu yang indah dari pengagum rahasiaku.. tapi apa yang ku dapat, ahjumma.. ahjumma jawab aku, apakah payudaraku benar-benar sebesar itu? Apakah besarnya seperti buah semangka yang selalu kita makan saat musim panas?! APAKAH PAYUDARAKU TERLIHAT BERGELANTUNGAN DAN MEMANTUL-MANTUL SEPERTI BOLA BASKET?!"
Baekhyun terus meracau walaupun air mata sudah membasahi seluruh wajahnya yang memerah padam. Ia menarik tangan bibi itu dan meletakkannya tepat di atas dadanya. Baekhyun ingin bibi penjaga itu mengetahui bahwa payudaranya tidak sebesar apa yang dilukiskan di atas kanvas itu. Namun bibi penjaga toko itu segera menarik tangannya dan menggoyang-goyangkan bahu Baekhyun untuk menyadarkan gadis mungil itu.
"Baekhyun-ah, kau sangat mabuk.. lebih baik kau pulang saja dan selesaikan esok hari.." pinta bibi penjaga itu iba.
Baekhyun mengangkat kepalanya yang terasa sangat berat dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tatapannya kini berubah menjadi kilatan kemarahan dan sebuah tawa yang menyiratkan kemarahan dan kesedihan keluar dari bibir mungilnya. Tangannya terangkat untuk menenggak botol soju kedua nya langsung.
"Ya! Kau sudah terlalu mabuk, Baek. Aishh.. kau menumpahkannya!" protes bibi penjaga yang mencoba menahan botol soju yang sudah menempel di belahan bibir mungil itu, Baekhyun yang bersikukuh ingin meminum botol soju keduanya hanya bisa berpasrah saat bibi penjaga menarik botolnya dan menumpahkan soju di atas kemeja merah mudanya.
Bibi penjaga itu segera mengambil kain dan membersihkan bekas-bekas soju yang terlihat seperti sebuah pulau yang menghiasi kemeja bagian dada Baekhyun. Baekhyun hanya bisa mengumpat dan menepis tangan bibi itu, lalu perempuan mungil itu mengemas seluruh barang-barangnya dan meletakkan uang di atas meja dengan sangat kasar.
"Aku.. aku harus mencari bajingan gila itu!" pekik Baekhyun setelah keluar dari kedai soju itu. Kedua kakinya berjalan menyilang, tubuhnya terlihat oleng, dan sepatu hak tingginya bukanlah sebuah pilihan yang tepat.
Beberapa kali Baekhyun tersungkur ke tanah dengan posisi yang kurang menguntungkan dan terlihat bodoh. Para pejalan kaki yang melihat keadaan perempuan mungil saat mabuk hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan berdecak mengomentari Baekhyun dengan negatif. Baekhyun bukanlah seorang peminum yang handal, ia jarang sekali menghabiskan satu botol soju seorang diri. Hanya untuk melampiaskan rasa frustasinya yang ia harap bisa mereda setelah meminum beberapa gelas soju dan melihat isi kanvas itu, ia berakhir menyedihkan di pinggir jalan seperti ini.
"Siapa namanya… hah.. Canyul? Chansung? Aish.. Chanseol! Ya dia si bajingan itu!"
Baekhyun menunjuk-nunjuk sesuatu yang tidak berbentuk di hadapannya. Ia mencengkram tali tas nya kuat-kuat dan berjalan lebih cepat untuk menemui laki-laki yang membawakan kanvas laknat itu tadi siang. Kilatan kemarahan terpancar dari kedua mata sipitnya, hidungnya kembang kempis seperti banteng yang mengamuk, dan mulutnya yang hampir berbusa karena terus mengumpat tanpa henti.
Langkah kakinya secara tidak sadar membawanya ke arah kampus kebanggaannya. Baekhyun pikir ia dapat menemui laki-laki itu di kampus dan dapat menghajarnya saat itu juga tetapi ia terlalu mabuk untuk menyadari bahwa laki-laki itu tidak mungkin berada di kampus saat ini.
"YA! KELUAR KAU CHANSEOL! AKU TAHU DIMANA KAU BERADA!"
Suara hak tinggi Baekhyun yang mencium aspal menggema di jalanan yang sekarang menjadi sepi itu. Baekhyun tidak menyadari bahwa jalanan sekitar kampus akan menjadi sangat rawan setelah matahari tenggelam. Namun persetan dengan pemerkosa atau penjambret, ia harus menghajar laki-laki biadab itu.
Sampai ketika ia berbelok, kedua mata sipitnya menangkap sebuah sosok tinggi berbaju hitam beberapa meter di hadapannya. Sosok itu lebih menyeramkan dari setan menurut Baekhyun, sosok itu adalah iblis yang menjelma ke dalam tubuh laki-laki tampan.
"Chanseol? Laki-laki itu?" gumam Baekhyun saat berjalan semakin dekat ke arah laki-laki yang kini berdiri sambil menatapnya lekat-lekat.
"Kau.. si bajingan gila itu!"
Walaupun penglihatannya sedikit kabur karena mabuk, ia masih bisa mengingat rambut kecoklatan dan telinga lebar itu. Belum lagi tubuh tingginya yang membuat Baekhyun yakin bahwa sosok itulah yang ia cari.
Mengetahui bahwa laki-laki itu mematung saat Baekhyun memanggilnya, membuat Baekhyun mempercepat langkahnya yang terseok-seok. Tinggal beberapa meter lagi.. Baekhyun akan menghajar laki-laki itu tepat di tulang hidungnya dan menendang batang penis laki-laki itu agar laki-laki itu menjadi impoten untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Baekhyun mengepalkan tangannya, ia berjalan mendekat.. sangat dekat sampai ia bisa melihat kedua mata besar itu menatapnya penuh keterkejutan. Baekhyun melayangkan pukulannya sekuat yang ia bisa tepat di tul—
BRUKK..
"KEPARAT KAU! APAKAH PAYUDARAKU SEBESAR ITU, HAH?! APA KAU PERNAH MELIHATNYA LANGSUNG! S.. SINI BIAR AKU TUNJUKAN PADAMU! YAAAA.. HOEK.. KAU HARUS MENGGAMBARNYA DENGAN BENAR!"
"Mati kau, Chanseol!"
"Keparat! Uhukk.. Eomma mu pasti menyesal telah melahirkan anak sepertimu!"
"KAU ANGGAP.. AKU INI JALANG, HAH?"
Baekhyun tersungkur tepat di hadapan laki-laki itu, bibir mungil yang selalu ia anggap sensual itu nyaris mencium ujung sepatu laki-laki jangkung itu. Baekhyun menjerit marah dan mengeluarkan umpatan-umpatan yang memekkakan telinga bagi siapapun yang mendengarnya. Sakit, terutama di bagian dadanya karena kedua payudaranya berbenturan dengan aspal. Namun hatinya lebih sakit mengetahui ada seseorang yang melukis sosok dirinya dengan cara yang kotor dan menjijikan.
"S..sunbae?!" pekik laki-laki jangkung itu panik. Laki-laki itu mencoba memegangi bahu Baekhyun dan mencoba menarik tubuh mungil itu berdiri. Baekhyun bangkit dan mencoba menepis tangan besar laki-laki itu. Perempuan itu sekali lagi melayangkan kepalan tangannya ke wajah tampan laki-laki itu. Namun, pukulannya yang lemah hanya membuat dirinya seperti memukul angin.
"Lihat kanvas itu, Chanseol! SIAPA YANG MENGIRIMKANNYA PADAMU?! ATAU INI ADALAH PERBUATANMU HAH?" Baekhyun meneriaki telinga lebar laki-laki itu. Kedua matanya kembali berkaca-kaca dan raut wajahnya berubah memelas ingin menangis.
"Na.. namaku Chanyeol, sunbae."
Laki-laki itu, Chanyeol, hanya bisa menggigit bibirnya. Chanyeol tidak mengetahui efek kebodohannya akan melukai seorang perempuan seperti ini. Wajah Chanyeol memucat karena rasa bersalah yang menghantuinya saat ini. Ia memandangi Baekhyun dengan iba, mencoba mengulurkan kedua tangannya untuk membantu Baekhyun berdiri tegak.
"Ya Tuhan.." bisik Chanyeol saat melihat kemeja perempuan itu basah tepat di bagian dada. Bagian itu adalah kelemahan Chanyeol, yang membuat kejantanannya mengambil alih kerja otaknya.
Namun bagi Chanyeol saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk terangsang. Walaupun bekas tumpahan soju itu membuat bra hitam Baekhyun dan gundukan payudara itu tercetak sangat jelas di mata Chanyeol. Bahkan Chanyeol bisa melihat kedua puting susu itu menonjol dengan malu-malu.
Chanyeol mengacak rambutnya putus asa dan membuka jaket kesayangannya. Ia membungkus jaket hitam itu pada tubuh mungil Baekhyun.. Chanyeol sangat bersyukur melihat bagaimana tubuh Baekhyun tenggelam di dalam jaket itu sehingga tak ada pemandangan yang dapat meningkatkan birahinya.
Hoek..
Chanyeol terperanjat saat Baekhyun membungkuk dan memegangi perutnya. Baekhyun menumpahkan isi perutnya mengenai sepatu kesayangan Chanyeol. Bagai gerakan slow motion ia dapat melihat cairan berwarna putih kekuningan itu membasahi sepatu merah kesayangannya dan menimbulkan bau yang membuat perut Chanyeol bergejolak. Dengan refleks, Chanyeol mendorong tubuh mungil Baekhyun yang semakin terlihat limbung.
"SUNBAE!"
"Apakah aku pernah membuat kesalahan, Chanseol? Hiks... apa kau menaruh dendam pada perempuan secantik diriku, hah?!"
Airmata kembali menetes di permukaan pipi Baekhyun. Tidak henti-hentinya Baekhyun memukul tubuh jangkung Chanyeol dengan menggunakan kanvas yang sedari tadi dipegangnya. Chanyeol hanya bisa menepis tangan Baekhyun dan melindungi kepalanya menggunakan kanvas yang ia bawa. Chanyeol tidak bisa berkata-kata, baginya percuma menjelaskan semuanya pada seseorang yang kehilangan kesadarannya, ia tidak akan menangkap maksud pembicaraan Chanyeol.
Ingin rasanya Chanyeol meninggalkan perempuan itu. Chanyeol sangat tidak suka melihat seorang perempuan mabuk dan meracau dengan kata-kata kasar. Perempuan itu sudah berada di tingkat akhir, harusnya ia bisa lebih bertingkah dewasa.
Namun, ada rasa tidak tega melihat Baekhyun yang akan terkapar di jalanan sepi seperti itu saat dirinya meninggalkan Baekhyun. Baekhyun juga seorang perempuan, akan sangat jahat bagi Chanyeol membiarkan Baekhyun sendirian dan mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Cukup kanvas itu saja, Chanyeol tidak ingin menyakiti perasaan perempuan itu lagi.
Bukankah alasan mengapa perempuan itu mabuk adalah dirinya sendiri?
Seketika Chanyeol menatap Baekhyun yang sekarang jatuh terduduk di depan selangkangannya dengan iba. Chanyeol bisa melihat bagaimana airmata dan keringat membasahi seluruh wajahnya. Kedua mata Baekhyun yang sipit semakin tenggelam lantaran membengkak karena terus-menerus menangis dan juga kantung mata hitam itu menyiratkan kelelahan pada diri Baekhyun. Hati Chanyeol ngilu membayangkan jika Sooyoung yang mengalami hal seperti Baekhyun. Chanyeol tidak segan-segan akan menghajar rahang laki-laki itu.
"Sunbae, mari ku antar pulang." Kata Chanyeol dengan nada melembut dan hati-hati. Setelah berpikir sebentar, akhirnya laki-laki jangkung itu memutuskan untuk mengantarkan Baekhyun pulang sebagai bentuk tanggung jawab dan permintaan maaf.
Baekhyun tidak menjawab, ia sibuk memeluk kedua kaki panjang Chanyeol dan meletakkan kepalanya di antara kedua paha Chanyeol. Chanyeol hampir tersedak ludahnya sendiri, sedikit saja perempuan itu bergerak, maka bibir mungil itu akan mencium kejantanan Chanyeol yang masih terbalut celana jeans.
Chanyeol berdecak dan berjongkok di hadapan Baekhyun. Ia menarik tubuh tak berdaya perempuan itu dan mengangkutnya di atas punggungnya persis seperti karung terigu. Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya, merasakan betapa ringannya tubuh Baekhyun dan berpikir apakah selama ini perempuan itu hanya menghisap udara atau memakan kelopak bunga mawar sehingga menjadi kurus tak berdaging seperti itu?
Mengapa ia mempunyai payudara sebesar, kenyal, montok dan sintal seperti itu?
Apakah semua nutrisi yang ia cerna hanya diserap oleh sel-sel lemak di dalam payudaranya?
Chanyeol terus melangkahkan kaki-kakinya menuju kediaman perempuan itu. Gongbaek Apartement kamar 182 lantai 4, kata bocah ingusan yang bernama Oh Sehun itu. Terkadang Chanyeol berhenti untuk memperbaiki posisi gendongan perempuan itu dengan satu tangan yang masih memegang kanvas milik Baekhyun yang asli dan kanvas laknat yang nyaris menghancurkan hidup perempuan itu. Chanyeol mengerjapkan matanya dan tersenyum malu-malu, bagai sebuah karunia yang patut disyukuri saat kedua payudara kenyal itu menekan punggung bidang Chanyeol.
"Turunkan aku! Ya! Kau mau menculikku? Memperkosaku, hah? Ku mohon lakukan itu setelah skripsiku selesai, jangan menambah beban hidupku lagi, Chanseol!" teriak Baekhyun histeris tepat di telinga lebar Chanyeol. Rambut-rambut di sekitar leher Chanyeol meremang merasakan deru nafas Baekhyun yang hangat menyapu permukaan kulitnya, juga suara serak perempuan itu yang… Ah sudahlah lebih baik Chanyeol tidak membahasnya atau akan berakibat.
"Ya! Kau yang menggambar lukisan itu kan?!"
Tiba-tiba Baekhyun menjambak rambut kecokelatan Chanyeol dan menarik kepala laki-laki itu ke belakang seperti tanpa dosa. Kedua mata Baekhyun setengah tertutup, Chanyeol pikir perempuan itu sudah tertidur dan tidak mengutuknya lagi. Namun Chanyeol hanya bisa pasrah dengan rambut yang mungkin sudah berguguran helai demi helaiannya karena kekejaman jari-jari lentik Baekhyun.
"Apa kau sudah pernah melihat payudara sebelumnya?! Bisa-bisanya kau menggambar payudaraku dengan cara seperti itu! Rasakan ini.. rasakan! Apakah payudaraku sebesar itu, hah?!"
"A.. akhhh.. sunbae, hentikan!"
Chanyeol benar-benar ingin berteriak kencang sekarang. Bukan karena teriakan nyaring perempuan mabuk itu dan segala umpatannya, tetapi sekarang perempuan itu menghentak-hentakkan kedua payudaranya di punggung Chanyeol dan membuat darah Chanyeol berdesir. Ya Tuhan, kini Chanyeol bisa merasakan tekstur payudara yang benar-benar kenyal, lebih kenyal dari adonan kue buatan Eommanya.
Bagaimana menjelaskannya.. hal ini harus dibuktikan dengan perbuatan bukan kata-kata semata. Baekhyun menjadi liar dalam gendongan Chanyeol, ia terus menggesekkan payudaranya naik-turun seolah menantang Chanyeol untuk memeriksa payudara besar itu. Chanyeol bahkan mengeratkan gendongannya, mencoba mengeratkan tubuh mungil Baekhyun dengan bagian belakang tubuhnya. Suhu tubuh Chanyeol mulai meningkat dan ia menyadari bahwa sesuatu di selangkangannya mulai berkedut.
LARI, CHANYEOL! PERCEPAT LANGKAHMU! APA KAU MAU BERAKHIR TELANJANG BULAT DENGAN BAEKHYUN DI ANTARA SEMAK-SEMAK?!
Dengan hati yang (mencoba) teguh, laki-laki jangkung itu mempercepat langkahnya dan menemukan sebuah apartemen berwarna putih beberapa meter di hadapannya. Ada kelegaan di dada Chanyeol mengetahui penderitaannya akan segera berakhir dan ia bisa pulang ke rumah secepat yang ia bisa….
.
.
.
.
.
TING..
Pintu lift itu terbuka saat Chanyeol dan Baekhyun sampai di lantai nomer empat. Chanyeol menghela napasnya lega dan berjalan dengan cara mengendap-ngendap menuju lorong lantai itu karena Baekhyun telah terlelap di punggungnya. Kedua tangan Baekhyun terkulai memeluk leher Chanyeol dan pipi kanan perempuan itu menempel di telinga lebar Chanyeol. Chanyeol melirik sekilas dan tersenyum simpul, di saat ia tertidur seperti ini akan terlihat seperti perempuan biasa yang menggemaskan.
"Kamar 182 hmm.. 178.. 180… Ah!"
Setelah Chanyeol memperhatikan beberapa pintu di sekelilingnya, akhirnya ia menemukan pintu apartement Baekhyun di ujung lorong. Lorong itu terlihat gelap tetapi terlihat bersih dan mewah karena memang apartement yang ditempati Baekhyun merupakan apartement yang sedikit mahal untuk ukuran mahasiswa.
Chanyeol menepuk keningnya saat menyadari bahwa ia tidak mempunyai kunci ataupun kartu untuk membuka pintu itu. Ia menurunkan tubuh Baekhyun, membuat Baekhyun harus berdiri dan bersandar pada tubuh jangkung Chanyeol. Laki-laki jangkung itu mengobrak-abrik tas hitam milik Baekhyun, namun tidak ada yang bisa ia temukan selain lipstick dan beberapa bungkus permen karet.
"Sunbae, dimana kunci apartemenmu aishh.."
"Disini…" gumam Baekhyun sambil menepuk-nepuk bagian belakang celananya dengan enteng. Chanyeol meneguk ludahnya kasar…
Haruskah ia menyelipkan telapak tangannya yang besar ke dalam kantong celana Baekhyun?
Haruskah ia merasakan bongkahan kenyal milik perempuan itu?
Bagaimana… bagaimana jika tangannya bergerak diluar kendali dan meremas bokong mungil namun berisi itu?!
"Cepatlah, bodoh!"
Baekhyun memekik dan menarik tangan Chanyeol untuk 'hinggap' di bagian bokongnya. Chanyeol mengerjapkan matanya seperti siswa sekolah menengah yang baru pertama kali menonton video porno. Tangan Chanyeol yang gemetar dengan secepat kilat menyambar kunci itu dan mengeluarkannya dari bagian terlarang itu. Untung saja ia menyimpannya di bagian bokong, jika di bagian 'itu'….. Chanyeol tidak akan segan-segan mengambilnya dengan menggunakan mulutnya dan memberikan kecupan-kecupan kecil di payudara indah itu.
BRUKK..
Chanyeol membanting tubuh Baekhyun ke atas kasur berwarna merah muda itu. Dengan berhati-hati ia meletakkan kanvas dan tas hitam Baekhyun dan tidak lupa membuka kedua sepatu hak tinggi yang dikenakan Baekhyun. Chanyeol memandangi sosok perempuan itu sejenak. Kedua bibir mungil Baekhyun tak henti-hentinya menggumamkan sesuatu yang tak bisa Chanyeol mengerti. Matanya terpejam dan tubuhnya sudah lebih rileks sekarang.
Chanyeol menggigit bibirnya melihat bulir-bulir keringat mengalir di leher Baekhyun, menandakan suhu tubuh Baekhyun yang tinggi sehingga perempuan itu merasa kepanasan karena efek soju yang ia minum. Memang dasarnya Chanyeol adalah laki-laki berbudi pekerti luhur yang memilik kepribadian sesuai dengan norma-norma yang berlaku, ia bermaksud membuka jaket miliknya yang masih melekat di tubuh Baekhyun. Mungkin ia dapat mengurangi penderitaan Baekhyun.
"Chanseol-ah, apa yang kau lakukan? Apa kau ingin menggambar payudara noona?" racau Baekhyun sambil tersenyum malu-malu. Kata-kata Baekhyun bagaikan petir yang menyambar di telinganya.
Baekhyun yang belum sadar sepenuhnya menarik kedua tangan Chanyeol dan meletakkan nya tepat di atas kedua payudaranya yang menjulang bak gunung kembar. Chanyeol syok bukan main.. ia tidak dapat berkata-kata dan mungkin sebentar lagi mulutnya akan berbuih serta mengalami kejang. Payudara itu besar tetapi terasa sangat 'pas' di telapak tangan Chanyeol yang juga besar. Baekhyun bahkan menekan-nekan tangan Chanyeol hingga payudara itu terhimpit dan Chanyeol dapat merasakan tekstur kenyal dari payudara indah itu.
"A… akkhhh.."
.
.
.
.
.
to be continued
INI AKHHH AKHH NGAPAIN WEH?
AHAHAHA TERNYATA URI BAEKHYUN JUGA KENA KUTUKAN SKRIPSI(?)
chanyeol enak ya dapet berkah tidak terduga ;))))))) sebenernya si baekhyun benci hal ginian apa mau mau tapi malu?
oiya happy fasting guys! lebaran sebentar lagi syulululu~
DON'T FORGET TO REVIEW, FAVORTITE, AND FOLLOW^^ ILYYYYYYYY
