Our Destinies

Second Destiny part 2: Allen Walker and Akatsutsumi Ayayuki

(Warning: OOC)


"Aya?"

Allen menyelinap ke dalam. Dia melihat Aya sedang terbaring di atas ranjangnya, dengan gaun tidur berwarna oranye lembut yang agak tipis.

Allen menelan ludah. Dia baru pertama kali melihat Aya seperti ini.

Allen mengendap-endap ke arah Aya, tak mau membangunkan gadis itu. Sialnya, Aya lagi-lagi lebih cepat darinya.

"Ngg…."

Allen membeku.

"Allen, ya…."

'GLEK! Ketahuan?????'

Tak disangka-sangka, Aya malah menubruknya lagi hingga terjatuh.

"ALLEN!!! AYA KANGEN BANGET!!! AYA SUDAH NGGAK TAHAN LAGI!! AYA NGGAK BISA KALAU NGGAK BERSAMA ALLEN!! AYA SUKA ALLEN!! AYA MENCINTAI ALLEN!!! Huu…. huu…. huu…."

Allen jadi terenyuh melihat Aya menangis.

"Aya, aku minta maaf. Kamu benar, nggak seharusnya aku bicara begitu kemarin. Sekarang, perkataanku jadi bumerang untukku sendiri. Aku juga nggak bisa kalau nggak ada Aya. Aku suka Aya." Allen akhirnya mengakui apa yang ada di hatinya. Sekarang, Allen merasa tombak yang menusuk-nusuk hatinya sudah hilang.

"Be-benarkah? Allen juga… suka Aya?" Tanya Aya tak percaya.

"Iya…. Aya mau kan maafkan aku?"

Lagi-lagi air mata membuncah keluar dari mata Aya. Dia memeluk Allen. "Iya, Aya maafkan! Aya maafkan Allen, asal kita bisa bersama!"

Allen tersenyum. "Iya, kita pasti selalu sama-sama."

Mereka saling beradu pandang, yang diakhiri dengan ciuman pertama.

Allen menatap Aya lagi. Dia heran melihat Aya yang belum juga tersenyum.

"Aya, kenapa? Ayo, tersenyumlah seperti biasanya. Aku akan suka sekali." Pinta Allen.

"……."

"Aya?"

Aya membisikkan sesuatu yang membuat Allen kaget, tapi tersenyum.

"Rupanya Aya masih kurang yakin, ya? Boleh, tidak apa-apa."

-X-X-X-

"Mmm…. ahh…."

Aya berada di bawah Allen. Tubuhnya yang indah itu tidak tertutupi apa-apa, demikian pula Allen.

"A-Allen…."

"Ssst. Aya diam dulu, nanti kau bisa terluka."

Aya membiarkan Allen menggigiti lehernya.

"Ungh…. Allen…."

Allen menciumi leher Aya, memberi bekas merah di sekujur tubuh polosnya. Kemudian Allen menciumi Aya.

"Aya sudah siap? Tidak takut, kan?" Tanya Allen lembut.

"Tidak, Aya.... Aya tidak takut,kok…."

"Suaramu bergetar, sayang." Allen menciumi Aya lagi, mendinginkan perasaannya.

"Sekarang sudah tidak takut, kan?" Tanya Allen lagi, yang disambut Aya dengan anggukan.

"Aya jangan bergerak."

Mereka saling berpegangan tangan. Aya menggenggam tangan Allen erat, apalagi saat Allen memasuki tubuhnya.

"Ah, aah…. Allen, Allen…."

"Apa, sayang?"

Aya memejamkan matanya, karena Allen masuk semakin dalam.

"Aaahh, Allen…. Allen…. ah, aahh…."

"Teriakkan namaku, Aya…."

Aya kesulitan mengendalikan sensasi yang diberikan Allen.

"ALLEN!! AH…. ALLEN!!"

Aya tak bisa bergerak. Tangannya ditahan dengan kuat oleh Allen, seakan melarangnya untuk menggenggam apapun di sekitarnya.

Allen tersenyum puas, kemudian dia menggigit telinga Aya pelan, membuat gadis itu sedikit menggeliat geli.

"Aya tidak apa-apa?" Tanya Allen pelan.

"Aya nggak apa-apa…. Allen percaya saja…."

"Aku tahu Aya pasti bisa."

Aya membelalakkan matanya, saat tahu Allen memasuki tubuhnya lagi tanpa izin.

"ALLEN!!! Ah, aah…. ah, Allen…."

"Ya, seperti itu Aya…. Berteriaklah sementara aku menanamkan benih cinta di dalam rahimmu."

"Maksud Allen apa…. Agh, aahh…. ah, Allen…. ALLEN!!"

Allen mengusap air di sudut mata Aya.

"Aya ketakutan, ya?"

"Aya nggak takut…. tapi rasanya sakit…."

"Ya, memang begitulah rasanya…. Tapi sebentar lagi juga tidak akan apa-apa."

Allen menciumi dada Aya, sebelum masuk lagi, menanamkan benih cintanya.

"AAHH…. ALLEN…. ALLEN…."

"Lagi…. ugh, rapat sekali…."

"AALLEENN!!!!!" Jerit Aya sekerasnya.

Aya mendongak karena kesakitan. Tangannya masih Allen tahan.

"A--Allen…. haah…. Allen…."

Allen menatap Aya sejenak, kemudian mencium dahinya.

"Allen…. Aya sudah nggak kuat…."

"Baiklah, kita berhenti sekarang."

Allen menarik selimut, menutupi mereka berdua. Kemudian mencium dahi Aya lembut.

"Selamat tidur." Bisiknya.


Besoknya....

"HEEI SEMUANYA! AYA UDAH JADIAN SAMA ALLEN LOOOH!!"

Seru gadis berambut oranye panjang di kantin. Kontan saja seluruh kantin jadi ramai!

"Nah, kan? Kutukanku terbukti." Kata Lavi bangga.

"Iya, iya, aku mengaku." Allen kalah.

"ALLEN!"

Aya sudah menubruknya lagi.

"Allen! Hari ini ada misi bareng! Ayoo, kita ke tempat Komui!" Ajak Aya.

"Iya, iya, ayo."

Allen membiarkan Aya bermanja di lengannya. Karena bagi Allen, tak ada yang lebih indah....

Hanya gadis di sampingnya yang akan selalu dia lindungi sepenuhnya....

Aya.