.

Meregangkan badannya, Yunho keluar dari pintu belakang, dan jantungnya hampir saja lepas dari tempatnya saat ia menemukan ada seseorang yang berdiri di depannya.

Menarik nafas panjang, Yunho berusaha menetralkan degup jantungnya, dan menatap malas pada orang di depannya.

"Apa yang kau lakukan disini, hmm?"

.

.

Are u captivated to me?

Are u fallin' for me?

I'm not that easy, boy...

Catch Me if you wanna~

.

.

.

.

Ela-ShimSparCloud presents

An Alternate Universe fanfiction

"Catch Me" ch. 4

Pairing : absolutely HoMin (Jung Yunho X Shim Changmin)

Rate : No NC = rate T

Length : 4 of ?

Desclaimer : They're belongs to GOD, themselves and DBSK

Warn : TYPO's, Alur Super Lambat! FirstSeme!Min—NextUke!Min, Playboy!Min, Cold!Yun

.

.

.oOHoMinOo.

.

.

.

Yeoja yang kini berdiri di depannya itu mengerucutkan bibirnya dengan sangat imut. Kedua lengan kurusnya meraih lengan Yunho dengan gaya manja yang membuat namja tersebut memutar kedua bola matanya dengan jengah.

"Oppa~ kenapa kau kejam sekali padaku?" rajuk yeoja manis itu. "Aku kan hanya ingin bertemu denganmu, oppa. Makanya aku bela-belakan datang jam segini kemari."

Yunho mendengus tak percaya mendengar ucapan yeoja di depannya itu. "Kalau kau datang, jangan suka mengagetkanku dengan berdiri di depan pintu keluar seperti tadi. Kau hampir membuat jantungku copot. Dan lagi, jangan berada di luaran sendirian seperti ini. Berbahaya. Dan kau tahu aku akan sangat khawatir padamu."

Yeoja itu tersenyum sangat lebar mendengar ucapan Yunho. Dengan cepat yeoja itu berpindah posisi menjadi disamping Yunho dan menggelayut manja pada lengan Yunho. "Aku juga sangat sayang padamu, oppa~" ucapnya ceria.

Yunho kembali mendengus kesal, meskipun ia sama sekali tak berusaha melepaskan lilitan tangan yeoja itu padanya. "Jadi, untuk apa kau datang kesini? Aku tahu kalau akan selalu ada udang di balik batu."

Yeoja yang bergelayut padanya itu menatap Yunho dengan tatapan tak percaya yang sangat dibuat-buat. "Bagaimana oppa bisa meragukan niat tulusku yang hanya ingin bertemu denganmu, oppa? Kau menyakiti hatiku yang rapuh ini.." ucapnya dramatis sambil meletakkan satu tangan di depan dadanya dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.

Yunho kembali memutar kedua bola matanya dengan bosan, dan ia sudah akan menjawab ucapan yeoja itu saat ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

Sesuatu yang menarik perhatiannya itu menatap ke arahnya dengan tatapan tajam, dan Yunho berusaha menahan dirinya untuk tak menyeringai lebar melihatnya.

Alih-alih menunjukkan bahwa Yunho menyadari eksistensi seseorang di seberang jalan, Yunho malah kini mecondongkan tubuhnya ke arah yeoja disampingnya.

"Kau boleh menginap lagi di tempatku, tapi kau harus membantu oppa sekarang, Seohyun." bisik Yunho sambil menatap serius pada wajah sepupunya itu. Ia sudah terbiasa dengan kedatangan Seohyun ke tempatnya hanya untuk menginap di rumahnya, karena bertengkar dengan bumonimnya—yang merupakan ahjumma dan ahjussinya dari pihak keluarga Appanya.

Seohyun, yang sudah sangat hapal dengan semua tingkah oppanya itu memberi isyarat bahwa dia mengerti. "Apa yang harus kulakukan, oppa?" balasnya berbisik lirih.

"Bertingkahlah seperti kekasihku, kau bisa kan?" pinta Yunho pada sepupunya itu sambil mengecup puncak kepala Seohyun.

Tanpa perlu untuk bertanya lebih lanjut, Seohyun langsung menyandarkan kepalanya di dada bidang oppanya itu. "Oppa, aku sangat merindukanmu seharian ini." ucap Seohyun dengan nada suara yang cukup keras, sambil kedua lengannya kini berpindah melingkar di pinggang kokoh Yunho.

Yunho tertawa puas di dalam hati melihat akting sepupunya, dan menyeringai puas saat melihat namja di seberang sana membelalakkan sepasang doe eyesnya. "Aku juga merindukanmu Seohyun, malam ini kau menginap di tempatku kan?" ucap Yunho dengan suara seduktif yang sengaja ia ucapkan dengan cukup keras.

"Tentu saja, oppa. Aku sudah tak sabar ingin melebur menjadi satu denganmu~"

"Nah, tunggu apa lagi." ucap Yunho sambil melepaskan pelukan sepupunya itu, dan menuntun Seohyun untuk masuk ke dalam mobilnya.

Yunho menatap tajam pada namja di seberang sana, dan melemparkan smirk andalannya, sebelum kemudian ia masuk ke dalam mobil, dan meninggalkan Shim Changmin dengan ekspresi shocknya.

.

.

.oOHoMinOo.

.

.

"Nah, oppa, sekarang kau bisa jelaskan semuanya padaku?" tanya Seohyun saat mereka sampai di rumah pribadi Yunho.

Yeoja itu mengikuti Yunho yang masuk ke dalam rumah, dan berdiri si samping Yunho yang tengah mengambil air minum di kulkas.

"Aku tadi sekilas melihat ke seberang jalan. Di sana ada seorang namja bertubuh tinggi. Apa namja itukah alasan oppa tadi?" tanya Seohyun penasaran. "Oppa tertarik padanya dan ingin membuatnya cemburu?

Yunho menghabiskan minumnya sebelum ia mengangguk dalam diam.

"Kyaaa~! Chukkae oppa! Aigooo~ akhirnya ada juga seseorang yang benar-benar bisa menarik perhatianmu oppa." seru Seohyun kegirangan.

Yunho hanya mendengus bosan melihat tingkah Seohyun. "Tak usah berlebihan, Seo."

Seohyun mengerucutkan bibirnya. "Bagaimana aku bisa untuk tak berlebihan begini, oppa. Aku sudah bosan melihatmu menghabiskan waktu dengan one night stand bersama yeoja-yeoja atau namja-namja yang tak jelas itu."

Seohyun berjalan megikuti Yunho yang kini duduk di sofa dengan sekaleng bir di tangan. "Oppa, sekarang ceritakan padaku mengenai namja itu. Apa yang membuatmu tertarik padanya, oppa?"

Yunho meletakkan kaleng birnya di meja dan menatap bosan pada Seohyun. Alih-alih menjawab pertanyaan Seohyun, namja itu menatap serius pada sepupunya itu. "Kali ini, kenapa lagi kau kabur dari rumah?"

Seohyun menghembuskan nafas panjang sambil menyandarkan punggungnya ke sofa empuk milik Yunho. "Seperti biasa, oppa. Aku benci saat appa mulai menjelek-jelekkan nama Yonghwa. Apa mereka itu lupa kalau Yonghwa tengah meniti karir di luar negeri karena ingin lebih mapan dalam hal materi sebelum melamarku? Tapi appa malah bilang kalau Yonghwa tak mungkin setia dan menyuruhku untuk mencari kekasih baru yang lebih mapan!" ucapnya kesal sambil memanyunkan bibirnya.

Yunho tertegun sekilas saat menatap bibir manyun Seohyun. Tanpa bisa di cegah, pikirannya langsung melayang pada namja yang tadi berdiri di seberang jalan di depan restaurantnya. Memikirkan namja itu membuatnya jadi teringat kembali pada sepasang bibir yang tadi sore menempel erat di bibirnya sendiri.

Bibir itu terlihat begitu sintal, dan terasa sangat kenyal dan lembut saat menempel di bibirnya. Setiap lekuknya terasa sangat pas menempel di bagian bibirnya, dan ingatan akan sensasi lembut dan manis itu membuat Yunho menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan ingatan itu dari kepalanya.

"Kau harus bersabar Seo. Jangan meladeni kerasnya appamu dengan kekerasan juga." ucapnya lembut sambil mengusap puncak kepala sepupunya itu.

"Aku tahu oppa. Karena itu aku langsung kabur kemari sebelum aku melemparkan kata-kata kasar pada Appa."

Yunho tersenyum. "Good girl. Sekarang bersiaplah untuk tidur. Ini sudah malam. Oppa juga akan langsung istirahat."

Yunho sudah akan beranjak pergi sebelum tangan Seohyun menahan pergelangan tangannya. "Jangan oppa pikir aku akan semudah itu dialihkan perhantiannya. Sekarang oppa harus cerita mengenai namja tadi itu." ucap yeoja dengan senyumnya yang sangat lebar itu.

Yunho menghela nafas dan karena ia mengetahui sifat sepupunya itu, ia tahu pasti kalau malam ini akan jadi malam yang panjang.

.

.

.oOHoMinOo.

.

.

"Shit!"

Leetuk sedikit terlonjak dari duduknya saat mendengar suara pintu yang di tutup dengan sangat kasar. Namja yang memiliki ketergantungan terhadap warna putih itu menatap pada roommatenya yang memasuki kamar dengan wajah yang dilipat-lipat.

"Shit! Shit! Shit!" umpat namja tadi sambil melemparkan jaketnya sembarangan, dan menjatuhkan tubuhnya dengan keras di atas tempat tidurnya. Ia memposisikan dirinya untuk tengkurap, membenamkan kepalanya di bantal, dan terus mengumpat dengan kesal.

Leetuk menghela nafas melihat tingkah roommate—yang sudah ia anggap seperti dongsaeng—nya itu. Ia adalah senior di universitas yang sama dengan Changmin, dan mereka sudah menjadi teman sekamar semenjak Changmin ikut masuk ke dalam dorm kampus ini.

Beranjak dari tempatnya, Leeteuk memilih untuk duduk di tepi ranjang roommatenya itu dan mengusap punggung namja itu dengan penuh perhatian.

"Waeyo, Changmin-ah?"

Namja yang disebut namanya itu menggelengkan kepalanya dalam diam, dan semakin dalam membenamkan kepalanya ke bantalnya.

"Changmin-ah.." panggil Leeteuk sekali lagi.

"Berisik! Jangan ganggu aku!" sentak Changmin kasar.

Leeteuk menghela nafas melihat tingkah Changmin. Jelas terlihat kalau roommatenya ini sedang kesal sekali. Dan jelas ia bukan tipe yang akan diam saja saat melihat Changmin tengah kalut begitu.

"Changmin-ah.." panggilnya lagi, sambil kembali mengusap lembut punggung Changmin.

Changmin yang merasa sangat kesal karena kegigihan Leeteuk langsung bangkit dan menampik keras tangan Leeteuk."Aku bilang jangan ganggu aku! Apa itu kurang jelas?!"

Leeteuk cukup tertegun saat melihat ekspresi Changmin di depannya saat ini. Roommate sekaligus dongsaeng baginya itu biasanya selalu memasang wajah dan senyum yag terkesan nakal dan main-main. Namun kali ini, di wajah tampan itu tergurat jelas kemarahan dan kekesalan yang amat kentara. Sepasang matanya yang menatap nyalang pada Leeteuk benar-benar terlihat sangat mengerikan karena kemarahan yang terpancar kuat di sana. Tapi Leeteuk sadar, tak hanya kemarahan saja yang ada di sana. Tapi juga rasa sedih dan terluka pada sepasang mata indah itu.

Menguatkan hatinya, Leeteuk mengulurkan tanganya untuk meraih Changmin—sebelum tangannya kembali di tepis dengan sangat keras.

"Hyung! Jangan ganggu aku!"

Leeteuk menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. "Aku sudah lama mengenalmu, dan kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Jadi mana mungkin aku akan meninggalkan dongsaengku saat ia terluka?"

Kalimat itu membuat amarah Changmin semakin menjadi. "Jangan bercanda hyung. Siapa yang kau bilang sedang terluka, hah?!"

Leeteuk diam tak menjawab, dan hanya menatap Changmin dengan tatapan teduh.

Changmin melarikan jemarinya ke surai madunya, dan mengacaknya dengan frustasi."Aku tak sedang terluka, hyung. Aku hanya... marah." ucapnya saat ia tak bisa lagi bertahan di bawah tatapan teduh Leeteuk padanya. Memang aneh, tapi ia selalu tak bisa bertahan di bawah tatapan lembut Leetuk padanya.

Leeteuk tersenyum dan meraih bahu Changmin. "Kau marah karena kau terluka. Apa yang terjadi?"

Changmin menggeleng dan ia kembali membaringkan tubuhnya. Kedua matanya terpejam erat seolah ingin menghilangkan segala kenyataan.

Leeteuk menatap roommatenya dengan tatapan menilai. Pikirannya melayang pada waktu beberapa hari lalu dimana Changmin berada dalam kondisi yang hampir sama. Hampir, karena waktu itu hanya ada kemarahan saja di mata Changmin. Tak ada kesedihan dan luka seperti yang ia lihat malam ini.

'Waktu itu dan saat ini... apakah penyebabnya sama?'

"Apa ini masih soal... Jung Yunho?" tanya Leeteuk dengan hati-hati.

Ia masih ingat dengan jelas beberapa hari lalu Changmin pulang dini hari dengan wajah kesal dan sebuah kartu nama yang sudah lecek karena di remas dengan kuat. Kartu nama yang memiliki nama Jung Yunho yang tercetak jelas.

Kedua mata Changmin membuka dengan cepat saat mendengar Leeteuk menyebutkan nama namja itu. "Jangan sebut namanya lagi, hyung." desisnya dengan kesal—dan membuat Leeteuk tahu kalau ia sudah mengeluarkan jawaban yang tepat.

"Hmm, jadi ini masih soal dia ya. Kenapa? Apa dia benar-benar membuatmu tertarik?" ucap Leeteuk sambil menyilangkan satu kakinya.

"Itu bukan urusanmu!" sahut namja yang lebih muda itu sambil berpindah posisi jadi tiduran menyamping dan memeluk gulingnya.

Leeteuk tersenyum girang dalam hati saat melihat roommatenya itu terlihat merajuk dan bertingkah imut begitu. Tapi jangan salah, ia bukan tipe yang selalu memakai cara lembut untuk mencapai tujuannya. Dan meskipun Changmin saat ini terlihat manis, tapi hal paling sulit adalah untuk membuatnya bercerita mengenai sesuatu yang mengganggu pikirannya. Jadi, ia akan sedikit bermain 'kasar' saat ini.

"Jadi benar kau serius padanya? Shim Changmin sang playboy kampus, sekarang jatuh berlutut pada namja yang sama sekali tak tertarik padanya? Ironis sekali, Changmin-ah."

Changmin menggeretakkan giginya saat mendengar ucapan Leeteuk yang menusuk tepat di jantungnya. Ia kembali bangkit dan menatap Leeteuk dengan penuh emosi. "Aku tidak jatuh berlutut padanya, dan tak akan pernah! Jadi hilangkan pemikiran itu dari otakmu, hyung." desis Changmin berbahaya.

"Begitukah? Kalau begitu, kemana perginya playboy Changmin yang hampir setiap hari selalu pulang pagi setelah bersenang-senang dengan pacar-pacarnya itu?" sindir Leeteuk.

Changmin memasang wajah kesal mendengar sindiran roommatenya yang lebih tua darinya itu. "Bukannya kau selalu memarahiku tiap aku pulang pagi, hyung? Kenapa sekarang kau protes?"

Memilih untuk mengabaikan pertanyaan Changmin yang ia tahu untun mengalihkan pembicaraan mereka, Leeteuk kembali membuka bibirnya. "Dan lagi, dari kemarin-kemarin aku tahu kalau kau sibuk mencari tahu hal mengenai Jung Yunho lewat internet. Kau bahkan langsung menuju Kimchi restaurant begitu jadwal kuliah berakhir—dan kembali dengan muka kusut saat kau tak menemukan namja itu berada di sana. Anehnya lagi, biasanya, di saat-saat seperti itu kau selalu memilih untuk hang out dengan teman-temanmu, tapi kau malah memilih untuk langsung tidur. Aneh sekali kan?"

Changmin berdecih mendengar penuturan Leeteuk yang sangat akurat itu. "Aku tak tahu kalau kau segitu perhatiannya padaku, hyung. Aku terharu." ucapnya penuh sarkasme.

Kembali mengabaikan ucapan sarkastik Changmin, Leeteuk memberikan tatapan lembut pada Changmin. "Jadi, apa spesialnya namja satu ini sampai bisa membuat playboy Changmin jadi hilang ke-playboy-annya, hmm?"

Namja yang lebih muda itu menatap Leeteuk dengan tatapan skeptis. Cukup lama, sebelum kemudian ia menghembuskan nafas dengan lelah. "Dia biasa saja. Hanya saja dia punya badan yg bagus dan wajah yang tampan. Itu saja."

Leeteuk melemparkan tatapan tak percaya, dan Changmin kembali menghembuskan nafas dengan kesal. "Dia punya sepasang mata setajam elang, dan memiliki tatapan yang membuat perutku jadi jungkir balik tanpa alasan. Puas?!"

Leeteuk tersenyum lebar sekarang ini. Pengakuan namja di depannya ini membuatnya yakin kalau untuk saat ini Changmin tengah jatuh cinta. 'Ah~ indahnya masa muda', pikir Leeteuk dengan konyol.

"Ah. Jadi begitu. Lalu, tadi kau berangkat kembali ke Kimchi Restaurant dengan wajah peuh tekad, tapi kenapa begitu pulang, kau jadi terlihat kusut dan jelek begini?"

Changmin merasakan saat ini hatinya seperti tengah di remas dengan kuat saat ia kembali mengingat hal yang ia lihat tadi.

Yunho... bersama dengan seorang yeoja, dan terlihat sangat mesra.

Itu hal yang sangat tidak benar.

Jung Yunho... adalah targetnya, dan itu berarti Jung Yunho akan menjadi miliknya.

Dan ia tak suka kalau apa yang menjadi miliknya menyentuh atau disentuh oleh orang lain tanpa seijinnya!

Membayangkan kalau Yunho menggunakan tangan kekarnya untuk menyentuh yeoja tadi membuat hatinya terbakar. Memikirkan kalau malam ini Yunho menghabiskan waktu dengan menyetubuhi yeoja tadi... mendapatkan kepuasan dengan memasuki tubuh yeoja itu... benar-benar membuat amarah membakar tubuh dan hatinya dengan panas yang tak terkira.

Jung Yunho tak boleh menyentuh orang lain selain dirinya!

Dan kenyataan kalau tadi Yunho bahkan membiarkan yeoja itu melingkarkan lengan di pinggangnya membuat kedua matanya menjadi panas karena angkara.

.

..

"Kau benar-benar sudah jatuh hati padanya, Changmin-ah." ucap Leeteuk lembut sambil mengusap lembut ujung mata kanan Changmin yang kini mengalirkan air mata.

.

.

.oOHoMinOo.

.

.

Suara pintu restaurant yang terbuka membuat waiter yang berjaga langsung menghampiri pelanggan baru itu. Namun sapaan yang sudah akan keluar dari bibirnya kini tertahan di dalam tenggorokannya saat melihat sang pelanggan itu.

"Apakah Jung Yunho ada?"

"A-ah, Y-yunho ssi—"

"Nah, jangan gugup begitu. Santai saja. Aku kesini mencari makan kok. Tunjukkan dimana mejaku."

Minho hanya mengangguk sekilas dan berusaha untuk mengalihkan pandangannya dari orang itu. "S-silahkan." ucapnya sambil berjalan mendahului pelanggan itu untuk menunjukkan meja baginya.

"Pertama aku ingin sebotol air mineral dingin, segelas caramel macchiato, spaghetti carbonara dengan white cream sauce, dan beef lasagna."

Minho mencatat pesanan pelanggannya itu dengan gugup. Dan saat ia menanyakan apalagi yang dia inginkan, pelanggan itu tersenyum dan berkata dengan nada serius. "Aku ingin Jung Yunho."

.

.

.oOHoMinOo.

.

.

"Bos! Bisakah kau kesini sekarang?"

Yunho menatap ponselnya untuk melihat siapa yang tengah menghubunginya, dan menemukan nama Lee Minho tertera disana.

"Minho? Ada apa?"

"A-ada seseorang disini yang sepertinya ingin bertemu denganmu—dan ya Tuhan bos, ia benar-benar hot! Kalau saja aku sedang tidak bekerja, aku pasti akan langsung mendekatinya." ucap namja muda itu dengan sangat antusias.

Yunho menggelengkan kepala sambil tersenyum maklum. "Baiklah, kurasa aku akan tiba disana sebentar lagi. Aku memang sudah perjalanan kesana. Dan ingat Minho, no flirting saat bekerja."

"Aish! Aku tahu bos."

.

.

.oOHoMinOo.

.

.

Setelah memerkirakan mobilnya, Yunho memilih untuk masuk melalui pintu belakang—dan pas sekali, karena ia langsung bertemu dengan Minho yang baru saja membuang sampah.

"Ah! Kau datang juga bos!" ucap Minho ceria sambil menghampirinya."Kemari, akan kutunjukkan orangnya."

Yunho memutar kedua matanya dan mengikuti Minho yang menuntunnya ke dalam restaurant dengan sangat antusias.

.

..

...

Tubuh Yunho terpaku di tempatnya saat ia berdiri di depan ruangan pintu karyawan, dan tanpa perlu ditunjukkan okeh Minho, tatapan Yunho sudah secara otomatis langsung berhenti pada sesosok namja yang tengah menikmati spaghetti carbonaranya.

Rahang Yunho langsung menegang saat melihat namja itu memejamkan kedua matanya dan menghisap masuk untaian spaghetti itu ke dalam mulutnya.

Yunho merasa kalau ia dapat dengan jelas mendengar bunyi 'sluurp!' yang dihasilkan namja itu—dan kini giliran bagian bawah tubuhnya yang menegang saat melihat ada sisa-sisa white cream sauce yang menempel di bibir sintal itu.

Cream sauce itu berwarna putih susu, dan tanpa bisa dicegah, pikiran kotor Yunho mengandaikan kalau itu seperti sperma. Dan melihat cairan yang sewarna dengan sperma berada di sekitar bibir namja itu—dengan kedua mata namja itu terpejam dengan nikmat— membuat miliknya yang berada di selangkangannya itu langsung bereaksi dengan cepat.

"Kau melihat itu bos? Namja yang tengah memakan spaghetti di meja nomor lima. Apa kau mngenalnya, bos? Kalau iya, kenalkan aku padanya, oke?"

Rahang Yunho mengeras saat ia mendengar ucapan Minho barusan.

Changmin. Namja yang sedari tadi dimaksudkan oleh Minho itu adalah Changmin. Dan urat-urat kekesalan di pelipisnya berkedut saat memikirkan kalau Minho berani berpikir kalau namja itu bisa memiliki ChangminNYA.

"Aku mengenalnya karena dia itu milikku, Lee Minho." desisinya dengan suara rendah.

Namja muda yang belum terlalu lama menjadi karyawan disitu langsung menelan salivanya dengan susah payah. "Maaf. Aku tak tahu kalau dia punyamu, bos." ucapnya sebelum namja itu kabur dari sampingnya.

.

.

'Dia ada disini,' batin Changmin sementara ia masih tetap memejamkan kedua matanya. Tak mengerti bagaimana, tapi Changmin bisa merasakan perubahan atmosfir yang mengelilingi restaurant itu—dan ia mengenali kalau aura yang sekarang menguar di udara ini adalah aura milik Jung Yunho.

Dengan sangat perlahan Changmin membuka kedua bola matanya—dan tatapannya langsung bertubrukan dengan tatapan tajam milik Yunho di seberang sana.

Seluruh tubuhnya bergetar penuh antisipasi saat merasakan tatapan tajam namja itu padanya, dan ia tersenyum.

Changmin mengubah senyumnya menjadi seringaian menggoda, dan ia melemparkan tatapan penuh nafsunya pada Yunho, semenatara ia menjulurkan lidahnya untuk menjilat sisa-sisa saus yang belepotan di sekitar bibirnya.

.

Yunho mengepalkan tangannya dengan kuat untuk menahan dirinya agar tak langsung menghampiri namja itu dan memakannya saat ini juga. Tatapan seductive yang dikirimkan namja itu membuat gairah perlahan meletup di dalam dirinya—dan gairah itu langsung berkobar kuat saat melihat lidah namja itu menjilati saus krim putih di bibirnya.

Dari angka satu sampai sepuluh, Yunho menetapkan kalau pemandangan di depannya ini ia tempatkan sebagai tiga besar dalam pemandangan paling erotis yang pernah ia lihat.

"So hot~"

Perhatian Yunho kembali terarah pada Changmin yang kini membuka botol air mineral itu dan meminumnya langsung.

Yunho tak tahu namja itu sengaja atau tidak, yang pasti, dibandingkan air yang terminum oleh Changmin, lebih banyak air yang mengalir keluar, dan berleleran di rahang kokoh yang sangat sexy itu... dan juga turun ke leher putih yang lembut itu... dan juga turun sampai ke dada—

—wait!

Dada?

Yunho menelan salivanya dengan susah payah saat ia baru saja menyadari outfit yang di pakai namja itu. Ia tahu kalau ini musim panas, namun bukan berarti Changmin berhak datang ke restaurantnya dengan hanya memakai blazer putih, tanpa memakai sehelai benangpun lagi di baliknya!

Potongan V yang rendah dari blazer itu membuat dada polos Changmin terekspos dengan jelas. Dan meskipun dari jauh, Yunho tetap bisa melihat sepasang nipple kecil yang mengintip dari kiri-kanan dada namja itu.

'Fuck!' Umpat Yunho di dalam hati saat aliran air yang berjatuhan dari mulut Changmin ikut membasahi sampai bagian dada—dan membuat bagian itu terlihat basah dan mengkilap. Yunho harus ekstra menahan diri untuk tak meraih tubuh Changmin dan melarikan lidahnya disana, dan menghisap setiap butiran air yang membasahi tempat itu.

Yunho sempat melihat Changmin menyeringai sekilas, sebelum Yunho merasakan kedua matanya terbelalak lebar dengan mulut menganga tak percaya.

Ya Tuhan, Ya Tuhan... di depannya kini Changmin—entah sengaja atau tidak—tengah mengguyur kepalanya dengan sisa air dari botol mineral itu.

Surai madu namja itu basah seketika, bersamaan dengan blazer dan juga seluruh bagian tubuhnya yang lain. Tetes-tetes air terlihat bermain-main di ujung surai Changmin, sebelu akhirnya memilih untuk jatuh, dan menelusuri setiap inchi tubuh namja itu. Satu tangan namja itu menyisir surai basahnya ke belakang dengan gaya yang sangat erotis,

'Uh, Oh.'

Yunho merasakan kalau kini junior besarnya benar-benar sudah terbangun karena pemandangan erotis di depannya itu, dan lapisan boxer dan celananya itu benar-benar mengganggu ereksinya di bawah sana.

"Ups! Maaf, aku tak sengaja. Aku akan membersihkan diri dulu di toilet." ucap Changmin saat melihat kekacauan yang ia akibatkan—meskipun namja itu benar-benar tak sedikitpun terlihat merasa bersalah.

Namja muda itu berdiri dan ia diam sejenak dalam posisi itu—dan Yunho langsung tersedak salivanya sendiri saat melihat penampilan namja muda itu.

Surai basah namja itu terlihat sedikit mengikal dan buruknya—itu malah membuat wajah namja itu semakin sexy. Wajah, rahang, leher, dan dada semuanya basah kuyup dengan butiran-butiran air yang memantulkan cahaya dengan sangat apik. Dan saat pandangan Yunho turun ke bawah, sepasang mata musangnya menatap gundukan di selangkangan namja itu dengan tatapan lapar dan penuh nafsu.

Selain fakta bahwa namja itu juga sama-sama terangsang sepertinya, kenyataan kalau namja itu mengenakan celana skinnya jeans yang sangatsangatsangat ketat membungkus sepasang kaki jenjangnya itu membuat keadaan Yunho tak bisa lebih buruk lagi.

Celana itu benar-benar ketat membalut setiap lekuk tubuh Changmin, dan saat namja ituberbalik untuk berjalan menuju toilet, Yunho di paksa untuk membelalakkan matanya dengan lebar saat melihat betapa ketatnya celana jeans itu menempel pada bagian pantat—yang kini tersuguh dengan jelas bagi sepasang mata musang Yunho.

Seperti disengaja, Changmin berjalan dengan sangat perlahan dengan gaya yang berlebihan, hingga setiap langkah yang diambilnya membuat satu bagian pantat kenyal itu terangkat ke atas. Dan dengan setiap langkah itu, celana Yunho jadi semakin dan semakin ketat membungkus ereksinya.

.

..

Changmin berusaha menahan senyumnya saat ia melangkah membelakangi Yunho. Tanpa perlu berbalik pun, Changmin bisa dengan jelas merasakan tatapan tajam namja itu menyelubungi tubuhnya. Tak usah pedulikan tatapan orang lain disana, karena hanya tatapan tajam Yunho saja yang sanggup mengirimkan getaran ke dalam tubuhnya.

Namja muda itu berhenti di depan bilik toilet, dan ia menoleh ke arah Yunho yang masih menatapnya dengan tajam.

"Ke-ma-ri-lah." Ucap Changmin tanpa suara, sebelum ia masuk ke dalam bilik toilet untuk pria itu.

Degup jantungnya menggila di dalam sangkar rusuknya saat ia menyandarkan punggungnya pada dinding keramik di dalam toilet itu.

Detik demi detik berlalu, dan degupan jantung Changmin belum mereda sedikitpun. Seluruh tubuhnya menahan rasa antisipasi akan kemungkinan kalau Yunho benar-benar akan mengikuti ajakannya tadi ke dalam sini.

Akankah Yunho mengiyakan ajakannya?

.

.

.

.

~TBC~

"..."

Cant say anything...

Yah, intinya semua reader yang udah meninggalkan jejak di kotak review itu (semuanya aku baca tanpa terkecuali loh~), semuanya memang ya-dong-ers.

Dan sebagai author yang baik, aku membuatkan ff yadong ini untuk kaliaaan~ #slap

Untuk chap ini sedikit aku tambahin bumbu mengenai perasaan Changmin ke Yunho, biar ntar kalo mereka NCan(yang entah di chapter berapa bakal terlaksana), itu gak cuma berdasar nafsu belaka.

Such a sappy romantic girl, am I?

Author tahu kalau kkarya author ini belum sempurna, karena itu author minta komen, saran dan kritik yg membangun biar FF ini bisa jadi lebih baik lagi.

Oh, dan kmaren ada yg PM aku cz nggak nemu akun twit dan fbku. Dulu uname twitku itu ela_kyuhyunnie. Tapi sekarang ganti jadi ela_JungShim. Dan mention kalo mau di folback ya~

Kalo fb itu namanya Ela Ela Changminnie, tapi nggak terlalu aktif disana sih.. hehehe..

Last, semua ucapan terima kasih kalian #slapped –mian, maxudnya, semua komentar, saran, kritik, dan dukungan kalian silahkan masukkan ke dalam kotak review ya~

SILENT READERS = orang yang tak bisa menghargai kerja keras para author.