Sakigane (Noir): Yahoo, minna-san. Jumpa lagi dengan saya, salah satu author ter-BAKA di dunia, Noir (digebuk pembaca rame2). Ngak terasa, ya, sudah sampai chapter sekian cerita ini, tentunya kekurangan2ku masih saja tidak bisa mengimbangi keinginan pembaca supaya cerita ini tambah rapi atau lainnya. Sebenarnya aku masih bingung cerita ini mau ditamatkan sampai chapter berapa, tapi Noir akan selalu mengusahakan yang terbaik kepada pembaca sekalian, akhir kata happy reading ^_^

.

.

.

.

.

You're My TroubleMaker! ch 4

Chapter 4: Are you my haters?

By Sakigane (Noir)

Disclaimer: I'm not own Bakugan, but this story is mine!

Rate: T

WARNING(s): MISSTYPO, OOC, PWP, dll

DON'T LIKE DON'T READ.

.

.

.

.

.

"Apa maksudmu?" tanya Shun dengan santainya.

"Jangan pura-pura tidak tahu! Kemarin malam aku menghabiskan waktuku dengan Dan untuk mendesign bersama. Hasil design Dan memang luar biasa, sama berkelasnya dengan baju-baju yang terpajang disini" bela Fabia dengan nada yang semakin meninggi. Shun hanya mengangkat alisnya sebentar lalu mengangguk.

"Lalu kenapa? Aku memang ada hubungan dekat dengannya, jadi itu bukan masalah. Kau tidak perlu tahu apa-apa tentang kami, nona Fabia Sheen" ujar Shun memicingkan tatapannya pada Fabia, tapi hal itu tidak membuat gadis ini kehilangan keberanian.

"Ti-tidak bisa begitu! Kau pasti menyembunyikan sesuatu, 'kan? Ayo jawab aku!" rengek Fabia sedikit menarik-narik lengan baju Shun karena penasaran.

"Sudah kubilang tidak ada hubungan apa-apa –"

"SHUN-KUN! AKU DATANG UNTUK MEMBAWA RANCANGAN MOTIF DENIMN INI~!" seru seseorang yang tiba-tiba saja mendobrak pintu toko tanpa mengetuk. Orang yang tidak terduga-duga oleh kedua insan yang baru saja ingin berdebat ini.

"DANMA?"

Entah siapa yang terkejut duluan, Fabia atau Shun, yang jelas di depan mereka sekarang itu betul-betul seorang Danma Kuso. Anak berambut kecoklatan itu tersenyum ceria tanpa merasa berdosa sama sekali melihat Fabia dan Shun yang cengo melihat kehadirannya tiba-tiba.

"Yoo, sedang pacaran, ya? Maaf kalau aku mengganggu, ya!" ledek Dan sepertinya memang sengaja memancing emosi anak berdarah dingin yang memiliki rambut panjang terkuncir ponytail itu. Walau kesal dan terkejut bercampur menjadi satu, Shun tetap pada pendiriannya, tetap tenang.

"Ke-kenapa kamu kesini, Dan?" tanya Fabia sedikitnya kaget. Mungkin saja Dan panjang umur, disaat Fabia dan Shun tengah mati-matian memperdebatkan dirinya, bagaikan geledek menyambar, Dan langsung tiba di depan mereka.

"Eh, 'kan aku sudah pernah cerita sama Fabia, aku punya teman baik bernama Shun~ Ya, 'kan, Shun?" tanya Dan sedikit menyeringai masih tidak jerah menggoda Shun yang kehabisan kata-kata. Padahal sedari tadi Shun berusaha mati-matian untuk menyangkal apa hubungannya dengan Danma, tapi sekarang dia tidak bisa melawan kenyataan lagi.

"Shun! Kau bohong, 'kan?" cegat Fabia berkacak pinggang di depan Shun. Sedikitnya Shun mengkerutkan dahinya kesal, tapi dia tetap stay cool sembari mengelus rambut hitamnya yang mempesona.

"Ya, fine. Sekarang kalau kubilang Dan itu temanku, kau akan berhenti memaksaku, 'kan?" pada akhirnya Shun mengalah, ucapannya tetap bernada datar. Tanpa tekanan emosi maupun kepanikan.

"Ehhh, memangnya Shun bilang kalau aku pembantunya, ya? Gomen, Fabia. Dia memang malu-malu punya teman sebaik diriku!" ujar Dan sok akrab langsung menggandeng lengan sebelah Shun tiba-tiba, entah kenapa Fabia malah shock melihat keakraban yang terpancar dari Dan dengan Shun.

"D-Dan! Kau.." dengan tenaga yang ada Shun berusaha melepas pelukan Dan pada lengan sebelahnya, tapi usahanya sia-sia saja karena Dan memeluk lengan Shun dengan sangat kuat.

"Eh, ternyata hubunga kalian seperti itu, ya…" guman Fabia mengangguk pelan sembari menunjuk adegan dimana Shun yang berusaha melepas dari Dan. Mau tidak mau Shun harus mengakui hubungannya dengan Dan sekarang di depan gadis yang baru bekerja sehari di toko milik ayahnya itu.

"Ya, seperti inilah hubungan kami! Tenang saja, aku akan mengajarkanmu bagaimana cara-cara supaya akrab dengan Shun! Eh, Shun, motif denimn ini diletakan dimana?" tanya Dan kemudian menyodorkan kantong kresek berisi sebuah kain yang sudah dijahit motif denimn milik pria bertampang lugu itu. Tadinya memang shock, tapi pandangan Fabia beralih pada motif bawaan Dan itu.

"I-itu motif denimn? Keren sekali!" seru Fabia takjub melihat kain motif yang baru dikeluarkan Shun daring kantong kresek bewarna hitam itu. Tidak hanya Fabia, sepertinya Shun juga takjub pada motif buatan asli dari tangan Dan itu, tapi tetap saja raut wajahnya selalu datar.

"Keren? Honto? Terima kasih banyak! Aku terinspirasi dari rasi bintang tiga hari yang lalu. Terus langsung kujahit dan baru selesai sekarang! Jadi langsung kubawah kesini, siapa tahu Shun membutuhkannya untuk motif barumu, ya, 'kan, Shun?" tanya Dan tanpa beban sama sekali.

"Eh! Ternyata benar Dan membantu Shun cuma-cuma? Shun, kau jahat sekali!" omel Fabia menggembungkan pipinya marah. Shun tidak enak melihatnya ditegur oleh seorang wanita, tapi apa daya, wajah wanita itu tetap berbeda di matanya, sampai rasa kesal pun diurungkannya.

"Cih, bukan urusanmu!" ucap Shun ketus sembari membuang mukanya seakan-akan cuek.

"Dasar kejam! Dan, kenapa kau mau saja memberikan karyamu padanya, sih?" tukas Fabia penasaran. Tidak mungkin alasannya hanya sekedar teman baik, apalagi ini soal karya tangan sendiri.

"Eh? Jadi Shun belum cerita, ya? Kalau begitu aku akan menceritakannya, ya –"

TRILILING

TRILILING

"Eh? Ponselku berbunyi…" guman Shun menyadari dering ponsel baru saja menyelamatkan dirinya. Kalau saja ponselnya tidak berbunyi, mungkin Dan akan semakin membongkar rahasia mereka pada Fabia yang tidak ada hubungan apa-apanya. Menyisahkan Fabia yang kesal karena penasaran.

"Ih! Padahal sebentar lagi akan diceritakaan!" omel Fabia dalam hatinya yang tengah bergemuruh. Shun mengeluarkan ponsel miliknya dari saku celana hitamnya, melihat sekilas layar ponsel untuk mengetahui siapa yang tengah menelponnya.

"Siapa, Shun?" tanya Dan ikut memerhatikan layar ponsel, lagipula sedari tadi Dan belum melepas pelukannya dari lengan sang sahabat baiknya itu.

"Ayah, sebentar, ya …" dengan itu Shun mohon diri untuk pergi ke ruangan yang lebih tenang untuk berkomunikasi, meninggalkan Danma dan Fabia saja di dekat mesin kasir. Fabia memiringkan kepalanya bingung.

"Kenapa sampai pergi ke tempat sepi segala? Apa pembicaraan dengan ayahnya itu privasi, ya?" ujar Fabia dengan suara pelan, Dan yang mendengar itu mulai melipat kedua tangannya di belakang kepala dan menghelai nafas panjang.

"Hahaha, Shun memang selalu seperti itu. Setiap berkomunikasi dengan siapapun lewat ponsel pasti tidak ingin diganggu!" jawab Dan tetap dengan senyum cerianya. Melihat Dan yang sepertinya maha tahu soal Shun, Fabia mulai kepikiran soal adegan tadi. Dimana Dan memeluk lengan Shun dengan ringannya, padahal kelihatannya Shun bukan tipe orang yang cepat bergaul dengan orang lain.

"Ehm, kau tahu banyak soal Shun, ya. Hubungan kalian harmonis juga …" komentar Fabia dengan senyum kalemnya yang begitu manis. Dan mengangguk dengan begitu percaya diri, setidaknya bangga menjadi satu-satunya orang yang akrab dengan Shun.

"Ya, itu 'kan sudah pasti! Memang hanya aku yang bisa menaklukan Shun, hahaha!" tawa Dan pelan. Entah kenapa begitu selesai menyimpulkan sesuatu, Fabia menjadi merinding sendiri. Dengan berani, ia pun mencoba menanyakan hal itu pada Dan.

"Ja-jadi benar hubungan kalian seperti itu, ya?" tanya Fabia mendekat pada Dan agar pertanyaannya terdengar jelas. Dan yang tidak mengerti ikut menatap gadis yang baru dikenalnya kemarin itu.

"Eh? Maksudmu?" tanya Dan bingung.

"Kalian…. Pacaran?" tanya Fabia dengan wajah lugu penuh rasa keingintahuan sampai-sampai Dan yang mendengarnya jawdrop di tempat tanpa berkedip.

"What? Aku? Shun? Pacaran? Fabia, kau salah paham! Kami memang akrab tapi sebagai teman, aku ini cowok baik-baik yang masih normal, kok! Kurasa Shun juga cowok normal, jadi tidak mungkin hal itu terjadi!" jelas Dan mengada-ngada kedua tangannya dengan wajah sedikit merona merah. Fabia sendiri menjadi salah tingkah karena salah mengira, mana dia menanyakannya dengan begitu berani.

"H-huwa! Honto suminasen! A-aku saja kok yang berlebihan, maaf!" ucap Fabia sedikit terbata-bata. Tapi entah di hati kecil Fabia merasa legah kalau Shun ternyata tidak memiliki hubungan seperti itu dengan Dan, entah kenapa …

.

.

.

.

.

"Halo, ayah?" ucap Shun ketika dia sudah berada di dekat staff room, kiranya aman dari Dan maupun Fabia. Seperti yang dikatakan Dan, Shun memang selalu mencari tempat sepi untuk berbicara dengan siapapun di ponsel. Terutama dengan ayahnya sendiri …

"Shun, bagaimana hari pertama kerja, Fabia? Apa semuanya baik-baik saja? Ingat, Shun, kau harus ramah tamah dengan designer baru, terutama Fabia itu perempuan" ucap ayahnya dari seberang sana. Shun menghelai nafas panjang lalu berganti posisi berdirinya.

"Iya, Ayah tidak perlu khawatir. Semuanya dalam kendali, atau bahkan bakat Fabia bisa bermanfaat bagi toko ini, jadi Ayah tidak perlu cemas" jawab Shun dengan tenang. Sepertinya Shun menaruh harapan pada Fabia, tidak seperti designer-designer lain yang hanya numpang lewat bagi Shun.

"Benarkah? Kalau begitu baguslah, pertahankan, ya, Shun. Ngomong-ngomong ada hal penting yang ingin ayah bicarakan padamu, Shun"

"Bicara soal apa, Ayah? Menyangkut soal pekerjaan?" tanya Shun dengan nada suaranya yang semakin pelan, takut kalau ada yang mendengarkan pembicaraan privasinya ini.

"Iya, Shun. Tadi Ayah baru saja berbicara dengan Spectra Phantom"

"Apa? Spectra? Ayah aku tidak mau bekerja-sama dengan orang macam dia, jadi cari saja orang lain –"

"Shun, kau tidak boleh menolak seperti ini. Tunjukan rasa hormatmu pada orang tua dan segera setujui permintaan dari Spectra, jarang-jarang orang professional yang memiliki banyak sponsor seperti Spectra berkesempatan untuk mengajakmu berkolaborasi, 'kan?"

"Kh –"

"Sekarang juga datangi kantor induk Kazami Corp, Ayah akan menunggumu"

"Ta-tapi Ayah –"

TUT TUT TUT

Shun melepas ponsel itu dari telinga kirinya dengan setengah hati. Ditatapnya layar ponsel itu yang menandakan bahwa teleponnya dengan sang Ayah sudah terputus. Mau tidak mau, mungkin saja Shun akan menjalankan mau ayahnya ini. "Sial, kenapa aku lagi, sih!" umpat Shun penuh amarah, tanpa disadarinya, dari lorong yang berlawanan terlihat seseorang tengah menguping pembicaraannya diam-diam.

"Heh, ternyata Spectra benar-benar 'menginginkan' Shun, eh? Menarik untuk dicari tahu~" pikir Dan tersenyum puas mendengar pembicaraan sang sahabat yang sama sekali tidak mengetahui keberadaannya disana.

.

.

.

.

.

"Fabiaaa! Maaf, ya, kami tidak sempaat mampiiir!" rengek Alice dengan pandangan berbinar kepada sahabatnya yang baru saja pulang bekerja. Ya, tak lama setelah berjalan jauh keluar dari toko untuk pulang, sengaja tidak sengaja Fabia berpas-pasan dengan kedua sahabat baiknya, Alice dan Runo yang baru pulang dari jadwal les mereka.

"Tidak apa-apa, Alice. Maafkan aku juga tidak bisa membalas e-mailmu" ucap Fabia halus dengan senyum manis ciri khasnya. Senyum itulah yang selalu membuat kedua sahabatnya lega dari masalah.

"Eh, ngomong-ngomong kenapa e-mail kami tidak bisa kau balas? Apa kau terlalu sibuk?" tanya Runo meletakan telunjuk jari kanannya di dagu terlihat berpikir. Fabia mengangguk sembari menghelai nafas panjang.

"Iya, ternyata bekerja di toko besar seperti itu berat juga, mungkin aku hanya tidak terbiasa. Tapi kalau aku terus berlatih aku pasti bisa menyesuaikan diri" jawab Fabia seraya menyemangati dirinya sendiri, disambut anggukan mantap dari Runo dan Alice, sahabat baiknya di kota itu.

"Semangat, ya, Fabia! Semoga saja besok kami sempat mampir, hehehe. Oh, iya, seperti apa, sih tampang designer yang bekerja bersamamu itu? Katanya anak tunggal perusahaan Kazami, ya? Ih, kereen, dong!" jerit Runo kemudian kelihatannya bersemangat sekaligus menggoda Fabia. Gadis berambut indigo itu mendadak cemberut dan menggeleng keras.

"Huh, sebenarnya dia tidak ada apa-apanya dan hanya tukang pembuat masalah, kok!" sunggut Fabia kelihatannya kesal mengingat siapa itu Shun Kazami. Runo dan Alice bertukar pandang lalu tersenyum tipis.

"Ih, jangan-jangan kamu jatuh cinta, ya?" goda Alice tersenyum garing pada Fabia. Entah kenapa senyum itu membuat Fabia bergidik ngeri, tidak disangka kedua temannya memiliki selerah seperti itu.

"E-enak saja, aku serius! Pokonya dia itu orang yang sangat menyebalkan dan tidak patut untuk dibanggakan!" omel Fabia sebisa emosinya. Bukannya mengerti, Runo malah menyambut keluhan Fabia itu dengan tawahan.

"Ahahaha, dasar Fabia. Kau tahu, mukamu jadi jelek kalau kau marah, tahu!" ejek Runo tidak bermaksud menyinggung. Fabia memiringkan kepalanya tidak mengerti maksud sahabatnya itu.

"Iya, seumur-umur baru kali ini kami melihatmu bertampang seperti ini. Padahal, dulu sama orang gila saja kau masih bisa bersabar, hahaha!" tambah Alice membuat Fabia langsung sweatdrop seketika, bukannya melunjak, emosi Fabia menyusut pada saat itu juga.

"Eh, masa', sih?" tanya Fabia baru menyadari keanehan itu. Sedikitnya muka Fabia memerah karena shock baru menyadari akan hal ini. Dia, Fabia Sheen, designer muda terkenal, yang selalu kalem pada siapa saja, baru kali ini kesal sampai berbuih-buih. Dan penyebabnya hanya satu, mempunyai dua tangan, dua kaki, sama seperti manusia biasa, yaitu Shun Kazami.

"Tuh, 'kan! Kau pasti sedang jatuh cinta, hahaha!"

"Bu-bukan, kok!" bantah Fabia yang mukanya sembari bersemu merah.

"Syukurlah kalau kau tidak jatuh cinta pada Shun, ya"

Mata Alice dan Runo terbelalak mendapati Fabia tiba-tiba dipeluk seorang lelaki dari belakang. Spontan gadis ini langsung merontah dan menengok siapa yang berani menyentuhnya seperti ini. "Su-suara ini …"

"DANMA?" seru Fabia terkejut mendapati Dan sudah berada di belakangnya dengan senyum ceria ciri khasnya, dan masih memeluk Fabia dari belakang. Pandangan yang membuat kedua sahabat Fabia itu shock seketika.

"Yo, Fabia!" ucap Dan melambai pada Fabia dengan tangan sebelahnya, menghiraukan kedua teman Fabia yang masih kaget melihatnya.

"Fa-fabia, siapa cowok itu? Apa dia itu Kazami yang kau bicarakan itu?" tanya Runo terkejut. Fabia menggeleng pelan lalu berusaha lepas dari pelukan Dan. Merasa berhadapan dengan wanita, Dan pun melepas pelukannya lalu melambai pada Runo dan Alice.

"Bu-bukan, dia temannya, kok!" bantah Fabia berharap kedua temannya paham. Tapi kemudian Dan menarik lengan Fabia cukup keras, walau tidak menyakiti gadis berambut indigo sama sekali.

"Salam kenal, aku sahabat Shun sekaligus pacar Fabia~" ucap Dan membuat Fabia membatu di tempat. Dan mengucapkannya tanpa beban maupun rasa bersalah sama sekali, Fabia menjadi salah tingkah dibuatnya.

"A-apa? Pacar Fabia?"

"Kami mau berkencan dulu, sayonara~" dengan itu Dan menarik lengan Fabia kencang-kencang, membawa gadis muda itu pergi jauh dari kedua sahabatnya yang saling tukar pandang masih kaget.

"Dan, kamu ini bilang apa, sih? Kita kan bukan pacar!" seru Fabia menjadi serba salah pada pria yang kelihatannya hobi tersenyum itu, sedikitnya kedua pipi manis Fabia menjadi merona merah mendengar kata 'pacar' yang dilontarkan Dan kepadanya. Masih berlari, Dan meletakan telunjuknya di pipinya sendiri.

"Hehehe, hanya bercanda, kok! Aku ingin Fabia membantuku melakukan sesuatu, kau mau membantuku, kan?" mohon Dan dengan pandangan yang menyirat rasa sakit atau semacamnya. Tanpa pikir lebih jauh, gadis itu pun mengangguk pelan.

"Boleh saja, tapi aku tidak ingin melakukan kejahatan" batas Fabia pada permohonan Dan. Kini gantian Dan mengulurkan jempolnya tanda oke pada Fabia.

"Tenang saja, ini bukan tindakan kejahatan…. Oh, iya! Kalau Fabia mau membantuku, maka aku akan memberitahukanmu alasan kenapa aku memberikan hasil rancanganku pada Shun tanpa imbalan, lho. Kau mau tahu, 'kan?" tawar Dan seperti memberikan sebuah barter pada Fabia. Gadis indigo ini memang penasaran kenapa dan mengapa Dan merelakan hasil rancangan bagusnya jatuh ke tangan orang jahat (mungkin) macam Shun, tapi kalau ditawar seperti ini …

"Dan, kenapa untuk ingin tahu alasan itu, aku harus melakukan sesuatu dulu untukmu?" tanya Fabia jaga-jaga kalau nantinya dia ditipu atau semacamnya, walau dalam hati Fabia tidak mendeteksi rasa jahat dalam diri Danma.

"Hahaha, sebenarnya bukan sesuatu yang penting juga. Tapi kalau disuruh membuka privasi secara langsung 'kan tidak enak juga, hehe" canda Dan tanpa rasa tersembunyi dalam ucapannya. Merasa tidak ada yang perlu dicurigai, Fabia pun menyutujui pertukaran yang ditawarkan Dan padanya itu.

Hanya saja yang membuat Fabia heran adalah, apa yang harus dilakukannya? Padahal lampu-lampu di sisi jalan sudah menyala tanda hari mulai gelap. Tapi seakan tidak bisa ditunda, Dan terus menarik Fabia berlari menuju ke suatu tempat yang bahkan tidak diketahui Fabia dimana tempatnya. Maklumi saja, Fabia 'baru' di kota itu, jadi dia masih belum tahu tempat-tempat apa saja di kota ramai itu.

"D-Dan, sebenarnya…kita mau kemana?" tanya Fabia tergesah-gesah karena tenaganya cukup terkuras karena berlari, tapi entah pura-pura tidak mendengar atau memang tidak mendengar, Dan terus saja menarik Fabia lari.

.

.

.

.

.

Tok tok tok tok

"Ya?" ucap seorang pria merasa perbincangannya terganggu oleh beberapa ketukan di pintu besar yang letaknya cukup jauh dari tempatnya duduk bersama lawan bicaranya. Seorang pria berjas hitam, atau sebut saja seorang butler masuk dan membungkuk sopan kepada kedua bossnya itu.

"Tuan, saya ingin memberitahukan bahwa tuan muda Shun sudah tiba" ucap sang pelayan dengan suara bariton yang begitu sopan. Tapi ucapan itu membuat raut sang Kazami menjadi cerah, ia tidak menyangka anaknya yang keras kepala itu akhirnya mau menurut dan datang sesuai permintaannya.

"Begitukah, persilahkan dia masuk kesini" perintah Kakeru kembali menyandarkan tubuhnya di sofa empuk bermodel classic yang pastinya mahal itu. Sang butler pun mengerti lalu mohon undur diri, tidak lama kemudian setelah sang pelayan pergi, sosok yang diharapkan Kakeru langsung muncul di depan pintu.

"Shun, akhirnya kau datang juga. Masuklah" perintah sang ayah dengan suara halus. Tanpa banyak bicara, Shun langsung melangkah masuk ke dalam ruangan, membiarkan sang pelayan menutup pintu dan menyisahkan mereka bertiga. Kakeru, Shun, lalu seorang lagi …

"Ehem, jadi bagaimana, Shun? Aku banyak berharap padamu, lho…" ujar seorang lelaki berambut jabrik pirang dengan iris mata kemerahmudaan, menatap Shun dengan tatapan menantang atau bisa dibilang 'kau tidak bisa menolak lagi'. Shun memandang keji Spectra, tapi karena ada sang ayah, Shun tidak bisa banyak bicara.

"Fine, aku terima. Dengan begitu kau tidak akan mengejar-ngejarku lagi, kan?" ucap Shun setengah hati sembari memalingkan muka dan melipat kedua tangannya. Jawaban yang tidak sepenuhnya, tapi memang jawaban itu yang ditunggu Kakeru maupun Spectra.

"Bagus, kalau begitu segera tanda tangani surat kontrak ini, Shun" ujar Kakeru memperlihatkan beberapa lembar surat kontrak yang memang disengaja diletakan disana. Hening sesaat, Spectra yang menyeruput minumannya, Kakeru yang menunggu reaksi putranya, sedangkan Shun yang memandang datar surat kontrak itu.

"Tunggu apa lagi, Shun? Apa kau masih enggan untuk menerimanya, hm? Kalau begitu aku akan membayarmu 3 kali lipat lagi, bagaimana?" tawar Spectra dengan tatapan tenang, seakan nominal besar yang ditawarkannya itu hanya secuil dari sebatang emas, asalkan Shun mau menerima tawarannya.

"Ja-jangan Spectra, tidak perlu ditambah lagi –"

"Ini bukan masalah uang, tuan Phantom" ucap Shun memotong pembicaraan sang ayah pada pria berpakaian royal yang masih tenang-tenang saja melihat perdebatan ayah dan anak yang dilakukan Kakeru maupun Shun. Spectra memandang lagi wajah Shun, orang yang bisa dibilang sebagai sumber harapannya sekarang.

"Lalu soal apa lagi? Cap sebagai 'Quick Designer'mu hanya pajangan, heh?" tantang Spectra kemudian. Shun memejamkan matanya, berusaha menahan emosi. Memang penawaran ini sejak lama ditawarkan Spectra pada pria berambut panjang hitam ini, atau bahkan hampir 6 bulan yang lalu. Tapi bagi Spectra, tanpa Shun Kazami, proyek besar yang ingin dilakukannya tidak akan bisa berjalan. Karena itu Spectra terus menaruh harapannya pada Shun, menawarkan pekerjaan itu pada sang putra tunggal Kazami sampai sekarang.

"Ck, aku hanya butuh istirahat sebagai designer –"

"Atau kau takut kalau-kalau nantinya kau gagal dalam proyek itu, heh?" Shun berusaha untuk tenang dengan tembakan bertubi-tubi yang dilakukan Spectra padanya, tembakan-tembakan jitu yang membuat Shun semakin terdesak. Harga dirinya sebagai designer dipertaruhkan sekarang, sedangkan sang ayah membiarkan keduanya berdebat, berharap adu mulut ini dimenangkan oleh …

"Cih!" dengus Shun kesal lalu segera meraih bolpen yang sengaja tergeletak di dekat sana. Dengan gerakan cepat, Shun mulai mengukir tanda tangannya di kotak yang sudah disediakan di surat kontrak itu. Kotak yang sejak dulu menunggu tanda tangan sang Kazami pun akhirnya puas mendapati tanda tangan Shun sudah terukir disana. Senyum Spectra mengembang pada saat itu juga.

"Hm, pada akhirnya kau hanya menjadi boneka yang akan menuruti kemauanku, ya …" gurau Spectra sedikit terkekeh penuh kemenangan setelah melihat tanda tangan Shun terukir manis di surat kontrak itu, kembali lagi ia saling melempar glare dengan Shun yang kini berdiri di bawah kendalinya.

"Kutantang kau membuat 100 design baju dalam waktu 1 minggu, Shun Kazami"

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

.

.

.

Sakigane (Noir): Cahooii, minna-san! Akhirnya chapter ke-4 jadi juga, maaf ya, kalau selalu berakhir dengan garing seperti ini, hehehe. Entah kenapa jadinya seperti ini, padahal tadinya aku benar-benar tidak ada ide, tapi setelah kupaksain nih otak (kasihan amat) buat berpikir tentang kelanjutannya, ya jadi seperti ini. Kayaknya Spectra maupun Dan disini OOC dan bikin kesel pembaca, ya? (digebukin readers) Ya, sudah, deh. Aku hanya bisa berkata sampai disini dulu dan mohon undur diri, maaf kalau tidak bisa membalas review kalian satu-satu karena sibuk dengan kegiatan dunia nyata :) Tapi jangan ragu untuk tetap me-review fiction satu ini, ya :D Akhir kata, review please~

1. Apa hubungan Shun dengan Danma? (by SuzunoKazami)
Hehehe, soal hubungan mereka bisa dilihat jelas di chapter yang ini.

2. Spectra itu siapa disini? (by Laila Sakatori 24, MisakiRika, Fabia, Asera Madoka Kyunmei, David)
++~
Karena tidak bisa/mau memberikan spoiler ke pembaca, jadi kalian bisa lihat sendiri di chapter ini, sedikit kuperjelas bagaimana perannya tapi masih dirahasiakan XD *plak*

3. Nama OC-nya dari MFbeyblade? (by bjtatihowo)
++~
Hm, kalau nama di MFBeyblade itu Chin Yun, tapi karena disini perempuan makanya aku beri nama Chi Yu. Lagipula nama Chi Yu itu manis, hehehe. Kalau suka MFBeyblade juga jangan sungkan membaca karya saya di fandom itu ^_^

4. Apa Shun dan Fabia sudah mulai jatuh cinta? (by Riri-Suzuki-Rui, Leo)
++~
Hm, bagaimana, ya. Yang namanya cinta juga tidak langsung ketemu jatuh cinta, pastinya ada proses maupun rintangan (?). Jadi mereka masih malu malu kucing mungkin (digebukin Shun n Fabia).

5. Update & Keep Writing~ (MisakiRika, Fabia, Yorishiko ShamaMizuchi, Reshu DiveroYu, Leo, Riri-Suzuki-Rui, Kitokita Ariri-chan, Chii EmeraldRose, Lubis Tadani, Asera MadokaKyunmei, David)
++~
Arigatou ya dukungannya :D Review again ^_^

R

E

V

I

E

W