Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Selamat membaca.


Duarrrr!

Bersamaan dengan kerasnya bunyi petir, siluet sepasang manusia muncul. Hinata dan Yamato.

"Sensei? Hinata-chan? Kok kalian ada di sini?"

-

-

"Godaime mendapat surat kaleng yang mengatakan akan ada sesuatu tak terduga yang melibatkan shinobi Konoha yang menjalankan misi di Suna. Karena panik, dia memerintahkan aku yang bisa mengendalikan Naruto, dan Hinata yang punya penglihatan tajam, untuk menyusul…"

-

-

Sambil menundukkan kepala, Sakura menghela napas panjang. "Gaara... kurasa dia akan buta..."


Lost of memories © Myuuga Arai

Chapter 3 : prediksi yang salah

Semua diam tak bergeming dan sadar bahwa Naruto hampir saja membulirkan air matanya seandainya Sakura tidak memeluk dan menenangkannya. Tapi hanya Kakashi yang sadar, bahwa Sakura memeluk Naruto karena Sakura sendiri juga ingin menangis. Menangis karena gagal menyelamatkan mata indah milik Gaara. Kakashi tahu, tentu saja. Ia sangat mengenal sifat-sifat anak didiknya itu. Tapi Kakashi tidak tahu, bahwa seorang gadis bermata lavender kini menatap Naruto dan Sakura dengan mata sayu karena sedih dan cemburu.

-

-


Sudah sepekan sejak peperangan melawan Kabuto berlangsung.

Dan malam telah larut ketika Kakashi melihat Sakura sedang duduk termenung di beranda ruangan tempat Gaara terbaring, dan Naruto yang tertidur pulas di sofa ruangan. Sakura terus termenung sampai tidak sadar bahwa Kakashi telah berdiri di belakangnya. Ditepuknya pundak Sakura dengan lembut sambil berkata dengan tersenyum, "Hei, kenapa belum tidur?"

Sakura tampaknya terlalu asyik dengan lamunannya sampai ia terlonjak kaget ketika Kakashi tiba-tiba berada di belakangnya, menepuknya dan menanyakan hal yang tak bisa ia jawab dengan kata-kata. Ia sendiri bingung, kenapa tiba-tiba ia memikirkan Gaara. Tapi dengan cepat Sakura menyimpulkan bahwa ia hanya iba melihat keadaan Gaara. Hanya sebatas itu.

Tentu saja! Aku hanya iba kan?

"Sakura?" sekali lagi, Sakura dibuat terkejut karena Kakashi.

"I-iya sensei? Ada apa?" jawabnya dengan terbata.

Kakashi menghela napas melihat Sakura, "Kutanya, ada apa? Kenapa kau belum tidur? Ini sudah larut malam..." ujarnya pelan, nyaris berbisik.

Sakura terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab dengan gugup, "Engg, anu, a-ku, aku belum ngantuk..." katanya sambil menatap Kakashi.

Kakashi tersenyum mendengarnya, "Kalau begitu, kenapa matamu mengatakan kalau kau merasa bersalah atas kejadian ini? Oh, ayolah Sakura, ini semua terjadi bukan karena kesalahanmu... ini takdir." Ditatapnya Sakura lekat-lekat, membuat gadis itu tampak kehabisan kata-kata.

"Ta-tapi sensei, a-aku, aku bersalah pada Gaara... Padahal aku ini seorang medic-nin, tapi aku, aku..." Sakura terdiam. Sakura tahu, bila ia melanjutkan kata-katanya, usahanya menahan air matanya saat ini akan menjadi sia-sia.

Kakashi hanya menatap Sakura dengan sayu. Betulkan? Muridku ini memang terlalu sensitif. Tapi aku tak menyangka akan seperti ini... rasa khawatir Sakura pada Gaara lebih daripada Naruto sendiri...

"Engg, Kaka-sensei? Ada apa? Kau kelihatan memikirkan sesuatu..." Sakura menatap Kakashi dengan kening berkerut, bingung.

Kakashi menggeleng, "Tidak... tapi kurasa Sakura, kau harus istirahat... jangan terlalu menyalahkan dirimu... Lagipula, kebutaan pada Gaara itu baru sekedar prediksi kan? Jadi masih ada kemungkinan bahwa Gaara tidak buta, Sakura..."

Sakura mengangguk, Itu memang benar, masih ada kemungkinan Gaara tidak buta. Tapi kalau ia tdak buta, maka efek samping racun itu adalah...

"Sakura? Ada apa lagi? Kau harus tidur sekarang..." kata Kakashi sembari menarik lembut lengan Sakura. Sakura hanya mengangguk, dan memutuskan untuk istirahat.


"Emmmm..." Sakura membuka matanya sambil merenggangkan tubuhnya, lalu terkejut melihat wajah Naruto yang berjarak tidak kurang dari dua senti dengan wajahnya.

Buk!

"Naruto! Apa-apan kau ini! Pagi-pagi sudah membuat kesal!" sebuah tinju Sakura melayang ke kepala Naruto, membuat Naruto mengernyit kesakitan.

"Gomen... aku cuma lagi ngeliat aja Sakura-chan kalo lagi tidur! Ternyata tambah cantik! Hehe..." seburat merah muncul di wajah Naruto, membuat seorang yang memperhatikannya dari jauh sedari tadi ikut tersenyum meihat pujaannya tampak bahagia.

Naruto-kun...

Sakura melirik jam dinding di ruangan itu, dan membelalakkan matanya ketika ia menyadari bahwa ia bangun kesiangan. "Astaga!! Aku belum menyiapkan obat untuk Temari, Kankurou dan Gaara!" teriak Sakura sambil mengacak rambutnya yang kini semakin berantakan. Cepat-cepat ia berlari ke kamar mandi sambil melempar pandangan ke Naruto kalau-ngintip-ku-bunuh-kau!

"Iya Sakura-chan... Aku ke luar dehh…" Naruto membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu ketika ia menyadari bahwa seorang gadis cantik bermata ungu dengan malu-malu sedang mengintipnya di balik pintu.

"Hinata?"

Kakashi baru saja selesai sarapan ketika dilihatnya seorang pemuda sedang duduk bersandar di pohon besar sambil memandang langit. "Shikamaru!"

Pemuda itu menoleh dengan malas, "Ya, Kakashi-san? Ada yang bisa ku bantu?"

Kakashi mengangguk, "Ya, aku mau mendiskusikan suatu hal penting denganmu dan Yamato. Ada waktu?

-

-

-

"...baik."

-

-

-


"Huf! Selesai! Sekarang aku harus memberi ini pada mereka!" Ujar Sakura lega setelah membuat obat. Diliriknya jam dinding, dan segera sadar saat ini saatnya waktu pemberian obat kepada para pasien pentingnya itu. Segera saja ia meninggalkan ruang laboratorium obat dan berlari kecil menuju ruangan tempat Gaara, Temari, dan Kankurou.


Naruto sedang duduk bersama Hinata di taman rumah sakit ketika berpapasan dengan Shikamaru dan Kakashi. "Sensei? Mau ke mana?"

Kakashi tampak berpikir sesaat, "Err, Naruto, kurasa sebaiknya kau dan Hinata juga ikut."

Hinata mengernyitkan kening, "A-ano, emm, Kakashi-san, ke-kenapa aku h-harus ikut?"

"Kau akan tahu nanti."

-

-

-

-


Ckrekk

Sakura berusaha membuka pintu ruangan Temari sepelan mungkin, namun usahanya sia-sia. Toh, pintu tua itu tetap menimbulkan bunyi.

"Oh, Sakura-san. Kukira siapa..." kata Temari tersenyum.

Sakura berjalan menghampiri Temari sambil tersenyum senang karena Temari tampaknya sudah sangat sehat sekali.

"Err, Temari-san, maaf aku terlambat. Aku kesiangan bangunnya..." Sakura tersipu malu. Temari hanya mengangguk.

Perlahan, diperiksanya Temari sambil sedikit berbasa-basi, lalu sedetik kemdian Sakura tersenyum lebar karena melihat kemajuan.

"Temari-san! Kau sudah sehat sekali! Kalau begini, kau sudah boleh pulang!"

Temari membelalakkan matanya, "Benarkah? Syukurlah, aku memang sudah bosan dengan rumah sakit butut ini..."

Sakura sedikit tertawa, "Baiklah, kalau begitu aku titip ini untuk Kankurou-san yang sudah pulang. Suruh dia minum dua kali sehari! Oke?" kata sakura sambil menyodorkan bungkusan berisi obat buatannya. Sekali lagi, Temari hanya mengangguk.

"Oke, sekarang aku harus memeriksa Gaara dulu. Oh, ya, kau akan pulang bersama Shikamaru nanti. Jaa..." Sakura berlari meninggalkan kamar Temari yang tampaknya ingin protes, dan menuju kamar Gaara yang berada tak jauh dari kamar Temari. Dibukanya pintu kamar Gaara dan dengan gerakan yang anggun Sakura mulai memeriksa Gaara dengan teliti.

Sekali lagi, Sakura tersenyum lega. Gaara membaik! Syukurlah...

Dengan cepat, dioleskannya obat yanng dibuatnya di tubuh Gaara. Sakura membelalakkan matanya ketika dilihatnya bibir Gaara bergerak, berusaha mengucapkan sesuatu, "A-ai-rr..."


Naruto berjalan sambil menendang kerikil di sepanjang jalan kerena kesal. Diliriknya Kakashi yang berjalan santai sambil membaca Icha-Icha Paradise, "Kaka-sensei, jelaskan padaku, sebenarnya apa yang terjadi!"

"Yah, kujelaskan pun kau tak akan mengerti."

Naruto membalikkan badannya menatap Kakashi. "T-tapi, tapi setidaknya kau harus menjelaskan pada mereka-mereka ini!" ujar Naruto dengan muka memerah sambil menunjuk Shikamaru dan Hinata. Hinata tersenyum.

Kakashi hanya menatap mereka dengan malas, lalu memberikan Naruto yang terlihat tidak sabar sebuah gulungan.

Semua mengernyitkan kening, "Apa ini?"

-

-

-

"Itu..., surat perintah baru dari Hokage-sama ..." jawab Kakashi akhirnya.

-

-

-


Sakura masih terdiam karena kagetnya. Tapi dengan cepat ia sadar. Diambilnya segelas air dan diminumkannya pada Gaara.

Gaara membuka matanya perlahan, "S-sakura-san?"

-

-

"Eh?"

-

-


"Perintah baru? A-apa maksudnya sensei?" kata Naruto bingung.

Kakashi hanya menatapnya Naruto dengan malas, "Baca sendiri... yah, ku harap kau mengerti artinya..."

Naruto mendengus kesal pada Kakashi, dan mulai membuka gulungan dari Tsunade tersebut. Dibacanya gulungan itu dengan seksama, "A-apa maksudnya ini? Ke Iwagakure? Untuk apa? Bukankah misi kita di Suna ini?"

Sekali lagi, Kakashi menatap Naruto dengan malas, "Yah, rincinya kejelaskan sambil jalan saja. Pokoknya yang jelas, aku, kau, Hinata,Yamato dan Sai harus ke Iwagakure. Sekarang. Oh, maksudku nanti malam. Sekarang kalian bersiap saja dulu."

Semua hanya mengangguk menurut.

Sakura membelalakkan matanya dan menajamkan pendengarannya, A-aku tidak salah dengar kan? B-bagaimana mungkin Gaara bisa tahu ada aku? Atau jangan-jangan...

"S-sakura-san? A-aku di mana?" ulang Gaara sekali lagi, membuat Sakura sadar dari keterkejutannya.

"Eh? A-ano, i-itu... Em, maksudku, kau di rumah sakit. Err, Gaara-san, kau bisa melihatku?" kata Sakura gugup.

Gaara mengernyitkan kening, "Tentu saja..."

Sakura menarik napas lega, Syukurlah, Gaara tidak buta! Eh, tunggu! Kalau Gaara tidak buta, berarti...

Gaara masih menatap Sakura dengan heran, dan sedetik kemudian sadar bahwa ia tidak mrasakan kedua kaki dan tangan kanannya. "S-Sakura-san, tangan kanan dan kedua kakiku tidak bisa digerakkan!" katanya pelan, berusaha menyembunyikan perasaan paniknya.

Deg! Benarkan! Gaara tidak buta, tapi lumpuh!

Sakura menghampiri Gaara, berusaha tidak terlihat panik. Tapi, toh dengan mengalirnya air matanya, semua bisa tahu kalau dia menangis karena terlalu panik. Gaara tercengang. Sakura-san menangis? Untukku?

Sakura memeriksa tubuh Gaara dengan gemetar, "Maaf, Gaara-san... kau...lumpuh..."

Gaara membelalakkan matanya, mencoba mengeluarkan suara yang rasanya tercekat di tenggorokannya. "Sakura-san, tolong bawa aku keluar... aku ingin mendinginkan kepala...'

Sakura mengangguk, dan memutuskan menuruti keinginan Gaara.


Tim Hebi baru saja menyelesaikan misinya ketika Pain memberi mereka misi baru ke Suna. Yah, mau tak mau mereka harus menurutinya.

Sasuke berjalan paling depan, mengetuai Suigetsu, Karin dan Juugo yang berada di belakangnya.

Slap!

"Sasuke! Perlambat langkahmu! Di depan kita ada dua shinobi!" Karin mengingatkan. Semua mengangguk, dan memperlambat langkahnya.

Sasuke memberi intruksi agar mereka bersembunyi. Perlahan, Sasuke mengintip keadaan yang berada dsi depannya dengan hati-hati.

"Gaara-san, kau mau makan?" kata sebuah suara dengan lembut. Sasuke membelalakkan matanya, mengenali suara itu. Perlahan, diintipnya keadaan di depannya. Sasuke dibuat tercengan dengan apa yang dilihatnya. Seorang Haruno Sakura bersama dengan kazekage negara Suna, Gaara.

Sakura?

-

-

-


End of chap three.

Hufffff.. selesai juga chapter ini... iya, iya, jadi Gaara tuh gag buta, tapi lumpuh. Dan Sasuke ketemu sama Sakura yang lagi ngerawat Gaara. Jadi, yah... gitchu dehhhh...

Haha...

Spesial Thanks buat :

Miyu201 : Tanpa Miyu-chan, gag akan ada fic inihhh

yvne-devolnueht : Ye, yeyyy, dah aku apdet neghh

Nakamura Arigatou : Enggak, Gaara gag buta, en okeh, aku baca fic kamuhhh

P.Ravenclaw : Makasih, makanya baca terus fic ini!!

Nejidemon : Tenang, itu cuma salah prediksi kok Sakuranya...

blackpapillon : Yaya senpai makasi sarannya...

Moo-chan : Oh, Moo-chan, makasih...

Mongose

Rin Kajuji

Faika Arifa

Inuzumaki Athena Helen

Ray-kun13


Iklan :

Baca "Sekai", fic baru tentang GaaSakuSasu...

Baca "Aku" untuk para penggemar Kakashi, itu sepesial untuk ultah Kakashi...

REVIEW! REVIEW! REVIEW! REVIEW! REVIEW! REVIEW! REVIEW! REVIEW! REVIEW! REVIEW! REVIEW! REVIEW!

Haha...

Makasih udah mau baca fic ini...

Salam,

Myuuga Arai