Marriage Proposition.
Disclaimer of masashi kishimoto
Don't like Don't Read.
NaruHina
.
.
.
Bab 4.
Hinata berusaha menahan tangisannya saat memandang lagi hamparan air kebiruan di depannya. Hinata duduk di atas pasir, berharap bisa membuat hujan untuk menutupi air matanya yang akan mengalir sebentar lagi. Hinata tidak yakin dengan hidupnya, itulah kenapa dia tetap bersikukuh untuk mengakhirinya. Jika kemarin dia gagal di mercusuar, maka sekarang dia akan berenang ke arah laut dan mati tenggelam.
Itu rencana yang bagus.
Hari telah sore, banyak para peselancar atau segerombolan keluarga telah meninggalkan pantai. Hinata menarik dirinya ke lengan jaketnya dan menenggelamkan kepala pada lututnya. Mulai menangis.
"Seharusnya kau lihat mataharinya."
Hinata tersentak saat suara yang terasa familiar masuk ke dalam indra pendengarannya. Hinata menghapus air matanya dan berbalik, mungkin itu hanya ilusi dari matanya atau fatamorgana, Hinata tidak tahu. Tapi saat dia melihat Naruto berdiri dengan cahaya di sekelilingnya, ada kenyamanan yang aneh menyelimuti hatinya.
"K-Kau?"
"Ya!"
Ketika Hinata berbalik, Naruto pikir dia melihat senyum mengembang di bibir Hinata, namun itu hanya sebentar, sebelum Hinata merubahnya menjadi datar. Naruto berjalan mendekat. Dia memiliki begitu banyak pertanyaan untuk Hinata, tapi dia menemukan sekarang dirinya tidak mampu untuk bicara. Naruto hanya mendesah karena Hinata masih ingin mengakhiri hidupnya.
"Kau menguntitku?"
"Mungkin iya, mungkin juga tidak."
Hinata menarik satu alisnya ke atas, bingung dengan jawaban aneh Naruto. Lelaki itu berjalan mendekat dan duduk di sampingnya. Hinata tidak mengerti, bagaimana tuhan menciptakan Naruto. lelaki itu sangat tampan walau hanya memakai kaos dan celana belelnya, rambutnya yang pirang dan berayun karena angin menunjukkan kepribadiannya yang berapi-api. Itulah kenapa Naruto selalu bisa mendominasi.
"Apa kau tersesat lagi?"
Naruto tersenyum, banyak dari waktunya terbuang hanya untuk memikirkan bagaimana caranya menemukan Hinata. Iruka memang mendapatkan informasi tentang Hinata, tapi tidak dengan keberadaannya. Hinata tidak di tempat mereka bertemu pertama kali, karena itu Naruto harus datang ke apartement Hinata dan menanyakan keberadaan gadis itu pada Tenten—teman kerjanya. Tapi Hinata tidak membuatnya mudah, karena Tenten belum melihat Hinata sejak pagi.
"Aku hanya ingin melihat pantai." Naruto tidak berbohong. Setelah dia putus asa mencari Hinata, dia menghentikan mobilnya di parkiran pantai dan mulai menyusuri jalan berpasir.
Hinata menaikkan alisnya ketika meresapi kata-kata Naruto, kemudian menghembuskan nafas dan melihat matahari yang telah bersiap tenggelam.
"Apa kau mencariku untuk memastikan aku tidak bunuh diri?" Tanya Hinata
"Mmhm." Jawab Naruto, masih memandang laut.
Hinata menunduk. "Aku datang ke pantai untuk tenggelam, tapi aku tidak yakin untuk melakukannya."
Naruto mengangguk. "Kelihatannya sangat buruk, mungkin ada paus di sana yang akan memakanmu dengan gigi tajamnya, atau saat kau berenang lebih jauh lagi, kau akan tertabrak kapal dan membuat wajahmu tidak bisa di kenali."
Hinata tersenyum, mendongak dan menatap Naruto. "Itu akan menjadi sangat buruk,kan?"
Naruto menatap Hinata dan membalas senyumnya "Ya."
Dari data diri Hinata yang Naruto minta pada Iruka, ibu Hinata meninggal karena kecelakaan mobil pada musim dingin. Dua tahun setelah kecelakaan sang ibu, Hinata bekerja pada Akasuna holding untuk membiayai hidupnya sendiri, karena Hinata memutuskan untuk keluar dari rumah dan hidup mandiri. Dari semua itu tidak ada yang membuatnya tertarik, sebelum Iruka mengatakan padanya jika satu minggu yang lalu Hinata gagal menikah dengan teman sekantornya.
Dan kenyataan itu menyentak Naruto.
"Di khianati seseorang bukan berarti duniamu hancur, Hinata."
Hinata hanya tersenyum pada Naruto, tapi senyumnya hampir tidak menyentuh pipinya, apalagi matanya. Usaha gadis itu untuk menyamarkan perasaannya mengingatkan Naruto pada apa yang pernah dia alami. Seorang lelaki bodoh telah menyakitinya, dan itu membuat sisi protektif Naruto bangkit dan ingin melindunginya. Naruto yakin jika ini bukan cinta, dia hanya ingin Hinata nyaman dengannya sebelum Naruto meminta bantuan padanya.
"Kenapa dia membatalkan pernikahan kalian?" tanya Naruto.
Bahu Hinata menegang, Naruto tahu jika dia mengejutkan Hinata dengan informasi pribadinya.
"Apa sangat mudah bagi kalian untuk mendapatkan informasi pribadi seseorang?" desis Hinata, matanya telah melotot dengan api di dalamnya.
Naruto menghendikan bahunya dengan gaya angkuh, "apa yang terjadi?"
Hinata memandang lurus ke arah Naruto. "Dia tidak bisa menerima keadaanku yang terkena kanker payudara dan akan mati beberapa bulan lagi."
Naruto tersentak. "Apa? oh sial, maafkan aku Hinata, aku tidak bermaksud—" ketika Naruto melihat Hinata menahan tawanya, dia menggeram. "Menurutku itu tidak lucu."
Hinata tertawa pelan. "Maaf, tapi bagiku itu lucu."
"Jadi, apa ini penyakit yang dinamakan 'sisa hidup yang menyedihkan'?" Naruto menggeser kedua tangannya kebelakang untuk menyangga tubuhnya, menatap Hinata.
"Mungkin begitu."
"Apa yang membuatmu sangat ingin bunuh diri?" Naruto tidak ingin Hinata bercanda.
"Aku dicampakkan."
"Aku tahu, kau bilang tadi siang padaku." Naruto memiringkan kepalanya ke satu sisi dan bicara lagi, "kenapa dia mencampakkan gadis cantik dan mandiri sepertimu?"
Hinata melihat matahari hampir menghilang dan memeluk lututnya. Ketika Naruto meraih tangan Hinata untuk ia genggam, Naruto melihat perjuangan di mata Hinata. Dia tampak bertarung pada dirinya apakah dia harus jujur pada Naruto atau tidak.
Ketika Hinata ingin melepas pegangan Naruto, lelaki itu menahannya. "Hinata, bicarakan padaku."
Katakan saja, katakan semuanya. Jika dia pikir kau bodoh, itu tidak masalah! Kalian tidak saling kenal,kan? benar, katakan! Kata-kata itu terngiang di telinganya seperti virus yang terus menyebar di seluruh otaknya.
"Namanya Otsutsuki Toneri, dia menyatakan cintanya padaku setahun lalu disini, lalu melamarku bulan lalu di rumahnya."
Ada jeda panjang sebelum Naruto berkata. "Lalu?"
"Satu minggu yang lalu dia datang ke apartementku, aku mengira dia ingin menanyakan tentang gedung yang belum dia pesan. Tapi aku salah, karena dia datang untuk memutuskan pertunangan kita."
Naruto mengumpat pelan. "Lalu alasannya?"
Hinata merasakan tusukan yang menyakitkan pada hatinya ketika mengingat apa yang di lakukan Toneri padanya. Bahwa ia di campakkan bukan karena Toneri tidak mencintainya, tapi karena dia ingin menjadi seorang direktur pemasaran dan membodohinya.
"Satu tahun yang lalu, direktur pemasaran kita mengajukan pensiun. Butuh waktu delapan bulan untuk memproses semua itu, sejak saat itu Toneri mendekatiku dan memperhatikanku. Setelah dia mendapatkan posisinya, dia—" mendekati Akasuna Sakura, tapi dia tidak mengatakannya.
Kata-kata itu seperti batu yang tertelan dan menyangkut di tenggorakannya, dia tidak bisa mengatakan karena harga dirinya tidak mengizinkan itu. Tapi dia terkejut saat dia tidak bisa menghentikan ucapannya.
"Dia mengabaikanku. Tapi sejak dia melamarku bulan lalu, aku percaya lagi dengannya. Tapi itu hancur saat dia datang malam itu untuk memberitahuku bahwa dia membatalkan pertunangan kita karena aku tidak mengerti dirinya." Naruto mengeratkan pegangannya di tangan Hinata, masih diam.
Hinata tidak bisa menahan aliran kisahnya sekarang.
"Dia mengatakan aku tidak akan bisa hidup dengannya jika aku terus menjadi seorang karyawan biasa. Sebelumnya dia tidak seperti itu, Toneri yang ku kenal satu tahun lalu tidak seperti itu. Aku tidak menerima kenyataan jika dia mengatakan semua itu untuk menyakitiku. Aku berfikir, mungkin dia ragu dengan cinta kami, atau dia terkena penyakit yang membuatku tidak bisa menerimanya. Tapi itu tidak seperti apa yang aku fikirkan, dia memang menghianatiku karena karirinya lebih utama dari perasaanku." Kepalanya tertunduk.
"Seharusnya aku tahu sejak awal, seharusnya aku tidak mencintainya!"
Hinata terisak pelan di lututnya, Naruto melepas genggamannya dan Hinata memeluk kakinya untuk menutupi wajahnya yang telah basah. Naruto merapatkan tubuhnya pada Hinata dan memeluknya.
"Itu sangat buruk, tapi itu bukan alasan untuk membatalkan pernikahan kalian."
Hinata mengusap air matanya dan tersenyum kecil pada Naruto. "Dia harus membatalkan pernikahan itu. Dia memiliki target untuk menjadi seorang CEO, karena itu dia mendekati orang-orang yang akan membantunya mewujudkan mimpinya."
Naruto mengerutkan keningnya saat kata-kata Hinata meresap dalam otaknya, dia melebarkan matanya saat mengetahui apa maksud Hinata. "Akasuna Sakura?"
Hinata mengangguk pelan. Naruto melepas pelukannya dan menangkap dagu Hinata dengan jarinya. "Hey, itu adalah kisah paling buruk yang pernah ku dengar, dia adalah lelaki brengsek yang tidak tahu apa yang dia tinggalkan. Kau bisa mendapatkan lelaki yang layak di cintai Hinata, itu pasti."
Hinata tersentak untuk sesaat, lalu tertawa dengan keras. Membuat Naruto melepas dagunya dan menatapnya bingung.
"Aku sudah rusak dan aku tidak ingin mempercayai siapapun lagi. Toneri adalah hal terakhir yang ingin ku percayai."
Naruto tidak berusaha mendebat Hinata dan diam.
"Sebelumnya, Toneri adalah segalanya bagiku. Dia adalah pria pendiam yang baik, dia bisa menjadi sangat perhatian saat aku sakit, dia menjadi sempurna saat memakai tuksedo di acara kantor, dia tidak merasa malu jika aku ceroboh. Dia tidak pernah mengeluh jika menungguku hingga larut malam hanya untuk mengantarku pulang karena lembur."
Dan saat pengkhianatan Toneri menghantamnya, keadaan yang sangat sempurna itulah yang membuat Hinata sadar jika itu semua bohong.
"Setelah Sakura mengatakan kepada semua karyawan jika dia akan menikahi Toneri beberapa bulan lagi, hatiku terasa hampa. Rasanya seperti darahku mengalir keluar karena tusukan hebat dari sebuah katana. Dan malam itulah keputusanku untuk mengakhiri hidupku."
Hinata melihat Naruto dan bertanya-tanya apa yang akan lelaki itu katakan padanya.
"Jika kau tidak ingin bunuh diri lagi, lalu apa yang kau harapkan sekarang?" bisik Naruto.
Hinata berfikir sesaat, lalu bicara. "Mungkin pindah dari kota ini dan mencari kota lain yang bisa menyembunyikanku." Dia tersenyum, tapi dia tidak yakin dengan ucapannya.
Naruto tahu jika inilah kesempatannya untuk bicara pada Hinata.
"Aku bisa membantumu," bisik Naruto.
"Hmm?"
"Aku bisa membantumu mendapatkan pekerjaan dan pindah dari sini." Ulang Naruto.
Hinata mengerutkan keningnya, masih bingung.
"Ehmm, yeah, aku bisa memberimu pekerjaan di perkebunanku atau di lapangan golf milik keluargaku, dan tempat tinggal untukmu. Tapi aku juga perlu bantuanmu," melihat kerutan di wajah Hinata semakin dalam, Naruto mulai ragu untuk mengatakannya.
"Apa maksudmu? "
"Aku perlu bantuanmu untuk berpura-pura menjadi kekasihku selama satu bulan," Naruto menggeleng dan mengoreksi ucapannya "ah tidak, tapi dua bulan."
Hinata berdiri mengagetkan Naruto saat mengerti maksud lelaki itu. Menunduk untuk menatap Naruto dengan wajah kesal dan tidak percaya. "Apa?"
"Iruka melihatmu tadi siang, dan dia melaporkannya pada ibuku. Andai ibuku bukan pecinta dorama mungkin dia tidak akan memaksaku untuk membawamu ke tokyo besok."
Hinata melebarkan matanya saat gelombang rasa terkejut menghantam dirinya. "Kau pasti bercanda."
Naruto melihat Hinata beranjak dari tempatnya berdiri, berjalan dengan menghentak yang membuat Naruto berdiri dengan cepat dan mengejarnya.
"Aku tidak bercanda Hinata, aku sangat perlu bantuanmu. Ibuku selalu menjodohkanku dengan seorang gadis yang aneh di setiap kesempatan, dan aku muak jika mereka menampar atau menyiramku dengan kopi jika aku membuat mereka kesal."
"Jadi ini alasanmu mencariku?" desis Hinata.
"Salah satunya memang ini, tapi aku tidak berbohong jika aku mengkhawatirkanmu."
Hinata berhenti, melihat mata Naruto dan mendengus "Kenapa kau pintar sekali berbohong."
"Aku tidak berbohong."
Hinata menghela nafas, "Aku tidak ada hubungannya dengan masalahmu, jika kau tidak ingin menikah maka beritahu ibumu." Hinata mulai berjalan.
Naruto menjambak rambut pirangnya "Kalau aku bisa menyelesaikannya dengan bicara, aku tidak akan meminta bantuanmu." Dia berteriak.
"Dan aku tidak akan berada di sini." Gumam Hinata pelan, masih berjalan menyusuri pantai.
Naruto menggeram. Dia harus berfikir cepat, atau dia akan kehilangan kesempatan ini, dan sesuatu di dalam hatinya menekannya untuk tidak ingin kehilangan kesempatan ini. Dia membutuhkan Hinata selama dua bulan di setiap kesmpatan dalam hidupnya, dan tiba-tiba sebuah pikiran licik melintas di dalam kepalanya. Walau kesempatan itu berpeluang sangat rendah, tapi dia tetap mencoba.
"Tunggu, aku akan membayarmu tiga kali lipat dari gajimu di Akasuna Holdings jika kau mau membantuku." Naruto menahan lengan Hinata setelah berhasil mengejarnya. Membuat gadis itu berhenti.
"Tidak."
Naruto meringis, tapi mencoba lagi "Kau tidak mau uang, jadi apa yang kau mau?" Hinata terus berjalan "apa jika aku melamarmu di sini kau akan menerimaku?"
Hinata menghentikan langkah kakinya. "Apa?"
"Aku mencintaimu, menikahlah denganku." Kata Naruto.
Hinata berkedip, tak lama kemudian dia mendengus. "Kau benar-benar gila."
"Hey aku sedang melamarmu" Naruto melihat Hinata tidak tertawa dengan leluconnya dan berdecak, masih menahan Hinata dengan tubuhnya. "Kalau kau memang tidak ingin menikah denganku, bantulah aku."
"Kau bisa bilang pada ibumu jika aku bukanlah kekasihmu." Hinata protes.
"Itu dia masalahnya, aku tidak bisa mengatakannya."
"Memang kenapa?" Hinata bertanya.
"Aku mempunyai masalah tentang kebutuhan primerku dengannya."
Hinata mulai tertarik, melipat kedua tangannya di depan dada dan bertanya "Dan apa itu?"
"Aku tidak bia kehilangan rumahku."
Ingin rasanya Hinata menghantam kepala Namikaze Jr, yang ada di hadapannya. Dari mana rumah menjadi kebutuhan pokok dalam hidupnya. Kebodahannya sangat menyebalkan.
"Maaf Namikaze-san, tapi aku tidak bisa membantumu."
Hinata akan melewati Naruto, tapi lelaki itu tidak mengizinkannya pergi, setiap Hinata mengambil langkah ke kanan maka Naruto akan mengambil langkah ke kiri. Itu berlangsung beberapa kali dan membuat Hinata frustasi.
"Apa sebenarnya yang kau lakukan?" dia bertanya dengan menggeram.
"Kalau kau tidak ingin uang dan tidak ingin menikah denganku, jadi kau mau memulai lagi dengan si Toneri? Aku bisa membantumu."
Hinata mengerutkan alisnya, tidak suka dengan pilihan Naruto untuk membujuknya. "Apa aku terlihat sangat menyedihkan sehingga kau berkata seperti itu?"
Tanpa berfikir Naruto menjawab, "ya." yang membuat Hinata kesal dan menendang kaki kanan lelaki itu dengan sangat keras, meninggalkan Naruto setelah lelaki itu melepas lengannya karena kesakitan.
"Hey." Jerit Naruto dengan menggosok kakinya.
Hinata sudah akan berjalan lebih jauh saat Naruto berteriak, "Jika bukan kau ingin kembali dengannya, maka berarti kau ingin membalas dendam padanya."
Hinata telah menolak Naruto tentang menjadi kekasih palsunya, tapi hanya karena ucapan sederhana tentang balas dendam pada Toneri membuat Hinata terpaku di tempat.
Naruto tahu, Hinata telah terpancing dengan kata-katanya, sekarang yang perlu dia lakukan hanyalah menarik Hinata secara hati-hati atau Hinata akan lepas dan dia kehilangan kesempatannya. Mengabaikan rasa sakit di kakinya, Naruto mendekati Hinata dan berbisik pelan di belakangnya.
"Aku akan membantumu, mengajarimu, dan membimbingmu. Bagaimana kau harus bersikap, apa yang harus kau katakan—apapun yang kau perlukan agar dia menyesal telah meninggalkanmu" kepalanya menoleh ke samping, bukan gerakan besar. Tapi Naruto yakin jika ia telah mendapatkan perhatian Hinata. "Dia akan melihatmu lebih dari sebelumnya, dan aku yakin dia akan terpuruk saat itu terjadi."
Hinata tahu sebagian kecil dari dirinya ingin menyetujuinya. Meskipun Hinata ingin mati di saat Toneri memutuskan pernikahannya, tapi itu karena dia putus asa karena tidak bisa melakukan apapun. Sakura adalah lawan yang tidak masuk akal untuk di hadapi. Gadis itu cantik, seksi, dari keluarga kaya, dan seorang dokter yang membuat seorang lelaki manapun tidak akan menolaknya.
Hinata menggeleng, seakan menolak pikirannya sendiri. "Tidak, aku tidak—"
Sebelum Hinata menyatakan penolakannya, atensinya beralih pada dua orang pasangan yang sangat dia kenal berjalan ke arahnya. Setelah Hinata menyadari jika dia mengenal mereka, Hinata mengumpat di dalam hati.
Naruto menyaksikan Hinata menatap pasangan di depannya sangat lama dan menyeringai. Tidak sampai dua detik, Hinata mendekat pada Naruto dan mengangguk.
"Apa maksudmu dengan menggerakkan kepala seperti itu?" tanya Naruto menggoda Hinata.
Hinata melihat pasangan itu semakin mendekat dan mengerang. "Aku terima tawaranmu."
To be continued...
