Disclaimer: Sesungguhnya, hanya Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki napas dan jalan kehidupan semua karakter yang ada dalam cerita Puan ini. Puan hanya meminjam nama mereka saja.

Rate: M

Genre: Puan agak kurang paham dengan masalah ini. Bisa jadi genre-nya romance, drama, tragedy and family.

Warning: Boys love, yaoi, m-preg, beberapa butir typo yang kemungkinan terlewat ketika proses peng-edit-an, jalan cerita yang cukup lambat, beberapa adegan penyiksaan, karakter para tokoh yang tidak sesuai kepribadian aslinya pastinya dan banyak lagi yang lainnya.

Cast:

- Kim Jaejoong as Kim Jaejoong/Selir Hwan (15 tahun)

- Jung Yunho as Raja Yi Yunho/Raja Sukjong (30 tahun)

- Kim Junsu as Kepala Pengawal Kim (28 tahun)

- Go Ahra as Permaisuri Yi Ahra (30 tahun)

- Shim Changmin as Putera Mahkota Yi Changmin (15 tahun)

- Park Yoochun akan muncul di chapter yang kesekian, jadi umur dan perannya juga belum Puan tentukan, hehehe.

Sedikit cuap-cuap:

Latar dari cerita ini adalah di era Dinasti Joseon, di bawah kepemimpinan Raja Yi Sun (memerintah sejak tahun 1674-1720) yang untuk keperluan cerita namanya Puan ganti menjadi Raja Yi Yunho. Raja ke-19 dari Joseon. Tidak bermaksud sama sekali untuk menodai sejarah Korea dengan perubahan ini, jadi Puan minta maaf sebelumnya jika ada pihak yang tidak berkenan.

Puan juga berusaha meminimalisir penggunaan bahasa Korea disebabkan karena keterbatasan Puan. Sebagai pendatang baru di fandom ini, Puan ingin turut serta menyalurkan minat menulis Puan yang tentunya belum ada apa-apanya, untuk itu kritik dan saran membangunnya sangat Puan harapkan.

Cerita ini terinspirasi dari banyak drama kolosal Mandarin dan Korea yang Puan tonton juga cersil yang Puan baca, yang paling utama adalah drama Mandarin berjudul The Great Conspiracy serta drama Korea berjudul Jewel in the Palace alias Jang Geum dan serial Pendekar Rajawali Sakti karya Teguh. S. Kalau ada beberapa kesamaan, harap dimaafkan, ne?

Puan ingin berterima kasih untuk kedua sahabat Puan, Kak Shanty Hidayat (Sun-T) dan Rin Evans yang sudah bersedia Puan teror tengah malam supaya baca draft The Great Revengeyang masih mentah, hahaha. Mereka berdua adalah sahabat yang juga sering memberi masukan dan mengingatkan masalah typo.

Pada kesempatan ini juga Puan kembali ingin berterima kasih kepada para readers, silent readers, ataupun viewers yang sudah menyempatkan diri melihat, membaca, mem-follow, mem-favoritkan, juga memberi jejak di tulisan sederhana Puan ini. Komentar kalian, sungguh membuat Puan semakin bersemangat menulis di antara seabrek kesibukan Puan sebagai seorang ibu dengan 2 anak. Yang satu sudah kelas 2 SD, yang satu lagi masih berusia 18 bulan dan luar biasa aktifnya. Dan terhitung sejak terakhir sekali Puan publish chapter 3, si Gadis Hujan Puan sudah 6 kali jatuh sakit. Sakit karena mau pintar katanya, juga sakit karena perubahan cuaca yang memang ekstrem. Puan bolak-balik saja kerjaannya ke dokter. Karena itulah kesempatan Puan untuk menulis memang sangat-sangat sempit. Terkadang Puan mencicil tulisan ini saat tengah malam, dengan konsekuensi sebentar-sebentar berhenti, ya untuk ganti pampers atau membuat susu. Begitulah. Semoga setelah ini tak ada lagi yang bertanya mengapa Puan update-nya lama? Okeee? #malah curhat.

Hehehe, adakah yang menebak berapa usia Puan? Puan belum mencapai umur 30, kok, masih 2 tahun lagi baru mencapai usia itu, kekeke. Jadi Puan sungguh sangat berterima kasih atas pengertian kalian semua kalau Puan tidak bisa update se-ASAP mungkin, ne? Soalnya selain mengetik fic ini, Puan juga harus memikirkan asap dapur Puan, halah.

Dan ya, mengenai Sup 12 Rasa, ini sungguh hanya ada dalam dunia khayal Puan saja. Baik bahan-bahan utama, bumbu, maupun cara pembuatannya 100% Puan mengarang indah. Jadi jangan pernah coba-coba membuatnya di rumah, soalnya kalau kalian pada mabuk atau malah masuk Rumah Sakit setelah memakan Sup 12 Rasa yang telah kalian buat, Puan tidak bertanggung jawab lho #plaaak. Jadi sekali lagi, don't try at home, guys! Puan saja belum berani menguji diri untuk membuat makanan itu, karena masih sayang nyawa, hahaha.

Seperti halnya Sup 12 Rasa, maka Getah Salju Tiongkok juga hanyalah nama ciptaan Puan. Puan entah kenapa sangat suka dengan nama Tiongkok, makanya suka mengait-ngaitkan segala sesuatu dengan kata Tiongkok #apa hubungannya?

Chapter 4 adalah bagian dari The Great Revenge dengan chapter terpanjang yang pernah Puan tulis.

Lengkap dengan cuap-cuap dan balasan review, Puan menulis lebih dari 21.000 kata untuk chapter 4 ini. Hal ini anggaplah sebagai permohonan maaf Puan dengan setulus hati karena ketidakmampuan Puan untuk update cepat setiap saat. Semoga pembaca semua tidak bosan ya? Sebenarnya setelah selesai menulis chapter 4 dan melihat hasil akhirnya, Puan berniat memenggalnya jadi 2 chapter, tapi karena Puan sudah berjanji akan memasukkan adegan NC di chapter ini, jadilah fic ini tidak Puan penggal. Puan sebisa mungkin menepati janji yang sudah Puan buat, semoga tidak mengecewakan. Dan untuk adegan NC-nya sendiri, maaf sekali jika tidak memuaskan. Puan lebih baik mempraktekkannya langsung, daripada membayangkan dulu, kemudian menuliskannya. Huahahaha #abaikan pernyataan terakhir Puan ini.

Adegan NC di dalam chapter ini adalah salah satu hasil mengubek-ubek fic Puan yang Puan tulis menggunakan akun pertama Puan di fandom lain. Adegannya sendiri terinspirasi dari sebuah novel yang Puan lupa apa judulnya, yang pasti itu novel terjemahan. Jika kalian menemukan kesamaannya, ya itu karena memang authornya orang yang sama. Fic itu sudah lama sekali rasanya, bahkan password akun Puan saja Puan sudah lupa, karena itu banyak fic Puan yang terlantar di sana#digampar.

Dan akhirnya, Puan persembahkan chapter 4 kepada kalian semua, selamat membaca dan terima kasih jika ada yang berkenan untuk meninggalkan jejak untuk kesekian kalinya.

Eittts, tunggu dulu, Puan sekalian ingin mengucapkan Selamat Tahun Baru 2014. Salah satu harapan Puan di tahun baru ini, makin banyak author-author yang menulis fic Yunjae, hehehe. Selain itu Puan juga berharap Puan bisa terus menulis. Harapan Puan lainnya, agar para YJS terus AKTF ya? Well, itu harapan-harapan Puan, lantas apa harapan kalian?


The Great Revenge

by

Puan Hujan

Chapter 4

Dua hari sebelum penobatan Jaejoong sebagai selir.

Waktu terus bergulir seiring denyut nadi kehidupan. Pagi akhirnya beranjak pergi, digantikan malam yang mengambil kendali atas kehidupan di muka bumi. Kegelapan malam yang begitu pekat menyelimuti seluruh pelosok Kerajaan Joseon. Malam yang pekat itu juga ditambahi oleh suasana yang terasa begitu dingin. Awan-awan hitam tampak bergulung di atap langit, membuat cahaya rembulan yang memang meredup menjadi kian tertutup. Bahkan tak ada satu pun bintang yang terlihat. Angin yang berhembus agak kencang membuat nyala api dari getah damar yang berasal dari lampu-lampu yang terpasang di setiap sudut istana tampak meliuk-liuk.

Tepat tengah malam, ketika keadaan alam tampak kian tak bersahabat, terlihat sesosok tubuh berjalan dengan cepat di bagian belakang kediaman khusus Yang Mulia Permaisuri. Sosok itu terbalut pakaian berwarna hitam pekat yang ketat sehingga memetakan tubuhnya yang ramping dan indah. Seluruh kepalanya ditutupi oleh sebuah caping lebar, hingga sulit sekali untuk mengenali parasnya. Namun dari bentuk tubuhnya, bisa dipastikan kalau sosok itu adalah seorang wanita.

Sosok wanita berpakaian serba hitam itu berhenti melangkah ketika dari jalan kecil di sebelah kanan kediaman khusus Yang Mulia Permaisuri, melintas empat orang prajurit penjaga bersenjatakan tombak yang sedang bertugas. Ia segera merapatkan tubuhnya ke balik sebatang pohon yang sangat besar di tepi jendela kamar Yang Mulia Permaisuri. Setelah ke-empat prajurit penjaga itu menghilang di ujung jalan, sosok itu segera memberi tiga ketukan kecil pada daun jendela, yang langsung terbuka. Dengan gerakan ringan sosok itu melompat ke dalam ruangan melalui mulut jendela, dan segera menutupnya kembali.

"Kau yakin tidak ada yang mengikutimu?" sebuah suara yang sangat lembut namun terkesan dingin langsung menyapa sosok itu begitu ia tiba di dalam kediaman khusus Yang Mulia Permaisuri yang sangat luas namun minim penerangan itu. Sosok itu menggelengkan kepalanya, lalu membungkukkan tubuh memberi hormat.

"Anda tidak perlu cemas, Yang Mulia Permaisuri. Saya bisa memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang menyadari keberadaan saya di sini," pelan namun meyakinkan sekali jawaban yang diberikan oleh sosok berpakaian serba hitam itu. Jawabannya membuat seulas senyum bertengger di sudut bibir wanita cantik yang ternyata Ratu Joseon itu.

"Bagus. Aku senang mendengarnya. Ini, terimalah! Kau tahu apa yang harus kau lakukan dengan benda yang ada di tanganmu itu, bukan?" Yang Mulia Permaisuri memberikan sebuah kantung berwarna hijau giok dengan sulaman benang emas yang membentuk bunga teratai mekar yang entah apa isinya kepada sosok itu.

"Iya. Saya tahu. Dan saya akan melakukan tugas sebaik mungkin, Yang Mulia Permaisuri," sahut sosok itu seraya menerima kantung tersebut dan menyimpannya di balik pakaiannya. Sementara itu, Ratu Joseon yang berparas cantik itu terlihat mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang terletak di dekat jendela.

"Tentu saja kau harus melakukannya sebaik mungkin, sebab nyawa ayahmu adalah taruhannya," balas perempuan cantik itu. Nada suaranya mendadak berubah sinis. "Jangan sampai kau gagal melaksanakan tugas kecil yang kuberikan. Kau hanya perlu meletakkan setetes racun dari getah akar pala itu ke dalam salah satu mangkuk keramik yang akan digunakan oleh Pemusik Kim untuk memasak. Racun itu tidak berwarna dan tidak berbau, jadi tidak akan ada yang mencurigai kita. Aku mendengar bahwa anak kecil itu akan menggunakan buah pala dari Ming sebagai salah satu bumbu masaknya. Jika terjadi sesuatu kepada Yang Mulia Raja, maka sudah pasti anak kecil itu yang akan menjadi tersangka utama, sebab Tabib Istana akan mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh penggunaan biji pala yang terlalu banyak. Tidak akan ada yang menyadari bahwa sumber masalahnya justru dari racun yang berasal dari getah akar pala itu sendiri. Hahaha, aku sungguh tidak sabar menyaksikan kemurkaan Yang Mulia Raja ketika mengetahui bahwa sang calon selirnya malah berniat mencelakainya," dengus wanita itu, diiringi tawa panjang seraya membayangkan kejadian yang belum terjadi itu.

"Maafkan saya sebelumnya jika lancang bertanya, Yang Mulia Permaisuri. Tapi, apakah Anda yakin bahwa hidangan yang dimasak oleh Pemusik Kim tidak akan dicoba dulu oleh para dayang senior? Bukankah jika saya meletakkan racun itu ke dalam mangkuk keramik yang digunakan oleh Pemusik Kim seperti perintah Anda, maka kemungkinan utama yang terkena racun itu adalah para dayang senior tersebut?" tanya sosok berpakaian serba hitam itu mengutarakan pendapatnya.

"Apa kau pikir akalku sedemikian dangkal hingga beraninya kau mengajukan pertanyaan seperti itu padaku, heh?! Tentu saja aku tahu kalau makanan yang dibuat oleh anak kecil itu akan dicoba dulu oleh para dayang senior pilihan Yang Mulia Raja. Bahkan Pemusik Kim sendiri pastilah akan terlebih dahulu mencicipi masakan buatannya. Karena itulah di dalam air putih yang mereka konsumsi untuk sarapan pagi esok hari, telah kububuhkan serbuk penawar yang membuat mereka tidak akan terpengaruh oleh reaksi racun itu. Sudahlah! Kau tidak perlu meragukanku. Yang harus kau lakukan adalah melaksanakan perintahku sebaik-baiknya. Ingat! Nyawa ayahmu ada dalam genggamanku!" sahut Yang Mulia Permaisuri dengan angkuh.

Sosok berbalut pakaian serba hitam itu hanya menganggukkan kepalanya. Meski begitu, kedua tangannya tampak mengepal erat. Sosok itu lagi-lagi terlihat menganggukkan kepala mendengarkan beberapa perintah dari wanita yang menjadi istri sah sang penguasa Kerajaan Joseon itu. Tak berapa lama, ia berpamitan dengan Yang Mulia Permaisuri dan meninggalkan ruangan itu dengan cara yang sama seperti ketika ia datang, yakni dengan melompati daun jendela. Matanya bergerak liar mengawasi keadaan di sekeliling. Ketika diyakininya bahwa situasi berada dalam keadaan yang aman, ia langsung melesat cepat meninggalkan kediaman khusus Yang Mulia Permaisuri tersebut, tanpa menyadari bahwa ada sepasang mata dan telinga yang menyaksikan segala tindak tanduknya, sekaligus mendengarkan pembicaraannya itu.

ooo 000 ooo

Sehari sebelum penobatan Jaejoong sebagai selir.

Warna merah bara di kaki langit sebelah timur mulai nampak, beriring kokok lantang ayam jantan yang bersahut-sahutan. Pagi telah menjelma kembali. Matahari perlahan menanjak menuju puncak singgasananya. Sinarnya yang kemilau singgah pada linangan embun di atas dedaunan, lalu memantul kembali ke udara. Pantulan cahaya matahari pada kilauan embun yang beriak diterpa angin, membuat embun-embun itu laksana butiran mutiara yang berserakan.

Matahari telah setinggi tombak ketika Jaejoong selesai membersihkan diri. Dengan bantuan Dayang Choi dan Dayang Kwan yang setia mendampinginya, Jaejoong dengan cepat mengenakan jeogori berwarna jingga dengan keliman putih yang tampak begitu indah membalut tubuh mungilnya, dipadukan sehelai baji berwarna senada. Jaejoong dengan cekatan mengikat simpul jeogori-nya, sementara Dayang Kwan merapikan tatanan rambutnya. Rambut Jaejoong yang panjang sepinggang dikepang, lalu ditekuk sebatas tengkuk dan diberi tambahan pita berwarna senada dengan hanbok-nya. Poninya yang menjuntai sebatas dagu dibagi dua kiri kanan sama rata, lalu turut dikepang dalam ukuran yang lebih kecil, dan dipertemukan dan dijepit di belakang kepala dengan diberikan hiasan rangkain bunga sakura. Jaejoong menatap sekilas bayangan dirinya di dalam cermin. Setelah puas dengan penampilannya, Jaejoong bergegas melangkah keluar dari kamarnya, menemui dua belas dayang istana muda yang sebelumnya telah diperintahkan langsung oleh Yang Mulia Raja untuk mendampingi Jaejoong dalam perjalanan menuju Dapur Istana. Namun sebelum itu, Jaejoong tak lupa untuk memerintahkan agar Dayang Kwan dan Dayang Choi agar menunggunya di kamar sampai ia kembali.

Para dayang istana berusia muda yang kesemuanya mengenakan hanbok berwarna putih dengan keliman hijau gelap itu berdiri membentuk dua barisan yang masing-masing terdiri dari enam orang. Di tangan mereka masing-masing, terdapat tabung bambu berisikan dua belas jenis air dari dua belas sumber mata air berbeda yang telah diberi penutup berupa kain tipis berwarna kuning yang diikat dengan tali jerami. Begitu Jaejoong menghampiri mereka, mereka serempak membungkukkan tubuhnya, memberi hormat. Jaejoong membalas penghormatan mereka dengan turut membungkukkan tubuh. Remaja cantik itu lalu menganggukkan kepala, isyarat untuk memulai perjalanan mereka menuju Dapur Istana. Jaejoong berjalan paling depan sambil menenteng sebuah keranjang anyaman dari rotan berbentuk kotak yang entah apa isinya. Ia diapit oleh dua orang prajurit bersenjatakan pedang di kiri dan kanannya. Ke-dua belas dayang istana berusia muda itu dengan sikap patuh berjalan di belakang Jaejoong, sementara sekitar sepuluh orang prajurit bersenjatakan pedang dan panah tampak mengiringi mereka di barisan paling belakang.

Perjalanan Jaejoong dan rombongan menuju Dapur Istana dihantarkan oleh gerak lembut angin pertengahan musim semi yang berhembus perlahan, menerbangkan kelopak-kelopak bunga yang turun dalam gerak lambat. Jalanan yang mereka lewati merupakan jalanan yang tak seberapa luas yang beralaskan pasir-pasir putih halus dengan pemandangan indah pohon-pohon maple dengan daunnya yang berwarna merah, tumbuh berjajar di sisi kiri dan kanan jalan. Begitu teduh dan menyejukkan pandangan. Bunga-bunga sakura mekar indah di antara ranting-rantingnya yang kecil, seperti mahkota merah muda di atas kepala seorang dara jelita. Begitu juga bunga-bunga plum, magnolia, canola, forsythia dan azalea, mekar serempak membentuk petak-petak kecil beraneka warna di kedua sisi jalan. Burung-burung kecil bertengger di antara dahan dan ranting pepohonan, seolah melantunkan kidung penyambutan.

Kira-kira sepeminuman teh, Jaejoong dan rombongannya telah sampai di Dapur Istana. Dapur Istana sendiri merupakan sebuah bangunan berukuran cukup luas yang terpisah dari bangunan utama istana. Berdiri di atas tanah dengan kontur yang sedikit turun naik dan dikelilingi oleh perbukitan. Bangunan yang luas itu terdiri dari bangunan utama yang didominasi warna merah bata dengan atap genteng yang bertingkat, diapit oleh dua paviliun yang memiliki koridor sangat panjang di sisi kiri dan kanannya. Pohon-pohon maple beraneka warna dan bentuk tumbuh subur di setiap sudut bangunan, berdampingan dengan pohon-pohon sakura yang tinggi menjulang dengan kelopak bunga yang bermekaran.

Kedatangan Jaejoong disambut oleh beberapa dayang utama kerajaan yang khusus menangani Dapur Istana, yang telah diminta oleh Yang Mulia Raja untuk mengawasi sekaligus menilai Sup 12 Rasa yang akan disajikan oleh remaja cantik itu. Mereka berdiri dalam satu barisan di depan pintu gerbang masuk Dapur Istana.

Wanita yang berdiri paling depan dengan senyum ramah terpasang di wajahnya adalah Dayang Istana Han, dayang utama yang menjabat sebagai Juru Masak Utama Kerajaan. Di sebelah kiri Dayang Istana Han, berdiri Dayang Istana Lee dan Dayang Istana Jang, yang merupakan Dayang Pembantu Utama Kerajaan. Sementara di sebelah kanan Dayang Istana Han, berdiri Dayang Istana Choi dan Dayang Istana Hwang yang merupakan Dayang Pembantu Utama Sekretaris Kerajaan.

Di belakang ke-lima wanita yang memegang peranan sangat besar pada Dapur Istana itu, berdiri berjajar dayang-dayang muda yang baru dilantik yang dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama merupakan barisan dayang muda berjumlah dua belas orang yang dibagi dalam tiga barisan. Sementara kelompok kedua merupakan barisan dayang muda berjumlah delapan belas orang yang juga dibagi dalam tiga barisan. Yang membedakan antara kedua kelompok ini hanyalah pakaian yang mereka kenakan. Jika kelompok pertama menggunakan hanbok berwarna merah muda dengan keliman putih, maka kelompok kedua memakai hanbok berwarna hijau pucat dengan keliman putih. Raut-raut wajah antusias tampak terpancar di wajah para dayang muda yang khusus diperbantukan di Dapur Istana tersebut, karena untuk pertama kalinya mereka akan menyaksikan proses pembuatan Sup 12 Rasa yang akan dilakukan oleh seorang calon selir berusia lima belas tahun.

Jaejoong membungkukkan tubuhnya, memberi hormat kepada para dayang senior tersebut. Hal yang sama diikuti oleh ke-dua belas dayang yang berbaris di belakangnya. Wanita-wanita yang masih terlihat cantik dalam usia mereka yang sudah tak lagi muda itu turut membungkukkan tubuh, membalas penghormatan dari calon selir termuda sepanjang sejarah Kerajaan Joseon. Jaejoong lalu memerintahkan kepada para dayang yang memegang masing-masing satu buah tabung bambu berisi air itu untuk menyerahkan tabung-tabung tersebut kepada ke-dua belas dayang muda yang mengenakan hanbok berwarna merah muda yang sebelumnya telah diperintahkan oleh Dayang Han untuk maju ke depan. Para dayang muda berwajah cantik tersebut segera menerima tabung-tabung yang telah diserahkan. Rupanya mereka bertugas untuk menguji air yang akan digunakan Jaejoong untuk memasak. Dengan cekatan, para dayang muda itu membuka ikatan yang menutup tabung, lalu memasukkan sebuah sendok perak ke dalam air yang berada di dalamnya. Ketika tak menemukan perubahan warna sedikitpun pada sendok perak yang berarti bahwa air tersebut tidak mengandung racun, maka para dayang muda itu kembali menutup tabung bambu tersebut, lalu membawa tabung-tabung itu ke dalam ruangan utama Dapur Istana.

"Kau bisa memulainya sekarang, Pemusik Kim. Jika kau membutuhkan bantuan, jangan segan untuk mengatakannya," ujar Dayang Istana Han dengan lembut yang disambut oleh Jaejoong dengan sebuah senyuman dan anggukan kecil.

"Ne, Joongie mengerti, Dayang Istana Han. Terima kasih," balas Jaejoong. Jaejoong lalu berjalan maju menuju dapur, sementara para dayang utama kerajaan itu kembali pada posisi mereka, berdiri berjajar di tepi pintu. Ke-dua belas dayang muda yang menyertainya turut bergabung dalam barisan bersama dayang-dayang lainnya.

Sesampainya di meja kayu berukuran besar yang merupakan tempat untuk menyiapkan masakan, Jaejoong segera mengecek bahan-bahan yang telah dimintanya beberapa waktu sebelumnya. Tak lupa ia meletakkan keranjang rotan yang dibawanya ke salah satu sudut meja. Ia tersenyum puas menyaksikan apa-apa yang ia butuhkan telah tersedia di tempatnya. Jaejoong lalu segera mencari pisau dapur yang akan digunakannya untuk memulai pekerjaannya. Setelah menemukannya, ia langsung menetakkan pisau tersebut ke atas telapak tangan kanannya sebanyak tiga kali dengan gerakan perlahan sehingga tidak sampai membuat tangannya terluka. Hal tersebut merupakan kebiasaan yang didapatnya dari sang eomma. Setelah itu, Jaejoong kembali meletakkan pisau dapurnya dan mulai menyusun dua belas mangkuk keramik berukuran besar yang ditatanya menjadi dua barisan, ke atas meja Dapur Istana yang sangat luas.

Remaja cantik itu lalu mengambil dua belas buah jeruk nipis. Ia menampas bagian atas jeruk-jeruk nipis tersebut satu-persatu, hingga di bekas tampasannya mengeluarkan air. Ia lalu memeras sebuah jeruk nipis ke dalam salah satu dari dua belas mangkuk keramik yang ada, lalu membersihkan seluruh bagian dalam mangkuk keramik itu dengan air perasan jeruk nipis tersebut. Ia melakukan hal yang sama pada mangkuk-mangkuk keramik yang lain hingga keseluruhan mangkuk selesai dibersihkan dengan air perasan jeruk nipis. Ia lalu mencurahkan air yang diambilnya dari dalam gentong kayu di salah satu sudut dapur ke dalam dua belas mangkuk keramik yang telah selesai dibersihkan dengan air perasan jeruk nipis, dan mengguncangnya di dalam mangkuk satu persatu. Ia membuang air itu, lalu mengelap mangkuk-mangkuk sehingga bersih menggunakan kain kering. Setelah itu ia mencurahkan isi dari tabung bambu pertama yang telah ditapis secara otomatis melalui kain tipis penutup tabung ke dalam mangkuk. Begitu terus menerus yang ia lakukan hingga air dari tabung ke-dua belas juga telah selesai berpindah ke dalam mangkuk. Tindakan yang Jaejoong lakukan tak urung membuat berpasang-pasang mata yang berada di belakangnya terkejut. Bahkan salah satu di antara dayang-dayang muda yang berbaris di belakangnya nampak pucat dan mengeluarkan keringat dingin.

Jaejoong kemudian mulai menata dan memisahkan bahan-bahan utama untuk membuat Sup 12 Rasa yang merupakan perpaduan enam jenis daging dan enam jenis sayuran. Adapun bahan utama berupa daging yang ia pilih ialah daging sapi segar yang berasal dari peternakan terbaik yang berada di daerah Selatan yang merupakan perkebunan dengan tanah tersubur di Kerajaan Joseon, daging menjangan dari hutan kerajaan, daging ikan Pollock sirip biru, kepiting salju, udang putih berukuran sebesar ibu jari, juga kerang mata tujuh yang sama-sama berasal dari perairan Pulau Jeju. Selain itu, Jaejoong juga menyiapkan lobak, jamur cemara, pakis gisori, bunga lonceng, rebung serta rumput laut kering yang semuanya merupakan kualitas nomor satu ke dalam sebuah tampah dari rotan yang berukuran besar. Tak lupa ia menyiapkan cabai hijau, beberapa butir kemiri, bawang putih, bawang merah, jahe, biji pala, daun seledri, daun bawang, kecap asin, lada tumbuk, nanas matang yang telah diparut, madu, garam, kulit kayu manis, minyak wijen, juga minyak perilla. Bahan-bahan yang tak ia perlukan, ia letakkan di sudut lain.

Remaja berparas jelita itu lalu mengambil sebuah tampah lain yang tidak terlalu besar. Ia lalu memilih bahan-bahan yang ia perlukan untuk direbus bersama bahan utama kaldu, yakni akar ginseng merah, peterseli Jepang, kacang kenari, kacang cemara, biji ginkgo, juga biji bunga teratai dan meletakkannya di dalam tampah.

Setelah bahan-bahan utama beserta bumbu tersusun rapi di atas meja, Jaejoong segera membersihkan tulang kering, usus dan tulang kaki sapi yang telah ia pisahkan, untuk direbus dan dijadikan kaldu. Ia menyiapkan sebuah periuk besar dari perunggu untuk merebus bahan-bahan tersebut, lalu menambahkan masing-masing dua cawan kecil air yang berasal dari dua belas mangkuk keramik. Jaejoong juga menambahkan akar ginseng merah, peterseli Jepang, kacang kenari, kacang cemara, biji ginkgo, dan biji bunga teratai di dalamnya. Setelah meletakkan periuk tersebut ke atas perapian, Jaejoong kembali mengalihkan perhatiannya pada bahan-bahan utama yang harus ia olah.

Daging pertama yang diolah Jaejoong adalah daging sapi. Hal itu disebabkan waktu untuk memasak daging sapi jauh lebih lama dibandingkan jenis daging yang lain. Dengan pisaunya yang telah terasah tajam, Jaejoong memotong daging tersebut berbentuk dadu dengan ukuran yang sama besar. Sesungguhnya, satu dari sekian banyak teknik utama dari pembuatan Sup 12 Rasa seperti yang diketahui oleh Jaejoong adalah bagaimana menyajikan bahan-bahan utama yang telah disiapkan dalam potongan ataupun irisan yang sama besar. Dan untuk melakukan hal tersebut, bukan hanya bakat dan ketelitian yang dibutuhkan, tapi juga kecerdasan pikiran, kecepatan mengambil keputusan, juga kepintaran untuk membuat perkiraan.

Setelah semua daging sapi dipotong dalam bentuk dan ukuran yang sama, Jaejoong segera memasukkan potongan-potongan daging tersebut ke dalam sebuah mangkuk yang sebelumnya telah diberi parutan nanas serta campuran sesendok kecap asin yang ditambah dengan dua sendok minyak wijen, agar daging terasa lebih lembut ketika disantap.

Daging kedua yang diolah Jaejoong adalah daging menjangan. Sebagaimana halnya daging sapi, daging menjangan juga memerlukan waktu yang cukup lama untuk dimasak. Dengan tangannya yang terampil, Jaejoong memotong daging menjangan tersebut berbentuk dadu, lalu memasukkan potongan-potongan daging itu ke dalam mangkuk yang telah diberi campuran kecap asin dan minyak wijen. Selanjutnya Jaejoong mengalihkan perhatian pada daging ikan Pollock sirip biru yang telah dibersihkan dari sisiknya. Dengan hati-hati, ia juga memotong daging ikan tersebut berbentuk dadu dan memasukkan potongan daging-daging ikan tersebut ke dalam mangkuk yang sebelumnya telah diberi kecap asin dan minyak wijen, dengan sedikit taburan lada tumbuk dan jahe.

Bahan utama yang diolah Jaejoong selanjutnya adalah kepiting salju. Ia memilih tiga ekor kepiting berukuran sebesar telapak tangan orang dewasa dengan bintik-bintik putih di atas permukaan kulitnya. Jaejoong memotong ujung capit kepiting tersebut, lalu memasukkan kepiting-kepiting yang masih lengkap dengan cangkangnya itu ke dalam mangkuk yang berisikan campuran bawang putih dan bawang merah yang dihaluskan, ditambah dengan sesendok kecap asin.

Dengan gerakan cepat namun telaten, Jaejoong lalu mengolah enam ekor udang putih yang berukuran sebesar ibu jari tersebut. Seolah tukang masak yang telah memiliki banyak pengalaman, Jaejoong memisahkan udang-udang tersebut dari kulitnya. Ia lalu membelah punggung udang-udang itu, lalu merendamnya ke dalam mangkuk yang juga berisikan campuran kecap asin dan minyak wijen.

Bahan terakhir yang diolah Jaejoong adalah kerang mata tujuh yang juga berjumlah enam ekor. Dengan sangat teliti, Jaejoong membersihkan kerang-kerang tersebut dari pasir yang kemungkinan masih menempel. Setelah selesai, Jaejoong merendam kerang-kerang tersebut ke dalam mangkuk berisikan minyak wijen tanpa campuran kecap asin.

Jaejoong lalu memutar tubuhnya dari meja dapur, memerhatikan kaldu yang sedang ia rebus di dalam periuk perunggu. Setelah dilihatnya kaldu mulai mendidih, Jaejoong lalu menyiapkan enam periuk dari perunggu berukuran lebih kecil dan kembali meletakkannya ke atas tungku yang lain, dengan api yang lebih kecil. Dengan hati-hati, Jaejoong memasukkan masing-masing tiga sendok besar kaldu yang masih mendidih ke dalam periuk-periuk tersebut. Jaejoong lalu memasukkan potongan-potongan daging sapi, daging menjangan, daging ikan Pollock sirip biru, udang, kepiting salju, juga kerang mata tujuh yang sebelumnya telah dicuci dengan air bersih ke dalam wadah-wadah itu. Ia lalu menutup periuk dan kembali merebus daging-daging itu hingga setengah matang.

Sambil menunggu daging-daging yang ia rebus setengah matang, Jaejoong mulai mengolah sayuran yang tersisa. Mula-mula ia memotong jamur cemara dalam ukuran sedang, lalu dilanjutkan dengan memotong rebung dan lobak dalam bentuk dadu, lalu memotong pakis gisori, dan bunga lonceng. Setelah itu ia memotong rumput laut kering sebesar satu ruas jari, lalu merendamnya ke dalam air dingin.

Jaejoong lalu memotong tiga buah cabai hijau dengan potongan menyerong. Ia lalu mencincang halus bawang putih dan bawang merah serta jahe dalam suatu gerakan yang mengagumkan, memotong daun seledri dan daun bawang, dan terakhir menumbuk tiga buah kemiri dan biji pala sehingga halus.

Remaja cantik itu lalu kembali memerhatikan daging-daging yang sedang ia rebus. Ia membuka penutup wadah dari perunggu yang berisi kepiting salju. Ketika dilihatnya kulit kepiting yang sudah memerah, ia segera menguak kayu bakar, dan mematikan api. Ia kemudian dengan hati-hati mengangkat kepiting salju tersebut, lalu merendamnya di dalam sebuah wadah berisikan air dingin. Jaejoong juga mengangkat udang yang telah berubah warna, serta kerang mata tujuh yang telah terlepas dari cangkangnya. Ia lalu meletakkan kedua bahan utama tersebut ke dalam wadah lain. Yang tersisa di atas perapian hanyalah daging sapi, daging menjangan, juga daging ikan Pollock sirip biru yang masih membutuhkan waktu untuk dimasak.

Sambil menunggu ketiga daging yang merupakan bahan utama sedikit lebih empuk, Jaejoong menyiapkan bahan untuk menyajikan dua jenis sura, yakni sura putih dan sura merah yang merupakan hidangan utama yang wajib dihidangkan. Jaejoong mencuci beras sehingga bersih. Ia lalu menyiapkan dua buah gamasot[29] di atas perapian. Gamasot pertama berisikan beras yang akan ditanak tanpa penambahan apa pun yang disebut sura putih. Gamasot kedua berisikan beras yang akan ditanak dengan rebusan air kacang merah sehingga disebut sura merah.

Jaejoong melepaskan tiga ekor kepiting salju yang telah matang dari cangkangnya. Ia lalu membelah ke-tiga ekor kepiting tersebut menjadi dua dengan ukuran yang sama panjang, dan menatanya di atas piring keramik datar berbentuk panjang. Ia lalu meletakkan enam ekor kerang mata tujuh yang telah terlepas dari cangkangnya ke dalam piring yang sama. Setelah itu, remaja berparas cantik itu memusatkan perhatiannya pada daging udang di hadapannya. Jaejoong meraih keranjang rotan yang dibawanya, lalu membuka penutupnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam keranjang rotan tersebut yang ternyata merupakan beberapa tangkai bunga lily. Ia lalu melepaskan beberapa kelopak bunga lily yang berwarna putih tersebut, lalu membalut satu persatu udang yang sebelumnya telah diberi irisan bawang merah di bagian punggungnya yang telah terbelah itu dengan kelopak-kelopak bunga lily itu. Ia lalu mengikat kelopak bunga tersebut dengan tali dari batang daun bawang dalam tiga ikatan, dan meletakkannya di dalam piring keramik bersama kepiting salju dan kerang mata tujuh.

Jaejoong kembali membagi perhatiannya pada tiga daging utama yang berada di atas perapian. Setelah meyakini bahwa daging ikan Pollock sirip biru sudah dalam keadaan setengah matang, Jaejoong segera mengangkat dan meniriskannya ke dalam wadah lain. Ia lalu juga mengangkat daging menjangan dan daging sapi, lalu turut meniriskannya dalam dua wadah bersih yang lain. Kemudian, dengan sumpitnya, Jaejoong mengambil masing-masing enam potongan daging sapi, daging menjangan, dan daging ikan Pollock sirip biru ke dalam piring keramik yang sebelumnya telah berisi kepiting salju, udang, juga kerang mata tujuh.

Hal selanjutnya yang dilakukan Jaejoong merupakan inti dari pembuatan Sup 12 Rasa. Ia memasukkan dua sendok minyak wijen dan minyak perilla ke dalam periuk dari perunggu. Ia lalu menumis cabe, bawang merah, bawang putih juga jahe yang telah dicincang halus. Setelah tumisannya berbau harum, ia memasukkan potongan daging sapi, daging menjangan, dan daging ikan Pollock sirip biru ke dalam periuk dan menambahkan dua belas cawan kecil air dari dua belas sumber mata air berbeda yang sebelumnya berada di dalam mangkuk keramik. Ia juga menambahkan beberapa sendok kuah dari rebusan kaldu yang tersisa. Setelah memasak kira-kira sepeminuman teh, Jaejoong memasukkan potongan lobak, rebung, jamur cemara dan rumput laut kering ke dalam periuk. Ia mengaduknya perlahan. Setelah muncul gelembung-gelembung kecil di permukaan periuk, ia lalu memasukkan udang, kepiting salju, dan kerang mata tujuh. Ia juga menambahkan pakis gisori dan bunga lonceng, lalu memasukkan dua sendok kecap asin dan sedikit garam. Setelah mendidih, Jaejoong memasukkan sesendok kecil kemiri dan biji pala yang telah dihaluskan, ditambah sesendok madu ke dalam periuk.

Jaejoong menusuk daging sapi dan daging menjangan dengan sebatang lidi, untuk memastikan apakah daging telah matang dengan sempurna. Setelah memastikan bahwa dua daging utama itu telah matang, ia lalu memasukkan irisan daun bawang dan daun seledri ke dalam periuk. Ia menunggu sebentar, lalu mengambil sebuah sendok dan mulai mencicipi masakan yang ia buat untuk memastikan bahwa sup yang dibuatnya telah memiliki rasa yang pas. Setelah itu, ia menguak kayu bakar di perapian, lalu mematikan apinya, meninggalkan bara yang menyala merah saga.

Namja berusia lima belas tahun yang sebagian besar hidupnya ditempa oleh alam itu lalu menyiapkan sebuah nampan besar yang juga terbuat dari perunggu. Di atasnya, ia meletakkan dua belas mangkuk dari bahan yang sama. Ia lalu memasukkan dua potongan daging sapi beserta kuah ke dalam mangkuk pertama, diikuti dengan dua potongan daging menjangan ke dalam mangkuk ke-dua, lalu dua potong daging ikan Pollock sirip biru, dua potong kepiting salju, dua ekor udang, dan dua ekor kerang mata tujuh ke dalam mangkuk ke-tiga hingga ke-enam. Ia juga memasukkan beberapa potongan rebung ke dalam mangkuk ke-tujuh, diikuti potongan lobak, jamur cemara, pakis gisori, rumput laut dan bunga lonceng ke dalam mangkuk-mangkuk yang lain hingga seluruh mangkuk terisi. Ia lalu menyerahkan nampan tersebut kepada Dayang Istana Han yang langsung memberikannya pada salah satu dari dua belas dayang muda yang mengenakan hanbok merah muda dengan keliman putih. Sang dayang menerimanya, dan langsung membawa nampan tersebut menuju paviliun di sisi kanan bangunan utama Dapur Istana. Ia meletakkan satu persatu mangkuk di atas sebuah meja panjang berkaki rendah dengan permukaan mengilap yang terletak di tengah paviliun. Ia meletakkan enam mangkuk berisi daging di sisi kanan meja, sementara enam mangkuk berisi sayuran ia letakkan di sisi kiri meja.

Dayang Istana Han lalu memerintahkan empat orang dayang istana utama untuk mengikutinya menuju paviliun di sisi kanan Dapur Istana. Ia juga memerintahkan ke-sebelas orang dayang istana yang mengenakan hanbok merah muda dengan keliman putih lainnya untuk turut serta bersamanya, sementara dayang istana lainnya tetap berada di tempatnya semula. Dayang Istana Han kembali memberi perintah agar ke-dua belas dayang muda itu untuk duduk mengelilingi meja kayu panjang berkaki rendah, berdepan dengan masing-masing satu mangkuk perunggu dengan isi berbeda. Ia sendiri duduk di depan, berhadapan langsung dengan meja panjang, diapit oleh ke-empat rekannya di kanan dan kiri. Setelah itu, Dayang Istana Han mengeluarkan perintahnya agar para dayang istana muda itu mulai mencicipi isi dari mangkuk perunggu yang ada di hadapan mereka. Para dayang istana itu mengangguk patuh, lalu mengambil sumpit masing-masing dan mulai mencicipi makanan. Sementara Jaejoong, berdiri dengan sikap tenang di ujung meja yang menghadap koridor panjang.

"Yong Hee, katakan padaku apa yang kau rasakan ketika mencicipi makanan di dalam mangkuk di hadapanmu itu!" perintah Dayang Istana Han, setelah ke-dua belas dayang muda itu meletakkan kembali sumpit dan sendoknya ke sisi kanan dan kiri mangkuk masing-masing.

"Saya merasakan daging sapi yang sangat empuk, Nyonya. Dan ketika saya mencicipi kuahnya, saya sangat terkejut karena seolah-olah saya sedang menikmati semangkuk sup berbahan utama daging sapi saja, tanpa ada bahan lainnya, selain bumbu tentunya. Bumbunya begitu menyatu, dan mencipta letupan-letupan kecil di lidah saat saya mencicipinya, Nyonya," jawab Yong Hee setelah membungkuk hormat. Dayang Istana Han tampak tersenyum puas. Ia lalu mengalihkan perhatiannya pada dayang muda di sebelah Yong Hee.

"Hye Jin, apa yang kau rasakan ketika mencicipi makanan di dalam mangkukmu?" tanya Dayang Istana Han.

Dayang muda bernama Hye Jin itu membungkuk hormat. "Sama seperti apa yang Yong Hee katakan, Nyonya. Saya merasakan daging menjangan dengan tekstur yang sangat lembut, sehingga saya tidak perlu mengunyahnya berlama-lama. Dan ketika saya mencicipi kuahnya, saya juga kaget karena meskipun saya tahu bahwa sup itu terbuat dari dua belas bahan utama berbeda, namun seakan-akan hanya terbuat dari daging menjangan saja. Entah bagaimana menjelaskannya, namun sepertinya ada sesuatu yang mengikat rasa dari masing-masing bahan, hingga tidak saling menyatu satu sama lain, kecuali bumbunya, Nyonya," jelas dayang istana muda itu. Dayang Istana Han kembali tersenyum puas, diiringi ke-empat rekannya.

"Sekarang giliranmu, Sang Hoon! Katakan, apa yang kau rasakan?"

"Seperti halnya dua rekan saya yang lain, Nyonya. Saya merasakan daging ikan Pollock sirip biru yang luar biasa lembut mendominasi masakan yang saya cicipi. Bahkan di setiap ruas daging ikan tersebut, saya seolah mampu merasakan bumbu-bumbu yang berlarian sehingga memberikan sensasi unik di lidah saya, Nyonya. Baru kali ini saya mencicipi masakan yang begitu luar biasa." Jawab Sang Hoon, membuat senyum di bibir Dayang Istana Han kian merekah. Jaejoong sendiri berusaha bersikap setenang mungkin dan menyembunyikan senyumnya dengan menundukkan kepalanya.

"Dong Bin, kau bertugas mencicipi daging kepiting salju. Katakan padaku, apa yang kau rasakan?" tanya Dayang Istana Han, pada dayang muda bernama Dong Bin.

"Saya sudah sering memasak dan menghidangkan kepiting salju, Nyonya. Tapi baru kali ini saya merasakan daging kepiting salju yang sedemikian lembut. Saya seolah-olah menikmati potongan kapas yang dibumbui sedemikian rupa saat mencicipinya. Dan kuahnya, saya sendiri tidak dapat menjelaskan bagaimana mungkin saya tidak bisa merasakan adanya tambahan kaldu dan bahan lain di dalamnya? Seolah-olah memang sup itu terbuat dengan bahan utama kepiting salju saja, Nyonya," jelas Dong Bin.

"Bagaimana menurutmu, Soo Rim?" lanjut Dayang Istana Han.

"Saya bertugas mencicipi mangkuk yang berisikan udang putih. Dan sungguh, saya merasakan daging udang yang sangat lezat sekaligus lembut. Irisan bawang merah yang dimasukkan ke dalam punggung udang yang telah dibelah, ditambah kelopak bunga lily yang membungkusnya membuat suatu harmonisasi rasa yang sangat luar biasa. Tak ada kata lain yang bisa saya katakan selain sempurna, Nyonya," sahut dayang yang ternyata bernama Soo Rim itu.

"Dan bagaimana menurutmu, Hyun Neul?"

"Sepengetahuan saya, memasak kerang mata tujuh tidaklah semudah yang terlihat, Nyonya. Ada beberapa bagian di dalam dagingnya yang alot, sehingga jika tidak teliti, maka daging kerang tersebut justru akan tidak enak saat disajikan. Namun ketika saya mencicipi daging kerang di dalam mangkuk saya, saya merasakan daging yang sangat lembut. Bumbu-bumbunya seolah menari di lidah saya. Dan yang juga saya herankan, rasa daging kerangnya begitu kuat, seolah tidak tercampur oleh bahan yang lain. Saya harus mengatakan bahwa masakan ini luar biasa nikmat, Nyonya," jawab dayang bernama Hyun Neul, setelah membungkukkan tubuh memberi hormat. Dayang Istana Han mengangguk-anggukkan kepalanya dengan ekspresi puas.

"Rae Byung, kau yang mencicipi mangkuk berisi lobak. Katakan padaku apa yang kau rasakan saat mencicipinya?"

Dayang muda bernama Rae Byung itu membungkukkan tubuhnya. "Saya juga merasakan seperti yang rekan-rekan saya rasakan, Nyonya. Saat mencicipi lobak itu, saya merasakan seolah-olah hanya lobak itu saja bahan utama di dalam sup tersebut. Lobaknya seolah mengandung semua bumbu di setiap jengkalnya, yang akhirnya pecah di mulut. Begitu nikmat dan luar biasa. Dan ketika saya mencicipi kuahnya, saya juga sangat terkejut mendapati kenyataan bahwa sup ini seakan hanya terbuat dari bahan utama lobak saja, Nyonya," jelas sang dayang. Senyum puas sekaligus bangga benar-benar tercetak di wajah Dayang Istana Han dan dayang utama lainnya. Terlebih ketika dayang-dayang muda yang lain yang bertugas mencicipi mangkuk berisi jamur cemara, pakis gisori, rumput laut, rebung, ataupun bunga lonceng, semuanya memberikan pendapat yang senada.

Dayang Istana Han lalu berjalan mendekati Jaejoong, diikuti ke-empat rekannya. Setibanya di hadapan remaja berparas cantik itu, Dayang Istana Han segera memberikan sebuah tepukan ringan di pundaknya, dengan seutas senyum kembali menghiasi parasnya. Jaejoong mengangkat kepalanya, memandangi Dayang Istana Han dengan kedua bola mata besarnya yang berpijar ceria.

"Kau berhasil, Pemusik Kim! Kau berhasil menyajikan Sup 12 Rasa. Setelah sekian lama tidak ada lagi yang menyajikan makanan ini, kau berhasil membuatnya dengan sangat baik. Dan kau merupakan namja pertama yang berhasil membuat Sup 12 Rasa. Sekarang kembalilah ke dapur utama, siapkan tiga nampan berisikan Sup 12 Rasa, juga jangan lupakan sura putih dan sura merah. Setelah itu berikan kepada dayang muda yang akan kuperintahkan untuk membantumu. Kita akan membawa hidangan tersebut ke hadapan Yang Mulia Raja, Yang Mulia Permaisuri, sekaligus Yang Mulia Ibu Suri," perintah Dayang Istana Han dengan nada lembut. Jaejoong mengangguk patuh, lalu bergegas kembali ke dapur utama untuk melakukan tugasnya, diikuti tiga orang dayang yang telah diperintahkan oleh Dayang Istana Han untuk membantunya.

ooo 000 ooo

Hari telah menjelang siang. Dayang Istana Han, Dayang Istana Lee, Dayang Istana Jang, Dayang Istana Choi dan Dayang Istana Hwang tampak berjalan cepat dari Dapur Istana menuju bangunan utama istana Changdeok, tepatnya menuju ke ruang makan keluarga kerajaan. Di belakangnya, terlihat tiga orang dayang muda yang masing-masing membawa meja persegi berkaki rendah yang di atasnya terdapat nampan perunggu berisikan Sup 12 Rasa ditambah sura putih dan sura merah. Jaejoong berjalan di barisan paling belakang sambil sesekali terlihat meremas kedua tangannya. Mereka berjalan menggunakan jalur selatan yang merupakan jalan pintas, sehingga lebih cepat untuk sampai ke bangunan utama istana. Melewati jalanan berpasir yang dikepung oleh kerimbunan pohon maple dan plum di kedua sisinya, lalu melangkah menaiki beberapa undakan anak tangga batu, sebelum akhirnya melintasi jembatan melengkung dari bata merah yang berdiri kokoh di atas kolam teratai yang terletak di samping istana. Perasaan gugup jelas tercetak di wajah rupawan Jaejoong. Berulang kali remaja berparas cantik itu menggigit bagian bawah bibirnya. Bagaimana tidak? Meskipun berhasil membuat Sup 12 Rasa, namun Jaejoong sama sekali tidak menyangka bahwa yang akan menikmati makanan itu bukan hanya Yang Mulia Raja, melainkan juga Yang Mulia Permaisuri dan Yang Mulia Ibu Suri.

Dayang Istana Han dan rombongan segera menghentikan langkah kaki mereka ketika telah sampai di sebuah ruangan luas dengan jendela-jendela besar di setiap sisinya, yang merupakan ruang makan keluarga kerajaan. Ia membungkuk hormat kepada Kasim Lee yang berdiri menyambutnya di muka pintu. Tindakannya itu diikuti oleh yang lainnya. Kasim Lee yang berusia setengah baya itu membalas penghormatan dari Dayang Istana Han dengan turut membungkukkan tubuhnya, dan mempersilakan agar Dayang Istana Han beserta rombongannya untuk masuk.

Ruang makan keluarga kerajaan yang berukuran luas itu berhadapan langsung dengan kolam teratai yang sering digunakan Yang Mulia Raja untuk memancing. Dari jendela-jendea besar yang terdapat di setiap sisi ruangan, guguran bunga sakura yang jatuh ke dalam kolam teratai terlihat jelas. Jendela-jendela yang besar itu juga membuat ruangan terasa lebih sejuk, sebab angin yang masuk ke dalam ruangan tersebut lebih banyak dari ruangan yang lainnya. Dinding utama ruangan itu dihiasi oleh tujuh lukisan pemandangan alam yang saling menyambung. Dan di depannya, tampak Yang Mulia Raja Yi Yunho sedang duduk didampingi oleh Yang Mulia Permaisuri di sisi kanannya, serta Yang Mulia Ibu Suri di sisi kirinya.

Dayang Istana Han melangkah maju, lalu membungkuk memberi hormat kepada penguasa Kerajaan Joseon itu.

"Hamba datang untuk melaporkan bahwa Pemusik Kim telah berhasil membuat Sup 12 Rasa, Yang Mulia," lapor Dayang Istana Han yang ditanggapi dengan ekspresi kaget di paras sang raja yang berwajah tampan itu. Ia bahkan mengerjapkan matanya, seolah tak memercayai pendengarannya. Yang Mulia Ibu Suri juga menunjukkan ekspresi wajah yang nyaris serupa dengan putranya. Ia penasaran dengan wajah sang calon selir yang berhasil membuktikan kesuciannya dengan keberhasilannya membuat Sup 12 Rasa itu, sehingga ia mengedarkan pandangannya lurus ke depan, menatap rombongan Dayang Istana Han. Pandangannya terpaku pada sosok namja yang mengenakan hanbok berwarna jingga yang tampak sedang menundukkan kepalanya di barisan paling belakang.

Sementara itu, Yang Mulia Permaisuri terlihat sangat tenang, bahkan sebuah senyuman manis tersungging dari bibirnya ketika mendengar laporan dari Dayang Istana Han. Sang Ratu yang berparas cantik itu bahkan terlihat menangkupkan sebelah tangannya di atas permukaan tangan Yang Mulia Raja, seolah memberikan ucapan selamat.

"Benarkah apa yang kau katakan, Dayang Istana Han?" tanya Yang Mulia Raja, setelah tersadar dari keterkejutannya.

"Benar, Yang Mulia. Pemusik Kim telah berhasil membuat Sup 12 Rasa. Menurut buku tentang Rahasia Memasak Dapur Istana yang juga merupakan satu-satunya buku di Perpustakaan Negara yang memuat tentang penjelasan mengenai Sup 12 Rasa secara garis besarnya, seseorang dikatakan berhasil menyajikan sup itu ketika ia mampu untuk tetap mempertahankan rasa dari ke-dua belas bahan utama yang disajikan, dan membuatnya tidak menyatu satu sama lain. Dan Pemusik Kim berhasil melakukan hal tersebut, Yang Mulia," jelas Dayang Istana Han.

"Memasak menggunakan dua belas bahan utama namun rasa dari masing-masing bahan utama tidak tercampur? Menarik sekali," sambung Yang Mulia Ibu Suri.

"Saya juga berpikir seperti itu, Ibunda. Dan untuk membuktikannya, bagaimana kalau kita meminta Dayang Istana Han untuk segera menghidangkan makanan itu?" usul Yang Mulia Permaisuri dengan sikap anggun seorang Ratu. Suaranya bahkan terdengar begitu lembut. Yang Mulia Ibu Suri menggangguk, tanda menyetujui usulan menantunya itu. Usulan permaisuri itu juga disambut baik oleh Yang Mulia Raja.

Dayang Istana Han memerintahkan tiga orang dayang muda yang berada di belakangnya untuk maju ke depan dan meletakkan masing-masing satu meja persegi berkaki pendek dengan nampan perunggu berisikan Sup 12 Rasa serta sura putih dan sura merah di hadapan Yang Mulia Raja, Yang Mulia Permaisuri, juga Yang Mulia Ibu Suri. Setelah melakukan tugasnya, ketiga dayang tersebut kembali ke tempatnya semula. Dayang Istana Han lalu mempersilakan para penguasa kerajaan Joseon itu untuk mulai menikmati sajian yang dihidangkan.

Yang Mulia Raja memandangi nampan yang berada di atas meja kayu di hadapannya. Ada dua belas mangkuk berukuran sedang dari bahan perunggu yang ditata sedemikian rupa mengelilingi dua mangkuk perunggu lainnya yang berukuran lebih besar berisikan sura merah dan sura putih dimana posisi nasi di dalam kedua mangkuk itu dibuat lebih tinggi dari posisi bibir mangkuk. Di ujung nampan, tampak tiga buah tomat yang dibentuk seperti bunga lotus yang sedang mekar diletakkan di atas tiga lembar daun selada, untuk mempermanis hidangan. Yang Mulia mengangkat sedikit ujung lengan gonryonpo yang beliau kenakan, kemudian mengambil sumpitnya, lalu mulai mengambil sepotong daging sapi dari salah satu mangkuk dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Tindakannya juga diikuti oleh Yang Mulia Permaisuri dan Yang Mulia Ibu Suri.

"Daging sapi ini terasa sangat lembut di lidah. Benar-benar lembut. Bagaimana menurut Ibunda?" tanya Yang Mulia Raja kepada Yang Mulia Ibu Suri.

"Itu benar, Anakku. Seumur hidup, kuakui baru kali ini aku memakan daging sapi yang rasanya selembut ini. Anakku, perintahkan agar Pemusik Istana itu maju ke depan, ada banyak hal yang ingin kutanyakan padanya," titah Yang Mulia Ibu Suri kepada Yang Mulia Raja, yang segera dijalankan oleh sang raja yang berwajah tampan itu. Dengan nada penuh wibawa, ia segera memanggil Jaejoong untuk maju ke depan. Jaejoong bangkit dari duduknya, lalu berjalan beberapa langkah ke depan. Ketika jaraknya dengan meja kayu di hadapan Yang Mulia Raja hanya tinggal selangkah, ia menghentikan langkahnya. Namja cantik itu segera menangkupkan tangan kanannya di atas tangan kiri, lalu membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangan yang ditangkupkan sejajar posisinya dengan kepala, memberi hormat. Setelah itu, ia segera mendudukkan diri di depan penguasa Kerajaan Joseon itu.

"Pemusik Kim, bisa kau ceritakan padaku bagaimana caranya kau memasak daging sapi ini hingga rasanya begitu lembut?" tanya Yang Mulia Ibu Suri sambil diam-diam mengakui kecantikan alami yang dimiliki oleh remaja berparas rupawan itu. Wanita setengah baya itu bisa memaklumi alasan putranya yang hendak menjadikan namja cantik itu sebagai selir. Jaejoong mengangguk dengan sikap begitu hormat.

"Yang Mulia Ibu Suri, sebenarnya sebelum Joongie merebus potongan-potongan daging sapi tersebut, Joongie terlebih dahulu merendamnya ke dalam parutan nanas yang telah dicampur dengan sesendok kecap asin dan dua sendok minyak wijen," jelas Jaejoong sehingga membuat kening Yang Mulia Ibu Suri sedikit berkerut.

"Parutan nanas? Baru kali ini aku mendengar hal itu. Bukankah biasanya agar daging sapi terasa lebih empuk saat dimasak para dayang istana memasukkan sendok perak ke dalam rebusannya?"

"Ampun, Yang Mulia Ibu Suri. Joongie mendapatkan rahasia untuk membuat daging sapi jauh lebih lembut saat dikunyah dari Eomma Joongie, sebelum Eomma meninggal. Eomma bilang, memasak dengan memasukkan sebatang sendok perak ke dalam rebusan daging sapi memang akan membuat daging lebih empuk, namun bila sebelum direbus daging sapi terlebih dahulu kita rendam dalam parutan nanas, maka daging yang dihasilkan jauh akan terasa lebih empuk dan lembut, sehingga kita tidak perlu terlalu lama mengunyahnya," lanjut Jaejoong, sehingga Yang Mulia Ibu Suri tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Lalu, di antara banyak jenis makanan yang bisa kau hidangkan, mengapa kau memilih untuk membuat Sup 12 Rasa, Pemusik Kim?" lanjut Yang Mulia Ibu Suri.

"Menurut sejarah, Sup 12 Rasa adalah sebuah tradisi yang diadaptasi oleh leluhur kita dari kebiasaan keluarga Kerajaan Ming. Di Kerajaan Ming sendiri, tradisi itu lebih dikenal dengan memakan dua belas jenis makanan di hari pernikahan. Sup 12 Rasa, selain merupakan makanan yang merupakan pembuktian kesucian, juga memiliki makna yang sangat dalam mengenai kehidupan. Dalam hidup, kita tak hanya mengenal mengenai keindahan atau kebahagiaan, tapi juga ada kepahitan, kegetiran, dan beragam suka dukanya yang secara simbolis digambarkan melalui dua belas rasa dalam sup ini. Di dalam Sup 12 Rasa, dipakailah madu sebagai bumbu untuk menghadirkan rasa manis. Hal tersebut mewakili makna bahwa dalam kehidupan kita akan menemui sisi manisnya, yakni kesenangan-kesenangan yang kita alami. Lalu ada juga cabai, untuk mencipta rasa pedas di dalam masakan. Hal itu bisa dimaknai bahwa kehidupan selain menawarkan kesenangan, juga kesusahan. Lalu ada seledri, garam, juga kecap asin, untuk menghasilkan rasa asin. Hal itu bisa diartikan juga bahwa kehidupan menawarkan sisi yang lain yang terkadang tak mampu manusia hindari. Juga ada pucuk seledri yang akan memberikan rasa pahit. Semua rasa itu diibaratkan sebagai hal-hal yang akan kita temui dalam kehidupan. Seorang tukang masak, ibaratnya seorang istri dalam sebuah rumah tangga. Jika ia bisa meramu bahan-bahan yang mengandung rasa berbeda itu menjadi suatu hidangan yang lezat, maka ia dikatakan berhasil sebagai tukang masak. Begitu pula seorang istri dalam pernikahan. Apabila ia berhasil meramu semua suka duka kehidupan, tetap menemani suaminya dalam keadaan apa pun, tak hanya senang namun juga susah, maka ia dikatakan berhasil sebagai seorang istri, Yang Mulia Ibu Suri. Karena makna di sebalik makanan itulah, maka Joongie memilih untuk menyediakan Sup 12 Rasa untuk Yang Mulia Raja, bukan makanan yang lain," papar Jaejoong panjang lebar sehingga menimbulkan decak kekaguman dari semua yang berada di dalam ruangan tersebut.

"Pemusik Kim, bisa kau ceritakan bagaimana kau begitu yakin ketika hendak menyajikan Sup 12 Rasa kepada Yang Mulia Raja? Sup 12 Rasa bukanlah makanan biasa. Bahkan menurut penuturan Dayang Istana Han, hanya ada satu buku di Perpustakaan Negara yang memuat tentang makanan itu, itu pun hanya secara garis besarnya saja. Dengan kata lain, tak ada satu pun petunjuk mengenai langkah-langkah dalam pembuatan sup itu, selain penjelasan mengenai bahan dan bumbu untuk membuatnya. Lalu bagaimana kau bisa menyajikannya?" tanya Yang Mulia Permaisuri dengan nada begitu lembut. Tak sedikitpun ditemukan sirat kecemburuan maupun kebencian dalam nada suara wanita cantik itu. Sikap Yang Mulia Permaisuri yang begitu anggun membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut tidak menyadari adanya tatapan yang sedikit tak biasa yang dilayangkan oleh wanita cantik itu kepada Yang Mulia Raja melalui ekor matanya.

"Sebenarnya, Joongie mengetahui tentang Sup 12 Rasa dari tetangga Joongie di desa, yang merupakan seorang tabib, Yang Mulia Permaisuri. Namanya Tabib Lee. Sejak usia sepuluh tahun, Joongie sering meminjam buku-buku mengenai tanaman obat kepada beliau. Joongie juga sering meminjam buku mengenai pengobatan padanya. Suatu hari, tanpa sengaja Joongie menemukan sebuah kitab pengobatan dari Tiongkok yang sudah sangat tua, di atas meja baca Tabib Lee. Di dalam kitab itulah Joongie mengetahui tentang Sup 12 Rasa. Memang tidak ada penjelasan yang detail tentang makanan tersebut, karena di dalam kitab itu yang dimuat adalah penjelasan mengenai kegunaan beberapa tanaman obat serta biji-bijian yang selain berfungsi penting dalam dunia pengobatan, juga dapat digunakan sebagai bumbu masak. Di dalam kitab itu dijelaskan bahwa buah kemiri serta biji pala dalam Sup 12 Rasa berfungsi untuk mengikat rasa dari bahan-bahan utama sehingga rasanya tidak saling membaur," jelas Jaejoong dengan sopan, seakan mencoba membalas kesopanan Yang Mulia Permaisuri. Ia kemudian menarik napas sebelum melanjutkan kembali penjelasannya. "Setelah membaca mengenai hal itu, Joongie lalu bertanya pada Tabib Lee, apa itu Sup 12 Rasa. Tabib Lee lalu menjelaskannya pada Joongie. Pada mulanya, penjelasan Tabib Lee membuat Joongie sama sekali tidak tertarik. Hal itu karena Tabib Lee bilang Sup 12 Rasa adalah makanan yang disajikan sebagai pembuktian kesucian seorang calon pengantin wanita. Karena Joongie adalah seorang namja dan waktu itu tidak memiliki rencana untuk menikah, tentu saja Joongie tidak tertarik. Tapi Tabib Lee juga bilang, apa salahnya Joongie mencoba membuatnya. Seandainya Joongie gagal, maka itu hanyalah keberhasilan yang tertunda. Tidak selalu kita harus menelan mentah-mentah apa yang tertulis di dalam sebuah buku. Itulah sebabnya mengapa Joongie sangat yakin untuk menyajikan Sup 12 Rasa kepada Yang Mulia Raja, Yang Mulia Permaisuri," sambung Jaejoong.

"Itu sungguh luar biasa. Hanya berbekal keyakinan saja kau bisa menyajikan makanan ini?" tanya Yang Mulia Raja, menyambung pertanyaan dari Yang Mulia Permaisuri.

"Joongie rasa jika dikatakan hanya berbekal keyakinan saja, Joongie sedikit tidak setuju, Yang Mulia Raja. Selain menanamkan keyakinan dalam diri sendiri bahwa Joongie mampu menyajikan sup itu, Joongie juga membekali diri dengan pengetahuan lain seputar Sup 12 Rasa. Joongie mengetahui tentang bahan-bahan utama serta bumbu yang harus digunakan untuk membuat Sup 12 Rasa dari salah satu buku tua di perpustakaan Tabib Lee. Di buku itu penjelasan mengenai tata cara pembuatan Sup 12 Rasa sedikit lebih lengkap, meskipun tidak dijelaskan secara pasti langkah demi langkahnya. Ketika Joongie membuatnya, Joongie hanya mengikuti naluri Joongie saja. Dan lagi, sesungguhnya membuat Sup 12 Rasa tidaklah sesulit seperti yang dikatakan orang. Rahasia besar mengapa ramai orang yang tidak berhasil membuat sup itu bukanlah karena mereka tidak bisa melakukannya, melainkan tidak mau. Sup 12 Rasa bisa dimasak menggunakan bahan utama apa saja, yang penting jumlahnya genap dua belas. Persoalan utamanya bukanlah bahan utama apa yang harus digunakan, melainkan bumbu apa yang harus dipakai. Jika kita menelusuri jejak sejarah, pembuatan Sup 12 Rasa yang biasanya dilakukan oleh tiap-tiap calon pengantin wanita berhenti secara total sejak meletusnya perang besar Tiga Kerajaan. Hal itu dikarenakan persediaan bahan makanan yang sangat menipis. Jangankan untuk menyajikan bahan makanan dengan dua belas bahan dasar utama, bisa makan dengan nasi saja sudah sangat beruntung. Dan ketika berpuluh tahun kemudian keadaan baru berangsur-angsur membaik, tradisi membuat sup itu sudah terlupakan," papar Jaejoong secara gamblang yang tak urung membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu terperangah. Apa yang dikatakan oleh remaja berusia lima belas tahun itu sangat masuk akal. Mengapa tidak satu orang pun dari mereka yang sebelumnya memikirkan hal tersebut? Diam-diam, beberapa dayang senior yang berada di dalam ruangan itu mulai mengagumi sosok Pemusik Istana yang meskipun masih berusia sangat muda namun terlihat sangat cerdas itu.

"Tapi, bukankah dikatakan bahwa yang bisa membuat Sup 12 Rasa itu hanyalah perawan suci yang belum terjamah laki-laki? Bagaimana kau bisa menjelaskan mengapa dirimu yang seorang namja bisa melakukannya?" tanya Yang Mulia Ibu Suri kembali, tak kuasa menahan rasa penasaran yang menderanya. Pertanyaan tersirat dari Yang Mulia Ibu Suri itu tak pelak membuat Yang Mulia Raja menelan ludahnya sendiri. Terlebih jika mengingat bahwa bukan hanya sekali saja ia sudah menjamah bibir remaja cantik itu.

"Kalau mengenai hal itu, Joongie sendiri tidak yakin dengan jawaban Joongie, Yang Mulia Ibu Suri. Menurut Joongie, kenapa di dalam buku tertulis bahwa hanya perawan suci yang akan berhasil membuat Sup 12 Rasa, mungkin dikarenakan pada jaman itu tak ada satu pun namja yang pernah mencoba untuk membuatnya. Bukankah pada masa lalu, para namja lebih tertarik belajar ilmu perang untuk membela negara ataupun bercocok tanam daripada menyibukkan diri dengan urusan dapur? Joongie sependapat dengan Tabib Lee, bahwa kita tidak akan pernah tahu sejauh apa kita mampu melakukan sesuatu, kalau kita tidak mencobanya. Lagipula, satu hal yang mungkin sering dilupakan dalam buku catatan kuno tentang masakan, adalah perasaan tulus dan penuh kasih dari seseorang yang membuat masakan itu sendiri. Memasak saja tanpa menggunakan perasaan tulus akan membuat hasil masakan kurang sempurna. Sebaliknya, jika ketika memasak penuh dengan ketulusan, maka hasil masakan kita akan jauh lebih enak. Itulah yang selalu Eomma Joongie tekankan pada Joongie, Yang Mulia Ibu Suri," tutur Jaejoong yang kembali membuat ruangan itu dibekap keheningan. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu seolah tengah belajar tentang sebuah pelajaran hidup maha penting dari seorang remaja yang baru berusia lima belas tahun.

"Aku benar-benar bangga padamu, Pemusik Kim," puji Yang Mulia Raja dengan tulus. Pujian itu tak ayal membuat rona merah menyebar di kedua pipi remaja berparas rupawan itu.

"Terima kasih, Yang Mulia," balas Jaejoong dengan nada pelan. Seulas senyum tipis tersungging dari bibir merahnya. Yang Mulia Ibu Suri yang juga melihat semburat merah dari remaja cantik itu tak pelak ikut tersenyum. Namun lagi-lagi tak ada yang menyadari ekspresi ganjil dari Yang Mulia Permaisuri yang sejak tadi memerhatikan gerak-gerik suaminya itu. Bahkan tak ada seorang pun yang menyadari adanya kerutan tipis di kening wanita cantik itu, yang menandakan bahwa dirinya sedang mencemaskan sesuatu.

Beberapa waktu berikutnya, tak ada lagi pembicaraan yang terdengar dari ruangan itu. Yang Mulia Raja beserta Yang Mulia Permaisuri dan Yang Mulia Ibu Suri tampak meneruskan acara makan mereka. Menikmati isi dari mangkuk-mangkuk yang ada di hadapan mereka. Sesekali mereka kembali bergantian melontarkan pertanyaan seputar makanan yang disajikan oleh namja berparas rupawan itu yang mampu dijawab dengan cerdas oleh pemilik nama lengkap Kim Jaejoong itu. Tak berapa lama kemudian, jamuan makan itu akhirnya berakhir.

Dayang Istana Han segera memerintahkan ketiga dayang muda yang sebelumnya bertugas untuk menyajikan hidangan itu agar membawa peralatan bekas makan kembali ke Dapur Istana. Dayang Han sendiri segera memimpin rombongannya untuk undur diri, setelah sebelumnya memberi penghormatan sekali lagi sebelum meninggalkan ruangan tersebut.

ooo 000 ooo

Setibanya di luar ruangan makan keluarga kerajaan, Jaejoong dan rombongan Dayang Istana Han memutuskan untuk berpisah jalan. Apabila Dayang Istana Han dan rombongannya kembali ke Dapur Istana menggunakan jalur yang sama seperti kedatangan mereka, maka Jaejoong kembali ke ruangannya menggunakan jalan pintas yang lebih cepat, yakni menggunakan jalur dalam, sehingga ia tak perlu memutar langkah lebih jauh. Namun sebelum itu, remaja berparas cantik itu tak lupa memberikan ucapan terima kasih kepada Dayang Istana Han beserta rombongannya yang telah membantunya.

Jaejoong berjalan cepat melewati lorong panjang di sisi kiri bangunan utama kerajaan, dengan senyum lebar yang menghiasi paras indahnya. Meski sesungguhnya ia ingin sedikit berlama-lama menyaksikan kelopak-kelopak sakura yang mulai berjatuhan, namun ia tak melakukannya. Banyak hal yang masih harus ia lakukan sehubungan dengan penobatannya sebagai selir keesokan harinya. Namun baru beberapa langkah remaja yang pandai memainkan seruling itu melangkah, tiba-tiba ia menghentikan ayunan kedua kakinya. Kedua bola matanya menatap lurus ke arah salah satu paviliun yang berada tak jauh darinya. Seorang namja tampak sedang melatih jurus-jurus pedangnya dengan gerakan-gerakan yang memukau di halaman depan paviliun itu. Dengan kaki kiri yang menumpu di lantai dan tubuh yang sedikit dicondongkan ke depan serta kaki kanan yang ditarik ke belakang, namja itu memainkan pedangnya dengan sangat lihai, sehingga mampu menciptakan pusaran angin yang bergulung-gulung di ujung senjata bergagang kepala naga tersebut. Daun-daun kering yang menumpuk di lantai batu langsung beterbangan terkena sapuan angin yang dihasilkan oleh tiap gerakannya. Seulas senyum tercetak di wajah cantik Jaejoong tatkala mengenali sosok namja itu.

"Kim Ahjussi!" sapa Jaejoong dengan nada riang kepada sosok tubuh yang ternyata memang Kepala Pengawal Kim itu. Ia segera bergegas menemui sang Kepala Pengawal berwajah manis yang sangat baik padanya itu.

Kepala Pengawal Kim yang saat itu sedang memusatkan perhatiannya pada jurus pedang yang dilatihnya segera memalingkan wajahnya ke arah samping begitu mendengar sebuah suara yang sangat ia kenal memasuki gendang telinganya. Sang kepala pengawal berwajah manis itu tersenyum ketika melihat Jaejoong yang sudah berdiri di dekatnya. Ia menghentikan latihannya, lalu memasukkan kembali pedangnya ke dalam warangka. Dengan punggung tangan, disekanya peluh yang bercucuran membasahi wajah dan lehernya.

"Kebetulan sekali bertemu Ahjussi di sini," sambung Jaejoong, sambil menghadiahkan senyum manisnya kepada Kepala Pengawal Kim. Ia bahkan terkikik geli dan langsung menutup mulutnya dengan punggung tangan ketika mendapati kelopak-kelopak bunga sakura yang mulai berjatuhan hampir memenuhi kepala Kepala Pengawal Kim, menutupi gat yang dikenakannya.

"Kau memang sengaja mencariku?" tanya Kepala Pengawal Kim sambil mendudukkan dirinya di salah satu dinding paviliun yang sengaja dibuat rendah. Ia duduk dengan kedua belah kaki menapak lantai paviliun. Ia sedikit menggeser duduknya, mempersilahkan calon selir itu untuk duduk di sampingnya. Kepala Pengawal Kim juga melepaskan gat yang ia pakai, lalu membersihkannya dari kelopak-kelopak bunga yang menempel di atas penutup kepalanya itu. Tak lama ia kembali menggunakan topi itu di atas kepalanya.

"Ne, Ahjussi. Joongie membutuhkan pertolongan Ahjussi," jawab Jaejoong diikuti anggukan kepalanya. Remaja cantik itu ikut mendudukkan diri di samping Kepala Pengawal Kim.

"Katakan, apa yang bisa kulakukan untukmu?" tanya Kepala Pengawal Kim sambil menatap lurus ke arah bola mata remaja cantik itu.

Jaejoong mengeluarkan dua buah selonsong bambu berukuran sebesar ibu jari dengan panjang satu setengah jengkal dari ujung lengan jeogori-nya. Kedua selonsong tersebut dililit oleh sebuah pita dengan warna berbeda. "Tolong berikan selonsong bambu ini untuk Jang Ahjussi dan Tabib Lee di desa. Yang berpita merah untuk Jang Ahjussi, dan yang berpita hijau untuk Tabib Lee. Di dalamnya ada surat Joongie untuk mereka. Besok adalah hari penobatan Joongie sebagai selir, dan itu artinya mulai besok Joongie berada dalam lindungan tangan yang aman. Joongie ingin agar mereka yang sudah Joongie anggap seperti keluarga sendiri tidak lagi terlalu mengkhawatirkan keadaan Joongie, Ahjussi," jelas remaja itu. Kepala Pengawal Kim menerima kedua selongsong bambu itu, lalu menyimpannya di balik lipatan bajunya.

"Aku pasti akan menyampaikan surat ini kepada mereka. Namun sebelumnya aku harus memberi tahu Yang Mulia Raja, sekaligus meminta ijin darinya," jawab Kepala Pengawal Kim. "Ada lagi yang harus kukerjakan?"

"Tidak, Joongie hanya meminta tolong agar Ahjussi mengantarkan surat itu saja. Terima kasih sebelumnya, Ahjussi. Maafkan Joongie yang selalu saja merepotkan Ahjussi."

"Hahaha. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan, Joongie. Membantumu merupakan salah satu kewajibanku. Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu menemui Yang Mulia Raja," pamit Kepala Pengawal Kim sambil bergegas berdiri dan menenteng pedangnya. Jaejoong turut berdiri sambil mengangguk dan sedikit membungkukkan tubuhnya. Ia terus memandangi punggung Kepala Pengawal Kim hingga bayangannya menghilang di ujung jalan. Setelah itu ia kembali melanjutkan perjalanan menuju kamarnya dengan sedikit tergesa.

ooo 000 ooo

Senja pada akhirnya berganti malam. Matahari yang sepanjang siang telah membagi cahayanya yang terik di atas langit Kerajaan Joseon, kini digantikan oleh cahaya bulan yang bersinar lembut. Di pemandian khusus yang dibangun di dalam ruangan pribadi Jaejoong, tampak dua orang dayang yang selama ini bertugas untuk melayani segala keperluan remaja berparas cantik itu sedang mengisi sebuah bak mandi bulat dari kayu bersusun rapat yang lebarnya berukuran kira-kira tiga pelukan orang dewasa dengan taburan aneka kelopak bunga. Selain kelopak bebungaan yang didominasi oleh bunga mawar merah dan putih, kedua dayang itu juga memasukkan beberapa jenis rempah-rempah dan dedaunan beraroma lembut sekaligus menenangkan ke dalam bak mandi setinggi lutut yang lebih dari separuhnya telah diisi air yang berasal dari tujuh sumber mata air itu.

Tak berapa lama, terlihat pintu pemandian yang bergeser, menghadirkan sosok Jaejoong dalam balutan jubah mandinya yang berwarna putih. Remaja cantik itu segera melangkahkan kedua kakinya yang tidak menggunakan alas kaki mendekati bak mandi yang telah disediakan untuknya. Dayang Choi dan Dayang Kwan yang memang diperintahkan oleh Yang Mulia Raja untuk mendampingi Jaejoong sejak remaja berusia lima belas tahun itu menginjakkan kaki untuk yang pertama kalinya ke dalam istana, membungkukkan tubuh mereka. Kedua dayang berusia muda itu lalu membalikkan tubuh mereka, memunggungi Jaejoong, ketika remaja cantik itu mulai melepaskan jubah mandinya. Jaejoong lalu memasukkan sebelah kakinya ke dalam bak kayu, disusul kaki yang satunya lagi. Sang calon selir itu kemudian merendahkan posisi tubuhnya sebatas leher setelah berada di dalam bak mandi yang dipenuhi aneka bunga itu, merendam dirinya mengikuti salah satu ritual pembersihan diri sebelum penobatannya sebagai seorang selir keesokan harinya.

Setelah menghabiskan waktu kira-kira sepeminuman teh untuk berendam, Jaejoong menegakkan tubuhnya, sehingga dadanya yang berwarna seputih susu terpampang jelas. Dayang Choi dan Dayang Kwan segera menghampiri remaja berparas cantik itu dan berdiri di dua sisi yang berbeda, Dayang Choi di sebelah kiri, dan Dayang Kwan di sebelah kanan.

"Kemarikan tangan Anda, Tuan Muda," pinta Dayang Kwan. Jaejoong mengulurkan kedua tangannya sambil duduk bersandar di pinggiran bak. Dayang Kwan dan Dayang Choi masing-masing meraih lengan Jaejoong, lalu melakukan pijatan-pijatan lembut di sana. Tak lama Dayang Choi beralih ke bagian punggung namja cantik itu. Ia kembali memberikan pijatan lembut di punggung Jaejoong yang mulus tanpa cacat untuk mengurangi ketegangan yang menghinggapi remaja berparas menawan itu. Setelah itu ia membantu menggosok punggung Jaejoong dengan kain lembut, sementara Dayang Kwan menata kuku-kuku di jemari lentik remaja itu.

Setelah selesai menata kuku-kuku Jaejoong yang indah, Dayang Kwan meminta Jaejoong mengangkat kaki kanannya. Ia memasukkan sebuah meja kecil ke dalam bak mandi, lalu meletakkannya di ujung kaki Jaejoong. Jaejoong mengangkat kaki kanannya, meletakkan tumitnya di atas permukaan meja kecil itu, membiarkan Dayang Kwan melakukan pijatan lembut di telapak kakinya. Sementara Dayang Kwan berkutat dengan kaki remaja cantik itu, Dayang Choi yang telah selesai menggosok punggung Jaejoong mulai membersihkan rambut remaja itu yang hitam legam sepinggang. Ia membasuh puncak kepala Jaejoong dengan campuran aneka bunga yang memiliki aroma sangat harum, lalu menuangkan sejenis cairan berwarna hijau pekat yang mengandung aroma lembut di atas helaian rambut remaja cantik itus. Dengan telaten ia membersihkan surai indah itu. Tak ada sedikit pun pembicaraan yang terdengar di antara mereka. Hingga tak berapa lama kemudian, Jaejoong selesai dengan ritualnya dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari dalam bak mandi kayu tersebut. Dayang Kwan menghampirinya dari arah belakang, dan memakaikan jubah yang baru pada remaja cantik itu. Rambutnya yang masih basah diselubungi kain agak tebal, lalu dililit dan dibiarkan menyampir melewati pundak kanannya. Setelah itu dengan didampingi kedua dayang tersebut, Jaejoong berjalan pelan menuju tempat tidurnya.

Selain ritual pembersihan diri di dalam air yang diambil dari tujuh sumber mata air bertaburkan kelopak aneka bunga, sesuai tradisi kerajaan Jaejoong juga harus memakan sesuatu di atas pembaringannya sebagai ucapan selamat tinggal untuk masa lajangnya. Jaejoong mendudukkan diri di atas pembaringannya yang dilapisi satin berwarna merah muda, kedua kakinya berjuntai di sisi tempat tidur.

"Ini, silahkan dimakan, Tuan Muda," Dayang Choi menyerahkan sebuah nampan dengan sepiring kue dari beras tumbuk yang dibungkus dengan daun kubis muda. Kue itu berisikan udang kering yang dicincang halus ditambah irisan cabai hijau, bawang bombai, akar bunga teratai dan wortel. Dayang muda itu juga meletakkan seperangkat peralatan minum yang terdiri dari seguci arak beserta empat buah cawan keramik di atas pembaringan, tepat di sisi kanan Jaejoong. Jaejoong mengambil sumpit, lalu mulai memasukkan sepotong kue ke dalam mulutnya. Ia mengunyah dengan gerakan pelan. Setelah itu ia menaburkan remah-remah kue tersebut ke atas pembaringan yang secara simbolis melambangkan ucapan perpisahannya pada kehidupannya sebagai seorang lajang.

Dayang Kwan menuangkan arak ke dalam empat buah cawan yang dibawakan oleh rekannya. Ia lalu menyerahkan masing-masing sebuah cawan kepada Jaejoong dan Dayang Choi, juga untuk dirinya sendiri. Mereka kemudian bersulang. Jaejoong meminum arak di cawannya dalam sekali teguk. Ia lalu mengambil sebuah cawan yang tersisa, lalu memasukkan tangannya ke dalam cawan yang masih terisi penuh. Remaja cantik itu lalu memercikkan air dari cawan itu ke empat penjuru tempat tidurnya.

Setelah selesai menghabiskan kue yang dibawa dayang setianya, Jaejoong turun dari pembaringan lalu melangkahkan kakinya dan duduk di kursi di depan meja hias. Dayang Kwan segera mengambil sebuah sisir bambu dari dalam laci meja hias, lalu menyisir rambut Jaejoong yang sudah kering. Ia melakukan empat sisiran dari atas kepala hingga ujung rambut sebagai bagian dari tradisi, sambil mengucapkan doa di setiap sisirannya.

"Dayang Kwan…," panggil Jaejoong,, memecah keheningan yang tercipta di antara mereka.

"Saya, Tuan Muda. Ada yang hendak Anda tanyakan?" tanya dayang muda itu dengan sikap hormat, seolah mengetahui bahwa ada satu ganjalan di benak remaja cantik itu. Ia bahkan menghentikan kegiatannya menyisir rambut calon selir itu.

"Emmm, itu…. Apa yang kau ketahui tentang upacara penobatan seorang selir?" tanya Jaejoong, sedikit ragu dengan pertanyaannya sendiri. Sebuah senyum melengkung indah menghias paras cantik Dayang Kwan.

"Hanya sebuah upacara sederhana, Tuan Muda. Anda akan dikenalkan kepada beberapa pejabat dan dayang utama serta diberikan sebuah gelar yang dianggap mewakili kepribadian Anda. Tentu saja sebelum itu Anda akan dinikahkan dengan Yang Mulia Raja dengan disaksikan oleh pejabat dan dayang-dayang utama kerajaan. Tidak usah cemas, Tuan Muda. Upacaranya hanya sebentar," jelas Dayang Kwan, berusaha menenangkan Jaejoong. Jaejoong tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda memahami penjelasan Dayang Kwan.

Sementara itu, Dayang Choi yang telah selesai mengganti alas pembaringan yang sebelumnya ditaburi remah-remah kue datang menghampiri Jaejoong dan Dayang Kwan sambil membawa sebuah kotak di tangannya. Setibanya di dekat Jaejoong, ia menyerahkan kotak berwarna kuning emas dengan keempat sisi yang berukir indah itu kepada remaja berparas menawan itu.

"Apa ini, Dayang Choi?" tanya Jaejoong tanpa mampu menyembunyikan rasa ingin tahunya.

"Hadiah dari Yang Mulia Raja, Tuan Muda. Bukalah! Yang Mulia berpesan agar Anda mengenakan pakaian yang ada di dalam kotak ini untuk upacara penobatan esok hari," tutur Dayang Choi. Jaejoong segera membuka penutup kotak itu. Sepasang bola matanya yang besar terlihat semakin membesar saat melihat sebuah dangui berwarna merah muda serta seuran chima berwarna scarlet terlipat rapi di dalam kotak itu. Beberapa ornamen yang tidak diketahui Jaejoong apa fungsinya juga tersusun indah di atas pakaian yang terbuat dari sutera terbaik itu. Jaejoong meraba permukaan pakaian itu. Terasa begitu lembut di tangannya.

"Anda pasti akan terlihat sangat cantik saat mengenakannya esok, Tuan Muda. Yang Mulia Raja pandai memilih warna yang akan semakin menonjolkan kecantikan Anda," komentar Dayang Kwan yang tak urung membuat rona merah menjalar di kedua belah pipi remaja itu.

Sang calon selir itu lalu menutup kembali kotak tersebut, dan meminta agar Dayang Choi menyimpannya. Jaejoong sendiri kemudian mengganti jubahnya dengan jubah tidur, lalu kembali menuju pembaringannya. Ia merebahkan kepalanya, dan perlahan mulai memejamkan kedua matanya. Dayang Kwan menurunkan kelambu dari kain tipis yang tergantung di empat sisi tempat tidur, lalu mematikan lilin yang terletak di atas meja. Setelah itu dayang muda tersebut meninggalkan ruangan remaja cantik itu bersama rekannya, Dayang Choi.

Jaejoong yang semula terlihat seperti orang yang telah tertidur, perlahan membuka kedua kelopak matanya, saat langkah-langkah kaki kedua dayang setianya tak lagi terdengar. Ia lalu bergegas turun dari pembaringan dan menyalakan sebatang lilin merah yang berada di atas meja di samping kepala tempat tidurnya. Ia lalu meletakkan lilin itu ke atas sebuah mangkuk keramik dan berjongkok di kaki tempat tidurnya. Tangannya terulur meraih sebuah kotak berukir indah dari kolong pembaringannya. Ia sedikit meniup debu yang agak menebal di atas permukaan kotak tersebut, lalu membuka penutupnya. Dikeluarkannya sebuah selongsong bambu berisikan surat peninggalan dari sang eomma, lalu duduk bersandar di sudut pembaringan dengan kedua kaki ditekuk dan menempel di dada, bertemankan nyala api dari lilin merah yang menghasilkan penerangan temaram.

Namja berparas cantik itu mengeluarkan surat peninggalan sang ibu dari selongsong bambu. Dibacanya kembali surat itu. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali. Dan airmata tanpa dipinta merambat turun dari pelupuk matanya, membaca kata demi kata yang ditulis sang eomma. Aroma dendam menguar dari seluruh tubuhnya, membuat tangannya mengepal erat.

"Eomma, selangkah demi selangkah, Joongie berhasil menjalankan tugas yang Eomma berikan. Joongie telah berhasil masuk ke istana, Joongie berhasil membuat Yang Mulia tak mampu berpaling dari Joongie, dan besok Joongie bahkan akan dinobatkan sebagai selir, Eomma. Tinggal sedikit lagi, maka Joongie akan menjalankan tugas Joongie untuk merebut hati Yang Mulia Ibu Suri, merebut hati para pembesar kerajaan sekaligus mengungkap kebobrokan mereka, dan memenangkan hati rakyat. Lalu menghancurkan keluarga Go dan antek-anteknya. Sedikit lagi saja, Eomma. Tapi Joongie akui, langkah yang sedikit itu akan memerlukan perjalanan waktu yang cukup panjang. Bantu Joongie, Eomma," lirih Jaejoong sambil mendekap surat peninggalan sang Ibu di dadanya.

"Eomma, ada banyak hal yang tak Joongie mengerti. Ada apa dengan hati Joongie? Kenapa setiap Joongie berdekatan dengan Yang Mulia, Joongie merasakan sebuah kehangatan yang sulit Joongie ungkapkan dengan kata-kata? Kenapa setiap Yang Mulia memeluk Joongie, Joongie merasa tak rela jika pelukan itu dilepaskan? Kenapa setiap Yang Mulia menatap Joongie, Joongie seolah tersedot dalam satu pusaran bahagia yang menerbangkan ratusan kupu-kupu di perut Joongie? Perasaan apa ini, Eomma?" suara namja cantik itu kian lirih. Tangannya yang semula terkepal juga mulai melemas.

"Saat Yang Mulia mendekap Joongie, Joongie bahkan hampir melupakan rencana balas dendam Joongie. Joongie hampir melupakan kenyataan bahwa ayah dari Yang Mulia Raja adalah tokoh sentral dibalik pemusnahan seluruh keluarga Park. Yang ada, Joongie seolah tak rela untuk memanfaatkan Yang Mulia demi ambisi Joongie membalas dendam. Mengapa bisa begitu? Mengapa perasaan asing ini mengombang-ambingkan Joongie, Eomma? Joongie benci perasaan ini. Joongie benci rasa yang asing ini, sebab membuat pikiran Joongie bercabang. Bantu Joongie memupus perasaan aneh ini, Eomma. Bantu Joongie agar tidak tenggelam dalam rasa yang Joongie tak mengerti hingga menyebabkan Joongie gagal membalas dendam. Joongie harus berhasil membalaskan dendam keluarga kita kan, Eomma? Joongie harus berhasil membersihkan catatan sejarah keluarga kita. Jika perasaan yang tak Joongie ketahui apa namanya ini menjadi penghalang, bantu Joongie menyingkirkannya, Eomma. Bantu Joongie…," Jaejoong menyembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya. Menyembunyikan tangisnya di sana. Pertanyaan-pertanyaan seputar perasaannya terhadap penguasa Joseon itu ia tumpahkan dalam tanya pada selembar kertas peninggalan ibunya. Entah mengapa, hatinya seolah berkhianat pada kebulatan tekadnya. Remaja berparas cantik itu mendekap dadanya, seakan berniat untuk meredam rasa sakit atas tekad yang tak lagi sejalan dengan kata hatinya. Membuat ia meringkuk dalam pusaran ragu berurai airmata.

ooo 000 ooo

Lazimnya, sebagaimana tradisi kerajaan yang sudah berlangsung turun-temurun, upacara penobatan seorang selir istana sebagaimana layaknya penobatan seorang ratu haruslah diadakan di halaman Aula Utama istana yang luas. Akan tetapi, atas permintaan khusus dari Yang Mulia Raja Yi Yunho yang ternyata disetujui oleh semua fraksi yang ada di Istana Changdeok, maka penobatan Jaejoong sebagai selir tidak dilaksanakan di halaman Aula Injeong yang merupakan sebuah bangunan di dalam kompleks istana yang beratap tumpang dua yang memiliki landasan dari batu yang juga bertingkat dua sebagaimana tradisi sebelumnya. Persetujuan yang diberikan oleh semua fraksi itu jelas merupakan sebuah tanda tanya besar, mengingat di tahun-tahun awal pemerintahan Raja Sukjong, fraksi Selatan dan Barat yang merupakan fraksi terbesar dalam pemerintahan malah berselisih paham yang berujung percekcokan hebat mengenai hal yang sebenarnya sangat sepele, yakni mengenai periode berkabung untuk Ibunda Yang Mulia Raja yang saat ini menjadi Ibu Suri.

Seperti yang dikatakan oleh Dayang Kwan, upacara penobatan itu sendiri dilakukan dalam prosesi yang sederhana, yang dilangsungkan menjelang senja, bertempat di halaman belakang Istana Changdeok yang dikelilingi paviliun-paviliun kecil dan perbukitan. Yang Mulia Raja sengaja memilih halaman belakang istana sebagai tempat pelaksanaan upacara penobatan, disebabkan karena keindahan panorama di tempat itu. Aneka warna dedaunan maple berpadu dengan semburat merah di kaki langit, menambah indah suasana yang juga ditingkahi guguran dedaunan dan kelopak bunga yang seolah berlomba menapak di lantai batu.

Sebuah meja panjang berbentuk persegi yang dicat merah diletakkan di tengah-tengah halaman sebagai meja upacara. Di atasnya diletakkan bermacam benda yang masing-masing memiliki arti khusus. Ada benang berwarna merah dan biru yang disusun rapi. Lalu ada sebatang lilin, kacang merah, beras, jojoba, kacang kastanya, gotgam, tteok, sepasang burung bangau mahkota merah sebagai simbol keberuntungan dan kesetiaan, serta sepasang bebek yang melambangkan kasih sayang hingga akhir usia. Meja persegi tersebut diapit oleh dua meja kecil lainnya yang berbentuk bulat setinggi pinggang, dengan kaki meja yang diukir sedemikian rupa. Di atas masing-masing meja diletakkan sebuah pasu bunga dari keramik putih yang berukuran besar, berisikan bunga-bunga sakura. Sementara itu, di depan meja panjang diletakkan sebuah meja berkaki rendah yang juga dicat merah. Di atasnya diletakkan peralatan untuk melakukan sembahyang pada arwah leluhur.

Istana Changdeok yang berarti Istana Kebajikan Gemilang awalnya hanyalah berfungsi sebagai villa tempat raja-raja Joseon melepas lelah dan penat dari rutinitas kenegaraan di Istana Gyeongbok yang merupakan istana utama yang terletak di pusat kota Hanyang. Akan tetapi, ketika pada tahun 1592-1598 terjadi invasi Hideyoshi oleh Jepang, maka semua istana di ibukota dihancurkan. Istana Changdeok yang merupakan istana sekunder dan hanya berjarak satu batu dengan istana Gyeongbok dibangun kembali dan akhirnya dijadikan sebagai istana utama, sementara Istana Gyeongbok dibiarkan terlantar begitu saja karena kebakaran hebat yang menghancurkan hampir keseluruhan bangunan vitalnya. Dan karena Istana Changdeok saat ini merupakan pusat pemerintahan, maka cukup banyak pejabat yang menghadiri upacara penobatan Kim Jaejoong sebagai selir. Ada sekitar lima puluh orang pejabat pemerintah yang masing-masing memegang papan pangkat dari gading serta tiga puluh orang dayang istana yang menghadiri acara tersebut. Dilihat dari jubah merah khusus yang dikenakan serta mahkota dua jumbai yang tersemat di ujung konde yang digunakan oleh para pejabat pemerintah itu, bisa dipastikan kalau ke-lima puluh orang tersebut adalah para menteri senior. Begitu pula dengan para dayang istana yang mengenakan hanbok dengan atasan berwarna merah dipadu bawahan berwarna hijau tua. Tak diragukan lagi bahwa ke-tiga puluh dayang istana tersebut adalah dayang yang memiliki kedudukan tinggi di istana.

Jaejoong yang memiliki kecantikan semula jadi terlihat semakin memukau dalam balutan dangui berwarna merah muda yang dipadu seuran chima berwarna scarlet yang diberikan oleh Yang Mulia Raja sehari sebelumnya. Rambutnya yang panjang sepunggung dikepang hingga setengah, lalu digelung ke atas menyerupai sebuah sanggul. Sebuah pita besar berwarna merah menyatukan ikatan rambutnya, tepat di tengah kepala. Helaian rambut yang tersisa dibagi menjadi dua bagian, dan kemudian kembali dikepang dalam bentuk yang lebih kecil lalu digelung melengkung membentuk pola sayap kupu-kupu dengan lubang besar di tengah. Kedua ujung dari pita merah yang menyatukan sanggul utama kemudian ditarik dan dililit ke dalam masing-masing lengkungan berbentuk sayap tersebut, sementara sisanya dibiarkan menjuntai di belakang kepala. Sebuah tusuk konde besar berpola phoenix menjadi penyambung kedua kepangan yang membentuk sayap kupu-kupu. Sebuah ornamen dari emas diletakkan di atas pita merah di bagian kepala. Sementara di atas telinga, dua buah ornamen berbentuk bunga juga dipasangkan. Sebuah hwarot[30] bersulamkan benang emas yang membentuk pola kupu-kupu semakin melengkapi penampilan Jaejoong yang hanya menggunakan riasan bedak sangat tipis tanpa pemerah bibir sama sekali. Meskipun begitu, riasan yang sangat tipis itu ternyata mampu menyembunyikan jejak airmata di wajah cantik sang calor selir itu.

Sementara itu, Yang Mulia Raja Yi Yunho terlihat semakin tampan dalam balutan jungdan[31] berwarna putih dengan keliman biru. Sebagai padanannya, ia mengenakan rok berwarna senada dengan seuran chima yang dikenakan oleh Jaejoong. Sebuah daedae[32] tampak melingkari rok yang beliau gunakan, lalu di atasnya dipasang sebuah hyeokdae[33] yang dipagari batu giok. Sebagai alas kaki, Yang Mulia mengenakan sepasang mal[34] dan seok[35] yang juga serasi dengan yang digunakan oleh calon selirnya. Di atas kepalanya, Yang Mulia Raja mengenakan myeonrugwan[36] berbentuk persegi dengan sembilan manik yang menunjukkan identitas dirinya sebagai seorang Raja. Sebagai pelengkap penampilannya, Yang Mulia Raja mengenakan sebuah gujangbok[37] berwarna merah kehitaman.

Suara tambur bergema di halaman belakang istana, mengiringi langkah seorang petugas upacara yang bergerak maju ke depan untuk memulai prosesi penobatan selir yang baru.

"Berlutut!" seru petugas upacara itu sambil menghadap ke arah para menteri dan dayang istana yang berkumpul di halaman belakang tersebut. Semua yang hadir, kecuali Yang Mulia Raja dan Jaejoong, mengambil posisi berlutut.

"Berikan penghormatan!" serunya sekali lagi. Para pejabat pemerintahan serta dayang istana yang hadir memberikan penghormatan dengan menyembah.

"Bangkit!" semua yang hadir menegakkan tubuh mereka dalam posisi yang masih berlutut. Setelah melakukan tiga kali penghormatan, sang petugas upacara memperkenankan semua yang hadir untuk kembali berdiri.

Sang petugas upacara lalu meminta Yang Mulia Raja dan Jaejoong untuk berdiri berhadapan, dipisahkan oleh meja upacara. Ia lalu meminta kepada mereka berdua untuk memberikan penghormatan satu sama lain. Jaejoong dan Yang Mulia Raja lalu membungkukkan tubuh masing-masing, memberikan penghormatan kepada pasangannya. Seorang dayang muda maju dan menyerahkan dua buah cawan berisi arak kepada Yang Mulia Raja Yi Yunho dan Jaejoong. Setelah masing-masing cawan berada di tangan mereka, Yang Mulia Raja mengulurkan gelasnya ke bibir Jaejoong, sementara Jaejoong mengulurkan gelas di tangannya ke bibir sang Raja. Mereka kemudian saling meminumkan pasangannya hingga arak yang berada di dalam cawan itu tak bersisa. Setelah itu, cawan yang kosong kembali diserahkan pada dayang muda yang tadi membawanya.

Petugas upacara kemudian meminta agar Yang Mulia Raja dan Jaejoong berdiri berjajar menghadap meja kayu rendah di depan mereka. Sang petugas upacara membakar dua batang lidi, lalu memberikan masing-masing satu kepada sang Raja dan selirnya. Jaejoong dan Yang Mulia Raja menerima lidi itu, lalu mengangkatnya ke depan wajah sambil membungkukkan tubuh sebanyak tiga kali sebagai penghormatan kepada arwah leluhur, bumi, dan para tetua.

Sang petugas upacara akhirnya mengumumkan bahwa upacara penobatan selesai. Masih dalam posisi berdiri berdampingan, Yang Mulia Raja dan Jaejoong yang kini telah resmi menjadi selir membalikkan tubuh mereka, menghadap para pejabat pemerintah dan dayang istana yang menghadiri upacara penobatan tersebut. Sebuah senyuman indah tersungging di bibir sang Raja yang berhasil mempersunting namja cantik dambaannya. Sementara Jaejoong hanya memberikan sebuah senyum tipis, menyambut ucapan selamat dari para pejabat pelaksana pemerintahan itu. Raja Sukjong lalu mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat bahwa beliau hendak menyampaikan sesuatu.

"Sebagai raja sekaligus pimpinan tertinggi Kerajaan Joseon, dengan ini aku mengumumkan bahwa mulai hari ini Pemusik Kim resmi menjadi selir utama kerajaan, dengan gelar Kim Hwan-bin. Kalian berhak memanggilnya Selir Hwan. Aku sangat berharap agar kalian semua menghormatinya seperti kalian menghormati selir-selir sebelumnya. Dan aku tak segan untuk menjatuhkan hukuman yang seberat-beratnya jika ada di antara kalian yang bersikap tidak hormat padanya!" tegas Yang Mulia Raja dengan nada penuh wibawa. Semua yang hadir kembali membungkukkan tubuh mereka, dan mengingat baik-baik pesan sang raja ke dalam benak mereka. Meskipun para menteri senior itu belum mengenal baik sosok sang selir yang masih berusia lima belas tahun itu, namun bisik-bisik tentang kecantikan serta kecerdasan sang selir telah sampai ke telinga mereka. Sementara di kalangan dayang istana sendiri, keberhasilan sang selir membuat Sup 12 Rasa telah menjadi buah bibir tanpa henti. Tak ada alasan bagi mereka untuk mengabaikan perintah sang raja. Terlebih, mereka menyadari adanya ancaman tak main-main di balik kata-kata sang penguasa Joseon itu.

Tak lama, dua buah tandu yang sangat indah berhenti tak jauh dari halaman belakang istana. Tandu yang diangkat oleh delapan orang prajurit itu dikawal oleh sekitar dua puluh orang punggawa bersenjata lengkap. Ke-delapan prajurit yang bertugas mengangkat tandu segera menurunkan tandu-tandu mereka ketika Yang Mulia Raja dan Jaejoong berjalan mendekat. Mereka membungkukkan tubuh, memberikan penghormatan. Sang raja dan selirnya memasuki tandu masing-masing yang langsung diangkat kembali oleh para prajurit tadi, dan memulai perjalanan menuju kediaman sang selir yang baru.

ooo 000 ooo

Kediaman Jaejoong yang bergelar Kim Hwan-bin atau Selir Hwan merupakan sebuah paviliun berukuran cukup besar yang dibangun di sebelah timur Taman Rahasia. Tak terlalu jauh dari ruangan lamanya sebelum menjadi selir. Kediaman yang diterangi oleh cahaya dari lampion-lampion yang tergantung di setiap sudutnya itu dijaga oleh beberapa prajurit bersenjatakan tombak yang segera membungkukkan tubuh penuh hormat ketika dua tandu yang membawa Yang Mulia Raja dan Jaejoong tiba di depan mereka.

Yang Mulia Raja Yi Yunho segera melangkahkan kaki keluar dari tandu yang telah diturunkan oleh para prajurit yang mengangkatnya, tak jauh dari depan pintu kediaman pribadi sang selir. Yang Mulia Raja lalu melangkahkan kakinya menghampiri tandu yang mengangkat selir terkasihnya. Ia menyibak pintu tandu tersebut, lalu mengulurkan tangan kanannya yang langsung disambut oleh Jaejoong. Dengan wajah merona dan sedikit menundukkan kepala, Jaejoong beranjak keluar dari tandu. Ia merasa wajahnya memanas ketika tangannya yang mungil terasa begitu pas di dalam genggaman tangan sang raja.

Ketika para prajurit dan para punggawa yang mengantarkan sang raja dan Jaejoong mulai bergerak meninggalkan kediaman pribadi sang selir, Yang Mulia Raja segera mengajak selirnya untuk memasuki kediamannya yang baru itu. Jaejoong menganggukkan kepala, sambil mengikuti langkah sang raja yang masih menggenggam telapak tangannya.

Dua orang prajurit penjaga pintu segera membungkukkan tubuh ketika sang raja dan selirnya berada di depan mereka. Sang raja hanya menganggukkan kepala, lalu membuka pintu itu dengan sebelah tangannya. Ia kemudian menutup kembali pintu itu setelah berada di dalam. Yang Mulia Raja melepaskan genggaman tangan mereka. Ia mengangkat tubuh indah sang selir dalam gendongannya, mendekatkan tubuh mungil itu pada dadanya hingga Jaejoong mampu mendengar kerasnya detakan jantung sang raja. Jaeoong yang cukup terkejut dengan gerakan yang tiba-tiba itu segera mengalungkan kedua lengannya di leher Yang Mulia Raja Yi Yunho.

Tak ada pembicaraan yang terdengar. Sang raja menggendong selirnya melewati ruangan khusus untuk menyambut tetamu, ruangan untuk bersantai, ruang baca dan belajar, ruang makan, hingga akhirnya tiba di ruangan yang berukuran paling luas yang merupakan kamar tidur. Sang Raja Joseon itu lalu menurunkan selirnya dari gendongannya. Sepasang bola mata Jaejoong yang indah membulat sempurna ketika melihat dekorasi kamar tidurnya itu.

Sebuah pembaringan berukuran besar dengan empat pilar kokoh yang menyangga kelambu dari kain tipis berbahan sutera tampak berdiri megah di sudut ruangan. Pembaringan itu berwarna keemasan, senada dengan warna kain sutera yang mengalasinya. Bahkan kain pengikat empat sisi kelambu yang dililit di empat pilar yang berdiri kokoh di atas pembaringan juga berwarna keemasan. Bantal-bantal bersampul warna emas berukuran besar disusun indah di kepala pembaringan. Kelopak-kelopak mawar merah juga tampak ditaburkan di atas pembaringan, menimbulkan kesan yang menenangkan sekaligus menggoda.

Jaejoong mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar tidur itu. Baru disadarinya bahwa ruangan tersebut didominasi oleh warna emas. Kamar tidur itu sendiri didesain dengan unik, dengan adanya dua buah kolam berbentuk persegi panjang yang terbentang memanjang di sisi kiri dan kanan pembaringan. Di dalam kolam-kolam itu, terlihat masing-masing enam besi berukir yang ditancapkan, menyangga lilin yang merupakan satu-satunya penerangan di ruangan itu, sementara permukaan air kolam ditutupi oleh hamparan kelopak mawar merah. Tak hanya itu yang membuat Jaejoong takjub. Bentangan bunga chrysant yang memenuhi lantai ruangan sehingga membentuk permadani berwarna kuning juga membuatnya tercengang.

"Kau menyukai kamar barumu ini, Sayang?" bisik sang raja di telinga selirnya itu. Jaejoong tersadar dari keterpesonaannya saat dirasakannya kedua lengan kokoh Yang Mulia Raja memeluk pinggang rampingnya. Namja cantik itu hanya menjawab dengan anggukan kecil. Jantungnya terasa berdetak lebih kencang ketika dirasakannya sang raja semakin mengeratkan pelukannya, hingga punggungnya menempel di dada bidang suaminya itu. Deru napas sang raja yang sedikit memburu berhembus hangat di tengkuk Jaejoong, hingga membuatnya menggeliat manja.

"Yang Mulia…," sebuah desahan lolos dari bibir sang selir yang berusia 1ima belas tahun itu. Jaejoong mengendurkan dekapan sang raja di pinggangnya, lalu memutar posisi tubuhnya hingga ia bisa menatap langsung mata sang suami. Jaejoong lalu mengangkat kedua tangannya, mengalungkannya dengan mesra di leher lelaki yang kembali memeluk pinggangnya dengan erat itu. Namja cantik itu menengadahkan kepalanya, yang langsung disambut dengan sebuah kecupan hangat di keningnya. Wajah Jaejoong seketika bersemu merah. Buru-buru ditelusupkannya wajahnya yang merona dalam pelukan hangat suaminya ketika kecupan di keningnya berakhir. Sepasang matanya yang indah merapat sempurna.

Yang Mulia Raja yang memahami kegugupan sang selir itu hanya tersenyum. Ia lalu merenggangkan pelukannya, dan perlahan melepaskan kedua tangannya dari pinggang ramping Jaejoong. Ia lalu mengarahkan kedua tangannya ke kepala Jaejoong, membantu melepaskan ornamen dan konde yang menghiasi rambut indah sang selir. Ia juga melepaskan pita merah panjang yang mengikat surai indah itu, dan membiarkannya teronggok begitu saja tak jauh dari kakinya. Yang Mulia Raja mengurai kepangan rambut Jaejoong. Ia menyisir helaian rambut yang menguarkan aroma mengundang itu dengan jemarinya, membiarkan rambut sang selir terurai indah tanpa pernak-pernik apa-apa. Ia pun turut melepaskan hwarot yang membungkus dangui merah muda dan seuran chima yang dikenakan Jaejoong. Setelah jubah merah itu terlepas dari tubuh Jaejoong, Yang Mulia Raja kemudian menanggalkan dangui dan seuran chima yang dipakai sang selir, menyisakan pakaian dalaman berwarna putih berbahan sutera yang membalut tubuh indah sang selir.

Dengan tangan sedikit bergetar, Jaejoong melakukan hal yang sama pada sang raja. Mula-mula ia melepaskan gujangbok yang membungkus tubuh tegap suaminya. Jubah khusus itu lalu ia biarkan tergeletak begitu saja di ujung kakinya. Ia kemudian melepaskan hyeokdae dan daedae yang melingkari pinggang sang raja dan menjatuhkannya begitu saja. Namja cantik itu juga membuka jungdan dan padanannya yang dikenakan oleh sang suami, menyisakan pakaian dalaman berbahan serupa dengan warna senada yang dikenakannya. Sementara sang raja melepaskan myeongrugwan yang ia kenakan, dan meletakkannya di atas meja kecil tak jauh dari tempat mereka berdiri. Jaejoong membungkukkan tubuhnya di depan suaminya. Ia lalu melepaskan mal dan seok yang membalut kedua kaki sang raja, lalu melakukan hal yang sama pada dirinya.

Namja berparas cantik itu lalu menegakkan tubuhnya dan kembali berdiri menghadap sang suami dengan wajah tetap menunduk. Dengan ujung jari tangan kanannya, sang raja menaikkan dagu Jaejoong hingga pandangan mereka bertemu di satu titik. Binar-binar cinta nyata terpancar dari sorot mata sang raja yang berusia tiga puluh tahun itu. Jaejoong perlahan memejamkan kelopak matanya ketika sang suami menundukkan wajah, menciumi bibir merahnya yang merekah. Ciuman yang semula berlangsung penuh kelembutan, perlahan-lahan berubah liar. Jaejoong membuka mulutnya ketika merasakan desakan lidah dari suaminya. Lidah sang raja yang terampil dengan leluasa menjelajahi rongga mulut sang selir yang tak kuasa menahan erangan lirihnya, menelusuri setiap jengkal yang ada. Jaejoong akhirnya memasrahkan dirinya dalam amukan gelora perasaan yang diberikan oleh sang raja. Ia memberikan akses seluasnya kepada sang suami yang berwajah tampan itu untuk mengeksploitasi bibirnya. Bahkan, berbekal buku panduan yang didapatnya dari Selir Suk, Jaejoong memberanikan diri membalas ciuman sang suami dengan perasaan aneh yang memuncak menguasai sukmanya. Ketika kebutuhan akan udara begitu mendesak, sang raja perlahan mengakhiri ciuman di antara mereka dengan deru napas memburu.

Jaejoong yang menyadari bahwa salah satu tugas utamanya sebagai seorang selir adalah memuaskan sang raja, akhirnya berjalan mundur dan menarik tangan kanan suaminya itu, membimbingnya ke pembaringan. Sang namja cantik itu bertekad untuk menjalankan perannya sebagai seorang selir kesayangan raja sebaik mungkin agar sang raja tunduk di bawah telunjuknya. Ia membimbing sang raja untuk duduk di tepi pembaringan, sementara dirinya duduk dengan manis di atas pangkuan sang suami. Sang Raja Joseon itu segera memeluk pinggang ramping selirnya, lalu kembali menggerakkan lidahnya merayapi pipi indah Jaejoong. Lidah sang Raja Joseon itu lalu bergerak perlahan menelusuri leher jenjang remaja berkulit seputih susu yang begitu ia cintai, sehingga membuat sang selir melengkungkan tubuhnya, tak kuasa menahan sensasi rasa nikmat yang menyergap seluruh aliran darahnya. Leher putih yang nyata terpampang di depan mata membuat sang raja tak kuasa mengendalikan dirinya. Ia lalu memberikan gigitan kecil di seputar leher sang selir, meninggalkan bekas kemerahan sebagai simbol kepemilikan.

"Yang Mulia!" seru Jaejoong ketika Yang Mulia Raja mulai melepaskan atasan pakaian dalaman yang ia kenakan. Sebuah senyum kecil muncul di sudut bibir Yang Mulia Raja saat ia berjuang susah payah menahan diri terhadap amukan hasrat yang dengan keras menghantam dadanya ketika melihat dua daging kecil di dada sang selir. Dua daging kecil berwarna merah jambu yang menegang keras, seolah mengundang lidahnya untuk berlabuh di sana. Jaejoong merasa tubuhnya melemah karena ledakan gairah ketika lidah hangat sang raja mempermainkan daging kecil yang mengeras di dadanya itu. Tubuhnya menggelinjang hebat, bagaikan sebatang pohon yang terkena hantaman angin kencang, dan sang raja harus menahan pinggang remaja tersebut dengan kedua tangannya agar ia tak terjatuh.

Dengan tergesa, Yang Mulia Raja melepaskan semua kain yang menutupi tubuh indah selirnya, lalu membiarkan penutup tubuh itu meluncur ke lantai. Dalam waktu sekejap, tubuh Jaejoong telah polos, tak ubah bayi yang baru dilahirkan Ibunya. Tak satu helai pun benang yang melapisi tubuh indahnya. Jaejoong mengerang penuh kenikmatan ketika jemari sang raja menelusuri perutnya yang rata dan jalur di bagian bawah tubuhnya. Dalam posisi masih dalam dekapan sang raja, Jaejoong merenggangkan pahanya sebagai undangan tanpa kata.

"Kau menyukainya, Sayang?" Yang Mulia Raja menggoda selirnya itu dengan pertanyaan yang sesungguhnya tak memerlukan jawaban. Jaejoong mengangguk lemah dengan wajah bersemu memerah. Betapa Jaejoong ingin membenci lelaki itu karenanya. Lelaki gagah tersebut mampu mengubahnya menjadi seonggok puing tak bertulang dalam sekelip mata setelah menyentuhnya dengan salah satu jarinya. Jaejoong mengerang ketika merasakan jemari sang raja kian nakal menelusuri bagian paling sensitif dari tubuhnya, hingga remaja tersebut melonjak kaget.

Jaejoong akhirnya mencoba menahan gerakan tangan sang suami yang membuatnya kian sulit mengendalikan napas dan perasaannya. Dengan napas memburu, remaja berambut hitam kelam itu melepaskan diri dari dekapan sang suami, dan memposisikan dirinya tepat di depan sang raja. Dengan jari-jari gemetar, Jaejoong perlahan meletakkan telapak tangannya pada atasan pakaian dalaman sang raja, meraba dan merangsang suaminya itu. Kemudian ia mulai melepaskan satu persatu pakaian dalaman itu, seraya bertanya-tanya di dalam hati apakah suatu hari nanti ia dapat menyamai kehebatan suaminya itu ketika membuka pakaiannya. Yang Mulia Raja merintih dalam alunan gelombang kenikmatan.

Dengan berani pula Jaejoong memainkan tangannya di sekitar bagian tubuh sang raja yang paling sensitif dan merasakan tubuh lelaki itu mengejang. Jaejoong menyentuh kejantanan sang suami. Ia membuat gerakan melingkar menelusuri bagian tubuh yang paling peka itu dengan ujung jarinya secara posesif. Jaejoong dapat merasakan tubuh suaminya itu berguncang penuh kenikmatan. Jaejoong lalu membungkukkan kepalanya ke arah tubuh bagian bawah sang raja, menelusuri setiap jengkal bagian paling sensitif untuk seorang lelaki itu dengan lidahnya. Kepalanya turun naik dalam ritme yang teratur, sehingga ia bisa merasakan ketegangan hebat dalam denyutan-denyutan nikmat melanda suaminya itu. Sang raja yang tak kuasa menahan diri lalu mendorong dan mengangkat kepala Jaejoong hingga berdepan dengannya.

"Yang Mulia, lakukan apapun Yang Mulia inginkan pada tubuh Joongie. Joongie milik Yang Mulia," tanpa perlu mendengar sang selir mengulang dua kali permintaannya, sang raja segera membaringkan tubuh polos sang selir ke pembaringan, dan merangkak naik ke atas tubuh polos yang begitu menggoda itu.

Bahasa tubuh sang raja memberitahu Jaejoong apa yang dibutuhkan olehnya, sehingga remaja itu menggeliat di bawah tubuh lelaki itu, menaikkan tangannya yang berkulit halus ke atas pinggang sang raja dan meluncur di antara kedua pahanya, mempermainkan titik kenikmatan di bagian tubuh sang suami. Desahan penuh kenikmatan terlontar dari bibir sang penguasa Kerajaan Joseon itu ketika remaja pemilik sepasang doe indah itu memaju-mundurkan kepalanya, mengeruk sumber kenikmatan yang ia tawarkan.

"Joongieee…," gumam Yang Mulia Raja, suaranya terdengar parau dihantam gelora yang mencapai puncaknya. Bagian paling sensitif dari tubuhnya menegang keras dalam kuluman sang selir. Ketika sang raja merasakan ia tak akan mampu bertahan lebih lama menahan hasratnya untuk menyatu dengan selirnya itu, ia akhirnya menghentikan gerakan Jaejoong dan menarik tubuhnya. Air liur tampak merembes dari bibir remaja berparas rupawan itu yang langsung disambar Yang Mulia Raja Yi Yunho dengan ciuman hangat untuk kesekian kalinya. Tangannya dengan terampil menelusuri setiap lekuk tubuh remaja berkulit seputih susu tersebut, hingga menyebabkan selirnya itu menggelinjang semakin hebat.

Jaejoong merasakan tangan sang raja bergerak dengan lembut di antara paha bagian dalamnya, menyentuh puncak dari bagian tubuhnya yang paling sensitif dengan ujung lidahnya. Sang raja kemudian memasukkan bagian tubuh yang mulai berdiri itu ke dalam mulutnya, memberikan pijatan lembut ke seluruh bagiannya yang membuat Jaejoong hampir gila karena perasaan aneh yang baru kali ini ia rasakan. Tak lama sang raja melepaskan bagian sensitif itu dari mulutnya, lalu menempelkan bibirnya di tubuh indah Jaejoong yang selicin satin, menciumi setiap inci kulitnya. Jaejoong mengerang. Memohon pembebasan.

"Yang Muliaaa…! Joongie tidak tahaaan…!" erang Jaejoong dengan nada memohon sambil menggelinjang.

Sang raja mengambil sebuah cawan tak jauh dari meja kecil di sisi tempat tidur itu. Dilumurinya tangannya dengan cairan yang berada di dalam cawan tersebut, lalu membalurkan cairan kental yang ternyata madu itu ke seputar pintu kesucian sang selir. Jaejoong menggigit bibir bagian bawahnya ketika merasakan Yang Mulia Raja memasukkan satu jari ke dalam pintu kenikmatannya yang telah diberi pelicin dengan susah payah, memberikan gerakan memutar di dalam tubuhnya. Sang penguasa Kerajaan Joseon itu lalu kembali menambahkan dua jarinya ke dalam pintu kenikmatan sang selir, ketika dirasakannya bahwa sang namja cantik itu sudah bisa beradaptasi dengan jarinya, sehingga membuat Jaejoong tak kuasa menahan jeritan nikmatnya. Sang raja mengeluarkan tiga jarinya dari liang kenikmatan yang terasa begitu ketat menelannya, lalu mengarahkannya ke mulut selirnya itu yang langsung disambut Jaejoong dengan hisapan liar yang memabukkan. Tak berapa lama, sang raja mengeluarkan tiga jarinya yang telah berlumur air ludah dari bibir hangat Jaejoong, dan kembali mengarahkannya ke pintu masuk sang selir.

"Yang Muliaaa…," rintih Jaejoong kesekian kalinya dengan nada tak sabar.

"Bertahanlah sebentar, Sayang…,"

Menyadari bahwa dirinya sendiri tak mampu lagi menahan hasratnya, sang raja mengatur posisinya di antara pintu kenikmatan sang kekasih yang begitu mengundang. Ia segera mengarahkan ujung bagian paling sensitif dari tubuhnya ke liang merah jambu milik sang selir yang begitu sempit, yang tak pernah dimasuki sebelumnya . Tangan Jaejoong yang tergeletak pasrah di atas kepalanya mencengkeram kain alas tempat tidur ketika merasakan kejantanan milik sang suami mencoba memasuki tubuhnya, namun gagal. Akan tetapi, sang raja tak berputus asa. Ia lalu meludahi tangan kanannya, dan membalurkan air ludahnya di seputar pintu masuk sang selir. Ia lalu kembali mencoba memasukkan kejantanannya yang berukuran besar itu ke dalam liang kenikmatan sang selir. Ia memasuki sang selir yang begitu ia cintai dengan gerakan awal yang perlahan, lalu dalam sekali hentakan ia memasukkan seluruh bagian paling sensitif dari tubuhnya itu ke dalam pintu masuk sang selir. Tubuh Jaejoong menegang ketika ia merasa demikian penuh. Ia bisa merasakan cairan kental merambat keluar dari pintu masuk kesuciannya, menandakan bahwa kesucian yang selama ini ia jaga telah direggut oleh sang suami. Remaja berusia lima belas tahun untuk sesaat kehilangan kesadarannya ketika sang raja telah memasuki tubuhnya sepenuhnya. Bintang-bintang seolah menari gembira di bola matanya dan kepalanya akhirnya terkulai.

Yang Mulia Raja menghentikan sejenak gerakannya, memberikan waktu untuk menyesuaikan diri setelah ia membenamkan kejantanannya ke dalam pintu cinta sang selir. Tubuh keduanya bersimbah keringat, membuat alas pembaringan yang tak lagi rapi keadaannya turut basah. Yang Mulia Raja membungkam mulut setengah terbuka milik selir terkasihnya dengan ciuman hangat menggelora. Kedua kaki indah sang selir ia letakkan di pundaknya.

"Kau siap untuk menyeberangi pantai kebahagiaan bersamaku, Sayang?" bisiknya, suaranya bergetar di antara hasrat yang mengamuk di dalam dirinya.

Jaeejong merasakan dirinya demikian penuh sehingga tak mampu menjawab, tapi bahasa tubuhnya memberitahukan segala yang perlu diketahui oleh suaminya itu. Yang Mulia Raja mulai menggerakkan tubuhnya perlahan, dan Jaejoong memekik kecil ketika merasakan sang raja di kedalaman tubuhnya dan tepat menghantam pusat kenikmatan dalam dirinya. Erangan dan desahan kenikmatan kian keras terdengar dari ruangan kamar berukuran luas tersebut ketika jemari sang raja bergerak gemulai membelai bagian paling sensitif dari tubuh selirnya yang telah menegang kaku tersebut.

Riak-riak mulai terbentuk dan dengan cepat berubah menjadi gelombang yang menarik dan menghempaskannya. Sensasi nikmat itu menjalar di seluruh jaringan syaraf keduanya. Jaejoong yang semula diam akhirnya membalas setiap hentakan yang diberikan suaminya, berlomba mengejar ke titik tertinggi dalam pergumulan yang mereka lakukan. Mata Jaejoong terbelalak lebar ketika puncak kenikmatan mulai terasa, dan akhirnya meledak dalam jeritan tertahan dari keduanya. Remaja berparas rupawan itu merasakan semburan hangat di kedalaman tubuhnya yang menghantarkannya ke taman terindah dalam percintaan mereka. Rasa hangat yang sama yang tersembur dari bagian sensitif tubuhnya, menggenang di pusarnya dan dada bidang sang suami. Yang Mulia Raja yang juga telah melewati pusaran keindahan dalam dirinya menarik nafas panjang, berusaha mengendalikan pernapasannya, bahkan setelah tubuhnya terhempas di atas tubuh mungil selirnya.

Sang raja lalu menggelosorkan tubuhnya dari atas tubuh Jaejoong dan berbaring menelentang di samping tubuh selirnya itu. Jaejoong yang merasakan perasaan lelah setelah acara percintaan itu menyusupkan tubuhnya di dada sang suami yang basah oleh keringat. Yang Mulia Raja memberikan sebuah ciuman hangat di kening selirnya itu, lalu menarik sebuah selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua, dan melingkarkan lengah kokohnya di pinggang Jaejoong. Jaejoong mengangkat tangan kanannya, membelai dada suaminya yang bersimbah peluh. Dengan gerakan pelan, ia memainkan dua daging kecil berwarna kecokletan di atas dada sang raja. Ketika dirasakannya kedua daging kecil itu mulai mengeras, Jaejoong malah mempermainkannya dengan lidahnya. Bergantian dihisapnya daging kecil yang menonjol itu. Tindakan yang tanpa disadarinya kembali membangunkan kejantanan sang suami.

Sang raja membuang begitu saja selimut yang menutupi tubuh polos mereka. Ia kembali menindih tubuh indah selirnya. Bibirnya berlabuh di bibir semerah cherry selirnya. Mengeruk segala kenikmatan dan keindahan yang ditawarkannya. Lidahnya menelusuri setiap jengkal di rongga mulut sang selir terkasih, membuatnya dihadiahkan rintihan menggoda dari namja jelita itu. Sang raja dengan leluasa membenamkan bibirnya yang berbentuk hati ke bibir lembut sang selir. Menikmati harum napas yang menguar dari rongga mulut selir terkasihnya itu. Sementara tangannya dengan nakal menggerayangi setiap lekuk indah tubuh Jaejoong. Ujung jarinya kemudian berlabuh pada wajah cantik sang selir, menelusuri paras Jaejoong dengan penuh kekaguman, merasakan setiap pori-pori kulitnya.

Jaejoong yang berada di bawah menggeliatkan tubuhnya, tak tahan akan cumbuan yang diberikan suaminya. Tangannya turut bergerak, meraba-raba tubuh sang suami yang bidang itu. Gerakan tangannya terhenti ketika menemukan kejantanan sang suami yang telah mengeras. Dengan jemari bergetar, Jaejoong meraih bagian paling sensitif itu, menggenggamnya, dan sesekali membelainya. Ia menggerakkan tangannya, melingkari kejantanan yang mampu menghadirkan kenikmatan luar biasa itu dengan gerakan turun naik dengan ritme yang semula pelan, lalu semakin cepat. Cairan bening yang sedikit lengket keluar dari ujung kejantanan sang suami, membasahi jemari lentiknya yang lembut.

Sang raja membalikkan tubuh selirnya, hingga posisi Jaejoong kini berada di atas tubuhnya. Warna merah menjalar di kedua pipi remaja berusia 1ima belas tahun itu. Sang raja berwajah tampan itu kembali memagut bibir merah menggoda milik selirnya, menyesapnya dengan lembut namun penuh gairah. Dengan segala kepasrahannya, Jaejoong membalas semua gerakan sang suami sambil tangannya memeluk erat pinggang sang raja. Sesekali, ia menggesekkan tubuhnya dengan nakal di atas tubuh sang raja, mempertemukan kedua bagian sensitif di tubuh mereka. Cukup lama ciuman di antara mereka berlangsung. Sang raja dalam hati mengakui ketangguhan selir barunya itu, namun ia memaklumi hal itu sebab Jaejoong terbiasa memainkan seruling. Itu artinya remaja cantik itu memiliki teknik pernapasan yang bagus.

Setelah ciuman lembut namun memabukkan itu berakhir, sang raja yang tangannya tak pernah berhenti menggerayangi tubuh selirnya kemudian sedikit mengangkat tubuh bagian bawah Jaejoong. Ia kemudian kembali mengarahkan ujung bagian paling sensitif dari tubuhnya ke pintu gerbang kenikmatan sang selir yang terasa masih begitu sempit menyambutnya. Namun jejak percintaan mereka yang masih tersimpan di kedalaman liang kecil yang menawarkan selaksa nikmat itu cukup membantu usaha sang raja untuk kembali menyatukan raga mereka. Setelah mencoba untuk kesekian kalinya, bagian paling sensitif itu masuk dengan sempurna ke tempat seharusnya. Jaejoong menengadah dengan punggung yang melengkung merasakan dirinya demikian penuh. Ia kemudian mendekatkan dirinya pada sang suami, menyodorkan dua daging kecil yang menegang kaku di dadanya ke bibir berbentuk hati milik sang raja yang langsung dengan cepat disambar oleh bibir penguasa Joseon itu.

Yang Mulia Raja Yi Yunho memang seorang lelaki perkasa yang sangat menguasai teknik bercinta hingga ia mengetahui bagaimana cara memuaskan sekaligus dipuaskan pasangannya. Dengan bagian sensitifnya yang terbenam sempurna di liang kenikmatan sang selir, tangan kanan sang raja berwajah tampan itu tak berhenti menelusuri setiap jengkal tubuh indah selirnya. Sementara tangan kirinya sibuk memilin tonjolan merah jambu di dada sang selir secara bergantian, mulutnya tak berhenti mengeruk kenikmatan dari rongga mulut selir terkasihnya. Jaejoong yang berada di atasnya tak mampu menahan desahan dan erangan nikmat yang mendera tubuhnya. Bahkan sesekali ia memekik kecil ketika bagian paling sensitif sang suami menyentuh titik terindah dalam liang kenikmatannya. Remaja cantik itu mengimbangi segala gerakan keluar masuk, maju mundur, yang dilakukan sang suami dengan gairah membara. Untuk sesaat Jaejoong bahkan melupakan segala ambisi balas dendamnya. Ia tenggelam dalam amukan gelombang gairah yang mengantarkannya memasuki taman nirwana.

Sang raja kemudian melepaskan kejantanannya dari gerbang kenikmatan selirnya. Dimiringkannya tubuh sang selir, lalu kembali memasukinya dari belakang. Punggung sang selir yang dibanjiri keringat menempel erat di dada bidangnya. Sang raja mengangkat satu kaki Jaejoong, dan kembali menggali kenikmatan dari liang kenikmatan sang selir yang terasa begitu ketat menjepitnya. Jaejoong lagi-lagi mengeluarkan desahan nikmatnya, lalu meraih bagian paling sensitif dari tubuhnya sendiri dan memainkan bagian yang menegang kaku itu dengan jemari lentiknya.

"Joongieee…,"

"Yang Muliaaa…,"

Desahan dan rintihan penuh nikmat silih berganti terdengar dari kamar itu. Jaejoong yang telah memasrahkan dirinya untuk mengarungi samudera keindahan dan kenikmatan bersama sang suami benar-benar membiarkan sang raja mengambil alih kemudi untuk menjalankan biduk cinta mereka. Memuaskan sang suami tak lagi dipandangnya sebagai sebuah keharusan semata demi mendapatkan seluruh perhatian dari lelaki tampan pemilik sepasang mata elang itu. Ia membiarkan dirinya melebur dalam gairah yang mengepungnya dari segala arah, memberikan akses kepada sang raja untuk mengeruk segala nikmat yang ia tawarkan, sekaligus mengambil haknya untuk merasakan kepuasan serupa. Entah berapa babak mereka menjalani pergumulan panas sebagai pasangan di malam pertama. Hanya nikmat dan nikmat yang dirasakannya ketika untuk kesekian kalinya sang raja memasuki dirinya, menaburkan benih-benih Dinasti Yi ke dalam tubuhnya saat penyatuan raga mereka. Jaejoong sama sekali tak menghitungnya. Yang ia ingat ketika akhirnya sesi percintaan itu berakhir hanyalah kokokan ayam jantan yang sangat panjang yang mengantarkannya juga sang suami untuk menjemput tidur panjang mereka untuk mengembalikan stamina yang terkuras habis di atas pembaringan.

xoxoxoxoxoxoxoxoxoxox

Bersambung…

xoxoxoxoxoxoxoxoxoxox

Catatan:

29. Gamasot: Periuk batu. Nasi yang dimasak dengan menggunakan gamasot jauh lebih enak dibandingkan dengan nasi yang dimasak menggunakan periuk dari bahan lain.

30. Hwarot: Jubah mewah warna merah dengan pola-pola sulaman yang dipakai putri kerajaan saat menikah.

31. Jungdan: Baju dalam yang dipakai saat penobatan atau pernikahan, berwarna putih dengan keliman warna biru.

32. Daedae: Sabuk di pinggang yang berwarna merah dan putih, digunakan untuk mengencangkan rok.

33. Hyeokdae: Sabuk pinggang.

34. Mal: Kaos kaki merah yang dipakai bersama dengan seok.

35. Seok: Sepatu merah.

36. Myeonrugwan: Mahkota penutup kepala. Banyaknya manik-manik di myeonrugwan menunjukkan status si pemakai: dua belas untuk Kaisar, sembilan untuk Raja, dan delapan untuk Putera Mahkota.

37. Gujangbok: Jubah khusus untuk acara tertentu, seperti penobatan dan pernikahan. Disebut gujangbok karena ada sembilan jenis simbol yang tersulam di jubah. Bagian atas dari jubah, naga di kedua bahu, gunung di belakang, api, burung, lambang barel anggur harimau di kelima lengan; yang di sebut ojang, artinya untuk yang. Untuk roknya (pasangan jubah) ada biji padi, kapak dan api; yang di sebut sajang, artinya untuk ying.

Beranda Puan Hujan

(Tempat Puan membalas review para pembaca yang telah berbaik hati meninggalkan jejak di tulisan sederhana Puan)

Balasan review untuk chapter 1:

Clein cassie: Terima kasih telah membaca tulisan Puan. Puan senang sekali kalau kamu menyukai tema yang Puan usung. Mengenai apakah Joongie akan menjadi antagonis di sini, hemmm, kita lihat saja ke depannya nanti ya? Puan tidak bermaksud untuk menjadikan Joongie sebagai sosok yang benar-benar jahat, karena menurut Puan tidak sesuai dengan karakter Joongie, hehehe.

Andreychoi: Terima kasih telah membaca tulisan Puan dan terima kasih untuk pujian juga semangatnya agar Puan bisa menulis untuk chapter-chapter selanjutnya.

Edelweis: Terima kasih telah membaca tulisan Puan yang sederhana ini. Maafkan Puan jika tidak bisa update se-ASAP mungkin, ada asap dapur yang juga harus Puan pikirkan, hehehe.

NaraYuuki: Terima kasih telah membaca tulisan Puan, dan tentunya terima kasih untuk jejak yang telah ditinggalkan di tulisan Puan. Sebenarnya Puan ini salah satu penyuka tulisan-tulisanmu, namun memang Puan tidak bisa memberikan komentar, mungkin belum sekarang, sebab setiap online Puan juga harus cepat-cepat, mengingat jatah pulsa yang tak seberapa #plaaak. Terima kasih juga sudah mem-follow tulisan Puan.

UnnieDongsaeng: Terima kasih telah singgah dan meninggalkan jejak di tulisan Puan. Mari, sama-sama kita tunggu bagaimana Joongie memperdayai Yang Mulia Permaisuri, hehehe.

Lanjut: Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak, sayangnya Puan tidak tahu siapakah kamu, jadi ucapan terima kasihnya Puan tujukan kepada 'lanjut' saja. Terima kasih sudah bersabar menunggu chapter-chapter selanjutnya.

Lee minji elf: Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak di tulisan sederhana ini. Puan tidak bisa berjanji untuk bisa update sesering mungkin, bisa sebulan sekali saja sudah sangat bersyukur bagi Puan pribadi. Banyak hal yang menjadikan Puan tidak bisa ASAP dalam menulis, di antaranya Puan memiliki batita yang luar biasa aktif, jadi Puan mencuri kesempatan untuk menulis hanya saat baby sedang tidur siang, itu pun hanya bisa sekitar 1-2 jam, setelahnya Puan akan disibukkan dengan segala urusan rumah tangga. Mohon pengertiannya ya?

SimviR: Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak di tulisan Puan. Mengenai apakah Yunho pedofil, ah, sebenarnya Puan tidak bermaksud menjadikan Yunho seorang pedofil. Hanya saja, karena menurut Puan pada jaman dahulu sudah biasa bagi seorang Raja untuk menikah atau mendapat selir yang usianya jauh lebih muda, maka jadilah Puan membuat perbedaan usia mereka 15 tahun.

Kim vinansia: Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak di tulisan Puan. Terima kasih juga untuk pujiannya, semoga Puan tidak akan besar kepala dengan segala pujian yang kalian berikan. Puan akan terus memberikan yang terbaik untuk kalian semua.

Meybi: Terima kasih telah membaca dan meluangkan waktu untuk memberikan apresiasi terhadap tulisan Puan. Puan juga berharap misi balas dendam Joongie akan berhasil, meskipun perjalanan untuk mencapai keberhasilan tersebut masih panjang.

Kim hyun soo: Terima kasih sudah singgah dan meninggalkan jejak. Ini juga sudah Puan lanjutkan.

Yunhoism: Terima kasih sudah singgah dan meninggalkan jejak di tulisan Puan. Terima kasih karena menyukai tema yang Puan angkat. Puan akan berusaha melanjutkan tulisan Puan dengan berupaya lebih keras agar nuansa jaman dulunya lebih terasa.

Himahime: Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak di tulisan Puan. Ini juga sudah Puan lanjutkan.

Guest: Terima kasih sudah mampir, apakah Puan sebagai tuan rumah terlupa menyajikan minuman dan makanan kecil hingga tamunya tidak bersedia menyebutkan nama? Hehehe, siapapun kamu, Puan berterima kasih karena kamu sudah meninggalkan jejak. Ini sudah Puan lanjutkan.

Irengiovanny: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak. Ini sudah Puan lanjutkan.

Vivi: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan sedikit kesan. Ini sudah Puan lanjutkan. Hanya saja memang Puan tidak bisa selalu update cepat, mungkin minimal sebulan sekali. Kalau bisa sih Puan update secepat mungkin, namun kondisi tidak memungkinkan. Harap maklum, ya?

Dewdew90: Terima kasih sudah membaca dan memberikan apresiasi pada tulisan Puan. Joongie pasti senang kalau tahu kamu mendukung rencana balas dendamnya, hehehe. Ah, dengan segala pesona Joongie, bukan hal mustahil bukan kalau Yunho dengan cepat terpesona?

Paprikapumpkin: Terima kasih telah mampir dan meninggalkan jejak di tulisan Puan. Ngomong-ngomong, penname-mu unik sekali. Apakah boleh Puan panggil Labu? #plaaakkk. Puan juga berencana membuat Joongie seperti itu, polos tapi licik, licik tapi polos.

Miss: Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Jujur saja, Puan juga awalnya tidak pernah berpikir untuk menulis fic berlatar kerajaan seperti yang Puan lakukan ini. Hanya saja, ketika tanpa sengaja menemukan gambar Kim Jaejoong yang menggunakan hanbok, sebuah ide melintas di benak Puan hingga akhirnya jadilah fic ini. Terima kasih karena kamu menyukainya, juga karena kamu mau menjadi pembaca setianya. Puan merasa sangat tersanjung dan bertekad untuk menulis lebih baik lagi.

Miss: Terima kasih sudah membaca dan kembali meninggalkan jejak. Iya, yang menulis surat adalah eomma-nya Jaejoong. Nama eomma-nya memang Kim Young Woon, sebelumnya namanya Park Youngwoon, dan dalam pelarian ia memakai nama Han Young Woon, hanya saja setelah menikah dengan appa Joongie yang bermarga Kim, marganya turut menjadi Kim. Sejujurnya Puan hanya asal saja mencantumkan namanya, karena seingat Puan dulu Puan pernah membaca fic yang mana di dalamnya menulis kalau Young Woon adalah eomma-nya Jaejoong. Puan justru tidak tahu Kangin itu siapa, yang Puan tahu hanyalah Yunjae, Yoosu, Changmin, dan Go Ahra. Itu pun untuk Go Ahra Puan hanya tahu nama, tapi tak tahu wajahnya seperti apa #ditampol pakai bakiak.

Baby jung: Terima kasih sudah menyempatkan untuk bertandang ke lapak Puan dan meninggalkan jejak. Puan sendiri senyum-senyum tak jelas membayangkan Joongie mengenakan hanbok, hahaha. Mari kita nantikan bersama, berhasil atau tidak urusan balas dendam Joongie. Kalau urusan menarik simpati Yang Mulia Raja, tanpa susah payah juga Joongie berhasil melakukannya.

Phoenix Emperor NippleJae: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Phoenix #bantuin matikan capslock. Hahaha, Yang Mulia Raja hanya memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Aish, jangan digaplok Yang Mulia Raja, nanti bisa-bisa berhadapan dengan pedang algojo.

NaYun: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak. Puan senang jika kamu menyukai tulisan sederhana ini. Sudah Puan publish chapter selanjutnya.

TyYJs: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak. Puan sungguh sangat senang kalau kamu menyukai tulisan sederhana ini.

: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak. Tidak apa-apa, pelan-pelan saja mengimajinasikan bagaimana Joongie di tulisan Puan. Mengenai Junsu, tidak. Junsu tidak memiliki hubungan apa pun dengan Joongie, ia hanya langsung bersimpati pada Joongie dan menganggap Joongie sebagai adiknya, adik yang tak pernah dia miliki. Dan Junsu juga tidak mengetahui apa pun tentang Joongie. Setidaknya belum. Ada tokoh sentral lain yang justru belum Puan munculkan. Kemungkinan muncul ada di chapter-chapter mendekati akhir, yang masih lama perjalanannya.

Fuyu Cassiopeia: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak. Apanya yang sudah dimulai apa belum, Sayang?

Hana-Kara: Terima kasih sudah mampir dan menyempatkan untuk meninggalkan jejak. Puan senang sekali jika tulisan sederhana Puan ini kamu sukai. Silahkan baca, Sayang, tidak perlu meminta ijin.

Yunjae24: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, wahai reader baru. Puan senang sekali kalau kamu menyukai tulisan Puan ini.

Balasan review untuk chapter 2:

NaraYuuki: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Dan terima kasih sekali atas sarannya. Sudah Puan penuhi apa yang menjadi saranmu. Niatnya Puan menggunakan kata-kata yang mungkin jarang didengar atau dibaca sebenarnya agar suasana jaman dulunya lebih terasa, hehehe. Dan mengenai kangkung, ide itu tercetus begitu saja ketika Puan melewati hamparan kangkung liar di tepi jalan dalam perjalanan menuju rumah orang tua Puan, hehehe.

Edelweis: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak. Eh, kurang panjang? Puan akan coba menulis lebih panjang lagi di chapter selanjutnya.

Paprikapumpkin: Terima kasih telah mampir dan meninggalkan jejak di tulisan Puan. Iya, Selir Suk sesungguhnya merupakan sahabat ibu-nya Joongie. Dalam chapter 3 ada penjelasan mengenai hubungan Selir Suk dengan ibu Joongie. Hahaha, terima kasih juga sudah mendukung Joongie untuk licik. Eh?

Andreychoi: Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak di tulisan sederhana Puan. Iya, akhirnya Joongie tinggal di istana, meskipun awalnya hanyalah sebagai pemusik istana saja. Permaisuri tidak hanya bermusuhan dengan Selir Suk, beliau membenci semua selir-selir suaminya, hanya saja karena ia sangat lihai berpura-pura, maka ia tidak terlalu terang-terangan menunjukkan kebenciannya. Puan sendiri tidak mempunyai gambaran siapa yang tepat untuk memerankan Selir Suk. Karena meskipun perannya cukup vital dalam tulisan ini, namun Puan tidak pernah sama sekali membayangkan siapa aktris yang kira-kira cocok memainkan perannya. Hedeeeh, Puan berasa seorang sutradara yang sedang diwawancarai mengenai proyek drama terbaru #plaaakkk. Usia Yunho 30 tahun, dan yaaah, anggap saja Yunho pedofil, Puan tidak melarang #digebuk massa.

YeChun: Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak di tulisan Puan. Sebenarnya, niat awal Puan, akan ada pernikahan di chapter depan, namun setelah Puan memulai menulis chapter 3, pikiran Puan berubah, sehingga jadilah mengenai pernikahan, atau dalam kasus Joongie adalah penobatan sebagai seorang selir akan diadakan di chapter 4.

Vic89: Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Aigooo, kamu bersemangat sekali ingin menikahkan mereka berdua, hemmm?

ReDevil9095: Terima kasih sudah membaca lalu memberikan jejak pada tulisan sederhana Puan ini. Apakah kamu penggemar klub Manchester United? Kalau begitu kita sama, hehehe. Terima kasih juga untuk pujiannya, jujur saja Puan tak kuasa menahan senyum Puan yang mekar saat membaca komentarmu. Hahaha, Puan merasa tidaklah menulis sebagus itu, Puan hanya berusaha menulis dan menulis,, dan karena Puan termasuk seorang perfeksionis, terkadang Puan sendiri tak puas dengan hasil akhir tulisan Puan. Jadi perfeksionis terkadang menyusahkan ya?

Dewdew90: Terima kasih kembali karena sudah mampir dan meninggalkan komentar. Akan cukup panjang jalan menuju tergulingnya Permaisuri dari tahtanya. Tentu saja, tak mudah bukan mengumpulkan bukti kelicikan dan kejahatan keluarganya? Apalagi bisa dikatakan hampir sebagian besar pembesar kerajaan berada di pihak mereka. Tapi tunggu saja, tak akan selamanya ia menikmati kursi indahnya.

Yunhoism: Terima kasih sudah berkunjung kembali dan tak lupa meninggalkan jejak berupa saran yang sangat berharga buat Puan. Begitu selesai membaca saranmu, Puan langsung melakukannya. Bila kamu perhatikan kembali, chapter 1 dan 2 sudah Puan edit dan untuk chapter selanjutnya Puan juga tetap menjalankan saranmu. Sekali lagi terima kasih.

Mysexyboo: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak di tulisan Puan. Terima kasih juga untuk pujiannya, wajah Puan sontak memerah. Puan senang sekali kalau para pembaca menyukai ide cerita yang Puan bawakan. Salamnya untuk suami dan anak-anak Puan sudah Puan sampaikan. Puan minta maaf tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk update chapter selanjutnya sebelum puasa, tapi tetap sudah Puan publish chapter 3-nya.

Little dangko: Terima kasih sudah mampir, kawan. Sayangnya komentarmu terpotong jadi Puan tidak tahu apa lanjutannya, apakah harus dilanjut, atau diapakan. Tapi Puan berpikir baik saja bahwa kamu meminta Puan melanjutkan tulisan Puan, dan itu sudah Puan lakukan.

Guest: Terima kasih sudah mampir, duhai tamu tak bernama. Sudah Puan lanjutkan, hanya saja Puan memang tidak bisa untuk update secepatnya. Bukan apa-apa, selain kesibukan sebagai ibu, sebelum menulis biasanya Puan juga mencari bahannya terlebih dahulu. Misalkan Puan ingin menulis tentang Sup 12 Rasa, maka Puan akan sibuk mencari-cari resensi atau bahan-bahan lain yang bisa membantu Puan. Walaupun hanya sebuah fic, Puan sangat serius ketika menulisnya, karena itulah terkadang waktu Puan juga habis untuk mencari referensinya, hahaha.

Kyoarashi57: Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Hahaha, Yang Mulia Raja jatuh cinta pada Joongie sejak pandangan pertama. Puan sendiri berharap Puan bisa tetap mempertahankan karakter dari masing-masing tokoh yang ada dalam tulisan Puan ini.

Miss: Terima kasih karena sudah mampir dan meninggalkan jejak. Hayooo, kamu membayangkan Joongie seperti apa saat pernikahannya? Sepertinya bersemangat sekali melihat mereka menikah.

SimviR: Terima kasih karena sudah kembali mampir dan meninggalkan jejak. Hahaha, Yunho sepemahaman dengan JK, dimana sesuatu yang dilakukan lebih cepat akan lebih baik. Apalagi dengan kekuasaannya sebagai seorang Raja, ya? Permaisuri memang mulai sedikit cemas dengan kedudukannya sejak kedatangan Joongie, namun ia tetap berrmain halus. Dan kalangan istana secara bertahap akan mulai menyukai Joongie, tunggu saja sepak terjangnya.

Jongwookie: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak di tulisan sederhana Puan, Sayang. Terima kasih untuk ucapan selamat datangnya. Iya, Puan memang sengaja membuat salah satu selir Yang Mulia ada yang mengetahui mengenai kelicikan keluarga Go. Dan ya, berkaca pada chapter 3, maka memang Selir Suk dalam tulisan ini tidak akan memiliki perasaan cemburu atau iri hati pada Joongie, sebab namja yang dicintainya bukanlah Yang Mulia Raja. Mengenai konflik, akan Puan usahakan tidak terlalu mendramatisir. Semoga Puan selalu diberikan semangat untuk melanjutkan tulisan ini.

Guest: Terima kasih sudah berkunjung, wahai tamu tanpa nama. Mayapada bisa diartikan semesta, sedangkan sepeminuman teh itu merupakan pernyataan tentang waktu, sebab jaman dulu belum mengenal jam, bukan? Kalau dihitung menggunakan hitungan menit, sepeminuman teh bisa jadi kurang lebih 15 menit.

Jenny: Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca dan meninggalkan , kamu terseret ke jaman kerajaan dulu? Sekarang ini sudah kembali ke tahun 2013 belum? Eeh? Ini sudah Puan lanjutkan.

Funychii: Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Waaah, kamu seseorang yang penuh semangat ya? Tergulingnya Yang Mulia Permaisuri akan cukup memakan waktu, tidak bisa tiba-tiba langsung terguling begitu saja. Harap bersabar menantikannya ya? Puan sudah berjanji pada diri sendiri untuk akan terus melanjutkan tulisan ini, hanya saja memang Puan tidak bisa update secepat mungkin.

Titieswidi: Terima kasih sekali sudah menyempatkan diri untuk membaca dan memberikan jejak yang cukup panjang dan berharga untuk Puan. Memang, fic ini Puan tulis tidaklah sama dengan sejarah aslinya. Namun seperti yang kamu katakan, Puan memang serius sekali ketika menggarapnya, dalam artian Puan juga mencari literaturnya di Google, hal yang justru membuat Puan kadang tersendat untuk melanjutkan tulisan ini, sebab lebih asyik mem-browsing ketimbang menulis #plaaak. Joongie disini akan menjadi Selir Hwan atau lengkapnya Kim Hwan-bin, selir yang hanya ada dalam alam imajinasi Puan, dan merupakan tokoh khayalan semata. Sementara Selir Suk ya menjadi Selir Suk. Hahaha, sebenarnya Puan sama sekali tidak tahu mengenai Selir Suk ini. Saat ada ide untuk memunculkan seorang selir yang mengetahui kebejatan keluarga Go, Puan sebenarnya teringat pada teman rempong Jaejoong di dunia nyata, yakni Jang Keun Seuk. Itulah asal muasal nama Selir Suk versi Puan, lol. Setelah membaca komen-komen pembaca, barulah Puan mencari tahu mengenai beliau. Dan mengenai akhir, Puan tidak berpikir untuk mematikan Joongie. Jika ada pihak yang harus mati, maka itu jelas bukan Joongie, hehehe.

Anara17: Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca tulisan sederhana ini, juga meninggalkan jejak. Hahaha, rela tak rela, suka tak suka, mereka sudah menjadi pasangan (di fic ini saja). Tapi tenang saja,kebersamaan mereka tidak akan lama #ketawa nista.

Baby jung: Terima kasih kembali karena sudah berkunjung dan lagi-lagi meninggalkan jejak. Hahaha, Go Ahra disini menyesuaikan diri dengan karakter jahat yang Puan ciptakan. Mudah-mudahan artis aslinya tidak ikutan dibenci ya? Puan sendiri sejujurnya menjadikan Go Ahra sebagai antagonis supaya sesuai saja dengan marganya, marga Go. Soalnya lebih enak di lidah Puan mengucap Perdana Menteri Go ketimbang Perdana Menteri Bae (jika menggunakan Bae Seulgi misalnya sebagai Permaisuri), atau Perdana Menteri Hwang (jika menggunakan Tiffany Hwang). Dan satu lagi, Puan main sikat saja nama Go Ahra, sementara tampang Ahra sendiri bagaimana Puan tidak tahu #digampar.

Next: Haiii, siapakah namamu? Puan tetap mengucapkan terima kasih karena sudah membaca dan menyempatkan diri untuk meninggalkan jejak. Ini sudah Puan lanjutkan.

Cho Sungkyu: Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Chapter 3 sudah Puan publish. Hanya saja sekali lagi Puan meminta maaf, Puan tidak akan bisa update secepat kilat. Jika diperhatikan, setiap chapter yang Puan tulis tidak kurang dari 5000 kata, dan menulis sebanyak itu untuk ibu rumah tangga yang harus berjibaku dengan pekerjaan rumah dan anak, bukanlah pekerjaan yang mudah, Sayang. Untuk itulah, paling cepat Puan bisa update sebulan sekali, jika bisa lebih cepat Puan justru lebih bersyukur lagi. Harap dimaklumi ya?

Bungsu: Yaaah, anakku! Bagaimana kamu bisa terdampar di sini? Bagaimanapun, terima kasih karena sudah membaca tulisan Manda-mu ini, Nak. Ahahahai, kamu ingin menjaga Baby K? Manda kok tidak yakin, ya? Bisa-bisa kalau keasyikan ngelonin istrimu kamu malah melupakan Baby K.

Vivi: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Sudah Puan update, dan harap bersabar menantikan chapter selanjutnya, ya?

Urijaejoongie: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak. Puan senang jika tulisan sederhana ini banyak yang menyukai. Puan juga sudah update chapter selanjutnya.

Phoenix Emperor NippleJae: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. He eh, bahasa kasarnya Yang Mulia Raja meminta Joongie menjadi selirnya, karena Permaisuri belum mati, tak mungkin Joongie langsung dijadikan Permaisuri pula.

Dennis Park: Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Pada chapter-chapter mendekati akhir Yang Mulia memang akhirnya mengetahui bahwa Joongie mendekatinya hanya untuk membalas dendam. Namun cinta adalah sesuatu yang menjadi misteri, karena pada akhirnya Joongie sendiri jatuh cinta pada suaminya.

Gothiclolita89: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca dan meninggalkan jejak di tulisan sederhana ini. Joongie akan menjadi Selir Hwan, seorang selir yang tidak tercantum dalam sejarah Dinasti Joseon, sebab dia hanya ada di alam hayal Puan saja, hehehe. Mengenai Go Ahra, alasannya sebenarnya agak lucu menurut Puan. Puan sendiri sejujurnya menjadikan Go Ahra sebagai antagonis supaya sesuai saja dengan marganya, marga Go. Soalnya lebih enak di lidah Puan mengucap Perdana Menteri Go ketimbang Perdana Menteri Bae (jika menggunakan Bae Seulgi misalnya sebagai Permaisuri), atau Perdana Menteri Hwang (jika menggunakan Tiffany Hwang). Dan satu lagi, Puan main sikat saja nama Go Ahra, sementara tampang Ahra sendiri bagaimana Puan tidak mengetahuinya.

Ifa. : Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Maafkan Puan karena sudah membuatmu ternanti-nanti chapter selanjutnya. Ini sudah Puan update.

Vampireyunjae: Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Selamat datang, reader baru, terima kasih sudah menyukai tulisan sederhana Puan. Chapter selanjutnya sudah Puan update.

Parkyoonhra: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca dan meninggalkan jejak. Puan setuju, menyimpan dendam itu tidak baik, tapi jadi pengecualian kalau Joongie yang melakukannya #plak plak plak. Chapter selanjutnya sudah Puan update.

Guest: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, tamu tanpa nama. Terima kasih untuk pujiannya, ini sudah Puan lanjutkan, semoga tidak penasaran lagi.

TyYJs: Terima kasih sudah berkunjung kembali dan meninggalkan jejakmu di sini, Sayang. Iya, pada chapter 4 Joongie akan dinobatkan menjadi selir Yang Mulia Raja. Hahaha, memangnya selama ini taring Permaisuri disimpan dimana? Eh? Puan tidak bisa update secepat kilat, namun akan tetap Puan usahakan untuk melanjutkan tulisan ini.

My Asha: Terima kasih sudah berkunjung dan menyempatkan untuk meninggalkan komentar. Terima kasih untuk pujian dan dukungan semangatnya, itu berarti sekali untuk Puan. Chapter selanjutnya sudah Puan update.

KittyBabyBoo Love YunnieBunny: Terima kasih sudah berkunjung, membaca, serta meninggalkan jejak di tulisan Puan, Kitty. Syukurlah kalau kamu menyukai jalan ceritanya. Di tulisan ini usia Yang Mulia Raja 30 tahun, jadi perbedaan usia mereka 15 tahun. Joongie menerima Yang Mulia di chapter 3, meski ia mengajukan 2 buah syarat. Chapter selanjutnya sudah Puan publish.

Yunjae love: Terima kasih sudah berkunjung dan menyempatkan diri untuk meninggalkan jejak. Iya, Yang Mulia Raja langsung bergerak cepat dengan menjadikan Joongie sebagai selirnya. Terima kasih juga untuk pujian dan dukungan semangatnya. Chapter selanjutnya sudah Puan publish.

ChwangKyuh EvilBerry: Terima kasih sudah berkunjung juga meninggalkan jejak. Tentu saja tulisan ini Puan lanjutkan, Sayang. Buktinya chapter 3 sudah Puan publish.

Fuyu Cassiopeia: Terima kasih sudah mampir kembali, Sayang. Sudah Puan lanjutkan. Ah iya, akan Puan sampaikan ke Joongie untuk terus menempel pada Yang Mulia seperti lintah, hahaha.

Babywonwon3: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak. Sudah Puan lanjutkan.

Guest: Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca sekaligus meninggalkan jejak. Iya, Yang Mulia Raja dan Joongie akan menikah pada chapter 4. Ini sudah Puan lanjutkan, maafkan jika update-nya sangat terlambat.

Chantycassie: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Iya, itu benar. Joongie tidak perlu bersusah payah untuk mendekati Yang Mulia, tapi tidak berarti jalannya untuk membalas dendam akan berjalan mulus saja. Tentunya akan ada konflik di tengah perjalanannya. Ini sudah Puan lanjutkan, semoga chapter 3 tidak mengecewakan.

Hana-Kara: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak. Hahaha, kamu bersemangat sekali, Sayang. Iya, mereka menikah, dan itu terjadi di chapter 4. Selamat membaca.

JungJaema: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak. Seperti membaca synopsis drama Korea? Ahaha, terima kasih. Bagaimana kalau sekalian kita bikin dramanya? Eeh? Maksudnya Joongie berpura-pura apa? Berpura-pura mencintai Yang Mulia Rajakah maksudnya? Sebenarnya tidak, Joongie sebenarnya juga merasakan debaran yang sama seperti Yang Mulia Raja, hanya saja dia belum menyadarinya. Sikapnya tidaklah seutuhnya berpura-pura. Ia merasa damai berada di dekat lelaki seusia ayahnya itu, makanya terkadang sikap manjanya juga ia munculkan. Yang Mulia Raja hanya memiliki satu anak, yakni Putera Mahkota Changmin. Selir-selir yang lain tidak bisa hamil sebab di dalam makanan yang mereka makan telah dicampurkan sejenis racun yang membuat mereka tidak bisa memperoleh keturunan selamanya.

Yunjae24: Terima kasih sudah mampir kembali dan memberikan jejaknya, Sayang. Hahaha, iya, cieee, yang diajak menikah. Yuk, sama-sama berikan ucapan selamat.

Balasan review untuk chapter 3:

Nara Yuuki: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Di chapter 4 Puan menjelaskan bahan-bahan sekaligus tata cara pembuatan Sup 12 Rasa, namun pastikan membaca warning-nya di bagian pembuka ya? Puan tidak bertanggung jawab jika terjadi hal yang tidak diinginkan gegara mencoba membuat sup ngasal itu, kekekeke.

KittyBabyBoo Love YunnieBunny: Terima kasih sudah menyempatkan diri mampir dan meninggalkan jejak. Iya, Selir Suk adalah sahabat eomma-nya Joongie, sekaligus wanita yang sangat mencintai eomma-nya itu. Perlahan-lahan, di setiap chapter Puan mengupayakan untuk menguak rahasia sedikit demi sedikit. Di sini, Joongie adalah sosok 15 tahun yang sama sekali belum tahu jatuh cinta itu seperti apa, oleh karena itu meskipun di hatinya selalu ada debar aneh jika berdekatan dengan Yang Mulia Raja, dia akan sebisa mungkin mengabaikannya.

ReDevil9095: Terima kasih karena sudah membaca dan meninggalkan jejak. Sepertinya ini jejak terpanjang ya? Puan sangat berterima kasih. Kalau untuk dikatakan great fanfic, Puan rasa tulisan Puan ini masih jauh dari kata itu. Tapi sungguh, Puan justru bersemangat untuk menulis dengan lebih baik lagi. Puan juga bukan penulis senior, Sayang, kecuali dari segi umur, Puan tak malu mengakui kalau Puan memang sedikit tua (tetap saja tak mau mengakui tua sekali, hahaha). Fic Puan ini kelas berat? Puan pikir hanya olahraga tinju yang mengenal istilah itu, hehehe. Puan mengakui, meskipun tulisan Puan ini jauh melenceng dengan sejarah aslinya, namun Puan sangat serius ketika menggarapnya. Untuk itulah mengapa Puan tidak bisa update secepat mungkin. Puan sering terkendala dalam mendeskripsikan mengenai bentuk istana, seperti apa ruangan-ruangannya, kamar tidur Raja itu seperti apa, makanannya bagaimana, yaaah, hal-hal semacam itulah. Bahkan hal terkecil semisal bunga yang tumbuh pada jaman Dinasti Joseon itu apa, Puan juga tetap mencari sumbernya di internet. Jadi terima kasih sekali jika pembaca memaklumi keterlambatan Puan untuk update. Dan silahkan mem-follow, Puan justru sangat berterima kasih.

3kjj: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak tentunya. Seperti yang sudah Puan jelaskan di atas, ada banyak factor yang membuat Puan terlambat untuk update. Maaf jika membuat pembaca penasaran berlama-lama. Ya, semoga Joongie berhasil membalaskan dendamnya.

Hyejeong342: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, reader baru. Terima kasih juga jika kamu menyukai tulisan Puan ini. Jangan bosan membaca kelanjutannya ya?

Ifa. : Terima kasih sudah berkunjung kembali dan meninggalkan jejaknya, Sayang. Iya, keluarga Go memang sangat licik, semoga cepat-cepat bisa diberantas dari muka bumi ya? Puan akan usahakan untuk update minimal sebulan sekali, Sayang. Harap maklum, banyak sekali kesibukan yang membuat Puan tidak bisa sering update.

Zhe: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Sudah Puan lanjutkan.

Chantycassie: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak. Iya, akhirnya Puan bisa update juga. Puan selaku penulisnya juga menginginkan Joongie tidak akan dibutakan oleh dendamnya. Percayalah, pada dasarnya Joongie adalah anak baik, dia akan terus menjadi baik. Untuk Permaisuri, akan ada saja hal yang ia lakukan untuk menyingkirkan Joongie, tunggu saja di chapter-chapter selanjutnya ya? Hahaha, Puan juga sempat terpikir agar di akhir nanti Permaisuri akan terminum racun yang ia pesan, tapi mungkin saja akan ada hukuman lain buat Yang Mulia Permaisuri yang licik itu.

Madamme Jung: Terima kasih sekali sudah mampir dan meninggalkan jejak di tulisan Puan ini, Madamme. Waaah, ternyata jejak ini lebih panjang dari yang sebelumnya Puan komentari. Hahaha, Puan jadi malu dengan pujianmu, rasanya ingin menceburkan diri ke Sungai Han saking malunya. Eeh? Oh iya, mengenai Go Ahra, sebelum menulis fic ini, Puan hanyalah seorang pembaca, dan sering kali menemukan namanya sebagai tokoh antagonis, karena itulah Puan juga asal mengembat namanya menjadi tokoh antagonis di tulisan Puan, meski sesungguhnya Puan sama sekali tidak tahu rupa Go Ahra itu seperti apa #plaaak. Dan mengenai Junsu, Puan juga berpikiran begitu, meskipun berwajah manis, Junsu tetaplah seorang namja dengan body yang cukup bagus untuk menjadi seorang Kepala Pengawal. Sedikit Puan memberikan bocoran mengenai Changmin, dia akan menjadi Putera Mahkota, hasil pernikahan dari Yang Mulia Raja dengan Yang Mulia Permaisuri. Usianya mungkin tidak akan terlalu jauh berbeda dengan Joongie. Mereka akan bertemu di chapter ke-sekian. Sementara Yoochun, dia akan muncul di chapter mendekati akhir, sebagai tokoh sentral juga sebenarnya. Namun apa karakternya, nanti saja kita sama-sama tunggu ya? Di chapter 4 Puan memang membahas mengenai pembuatan Sup 12 Rasa, juga malam pertama Joongie sebagai selir (bagian paling berat). Sungguh, Puan lebih baik langsung praktek ketimbang menulis adegan NC #double plaaak.

Willow Aje Kim: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak. Ini sudah Puan lanjutkan. Semoga chapter mengenai pernikahan mereka ini tidak mengecewakanmu ya?

Kyoarashi57: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Puan senang sekali jika kamu menyukai karakter manja dan imut Joongie di sini. Rasanya lelah menulis terbayar tuntas. Hanya saja maaf, Puan tidak bisa update secepat mungkin, Sayang.

EMPEROR-NUNEO: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Chapter 4 sudah Puan hadirkan, semoga tidak mengecewakan. Perlahan-lahan, seluruh penghuni istana memang akan langsung jatuh cinta pada sosok selir termuda sepanjang sejarah itu. Tunggu saja ya? Dan untuk Ahra, hahaha, Puan juga berencana seperti itu. tapi lihat saja nanti, Puan belum tahu akan seperti apa balasan yang menimpa wanita jahat itu. Tapi idemu boleh juga, bolehkan bila kemungkinan idemu Puan gunakan?

Andreychoi: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak di tulisan sederhana Puan. Hahaha, tak menyangka ya kalau Selir Suk mesum juga #itu mah Puannya saja yang mesum. Chapter 4 sudah Puan publish, semoga tidak bosan membacanya.

YeChun: Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak, Sayang. Iya, pendukung utama Joongie adalah Selir Suk. Untuk Go Ahra, mari sama-sama kita pikirkan hukuman apa kira-kira yang akan menimpa wanita cantik berhati iblis itu (dalam tulisan Puan saja).

Fuyu Cassiopeia: Terima kasih karena sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Iya, Joongie memang Puan buat menjadi karakter yang mampu mendalami perannya sebaik mungkin.

Vampireyunjae: Terima kasih karena sudah mampir kembali, Sayang. Benar, perjuangan Joongie ke depan tidak akan selalu mulus, hanya saja anak itu sudah terbiasa hidup dengan tempaan alam, jadi ia akan menjadi pribadi yang tegar. Chapter ini mungkin akan lebih panjang dari sebelumnya, semoga tidak bosan membacanya ya?

Hana-Kara: Terima kasih karena sudah berkunjung dan meninggalkan jejak. Iya, kamu benar, Yang Mulia Raja Yi Yunho seumuran dengan eomma-nya Joongie. Ah, usia 30 tahun belum termasuk tua untuk Puan, Sayang. Dan memang, Yang Mulia Raja cinta mati sama Joongie, oleh karena itu beliau bahkan rela melakukan apa saja untuk namja cantik itu. Karena Joongie belum pernah jatuh cinta, ia sendiri tak mampu mengartikan debaran jantungnya saat berdekatan dengan Yang Mulia Raja, tapi di akhir kisah Joongie akhirnya mengerti juga, bahwa sesungguhnya sejak awal juga ia telah jatuh cinta pada suaminya. Mengenai sosok yang dicintai eomma-nya, coba tebak siapa? Sosok ini akan muncul mendekati bagian akhir cerita. Tentu saja akan diungkapkan, Sayang. Ini sudah Puan lanjutkan, semoga tidak mengecewakan ya?

Anugraha cahyaningrum: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Namamu indah sekali. Terima kasih juga untuk pujian dan dorongan semangatnya. Ini sudah Puan lanjutkan, semoga tidak mengecewakan dan membosankan ya?

WineMing: Terima kasih sudah berkunjung dan menyempatkan untuk meningglkan jejak. Aduh, justru menulis NC adalah ujian maha berat buat Puan. Puan mendingan disuruh praktek langsung #plaaakkk. Terima kasih juga sudah mau bersabar menunggu chapter selanjutnya. Semoga di chapter ini tidak malah membuat kamu mabok kekenyangan membacanya karena kelewat panjang ya, Sayang?

Hongkihanna: Terima kasih karena sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Terima kasih juga kalau kamu menyukai tema yang Puan usung. Ini sudah Puan lanjutkan, semoga tidak mengecewakan.

YJS: Terima kasih sudah mampir juga meninggalkan jejak. Ini sudah Puan lanjutkan. Maaf, Sayang, Puan tidak bisa update secepat kilat. Namun bagian ini Puan buat lebih panjang, anggap saja sebagai ganti permintaan maaf Puan sebab tidak bisa sering-sering update ya?

Jongwookie: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak. Iya, ini sudah update. Chapter 4 ini memang berisikan penobatan Joongie sebagai selir. Tidak apa-apa, tidak perlu meminta maaf. Dibaca saja tulisan ini Puan sudah sangat bersyukur, apalagi kalau dikomentari, lebih bersyukur lagi rasanya. Semoga bisa segera berdamai dengan tab-nya ya? Eh?

Jung-jung: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak. Ini sudah Puan update, tapi maaf, Puan tidak bisa update se-ASAP mungkin, Sayang. Ada asap dapur yang juga harus Puan pikirkan, bagaimana agar setiap hari bisa mengepul, hehehe.

Jenny: Terima kasih sudah berkunjung kembali, Sayang. Iya, ini akhirnya update juga #peluk. Iya, Joongie menjadi selir dalam usia muda, namun meski berusia muda, karena sedari kecil Joongie sudah ditempa oleh alam, maka pemikirannya lebih dewasa daripada anak seusianya, meskipun kadang sikap manjanya muncul juga.

JungJaema: Terima kasih sudah kembali mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Hahaha, terkadang kalau sedang jatuh cinta memang menjadi lebay, ya? Bahkan seorang Raja tak luput dari bertingkah begitu, hahaha. Sebenarnya Joongie hanya tidak ingin menyusahkan orang lain, itulah sebabnya ia sering keluar istana diam-diam. Dia lupa bahwa ada seekor beruang besar yang akan marah besar dengan tindakannya itu.

Guest: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, tamu tanpa nama. Aduh, maafkan Puan karena begitu lama baru update sampai kamu melupakan jalan ceritanya. Ini sudah Puan lanjutkan kembali.

SimviR: Terima kasih sudah berkunjung kembali dan meninggalkan jejak, Sayang. Dimana-mana beruang satu itu selalu posesif ya? Apa yang bakal dilakukan oleh Permaisuri kita lihat saja di chapter selanjutnya, yang pasti dia tidak akan tinggal diam, hehehe. Di chapter 4 kita akan sama melihat apakah Joongie berhasil atau gagal membuat Sup 12 Rasa. Selamat membaca dan jangan bosan ya?

Next: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Apakah namamu memang Next atau bagaimana? Ini sudah Puan lanjutkan, selamat membaca, semoga tidak mengecewakan.

Yunjae24: Terima kasih kembali sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Puan akan usahakan untuk memperbanyak YunJae moment-nya ya? Memang harus bersabar, masing-masing memiliki porsi tersendiri untuk diceritakan. Lagipula Yunho disini seorang Raja, tidak mungkin waktunya hanya dihabiskan bersama Joongie saja, hehehe. Terima kasih untuk dukungannya, Puan juga berharap agar ide Puan tidak akan pernah kering. Apa tidak terlalu dekat kalau Permaisuri dibuang ke Mars? Kalo ke alam akhirat saja bagaimana? #plaaakkk.

Vivi: Terima kasih sudah kembali berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Silahkan membaca chapter 4, Sayang, maka kamu akan tahu apakah Joongie berhasil atau tidak. Mengenai Ahra dan keluarganya, mari kita juga nantikan aksi jahat mereka selanjutnya, hahaha.

Diyas: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Ini juga sudah dilanjuuuttt.

TymaghT: Terima kasih banyak sudah mampir dan meninggalkan jejak. Semoga chapter 4 akan menuntaskan rasa penasaranmu ya? Joongie hanya belum menyadari perasaannya, tapi nanti juga dia akan menyadarinya. Usia Yunho 30 tahun. Changmin akan muncul di beberapa chapter lagi, sebagai Putera Mahkota tentunya. Sementara Yoochun akan muncul di bagian mendekati akhir, dengan karakter sebagai sosok yang masih Puan rahasiakan. Ayo tebak, kira-kira Yoochun bakalan jadi siapa?

Kyuura: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak. Puan senang jika kamu menyukai tulisan Puan ini. Ini sudah Puan lanjutkan chapter berikutnya.

Elzha luv changminnie: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Hallo juga #balas kedip. Silahkan membaca, Sayang. DongYi? Puan malah belum pernah menonton drama itu, hehehe. Semoga chapter 4 yang Puan publish akan menjawab pertanyaanmu. Dan mengenai update ASAP, aduh maaf, Puan tidak bisa kalau harus ASAP, Sayang.

Haruko2277: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak ya? Puan senang membuat Joongie dengan karakter yang menggemaskan, imut-imut manja gimana gitu, hahaha. Iya, Yunho memiliki 5 orang selir, hahaha, jangan dibayangkan bagaimana dia membagi jatah malamnya terhadap semua istrinya ya?

The Biggest Fan of YunJae: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak. Puan merasa tersanjung karena tulisan Puan ini adalah fanfic bertema kerajaan pertama yang kamu baca.

YJS: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak. Ini sudah Puan lanjutkan. Semoga tidak mengecewakan.

Sora: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak. Juga buat dukungan semangatnya. Ini sudah Puan lanjutkan.

Damniloveyunjae: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak ya? Ini sudah Puan lanjutkan, semoga tidak mengecewakan.

Lalala: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak. Ini sudah Puan update.

PandaMYP: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Hahaha, jangan bilang begitu, fic ini justru masih jauh dari sempurna, setelah Puan baca dari awal Puan masih menemukan typo-nya malah, hanya saja belum berkesempatan untuk meng-edit.

Nunoel31: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Maafkan keterlambatan Puan update, ne? Puan sudah menjelaskan di bagian awal chapter 4 alasan Puan tidak bisa update ASAP. Mohon dimaklumi.

Guest: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, wahai tamu. Sudikah kiranya memperkenalkan dirimu?

Yjs: Terima kasih sudah komen untuk yang ketiga kalinya, Sayang. Ini sudah Puan update.

Depdeph: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Ini sudah Puan update. Hahaha, Yang Mulia Raja jatuh cinta pada pandangan pertama. Sementara Joongie, pergulatan batinnya akan sedikit diulik di chapter 4. Tenang saja, Joongie tidak melupakan misi balas dendamnya. Kalau bisa membalaskan dendam dan mendapatkan cinta Raja sekaligus, mengapa tidak? Kekekeke.