Lost and Gain Love in Heart
Author : Huang Yue
Pair : KRISTAO-HUNTAO-KRAY-SULAY
Cast : Kris-Tao-Sehun
Support Cast : Lay-Suho
Genre : Romance, Drama, Hurt, Comfort, GS
Warning : Typo is every where
Saya mencintai semua member EXO
Dan juga Wu Yi Fan
.
.
.
.
"Chapter sebelumnya"
"Kris, ada yang….." sebuah suara menginterupsi kegiatan mereka berdua, "maaf aku mengganggu." Kris seketika melepaskan pelukannya pada Tao setelah melihat siapa yang datang. Terlukis gurat kecewa pada Tao ketika Kris melepaskan pelukan itu, namu Kris tak memperhatikan hal tersebut. "tak apa Lay jie, aku akan pulang sekarang. Lay jie dan Kris gege pasti sedang sibuk hari ini." Kata Tao tetap dengan senyumannya. Namun ia memperhatikan sesuatu, ada semburat kekecewaan yang terlihat pada wajah Lay. "sampai jumpa gege, sampai jumpa Lay jiejie" kata Tao mengecup sekilas pipi Kris sebelum pergi. "hati-hati Tao." Jawab Kris. Lay hanya terdiam melihat kepergian Tao. Kini kris tetap terdiam mematung memandang pintu tempat dimana panda kecil itu keluar. "apa kau mulai mencintainya?" Tanya Lay membuyarkan lamunan Kris. Kris tak menyahut, ia hanya beranjak dan menduduki kursi direkturnya. "cepat atau lambat, kau harus memilih salah satu diantara kita Kris. Jika kau masih berhubungan karena kasihan padanya, sebaiknya kau akhiri, sebelum ia jatuh terlalu dalam." Lay diam sesaat tersenyum sinis ketika melihat Kris tak mengeluarkan sepatah katapun, "tapi, jika kau mulai mencintai gadis itu…." Lay menggantungkan kalimatnya, untuk menarik nafas sejenak "aku yang akan pergi" kalimat terakhir Lay membuat Kris benar-benar membisu, kerja otak dan tubuhnya membeku, seolah telah disuntikan berliter-liter formalin kedalamnya. Terdengar debamam cukup keras dari ruang kerja Kris menandakan Lay telah keluar dari ruangannya. Otaknya benar-benar bekerja keras hari ini, "harus memilih?" gumam Kris pada dirinya sendiri. Siapakah yang akan menjadi pilihannya, seseorang yang ia cintai dan sudah 3 tahun bersamanya, ataukah seseorang yang awalnya dikasihani karena kesalahannya dimasa lalu? Kris benar-benar frustasi hingga menjambak rambut pirangnya. Namun satu hal yang terlupakan dalam otaknya, akankah rasa kasihan itu tetap menduduki rasa itu, ataukah rasa itu nantinya berkembang menjadi suatu rasa yeng lebih? Itulah rasa yang terlupakan oleh Kris, ketika otaknya sibuk memprogram, bahwa ia hanya kasihan pada gadis bermata panda itu.
…
STORY BEGIN!
Gadis mungil berambut coklat itu melangkahkan kakinya lebar-lebar, kini ia menapaki batu-batu marmer dan menginjaknya kasar, jika batu tersebut dapat berbicara, mungkin mereka akan protes karena telah diperlakukan kasar oleh gadis tersebut. Sambil sesekali menghapus liquid bening yang mengalir deras dari matanya, ia tetap melangkah tak tentu arah. Otaknya yang sedari tadi kalut tak mampu mambawa nalar diperdulikan tatapan orang-orang yang memandang aneh kearahnya, ia hanya terus melangkah sembari menangis, hingga_
BRUKK!
Gadis itu terduduk jatuh dengan tak elit diatas kerasnya marmer, "Maafkan saya," indra pendengarnya menangkap suara seseorang yang lembut dan tegas. Ia mendongakan kepalanya melihat sosok tersebut. Dilihatnya sosok itu, sosok laki-laki dengan setelan jas, raut kekhawatiran terlihat jelas dari wajahnya. Lama ia memandang sosok itu, hingga laki-laki dihadapannya kembali bertanya. "apa kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?".
Hidung gadis itu bergerak-gerak lucu, bukannya menjawab ia malah menangis semakin menjadi, lelaki yang ada dihadapannya kebingungan melihat tingkah gadis dihadapannya. Banyak orang memandang tajam kearah laki-laki tersebut. "hei, Tuan kenapa kau buat kekasihmu menangis?" bahkan tak jarang ia mendengar lontaran komentar seperti itu dari sekitar pejalan kaki di tempat kejadian tersebut.
"arrgghhhhh.." laki-laki tampan itu mengacak rambutnya dan berteriak frustasi, ia menggenggam pergelangan gadis itu dan menariknya, membawa sosok itu kedalam mobil mewah dan melajukan mobilnya kencang.
"kau mau membawaku kemana?" gaadis itu membuka suaranya dan mulai bertanya.
"tsk, kau diam saja." Kata laki-laki itu.
Kini mereka telah tiba disebuah rummah sakit, laki-laki dengan perawakan sedang itu tetap menarik gadis mungil dan langsung membawanya masuk kedalam sebuah ruangan, yang gadis itu yakini adalah ruang praktek dokter. Setelah mendudukan gadis tersebut diatas tempat tidur pasien, laki-laki itu membuka jas formalnya dan mengganti dengan jas putih. Sambil memasang stethoscope, laki-laki itu bertanya "bagian mana yang sakit?" Tanya laki-laki itu.
"ehh?" gadis itu hanya memiringkan kepalanya menatap bingung laki-laki dihadapannya.
"aku Tanya, bagian mana yang sakit nona, bukankah kau tadi menangis seperti orang gila saat aku tak sengaja menabrakmu? Jadi bagian mana yang sakit?"
Gadis itu terdiam, ia menunjuk dada sebelah kirinya. Laki-laki yang ada dihadapannya mengernyit. "kau sakit jantung?" tanyanya.
Gadis berambut coklat itu kini menggeleng "tidak, hatiku yang sakit, hiks." Gadis itu kembali menangis. Kini lelaki yang mengenakan jubah putih itu mengerti. 'sepertinya gadis ini sedang patah hati' gumamnya. Ia merogoh saku jubah putih-nya dan mngambil sebatang coklat. "untukmu" gadis itu menerima sodoran coklat yang diberikan lelaki dihadapannya.
Ia menggigit-gigit kecil batangan coklat tersebut perlahan, ada suatu perasaan tenang yang menyeruak dihatinya ketika coklat itu melumer dalam mulutnya. "aku Suho, dokter specialis jantung disini" kata laki-laki itu menyodorkan tangannya, setelah ia melihat gadis itu sedikit tenang. "L..hiks Lay" kata gadis itu.
"apa kau sedang patah hati?" Tanya Suho -dokter tersebut- hati-hati.
Lay hanya terdiam, menundukan kepalanya. Suho menghela nafas, ia tahu ini adalah hal yang tak mungkin untuk diceritakan kepada seseorang yang baru dikenal. "baiklah, kau-"
"aku kecewa" Lay memotong perkataan Suho. "aku kecewa terhadap diriku sendiri, yang tak mampu mempertahankan orang yang aku sayang, aku kecewa terhadap kekasihku yang kini mempertahankan seseorang yang ia kasihani" kembali Lay terdiam. Matanya tetap memandang lantai putih ruangan tersebut. "aku tak tega menyakiti orang itu, dengan mengatakan apa yang ia claim selama ini sebenarnya adalah miliku. Tapi aku juga tak bisa terus-terusan terdiam jika semua orang tau kalau dia adalah milik orang itu, yang sebenarnya adalah milikku, jauh sebelum orang itu ada!" lay sedikit meninggikan suaranya menahan emosi. Air matanya kembali mengalir bahkan coklat yang ada dalam genggamannya kini remuk saking kuatnya ia genggam.
Suho yang sedari tadi terdiam mendengarkan gadis mungil dihadapannya, kini beranjak mendekat gadis tersebut sambil menarik kursi ia duduk dihadapan gadis itu. "Untuk apa mempertahankan suatu hubungan jika itu menyakiti salah satunya?" entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan, Lay kini mendongakana kepalanya menatap Suho, sedikit terperangah ia menatap senyuman angelic dari lelaki tampan yang ada dihadapannya kini. "Untuk apa bersikeras berdiri tegak jika kakimu telah patah?" kembali Lay dibuat terdiam oleh dokter muda dihadapannya kini. "kau tahu, kadang merelakan bukan berarti kehilangan, jika kau benar-benar tahu bagaimana orang yang kau cintai bahagia, lakukannlah. Meski dengan cara mengorbankan diri sendiri. Dan satu hal lagi, mungkin kebahagiannmu bukan ada padanya."
Sungguh, ia tak tahu apa yang sedang merasuki otaknya hinga percaya menceritakan masaalahnya kepada laki-laki yang baru ia kenal. Namun satu hal yang ia tangkap, dokter muda dihadapannya kini bagaikan malaikat. Dia membuat perasaan kalut Lay memudar. 'apa karena dia seorang dokter, jadi ia mampu menenangkan seseorang?' batin Lay dalam hati.
…
…
Tao berjalan riang menuju rumah sakit tempat dimana sahabatnya dirawat. Hari ini ia membawa bento untuk dimakan bersama sahabatnya itu. Setibanya ia padaa sebuah rumah sakit, ia bergegas menuju lantai 2 menggunakan lift dan Mencari kamar yang bertuliskan angka 210. Tanpa mengetuk pintu Tao langsung masuk menuju kamar tersebut.
"Hai Sehun!" sapa Tao riang.
"aish, kau mengejutkan ku, tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu." Kata Sehun sedikit memberenggut.
"hehe,, maaf." Jawab Tao sambil cengengesan. "kau tahu, hari ini aku membawakanmu bento dengan telur gulung yang aku taburi rumput laut." Tao mulai mengeluarkan 2 buah kotak besar yang berisi makanan.
"benarkah?" Tanya Sehun antusias.
"tentu saja, kau lihat sendiri aku membawa apa." Jawab Tao sambil menepuk nepuk kotak yang ia bawa. Sehun segera beranjak dari tempat tidur rumah sakit dan menyambar kotak tersebut. Matanya berbinar ketika ia membuka kotak bekal itu dan melihat isinya. Dengan cepat pemuda berkulit putih itu menyumpit gulungan telur tersebut dan memasukkannya kedalam mulut kecilnya.
"ini sangat enak Tao." Kata sehun dengan mulut penuhnya.
"telan dulu makananmu, baru kau berbicara." Ucap tao sembari menjitak lembut dahi Sehun. "dan lihatlah, kau seperti orang yang tak pernah makan selama setahun saja."
"aishh,, kau tahu kan aku sangat menyukai gulungan telur ini, wajar saja jika aku memakannya dengan semangat." Gerutu Sehun.
Gadis manis berambut hitam legam itu hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya. Ia menunggui sehun makan dengan senang hati. Sesekali Tao mengusap lembut bibir Sehun yang belepotan, dan itu sukses membuat pemuda bersurai madu tersebut merona. "kenapa wajahmu memerah, kau demam?" Tanya Tao sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Sehun.
"ah, ti-tidak,, hanya saja makanan ini benar-benar enak." Jawab Sehun gugup.
Ceklek…
Kamar rawat Sehun terbuka, menampilkan seorang dokter dengan senyum malaikatnya. "Hai Tao, wah kalian sedang makan ya?" Tanya dokter tersebut.
"hai juga dokter" jawab Tao riang. "iya, Sehun sangat menyukai telur gulung dokter, kau bisa lihat dari caranya makan." Tao berucap sambil menunjuk-nunjuk mulut Sehun yang belepotan. Dokter tersebut hanya tersenyum.
"Bagus Sehun, makanlah yang banyak, agar kau cepat sembuh." Kata dokter tersebut sambil mengusap lembut rambut sehun. "baiklah Hyung." Jawab Sehun.
"Dokter, kau mau mencoba masakanku?" Tanya Tao "aku masih membawa satu kotak lagi." Kata Tao sambil mengangkat kotak tersebut.
"Apa boleh aku mencicipinya." Tanya dokter muda itu.
"Tentu saja." Tao menyerahkan kotak tersebut dengan senang hati. Ia selalu bahagia, ketika ada seseorang yang mau memakan masakannya.
"Oya Tao, berhentilah memanggilku dokter, kau ini sahabat adiku Sehun. Jadi kau bisa memanggilku oppa, kurasa itu lebih baik." Dokter muda itu berkata dengan mulut penuh. Tao terkikik melihat tingkah dokter tersebut. 'kakak dan adik tak ada bedanya' batin Tao dalam hati.
"Baiklah, Suho oppa." Jawab Tao riang.
Setelah selesai bercengkrama dan makan bersama, Suho kembali ke ruang kerjanya. Kini hanya ada Sehun dan Tao yang ada dalam ruangan tersebut. "apa yang kau lakukan?" Tanya Sehun yang melihat Tao sibuk mengacak acak rak bawah. "Aku ingin menonton film, kau tahu, setelah berminggu-minggu sibuk berkutat dengan pasal-pasal aku ingin menyegarkan otak ku denggan film-film romantic." Curhat Tao yang masih sibuk mengacak-acak rak tersebut. "tapi mengapa disini hanya ada film horor semua?" Gadis itu bergidik ketika melihat tumpukan kaset yang hanya diisi oleh film horor. "apa kau tak takut menonton film horor di rumah sakit?" lanjutnya.
"Aisshh,, film romantic itu menjijikan kau tahu." Jawab Sehun menaggapi Tao. Sehun berbalik ingin tidur, namun ia terlonjak ketika mendengar pekikan dari mulut seorang gadis. "Aku dapat" pekik Tao senang. Ia memperlihatkan kepingan kaset romatic. Sehun hanya menaikkan sebelah alisnya melihat kaset tersebut. "Lalu?" Tanya sehun.
"Ayo kita menonton ini." Teriak Tao semangat.
"Kau tonton saja sendirian, aku tidak suka film seperti itu." Ucap Sehun sambil mebalikan tubuhnya memulai tidur. Namun gerakkannya terhenti ketika ia merasakan goncangan keras pada tubuhnya.
"Ayolah Sehun, temani aku menonton" ucap Tao sambil tetap menguncang-guncang keras bahu Sehun. Sehun semakin menutup telinganya dengan bantal, "Kalau kau mau menonton film chucky, baru aku akan menemanimu". Kata Sehun dengan suara teredam oleh bantal.
"Yaakk!" Sehun berteriak ketika Tao membalik paksa tubuhnya. Ia menatap mata Tao yang sudah nyaris mengeluarkan air mata. Ujung bibir gadis itu berkedut, Sehun menghela nafas. Ia tak bisa menolak jika Tao sudah berwajah seperti itu.
"Baiklah, aku akan menemanimu." Jawab Sehun pasrah.
"Yeey,, kau memang yang terbaik Sehun." Pekik Tao riang sambil memeluk Sehun tiba-tiba. Sehun yang dipeluk tiba-tiba menegang,'Tck, Panda bodoh ini selalu melakukan tindakan mengejutkan' batinnya.
"kau tidak jadi menangis, dasar air mata buaya." Gerutu Sehun. Gerutuan Sehun hanya ditanggapi cengiran asal dari Tao. "Kalau tidak seperti itu, kau tak akan mau." Ucap tao sambil menjulurkan lidahnya. Sehun hanya menghela nafas, namu ia sedikit tersenyum melihat tingkah konyol gadis dihadapannya itu.
20 menit kemudian mereka sudah terdiam larut dalam film yang mereka tonton. Sebenarnya hanya Tao yang larut dalam film cinta transformer dari novel karangan "Jane Austen" tersebut. Sehun hanya sibuk memandang wajah Tao yang sedari tadi mengeluarkan berbagai macam ekspresi, seperti tersenyum, terkadang terkikik sedikit, menangis, memberenggut sambil mengerucutkan mulut mungilnya, sungguh ia benar-benar mengagumi sosok malaikat yang ada di hadapannya. Kini ia melihat wajah Tao yang bersemu merah, penasaran dengan apa yang dilihat Tao hingga membuat wajah gadis tersebut bersemu, Sehun mengalihkan pandangannya pada benda berbentuk kotak tersebut. Kini giliran Sehun yang bersemu merah, melihat adegan ciuman dari serial drama klasik yang ditontonnya. Entah sengaja atau tidak, mata mereka betemu. Sehun memandang lekat wajah Tao, tergoda akan bibir kissable tersebut, dengan memberanikan diri, Sehun memajukan wajahnya mempersempit jarak antara keduanya, Tao hanya mengerjapkan matanya lucu melihat Sehun yang terdiam. Kini wajah Sehun tinggal 10 cm dari wajah Tao.
Hacchiimmmm…
Tao bersin, dan itu sukses membuat Sehun menyingkir. Wajah Sehun kini sudah basah oleh cipratan sisa dari –entah itu ingus atau liur Tao-. "kau menjijikan." Gerutu Sehun.
"siapa suruh berada dekat dengan wajahhku, kau tahu aku menatapmu karena tiba-tiba saja hidungku gatal." Gumam Tao sambil menggaruk-garuk hidung bawahnya.
"sudahlah, aku mau tidur." Sehun berjalan kearah ranjangnya, dia sedikit kesal. Entah karena tak jadi mencium Tao atau terkena cipratan dari cairan yang Tao keluarkan secara bersamaan dari bibir dan hidungnya.
"Sehun, kakimu sudah baik-baik saja?" Tanya Tao terkejut yang melihat Sehun berjalan tanpa bantuan kursi rodanya. Sehun tak menjawab, ia tetap membaringkan tubuhnya dan membelakangi Tao. Tao yang kini sudah berada disebelah ranjang Sehun mengusap surai madu tersebut lembut. "baiklah, jika kau ingin tidur, istirahatlah, aku harus kembali ke apartement ku. Selamat tidur." Ucap Tao, lalu mengambil tas selempangnya dan berjalan keluar kamar rawat Sehun.
Sehun yang sedari tadi hanya memejamkan matanya tanpa berniat tidur sedikitpun mulai membuka mata dan menatap kearah langit-langit kamar yang di dominasi warna putih tersebut. Sudah berapa lama ia menempati kamar ini? Entahlah, ia sendiri bingung. Karena semenjak Tao menemaninya, ia merasa berada di tempat ini menjadi menyenangkan. Tao- otaknya berputar lagi pada gadis manis itu. "tsk, apa yang aku fikirkan, aku hampir menciumnya tadi." Geramnya sambil mengacak surai madunya.
Sehun beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil segelas air, tiba-tiba jantungnya berdetak dengan cepat, nyeri semakin menjadi ketika ia mecoba untuk berdiri. Kakinya lemas dan ia jatuh terduduk dilantai. Sejak kecil ia di ketahui memiliki lemah jantung, namun beberapa tahun terakhir, ia telah di diagnose mengidap kanker otot jantung, yang terkadang mampu melemahkan sel-sel serta persendiannya. Itulah mengapa ia kadang kala menggunakan kursi roda untuk membantunya berjalan, ketika lumpuh pada kakinya datang meski itu temporal, tapi jika dalam jangka lama itu bisa saja menjadikannya permanen, dan kini ia hanya bermain dengan waktu.
Kembali pemuda berkulit seputih susu itu mencoba berdiri, namun sia-sia. Dada kirinya semakin menjadi, kakinya pun bahkan tak bisa diajak kompromi, ia memilih merebahkan tubuhnya diatas lantai yang dingin berharap rasa sakit itu hilang.
CEKLEK
Pintu kamar rawat sehun kembali terbuka, menampakan seorang dokter muda dengan wajah malaikatnya. "Sehun!" pekik dokter tersebut. "apa yang terjadi?" tanyanya sambil mengankat tubuh Sehun dan membawanya keatas ranjang rumah sakit.
"sa.. sakit hyung" rintih Sehun. Suho-dokter tersebut- mengarahkan stethoscope nya ke dada Sehun, dapat ia rasakan detak jantung Sehun berdetak lebih cepat dari manusia normal, ia menyuntikan beberapa cc obat penghilang rasa sakit pada tubuh Sehun. Pemuda bersurai madu itu sedikit lebih tenang, ia sudah terlelap dalam diam.
Suho menatap adik tersayangnya, inilah alasan ia menjadi seorang dokter ahli jantung. Agar ia bisa merawat adiknya dengan tangannya sendiri. "kau harus cepat operasi dan mendapatkan donor jantung Sehun." Ucap Suho masih tetap menatap adiknya.
…
Matahari merambat hangat melewati celah-celah kecil dari jendela kamar yang tak tertutup rapat. Tirai gorden yang sedikit melambai membuat sinar itu dengan mudah masuk menerpa wajah tampan seorang pria yang masih bergelung dalam selimut tebalnya. "uhh.." pemuda tersebut mengerang kecil ketika rasa hangat dari sang pembawa cahaya itu mengusik tidurnya. Kembali ia mengangkat selimut itu hingga menutup wajah tampannya. Ia merasa kembali nyaman ketika sinar itu terhalangi oleh selimut putih yang menutup seluruh tubuh eksotis laki-laki tersebut.
Drrrtttt
Drrrtttt
Drrrtttt
Getar suara handphone kini kembali mengusik tidur tenangnya. Hell.. ini weekend. Dan hanya hari ini ia bisa beristirahat sepuasnya. Apakah mereka tidak tahu kalau ia harus bekerja keras karena posisinya sebagai direktur. Awalnya ia tak mengindahkan panggilan dari Polaroid putih miliknya. Namun lama-kelamaan ia merasa terganggu juga, akhirnya dengan malas ia mengambil handphone tersebut. Tanpa melihat nama yang terpampang pada layar gadget-nya, ia mulai menjawab telepon tersebut.
"halo?" sapanya dengan suara serak.
"selamat pagi gege" sapa suara seorang disana. 'tck, pandanya ini, apakah ia selalu bersemangat?' Tanya Kris-laki-laki tersebut-dalam hati 'pandanya?' mata Kris benar-benar terbuka semua. Apa yang ia fikirkan, apakah ia sudah meng-claim gadis ini bennar-benar miliknya? Itulah yang kini berputar-putar pada otak Kris.
"emm.. gege, apakah aku mengganggumu?" Tanya Tao hati-hati dari panggilannya.
"tidak, Tao. Ada apa?" Tanya Kris yang kini mulai berjalan menuju kamar mandi.
"emm,, apakah hari ini gege ada waktu?" Tanya Tao.
Kris menghela nafas sejenak "kau ingin jalan-jalan?" tebak Kris.
"ehh,, tidak gege, aku hanya ingin mengenalkan gege pada seseorang." Ucap Tao ragu
'seseorang' batin Kris, setahu pria bersurai pirang ini, Tao tak memiliki siapapun selain dirinya. Kecuali Luhan, sahabat Tao yang kini kembali ke-China kota kelahirannya. "baiklah, 30 menit lagi aku akan menjemputmu di apartement." Jawab Kris tanpa bertanya apa-apa lagi.
"terima kasih gege." Jawab Tao lalu mematikan sambungannya.
Kris kini mulai menyalakan showernya, mengguyur tubuh atletis pemuda tersebut dengan dinginnya air sambil mengusir kepenatan yang mengganggu otaknya. Beberapa menit kemudian ia keluar dengan handuk yang menggantung dipinggangnya, tangan kanannya sibuk mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil dan tangannya kirinya sibuk mencari pakaian di lemari besarnya. Setelah menemukan pakaian yang menurutnya cocok, Kris menggunakan pakaian tersebut. Hanya selembar kaos hitam dengan kerah v, jins abu-abu pudar yang membungkus kaki jenjangnya dan sweater rajut dengan wol abu gradasi hitam.
Setelah dirasanya lengkap, ia menuruni tangga menuju rak sepatu dan memakai sneakers hitamnya. "kau mau kemana?" Tanya seseorang yang baru datang mengintrupsi kegiatan Kris. Laki-laki bersurai pirang itu mendongakan kepalanya sedikit menatap siapa yang ada dihadapannya. "kau tak pernah pergi kalau weekend, kau mau kemana?" Tanya orang itu lagi.
"aku akan pergi dengan Tao sebentar, Lay" Ucap Kris setelah selesai memakai sneakersnya.
Lay berdecih tak suka menatap Kris, "apa sekarang waktumu hanya untuk Tao?" Tanya Lay sarkatis.
"Lay, jangan memulai lagi, aku tak ingin mood ku rusak." Jawab Kris kini mengambil kunci mobilnya.
"jadi, moodmu kini baik saat akan pergi dengan gadis bodoh itu?" Lay tersenyum masam. Jujur lidahnya tak ingin mengatakan hal-hal buruk tentang orang lain, itu bukan kebiasaannya. Tapi kata itu keluar saja ketika emosinya naik mengingat hubungan rumit yang ia jalani.
"bukan begitu, aku hanya-"
"hanya apa?" Lay memotong perkataan Kris. Kris yang tak ingin bertengkar di pagi hari dengan sang kekasih, memilih untuk diam dan mebuka pintu. Namun ketika ia hendak keluar, suara Lay kembali menghentikan gerakannya. "mungkin setelah melihat ini, apa kau masih kasihan pada gadis itu?" Lay kini tersenyum, tidak ia meyeringai ketika ia meletakan beberapa lembar kertas lebih tepatnya foto. Kris mengambil foto-foto tersebut lalu memandangnya. Sedikit membeku dengan apa yang dilihatnya, beberapa foto yang memperlihatkan gambar seorang gadis tengah memeluk laki-laki disebuah pantai, gadis itu Tao.
"apa kau masih peduli pada gadis itu? Bukankah ini bagus sebagai bukti untuk kau memutuskannya?" Lay kembali bersuara sambil menatap Kris tajam. Kris tak bergeming sedikitpun, ia tetap menatap foto tersebut. Sungguh ia tak percaya pada apa yang dilihatnya kini, namun sedikit rasa kecewa menyeruak ketika melihat gadis yang selama ini ia kasihani memeluk laki-laki lain.
"kenapa kau hanya diam? Putuskan dia sekarang juga!" paksa Lay. Kris tidak melakukan apapun. Matanya kini beralih menatap Lay, "darimana kau mendapatkan ini?" Tanya laki-laki berpostur tubuh tinggi itu parau.
"aku melihat dia ketika berjalan-jalan pagi di pantai." Lay menjawab sambil berjalan menuju sofa, ia mendudukan dirinya. "kenapa? Kau tak percaya?" Lay kini menatap Kris, pandangan mata yang menusuk itu tak mampu membuat Kris beranjak dari tempatnya. "jadi kau lebih percaya dia daripada aku, padahal kau jelas-jelas melihat buktinya?!" Lay menaikkan nada suaranya, sungguh ia telah lelah dengan apa yang terjadi, difikirannya ia hanya ingin memiliki Kris kembali seutuhnya. Namun Kris seolah menolak apa yang ia inginkan.
"Lay, sudahlah. Biarkan aku berfikir sejenak!" Kris kembali bersuara, namun kali ini ia menaikan nadanya.
"Apa lagi yang kau fikirkan, ini sudah sangat bagus untukmu memutuskan gadis bodoh itu." Kini giliran gadis mungil ini yang menaikkan nadanya. Gadis ini kini beranjak dari sofa empuk yang ia duduki, berjalan perlahan menuju kekasih yang berdiri tegak dihadapannya. Ia memeluk Kris posesif, seakan Kris akan pergi meninggalkannya. Kris yang dipeluk Lay hanya terdiam, ia tahu Lay sedang menangis ketika ia merasakan dadanya basah oleh airmata gadis yang selama 3 tahun bersamanya.
…..
…
Tao menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. Sedari tadi ia menunggu sang kekasih hati untuk menjemputnya sesuai waktu yang di janjikan. Namu kini waktu telah terlewat lebih dari 60 menit. Tao akhirnya memutuskan untuk menemui kekasihnya di apartement Kris. Ia berjalan keluar menunggu taksi yang lewat. Setelah berhasil mendapatkan taksi, Tao menyebutkan alamatnya. Dalam perjalanan, Tao gelisah. Entahlah, kenapa hatinya merasa sakit. Ia hanya berdoa dalam hati, semoga kekasihnya baik-baik saja.
Setelah tiba di apartement mewah, Tao berjalan meuju kamar Kris. Gerakan tangannya untuk memencet bel tertunda ketika melihat pintu apartement Kris tidak tertutup rapat. Fikiran aneh muncul di kepala Tao, karena tak biasanya Kris membuka pintunya. 'apakah ada perampok? Atau ada pencuri saat Kris gege sedang mandi?' itulah yang kini ada dalam fikiran polos gadis panda tersebut. Dengan cepat Tao menerjang masuk ke dalam ruangan itu.
"Kris Ge-" ucapan Tao terhenti ketika melihat pemandangan menyakitkan. Lay yang sedang memeluk Kris posesif dan Kris membalasnya sambil mengecup kening Lay.
DEG
Rasa sakit di dadanya benar-benar menusuk hingga organ paling dalam.
"Tao." Kris melepas pelukannya pada Lay, ketika melihat Tao membeku di depan pintu apartemennya. Tao tak menjawab, ia hanya menundukan kepalanya menatap lantai. Bahunya bergetar menandakan ia sedang menangis. Kris mulai berjalan perlahan mendekati Tao. Tangannya hendak ingin menyentuh pundak Tao terhenti ketika Lay menangkap sebelah tangannya.
"Kris, ini saatnya kau mengambil keputusan." Tao mendongak ketika Lay mengatakan kalimat tersebut. Matanya menatap Kris seolah bertanya 'keputusan-apa?'
"kau pasti bingung kan Tao?" Lay berjalan mendekati Tao, dan melemparkan lembar-lembar foto yang ia tadi tunjukan pada Kris. Tao mengambil foto-foto tersebut dan menatap lembar-perlembar foto tersebut. Itu fotonya dengan Sehun ketika di pantai.
"ini tak seperti yang kau duga Kris gege." Ucap tao sambil terisak.. Seolah mengerti apa yang ada di fikiran Kris dan Lay "dia adalah seseorang yang tadi aku ingin kenalkan padamu, dia sahabat baruku." Ucap Tao sambil memegang ujung sweater Kris.
Lay kembali berdecih tak suka, akhir-akhir ini ia selalu berdecih seperti itu. "itu hanya kedok mu untuk menutupi kalau dia selingkuhanmu kan?" ucap Lay memojokkan.
"tidak, jie. Dia benar sahabatku" ucap Tao. Kini air mata sudah mengalir deras dari pelupuk matanya.
"berhenti berbo-"
"Lay cukup!" Suara Kris memotong ucapan Lay.
"kenapa kau membentakku Kris?!" Lay berucap dingin, rahangnya mengeras. "gadis bodoh ini yang harusnya kau teriaki bukan aku!" Lay menunjuk Tao sarkatis.
"a-aku minta,, hisk maaf gege, jika kau salah paham. Tapi aku bersumpah kalau dia bukan selingkuhanku." Ucap Tao. Kenapa dia yang harus di hakimi disisni? Bukankah ia yang harus nya menghakimi Kris dan Lay yang sedang berpelukan dan Kris mengecup kening Lay. Kenapa semua jadi memojokkan dia. Itulah yang ada dalam fikiran Tao. "kenapa Kris gege, mencium kening Lay jie-jie" kembali Tao berucap, tak tahan dengan ribuan pertanyaan yang memenuhi otaknya.
Tubuh Kris menegang, ketika mendengar pertanyaan Tao. Lay? Dia tersenyum sinis.
"apa kau mau tahu yang sesungguhnya?" Tanya Lay.
Tao menatap Lay bingung, namun otaknya menangkap sesuatu. "apakah Lay jie-jie berselingkuh dengan Kris gege?" tebak Tao.
"selingkuh? Aku?" Lay kini tersenyum seram. "harusnya julukan itu ada pada dirimu gadis bodoh." Ucap Lay
"Lay sudah!" Kris kembali menghentikan apa yang ingin Lay ucapkan. Sebagai lelaki ia benar-benar merasa tak berguna, otak cerdasnya tiba-tiba tak berfungsi kali ini. Kris menarik tangan Tao mencoba membawanya keluar. Namun Tao menepis tangan tersebut. Sejenak laki-laki bersurai pirang itu membeku, baru pertama kali ini Tao memperlakukannya kasar.
"tolong jelaskan padaku" kembali Tao terisak "apakah kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" ia berjalan menuju Lay. Memegang kedua pundak Lay sambil menatapnya dengan mata penuh air mata. "Tolong jie, jelaskan padaku" isaknya.
Sesaat Lay tertegun, tak tega menyakiti gadis polos ini. Namun egonya lebih besar dari rasa kasihan dan ketulusan yang selama ini menjadi dasar sifatnya. Lay melepaskan pegangan bahu Tao dan menatap Kris.
"kita memang harus mengatakannya Kris" ucap Lay ketika mengetahui ketegangan dari wajah Kris."Tao" Lay membuka suara dan menghela nafas.
"selama ini aku dan Kris sudah berpacaran 3 Tahun, jauh sebelum kau datang."
Jderrrrrrrrrrr
Bagaikan petir yang menyambar hati Tao, hatinya sakit seolah ditusuk oleh ribuan jarum.
"Kris berpacaran dengan mu hanya karena kasihan, karena-" ucapan Lay terhenti. Tao menegang menunggu kelanjutan dari perkataan Lay. Dan Kris menatap kosong pada kedua gadis yang kini sudah memasuki kehidupannya. "karena Kris tanpa sengaja menyebabkan orang tua mu kecelakaan." Akhirnya kelanjutan dari kata-kata Lay, benar-benar membuat Tao tak mampu berdiri. Kakinya tiba-tiba lemas seperti jelly. Ketakukan, ketika Lay menyebutkan tentang kematian kedua orang tuanya membuatnya kembali memutar otak. Luka lama yang tertutup rapat-rapat kini terbuka kembali, menganga. Bahkan lebih lebar dari sebelumnya. Bayangan-bayangan tentang masa lalu yang kelam, kembali menguar setelah sekian lama tersimpan rapi dalam peti memori.
Gadis mungil itu meringkuk, memeluk lututnya dan menangis. Kini ia berteriak sejadi-jadinya sambil menutup kedua telinganya. Bagaimana bagian-bagian dari kepingan masa lalu itu jatuh satu persatu, membangkitkan sebuah phobia hebat yang membuatnya seperti kehilangan jiwa.
Lay terpaku menatap Tao, ia tak tahu, jika apa yang telah ia ungkap selama ini akan berdampak sangat parah. Tangisan dan teriakan pilu dari gadis bermata panda itu masih terdengar sangat keras. Jujur ia sendiri sangat sakit mendengar tangisan tersebut. Rasanya seperti mendengar lagu kematian, 'apakah sebegitu sakitnya?' ucap lay dalam hati namun masih tetap memandangi gadis itu. Tangannya terulur bermaksud menenangkan gadis yang ada dihadapannya. Namun gerakkannya terhenti ketika Kris memeluk gadis itu. Awalnya memang tak rela, melihat kekasihnya memeluk orang lain. Namun ia tak mau dinggap jahat ketika telah membuat seseorang bagaikan kehilangan jiwa.
BRUAAKKK
Kris terdorong jauh, Tao mendorong Kris hingga terjerembab kebelakang. Matanya menatap Kris takut. Seolah Kris adalah pencabut nyawa. Kris yang ditatap seperti itu merasakan sakit di jantungnya. Dejavu, semua terasa terulang bagaimana Kris yang pertama kali melihat Tao menderita sama seperti ini. TIDAK, kali ini lebih menyakitkan karena ia telah dua kali membuat gadis polos ini menderita karenanya.
Kembali Kris mencoba berdiri untuk merengkuh gadis itu. Namun pekikan serak menghentikan langkahnya. "Berhenti!" teriak Tao.
"Jangan mendekat, aku mohon" Tao masih menangis sejadi-jadinya. Namun kini ia berhasil mengontrol kedua kakinya untuk berdiri. Ia berlari keluar dari apartement Kris yang kini baginya adalah neraka.
Kris hendak menyususl, namun gerakannya terhenti ketika tangannya digenggam oleh seseorang. "biarkan ia menenangkan dirinya dulu Kris." Ucap Lay pelan.
Kris tersenyum sinis "kau sudah melihatnya bukan?" Tanya Kris sarkatis. Ia mendudukan dirinya di sofa sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "kau sudah melihatnya bukan saat ia hancur? Kau tahu bukan, bagaimana sakitnya melihat ia menderita. Dan itu semua karena aku!" terisak. Kris menangis. Ini pertama kalinya Lay melihat Kris menangis. Setelah 3 tahun bersama Kris, ia tak pernah sekalipun melihat kekasih hatinya menangis seperti ini, demi seorang gadis lain. Lay berjalan memeluk Kris, menenangkan laki-laki yang dicintainya. Kembali Lay merasakan keraguan, apakah Kris menangis karena rasa bersalahnya, ataukah ia mulai jatuh cinta dan merasakan sakit ketika melihat seseorang yang dicintainya menderita? Pertanyaan itu berkecamuk dalam benak Lay.
.
.
.
.
.
.
.
.
.TBC
Haloooo,,,
Maafkan keterlambatan saya meng-update cerita ini.
Ini adalah waktu luang yang saya sediakan, di sela-sela kesibukan saya.
Fikiran saya berkecamuk ingin melanjutkan, tapi aktifitas saya tidak dapat saya abaikan.
Maaf jika mengecewakan.
Dan
Terima Kasih karena masih setia membaca cerita ini.
Mohon di-review fanfic abal ini.
Dan terima kasih sekali lagi bagi yang sudah me-review fanfic ini.
Maaf saya tidak dapat membalas satu-persatu, saran, kritik, tanggapan anda sangat saya hargai.
:*
