Annyeong~ Author abal-abal kembali lagi. Maaf kalau chapter ini updatenya nggak secepat chapter-chapter sebelumnya *bow*. Sekali lagi terima kasih atas review, favorite dan follow dari pada readers yang baik hati. Semoga suka sama chapter ini ya~
Happy reading
.
.
.
Baekhyun menjulurkan kepalanya tinggi-tinggi, mencoba melihat diantara kerumunan orang yang sama-sama menunggu sepertinya. Ia berada di terminal kedatangan bandara, tapi dengan ramainya orang, bahkan dengan high heels gadis itu masih sulit melihat jelas.
"Hei, pendek. Kami disini" Seseorang memukul bahunya dari belakang, membuat gadis itu langsung memutar badannya dan memekik kegirangan.
"TAO-YA" Ia memeluk orang yang baru saja memukulnya, gadis itu jelas jauh lebih tinggi darinya.
"Aku tidak percaya kau tidak bisa melihat kami keluar" Tao terkekeh dibahu Baekhyun.
Baekhyun melepas pelukannya dan merengut pada Tao, "Oke baiklah, berhenti berbicara mengenai tinggiku. Aku merindukanmu" Dua gadis itu kembali berpelukan.
Setelah beberapa menit berpelukan dan melompat-lompat seperti anak kecil, Baekhyun melepaskan Tao.
"Tidak merindukanku?" Sebuah suara terdengar disamping mereka dan Baekhyun langsung mengalihkan pandangannya pada sumber suara itu. Ia mengerutkan dahi, pura-pura berpikir.
"Entahlah, biar kupikirkan dulu."
Pria itu tersenyum meremehkan mendengar jawaban Baekhyun, "Jadi kau benar-benar sudah membuang mantan kekasihmu ini karena sudah menikah? Kau sangat kejam, nona Byun!"
Baekhyun tertawa geli lalu menghambur memeluk pria itu, "Aigoo, bagaimana mungkin aku tidak merindukan pria tampan ini. Coba kulihat, apa kau semakin bertambah tampan, ge?"
"Tentu saja. Dengar itu, Tao? Aku memang tampan." Tao mendengus.
"Apa Tao masih belum jatuh dalam pesona seorang Kris Wu?" Baekhyun bertanya, menatap Tao dan Kris bergantian.
"Tidak akan! Berhenti berpelukan, aku haus!" Tao berjalan meninggalkan dua orang yang menggodanya itu.
Baekhyun terkikik geli sekali lagi, ia melepaskan dirinya dari pelukan Kris dan berlari mengejar Tao lalu menggandeng lengan gadis itu.
"Jadi apa yang kalian lakukan disini?" Baekhyun membuka obrolan setelah mereka bertiga duduk santai di salah satu kafe di bandara.
"Direktur Wu memutuskan untuk memperlebar sayap bisnisnya dengan membuka toko disini. Tebak siapa yang bertanggung jawab untuk urusan ini?" Tanya Tao.
Kris mengangkat tangannya menjawab pertanyaan Tao.
"Dan tebak siapa yang ikut diseretnya?"
Baekhyun menahan senyum, lalu menunjuk Tao dengan jarinya. Kris Wu dan Huang Zitao, dua orang terdekat yang dikenalnya saat melanjutkan pendidikannya di Hong Kong. Tao adalah roommate sekaligus calssmate-nya ketika kuliah dulu. Sedangkan Kris adalah orang yang mereka kenal saat bekerja magang di salah satu perusahaan demi tugas kuliah. Kris merupakan salah seorang perwaris perusahaan milik keluarga besar Wu, dan Kris adalah mantan kekasihnya. Hubungan mereka hanya bertahan dalam waktu yang singkat namun walaupun begitu mereka masih berhubungan baik hingga sekarang. Baekhyun memutuskan kembali ke negaranya setelah menyelesaikan pendidikannya, sedangkan Tao bertahan bekerja bersama Kris.
"Jadi kalian akan pindah kesini?" Baekhyun berbinar-binar membayangkan hal itu.
"Hmm, mungkin untuk beberapa waktu."
Baekhyun semakin berbinar, ia memeluk Tao sekali lagi. Tao hanya memutar matanya lalu menarik Baekhyun menjauh dari tubuhnya.
"Nah nona Byun, mari membicarakan bisnis" Tao memulai dengan serius. "Aku tidak akan mempermasalahkan kenyataan bahwa kau menikah tanpa mengundangku. Ingat, tanpa mengundangku! Sebagai gantinya, aku akan menunggu surat lamaran kerjamu karena jujur saja, toko baru kami akan membutuhkan pegawai dan kau seharusnya merasa beruntung karena aku akan menerimamu sebagai salah satu pegawaiku."
Tao menyelesaikan kalimatnya dengan sempurna, membuat Baekhyun melongo. Ia menunjuk dirinya, "Aku?"
"Hmm. Kau tahu perusahaan kami bergerak di bidang fashion, jadi tidak ada salahnya memiliki pegawai seorang desainer" Tao mengangkat bahunya acuh.
Baekhyun tertawa kecil dengan wajah tidak percaya lalu menatap pada Kris yang sejak tadi hanya mendengarkan dua gadis itu tanpa bisa berbicara, "Sebaiknya kau turuti saja kemauannya. Tao benar-benar marah ketika tahu kau menikah tanpa mengundangnya."
Baekhyun benar-benar tertawa sekarang, bekerja bersama dengan teman-temannya? Tidak mungkin ia melewati kesempatan ini. "Maafkan aku, Tao. Pernikahanku benar-benar dipersiapkan dengan cepat" Ia menatap Tao dengan tatapan menyesal.
"Kau tahu bagaimana cara agar pemintaan maafmu diterima, lagipula aku gadis yang tidak suka ditolak."
"Tentu saja, akan sangat menyenangkan bekerja bersamamu, nona Huang" Baekhyun menegakkan bahunya dengan gaya profesional dan menjabat tangan Tao. Keduanya kemudian tertawa.
Baekhyun mengangkat tangan dan menghentikan tawanya, tiba-tiba teringat sesuatu, "Sebenarnya, ada berapa pagawai yang kaubutuhkan?" Sebuah nama tiba-tiba melintas dalam otaknya.
.
Pada akhirnya Baekhyun dapat membawa Luhan untuk ikut bergabung dengannya di perusahaan Wu. Dan malam ini adalah pesta peresmian untuk tempat kerja barunya itu.
Sejak satu jam lalu Baekhyun sudah berputar-putar mengelilingi apartment, menimbang-nimbang ide yang ada dalam pikirannya. Pesta akan diadakan beberapa jam lagi dan gadis itu masih setia dengan pikirannya.
Ia menghela nafas, memutuskan tidak ada salahnya mencoba. Ia mengambil ponselnya dan memencet angka 1 pada benda itu cukup lama hingga panggilannya tersambung. Beberapa kali nada tunggu terdengar sebelum panggilannya diangkat.
"Ada apa, Baek?"
Baekhyun menarik nafas gugup, "Chanyeol, Aku ingin berbicara sesuatu."
"Ya, ada apa?"
"Kau tahu, malam ini pesta peresmian tempat kerja baruku. Aku hanya mengira-ngira apakah kau bisa menemaniku ke pesta itu."
Ada jeda beberapa detik yang membuat Baekhyun semakin tegang. Bagaimanapun ia dan Chanyeol belum pernah menghadiri acara seperti ini sebagai pasangan dan ketika saat seperti ini datang, ia menjadi orang yang harus mengajak Chanyeol. Tentu saja ia khawatir Chanyeol akan menolaknya.
"Baiklah, aku akan menemanimu." Jawaban dari Chanyeol membuat Baekhyun menghembuskan nafas lega.
Beberapa jam setelah itu, saat malam mulai merangkak naik, Chanyeol keluar dari kamarnya. Lengkap dengan tuksedo hitam dan rambut ditata rapi yang membuat pria tinggi itu terlihat semakin tampan. Ia memandang pintu kamar Baekhyun yang masih tertutup dan mengecek jam di tangannya. Pria itu mendesah, wanita memang selalu memerlukan waktu yang lebih lama untuk berdandan.
Ia duduk di sofa, memutuskan menunggu Baekhyun dengan bermain game di ponselnya, untunglah tidak lama kemudian ia mendengar suara pintu kamar yang dibuka dan Baekhyun keluar dari kamarnya.
Untuk pertama kalinya, Chanyeol memandang Baekhyun dengan wajah yang benar-benar terpesona. Bagaimana tidak, gadis itu benar-benar berbeda. Tubuhnya dibalut gaun ketat berwarna hitam yang mengekspos bahu putihnya. Perpaduan warna hitam dan kulit Baekhyun yang putih membuat gadis itu terlihat menakjubkan. Belum lagi belahan pada gaun itu, membuat sebagian paha mulusnya terlihat menggoda ditambah dengan rambut panjang bergelombangnya yang berwarna burgundy.
"Maaf, aku sedikit lama. Ayo pergi."
Chanyeol tersadar dan berdeham kecil, menormalkan dirinya lalu mengangguk. Sungguh Baekhyun terlihat seksi.
Agaknya beberapa pengunjung pesta malam itu juga sependapat dengan Chanyeol. Hampir semua orang yang bertemu dengan Baekhyun memuji penampilannya, belum lagi tatapan-tatapan lapar dari beberapa pria yang menatap lekat tubuh Baekhyun hingga membuat Chanyeol sedikit jengah.
Ia setia mengikuti langkah Baekhyun, tersenyum saat dibutuhkan dan memperkenalkan diri jika Baekhyun memperkenalkannya pada seseorang. Keadaan seperti itu berlangsung beberapa saat, hingga kemudian mereka berhenti didepan sepasang pria dan wanita.
"Coba kutebak, apa kau memakai sepatu 11 cm-mu? Tidak mungkin gadis pendek terlihat bagus dengan gaun seperti ini" Gadis itu berkata kejam sambil memperhatikan Baekhyun dari atas hingga bawah. Chanyeol yang mendengar ucapan gadis itu hanya bisa melongo. Sejauh ini, ucapan gadis itu adalah kritik pedas pertama untuk Baekhyun. Ia menatap Baekhyun, takut gadis itu menangis atau semacamnya. Jadi ia terkejut mendapati Baekhyun juga memandang gadis itu dengan tatapan menilai.
"Sebenarnya hanya tujuh cm. Kau sendiri? Kukira kau salah pesta, ini bukan pesta prom atau pesta musim panas" Balas Baekhyun. Ia menatap gaun baby pink yang dipakai gadis didepannya.
Semakin terkejut, Chanyeol mendapati pria yang berdiri disebelah gadis itu memutar bola matanya. "Berhentilah bermain-main. Aku tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan kalian dan menganggap ada persaingan antara pegawai-pegawaiku."
"Tapi dia yang memulainya, ge" Rajuk Baekhyun. Chanyeol lagi-lagi dibuat terkejut dengan nada manja dalam suara Baekhyun. Ia tidak pernah melihat Baekhyun menggunakan nada seperti itu sebelumnya.
"Dasar pengadu!" Tao mencibir pada Baekhyun, lalu beralih menatap Chanyeol. "Baekki, kau tidak ingin mengenalkanku pada pasanganmu?"
Chanyeol tersenyum kikuk dan Baekhyun seolah tersadar. Ia memeluk sebelah lengan Chanyeol, "Tao, Sajangnim, perkenalkan ini Park Chanyeol, suamiku" Gadis itu kemudian menatap Chanyeol, "Perkenalkan Kris Wu dan Huang Zitao. Bos dan rekan kerjaku."
Ketiga orang itu saling mengangguk dan berjabat tangan.
"Akhirnya kita bertemu" Kris tersenyum sedikit angkuh pada Chanyeol. Membuat ia merasakan sesuatu yang tidak enak pada pria itu. Terlebih lagi dengan kenyataan bahwa setelah itu - ketika mereka berempat mulai menikmati pesta - ia mendapati bahwa hubungan antara Kris dan Baekhyun sepertinya bukan hanya sekedar hubungan antara atasan dengan bawahannya. Keduanya terlihat saling mengenal dengan baik.
"Jangan minum, kau tidak akan kuat!" Kris mengambil alih gelas minuman dari tangan Baekhyun sebelum ia sempat menyesapnya. Gadis itu mempoutkan bibirnya kesal. Ini minuman ketiga yang diambil Kris dari tangannya. Ia memang tidak kuat jika berhubungan dengan alkohol, tapi terus-terusan meminum limun di pesta seperti ini bukanlah hal yang mengesankan.
Kris memutar kepalanya, kemudian memanggil pelayan yang membawa nampan berisi limun.
"Gege, aku tidak mau limun lagi!" Baekhyun membentak Kris dengan suara rendah.
"Kau tidak haus?"
Tao mendesah berat mendengar pembicaraan dua orang itu, "Dia haus, tapi kau mempermalukannya dengan selalu memberinya limun. Baekhyun bukan remaja yang tidak boleh minum alkohol, ge!"
Baekhyun mengangguk cepat dan menempelkan tubuhnya pada Tao, meminta dukungan pada gadis itu.
Kris menatap Tao sesaat, lalu mengambil gelas berisi wine dalam genggaman gadis itu. "Kau juga, Tao. Tubuhmu hanya bisa menolerir alkohol sedikit lebih kuat daripada Baekhyun. Jadi sudah cukup alkohol malam ini!"
Baekhyun terkikik geli sedangkan Tao membulatkan mulutnya tidak percaya. Ia baru saja akan menyuarakan protesnya ketika Kris mengangkat tangannya didepan wajah kedua gadis itu.
"Kalian berdua, tidak ada bantahan!"
Baekhyun semakin terkikik geli, menertawakan Tao yang juga berakhir dengan kehilangan minumannya demi membela dirinya. Ia bisa mendengar Tao bergumam kesal, merutuki kebodohannya karena membela dirinya.
Sementara itu Chanyeol mengerutkan dahinya menilai hubungan ketiga orang itu. Jelas ada yang lebih dari yang diketahuinya, terlebih Kris dan Baekhyun. Ia sendiri bahkan tidak mengetahui sebelumnya bahwa Baekhyun memiliki toleransi yang rendah terhadap alkohol.
.
Pesta berjalan dengan lancar, harinya nyaris berjalan dengan sempurna. Ya, nyaris. Harinya berjalan dengan sempurna, tapi tidak dengan penutupnya. Baekhyun bergerak gelisah dalam kamarnya, ia lagi-lagi melonjak kaget mendengar suara petir yang menderu keras. Hujan dan angin diluar sana juga semakin keras menghantam apartmentnya. Sungguh, Baekhyun membenci badai.
Gadis itu sudah berusaha untuk tidur setidaknya satu jam terakhir, namun tetap saja mata dan telinganya masih awas dengan setiap gemuruh keras dan kilatan petir. Biasanya disaat-saat seperti ini ibunya akan menemaninya tidur. Gadis itu mendesah berat, ia rindu ibunya.
Tidak tahan dengan badai yang semakin menjadi-jadi diluar sana, akhirnya Baekhyun memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia menyeret selimut dan bantalnya, menyamankan duduknya dengan benda-benda tersebut diatas sofa dan terakhir menghidupkan televisi dengan volume yang tidak bisa dibilang kecil. Setidaknya suara dari TV akan membantu mengurangi keributan badai.
Chanyeol yang keluar dari kamarnya beberapa saat kemudian mengerutkan dahinya bingung, sudah hampir pukul 2 dini hari, tidak biasanya Baekhyun masih bangun selarut ini.
"Kau belum tidur, Baek?"
Lagi-lagi Baekhyun melonjak kaget. Ia mengalihkan pandangannya pada Chanyeol dan tiba-tiba merasa canggung. Gadis itu menggeleng.
"Ada apa?" Chanyeol bertanya lagi.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menonton" Ia berkilah.
Chanyeol mengangguk dan melanjutkan langkahnya ke dapur untuk mengambil air. Ia masih memperhatikan Baekhyun. Gadis itu mengkeret takut dalam selimutnya setiap kali ada kilatan petir ataupun gemuruh. Chanyeol mengulum senyumnya.
"Masih belum ingin tidur?" Ia bertanya dari dapur.
Baekhyun menggeleng, "Aku masih ingin menonton."
Senyum Chanyeol semakin lebar. Menonton apanya? Gadis itu bahkan tidak sadar acara TV yang dipilihnya adalah acara olahraga yang biasanya tidak disukainya.
"Kau bisa tidur di kamarku" Chanyeol berdeham kecil, tiba-tiba merasa canggung dengan ucapannya sendiri. "Kudengar badai akan bertahan cukup lama."
Baekhyun menoleh cepat menatapnya dengan mata yang sedikit berbinar. "Benarkah? Maksudku badainya, benarkah akan lama?"
Chanyeol mengangguk kaku. Ia bahkan tidak mengetahui bahwa akan ada badai malam ini.
Baekhyun berdiri. Ia benar-benar akan menderita jika badai bertahan lama, belum lagi tawaran Chanyeol yang menggodanya. Bodoh sekali jika ia menolak tawaran itu. Ia mengangguk dan berjalan menuju kamar Chanyeol, mendahului si pemilik kamar itu sendiri.
Baekhyun menghempaskan tubuhnya di kasur dan menutupnya dengan selimut. Benar-benar nyaman. Ia sangat lelah tapi badai menghalanginya untuk tidur. Namun sekarang dengan Chanyeol disampingnya, gadis itu merasakan kantuk yang sedari tadi ditahannya.
Keduanya berbaring bersisian dan Baekhyun sudah hampir jatuh tertidur ketika ia mendengar suara Chanyeol.
"Pria tadi. Bosmu, Kris Wu, apa kau sudah mengenalnya sebelum bekerja dengannya?"
Baekhyun membuka matanya, kesadarannya sudah mulai hilang. "Hmm, kami berhubungan baik ketika aku tinggal di Hong Kong."
Chanyeol mengangguk.
Baekhyun memutuskan bahwa pembicaraan mereka sudah selesai, jadi ia tidak mengatakan apapun lagi. Ia menutup matanya. Karena itu, ia dipaksa ditarik ke kesadarannya ketika suara Chanyeol terdengar lagi.
"Kau bisa tidur di kamarku mulai sekarang, Baek. Lagipula barang-barangmu ada disini, dan kita, yah, kita menikah."
Baekhyun terkejut namun terlalu mengantuk untuk merespon ucapan Chanyeol. Ia hanya bergumam pelan sebagai jawaban.
Chanyeol tersenyum menyadari bahwa ia sudah menginterupsi tidur gadis itu. Jadi agar tidak semakin mengganggu, ia menyamankan posisi tubuhnya, bersiap-siap untuk ikut tidur. Ia menarik selimut di tubuh Baekhyun hingga menutupi lengan gadis itu kemudian benar-benar menutup matanya untuk tidur.
.
Baekhyun tersenyum menatap berbagai jenis dan warna kain didepannya lalu beralih menatap beberapa gambar di meja kerjanya. Semua itu masih dilakukannya dengan mengulum senyum kecil. Membuat Tao dan Luhan yang berada di ruangan yang sama menatap heran pada gadis itu.
Luhan menatap Tao dengan pandangan bertanya, yang dijawab Tao dengan mengangkat bahunya. Pertanda ia juga tidak mengerti apa yang terjadi dengan gadis itu.
"Baekki-ya, apa ada hal baik yang terjadi?" Luhan akhirnya menyuarakan penasarannya.
Baekhyun menatap Luhan -masih tetap tersenyum- dan membuat Luhan serta Tao menyergitkan dahi ngeri memandang gadis itu.
"Aniyo unnie. Sketsa dan kain-kain ini benar-benar bagus."
Kerutan di dahi Luhan dan Tao semakin dalam. Orang mana yang akan tersenyum selama bermenit-menit hanya karena memandang sketsa dan kain?
"Dia gila, unnie. Biarkan saja" Baekhyun mendelik kesal pada Tao sebelum kemudian kembali sumringah.
Bagaimana mungkin ia tidak tersenyum karena setelah akhirnya Chanyeol memintanya untuk berbagi kamar yang sama. Berbulan-bulan menikah, penerimaan dingin Chanyeol terhadapnya akhirnya meluntur. Ia tersenyum lagi, mungkin sedikit lebih bersabar tidak ada ruginya.
"Serius, Baek. Semua orang akan takut melihat senyummu itu." Tao menatap jengah pada Baekhyun.
Beakhyun memutar matanya, "Senyumku cantik."
"Cantik. Seperti seorang psikopat yang bertemu korbannya. Benar kan, unnie?" Tao memandang Luhan, mencari dukungan.
"Jangan membelanya, unnie!"
Luhan hanya tersenyum. Untungnya dia lebih dewasa dari dua gadis didepannya. Setidaknya ia tidak berargumen saling mencemooh setiap kali bertemu seseorang.
Sesuatu berbunyi didekat mereka, ponsel Baekhyun. Bunyi ponsel itu setidaknya menghentikan argumen tidak berguna diantara kedua gadis itu. Baekhyun beranjak dan meraih ponselnya.
"Yoboseyo"
". . ."
Hening beberapa saat, tapi Luhan bisa melihat raut wajah Baekhyun yang perlahan berubah. Senyum gadis itu memudar.
"Baiklah" Baekhyun menurunkan ponsel dari telinganya. Wajah gadis itu terlihat dingin beberapa saat sebelum kemudian ia tersenyum lagi.
.
Lonceng kecil diatas pintu cafe bendenting kecil ketika Baekhyun membuka pintu untuk masuk kedalam cafe sore itu. Ia mengedarkan pandangan hingga menatap satu sosok yang menunggunya. Orang itu mengangkat tangannya ragu agar Baekhyun melihatnya. Baekhyun berjalan menuju orang itu, tidak ada sisa senyum tadi pagi di bibirnya.
Ia duduk didepan orang itu. Memperhatikan wajahnya dengan seksama. Ini memang bukan pertama kalinya mereka bertemu, tapi baru kali ini ia benar-benar memperhatikannya. Tubuh gadis itu lebih kecil darinya, pipi gembil, rambut panjang dan mata yang benar-benar bulat.
"Ada yang ingin kau bicarakan denganku?" Baekhyun bertanya langsung tanpa basa-basi. Gadis ini menghubunginya dan meminta untuk bertemu. Sudah pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakannya.
"Kita belum berkenalan" Gadis itu tersenyum ragu padanya lau mengulurkan sebelah tangan pada Baekhyun, "Do Kyungsoo"
Baekhyun membalas uluran tangannya dan menggenggam tangan gadis itu, "Byun Baekhyun" Untuk sesaat ia tertarik menyebutkan marga Chanyeol didepan namanya.
"Aku ingin membicarakan sesuatu mengenai Chanyeol oppa." Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Baekhyun lebih berani.
Chanyeol oppa? Baekhyun menahan hatinya yang mulai bergolak.
"Ya. Ada apa?"
"Apa kau tahu siapa aku?"
Kali ini Baekhyun membulatkan matanya, gadis ini berani. Ia mengangguk kaku.
"Aku ingin meminta padamu" Kyungsoo menahan ucapannya, "Bisakah kau lepaskan Chanyeol oppa?"
Hati Baekhyun bergolak semakin kuat dan jantungnya bedetak semakin cepat. Ia bisa merasakan emosinya yang mulai meninggi, tapi ia menahannya dengan tetap bersikap tenang.
"Kenapa aku harus mengikuti permintaanmu?"
"Karena aku kekasihnya" Kyungsoo menjawab cepat.
Baekhyun terpaksa harus menarik nafas dalam, menjaga agar dirinya tetap tenang.
"Dan aku istrinya, nona Do."
Kyungsoo mendesah, ia melunak dan menatap Baekhyun dengan wajah memohon. "Kumohon unnie, aku sudah mengenalnya sejak lama."
Unnie? Gadis ini bahkan tidak berhak memanggilnya dengan panggilan itu. Demi Tuhan, mereka sedang memperebutkan seseorang.
Baekhyun tersenyum tipis, "Seberapa lama sebenarnya kau mengenal Chanyeol?"
Kyungsoo mengangkat lagi dagunya, "Bertahun-tahun. Ia sunbae-ku di perguruan tinggi."
Baekhyun tersenyum, bahkan bertahun-tahun yang dimiliki Kyungsoo dengan Chanyeol belum mampu mengalahkan dirinya.
"Aku mengenalnya sejak kami kecil."
Kyungsoo tergagap, ia tersudut. Menemui Baekhyun seperti ini bukan keinginannya, ia terpaksa jika memang ingin mempertahankan Chanyeol untuknya. Ia bahkan menahan dirinya untuk tidak melompat pergi dari hadapan Baekhyun.
"Tapi ia mencintaiku" Akhirnya Kyungsoo mengucapkanya. Senjata terakhir yang ia punya. Ia bisa melihat Baekhyun yang ganti tergagap dengan ucapannya.
"Ia mencintaiku, unnie. Jika tidak bagaimana mungkin ia masih mempertahankanku saat ia sudah bersama denganmu?"
TBC
