Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Rate : M

Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort, Friendship, Humor

Pairing : Ichigo x Hitsugaya

Spoiler Warning : Alternate Universe (AU), OOC-minimalisir, Shounen-ai, Yaoi, maleXmale, Don't like Don't read!

Summary: Hitsugaya yg sudah lulus dari SMA-nya berniat masuk ke kampus Ichigo. Ichigo tentu saja senang. Karena bisa melihat Hitsugaya di kampusnya. Hingga di pertemuan para mahasiswa baru Hitsugaya terbelalak tidak percaya dengan apa yg dilihatnya. Ternyata Ichigo adalah Ketua OSPEK. Bagaimana kelanjutan hubungan keduanya?

.

Fic sekuel dari "First Kiss". Dan sebuah permintaan dari Mimi Hinamori dan Haruno Arina. Enjoy, sister's!

.

.


First Love

.

Chapter 4


.

.

Hitsugaya membuka kedua matanya pelan-pelan. Dikerjapkannya berkali-kali. Berusaha mencari kesadarannya. Dari sisi tirai jendela kamarnya sinar matahari pagi berusaha menerobos untuk masuk. Cowok mungil itu menoleh ke samping kanan. Dilihatnya Ichigo masih tertidur. Hitsugaya memandang wajah Ichigo yang tertidur. Kedua pipinya tiba-tiba dijalari semburat merah. Tadi malam dia habis melakukan itu dengan Ichigo. Muka Hitsugaya tambah merah jika mengingatnya. Apalagi semalam dia manja sekali dengan Ichigo.

"Ngh… Toushiro…" Ichigo bangun dari tidurnya. Dikuceknya satu matanya. Kedua matanya langsung tertuju ke cowok mungil yang terduduk di samping kirinya. "Ohayou…" ucap Ichigo dengan senyum lembut.

"O-ohayou… Kurosaki…" jawab Hitsugaya gagap. Senyum lembut Ichigo tadi sanggup membuat dirinya salting. Ichigo merendahkan wajahnya.

"Sifat manjamu semalam…sangat manis, Toushiro," bisik Ichigo di telinga Hitsugaya. Hitsugaya blushing.

"Norak!" seru Hitsugaya sambil mencubit lengan Ichigo. Ichigo terkekeh geli melihat muka Hitsugaya yang sudah memerah kayak kepiting rebus itu.

.

.

.

"Duh... akhirnya turun juga," goda Hinamori begitu dilihatnya Hitsugaya dan Ichigo turun dari lantai dua. "Gue sudah siapkan sarapan nih. Ayo, Kurosaki-san makan bersama," ajaknya.

Hinamori menoleh dan menatap Hitsugaya. Kemudian matanya menatap Ichigo. Seringai muncul dibibirnya.

"Bagaimana semalam, Shiro-chan?" tanya Hinamori. Cowok mungil itu menoleh heran. "Desahanmu semalam terdengar jelas lho."

Bruuush!

Teh hangat yang diminum Hitsugaya langsung menyembur dari mulutnya.

"Lo menguping?" kedua mata Hitsugaya melotot menatap Hinamori.

"He-eh! Uneg-uneg gue hilang dengar desahan elo semalam!" sahut Hinamori. Cewek itu meringis senang. Hitsugaya sweatdrop.

"Apa-apaan sih lo! Kurang kerjaan banget sih!" bentak Hitsugaya kesal. Ichigo menikmati pertengkaran kedua kakak-adik itu dengan tersenyum tipis.

"Eits! Jangan salahkan gue. Memangnya nih rumah milik lo berdua? Kalau nggak mau gue nguping. Lakukan itu ditempat lain," Hinamori berkelit.

Dan itu tambah membuat Hitsugaya kesal.

"Tuhan ciptain telinga untuk mendengar. Jadi nggak usah sewot begitu, Shiro-chan."

"Tapi bukan untuk dengar privasi orang, Baka!"

"Mau bagaimana lagi. Kalau sudah dengar kan nanggung kalau nggak dengar sampai habis," kata Hinamori dengan muka tidak bersalah. Hitsugaya menggeram. "Benarkan, Kurosaki-san?" Hinamori menatap Ichigo. Meminta kata 'setuju' dengan apa yang dikatakannya tadi. Ichigo tersenyum.

"Ya. Dan lagi yang mengajak gue lakukan 'itu' Toushiro lho, Hinamori-san," ujar Ichigo dengan nada ringan. Kalimat Ichigo itu langsung mengakibatkan dampak yang hebat. Hinamori terkesima tidak percaya. Sedangkan Hitsugaya ternganga.

"Wah, wah, wah…ternyata Otoutoku ini yang ngajak toh," Hinamori memandang Hitsugaya dengan pandangan aneh.

"Kurosaki…" kedua mata Hitsugaya menatap tajam Ichigo. Kenapa malah dibongkar sih! umpat Hitsugaya dalam hati.

"Sudah nakal ya…" Hinamori mulai memprovokasi cowok mungil itu. Kedua mata tajam Hitsugaya langsung mampir ke Hinamori.

"Ckckck...!" Hinamori menggeleng-gelengkan kepalanya. Ichigo menahan tawanya dalam hati.

"Hentikan itu, BAKA...!" teriak Hitsugaya penuh emosi.

.

.

.

"Halaah...! Segitu saja ngambek. Please deh Shiro-chan. Sikap elo itu nggak enak dilihat tahu. Sedikit-sedikit ngambek. Halaaah...!" ucap Hinamori yang melihat Hitsugaya sedang duduk diam di sofa depan TV. Cewek satu ini kayaknya masih belum puas melihat Hitsugaya emosi. Hitsugaya yang mendengar koar Neesan-nya itu tambah cemberut.

"Kita jalan-jalan yuk, Toushiro," tawar Ichigo. Hitsugaya mendelik.

"Nggak!" tolak Hitsugaya tandas.

"Sudahlah Kurosaki-san. Cari pengganti Shiro-chan saja. Tukang ngambek begini malah buat sakit hati," hasut Hinamori.

"Apa-apaan sih lo!" bentak Hitsugaya keki.

"Lha! Benarkan Kurosaki-san?" Hinamori tambah mengompori. Kedua alisnya terangkat menatap Ichigo.

"Hmm… apa yang kau bilang benar juga," sahut Ichigo sambil memegang dagunya. Hitsugaya tersentak. Ditolehkan kepalanya kearah Ichigo. Wajah Hitsugaya tegang. Muka Ichigo terlihat serius.

Hei, hei…jangan bilang dia mau minta putus, batin Hitsugaya dalam hati.

"Kurosaki…"

"Tapi gue suka Toushiro yang seperti itu," potong Ichigo. Semburat merah menjalari kedua pipi Hitsugaya. "Aishiteru, Toushiro," kata Ichigo dengan senyum lembutnya. Ditariknya Hitsugaya kedalam pelukannya. Kemudian mencium puncak kepala cowok mungil itu.

.

.

.

"Nggak ada film yang bagus untuk dinonton," ujar Hitsugaya. Kedua matanya sedari tadi melihat jadwal film yang akan diputar di bioskop 21 serta poster-poster film yang tertempel di tempat itu.

"Kurosaki…" Hitsugaya membalikkan badannya. Kedua matanya terbelalak. Ichigo tidak ada dibelakangnya. Kepalanya celinggukan mencari cowok berambut orange itu. Tapi nihil. Ichigo tidak ada. Cowok mungil itu menggerutu.

"Pergi kemana sih? Kenapa main tinggal saja." Hitsugaya berjalan mencari Ichigo. Didekatinya samping tangga eskalator. Dijulurkan kepalanya melihat ke lantai bawah.

"Cari siapa, Toushiro?" tanya Ichigo dari arah belakang.

"HUWAAA...!" Hitsugaya menjerit kaget. Dibalikkan tubuhnya, "Apaan sih! Gue kaget nih."

"Nyari siapa?" Ichigo mengalihkan pembicaraan.

"Ya elo lah!" jawab Hitsugaya tandas, "Darimana saja sih?"

"Toilet." Ichigo menoleh ke arah bioskop di mall itu, "Sudah dapat film yang bagus?"

Hitsugaya menggeleng, "Nggak ada yang bagus. Kita ganti planning saja."

"Kayaknya poster film yang itu bagus," Ichigo menunjuk salah satu poster dengan dagunya, "Ayo kita nonton." Ditariknya Hitsugaya kedalam bioskop itu.

.

.

.

Ichigo dan Hitsugaya duduk di dalam ruangan besar yang gelap itu. Menunggu film yang akan diputar. Setelah menunggu sepuluh menit kemudian. Suasana di dalam ruangan itu kontan hening. Ada jeda iklan sebelum dimulai film.

Film apaan ya ini. Gumam Hitsugaya dalam hati. Tadi dia nggak sempat melihat tiket yang dibeli Ichigo.

Musik film itu terdengar. Dari layar besar itu muncul judul filmnya. 'Terowongan casablanca' (1). Ternyata ini film horor, coy!

Hitsugaya mengikuti alur cerita yang dinontonnya itu. Tak ayal dia tegang juga melihat arwah-arwah penasaran yang dimunculkan di film itu. Jeritan dan teriakan terdengar di dalam ruangan itu. Film horor ini bisa memacu adrenalin siapa saja yang menonton. Rasa takut mulai menjalari pikiran Hitsugaya. Korban-korban yang berjatuhan di film itu. Sanggup membuat bulu kuduknya berdiri. Hitsugaya berusaha menguatkan hatinya yang sudah ketar-ketir dilanda rasa takut. Ditelannya ludah susah payah. Keringat dingin menetes dari dahinya.

Ternyata dia bisa takut juga kalau nonton film seperti ini. Kepalanya celinggukan ke kiri. Sepanjang tempat duduk di samping kirinya tidak ada orang yang duduk. Hitsugaya tambah parno. Ditolehkan kepalanya ke samping kanan. Ada Ichigo yang duduk disamping. Cowok mungil itu menghela napas lega. Dilihatnya Ichigo menonton film itu dengan tatapan datar. Tidak ada rasa takut yang terlihat dari mimik wajahnya. Hitsugaya kembali menatap ke layar depan. Darah-darah yang berceceran di film itu membuatnya bergidik. Tanpa disadarinya sedari tadi Ichigo melihat kondisinya yang sudah hampir mau semaput itu. Sudut bibir Ichigo terangkat.

Ruangan bioskop yang gelap itu semakin tegang. Jalan ceritanya sudah di pertengahan. Suara jeritan takut terdengar dari mulut cewek-cewek. Yang pasangan cowoknya tentu happy dong. Bisa dapat pelukan gratis dari cewek-ceweknya. Enak tenan. Hehehehe!

Tidak jauh beda dengan Hitsugaya. Sebenarnya dia juga ingin menjerit keras-keras. Dan memeluk lengan Ichigo saking nggak tahannya dengan film yang dinontonnya itu. Tapi…karena gengsi. It's okay! Dia masih kuat kok nonton tuh film. Walau dalam hati imannya sudah ketar-ketir. Begitu sampai di adegan paling menyeramkan. Waktu para arwah itu akan muncul tiba-tiba. Seseorang menepuk pundak Hitsugaya. Hitsugaya tentu saja menoleh. Dan…

"HUWAAAAA...!" jerit Hitsugaya kuat-kuat. Ternyata Ichigo mengerjai cowok mungil itu dengan memakai topeng setan yang nauzubila sangat menyeramkan (2). Entah didapatnya darimana. Hitsugaya tambah menjerit-jerit melihat topeng setan itu. Ichigo akhirnya melepas topeng yang dipakainya itu. Senyum kemenangan terpampang di bibirnya.

"Akhirnya lo berteriak juga," ucap Ichigo dengan kekehan geli. Dilihat wajah Hitsugaya shock. Napas Hitsugaya tersengal-sengal.

"Kurosaki…" Hitsugaya menatap kesal cowok disampingnya itu. "Apa yang lo lakukan?" bentaknya.

Ditonjoknya bahu Ichigo kuat-kuat. Ichigo tambah terkekeh-kekeh. Tonjokkan Hitsugaya tidak berefek untuknya.

"Kalau memang takut jangan ditahan gengsinya, Toushiro."

"URUSAI!"

.

.

.

Untuk kedua kalinya Hitsugaya mengambek dalam satu hari ini. Dipercepat langkahnya menjauh dari Ichigo. Ichigo setia mengekor dibelakangnya. Begitu keluar dari studio tadi, Ichigo tidak bisa menahan tawa gelinya. Hitsugaya tentu saja semakin kesal melihatnya.

"Toushiro, kita cari minum yuk," ucap Ichigo begitu selesai dengan tawanya.

"Nggak!" jawab Hitsugaya ketus.

"Jangan ngambek dong. Gue kan tadi cuma bercanda."

"Iya. Tapi nggak lucu!" Hitsugaya semakin melebarkan jaraknya dengan Ichigo.

"Kita main di Timezone itu yuk," Ichigo menunjuk tempat yang dipenuhi game elektronik modern itu.

"Main saja sendiri!" cowok mungil itu melangkahkan kakinya ke arah toko kaset. Tepat didepan Timezone.

Ichigo menghembuskan napas kuat-kuat. Lebih baik dibiarkan reda dulu emosinya. Gumam Ichigo dalam hati. Dilangkahkan kakinya ke dalam Timezone. Sudah lama dia nggak main di tempat ini.

Hitsugaya memandang punggung Ichigo dari kaca tembus di toko kaset itu. Gerutuan kesal keluar dari mulutnya.

"Dasar bodoh. Kenapa sih sering banget buat gue emosi." Hitsugaya mengangkat salah satu kaset CD yang berada di depannya.

Semua orang yang berada di toko itu menoleh dan menatap Hitsugaya. Ada yang menatapnya heran, bingung, mesum, dan macam-macam ekspresi lainnya. Sepuluh menit berlalu. Emosinya sudah kembali netral. Hitsugaya mengelilingi area toko kaset yang lumayan besar itu. Diliriknya jam tangan yang melingkar ditangannya. Kemudian menatap kearah Timezone.

Hitsugaya berdecak kesal, "Ck! Lagi ngapain sih dia."

Dilakukan hal itu berkali-kali. Melirik jam kemudian menoleh kearah Timezone. Hitsugaya menyerah. Daripada dia hampir sinting menunggu Ichigo. Lebih baik dia saja yang kesana. Dilangkahkan kakinya keluar dari toko. Kemudian berjalan kedalam Timezone di depannya.

Hitsugaya celinggukkan ke kanan-kiri mencari Ichigo. Tempat yang dimasukinya ini sangat berisik dengan suara-suara permainan. Hingga ekor matanya menangkap salah satu cowok berambut orange yang sedang asyik dengan permainan yang dimainkannya. Hitsugaya menatap pemilik wajah itu. Ichigo memainkan permainan tembak-menembak di depannya dengan senyum senang.

Hitsugaya terdiam lama ditempatnya berdiri. Senyum Ichigo itu sungguh… KEREN! Cowok mungil itu blushing. Rasa kesalnya kepada Ichigo tadi hilang entah kemana begitu melihat senyum itu. Baru saja akan dilangkahkan kakinya ke arah Ichigo. Dua orang cewek yang asal-usulnya nggak jelas lebih dulu mendekati Ichigo. Hitsugaya terpana. Kedua cewek itu mencoba menarik perhatian Ichigo dengan tubuh mereka yang 'WOW'. Apalagi dadanya itu. Setara dengan punya Matsumoto, euy! Dan…yeah! Kedua aksi cewek nggak jelas itu sanggup menarik perhatian Ichigo dari game yang dimainkannya. Hitsugaya menggeram marah. Dengan langkah cepat didekatinya Ichigo.

"Minggir cewek-cewek jablai!" bentak Hitsugaya kesal.

Ichigo tertegun. Begitu juga dengan kedua cewek itu.

"Eh, Otoutomu ya? Kawai-nya," ujar salah satu cewek itu SKSD.

"Wah, SD kelas berapa, dek?" tanya satu cewek lagi. Urat nadi marah langsung terlihat di dahi Hitsugaya.

"Brengsek! Gue bukan…"

"Dia pacarku," Potong Ichigo. Dirangkulnya leher Hitsugaya dari arah belakang dengan lembut. Kedua cewek itu ternganga. "Dah!"

Ichigo membawa Hitsugaya pergi dari tempat itu. Meninggalkan kedua cewek yang membatu di tempat mendengar kalimat Ichigo tadi.

.

.

.

"Kenapa halangin gue sih?" bentak Hitsugaya.

"Sudahlah. Toh mereka memang tidak tahu," Ichigo berusaha menenangkan cowok mungil itu. Hitsugaya merengut. Keduanya terdiam di dalam lift yang hanya dihuni mereka.

"Toushiro…"

Grep!

Tiba-tiba Hitsugaya memeluk Ichigo dari arah depan. Ichigo tertegun. Cowok mungil itu menekan wajahnya ke dadanya. Ichigo tersenyum. Dielusnya rambut Hitsugaya lembut.

"Kurosaki…" panggil Hitsugaya lirih. Didonggakkan kepalanya menatap Ichigo. Ichigo membalas tatapan itu. "Jangan melirik orang lain selain gue ya?" pinta Hitsugaya dengan wajahnya yang…ugh! Kawaiii...!

Ichigo tersenyum lembut. Dengan gerakan tiba-tiba. Didorongnya tubuh Hitsugaya ke dinding.

"Mana mungkin gue beralih ke orang lain jika melihat wajah manja seperti tadi," bisik Ichigo pelan di telinga Hitsugaya. cowok mungil itu blushing. Kedua bibir itu bertemu. Ichigo melingkarkan satu lengannya di pinggang Hitsugaya. Ditariknya ke dekapannya sehingga tidak ada jarak lagi diantara mereka. Satu tangannya menekan belakang kepala cowok mungil itu agar ciuman mereka semakin dalam. Hitsugaya memejamkan kedua matanya. Menikmati ciuman yang diberikan Ichigo. Dilingkarkan kedua tangannya di leher Ichigo. Ruangan lift yang dimasuki mereka itu menjadi saksi bisu ciuman panas mereka.

.

.

.

Omake:

"Gue nggak nyangka. Cowok berambut orange tadi ternyata gay," ujar cewek yang tadi di Timezone. Itu loh, yang sok genit di depan Ichigo.

"He-eh! Cakep-cakep ternyata ada kelainan," sahut teman ceweknya yang tadi juga sok genit di depan Ichigo. Kedua cewek itu berhenti di depan pintu lift yang tertutup. Tigapuluh detik kemudian pintu lift itu terbuka. Kedua cewek itu terlongo. Di dalam lift itu sedang ada ciuman panas antara Ichigo dan Hitsugaya. Ichigo melepas ciumannya dan menatap datar kedua cewek itu.

"Silahkan masuk jika mau lihat servis panas kami berdua," ujar Ichigo sambil mengedipkan satu matanya.

"GYAAA...!" kedua cewek itu berteriak kompak kemudian ngacir dari tempat itu. Ichigo terkekeh-kekeh geli melihat kedua cewek itu. Sedangkan Hitsugaya geleng-geleng kepala.

.

.

.


To be continued…


Ket :

(1) Film Terowongan Casablanca. Film Horor yang saya nonton dulu saat SMA.

(2) Silahkan bayangkan topeng hantu yang paling menyeramkan *grin*