Disclaimer : Shingeki no Kyojin's not mine but Isayama Hajime-sensei
Pairing : RiRen and other pairing(s)
Title : I Want a Kiss
Rated : T/T+
Summary : "Heichou!" .."Apa?" .."Aku minta cium!" ...terus ini maksudnya apa mendadak minta beginian?
Warnings : Yaoi (M/M) , Typo(s) , bahasa amburadul (entah ini semi-baku apa gimana), cerita boring, karakter ternistahkan dan OOC akut, serta bahasan ambigu macam-macam . Kalo gasuka sama cerita perhumuan mending klik tanda panah ke kiri ajah di pojok kiri atas :3 aku gakuat di flames ;)
Untuk chap ini peringatan tambahannya...mungkin ganti POV yang suka mendadak kali ya? Atau dialognya yang kebanyakan (lagi)? Author juga bingung, intinya gitu deh ya, DLDR ;)))
SELAMAT MEMBACA
Aku sedang berjalan
Ketika dentuman keras berbunyi
Aku berhenti. Kakiku berhenti tak mau bergerak seakan ada yang menahanku
Kala teriakan demi teriakan terdengar
Dadaku tercekat melihat apa yang membuatku berhenti
Aku tuli seketika
Dan...aku berlari
Aku tak memperdulikan lagi apa yang ada di sekitarku
Langkah-langkah lariku kulebarkan sejauh mungkin
Yang kupikirkan hanya satu,
Aku hanya ingin segera menemui dia
Aku ingin segera melihat wajahnya, wajah yang selalu tersenyum itu
Langkah semakin kupercepat ketika rintihan sayup-sayup terdengar di daun telingaku
Aku tak peduli
Aku hanya ingin melihat wajahnya, secepatnya
Bangunan berserakan tak berbentuk, onggokan batu besar dimana-mana
Dimana dia?
Aku ingin segera bertemu. Dimana dia?
Kala suara langkah berdentum mendekat
Aku masih tuli
Hanya dia yang kucari
Kusampai disana, aku tak menemukan dia
Aku kembali mencarinya, ketika terdengar suara rintihan
Aku berhenti
Aku mengenal suara itu
Itukah dia?
Langkahku membawaku mendekat
.
.
Akhirnya, aku menemukan dia
Tapi mengapa dia menangis?
Mengapa dia tak tersenyum?
Suara langkah kembali berdentum, semakin mendekat
Mana aku masih menatap wajah di depanku
Apakah kamu kesakitan?
Aku bergerak membawa dia keluar
Ketika tangan ini tak mampu menyingkirkan bongkahan besar yang berada di atas dia
Apakah ini yang membuat dia sedih?
Suara langkah yang berdentum sudah tak terdengar ketika wajah raksasa itu muncul
Mengapa tubuhku terangkat?
Siapa yang membawaku menjauh dari dia?
Mengapa dia memintaku pergi menjauh darinya?
Aku tak mau meninggalkan dia
Aku ingin bersama dia
"Pergi...Eren"
"IBU—"
"—UU!"
Eren terbangun dari mimpi buruknya sambil berteriak keras. Sudah lama sekali ia tidak bermimpi tentang masa lalunya. Jantungnya berdebar-debar, napasnya tersengal-sengal, wajahnya pucat pasi, dan peluh membasahi seluruh tubuhnya.
'Perasaan apa ini?' - pikir Eren kala membasuh keringat yang mengucur dari dahinya dengan tangan kanannya.
Selang beberapa waktu, Eren yang sudah sadar sepenuhnya mulai mengatur napasnya agar kembali normal.
'Ukh! Apa-apaan ini? Kepalaku sakit' - Eren berniat memegang kepalanya dengan tangan kirinya ketika ia menyadari tangannya tertahan oleh kepala seseorang yang menghalangi pergerakan tangannya. Eren menoleh ke arah tangan kirinya.
'Ini...Heichou?—' pikir Eren, '—mengapa heichou ada di kamarku?' Ketika Eren mengedarkan pandangannya dan ia baru menyadari bahwa kasur empuk berseprei putih dengan perabotan, lantai serta dinding berkilauan bagai permata ini bukanlah gambaran dari kamarnya.
'Mengapa aku ada di kamar heichou?—' Tanyanya dalam hati, '—sepertinya aku sedang melakukan sesuatu?' Tak tau apa yang sebenarnya terjadi.
Merasa tak enak berlama-lama di kamar kaptennya, Eren mencoba berdiri. Lupa total bahwa si empunya kamar masih menindih tangannya.
Eren bergerak membuat Levi ikut bergerak dan Levi terbangun. Ia membuka matanya perlahan.
"Ng—"
Eren berhenti bergerak seketika dan memperhatikan kaptennya yang mulai terbangun.
Ketika Levi telah sadar sepenuhnya, ia dengan cepat melihat ke arah Eren.
Melihat Eren yang telah sadar, Levi membuang napas dan memasang wajah lega tetapi dengan cepat kembali memasang wajah besinya.
"Kamu sudah sadar rupanya" Kata Levi sambil mengelus pipi Eren
Walaupun ia berhasil memasang wajah datar tapi ternyata ia tak berhasil menyembunyikan nada suara yang terdengar sangat lega itu.
Eren diam tak menjawab pertanyaan Levi, ia masih bengong dengan gestur super halus sang kapten terhadap dirinya.
"Eren?"
"...Ah iya, Sir. Ngomong-ngomong, mengapa saya bisa berada di sini heichou?"
'Sir?' Pikir Levi seraya berdiri dari kursi tempat ia duduk dan berkata,
"Kamu tak ingat dengan apa yang terjadi sebelumnya?"
"...t-tidak, Sir"
Levi diam memandang Eren dan menarik tangannya dari pipi Eren, menjauh. Di dalam kepalanya telah berkecamuk berbagai macam pertanyaan, tapi hanya satu pertanyaan yang benar-benar ia ingin tau jawabannya,
Apakah efek wewangian itu telah habis?
Levi masih diam menatap Eren, menatap mata hijau itu.
Dan ia tak menemukan kilau di sana, seperti sebelumnya.
CKIT. Terasa ada yang sakit di dada Levi, sesuatu yang ia sendiri tak mengerti.
'Ugh...perasaan apa ini? Mengapa dadaku sakit? Mengapa aku merasa ada yang hilang? Bukankah harusnya aku merasa senang bahwa aku sudah tak perlu memenuhi permintaan bocah ini?—' Levi berpikir keras dalam hati.
Pikiran tak berujung Levi terputus ketika Eren memegang tangannya perlahan sambil berkata dengan lembut,
"Heichou...anda baik-baik saja?" Tanyanya khawatir
Pertanyaan Eren tak dijawab karena Levi hanya diam memandang Eren -sibuk dengan pikirannya- ketika tiba-tiba
BRAK!
Pintu kamar sang korporal muda terbuka secara kasar dan menampilkan kembali sang pemimpin skuad genderless.
"Yuhu~ Lev—" Kata-kata Hanji terhenti, melihat apa yang tersuguh di hadapannya. Eren berada di atas kasur Levi dengan wajah agak 'kelelahan' serta Levi yang sekarang sedang menatap dalam wajah sang pemilik manik hijau.
"—oh maaf menganggu" Hanji bergerak menjauh (sambil senyum-senyum sendiri), berniat menutup pintu ketika langkahnya dihentikan oleh suara Levi.
"Berhenti!" Dan berhentilah Hanji di tempat.
Levi berdiri dan berjalan ke arah Hanji dan dengan sangat -tidak- elegannya menyeret Hanji pergi menjauh, meninggalkan si pemilik manik hijau sendirian.
Eren yang melihat dirinya ditinggal sendirian membuat ia hanya bisa terbengong-bengong ketika secara tiba-tiba sakit kepala menyerangnya lagi dan ia kembali terkena rayuan pulau kapuk di bawahnya.
-Di Lorong-
"Auw! Apa-apaan sih cebol, jangan tarik-tarik!" Protes Hanji.
Levi yang diprotes hanya diam memandang Hanji dan melepaskan pegangannya pada kerah baju si pemimpin skuad.
"Ada apa sih kau tiba-tiba menarikku?—" Hanji berkata sambil membersihkan debu-debu imajiner di tubuhnya, "—kau pasti tak ingin terlihat sedang bermesra-UBH!" Ucapan Hanji tak selesai ketika kedua pipinya sudah berada di dalam genggaman tangan makhluk mini di depannya.
"EFEKNYAHABISHANJI!" Levi berteriak keras dan sangat cepat membuat Hanji kebingungan mendengarnya. Ia hanya bisa membalas,
"Hah? Apa?"
"Kau tiba-tiba tuli hah?! Aku tak akan mengulang perkataanku" Levi berkata kesal
Hanji menggeleng seraya berkata, "Benarkah?"
"Seperti yang kau dengar" Jawab Levi sambil melipat tangan di dadanya dan menyandarkan dirinya di dinding lorong.
"Bagaimana bisa? Aku bahkan baru mau memberitahukanmu kalau penawarnya telah selesai kubuat"
"Tidak dibutuhkan"
"KEH SIAL!—" Teriak Hanji kesal dengan menjambak rambutnya sendiri,"—padahal aku sengaja bikin penawarnya agak lama biar aku bisa menikmati 'kesenangan'ku sedikit lebih lama—" Perkataan Hanji lagi-lagi tak selesai karena mukanya sudah di-fabulouskick oleh sang prajurit terkuat.
"Dasar wanita jadi-jadian! Kau malah senang dengan...penderitaanku." Kata terakhir terasa begitu pahit keluar dari mulut Levi.
"Tapi wajahmu mengatakan kalau kau tidak senang dengan normalnya Eren" Hanji berkata dengan nada in-the-matter-of-fact -sambil memegang mukanya yang kesakitan- menunjuk Levi
Dan benar saja, wajah Levi terlihat sendu dan ekpresi ini benar-benar harus diperhatikan dengan seksama karena kalau tidak wajah Levi hanya terlihat datar dengan alis turun beberapa derajat kebawah. Hanji benar-benar sudah expert dalam hal membaca mimik wajah Levi, bahkan Levi-pun tak sadar kalau ia memasang wajah sendu.
Tak berkata-kata lagi, Levi berjalan kembali ke kamarnya.
"Hei! Tunggu Levi." Hanji mengikuti Levi
Selama perjalanan menuju kamar Levi, tak satu pun dari keduanya mengeluarkan satu kata. Hanya suara sol sepatu bertemu dengan lantai-lah yang menemani mereka berdua.
Sesampainya mereka di depan kamar Levi, si empunya kamar membuka pintu secara perlahan dan terlihat sang Jaegar sedang tertidur pulas di atas kasur super bersih miliknya.
Wajah tidur Eren begitu damai, seakan-akan ia tak pernah merasakan beratnya hidup di dunia ini. Orang yang melihat pasti tak akan percaya bahwa dialah yang menanggung tanggung jawab besar sebagai harapan manusia di dunia yang kejam ini.
Levi berjalan perlahan menuju ke sebelah Eren dan duduk di kursi yang tadi ia tinggalkan, tak menimbulkan suara. Hanji pun berjalan menuju ke sebelah Eren dan memutuskan untuk berdiri di sebelah Levi. Keduanya memperhatikan Eren. Hening.
"Hanji." Levi memecah keheningan dengan suara kecil
"Hm?"
"Aku...tak mengerti mengapa dada ini terasa sakit ketika melihat Eren kembali normal." Alis Levi bertaut, tangannya meremas bagian dada.
Hanji tidak menjawab, ia malah memberikan senyuman nista yang membuat alis Levi makin dalam tautannya.
"Apa-apaan mukamu itu?"
"Kukira kau akan menyadarinya sendiri Levi, tapi nyatanya kau bahkan tak mengerti mengapa kau merasa seperti itu."
"Memang kau mengerti?" Levi menaikkan satu alisnya.
"Mudah saja"
"Ap—" Belum selesai Levi berkata, kalimatnnya sudah dipotong oleh Hanji.
"—Kau mencintai Eren—" Hanji berkata sambil menggendikkan bahunya, "—walaupun kemarin kau bilang menyukai Eren karen paksaanku dan Erwin tapi nyatanya kamu benar-benar menyukainya bahkan mencintainya, itulah mengapa dadamu terasa sakit melihat ia kembali normal." Jelas Hanji.
Hening kembali. Levi dan Hanji sama-sama diam ketika Hanji menepuk pundak Levi dan berbisik tepat di telinga Levi,
"Selamat berjuang, cebol." Dan ia pun melenggang pergi meninggalkan Levi yang masih diam sendirian bersama Eren.
'Jadi...aku mencintainya? Jadi perasaan ini cinta?—' Pikir Levi
Ia tak menyadari bahwa Eren mulai membuka matanya.
'—dan perasaan ini tak mungkin berbalas..' Levi menutup erat matanya, tangannya masih meremas bagian dada hingga memutih. Sakit, dadanya terasa sakit sekali.
puk
Ketika tiba-tiba ada tangan lain memegang tangan miliknya lembut membuat Levi membuka matanyadan mendapati manik hijau tengah menatapnya khawatir. Levi menunduk, mengalihkan pandangannya.
"Heichou? Anda baik-baik saja?"
Levi hanya mengangguk, masih dengan wajah tertunduk
Eren kemudian memegang kedua pipi kaptennya dengan kedua tangannya. Membuat sang kapten mendongak ke atas, menatap wajahnya. Mereka saling berpandangan, Eren berkata
"Benar anda baik-baik saja?" Tanyanya masih dengan nada khawatir
"I...ya, aku baik-baik saja" Jawab Levi datar, sukses menyembunyikan gejolak serta dentuman di dalam dadanya.
Eren diam setelah mendengar jawaban Levi kemudian memeluk kaptennya erat dan dengan lembut mencium pipi kiri Levi. Membuat yang dicium memegang pundak yang mencium dan menjauhkan tubuhnya perlahan. Ia memperhatikan wajah Eren dan ketika ia melihat mata hijaunya, ia melihat kilauan itu telah kembali. Kilau mata indah yang sangat familiar itu telah kembali.
'Jadi,efeknya masih ada?' Pikir Levi sambil memeluk Eren kembali.
Ia masih dapat bersama Eren -walau karena efek wewangian- untuk beberapa waktu lagi.
Eren bergerak mendekat ke arah kaptennya dan ia mendudukkan dirinya di atas pangkuan sang kapten dengan lengannya masih melingkar di leher Levi. Kali ini Levi tak protes. Ia eratkan pelukannya, meletakkan kepalanya di antara leher dan bahu Eren.
Mereka berdua diam. Hening, tapi bukan hening yang menyesakkan. Ini hening yang menyenangkan, keduanya menikmati keberadaan satu sama lain. Kemudian selang beberapa waktu, Erenlah yang pertama kali melonggarkan pelukannya dan mendongakkan wajah Levi. Eren menatap wajah Levi, mengusap pipinya pelan, merasakan sensasi rambut hitam itu di tangannya. Levi hanya diam, menikmati perhatian yang Eren berikan kepadanya. Tapi, menikmati bukan berarti kuat menahan godaan.
Levi memberhentikan gerakan Eren, sekrang Levi-lah yang memegang kedua pipi Eren dengan tangannya. Levi perlahan mencium dahi Eren, kemudian ke pipi kanan, berlanjut ke pipi kiri, ke hidung, dan ketika akan berlanjut ke arah bibir, Levi berhenti. Ia melihat Eren menutup matanya erat dan mengigit bibirnya, tubuhnya sedikit gemetar dengan wajah merah padam. Membuat Levi sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.
"Eren...maaf."
Eren dalam sekejap membuka matanya, "Mengapa heichou minta maaf?"
"...Sudahlah, ayo kita sarapan." Levi mengalihkan pembicaraan dengan menurunkan Eren dari pangkuannya, berdiri dan menggandeng tangan Eren menuju ruang makan.
Eren hanya diam, membiarkan dirinya digandeng kaptennya sambil tersenyum simpul.
Sesampainya di ruang makan, Levi membuka pintu dan berjalan masuk masih dengan menggandeng tangan Eren. Membuat yang melihat terdiam sebentar sebelum mereka melanjutkan kembali aktivitas mereka masing-masing, kecuali Mikasa (pastinya) yang sudah murka. Ia menerjang sang kapten dengan pisau di tangannya yang kemudian ditahan Armin dan Jean yang membantu karena Armin tidak kuat menahan tenaga monster Mikasa atau memang modus - entahlah –
Anggota yang lain masih santai menjalankan aktivitas masing-masing karena melihat Levi dan Eren bermesraan, Mikasa yang mengamuk karena hal itu lalu ditahan oleh Armin sudah menjadi pemandangan 'wajib' untuk mereka beberapa hari ini. Sekarang, mereka sudah terbiasa dengan hal ini.
Beberapa menit kemudian, makanan telah siap dihidangkan.
"Selamat Makan!" Ucap mereka bersamaan.
Mereka makan dengan tenang, Eren masih tetap bermanja-manja dengan sang kapten, Mikasa masih mengeluarkan aura sang pembunuh, Armin dan Jean masih menahan Mikasa, Connie dan Sasha masih berebutan kentang, dan Historia masih diam.
Seselesainya mereka makan, Levi kemudian berkata
"Setelah selesai membereskan ini semua, berkumpul di tempat latihan." Kemudian ia berjalan keluar ruang makan meninggalkan mereka semua termasuk Eren.
Mereka dengan cepat membereskan semuanya dan pergi menuju tempat latihan.. Yang pertama kali keluar adalah Historia, kemudian diikuti Jean, Connie, dan Sasha. Setelah itu baru Mikasa dan Armin. Eren keluar terakhir. Mereka berjalan cepat, takut-takut sang kapten akan marah karena menunggu terlalu lama kecuali Eren. Ia berjalan gontai, entah mengapa tiba-tiba sakit kepala menyerangnya kembali. Ia hanya bisa berjalan pelan dan memegang kepalanya. Mikasa yang menyadari bahwa Eren tertinggal di belakang menghampirinya diikuti Armin.
"Eren? Kamu kenapa?"
"Kepalaku agak sakit."
"Mungkin lebih baik kamu istirahat." Armin menyarankan
Eren menggeleng seraya menjawab,"Tidak apa, aku ingin ikut latihan."
"Jangan memaksakan dirimu ya." Ucap Mikasa
Eren hanya mengangguk. Mereka kemudian berjalan kembali menuju tempat latihan.
Sesampainya mereka disana, terlihat keempat anggota yang lain telah berbaris di hadapan sang kapten yang telah melipat lengannya di dada.
"Lamban! Apa saja sih yang kalian lakukan?! Sudah, ayo kita mulai!" Ujar Levi kesal karena dibuat menunggu lama.
Kemudian latihan pun dimulai. Latihan yang dilakukan mereka adalah latihan yang biasa mereka lakukan pada saat sedang menjadi trainee dulu, simulasi di hutan dengan papan-papan kayu berbentuk titan tersebar dimana-mana. Tapi latihan ini dipersulit dengan modifikasi pada bagian 'bantalan' di leher titan menjadi lebih kecil dan sepertinya hanya diperuntukkan untuk satu orang yang dapat menebasnya. Sistem 'siapa cepat, dia dapat' benar-benar akan diterapkan di latihan ini. Latihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan rasa kompetisi dan juga kecepatan serta ketepatan dalam membunuh titan.
Mereka mulai mengudara dengan 3DMG mereka, mencari sang papan titan yang ada. Eren masih berada di paling belakang, sakit kepalanya makin menjadi-jadi membuat ia tanpa sadar menutup matanya ketika secara tiba-tiba entah seperti tersengat listrik pikiran Eren kembali ke mimpinya tadi pagi, mimpi buruk miliknya. Mimpi tentang sang ibu dan juga...titan.
Mata Eren langsung terbuka lebar, dan secepat kilat menyusul teman-temannya yang berada di depan.
Eren bergerak dengan sangat cepat dan membantai papan-papan titan itu dengan yang disebut jenius pun hanya menghabisi 2-3 papan titan sebelum dihabisi oleh Eren. Melihat Eren yang seperti itu membuat teman-temannya bingung dan bertanya-tanya dalam hati,
'Ada apa dengan Eren?' Pikir mereka
Sang kapten hanya diam memperhatikan tingkah laku Eren. Sebenarnya ia senang melihat kemampuan bocah-nya itu meningkat, tapi...mengapa jadi seganas itu? Ia bergerak seperti mesin pembunuh haus darah. Levi mengarahkan pengaitnya ke arah pohon di depan dan dengan cepat menyusul Eren. Ia memutarbalikkan tubuhnya dan melihat wajah Eren. Tak ada kilauan lagi, yang ada hanya manik hijau penuh napsu membunuh.
'Lagi?' Pikir Levi bingung.
Melihat Eren yang bisa dibilang tidak biasa membuat Levi menghentikan latihan mereka untuk sejenak dan (tentu saja) diikuti helaan napas lega dari seluruh anggota pasukan kecuali Mikasa. Mereka duduk-duduk selonjoran, mengistirahatkan badan mereka yang lelah. Levi mendudukkan dirinya di atas batu besar tak jauh dari anggota pasukan ketika Mikasa mendatanginya.
"Kamu apakan Eren?!" Tuduh Mikasa
"Hah?" Levi menaikkan satu alisnya, wajahnya tetap datar.
"Eren kamu apakan? Kenapa dia jadi ganas begitu? Eren-ku tidak seperti itu!"
"Eren-'mu'?" Levi menekankan suaranya di kata terakhir.
"Iya" Jawab Mikasa tegas
"Dia bukan milikmu"
"Dia juga bukan milikmu"
"Tapi dia sendiri yang berharap untuk menjadi milikku"
"AP—" Ucapan Mikasa terpotong oleh suara pekikan dari belakang mereka. Keduanya menengok, melihat apa yang terjadi.
Eren terduduk dengan kaki kanan tertekuk dan kaki kirinya terjulur serta tangannya memegang kepalanya. Armin dan Historia berjongkok di sebelahnya. Jean dan Connie berdiri memperhatikan. Sasha...entah kemana. Mikasa yang melihat itu langsung berlari ke arah Eren
"Eren, kau tak apa?" Tanya Armin khawatir
Eren menjawab dengan anggukan
"Lebih baik kamu tak usah ikut latihan lagi Eren" Saran Historia
Kali ini Eren menggeleng
Levi pun berjalan mendekat.
"Ugh!" Eren memegang kepalanya makin kencang, sakit sudah tak tertahankan dan...
Ctar
Sekali lagi seperti tersengat listrik Eren terdiam. Matanya menutup.
"Eren?" Levi berjongkok di sebelah Eren sambil memegang pundaknya -menggoyangkan tubuhnya perlahan- dan Eren membuka mata dan mengedarkan pandangannya. Ia melihat wajah-wajah khawatir sedang menatapnya. Kemudian dia berkata,
"Mengapa kalian melihatku seperti itu?" Tanyanya bingung
"Eren?" Panggil Levi
Eren menoleh ke arah Levi dan tersenyum dengan senyum sejuta watt-nya
"Heichou!" dan dimata teman-temannya terlihat seakan-akan ada bunga-bunga bertebaran di sekitar Eren.
Levi dan yang lainnya makin bingung. Beberapa menit yang lalu Eren seperti mesin pembunuh yang ganas dan sekarang Eren begitu kalem, manis, dan tentu saja dengan mata yang berkilauan.
'Efeknya sudah kembali. Berarti setiap kali ia sakit kepala 'kepribadian'nya akan berubah.' Levi berpikir Levi terputus ketika lengan bajunya ditarik pelan.
"Hm?"
"Heichou, ada apa?" Tanya Eren
"Hah?"
"Heichou lebih mengerutkan keningnya daripada biasanya" Perkataan Eren membuat anggota pasukan yang lain ber-sweatdrop karena bagi mereka dilihat dari sudut manapun wajah sang kapten tidak berubah sama sekali. Tetap datar.
Levi agak kaget mengetahui bahwa bawahannya ini dapat mengetahui perubahan pada wajah datarnya, ia kira hanya Erwin dan Hanji yang dapat membaca mimik wajahnya. Tapi walau kaget ia tidak menunjukkan reaksi apa-apa, hanya diam kemudian ia bangkit dan berkata,
"Latihan selesai, setelah ini kalian lakukan tugas-tugas yang sudah dibagikan sebelumnya" Levi melangkah pergi.
Mereka semua hanya diam menatap sang kapten berjalan menjauh dari mereka. Setelah sang kapten sudah tak berada dalam jarak pandang mata, Historia berdiri. Ia berniat mengerjakan tugasnya memberi makan kuda yang kemudian dibantu oleh Sasha. Jean, Armin, dan Connie pun mulai mengerjakan tugas bersih-bersih mereka dengan kembali ke bangunan survey corps meninggalkan Eren bersama Mikasa.
"Mikasa, ayo kita juga harus mulai menyiapkan makan malam." Eren berkata seraya berdiri dan membersihkan debu yang menempel pada pakaiannya.
Mikasa menahan tangan Eren.
"Ada apa Mikasa?—" Eren bertanya bingung, "Ayo, nanti keburu jam makan malam datang"
"Eren"
"Hm?"
"Kamu kenapa?"
"Aku? Aku tidak kenap—" Perkataan Eren terpotong ketika tiba-tiba Mikasa memeluk dirinya.
"Jangan bohong padaku Eren! Ada apa denganmu beberapa hari ini? Kamu bersikap aneh sekali." Ucap Mikasa mengeratkan pelukannya. Dan Eren -tidak- seperti biasanya memeluk kembali Mikasa.
"Mikasa tenang. Aku baik-baik saja." Ucap Eren sambil mengelus kepala Mikasa
"Tapi kamu jadi aneh Eren. Aku takut kamu kenapa-kenapa, aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu."
"Mikasa, sudah kubilang aku tidak kenapa-kenapa, tenanglah—" Eren masih mengelus kepala Mikasa, "Aku baik-baik saja, Oke?" Tanya Eren
Mikasa tidak menjawab
"Mikasa.."
"Baiklah—" Mikasa berkata sambil mengangguk, "—tapi biarkan aku memelukmu sebentar lagi"
"Hahaha iya iya" Tangan Eren kemudian menepuk-nepuk punggung Mikasa
Mereka melepaskan pelukannya tak lama kemudia. Lalu mereka berjalan menuju dapur untuk menyelesaikan tugas memasak mereka, tak menyadari bahwa sejak tadi sang kapten memperhatikan mereka dari jendela ruangannya yang tepat berada di atas tempat latihan dengan tangan yang mengepal erat.
Beberapa waktu berlalu.
Dan jam makan malam pun tiba. Eren dan Mikasa memasak sup krim dengan wortel dan kentang ditambah sepotong roti. Mereka makan dengan tenang tapi lahap ketika sendok Eren jatuh dengan -tidak- elegannya ke lantai.
"Aah, aku harus mencucinya kalau begini." Eren mengambil sang sendok kemudian beranjak menuju ke arah dapur. Di dapur, ia mencuci sendoknya dengan cekatan saat sakit kepala menyerangnya kembali. Eren yang sedikit limbung dengan cepat menyelesaikan acara cuci sendoknya dan memegang kepalanya. Ia menyadarkan dirinya ke arah meja di sebelah bak cuci, menghindari kemungkinan ia jatuh. Dan sekali lagi ia kembali...menjadi Eren sang pembenci titan.
Ia kembali ke ruang makan dan melanjutkan makannya. Tak ada yang menyadari bahwa Eren 'berubah' lagi kecuali Levi. Sang kapten melihat mata Eren ketika bocah itu kembali dari dapur, matanya penuh napsu membunuh. Tapi Levi tak bertindak apa-apa, kali ini ia hanya diam dan menyelesaikan makannya.
Levi selesai lebih dulu daripada anggota pasukannya, ia bediri dan berjalan keluar sambil berkata, "Jangan lupa dibereskan setelah selesai dan langsung tidur. Selamat malam."
"Selamat malam heichou!" Jawab mereka bersamaan.
Mereka menyelesaikan makannya. Setelah selesai sesuai perintah sang kapten, mereka membereskannya dengan cekatan dan kembali ke kamar masing-masing.
Eren yang telah kembali ke kamarnya langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur bersprei putih miliknya yang -tidak terlalu- empuk. Ia menutup matanya, mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, dan ia tertidur.
Jeritan terdengar
Batu besar melayang ke berbagai arah
Dia memegang tanganku, aku menoleh ke arahnya
"Ibu—"
Aku berusaha menariknya keluar
Ketika wajah raksasa itu muncul
Dan seketika tubuhku terangkat dan pandanganku menjauh
Aku meronta
Aku tak mau meninggalkan dia
Aku ingin berada di sisinya
Aku masih dibawa ketika raksasa itu mengangkat tubuh ibu
Jemari panjang kotronya menyentuh tubuh ibu
"Tunggu, berhenti! Aku harus menyelamatkan ibu! Ibu dalam bahaya!"
Aku masih terus meronta kala pegangan pada tubuhku makin mengencang
Aku melihat tubuh ibu diarahkan ke arah mulut makhluk menjijikan itu
Mataku tak bisa melepaskan padangannya
Buram dengan air yang mengumpul di pelupuk mata
KRAKK
Aku melihat raksasa biadab itu memakannya
"IBU!—"
Dan Eren terbangun dengan wajah pucat penuh keringat. Napasnya tersengal-sengal, dadanya berdebar-debar kencang sekali. Mimpi buruk ini terus menghantuinya.
Eren memegang kepalanya, "Sial! Mimpi buruk ini tak hilang-hilang juga." Takut dan panik bercampur menjadi satu ketika tiba-tiba terbesit wajah sang kapten di kepalanya.
'Mungkin heichou bisa membantuku melupakan mimpi burukku ini. Aku akan meminta tidur bersamanya' Pikir Eren seraya bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar tempat kaptennya berada.
.
.
Tok Tok
Tak ada jawaban
TokTok
Eren sekali lagi mengetuk pintu sang kapten. Masih tak ada jawaban.
Ketika Eren berniat mengetuk untuk yang ketiga kalinya pintu kamar si kapten terbuka dan menampilkan wajah kantuk beserta kesal pemiliknya. Wajahnya mengatakan bahwa ia akan menghajar siapapun yang berani mengetuk pintunya malam-malam dan menganggu tidurnya, membuat Eren sedikit takut.
"Apa maumu?! Kau tau ini jam berapa?"
"Iya aku tau heichou, aku mohon maaf karena menggangu tidur anda—" omongan Eren dipotong Levi
"—kalau kau tau kau menganggu kenapa masih berani kesini, hah?!" Levi kesal
Eren diam tidak langsung menjawab.
"Cih!" Levi berniat menutup pintunya dan melanjutkan tidurnya.
"Aku mimpi buruk heichou!—"Jawaban Eren membuat Levi berhenti, "—aku mohon, tolong aku. Aku sudah tidak tahan dengan mimpi buruk yang terus-terusan menghantuiku ...aku ingin tidur bersamamu." Eren memohon dengan wajah memelas dan memberikan puppy eyes terbaiknya-secara tak sadar- kepada Levi.
Kali ini Levi tidak mempehatikan kata-kata ambigu Eren. Yang ia perhatikan adalah wajah Eren dan matanya yang berkilau walaupun tak secerah biasanya. 'Jadi efeknya kembali lagi. Berarti bermimpi buruk pun membuat ia berubah 'kepribadian'nya?—' Pikir Levi, '—tapi kenapa ia malah datang padaku? Kenapa ia tidak pergi ke Ackerman saja?' Dada Levi sakit mengingat adegan yang dilihatnya tadi sore.
Eren masih menunggu jawaban Levi ketika Levi berkata,
"Kenapa kau mendatangiku? Kenapa kau tidak datangi Ackerman saja?" Levi kesal
"Hah? Kenapa Mikasa?"
"Huh, tak usah bertingkah seakan kau tak mengerti. Kalian akrab bukan? Sampai berpelukan di tempat terbuka."
"Ap-oh! Jadi heichou melihatnya?"
"Cih, tentu saja. Kau pikir aku buta?" Levi memalingkan wajahnya, bermunculan perempatan di wajah Levi.
Eren diam sejenak memperhatikan sikap sang kapten di depannya dan ia dengan cepat mendapatkan alasannya kenapa sang kapten bersikap seperti ini.
"Heichou cemburu ya?" Tanya Eren sambil tersenyum
"Hah?!"
"Anda kesal melihat aku berpelukan dengan Mikasa kan? Heichou cemburu melihatku dekat dengannya kan?"
Levi tidak menjawab, 'Aku cemburu? —' seperti tersadar, wajah Levi menampilkan semburat merah. Dengan cepat ia menutup wajahnya dengan lengan atasnya,ia malu.
Eren yang melihat malah semakin senang melihat kaptennya cemburu dan malu-malu seperti ini. Eren kemudian memeluk kaptennya erat.
"Aku hanya menyukai heichou—" Eren berkata, senyum tak hilang dari wajahnya dan mencium pipi Levi, "—jadi biarkan aku tidur bersamamu ya?" Tanya Eren sambil memiringkan kepalanya.
Levi pun tak dapat menolak lagi. Ia membiarkan Eren masuk ke dalam kamarnya dan menginvasi tempat tidur miliknya. Eren mengambil bagian yang dekat dengan dinding. Levi pun naik ke atas kasur dan merebahkan dirinya. Eren pun mendekat dan memeluk Levi sebelum tertidur. Levi pun segera menyusulnya.
Levi membuka matanya perlahan. Ia merasa ada yang bergerak terus-menerus di sampingnya yang membuat ia terbangun. Ia masih mengantuk ketika menyadari bahwa orang di sebelahnya, Eren, menggeliat dalam tidurnya. Wajahnya seperti kesakitan, peluh membanjiri sekujur tubuhnya, napasnya tersengal-sengal, dan tangannya memegang seprei dengat erat. Levi tersadar sempurna.
"Eren" Panggil Levi
Eren masih menggeliat ketika tiba-tiba ia terbangun sambil berteriak. Wajahnya pucat, shock. Dan Eren menangis, air matanya tumpah ruah mengalir dari matanya. Panik, takut, benci,sedih semua bercampur menjadi satu. Ia menangis tersedu-sedu sambil memegang kepalanya yang masih menyisakan sisa-sisa mimpi buruk di pikirannya. Levi berusaha menenangkannya, bahkan telah menggoyang-goyangkan tubuhnya tapi Eren tak memperdulikannya. Tubuh Eren masih bergetar, matanya tak fokus. Levi yang tak dipedulikan dengan satu gerakan menarik bahu Eren menghadap ke arahnya dan
Levi mencium bibir Eren.
Membuat yang dicium tersadar dari kepanikannya . Eren mulai dapat mengembalikan diri dan merasakan bibir yang menyentuhnya membuat ia menutup mata dan melingkarkan lengannya di leher Levi. Levi menggigit bibir bawah Eren, lidahnya meminta masuk. Eren yang tidak mengerti keinginan Levi masih menutup rapat bibirnya. Tak sabar, Levi memegang dagu Eren, memaksanya membuka mulutnya. Lidahnya menginvasi rongga mulut Eren. Eren hanya dapat menikmati ciumannya dengan sang kapten.
Mereka melepaskan ciumannya ketika sang paru-paru berteriak meminta diisi oksigen. Keduanya -atau lebih tepatnya Eren- tersengal-sengal. Wajah Eren memerah seperti tomat dan terdapat segaris saliva mengalir dari sudut bibirnya membuat dirinya terlihat begitu imut dan seksi dalam satu paket. Eren yang telah mengatur napasnya berkata,
"Heichou, cium aku lagi...aku mau lagi—" Eren memeluk Levi, "—buat aku melupakan mimpi burukku."
Tembok kontrol diri Levi telah runtuh. Ia sudah tak sanggup menahannya, bahkan ia pun sudah tak peduli lagi untuk melihat mata Eren terdapat kilau atau tidak. Kedua tangannya memegang wajah Eren.
Ia mencium bibir merah itu sekali lagi, melumatnya secara -tidak terlalu-lembut . Memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Eren, mengabsen gigi-gigi putih yang lengkap itu. Lidah bertemu dengan lidah dan terciptalah tarian yang sensual. Lidah Levi bekerja seperti sihir, membuat Eren rela didominasi oleh Levi. Ia sudah tak peduli dengan apa pun. Levi merebahkan Eren dan dirinya di atas kasur, tak melepaskan bibir mereka.
Dan ketika Levi melepaskan ciumannya bibirnya mengarah turun,mencium leher Eren dan menggigitnya serta menjilatnya perlahan. Merasakan sang bocah di bawahnya. Bibir Levi makin turun hampir ke arah belikat, ia mencium dan mengisap bagian tersebut meninggalkan tanda berwarna merah keunguan. Eren yang diciuminya mulai tak dapat mengontrol suaranya. Levi masih sibuk memberi tanda disana-sini ketika
"Aahn.."
Secara tak sengaja Eren mengeluarkan suara -super-seksi , membuat keduanya terdiam. Mereka sama-sama kaget.
'Itu suaraku?' Wajah Eren semakin memerah.
'Suaranya...seksi sekali' Pikir Levi dan sekali lagi ia menyerang bibir Eren, menciumnya ganas. Melumat bibir merah itu seperti tak ada hari esok.
Tapi di sudut pikirannya , Levi tau bahwa ia harus berhenti. Saat ini juga. Ia tak mau berbuat lebih jauh dari ini.
Levi melepaskan ciumannya secara mendadak membuat Eren membuka matanya dan melihat sang kapten sedang menatapnya.
"Heichou? Ada apa? Kenapa berhenti?" Eren memajukan tubuhnya, berniat mencium sang kapten ketika dua buah jemari menahan bibirnya untuk maju lebih jauh.
"Aa...uhm sepertinya kamu sudah tenang. Kita harus tidur, besok hari yang berat. Ya?" Ujar Levi mengelus pipi Eren lembut.
Eren hanya bisa mengangguk. Levi kemudian memeluk Eren dengan Eren yang memeluknya balik. Levi menarik selimut dan menutupi tubuh keduanya. Ia mencium dahi Eren seraya berkata,
"Selamat tidur, Eren"
"Selamat tidur, heichou"
Eren dengan cepat tertidur di pelukan Levi .
"Semoga kali ini mimpimu indah Eren" Ucap Levi sambil mengelus kepala Eren sebelum ia pun akhirnya ikut tertidur.
Terlihat senyuman di wajah keduanya.
.
.
.
To be continued
A/N : Hellow readers yang bertahan membacanya sampai akhir, Terima kasih banyak yaaaa :33 dan untuk reviewer apalagi, makasiih banyaak. :*
Seperti biasa, typo dan kekurangan-kekurangan lain mohon dimaapkan. Jiakalau ada yang mau memberi saran silakan PM saya yah. Saya akan sangat terbantu ;)) . Dan soal apdet yang super lama ini saya cuma bisa bilang kalau laporanlah yang menahan saya untuk menulis ni chapter jadi harap dimaklumi yah ;9
Semoga kalian semua senang membaca chap ini. Saya ga begitu bisa nulis lime bahkan sebenernya saya gatau apakah ini terhitung lime apa engga? Sepertinya engga :'''D #jatohindirikejurang
Jadi setelah berkenan membaca, ada yang berkenan mereview ?
Salam,
gigintama
