"Besok dia akan menikah, Mum. Apa yang harus kulakukan? Besok dia akan menjadi milik orang lain. Bagaimana... bagaimana denganku? Bagaimana dengan masa depanku? Aku tidak pernah menyukai gadis lain setelah gadis itu, Mum. Aku bodoh sekali..."
Suaranya semakin tidak jelas dan ia terbenam sendiri dalam tangisnya di pangkuan Narcissa. Hermione, dengan semua sisa kekuatan yang dipaksakannya, menutup pintu pelan-pelan dan membalikkan tubuhnya pergi diam-diam.
oo000oo
Pagi-pagi sekali, Hermione yang sempat tidak bisa tidur dan baru jatuh tertidur sekitar pukul tiga pagi karena kelelahan, harus dikejutkan oleh kepak burung hantu yang menghantam jendelanya. Ia mengucek mata sekali sebelum menyadari bahwa aneh sekali ada burung hantu yang mendatanginya, terutama setelah ia ingat hari ini hari apa. Satu-satunya burung hantu yang rutin mengunjunginya hanyalah Pigwigeon yang dikirim dari The Burrow untuk memberikan hadiah natal dan sebagainya. Mereka jarang berkomunikasi dengan surat, tentu saja, jika kau bisa ber-apparate seenak jidat siapa yang mau susah-susah menulis dan menunggu lama untuk balasannya? Dan kadang burung hantu juga datang dari kemetrian, tapi tidak mungkin hari ini. Hermione sadar itu. Memangnya mentri mana yang tega mengirimkan berkas pekerjaan di hari pernikahan anak buahnya?
Lalu dari siapa?
Ia melompat dari tempat tidur dan cepat-cepat membukakan jendelanya, membiarkan masuk seekor burung hantu besar berbulu abu-abu halus. Dikakinya terikat gulungan perkamen dan sebuah paket. Hermione membuka paket itu lebih dahulu, menemukan tas tangan dan tongkatnya, sebelum akhirnya semakin penasaran dan terburu-buru membaca isi surat.
Ada tulisan yang nyaris tidak bisa dibaca di sana, seperti tulisan anak umur sebelas tahun.
Trimakassih, Hermion... datanglah lahi...
Narcissa.
Hermione tersenyum dan mendadak merasa ada yang salah dengan dirinya. Ada rasa sakit. Ia takut ia tidak bisa lagi mengunjungi wanita itu, ia takut... tidak bisa lagi melihat wanita itu dan anaknya, Draco Malfoy.
"Hermione sayang! Apa kau sudah ba—"
Mrs. Weasley memunculkan wajah bulatnya yang memiliki kesan ramah di pintu Hermione bahkan sebelum tubuhnya yang gemuk masuk. Ia tersenyum begitu lebar pada Hermione selagi menyongsong gadis itu. Hermione sendiri, sebisa mungkin mengatur rambutnya seberantakan mungkin hingga menutupi tepi wajah, menyadari matanya yang bengkak.
"Kau sudah bangun! Baguslah!" seru Mrs. Weasley, tidak bisa tidak lebih girang dari siapapun.
"Mandilah, Nak. Malfoy bilang penata riasnya akan datang setengah jam lagi."
"Malfoy?!" ia tidak salah dengar kan? Hermione menemukan dirinya terlalu penasaran dan panik sekaligus.
"Oh, ya. Dia sudah datang, ada di ruang makan bersama Harry dan Ron. Kau tahu, Ron pucat sekali sejak tadi pagi, aku takut ia bisa pingsan sebelum pengucapan janji suci!" Mrs. Weasley tertawa. Jari-jarinya yang pendek gemuk menggapai selimut Hermione untuk merapikannya.
"Malfoy itu... waktu kecil dia anak yang sangat sombong. Yah, bukan salahnya, Lucius lah yang mendidiknya sedemikian. Tapi lihatlah dia sekarang! Begitu tampan dan mapan! Setiap gadis akan begitu sulit menolak pesonanya. Untunglah Ron melamarmu lebih dulu," kekehnya setengah bercanda, namun Hermione tidak bisa menangkap dimana sisi lucunya itu. Ia mematung seperti kena kutukan pembeku. Yang bisa ia syukuri saat itu, Mrs. Weaasley tidak sedang menatapnya, tidak melihat bagaimana ekspresinya.
"Oh, yeah, kalau bukan karena rambut pirang peraknya, aku hampir tidak mengenalinya," sahut Hermione sebisanya menguasai diri. "Jadi anda dan Malfoy sudah... baikan?"
"Oh, ya. Ya. Kemarin dia menemui kami dan menjelaskan semuanya, keadaannya setelah Lucius di penjara. Kasian sekali, dia bilang Narcissa sakit tapi kami tidak tahu sakit apa. Dan dia juga mengatakan kau yang menyewanya sebagai Wedding Plainer itu..."
"Wedding Planner," Hermione mengoreksi.
"Oh ya, aku tidak peduli istilah Muggle," cemooh Mrs. Weasley seperti setiap ia mencemooh keantusiasan suaminya terhadap Muggle. "Dan Malfoy bekerja dengan Muggle selama ini. Sungguh tidak bisa dipercaya," tambahnya sedih.
"Tapi, Hermione. Kenapa kau tidak menceritakan itu kepada kami lebih awal? Kau sudah lama bertemu Draco, kan?"
"Oh... itu. Ak—aku lupa!"
Bahkan Hermione sendiri merasa ekspresinya tidak begitu meyakinkan.
"Aku harus cepat-cepat mandi, sepertinya!"
Saat Mrs. Weasley menoleh, ia hanya berhasil menemukan gumpalan rambut cokelat menghilang di balik pintu kamar mandi.
oo000oo
"Kau cantik sekali. Tunggu ya, sebentar lagi siap!"
Hermione tidak berniat repot-repot menggubrisnya, penata rias paling cerewet yang pernah ia temui. Ia menatap bayangannya sendiri di cermin dan mau tak mau, kejadian kemarin berputar berulang-ulang di kepalanya. Ia berharap masih Malfoy yang berdiri di belakang pintu, yang akan menyambutnya untuk pertama kali. Tapi sekali lagi, berisik suara Ron yang berteriak-teriak di luar sana membuatnya kembali mengingat kenyataan.
Akhirnya, Madam Folse yang bertubuh tinggi ramping dengan kulit berkeriput itu memberikan sentuhan akhir pada rambut Hermione. Yang ketika Hermione melihat dirinya di cermin lagi, ia bisa menemukan sebuah tiara cantik bertengger di atas gelung rambut cokelatnya. Madam Folse memandangi Hermione dengan tak kalah takjubnya. Seolah Hermione adalah sebuah mahakarya yang barusaja ia lahirkan.
"Sempurna sekali! Ayo! Semua orang sudah tidak sabar ingin melihatmu."
Bahkan ia tidak menginginkan Ron menjadi orang pertama yang melihatnya ketika melewati pintu nanti. Tidak. Demi Merlin, ia ingin Malfoy, doanya.
Dengan kesibukannya meredakan degup jantungnya sendiri, Hermione nyaris tidak menyadari betapa ruangan itu sunyi, betapa kosong. Matanya mengedar ke berbagai sudut dan menemukan seorang Draco Malfoy di sana, sendirian.
"Mana yang lain?" tanya Madam Folse duluan.
"Weasley, sesuatu terjadi pada rambutnya, aku tidak tahu, tapi dia terus menerus mencakar tatatnan rambutnya. Semua orang sedang berusaha menenangkannya di kamarnya."
Madam Folse tampak —saat Hermione menoleh padanya— antara terkejut dan panik. Tentu saja, rambut adalah karya cipta yang paling diagungkannya. Dan Malfoy barusaja memberitahu Ron sudah menhancurkan tatanan rambut yang sudah dirias Madam Folse selama satu jam terdahulu.
"Astaga! Apa yang dia lakukan? Pemberkatan lima belas menit lagi!"
Dan dengan langkah tegopoh yang panik, ia berlari keluar ruangan mencari Ron. Hermione membeku di tempatnya, menatap Malfoy tajam-tajam.
"Kau? Apa yang kau—"
"Sssh. Aku kesini tidak untuk mendengar omelanmu, Granger," Malfoy memotong cepat.
"Tapi Ron—"
"Potter yang melakukannya. Atau setidaknya, tongkatnya yang melakukannya."
Hermione menyipit, tanpa bertanya lagi ia sudah bisa menyimpulkan bahwa Draco telah mencuri tongkat Harry dan menyalahgunakannya. Memangnya hal sopan apa yang bisa diharapkan dari seorang Malfoy? Yah, meskipun begitu, ia tetap tidak bisa mengingkari rona dipipinya ketika Malfoy terus menatapnya tanpa menyingkirkan tatapan itu satu senti saja.
"Senang melihatmu, Granger," ucap Draco tiba-tiba setelah hening beberapa saat. "Senang menjadi yang pertama melihatmu."
Hanya karena itukah? Hanya karena itukah Malfoy membuat semua orang pergi? Ia merasa gugup. Sangat gugup. Jantungnya sampai sakit saat Draco berjalan pelan, semakin dekat ke arahnya. Sesaat ia merasa pria itu akan menyentuhnya, atau memeluknya sehingga ia memejamkan mata karena tidak dapat berpikir. Namun kemudian ia tahu, jari-jari Draco yang panjang berjarak begitu dekat dengan pipinya tanpa ada sentuhan. Pria itu seolah ragu-ragu. Seperti ia tidak yakin bahwa menyentuh gadis ini tidak akan membuat terluka. Seperti tangannya mengandung Basilik saja.
"Hermione."
Hermoine medongak, mempertemukan manik cokelat susunya dengan iris abu-abu Draco. Ia mendengar pria itu menyebut nama kecilnya dengan suara serak yang payah. Seolah ia sudah mengerahkan seluruh usaha hanya untuk menyebut nama itu. Dan tatapannya... tatap yang pernah ia kenal. Tatap yang membuatnya tidak mampu berpikir. Tatapan yang membuatnya merasa hilang akal, yang mendorongnya demikian kuat untuk memeluk pria itu. Tatap putus asa.
"Bolehkah... bolehkah aku menyentuhmu? Menyentuh tanganmu saja. Karena kau sama sekali bukan milikku. Tiga puluh menit. Bolehkah aku minta tiga puluh menit lagi... ah, tidak! Aku tidak akan muluk-muluk lagi. Bolehkan aku minta tiga puluh detikmu, untuk menyentuh tanganmu?"
Seolah ia sedang sekarat. Seolah ia tidak punya hari esok untuk dijalani.
Mencengkeram gaunnya, tangannya gemetar, buku-buku jarinya memutih. Hermione menunduk dan membebaskan satu titik airmata tanpa harus merusak make-upnya. Ia tidak mau semua orang bertanya-tanya nanti. Namun ia juga tidak bisa terus berpura-pura kuat sampai detik ini. Ia sudah menemukan jawaban dari semua kebingungannya. Bahwa ia menginginkan pria itu. Pria itulah, Draco Malfoylah. Untuk menyambutnya di depan altar, menggenggam tangannya, mengucap janji untuk setia padanya. Pria yang bersumpah akan menjaganya, akan mencintainya, pria yang akan menghabiskan seumur hidup dengannya. Dan ia menyadari, bahwa ia tidak ingin pria itu adalah orang lain. Tidak selain Malfoy.
Dan ketika ia nekat menatap mata itu lagi. Ia sudah menyadari tubuhnya bergerak lebih cepat daripada otaknya. Tubuhnya lebih berpihak ke hatinya dibanding otaknya yang menolak habis-habisan. Ia memeluk Draco, menenggelamkan wajahnya di dada pria itu. Aroma maskulin yang akan ia ingat-ingat. Sementara Draco perlahan membenamkan wajahnya di bahu Hermione. Bernapas di sana. Menyesap aroma manis leher gadis itu.
Hermione berharap, ia masih menyimpan pembalik waktu itu dan menguncinya di sini. Ia hanya tidak tahu bahwa, memeluk orang yang seharusnya ia jauhi, mencintai seseorang yang terbiasa ia benci, ternyata bisa semenyakitkan ini. Terutama ketika ia tidak punya pilihan sama sekali. Sudah terlambat, kan? Terlalu terlambat.
Gadis itu terus menyembunyikan wajahnya di dada Draco, dan sesaat berikutnya, Draco segera tahu, Hermione mulai terisak di sana. Ia memundurkan tubuhnya sedikit dan mendorong pinggang gadis itu, memaksanya mendongak menatap Draco. Saat Draco ingin menghapus airmata di pipi itu, Hermione berusaha menangkisnya, ia tidak ingin terlihat lemah.
"Izinkan aku menyentuh tanganmu, Granger," bisik Draco sambil mencekal lengan gadis itu.
"Aku hanya ingin memberitahumu rahasia terbesarku. Sangat mudah, Granger. Bahwa aku mencintaimu. Dan itu belum berubah sampai sekarang."
Wajah mereka berdekatan, dan hal berikutnya yang Hermione rasakan adalah hangat dan basah di bibirnya. Draco menciumnya pelan.
Dan ia hampir tidak bisa merasakan apa-apa lagi setelah itu. Bahkan saat Draco menggenggam tangannya dan menemaninya menuju altar dimana ayahnya menunggu di sana. Bahkan saat langkah-langkah sepatunya mulai memenuhi telinganya di antara gereja yang nyaris sunyi. Bahkan saat Mr. Granger menggenggam lengannya begitu erat dan tersenyum lebar. Bahkan saat semua orang mulai menempatkan seluruh perhatian padanya. Bahkan saat Harry dan teman-temannya melambai dari tempat duduk paling depan. Bahkan saat ia bisa melihat sekilas wajah sang pendeta. Bahkan... saat Ron menoleh dan memasang wajah takjub untuknya.
Bukan semua ini yang ingin ia lihat.
Hermione merasakan kakinya semakin lemas. Terlebih jantungnya. Ia sulit sekali bernapas. Seakan seluruh pasokan oksigen dihisap darinya. Dan dibawa oleh seorang pria brengsek berambut pirang keperakan bernama Draco Malfoy. Hermione menatap sekelilingnya dan tidak menemukan pria itu dimanapun.
Kenangan berputar cepat di otaknya.
Tahun pertama Hogwarts. Ia bertemu bocah itu. Kecil, kurus, berwajah runcing dan rambut pirang perak yang terlalu mulus dengan suara begitu sombong dan sok. Dalam sekejap mereka sudah menjadi musuh, seperti ditakirkan. Lalu tahun-tahun berikutnya. Ia ingat sekali Draco mengatainya Darah-Lumpur. Ia ingat pernah menojok wajah anak itu. Samar-samar ia ingat bagaimana ia di dalam ruangan bersama Draco dan Bellatrix, dengan Bellatrix menyiksanya dan wajah ketakutan Draco. Ia ingat tahun ketujuh mereka. Draco, partnernya sebagai ketua murid, yang masih gemar mencari-cari masalah dengan Hermione dan teman-temannya. Lalu Draco yang sekarang, yang sebulan lalu ia temukan di sebuah agen konsultasi pernikahan. Draco yang lebih tampan dan sopan. Draco yang mata abu-abu kebiruannya membuat Hermione lupa hal lainnya. Draco yang meminta tiga puluh hari darinya. Draco yang mengubur keinginannya di bawah pohon mapel gereja. Draco yang mengatakan—
Hermione terjatuh. Persis di tengah altar. Menyebabkan kepanikan di sekitarnya. Para tamu mulai berbisik. Harry, Ginny, Luna dan Neville memandang khawatir dari ujung sana. Begitu juga dengan Ron, sementara Mr. Granger berusaha membantu gadis itu bangun. Namun Hermione tak mau. Ia tidak ingin berdiri.
Draco yang mengatakan mencintainya. Draco yang menjadikan ia sebagai rahasia terbesarnya. Alasan sederhana yang membuat pria itu menghilang darinya.
Lalu dengan kekuatan yang seperti ditarik lalu dikembalikan ke tubuhnya, Hermione berdiri. Sebelum semua orang berhasil memeganginya, gadis itu telah berlari. Bukan ke arah Ron, tapi keluar dari gereja. Baru berhenti di depan sebuah pohon maple besar yang sama tempat mereka menanam peinsive mereka sendiri. Tidak putus asa tanpa adanya tongkat, Hermione mengambil ranting terdekat dan mengorek tanah cepat-cepat dengan itu. Airmata sudah membuat wajahnya nyaris tidak karuan. Ia tidak peduli ketika orang-orang berdatangan mengerumuninya, berbisik-bisik tentang ia yang tampak begitu kacau. Ia bahkan tidak bisa peduli saat Ron menatapnya dengan sorot bingung dan ... terluka.
Ia cepat-cepat, dengan menggunakan tangannya kini, mengelurakan botol itu, surat itu, yang sekarang ada tulisannya.
Sejak kebodohanku menyukai seorang Darah Lumpur, rahasiaku adalah selalu bertanya-tanya, mungkinkah suatu hari aku bisa menanyakan ini. Bukan 'maukah kau menikah denganku?'. Karena hanya menikah tidak akan cukup. Dan terlalu rakus jika aku memintanya 'would you share rest of your life with me?'.
Jadi aku hanya ingin bertanya... will you love me?
Airmata yang lebih besar membanjiri wajah Hermione. Ia sesenggukan keras di atas lututnya tanpa menahannya. Apa yang ditanyakan Malfoy bodoh? Ia tidak mungkin menjawab I do1, karena dia sudah menjawab I did2.
oo000oo
"Ron! Kupikir kau sudah membersihkan semua kandang untukku! Kenapa masih kotor begitu, huh? Pestanya berlangsung beberapa jam lagi! Narcissa bisa gila jika menyaksikan ini!"
"Dia sudah gila, Mum!"
Mrs. Weasley, tampak tidak bisa dimohon ampun jika sudah begini, jika wajahnya sudah merona semarah dan semerah ini hingga menyaingi rambutnya.
"Anakku tidak boleh bicara begitu! Tunggu sampai kulaporkan ini pada Arthur!" geramnya sambil berlalu membaawa sekuali penuh lobak hitam.
"Tidak ada calon pengantin yang diharuskan membersihkan kandang ayam sebelum menikah! Iya, kan Harry?" Ron mengomel sepeninggal Mrs. Weasley, tapi ekspresi yang ia dapati di wajah Harry tidak membantu sama sekali.
"Oh, baiklah. Setidaknya, dulu, aku sudah hampir menikah dan disuruh membersihkan kandang ayam juga." Ia mengangkat bahu.
"Menurutmu keputusanku tepat, sobat?"
"Yeah, kau hebat, sobat!" ujar Harry sambil meneuk bahu Ron, tampak tulus.
"Tapi aku juga merasa bodoh. Masa' sih aku mau mengalah untuk Malfoy kurang ajar itu?! Dan bahkan sekarang mereka akan mengadakan pesta pernikahannya di rumahku! Yang benar saja!"
Ron bergidik, separuh matanya melirik pada Draco dan Hermione yang sedang sibuk berdua dengan sebuah kuali bersama mereka. Tapi mereka tampk tidak mengerjakan apapun selain berpandang-pandangan. Ron cepat-cepat memalingkan wajahnya kembali ke Harry saat merasa benar-benar cukup mual untuk terus menonton.
"Awas saja kalau mereka berciuman di depanku! Biar kubawakan sekuali penuh jembalang untuk mereka!"
Dan tepat setelah Ron mengucapkan itu, Harry bisa melihat wajah kedua orang yang sedang dibicarakan mendekat begitu saja dan terjadilah pergumulan mulut yang semua orang dewasa tahu.
Harry, sebisa mungkin menekan dalam-dalam tawa gelinya dan memasang tampang prihatin. "Kalau boleh kuingatkan, ibumu yang meminta pestanya di adakan di sini, Ron. Lagipula kita sudah sepakat bahwa kau melakukan ini demi Hermione."
"Yeah, dan lagipula Gabrielle, adik Fleur semakin manis belakangan ini," tambah Ron kalem.
"Keturunan Veela. Tentu saja, selain Lavender Brown, seleramu sama sekali tidak buruk. Percayalah!"
oo000oo
"Maukah kau mencintaiku?" bisik Draco.
"Apa yang kau tanyakan?" Hermione memundurkan tubuhnya sedikit dan menatap bingung pada Draco.
"Jawab aku, Granger."
"Itu— oh, baiklah! Ya. Aku akan."
Hermione menunduk menyembunyikan wajahnya, tidak seperti Hermione biasanya. Hermione yang seingat Draco mengangkat dagunya ampir setinggi menara astronomi dengan tangannya yang siap mengacung sewaktu-waktu saat siapapun bertanya. Kenapa gadis ini tidak mengacungkan tangannya dengan wajah sok tahu lagi saat menajwab pertanyaanku? Batin Draco, geli. Ia menyeringai lebar dan meraih anak rambut Hermione yang menutupi wajah, menyelipkannya di belakang telinga gadis itu.
"Bagus."
"Apakah kau masih tidak ingin mengucapkan kalimat lamaran yang layak?" tanya Hermione tiba-tiba, dengan suara tercekat yang seperti bukan miliknya.
"Harus? Yang tadi cukup. Jika kau mencintaiku, maka kau akan selalu bersamaku, kan? Kau akan berusaha sendiri agar menjadi istriku."
"Apa?!"
Hermione mendongak lagi, wajahnya mendengus tidak suka. Dan Malfoy, masih menyeringai senang.
"Dan asal kau mencintaiku. Aku punya alasan yang cukup untuk mempertahankanmu. Untuk tidak membairkanmu melarikan diri dariku, Granger," tambahnya, kali ini sambil mengecup puncak kepala gadis itu. Gadis yang besok akan benar-benar menjadi pengantinnya.
"Dan ngomong-ngomong, boleh aku bertanya lagi, Malfoy?"
"Selama bukan yang aneh-aneh, ya. Apa?"
"Kapan kau akan berhenti memanggilku Granger?"
Draco tampak sok berpikir, tangannya menumpu dagu dan demi Merlin, ia tampak tidak berubah menyebalkannya.
"Kau boleh memilih. Honey, sweety, darling, baby, wifey..."
"Kau membuatku mual, Malfoy!" dengus Hermione, memutuskan tidak ada satu panggilan pun yang terdengar nyaman untuknya jika dicupakan dengan gaya dipanjang-panjangkan yang sangat mengesalkan oleh Draco Malfoy.
"Oh. Aku juga berencana membuatmu mual-mual karena mengandung anakku dalam waktu dekat, Granger."
"Malfoy!"
Dan sebenarnya, tidak ada kaitannya sama sekali pertengkaran itu dengan tindakan yang diambil Draco berikutnya. Melumat bibir Granger seperti tidak akan ada hari esok. Seperti tidak pernah puas. Tidak pernah bosan. Dan sialnya, setiap harinya sepertinya akan seperti itu.
END
Akhirnya tamat! *tebar bunga*
Maaf, maaaaaaaaf banget aku harusnya publish kemarin! Tapi gak bisa gegara jaringsn internetnya u,u
Maaf pendek, maaf kalo enidng FFnya gaje dan OOC dan gak dapet feel-nya. I've tried my best at this time, but I'm imperfect human, though. So sorry. Semoga cukup puas dengan ending yanga rada gak masuk akal ini. Bahkan pas nulis adegan2 akhir aku makin bertanya2, ini aku nulis DRACO apa KYUHYUN sih? *plak* karena karakter mereka mirip sekali menurutku, dan aku sukaaaaak.
Nah, semoga tidak keberatan untuk meninggalkan jejak kakinya di chap terakhir ini. Kritik dan saran selalu ditunggu. Terimakasih *bow*
1 Aku bersedia
2 Aku sudah melakukannya.
