WEREWOLF
.
.
Author: fabztbh
.
.
Cast: EXO members
.
.
Pairing: TaoRis
.
.
Length: Chaptered
.
.
Rating: T
.
.
Genre: Romance, Family, Fantasy (a bit)
.
.
Disclaimer: I only own the fanfiction
.
.
NOTES: '...' is Tao's part with his Sign Language
.
.
NO BASH. DON'T LIKE? DON'T WASTE YOUR TIME TO READ MY FANFIC BECAUSE NO ONE SAID YOU HAD TO LOVE IT.
=== WEREWOLF ===
"Tolong ajari aku sign languagemu!" jawab Wufan pelan. Jika saja Tao adalah orang yang memiliki gangguan pendengaran dia pasti tidak dapat mendengarnya.
Tao tercengang, tidak dapat mempercayai apa yang baru saja didengarnya, Wufan ingin belajar bahasa isyarat? Sekarang, Tao sudah mulai mempercayai dengan adanya keajaiban.
Merasa malu karena tidak mendapat respond yang berarti dari Tao, Wufan benar-benar menyesali permintaannya yang barusan. Tch— baiklah itu adalah kali pertama dan terakhir Wufan memohon pada Tao, damn it! Wu Yifan please, your pride!
"Lupakan" Wufan pun mengurungkan niatnya dan segera mematikan lampu sebelum ia naik ke atas tempat tidur.
Tao mendesah kecewa lalu hanya menatap Wufan dengan mata pandanya. Apakah ia tidak tahu bahwa Tao sangat senang mendengar hal itu? Sepertinya Wufan benar-benar orang yang tidak peka. Akhirnya Tao memutuskan untuk tidur dan tidak terlalu memikirkan permintaan Wufan barusan.
.
.
.
.
.
Dua jam berlalu dan baik Tao maupun Wufan masih tidak bisa menutup matanya. Apakah mereka berdua masih tidak bisa melupakan kalimat Wufan barusan? Apakah permintaan Wufan barusan sangat berarti untuk Tao? Entahlah. Tapi, mereka harus tidur— menyimpan tenaga untuk perjalanan pulang ke Qingdao besok bukan.
"Bodoh"
Tidak ada balasan.
"Hey bodoh"
Panggilan kedua dan Tao belum memberi respond. Oh okay Wufan begitu bodoh untuk tidak menyalakan lampu. Ia pun bangkit dari tidurnya, bergegas untuk menyalakan lampu, dan benar saja Tao masih terjaga dan menatap Wufan dengan mata sayunya.
Uh Tao, hentikan tatapan matamu itu! Apakah kau tidak tahu wujud asli Wu Yifan sebenarnya?
Wufan menelan ludahnya dengan susah payah. Sial, Tao dalam pose seperti saat ini membuat jantungnya berdebar sehingga ia lupa bahwa Tao sudah pasti tidak dapat membalas sahutannya "Kau tidak tidur, bodoh?"
Dan Tao hanya mengganggukkan kepalanya, entah kenapa ia tidak bisa tidur padahal beberapa jam yang lalu ia merasa sangat sangat mengantuk. Tao memutuskan untuk bangun dari tidurnya dan mengambil sebuah notes dan pulpen yang ada di laci meja nakas yang ada di kamarnya. Kemudian ia mulai menuliskan sesuatu dan memperlihatkannya kepada Wufan.
'Aku akan mengajarimu'
Wufan mengerutkan alisnya setelah membaca tulisan tersebut.
Tao pun kembali menuliskan sesuatu 'Pertama-tama aku akan mengeja namamu dalam bahasaku'
Ia menaikkan jari telunjuk, tengah, dan manisnya sehingga benar-benar membentuk huruf 'W' dan Wufan pun melakukan hal yang sama.
Kemudian ia mengepalkan tangannya tetapi tetap menggangkat jari telunjuk dan tengahnya 'U', Wufan terlihat berpikir namu beberapa detik kemudian ia kembali melakukan hal yang sama dengan yang Tao baru saja lakukan.
Ia kemudian membentuk suatu lingkaran kecil dari ibu jari dan telunjuknya dan menggangkat ketiga jarinya yang sisa, 'F'. Wufan sedikit merinding ketika melihat Tao yang baru saja mempraktikkan huruf F didalam bahasanya, apakah ia harus berpose seimut itu? Tapi, mau tidak mau ia harus melakukan hal yang sama.
Tao kemudian mengepalkan tangannya tetapi sedikit mengangkat ibu jarinya, 'A'. Wufan melakukan hal yang serupa tetapi sedikit susah mengangkat ibu jarinya mengingkat ukuran tangannya yang ada diatas rata-rata.
Dan Tao tidak mengubah kepalan tangannya tetapi memindahkan ibu jarinya di bawah kepalan dikeluarkan di celah antara jari manis dan kelingkingnya, 'N' (author ngga tau ngejelasinnya gimana).
Wufan terus menerus mempraktikkan hal yang serupa dengan tekun. Terkadang ia mendengus atau menggerang kesal karena bahasa milik Tao benar-benar membuatnya frustasi! Sedangkan Tao hanya tertawa atau tersenyum sesekali.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Melihat Tao yang sudah menguap dan berusaha menahan kantuknya Wufan tersenyum kecil "Tidurlah bodoh, kita akan segera kembali ke Qingdao pagi nanti"
Tao hanya mengganguk dan segera berbaring dan masuk ke dalam selimut kesayangannya, dan terbukti, beberapa menit setelah menidurkan dirinya ia sudah terlelap di alam bawah sadarnya. Wufan hanya menatap Tao yang terlelap, dan seperti de javu ia kembali mengingat perkataan seorang penulis mancanegara yang bisa dikatakan sangat populer, "I feel in love the way you fall sleep; slowly, and then all at once"
Tao is a sleeping beauty huh?
Wufan mengacak rambutnya untuk menyadarkan dirinya, damn! Ia tidak boleh jatuh cinta kepada Tao. Oh dan sialnya lagi ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, "Sepertinya aku harus keluar untuk mencari angin segar" batinnya sambil mengambil mantel bulu kesayangannya.
=== WEREWOLF ===
Akhirnya Wufan menghentikan kakinya disini, taman yang penuh dengan bunga edelweiss yang menjadi tempat favorite dari Tao— dan mungkin juga akan menjadi tempat favoritenya, tetapi sebelum melangkah lebih dekat ia sudah bisa melihat Jongin dan Kyungsoo dari arah kejauhan. Bermesraan di dini hari? Hell, mereka pasti sudah gila.
Wufan maju beberapa langkah tetapi ia tetap berusah untuk menimbulkan suara sepelan mungkin, tidak ingin mengganggu pasangan itu— atau Wufan apakah kau ingin mengintip?
Hatinya terhenyak melihat mata Kyungsoo yang sudah membengkak dan terus mengeluarkan air mata. Walaupun Jongin sudah disana untuk menengkannya tapi tetap saja pria itu tetap menangis, sebenarnya apa yang terjadi?
Pria kelahiran Vancouver itu memilih untuk lebih mendekat dengan pasangan ini sehingga ia sudah mulai dapat mendengar isak tangis dari Kyungsoo. Wufan— kau benar-benar seorang penguping handal.
"Jonginnie, aku akan merindukan Taozi hiks" lelehan air mata Kyungsoo kembali tumpah setiap menyebut nama Tao. Yeah mungkin Kyungsoo memiliki brother complex terhadap adik kesayangannya itu. Jongin hanya menepuk punggung kekasihnya yang sedang terisak di dadanya itu pelan "Dia tidak akan meninggalkanmu selamanya babysoo"
"Ta—tapi Jongin-ah" Kyungsoo mempoutkan bibirnya dan Jongin tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia langsung mengecup bibir pouty milik kekasihnya itu "Everything is gonna be alright babysoo, trust me okay?"
Kyungsoo hanya membalasnya dengan anggukan lalu tetap menatap Jongin dengan matanya yang bengkak dan berair.
Jongin tersenyum lalu mengecup kedua kelopak mata Kyungsoo lembut "Nah sekarang kau harus beristirahat babysoo, Wufan pasti bisa menjaga Tao"
Kyungsoo hanya menggangguk pelan lalu mengeratkan pelukannya di lengan Jongin. Mereka berduapun kembali menuju ke kamar mereka.
Setelah merasa Jongin dan Kyungsoo sudah menghilang dari pandangannya, Wufan segera keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan mendekati bangku yang ada di taman itu— merenung huh?
"Aku tidak yakin dengan perkataan Jongin. Aku tidak bisa jatuh cinta dengan Tao" tekadnya
=== WEREWOLF ===
TOK TOK TOK!
TOK TOK TOK!
TOK TOK TOK!
Tao membuka matanya pelan, suara ketukan pintu yang agak keras itu mengusik tidur cantiknya. Jujur, ia masih sangat sangat sangat mengantuk karena ulah Wufan semalam tapi yah ia memang wajib untuk bangun pagi hari karena ingin mengurus kepulangannya.
Dengan langkah malas ia bangun dan merapikan rambutnya asal-asalan, ia kemudian membuka pintu kamarnya dan secara reflex mengecilkan pupilnya karena terik matahari yang sudah bersinar terik.
Pelayan itu membungkuk pelan lalu tersenyum "Maaf karena saya sudah menggangu waktu istirahat anda pangeran, tapi sarapan sudah siap" ucapnya sopan
Tao hanya membalasnya dengan anggukkan pelan lalu kembali menutup pintu kamarnya ketika sang pelayan sudah mengudurkan dirinya.
.
.
.
.
.
Tanpa membutuhkan waktu yang lama Tao sudah siap untuk kegiatan sarapan paginya, tapi kemudian ia sadar bahwa suaminya tidak ada di kamar mereka. Apakah Wufan memang sangat berniat untuk bangun dan sarapan? Mungkin.
Tao segera merapikan bajunya dan memastikan para pelayan sudah mengangkut barang yang akan di bawanya nanti ke atas kereta. Setelah memastikan semuanya sudah siap ia kemudian menyusul sarapan yang sedang menunggunya, tapi sendari tadi ia mencari dimana keberadaan Wufan?
.
.
.
.
.
Sesampainya di sana, ia sudah disambut oleh kemesraan sang kakak di pagi buta ini dan hanya bisa ditanggapi dengan sebuah gelengan pelan.
"Good morning baby panda!" sapa Jongin
Yeah Jongin sedang berusaha untuk mendekati Tao agar ia ingin membantu-nya untuk membujuk Yang Mulia yang menunda pernikahannya dengan Kyungsoo. Ia tidak harus membuat Kyungsoo hamil duluan bukan?
Tao hanya memberi death glare— lebih tepatnya cute glare kepada Jongin dan membungkukkan badannya sebagai sapaan kepada Yang Mulia dan Ibu Ratu yang sedang sibuk dengan makanannya masing-masing. Ia kemudian duduk di sebelah Wufan yang sedang menatap makannya dengan tidak berselera.
Tao menepuk pundak Wufan lalu bertanya 'Apa kau tidak tidur semalaman?'
Butuh waktu satu menit bagi Wufan untuk mencerna dan mengartikan perkataan Tao sebelum ia menanggapinya dengan sebuah gumaman dan anggukan "Hmm"
Tao hanya menatap sikap cuek Wufan malas lalu memutuskan untuk memulai sarapannya.
.
.
.
.
.
Setelah naik ke atas kereta bersama Wufan, Tao membuka jendela yang memang disediakan bada bagian sisi kereta untuk mengucapkan selamat tinggal kepada sang kakak tercinta yang kebetulan sempat untuk mengantar kepergiannya.
Tao melambaikan tangannya 'Sampai jumpa ge! Aku akan sangat sangat merindukanmu'
Jongin hanya menepuk punggung Kyungsoo dan menggenggam tangannya erat, mengisyaratkan Kyungsoo agar tidak mengeluarkan air matanya "Yeah taozi, kapan-kapan gege juga akan berkunjung ke Qingdao!"
Tao tersenyum lebar lalu mengganggukkan kepalanya, dan untuk terakhir kalinya ia benar-benar melambaikan tangannya sebelum kereta yang mereka gunakan melesat meninggalkan Kerajaan Yinchuan.
=== WEREWOLF ===
Seperti biasanya, sepanjang perjalanan pulang ke Qingdao Tao dan Wufan tidak berbicara satu sama lain. Mereka sibuk dengan pikiran dan perasaan mereka masing-masing. Wufan terlihat menoleh ke kiri, melihat pemandangan di sepanjang pulang dan Tao tampak tertunduk dan duduk dengan posisi yang menurutnya sudah nyaman.
Wufan terlalu sibuk mengagumi keindahan pemandangan di sepanjang perjalanan pulang mereka, namun ia tersadar dari kesibukannya ketika ia merasa bahwa secara tiba-tiba ia merasa terdapat beban di pundaknya. Wufan mengalihkan pandangannya dan melihat Tao, yang sudah tertidur di pundaknya.
Hey, seharusnya yang merasa mengantuk adalah Wufan— bayangkan saja ia tidak tidur seharian karena mempelajari bahasa isyarat dan karena terus mengingat percakapan Jongin dan Kyungso yang didengarnya secara sembunyi-sembunyi itu, "Wufan pasti akan menjaga Taozi"
Ia tertengun melihat Tao dari jarak sedekat ini. Walaupun ia sudah pernah melihat Tao dengan jarak yang lebih dekat tapi tetap saja kan, ini adalah cerita yang berbeda mengingat perkembangan hubungan mereka yang kian membaik.
Dari jarak sedekat ini Wufan bisa menghirup aroma yang terkuar dari rambut hitam pekat Tao, bau itu sangat memabukkan untuk Wufan. Ia tidak tahu dorongan keberanian apa yang membuatnya mengecup pucuk kepala istrinya itu dengan lembut.
"Hey Wufan kau tidak boleh jatuh cinta padanya!" Bagai sebuah bisikan entah dari mana Wufan tersentak dan sadar akan apa yang baru saja ia lakukan, dan kembali ia mengingatkan dirinya bahwa ia TIDAK boleh jatuh cinta kepada Tao.
.
.
.
.
.
Empat jam berlalu dan akhirnya perjalanan melelahkan itu berakhir juga. Para pelayan mulai menurunkan barang bawaan Wufan dan Tao sebelum memanggil mereka untuk turun dari kereta.
"Pangeran, kita sudah—"
Panggilan pelayan itu terhenti ketika Wufan meletakkan jarinya di depan bibirnya "Shhh"
Pelayan itu membungkukkan badannya untuk meminta maaf karena ia sadar bahwa Tao— istri sang pangeran sedang tertidur dengan pulas.
Wufan kemudian menyuruh salah seorang pelayan prianya untuk membuka pintu kereta lebih lebar agar ia bisa dengan mudah turun nantinya.
Dalam sekali percobaan lengan kekar Wufan sudah dapat menggangkat tubuh ramping milik Zi Tao dan menggendongnya ala bridal style. Wufan sedikit kesulitan ketika ia ingin melangkahkan kakinya turun dari kereta berhubung jarak antara permukaan tanah dan dasar kereta yang tepisah dengan jarak yang cukup jauh. Tetapi bukan Wu Yifan namanya jika ia tidak bisa mengatasi hal itu.
Setelah memastikan bahwa Tao masih terlelap didalam gendongannya dan menyuruh para pelayan untuk membawa barang- barang milik Tao, ia pun berjalan menuju bilik selatan— sepertinya Tao dan dirinya benar-benar membutuhkan tidur extra.
.
.
.
.
.
Para pelayan yang sedang berjaga di bilik selatan membungkukkan badannya, memberi hormat ketika sang putra mahkota dan istrinya— yang sedang digendongnya berjalan melewati mereka. Wufan tidak membalas sapaan mereka, ia memandang mereka dengan tatapan datar dan pandangan yang lurus kedepan. Sangat angkuh huh?
Ia cukup kesulitan ketika ingin membuka pintu kamar milik mereka dengan salah satu tangannya, tetapi dengan perjuangan yang cukup melelahkan— mengingat beban yang Wufan gendong sekarang, akhirnya ia berhasil membuka pintu itu. Wufan memasuki kamar tersebut dan menutup pintu kamar itu dari dalam dengan kaki kanannya. Alhasil benturan yang di hasilkan pun bisa dibilang agak keras, ia mengalihkan pandangannya melihat sosok panda yang sama sekali tidak terganggu dengan bunyi benturan yang baru saja ia hasilkan.
"Dasar mayat" ejeknya pelan
Wufan segera meletakkan Tao di atas tempat tidur sebelum kedua tangannya mati rasa karena keram yang disebabkan oleh beratbadan Tao yang tidak termasuk dalam kategori ringan.
Secara tiba-tiba ia terserang rasa kantuk yang amat sangat seiring ia melihat kasur yang sangat menggoda di depan matanya. Dengan perlahan ia menidurkan dirinya di wilayah kasur kosong— yang sebenarnya merupakan bagian miliknya, secara perlahan, tidak ingin membangunkan Tao. Ia benar-benar butuh waktu istirahat atau matanya hazzle brown-nya dihiasi oleh kantung mata seperti Tao.
=== WEREWOLF ===
Setelah tidur selama enam jam, Tao terbangun dari tidur cantiknya. Ia sedikit heran mengingat beberapa menit yang lalu ia masih duduk di atas kereta dan Tao sangat yakin dengan hal itu. Kebingungannya bertambah ketika ia melihat Wufan yang sedang tertidur disampingnya dengan pulas dengan pakaiannya yang masih lengkap.
"Oh apakah ini tengah malam?" tanyanya kepada dirinya.
Melihat kearah jam yang tergantung di dekat pintu dan sedikit heran dengan waktu yang menunjukkan pukul satu siang. Wah, jadi ia sudah tertidur selama enam jam? Okay, ini sedikit berlebihan.
Tao mengusap matanya pelan sebelum merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku akibat istirahat singkatnya barusan. Menggelengkan kepalanya ketika ia melihat Wufan yang masih tertidur dengan alas kaki yang masih lengkap, dan dengan perlahan, tanpa ingin membangunkan Wufan, ia membuka alas kaki suaminya itu dan memperbaiki letak selimut yang menyelimuti Wufan. "Mungkin ia tidak tidur semalaman" batinnya
Seperti sebuah kebiasaan Tao tak lupa merapikan rambutnya sebelum ia keluar dari kamarnya, untuk mencari para pelayan yang bertugas untuk membereskan barang bawaannya. Tao mengambil notes dan pulpen yang ada di meja nakas Wufan. Berjaga-jaga, karena tidak semua orang bisa mengerti dengan bahasa yang Tao gunakan.
Begitu melangkahkan kakinya keluar dari kamar, ia sudah disambut oleh beberapa pelayan yang sedang membersihkan koridor sepanjang kamarnya. Tao kemudian melambaikan tangannya— memanggil pelayan tersebut lalu menuliskan sesuatu di atas secarik kertas yang sudah ia siapkan 'Kau tahu dimana aku bisa mengambil barangku?'
Pelayan itu membaca tulisan di kertas itu lalu menggangguk "Iya pangeran, barang itu sudah di letakkan di kamar sebelah"
'Bisakah kalian membantuku menyusunnya di dalam lemari?'
Dan lagi-lagi pelayan itu menggangguk lalu mebungkukkan badannya dengan hormat "Itu adalah kewajiban kami pangeran"
Setelah itu, Tao pun memasuki kamar yang berada tepat disebelah kamarnya dan diikuti oleh para pelayan istana. Karena tak ingin membuang-buang waktu maka sesegera mungkin mereka merapikan barang— yang sebenarnya hanya baju, milik Tao kedalam lemari dan menyusunnya sedemikian rupa agar lemari itu dapat menampung seluruh pakaian yang Tao bawa. Walaupun tidak semua dari pakaian Tao dimasukkan kedalam lemari tersebut.
=== WEREWOLF ===
Malam menepati janjinya, kini ia kian pekat membahana. Tetapi Tao— masih betah dengan kegiatan merapikan lemarinya. Karena terlalu asik, ia bahkan tidak sadar bahwa Wufan tengah berdiri di ambang pintu, mengintip dan melihatnya dari kejauhan sambil menggelengkan kepalanya. Wufan tidak pernah membayangkan bahwa istrinya ini adalah orang yang sangat pemilih dan cerewet— seperti seorang perempuan.
Ia kadang mengulum senyum ketika melihat Tao yang berjalan kesana kemari untuk mengatur barang miliknya.
Tiga puluh menit berlalu dan pada akhirnya Tao selesai dari kegiatannya. Kini hanya lima kardus yang tersisa. Tao memutuskan untuk menaruh salah satu dari kardus itu di atas lemari— berhubung barang yang ada didalamnya tidak kalah penting dengan barang yang lain, dan keempat kardus yang lain didalam gudang.
Tao mengangkat kardus yang rencananya akan ia letakkan di atas lemari lalu berusaha menaruhnya di atas lemari. Lemari itu sudah pasti jauh lebih tinggi dari Tao sehingga ia harus menggunakan kursi dan sedikit berjinjit untuk menaruhnya.
Wufan ingin masuk dan membantu Tao tetapi niatnya diurungkan karena menurutnya Tao pasti bisa melakukannya sendiri. Tetapi—
.
.
.
.
.
BUGHHHHHH—
.
.
.
To be continue—
BUNCHES THANKS AND SMOOCHES TO:
Christal Alice | Jung Yeon Jae | Aurlyssi | wu-fantao shipper | Huang Lee | junghyema | Park Mhyn | YasKhun | BabyMinga | hibiki kurenai | Kirei Thelittlethieves | Guest | Cho Sungkyu | Huang Zu Lien | Dark Shine | Xyln | movyssi | Maple fujoshi2309 |
HAIIIII AUTHOR IS BACK AND QUITE SHOCK BECAUSE FFN DELETED MY STORIES HAHAHA 8(
OKAY. JUJUR SEJUJUR JUJURNYA AUTHOR PENGEN BERHENTI AJAH SIH, NGGA PENGEN NGELANJUTIN LAGI. SEMPAT DOWN JUGA AMA MASALAH SI WUFAN TAPI DEMI READERS #EAA AUTHOR BAKAL BERJUAN BUAT NGELANJUTINNYA ;DDD
As always, Thanks for the lovelies reviews and I'll try to imrpoveeee for taoris #okno
REVIEWS JUSEYONG!
P.S: Thanks for those Guest(s) I do appreciate you guys. :)
