Once Upon A Time...


"SANADA YUKIMURA!"

Suara itu terus terdengar dari belakangnya. 'Yukimura' jelas panik, apalagi sedang menggendong anjing kesayangannya. Maka, pegangan terpaksa dilepaskan.

"Sasuke, kembali ke rumah, dan jangan nakal! Ingat! Sekarang, lari! LARI!"

Setelahnya tanpa melihat apakah anjingnya menuruti perintahnya, 'Yukimura' buru-buru berlari kembali. Itu adalah desisi terbaik karena pria yang tidak dikenalnya ternyata sangat nekat sekaligus gila! Mengejar sejauh ini dengan baju cosplay, pakai acara menggoda ke level homo pula... Entah apa yang terjadi jika pria itu berhasil menangkapnya!

"HEI PUNK! AKU HANYA INGIN BICARA! OIIIIII!" Seru Masamune sambil mendorong orang-orang yang berada pada jalurnya berlari. 'Sialan, dimana kuda saat aku membutuhkannya...' Omelnya dalam hati.

'Yukimura' kini memasuki area komplek apartemen yang masih dalam tahap konstruksi, opsinya tidak lebih selain logika: semakin banyak rintangan, akan semakin menyamarkan posisinya. Dan alasannya tidak menelpon polisi sedaritadi memang gara-gara sialnya saja, baterai ponsel-nya tinggal segaris tipis.

Sementara Masamune terus pantang menyerah mengikuti kemana targetnya membelok.

"SANADA YUKIMURA!" Serunya untuk kesekian kalinya.

'Yukimura' melihat ke sekeliling, dan menghampiri salah satu gedung apartemen yang setengah jadi. Berikutnya melompat untuk menjangkau tiang-tiang besi penyangga, menaiki sampai ke lantai dua.

Masamune terpaksa berhenti sebentar karena kelelahan, selama mengawasi sosok rival-nya yang perlahan menghilang dalam kegelapan.

"Damn kid." Umpatnya sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. Tentu terdapat kesadaran bahwa lala-land Shinjuku ini berbeda, juga keterbatasan dari stamina hingga kekuatan. Pertanyaannya: untuk apa dirinya dilempar kemari jika buntut-buntutnya malah 'disama-ratakan' dengan orang-orang disini?

"..." Mata kirinya mengamati jemari tangan kanannya. Tidak sekali mencoba mengerahkan energi petir; tadi maupun sekarang tetap saja hasilnya minus.

'Juga semakin larut...' membatin kala melemparkan pandangan ke langit malam.

"Tch." Masamune memijati keningnya sejenak. "Kalau aku mendapatkanmu... Awas saja." Geramnya sewaktu mau tidak mau berjalan menuju apartemen yang menjadi tempat persembunyian rival-nya.

Saat tangannya baru meraih tiang terbawah...

"UWAAAAAAAHH!"

Teriakan rival-nya diikuti suara sesuatu yang terbanting, beserta langkah sepatu dari beberapa pasang kaki.

"...!" Masamune pun memicing. "Shit!" Seraya buru-buru memanjat. Dan tepat memijak ke lantai dua...

"LEPAAAS! Mmmmmffff...!"

Lagi-lagi teriakan rival-nya beserta samar-samar pergerakan seperti perlawanan kaki yang menendang-nendang, jelas membuatnya berseru, "HEI!" Sengaja dilakukannya, memancing lawan untuk menghampiri duluan. Sayangnya bukanlah wujud yang didapatnya.

"BANG!"

Suara tembakan menggema. Siku tiang beton pada sejarak tipis dari sampingnya langsung terkuak oleh daya momentum peluru. Masamune reflek merapat pada sisi di baliknya seketika suara tembakan lainnya menyusul.

'That kid... Masalah apa lagi yang dibawanya...?' Pikirnya saat menarik salah satu pedang, menggunakan bilah sebagai kaca spion.

Begitu gambaran letup-letup api tembakan yang terbias pada lempeng memberikan prediksi dimana posisi mereka, "Baiklah, Sanada Yukimura." Masamune memasukkan pedang katana di pegangannya. Berikutnya menarik keenamnya sekaligus, sambil menyeringai.

"HERE YOUR KNIGHT IN SHINING ARMOR!" Serunya seraya berlari keluar dari balik tiang beton.

Kemilau hiasan bulan sabit pada pelindung kepala langsung menjadi target bidikan.

Menyadari hal itu, Masamune segera melemparkan ketiga pedang ke arah letup-letup api tembakan, berlanjut berguling ke samping untuk menghindari peluru seraya membuka helm-nya, dan membuangnya ke udara sebagai umpan. Kemudian maju kembali disertai mengayunkan ketiga pedang di pegangan jemari tangan kirinya pada sosok pemegang pistol yang terlihat pertama.

"AAAAAHHHH!" Lengking teriakan seiring darah muncrat ke udara; seringai Masamune semakin melebar serupa hiu saat melihat sosok lainnya.

"BANG! BANG! BANG!" Rentet tembakan terus terdengar.

Kedua kakinya berusaha bergerak cepat sambil memfokuskan presisi tebasan karena ini 'one hit-one kill', kalau terlambat bisa-bisa dirinya yang menjadi mangsa. Tentu sosok-sosok yang tersisa semakin panik. Apalagi saat Masamune menancapkan sebuah dari tiga pedang dan melemparkan sisanya ke mereka sebagai distraksi. Lalu cekat mengambil pedang terakhirnya, berlanjut menyamar ke dalam remang, sebelum akhirnya muncul dari belakang mereka, menangkap basah ketidaksigapan mereka satu-per-satu.

"AWAS!"

"GYAAAAAAH!"

"DISANA!"

"AAAAAAHHH! TANGANKU!"

"UHUUK!"

Suara-suara itu bercampur-aduk semakin berantakan, bahkan beberapa tembakan malah nyasar mengenai teman sendiri. Masamune berharap bisa menyempatkan tertawa untuk itu, namun konsiderasinya hanya mencari posisi rival-nya berada.

Seketika keadaan perlahan menjadi sunyi...

Masamune melirik ke sosok-sosok yang terkapar bersimbah darah.

"KAU...! DASAR GILA! CEPAT JATUHKAN PEDANGMU!" Lawan terakhir kini tampil dari remang, ternyata turut serta membawa sosok rival-nya dalam todongan, dimana ujung laras pistol ditekankan pada kepala pemuda yang menjadi sandera.

Sedangkan Masamune mendesah panjang sambil menopangkan sisi tumpul bilah katana ke pundak. "Oi, kid. Kau membuat mereka marah?"

"Aku... tidak sengaja melihat mereka sedang bertransaksi..." sahut 'Yukimura'. Itu dihadiahi pukulan dari gagang pistol. "AAHH!" 'Yukimura' pun mengenyam luka sobek pada dahinya.

"Bocah brengsek!" Seru si penyandera sambil memaksa 'tameng'-nya untuk berdiri tegak.

ITU menjadikan Masamune mengangkat pedangnya, memasang kuda-kuda menyerang. "Bastard. Jangan menyentuh barang milikku." Geramnya.

Sementara 'Yukimura' yang mendengar penempatan kata: 'milikku' terhubung dirinya, kini mengerutkan kedua alis.

Pria itu tersenyum. "Oh ya? Mau dia adikmu, saudaramu, atau pacarmu... Itu urusanmu. Bagiku, kalian adalah saksi. Jadi ucapkan selamat tinggal padanya." Lalu jari telunjuk bergerak menarik pelatuk.

Masamune pun membelalak, dan di detik kepanikan, sesuatu terasa mencabik lubuk dada bersama semua memori tentang rival-nya yang mendadak lewat sekejap seperti kereta; ini sesuatu...

Desperasi.

"CRAAT!"

'Yukimura' tidak berkedip seketika darah menciprat ke pipinya. Sedangkan Masamune telah berada sejarak jengkal bersama ayunan pedang, dan iris kuning sedingin es seakan berpendar.

"KLETEK!"

Pistol jatuh ke lantai beton, disertai potongan tangan.

"WAH- AAAAAAAHHHHHHHHH!" Lengking jeritan tepat pria itu mundur memegangi lengannya yang mengucurkan darah; 'Yukimura' perlahan menyingkir saat melihat kilatan-kilatan biru di sepanjang bilah katana yang berbelepotan darah.

"Kamu... bukan manusia..."

Atas pernyataan pemuda itu, Masamune melirik ke rival-nya, namun tersela suara pria yang tadi menjadi penyandera.

"Kau- Kau... dokuganryu... Kau... Akuma...!"

"..." Masamune menatap tarian petir yang menghiasi senjatanya, lalu memejam.

"Akuma, eh?" Desahnya, kemudian membuka mata kirinya seraya mempersiapkan pedangnya dalam posisi hunus. "Ya. Mari kutunjukkan rupaku yang sebenarnya. Lihat baik-baik, kid." Kilatan-kilatan petir pun menguat.

"TESTAMENT!" Serunya kala meluncur pada lawannya, "DIE!" Seketika itu pancaran kilat menyebar ke segala arah, dan—

"BOOOOOOOMMM!"

Ledakan seiring gedung bergetar, berakhir runtuh sebagian. Sedangkan Masamune hanya tersengal memegangi pedangnya, memperhatikan pinggiran lantai benton yang jebol di depannya.

"Rest in peace..." Pengakhir kata darinya, lalu menyarungkan bilah katana ke salah satu sarung.

Begitu Masamune menoleh ke rival-nya...

"DIAM DISANA...!" Seru 'Yukimura' sambil mengarahkan pistol dengan gemetar.

"Begini caramu membayar bantuanku?" Tanya Masamune sambil membalikkan badan ke arah rival-nya.

'Yukimura' berusaha menetapkan poin bidikan pada kepala. "Aku... tidak tahu kenapa kau begitu... sarap mengejarku, tapi INI... SALAH! KAU TIDAK BISA MEMBUNUH ORANG SEENAKNYA!" Bentaknya. "KEKUATANMU SEHARUSNYA UNTUK MELINDUNGI! Seandainya aku memiliki sedikit saja..." Air mata mengalir ke pipi. "Sedikit saja..."

Masamune mendesah panjang. "Aku melindungimu, kan?" Balasnya. "Lalu apa yang akan kau lakukan dengan kekuatan, hm? Menjadi superhero?"

'Yukimura' menggeratkan baris gigi saat mengingat masa lalunya yang kelam. "Aku mungkin tidak akan kehilangan keluargaku... bahkan Oyakata-sama..." ungkapnya sejalan ekspresi pilu.

"..." Masamune kini mengamati rival-nya dengan seksama, lalu melangkah maju.

"Berhenti..." 'Yukimura' masih berusaha menetapkan hati, memperingatkan dengan sangat. "BERHENTI...!" Ancamnya sekali lagi, tapi lawan bicaranya terus melangkah menuju ke arahnya.

"AAAAHHHHH!" Teriaknya dengan frustasi saat telunjuk menarik pelatuk.

"BANG!"

Suara tembakan menggema bersama darah muncrat ke udara.

"Ha-..." Kedua mata 'Yukimura' terdefinisi antara panik dan ketakutan, sekaligus... takjub dan syok menatap jemari yang memegangi laras pistol, sementara darah mengalir dari telapak tangan yang tertembak. Bahkan pria di depannya... tidak bergeming.

"Kid, aku tahu kau bukan 'dia'," ucap Masamune dengan pelan. "Namun kau tidak seharusnya se-pathetic ini karena kau adalah 'cermin'-nya!"

"..." 'Yukimura' tidak sanggup berkata apapun saat pistol ditarik dari cengkeramannya dan dibuang begitu saja.

"Meski 'dia'... sifatnya yang kelewatan polos terkadang menyebalkan, selalu berdiri di hadapanku dengan tatapan yang membuatku tenggelam dalam berjuta-juta rasa, mengundangku ke dalam pertarungan yang sanggup membakar semangatku hingga keseluruhan jiwaku. Dan melihatmu seperti INI..." Masamune langsung menyabet kalung berbandul koin yang melingkar pada leher pemuda yang menjadi kembaran rival-nya, menariknya, otomatis menarik pemuda itu mendekat sehingga jarak di antara wajah tinggal sejarak tipis.

"Membuatku ingin menghajarmu! KAU TAHU ITU?!" Bentaknya dikemudian.

'Yukimura' tersentak, namun membalas, "Lalu kenapa... kamu tetap berdiri di hadapanku...? Aku... disini... tidak berharga, bukan?"

Masamune memejam sejenak, lalu melepaskan pegangan. "Sejauh 'sampah', kau tetap 'dia'."

Jawaban itu menjadikan 'Yukimura' memandang sayu.

"Maaf..." lirihnya, kemudian maju memeluk leher pria di depannya. "Maaf... sudah menyusahkanmu... selama ini..."

"..." Masamune sebenarnya tertegun. Penekanan pada: 'selama ini', memberikan dampak yang sangat dalam terhadapnya. Tidak semestinya menjatuhkan perasaan kesalnya pada pemuda yang merupakan korban kolateral. Lala-land Shinjuku ini sendiri membuatnya tertekan karena dirinya bagaikan sendirian, tanpa siapapun yang dikenalnya sebagai patokan.

Masamune pun mendesah lelah seraya mengelus rambut si pemuda antara takluk dan... ya, sangat disayangkan karena ini bukanlah pemuda yang diharapkannya.

'Hm... cinnamon dan apel,' pikirnya sesaat menghirup aroma shampo dari kumpulan-kumpulan rambut yang dijamahnya. 'Membuatku lapar...' Otaknya mencoba mengesampingkan bagaimana kekuatannya tadi bisa muncul. 'Mungkin perasaanku terhadapnya... dia... kalau ini bukan dia... lalu dimana dia?'

"Yuki."

Menanggapi panggilan, 'Yukimura' melepaskan pelukan, kemudian menatap wajah di depannya.

"..." Masamune KINI benar-benar tertegun seketika bertemu kontak pandang sedekat ini, dan wajah manis itu beserta kedua mata yang... lembut, lalu bibir itu... bibir yang—

"Oh ya, aku belum tahu namamu. Masa aku harus memanggilmu: My Knight In Shining Armor?"

Kalimat bertema menggoda dari pemuda itu sekejap memutus apapun pemikiran Masamune.

"Ehm... ya..." Masamune pun menjadi canggung.

"Date... Date Masamune. Uh... memanggil dokuganryu pun... tidak apa-apa..." jawabnya dengan sedikit terbata sambil mengalihkan tatapan. Semenit berikutnya mengembalikan fokus saat pemuda di depannya melepaskan lilitan tali merah yang menjadi bandwrist, yang kemudian dililitkan pada telapak tangan kirinya yang luka.

"Ini untuk sementara. Tenanglah, aku mengambil kuliah kedokteran. Peluru tadi menembus, karena itu ini tinggal diobati." Terang 'Yukimura' sambil mengikat simpul pita.

Sementara Masamune lagi-lagi berpikir ke versi disebelumnya saat mengamati wajah di depannya kembali. 'Manis... Apa dia juga semanis ini...?' Tanpa sadar jemari tangan kanannya dibawa meraba bercak darah di pipi kiri pemuda yang menjadi kembaran rival-nya, mengelus perlahan.

'Yukimura' sendiri tidak berkedip saat membalas pandangan, juga tidak berani mengucap sepatah kata sewaktu pria di depannya maju mendekatkan wajah yang terhitung tampan —sebenarnya jantungnya dag-dig-dug tidak karuan.

Tepat jarak antara bibir semakin tipis bersama nafas hangat yang saling menerpa...

"...APA-APAAN INI!"

Suara di kejauhan langsung memotong momen karena Masamune menoleh.

"APA YANG TERJADI?! BAGAIMANA SEPARUH GEDUNG BISA RUNTUH?" Suara lainnya menyambung.

Sedangkan 'Yukimura' langsung mengelus dadanya seolah-olah lega.

"Hei, aku berhutang nyawa padamu, Masamune-dono." Sela 'Yukimura' sambil menarik lengan Masamune. "Kalau kamu tidak keberatan, di rumahku ada perlengkapan P3K. Aku akan merawatmu sampai lukamu sembuh, juga sekalian mentraktirmu makan malam. Bagaimana?"

Oh? Tawaran makan dan tempat tinggal? Kenapa tidak?

Masamune tersenyum, "Terserah saja."

"Yosh!" 'Yukimura' menyamai senyum, lalu menuntun jalan.

Untuk sesaat yang ada hanya keheningan karena mereka berdua terpaksa mengendap-endap agar tidak terdeteksi oleh sorot lampu senter. Masamune sendiri masih penasaran dengan pernyataan tentang keluarga dan nasib Takeda Shingen.

"Yuki, aku tidak ingin bertanya... Tapi apa yang terjadi dengan keluargamu?" Tanyanya dengan hati-hati, berharap tidak menyinggung perasaan si pemuda.

'Yukimura' sempat terdiam, sebelum akhirnya membuka mulut, "Ayahku adalah pengusaha, mensuport dana bagi kelompok yakuza karena jalan yang terbaik untuk memperluas bisnis adalah menjangkau semua sisi. Dan... mereka mengkhianatinya dengan mengirimkan seorang pembunuh." Lalu menatap tangan kanannya saat tersenyum parau.

"..." Masamune tidak melepaskan perhatian saat pemuda di dekatnya meneruskan baris kata.

"Setidaknya aku berhasil melukai mata kanan pria itu... dengan pisau dapur."

...

Di salah satu area perbelanjaan, tepatnya pada tempat pegadaian...

Ieyasu memandang ke langit malam dari balik kaca. Gemuruh petir terlihat di antara awan-awan kelabu.

"Petir..." gumannya. Instingnya menyebutkan bahwa itu adalah pertanda. Secara reflek, kedua matanya mengamati kedua tangannya... pada kedua knuckle-nya. Sayangnya tidak ada rasa apapun.

"Hanya ini?" Sela pria yang berada di balik meja counter. Ieyasu pun mengalihkan fokus, lalu mengangguk.

"Hmmm. 800.000 yen, max." Ucap pria itu sambil mengamati sebatang emas.

"Satu," tawar Ieyasu segera.

"850. Ayolah, aku sedang membuka bisnis disini. Kau bisa ambil kembali barangmu dan menunggu hari Senin saat bank buka. Itu dua hari lagi," tekan si penadah.

Ieyasu mendesah panjang. "900. Paskan."

"875."

Ieyasu menggeleng, berakhir menjawab, "Baiklah."

"Oke," kata si penadah, lalu menaruh batang emas itu ke dalam laci. Berikutnya menuju kotak brankas kecil dan membukanya. Ieyasu hanya memperhatikan gepok-gepok lembaran tunai yang dibundel dan dimasukkan ke dalam kantung kertas seukuran A3.

"Hei, hati-hati di jalan. Ini jumlah yang sangat besar," wanti-wanti si penadah kala menyodorkan kantung melalui lowong jeruji.

"Tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diri." Sahutan ringkas Ieyasu saat mengambilnya, kemudian berjalan, membuka dan menutup pintu.

Selama kedua kakinya melangkah, list prioritas yang ada di kepalanya adalah mencari tempat tinggal dan menyesuaikan diri dalam masyarakat disini, mungkin juga mencari pekerjaan untuk menyambung hidup. Yang terpenting adalah menelusuri semua kemungkinan dimana Date Masamune dan Sanada Yukimura karena hanya mereka yang saat itu disaksikannya tersedot ke garis-garis formasi aneh di langit Sekigahara.

Ieyasu berharap mereka masih berada di dunia yang sama dengannya.

...

Di restoran, pada lantai teratas...

'Masamune' secara absen meraba penutup matanya sepanjang mendengarkan kalimat-kalimat yang terjadi di meja pertemuan.

"...Kita harus menaruh pos baru untuk merebut jalur perdagangan lainnya." 'Ieyasu' kemudian menaruh sebuah tablet pada meja, memberikan kesempatan bicara bagi para 'jenderal'-nya.

"Itu gila! Kita sudah aman dengan teritori yang ada, bahkan Toyotomi sama sekali tidak menyenggol kita. Kalau kita menggertak duluan, berarti sama saja perang dengan kedua belah pihak sekaligus!" Seru salah satu 'Red Pole'.

"Benar," timpal 'Red Pole' lainnya.

'Magoichi Saika', satu-satunya 'Red Pole' perempuan juga ikut angkat bicara, "Oda masih menjadi musuh bebuyutan kita, mereka terakhir sudah menjangkau Shikoku untuk mempakemkan jalur perdagangan ke Korea. Sedangkan Toyotomi sendiri semakin memperkuat jalinan dengan para mafia di Amerika. Kita sejelasnya akan tertinggal jika tidak mengambil kesempatan dari Rusia."

"Oh ya, kudengar Chosokabe telah membangun aliansi dengan Sorin Otomo; masih bersikukuh tidak memihak. Tampaknya fokus mereka adalah Eropa," sambung 'Red Pole' lainnya.

'Ieyasu' mendesah panjang. "Masamune-kun. Bagaimana menurutmu?" Tanyanya sambil men-slide layar tablet dengan gaya bosan.

"Kenapa kau malah bertanya padaku...?" Balas 'Masamune' dengan tingkah yang tidak kalah bosan.

"Kau kan 'Red Pole' yang teritorinya terdekat dengan Toyotomi dan Oda," sahut 'Ieyasu' sesantai memencet aplikasi game 'sudoku'. Sementara wajah-wajah lainnya terarah ke si dokuganryu, meminta pendapat.

"Tch. Menyusahkan," guman 'Masamune' seraya mengambil sebatang rokok dari pak rokok, lalu menaruh filter ke dalam apit bibir. 'Kojuro' segera mengambil pematik api, api dinyalakan dan membakar ujung rokok.

"..." Yukimura yang sedaritadi berdiri di belakang rival-nya dan mendengarkan baik-baik, sebenarnya SANGAT bingung dengan berbagai nama yang tersebut, apalagi sampai melibatkan Oda dan Toyotomi. Praduganya sendiri masih berkutat dengan versi di Sekigahara. Walau begitu, kini berjalan mendekat dan membisik ke telinga kiri rival-nya.

"Masamune-dono, apa pemimpin Toyotomi dan Oda adalah Hideyoshi dan Nobunaga?"

'Masamune' melirik. "Ya, memangnya kenapa?" Tanyanya balik.

'Begitu...' pikir Yukimura dengan berbagai pertimbangan, sebelum berakhir membisik lagi. "Takenaka Hanbe dari pihak Toyotomi bukanlah lawan yang bisa diremehkan. Tapi kalau berniat menjatuhkan keseluruhan Toyotomi, berarti dimulai dari Takenaka Hanbe dan Ishida Mitsunari."

Mendengar nama 'Ishida Mitsunari', 'Masamune' memicing. "Apa yang membuatmu yakin dengan hal itu?" Tanyanya kembali.

'Ieyasu' yang menyaksikan 'Red Pole' kesayangannya sedang menikmati obrolan sendiri, jelas menyela, "Yukimura-kun. Kau ada pendapat?"

Yukimura pun melemparkan pandangan ke si 'chairman'. "Um... hanya bertanya..." jawabnya dengan ragu.

'Ieyasu' tersenyum, lalu bicara, "Baiklah Yukimura-kun, juga semua, termasuk kamu Masamune-kun. Begini saja. Aku menginginkan keseluruhan wilayah Timur dulu karena bagaimanapun Asia adalah tempat kita berdiri, dari situ kita bisa mencoba ke Australia dan Eropa. Dan semenjak Oda sedang disibukkan oleh Toyotomi. Maka, kita bisa menaruh titik di Shikoku dulu. Itu akan menjadi tugas kalian. Sedangkan soal mempersempit jangkauan milik Toyotomi akan kuserahkan padamu, Masamune-kun. Kuharap kamu tahu maksudnya."

"Kenapa buntut-buntutnya ke aku lagi..." komentar 'Masamune', semakin risih namanya dibawa-bawa terus.

"Yak! Masalah terpecahkan!" Seru 'Ieyasu' seraya berdiri dari kursi. 'Tadakatsu' segera membereskan barang-barang milik Tuan-nya.

"Dan apa poin pertemuan ini sebenarnya. Toh lewat telepon juga bisa..." 'Masamune' masih ngedumel.

"Kemudian bagaimana dengan Ishida Mitsunari? Dia selalu berkeliaran di luar mencari mangsa," ucap salah satu 'Red Pole' kembali.

Lagi-lagi mendengar nama spesifik itu, 'Masamune' berdiri dari kursi sambil berkata, "Ya-ya, dia aku yang urus. Nanti." Lalu meremas batang rokok dan membuangnya ke asbak.

'Ieyasu' melebarkan senyum saat menekankan, "Tolong pastikan dia masih dalam keadaan bernafas, Masamune-kun. Karena dua kartu 'As' lebih baik daripada sebuah, benar?"

"..." 'Masamune' kini terdiam.

"Ok. Aku masih ada urusan. Oh ya, minggu ini adikku akan menikah, tolong sempatkan diri untuk datang ya~" kata 'Ieyasu' sembari berjalan menuju pintu. "Daaaaaaan~ Yukimura-kun, bisa kita bicara sebentar?"

Yukimura baru mau membuka mulut, ternyata 'Masamune' menyela.

"Dia ada tugas, dariku."

"Hm~? Kalau begitu, bisa aku bicara secara pribadi denganmu?" Pancing 'Ieyasu'. Dan sesuai dugaan, 'Masamune' hanya menyarungkan kedua tangan ke saku celana sambil berjalan menuju pintu yang sama.

"Aku juga ada tugas, darimu." Jawaban datar yang diteruskan komando singkat pada kedua ajudan, "Ayo."

Saat daun pintu dibuka oleh 'Tadakatsu', sedangkan daun pintu sepasang dibuka oleh 'Kojuro'...

"Membosankan," bisik 'Ieyasu' sewaktu 'Red Pole' kesayangannya lewat di sisinya. Dan sekali lagi sesuai perkiraan, 'Masamune' berhenti, menghibahkan perhatian ke dirinya.

"Kojuro, Yukimura. Tunggu aku di mobil." Perintah absolut 'Masamune', kemudian berjalan mengikuti langkah si 'chairman' menuju lorong berbeda.

Sedangkan Yukimura tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti 'Kojuro' sewaktu 'Tadakatsu' menjaga lorong seraya menyilangkan kedua tangan di depan dada.

...

..

.

Sesampainya di lantai dasar, Yukimura pun bertanya, "Uh Katakura-san. Dunia yakuza ini... cukup aneh. Maksudku... Oda Nobunaga dan Toyotomi Hideyoshi, keduanya seharusnya... entahlah, aku tidak mengerti."

'Kojuro' tetap berjalan menuju mobil yang diparkir di depan lobby. Setelah membuka pengaman alarm, baru menyahuti, "Kau sendiri... bagaimana bisa mengetahui banyak nama penting? Bahkan Takenaka Hanbe dan Ishida Mitsunari?"

Yukimura menjawab polos, "Uh... aku mengenal mereka di duniaku."

'Kojuro' melirik. "Duniamu...?"

"Mm-hm. Date Masamune mengalahkan Oda Nobunaga dan Toyotomi Hideyoshi. Dia... sangat luar biasa," ucap Yukimura, masih tidak menyadari bahwa perkataannya akan menjadi—

"Mengalahkan? Maksudmu... membunuh?" Tanya 'Kojuro' penuh pandangan menyelidik. "Kapan itu terjadi?"

Yukimura menaikkan kedua alis, namun menjawab, "Sudah cukup lama. Aku... juga berjuang sekuat tenaga sewaktu menghadapi Oda Nobunaga. Lalu sewaktu aku menghadapi Mori, Masamune-dono berhasil menghabisi kejayaan Toyotomi. Dan terakhir di Sekigahara, Ishida Mitsunari memimpin pasukan Toyotomi. Masamune-dono juga berhasil mengalahkannya."

Lalu kedua matanya menjadi sayu saat melanjutkan, "Tapi Ieyasu-dono menyelamatkan Mitsunari... dan setelahnya, aku terbangun disini."

'Kojuro' nyaris meremas kunci mobil selama mendengarnya.

"Yukimura-san. Kau... bisa melihat semua itu? Semua pertarungan itu...?" Tanyanya kembali, seakan sedang memastikan.

Yukimura masih dengan polosnya mengangguk.

Ekspresi 'Kojuro' pun kali ini sangat... yakin.

Ya, ini... tidak salah lagi.

INI pencerahan! RAMALAN!

...

..

.

Sedangkan di dalam ruangan makan berlabel pribadi...

"Fuck you!" Bentak 'Masamune' sambil mendorong 'Ieyasu'. "Aku bekerja di bawahmu, bukan berarti kau mencampuriku!"

'Ieyasu' langsung menghantamkan tinju ke tembok, tepat di samping wajah 'Masamune'.

"Aku pun memeliharamu bukan berarti kau bersikap seenaknya," geramnya. "Kamu sudah meninggalkan banyak problema di Takeda, lalu membawa bocah itu masuk? Kamu pikir ini permainan catur? Aku menolerir semua kelakuanmu karena kamu yang terbaik. Tapi menggunakan partisipasinya untuk membangun 'Date' DI DALAM kekuasaanku? Jangan pikir aku tidak bisa melempar mayatmu ke laut kapan saja."

'Masamune' menggeleng lelah atas tubi-tubi cecaran itu. "Fine. Apa maumu sekarang, hm? Kau bisa mengomeliku sesukamu, namun sekarang... apa bisa kulakukan untuk menyimpan bocah itu agar tetap berada di bawah otoritas nama keluargaku? Apa maumu, sebut saja. Seks? Membuatku berlutut di depanmu seperti anjing?" Tawarnya secara sinis.

'Ieyasu' menjawab tidak kalah sinis. "Oke. Bagaimana kalau bola mata kirimu saja?"

"...!" 'Masamune' memicing saat jemari tangan kanan menyentuh wajahnya, dimana jempol pemuda di depannya menyusuri di bawah garis mata kirinya.

"Singkirkan dia, Masamune-kun. Dan bawa kepalanya ke hadapanku." Ucap 'Ieyasu' bersama ekspresi sedingin es.

"..." 'Masamune' menggeratkan baris gigi.

Berikutnya menepis tangan dan mencengkeram kemeja 'Ieyasu', menarik dan mengadukan mulutnya pada mulut pemuda itu, mencium seperti pertarungan kala partner-nya menanggapi dengan membuka mulut dan merangkap tubuhnya.

"Haa-" desah terlepas sejalan sesi, melulurkan lidah ke rongga mulut partner-nya seiring jemari kedua tangan turun membuka kuncian sabuk. Suara kecupan mengisi sewaktu 'Ieyasu' menarik ujung kemeja dari lingkar celana, lalu menggenggam dasi 'Masamune' dan menariknya, diteruskan mendorongnya ke tembok lagi selama memperdalam ciuman.

'Ieyasu' meremas bokong pasangan intimasinya sepanjang menggumul lidah dan meraup mulut, sebelum berakhir memutus fase ciuman dan membalikkan tubuh di depannya menghadap ke tembok.

"Bitch." Bisiknya pada telinga kiri saat merapatkan tubuhnya pada punggung, menekan seraya menyelipkan jemari ke balik celana milik 'Masamune', meraba ukuran panjang yang tercetak pada kain celana dalam sebelum memegangnya serupa mencengkeram, sedangkan jemari tangan sepasangnya mengangkat kain kemeja sekaligus merayapi lekuk demi lekuk otot abdomen hingga bidang dada pria di depannya.

"Heh." Dengus 'Masamune' tepat memejam, membiarkan pemuda di belakangnya menguasai sisi lehernya dengan kuluman dan gigitan, sebelum mengambil momennya atas maksud pendekatan seksual ini.

"Ieyasu... berikan aku waktu seminggu," desahnya sewaktu jemari itu menyelip ke balik celana dalam dan menjamah penis-nya.

"Kamu bilang sekarang." Sahutan pasif dari 'Ieyasu' sambil menekankan sembul dari barang kepemilikannya pada bokong pasangan intimasinya, sementara jemari melingkar pada batang dan jemari tangan sepasangnya mengapit puting dada kiri.

"Ayolah... hanya satu... Nhh..." pinta 'Masamune' kembali

'Ieyasu' masih memasang ekspresi yang sama saat jari telunjuk meraba garis ujung saluran urethra pada kepala penis. "Atau kau memilih orang lain yang melakukannya?" Ancamnya sembari mencelupkan ujung jari pada celah, menguak dan membuat 'Masamune' mengerang pelan disertai permohonan.

"Please..."

'Ieyasu' menekankan jarinya.

"Ahh...!" Erang 'Masamune' tepat menyandarkan dahinya pada tembok, juga kedua telapak tangannya.

"Apa kamu sebegitu bersalahnya terhadap keluarganya? Atau ini hanya tentang dirimu? Egomu?" Pancing 'Ieyasu' kala tangan sepasangnya turun menyusul ke balik celana dalam, menyendok kedua buah zakar.

"Mmhh- Aku sudah membuang semua... semenjak kau menyentuhku untuk pertama kalinya..."

'Ieyasu' menarik jarinya, lalu mengocok penis dengan ritme pelan saat memulai memainkan kedua buah zakar. "Ya, termasuk harga dirimu," ucapnya dengan kalem sambil menggenggam erat batang yang tegang.

"Ohhh- Oh!" 'Masamune' terus memejam, jemari kedua tangannya mengepal dan terus bertahan pada tembok.

"Masamune-kun, terserah padamu dengannya," ucap 'Ieyasu' kembali, kali ini terdengar lembut. Kemudian membisik pada telinga kiri lagi dengan segala penekanan, "Seminggu. Jangan mengkhianati kepercayaanku."

Setelah perkataan itu, pegangan dilepaskan begitu saja dan 'Ieyasu' berjalan pergi menuju pintu.

'Masamune' membuka mata kirinya saat mendengar suara pintu yang dibuka. Tidak ada utaraan balasan dari mulutnya tepat pintu ditutup. Pandangan tertuju mati pada penis-nya yang meminta atensi, dimana bulir bening dari ujung celah kini menuruni sisi kepala penis.

"Fuck..." desahnya seraya menjauh dari tembok dan mengambil sapu tangan, membersihkan bekas sentuhan sebelum memasukkan barang kepemilikannya ke dalam celana dalam, berlanjut membenahi kemeja dan mengunci kepala sabuk.

'Sanada Yukimura... kuharap kau mengerti apa yang sudah kupertaruhkan untukmu...' utaraannya dalam hati kala berjalan menuju pintu.


TBC...


A/n: hmm. Minus seks. Oke, Author berharap teaser 'Ieyasu' x 'Masamune' cukup hot buat pembaca. Dan oh! Masamune x 'Yukimura', cute huh?

Tq review-nya *hugs Tsuki-chan*

Hehehe. Sebenarnya antara sesuai dan bertepatan idenya saja, jadi pakai title itu. Plus... saya mau mengesankan kalau para kembaran bener-bener bajingan. *lol* Dan part Yukimura rencananya bakal panjang *eh?* Jadi biar ga pada bingung tentang versi 'Masamune' dengan yakuza dari 'Tokugawa', sekalian melencengin pairing sedikit biar rusuh XD *niat* *laughs*

Dan next chapter. Mari kita lihat kabar mereka yang tertinggal di Sekigahara. Hahaha