.
Naruto (c) Kishimoto Masashi
Cinta itu Gila (c) Naara Akira
WARNING : AU,OOCness, typo(s), gender bending, Sasuxfem!Naru/Gaaxfem!Naru and Itaxfem!Dei/Sasoxfem!Dei as pairing..
.
Chapter 4
.
Dalam sekejap mata sang penguasa hari telah beranjak dari tidur singkatnya, kembali menyapa dunia yang kini telah kembali terlilit rutinitas harian. Suara langkah sibuk mulai ramai memenuhi tiap sudut jalan, juga suara riang sapaan yang saling bersahutan. Udara musim dingin yang basah pun turut berbagi ketentraman di awal hari.
Pagi yang damai kembali datang.
Sebuah rumah berpapan nama 'Uzumaki' nampak senyap− jujur saja, ini merupakan kejadian yang teramat sangat mengherankan mengingat kebiasaan dua orang penghuninya yang selalu meributkan 'apa pun' itu di setiap paginya.
Si bungsu Uzumaki tampak berdiri di hadapan cermin besar di kamar mungilnya. Tangannya bergerak lesu membenahi simpul dasi merah seragamnya. Selesai dengan pekerjaannya, ia menatap cermin yang membiaskan refleksi dirinya dengan sempurna. Sebuah helaan nafas frustasi pun terdengar miris.
Jemarinya menyentuh bagian bawah mata kirinya yang terlihat menghitam. "Sial.." Keluhan kembali terdengar saat menemukan mata langitnya yang memerah.
Naruto bersumpah akan menuntut pertanggungjawaban pada Gaara seandainya kelak mereka kembali bertemu. Salahkan saja wajah stoic pemuda bermata hijau itu yang terus menghantui pikirannya di sepanjang malam. Alhasil, gadis belia itu pun terus terjaga hingga waker di kamarnya berteriak tepat di angka tujuh pagi hari.
Dan inilah reaksi yang tercipta. Wajah super kusut yang tak sedap di pandang. Suhu air di musim dingin bahkan tak mampu membuat penampakan tersebut luntur.
Wajah Deidara yang tak kalah 'berantakan' dengan adiknya mengintip dari balik pintu kayu kamar Naruto.
"Naruto, aku duluan. Aku mau ke tempat Hotaru dulu sebelum ke sekolah."
Respon anggukan singkat pun diterima Deidara sebelum gadis berkuncir satu itu siap beranjak.
"Ah, satu hal lagi." Kepala kuning berkuncir Deidara kembali muncul di ambang pintu. "Mengenai anak ayam tengik itu−," ucapnya menggantung. Yang dimaksudkan sang kakak tentu saja Sasuke, "−jangan pernah punya rencana membolos hari ini. Aku akan langsung melapor pada papa kalau sampai kau berani." Si pirang yang lebih tua dua tahun dari adiknya itu sempat melempar seringai mengejek sebelum ia melangkah menjauhi kamar Naruto.
Naruto masih berdiri di tempatnya semula, terus diam mematung hingga pintu depan rumahnya berdebam keras dibanting oleh orang yang selama ini ia panggil kakak. Helaan nafas kembali terdengar nyata, entah sudah yang ke berapa kalinya pagi hari ini.
"Damn.. padahal aku sempat lupa masalah itu." Sambil mengacak gemas rambut pirangnya yang tergerai bebas, ia mengerang dengan wajah penuh penyesalan. Perasaan yang sempat hilang pun kembali hinggap, membuatnya mengumpat tak jelas pada bangunan sekolah yang tak memiliki sangkut paut dengan masalah pribadinya.
Dengan gerakan yang terlampau malas Naruto menarik tas sekolahnya, berlalu menuju pintu rumahnya setelah ia mencomot roti panggang yang sudah disiapkan Deidara sebelumnya. Kalau saja jam pelajaran pertama hari ini bukan milik si katak gurun Jiraya-sensei yang doyan menghukum pembolos, Naruto berpikir untuk menetap di UKS sekolahnya untuk beberapa waktu.
Sembari berjalan −dengan sebongkah roti yang terapit di bibirnya− gadis bermata sapphire itu merenung. Baru kemudian setelah ia ingat kembali, Sasuke tidak pernah muncul untuk mengganggu pikirannya semenjak pertemuannya dengan Gaara. Sekali pun Naruto mencoba mengingat ulang pertengkaran malam itu dengan kekas−ehem! mantan kekasihnya, selalu saja berujung dengan ingatan tentang pertemuan pertamanya dengan si reddish.
Mata bulat Naruto menatap langit pagi yang memiliki warna senada dengan miliknya. Surai berwarna merah kembali mengisi lamunannya. Raut wajahnya yang minim ekspresi dengan sepasang mata emerald yang terkesan dingin. Dari kepingan gambar samar-samar, perlahan sosok itu berubah menjadi wujud yang lebih utuh dalam bayangan Naruto.
Pagi-pagi begini, kenapa justru wajah Gaara yang menginvasi pikirannya?
Lama-kelamaan wajah berwarna tan gadis itu memerah. Menemukan fakta ganjil tersebut, ia menggeleng kepalanya kencang. Tanpa sadar membuat roti panggang di mulutnya yang tinggal separuh jatuh begitu saja.
"Akh! Dasar pervert! Kenapa daritadi aku nggak bisa berhenti memikirkannya, sih!" Setelah menampar sendiri pipi gembilnya dengan alasan yang tidak jelas, ia berlari kencang dengan rona merah yang kelamaan makin terlihat jelas.
Gaara sudah benar-benar sukses mencuri segala atensinya.
.
Di sisi lain, sosok yang sejak semalam berani menyandera seluruh kesadaran seorang Uzumaki Naruto, tampak bersin saat ia hendak menyesap minumannya.
"You okay, honey?" tanya wanita yang duduk di sebelahnya, langsung memberikan perhatiannya pada putra bungsunya itu.
Gaara hanya mengangguk sesaat sambil menggosok hidungnya yang terasa gatal. Dua orang lainnya yang ada di seberang meja ikut menatapnya.
"Geez.. Makanya,hentikan kebiasaanmu yang suka tidur larut malam itu. Kau makin mirip saja dengan mendiang otou-sama." Menatap adiknya khawatir, Temari mulai melancarkan hobi rutinnya. Memberikan kuliah pada adiknya itu.
"Aku tidak apa," responnya singkat, kemudian meneguk susu hangat dari gelasnya.
Pemuda lainnya terkekeh pelan. "Mengaku sajalah, otouto. Kulihat tadi pagi kau baru pulang," komentarnya.
"Diam, Kankurou."
Baru saja Karura −ibunya− hendak bertanya lebih lanjut, Gaara bangkit dari kursinya dengan tas yang ia sampirkan di bahu kirinya.
"Aku pergi dulu." Pemuda berambut merah itu mengecup lembut pipi ibunya sebelum meninggalkan ruang makan.
"Otouto," Kankuro menginterupsi langkah adiknya, "bisa tolong sekalian kau bangunkan manusia pemalas yang ada di sana?" Garpu perak dengan sebongkah dadar gulung yang menancap di sana teracung ke arah sofa besar di ruang tengah. "Kalau dia tidak segera bangun, aku akan memakan sarapan bagiannya," kelakarnya, dihadiahi sikutan keras dari wanita berkuncir empat di sebelahnya.
Gaara yang sudah separuh jalan menuju pintu rumahnya mau tak mau memutar tubuhnya, menghampiri sebuah sofa besar yang menyangga raga seseorang yang masih terlelap.
Mata hijaunya menatap sesaat sosok yang memiliki warna kepala serupa dengan miliknya. Ia mengernyit jengkel melihat kekacauan di sekitarnya. Sampah makanan dan beberapa kaleng minuman soda berserakan memenuhi karpet merah ruang keluarga.
"Bangun," desisnya tajam.
Sosok itu sama sekali tak bergerak. Serpihan cream cheese cake masih terlihat membekas pada sisi bibir pemuda di atas sofa tersebut, makin membuat tatapan Gaara memicing pada wajah damai sepupunya itu− Sasori.
"Kau butuh air dingin atau air panas untuk membuka matamu?" Sepatu kets menyodok keras sisi tubuh Sasori. Reaksi tak terduga yang diberikan pemuda itu membuat Gaara sedikit membelalakan matanya. Masih dengan mata tertutup, Sasori mengerang tertahan. Sebelah tangannya meremat pelan dadanya yang terlihat kesulitan menemukan oksigen. Wajahnya nampak begitu menderita dengan mulutnya yang kesulitan saat mencoba untuk berbicara.
Sontak Gaara berlutut di sisi tubuh yang gemetar itu, hendak memeriksakan keadaannya. "Kau ke−"
Tangan putih yang awalnya tengah mencengkeram dada tiba-tiba beralih pada kepala Gaara, meremat helaian merah di bagian belakang kepalanya, kemudian menariknya mendekat.
Smooch!
Ciuman basah beraroma cheese cake membekas di pipi kiri Gaara.
"Selamat pagi, sepupu." Sasori pun terbangun dari tidurnya, mengambil posisi duduk di atas sofa sambil terus terkekeh, begitu menikmati wajah terkejut sepupu yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri.
"Kau−"
"Sudah mau berangkat ke sekolah, eh?" Sasori memotong, masih dengan senyuman di wajahnya. "Gimana kalau kuantar, Gaara-chan?"
Sepatu milik Gaara kembali terayun, kini menarget wajah sumringah di hadapannya. Tentu saja aset Sasori yang berharga itu harus dilindungi dari ancaman kepunahan, membuat pemiliknya meloncat santai sebelum sebuah jiplakan artistik membekas selama dua hari di wajahnya.
"Lho? Marah, ya? Manisnya−"
"Dasar homo." Gaara mendesis dingin. Ia menggunakan lengan seragamnya untuk menyeka noda beraroma manis di pipinya. Reaksi tersebut justru membuat Sasori tertawa.
"Aku 'kan hanya ingin lihat wajahmu yang membosankan itu sedikit berekspresi. Sayang, lho−" masih dengan nada bicaranya yang tenang Sasori menunjuk dahinya sendiri, "−kau bakal terlihat jauh lebih tua dari usiamu yang semestirnya kalau wajahmu terus kau lipat begitu."
Kegaduhan tersebut membuat tiga orang di ruang makan menyeruak tergesa ke ruang keluarga.
"Ada apa ini?" Wajah panik Karura menghentikan niatan Gaara untuk kembali melancarkan serangan kets-nya. Kankurou terlihar berface palm ria.
Menenangkan diri sejenak, Gaara memutuskan kembali menarik tasnya yang terjatuh. Ia keluar dari rumahnya setelah memberikan dengusan kebencian serta serangan death glare pada kakak sepupunya.
"Tak perlu cemas, okaa-sama. Kami hanya bercanda, seperti biasanya. Maaf sudah mengganggu sarapan kalian." Sasori tersenyum hangat pada tiga wajah di hadapannya. Ia yang sejak kecil sudah kehilangan ibunya selalu memanggil Karura dengan sebutan itu. Pemuda itu membungkuk, mulai membersihkan kekacauan yang dibuatnya sendiri.
Menghela nafas lega, Karura ikut membantu Sasori. Namun pemuda itu segera menolak dengan halus dan mengisyaratkan Temari untuk mengajaknya kembali ke ruang makan, melanjutkan sarapan khidmat mereka yang sejenak terganggu.
Kankurou yang masih tinggal menatap sepupunya itu dengan wajah prihatin.
"Serius, kalau kau mengganggu Gaara terus, anak itu lama-kelamaan akan membencimu, bodoh."
"Justru menyenangkan melihat wajah marahnya itu. Adikmu benar-benar manis."
Kankurou bergidik tanpa sadar. "Hentikan omonganmu yang persis homosex mesum begitu." Sasori membalasnya dengan kekehan ringan. Jeda sesaat sebelum Kankurou meneruskan. "Tapi kau benar bukan lelaki homo, kan? Aku tidak akan membiarkan adikku ka−"
"Tentu saja, idiot." Sebuah kaleng cola mendarat di dahi Kankurou. "Lagipula aku sudah punya seseorang untuk dipikirkan," ucap Sasori datar sambil mengikat trash bag yang telah terisi penuh.
"Hee.." Putra pertama keluarga Sabaku itu menjatuhkan dirinya di atas sofa, mulai tertarik dengan arah pembicaraan. "Seperti apa orangnya? Apa dia lebih menarik dari adikku?" Sebuah kantung sampah hitam teracung di udara, siap Sasori hantamkan pada wajah yang langsung panik. "Aku hanya bercanda!"
Sasori mendengus pelan. Ia meletakan kembali buntalan plastik hitam itu, kemudian duduk perlahan di atas karpet merah ruangan itu. Ia menopang wajahnya dengan sebelah tangan di atas kakinya yang terlipat.
"Hanya seorang wanita cengeng yang terlihat sangat jelek saat menangis."
.
"Hatchi!" Suara bersin Deidara langsung menarik perhatian Hotaru yang berjalan di sebelahnya.
Wanita dengan rambut cokelat bergelombang di sisi Deidara menarik syal kelabu di lehernya. "Pakai ini." Ia menyodorkan benda berbahan dasar wol itu pada Deidara yang tengah sibuk menggosok hidungnya yang memerah.
"Ah, thanks. Tapi nggak apa. Aku sehat, kok." Deidara tersenyum sambil menggeleng. Tangannya menarik benda kelabu di tangan Hotaru, melilitkannya pelan-pelan di leher sahabatnya. "Bisa-bisanya kau memberikan begitu saja benda penting begini di cuaca extreme seperti ini." Deidara menusuk pelan pipi Hotaru, "ingat, kau baru saja sembuh kemarin."
Diperlakukan begitu pun Hotaru hanya mengembungkan pipinya, membuat wanita lainnya tertawa.
"Baiklah, kembali lanjutkan ceritamu yang terpotong kemarin malam."
Deidara mengernyit. "Soal apa?"
Sang lawan bicara hanya memutar bola matanya gemas. "Itu, lho! Pangeran berambut merah yang telah menyelamatkanmu semalam! Ayo ceritakan lagi!"
Melihat antusiasme sahabatnya, Deidara membekap mulut Hotaru. "Sst! Jangan keras-keras, bodoh! Haruskah kau mengumumkannya pada satu kompleks perumahan sekitar sini?" Sebuah telunjuk ramping mengatup mulutnya sendiri, mengisyaratkan Hotaru untuk menurunkan sedikit oktav suaranya.
"Hehehe, maaf, maaf." Mata kelabunya menyipit saat sebuah cengiran tercipta di wajahnya. "Jadi, di mana dia sekarang?"
Deidara mendesah sedih. "Mana kutahu."
Manik grayish Hotaru membelalak ringan "Kenapa−?"
"Ayolah, Hotaru. Aku sudah tidak mau membahasnya lagi."
Tersirat jelas nada kesedihan di sana, membuat Hotaru urung melanjutkan interogasinya. Ia menggenggam lembut syal yang memeluk leher jenjangnya, menatap sosok di sebelahnya dengan raut khawatir. "Kau baik-baik saja, Dei?"
Pertanyaan barusan sukses membuat bibir si pemilik mata biru mengerucut. Wajah manis berwarna tan itu langsung menghadap persis di depan wajah terkejut Hotaru. "Bicara apa kau, bodoh! Apa wajahku terlihat begitu menyedihkan?" Ia menuding wajahnya sendiri dengan sorot meyakinkan.
'Sebenarnya, sih, begitu,' batin Hotaru sayup-sayup. Namun gadis itu memberikan senyuman maklumnya seraya menepuk ringan kepala kuning di hadapannya.
"Well, aku percaya padamu. Pokoknya apa pun masalah yang mengganggumu, ceritakan segalanya padamu. Kita sahabat, kan?" Senyuman sumringah Hotaru terlihat bercahaya di iris bluish Deidara. Wanita blonde itu tak tahan untuk tidak memeluk sahabat kentalnya itu.
"Tentu!" Deidara memeluknya erat, membuat korban dalam lengannya kesulitan menemukan udara.
"Baiklah, berhenti lakukan hal ini sebelum aku berteriak kalau ada orang mesum yang sedang menyerangku," ancam sang gadis yang teraniaya, membuat target yang dimaksudkan melepaskan dekapannya sebelum menghibahkan sebuah pukulan ringan di kepala cokelat sahabatnya.
Keduanya tertawa, kembali berjalan beriringan menuju sekolah mereka. Dan Hotaru kembali menyambung topik barunya.
"Omong-omong, kenapa kau bisa berpisah dengan Itachi-kun?" Hotaru menanyakan hal paling tabu dengan wajah polosnya, seolah menghiraukan wajah Deidara yang seakan tersambar petir di pagi hari.
Kepala bersurai emas itu perlahan menoleh, menguar aura dark yang begitu kental, membuat siapa pun yang melihatnya merasa tercekik. "Tema pembicaraan yang sangat menarik, Hotaru-chan. Padahal aku sudah nyaris lupa soal itu," jawabnya dengan nada yang sangat ramah.
Di lain pihak, Hotaru mengangguk cepat dengan keringat dingin di beberapa titik wajahnya. "Okay, okay. Kau bisa ceritakan padaku lain kali."
Deidara mendengus kencang, "Sebenarnya, sih, bukan masalah juga bi−"
Kalimat yang akan keluar kembali tertelan. Deidara mematung di tempatnya berdiri.
Hotaru menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Deidara yang tertinggal beberapa langkah di belakangnya. "…Dei?" Hotaru menatapnya heran. Wajah sahabatnya yang terlihat mengeras mulai membuatnya khawatir.
Deidara bergeming, tidak melepaskan sosok jangkung yang akan melintas berlawanan arah di hadapannya.
Pemuda berambut merah.
Hotaru sedikit memiringkan kepalanya. Perlahan ia melambaikan telapak tangannya di depan wajah sahabatnya. "Hei, ada apa?"
Seakan baru tertampar oleh sesuatu, Deidara menggeleng cepat, membuat rambut panjangnya mengibas liar.
'Itu bukan dia!'
Gaara mengangkat sedikit kepalanya, melirik dua orang wanita yang berdiri tak jauh dari hadapannya. Mata hijaunya beralih pada salah satu sosok di sana. Wanita yang terlihat familiar di matanya dengan rambut pirang dan manik biru langitnya.
Sesaat Gaara teringat seseorang –sosok yang malam itu telah menyadarkannya akan sesuatu.
'Bukan dia..' Ia membatin, kembali memejamkan matanya dan menikmati alunan musik dari sepasang earphone yang menutup kedua telinganya.
Ia berlalu begitu saja, melewati dua orang wanita yang masih berada di tempatnya. Perasaannya saja, ia tidak yakin salah satu dari mereka terus menatapnya.
"Hello? Anyone?" Hotaru menggaplok pelan pipi Deidara, yang kini balas menatapnya.
"Ah.. Maaf, Hotaru."
"Dasar.." Hotaru mengeluh. "Gara-gara anak berkepala merah tadi, eh?"
Deidara tidak bersedia menjawab sahabatnya. Ia tahu, Hotaru selalu mampu menilik isi hatinya. Dan semburat merah tipis di wajah mewakili jawabannya.
"Sadarlah, hey, wahai sahabatku! Jangan salah mengira hanya karena warna rambutnya yang serupa." Dengan gemas si pemilik rambut cokelat pasir itu mengacak helaian pirang kawannya. "Jangan memasang wajah pedophile begitu!" Hotaru tertawa renyah mendapati reaksi perlawanan Deaidara.
"Bilang apa kau barusan, nona?" Si blonde merengut, tidak terima dikatai pedophile.
Hotaru hanya menggeleng meremehkan. "Memang kau tidak lihat seragam sekolahnya tadi?"
Dibalas dengan tatapan dongkol Deidara dan sebuah kernyitan heran. "Apa?"
"Dia itu masih SMP."
.
-tbc-
.
Ya, ya, saya tahu ini sedikit banget. Habis kalau disatuin dengan chapter lima, story-nya malah kepanjangan–menurut saya, sih–. Apakah ada yang merasa saya beberapa kali mengulang kata 'mesum' dan 'homo' di atas sana? Maklum, kemarin kepala saya kepentok tangga aborsi deket kostan #plak!#
Many thanks for my dearest readers :
La Nina Que 'Aru-chan, Haru-QiRin, Dark Miki-Mizu, ThELittleOraNgE, yuchan desu, The Sirius of Black Daria, LeadenBerry, xxx, NaMizu no Mai, Yashina Uzumaki, xxruuxx, Kaze Ka-Zumi, edogawa ruffy…
..and you!
Maaf karena update untuk ff ini kelewatan lemotnya. Feel untuk menulis di fandom kelahiran saya ini mendadak lenyap, sulit banget mencarinya #kelihatan dari gaya bahasanya yang campur aduk karena mood yang seadanya# Semoga kalian masih berkenan mengunjungi dan membaca kelanjutannya^^
Reviews are loved!
