Tittle : Black and Red Stripes (chapter 4)

Disclaimer : Death Note -Tsugumi Ohba & Takeshi Obata-

Warning : Typos, OOC characters.

.

.

.

14 Januari 2015, Whittington Hospital, London.

.

"Sekilas info. Kemarin malam seorang psycho telah membunuh seorang gadis yang sedang berjalan bersama pacarnya. Seorang saksi mata, yang juga merupakan pacar korban sempat melihat wajah tersangka dan melaporkan bahwa ciri-cirinya antara lain : memiliki kumis, tubuhnya tinggi, dan memiliki wajah seperti orang Jepang. Sang pelaku kabur meninggalkan korbannya yang telah mati tercabik dan sampai sekarang sang pelaku masih belum ditemukan..."

.

"Pip!"

.

Mello dengan kesal mematikan televisi yang sedang ia tonton dan melemparkan remote control-nya ke atas kasur.

"Huh! Menyebalkan! Apa sih yang Matt dan Yuki lakukan saat ini? Che... sial! Yamaguchi kali ini beraksi lagi. Bagaimana bisa Matt dan Yuki masih belum bisa menangkap psycho tersebut? Sekarang yang bisa kulakukan hanya berbaring di atas kasur ini! Sial!"

Umpatan-umpatan terus keluar dari mulut Mello setelah mlihat berita tentang pembunuhan tanpa motif yang dilakukan Yamaguchi kemarin malam, sementara ia hanya bisa berbaring di atas kasur rumah sakit.

Mello lalu mengambil handphone-nya yang tergeletak di atas meja yang berada tepat di sebelah kasurnya. Diketiknya sebuah pesan singkat ke handphone Matt dengan segera, jari-jarinya begitu cekatan saat mengetik.

1 Message sent.Mello tersenyum puas saat melihat pesannya telah terkirim. Sekarang hanya menunggu balasan dari Matt saja.

~xxXXXxx~

"pipipipipipipipipipi...!"

Tiba-tiba handphone Matt berbunyi.

1 message received

Matt membuka kunci tombol handphone-nya dan membaca pesan yang dikirim Mello.

.

.

.

Sender : Mello (+4043696xxx)

Subject : -no subject-

Hei, baka! Cepat temui aku di rumah sakit.

Penting!

Ps: jangan lupa bawa pacarmu juga.

.

.

.

Matt berdehem sekilas layaknya bisikan setelah membaca pesan singkat dari Mello, terutama pesan yang tertulis di bagian paling bawah.

'Pacar? Maksudnya Yuki? Bukan, ah... Yuki belum jadi pacarku, mungkin? Sudahlah. Tapi, apanya yang penting?' pertanyaan-pertanyaan tersebut begitu mengusik pikiran Matt.

Yuki yang baru selesai sarapan langsung bertanya kepada Matt.

"Ada apa, Matt?"

"Oh, Mello menyuruh kita berdua untuk ke rumah sakit sekarang. Penting."

"Baiklah, beri aku lima menit untuk bersiap-siap."

Setelah lima menit berlalu, Matt dan Yuki langsung berangkat ke Whittington Hospital untuk mengunjungi Mello.

.

.

.

"Ada apa, Mells?" Matt membuka pintu kamar tempat Mello dirawat dan berjalan masuk, diikuti oleh Yuki dari belakang.

"Baka! Apa saja yang kau dan Yuki lakukan selama ini? Apa kau tidak melihat berita pagi ini?"

"Tidak. Memangnya ada apa?"

"Psycho yang bernama Yamaguchi itu beraksi lagi, bodoh!"

"..."

Matt terdiam dan wajahnya nampak begitu khawatir. Yuki pun tak kalah khawatirnya dari Matt, mereka berdua nampak sama-sama khawatir.

Mello beranjak dari atas kasur dan berjalan ke arah Matt, menepuk bahu Matt dan berjalan ke arah pintu ruangan.

Matt menoleh dengan cepat. "Kau mau ke mana, Mells?" ucap Matt.

"Aku ingin memberitahukan pada dokter bahwa aku sudah siap pulang ke rumah."

"K-kau yakin, Mells?"

"Tentu saja. Dokter mengatakan bahwa aku sudah bisa pulang kapanpun kau mau, dan aku tidak bisa membiarkan kalian berdua bekerja dengan sangat lamban begini."

"Errr... Baiklah kalau begitu."

Suasana menjadi hening seketika Mello berlalu pergi ke ruang dokter. Yuki duduk di atas sofa, sementara Matt duduk di atas kasur Mello. Suasana ruangan begitu sunyi dan sepi, dua-duanya tidak berbicara sepatah kata pun.

"Uhm, Matt...?"

"Hmm...?"

"A-anu..."

"Ada apa, Yuki? Katakan saja yang ingin kau katakan padaku."

"I-itu... Jika Mello sudah sembuh, akankah aku masih membantumu?"

"Entahlah, kuarasa tidak. Jika dilihat-lihat, situasinya sangat berbahaya bagimu."

"Ta-tapi—"

"Lebih baik kita tanyakan pada Mello nanti."

"Ba-baiklah..."

Yuki menunduk lesu saat mendengar bahwa ia tidak dapat membantu Matt lagi. Matt menyadari bahwa Yuki merasa sedikit sedih, dan duduk tepat di sebelah Yuki dan merangkul bahunya.

"E-eeeeh, Matt?" Yuki begitu terkejut saat Matt merangkul bahunya.

"Hmmm?" Matt hanya memberi senyum manis ke arah Yuki. "Yuki ingin tahu kenapa aku melarangmu untuk ikut membantu dalam penangkapan orang bernama Yamaguchi ini?" Matt menambahkan.

"Te-tentu..." Yuki menjawab pertanyaan Matt sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, dan berharap bahwa Matt tidak menyadari wajahnya yang berubah menjadi merah padam.

Matt terdiam sejenak dan merangkul bahu Yuki dengan semakin erat.

"Itu karena aku tidak ingin Yuki kenapa-napa. Kau ingat, kan' saat di mana kita akan menangkap Yamaguchi tapi ternyata malah nyawa kita sendiri yang terancam?"

"I-iya, aku ingat."

"Maka dari itu, aku tidak ingin membahayakan Yuki lebih dari itu."

"Ta-tapi kena—"

"Karena kau satu-satunya orang yang berharga bagiku, mengerti? Aku kan' sudah bilang bahwa aku menyukaimu, jadi, kumohon mengertilah..."

Matt dan Yuki sama-sama menunduk lesu dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Matt masih mendekap Yuki. Dan tiba-tiba, Mello masuk tanpa diketahui oleh mereka berdua.

"Ehem!"

Suara Mello membuat Matt dan Yuki terperanjat kaget, dan Matt lalu melepaskan rangkulan tangannya dari Yuki.

"Sedang apa kalian berdua di situ?" ucap Mello dengan senyum menyeringai.

"Kami hanya—" belum sempat Matt melanjutkan kata-katanya Mello sudah memotong ucapannya.

"Kalian berdua pasti sudah pacaran..." ucap Mello masih dengan senyumnnya yang menyeringai.

"E-enak saja!" jawab Matt dan Yuki secara bersamaan.

.

.

.

Mello sudah pulang ke apartemen dan mulai menyusun rencana penangkapan Yamaguchi. Matt duduk mendengarkan sementara Yuki hanya memperhatikan.

"Baiklah... Kita sudah tidak punya waktu lagi. Jadi, malam ini kita akan meringkus penjahat yang bernama Yamaguchi itu malam ini juga," ucap Mello dengan wajah yang begitu yakin.

"Ta-tapi kenapa harus malam ini?" Matt yang mendengar perkataan Mello nampak terdengar kaget.

"Kita tidak punya waktu lagi. Apabila kita terus menunda-nunda, maka penjahat tersebut akan berpindah tempat dengan cepat," jawab Mello dengan ekspresi wajah dingin.

Matt hanya mengangguk tanda mengerti, sementara Yuki hanya memperhatikan dengan wajah khawatir.

========xxxXXxxx========

Mello melirik jam tangannya, dan waktu menunjukkan tepat pukul delapan malam. Mello dan Matt telah bersiap-siap sejak sejam yang lalu. Mereka berdua mengenakan pakaian serba hitam, mulai dari celana, baju, dan jaket mereka semuanya hitam.

Mello beranjak pergi sembari menyelipkan sebuah pistol ke dalam jaketnya, begitu juga dengan Matt. Mereka menyiapkan masing-masing sebuah pistol untuk berjaga-jaga.

"Kami pergi dulu," ucap Mello kepada Yuki yang berdiri di dekat pintu apartemen mereka.

"Jika kami tidak kembali dalam dua jam, tolong kau pergi dan periksa keadaan di sekitar tempat yang kami tuju. Masing-masing dari kami sudah ditempelkan alat pelacak," ujar Mello menambahkan.

Yuki hanya mengangguk tanda mengerti.

"Dan, kuharap kau jangan tidur malam ini. Ini adalah masalah serius sekaligus kesempatan terakhir kita untuk menangkap Yamaguchi," wajah Mello begitu serius, bahkan lebih serius dari biasanya.

Yuki mengangguk untuk kedua kalinya, dan setelah itu Mello berjalan keluar dan menghilang dari pandangan.

'Kuharap mereka berdua akan baik-baik saja,' batin Yuki dalam hati.

Mello dan Matt melaju di jalanan yang sepi dan berhenti di depan sebuah apartemen bobrok dengan cat merah kecoklatan yang hampir mirip dengan warna batu bata. Jika dilihat dari depan, apartemen bobrok itu seperti sudah tidak berpenghuni. Namun, di sinilah sebenarnya tempat Yamaguchi tinggal.

Mello dan Matt memasuki apartemen tersebut dengan sangat hati-hati. Kaki mereka melangkah dengan pelan dan tanpa suara. Keadaan apartemen tersebut begitu sepi dengan lampu remang-remang yang menerangi setiap sudut ruangan.

Mereka berdua berjalan melewati tangga untuk menuju ke lantai dua. Suasananya masih tetap hening dan sedikit menyeramkan. Setelah sampai di lantai dua, Mello dan Matt mulai memeriksa kamar demi kamar yang ada di sana dengan sangat hati-hati.

Pada akhirnya Mereka berdua sampai pada kamar yang letaknya berdekatan dengan tangga untuk naik ke lantai tiga. Nampak seberkas cahaya lampu di kamar yang tidak sepenuhnya tertutup itu. Bayangan seseorang nampaknya sedang mondar-mandir di dekat kasur.

Mello mengintip dari celah pintu dan memperhatikan seorang pria dengan postur tubuh yang kurus dengan rambut hitam sebahu yang acak-acakan sedang memegang sebuah belati tajam dengan senyum yang amat mengerikan tergambar di wajahnya.

Mello tersenyum, ternyata orang yang ia cari dapat ditemukan dengan mudah. Ya, orang yang sedang mondar-mandir tersebut adalah Yamaguchi, yang dapat dengan cerbohnya memilih tempat untuk bersembunyi.

Mello yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatannya langsung menyelinap masuk saat Yamaguchi sedang berjalan menuju ke kamar mandi, sementara Matt ia suruh untuk berjaga-jaga di luar.

Layaknya adegan film laga yang sering diputar di televisi, Mello yang sedari tadi bersembunyi di belakang pintu kamar mandi langsung menangkap Yamaguchi yang baru keluar tanpa menghiraukan pisau yang dipegangnya. Mello mencoba menaha Yamaguchi yang mencoba untuk berontak, yang menyebabkan suara gaduh sampai ke luar ruangan.

Matt yang tidak betah dan merasa khawatir langsung berlari ke dalam dan mendapati bahwa Mello sedang dalam posisi terjepit. Lalu, Matt mencoba menahan tangan Yamaguchi yang sedang memegang belati tajam di tangan kanannya, dan posisi pun berbalik.

Tapi, Yamaguchi tidak ingin menyerah begitu saja. Tangannya cukup kuat dan dapat melepaskan cengakraman dari Matt, dan setelah itu ia menendang Mello yang ada di belakangnya. Yamaguchi berlari ke pintu keluar, namun Mello dengan cepat mengeluarkan pistolnya dari dalam jaket dan berhasil menembak kaki kanan Yamaguchi. Alhasil, Yamaguchi langsung jatuh dengan sangat kuat ke lantai dengan dagu yang lebih dulu jatih dan menghantam lantai.

Yamaguchi berbalik dan menatap Mello serta Matt dengan pandangan mata nanar dan sadis. Keringat nampak menetes dengan derasnya dari sekitar pelipis Yamaguchi. Lalu, Yamaguchi bangkit berdiri dan berjalan tertatih-tatih. Dan sialnya, Matt yang berada tidak lebih dari satu meter dari Yamaguchi sukses terkena tusukan belatinya di daerah pinggang.

Matt jatuh tersungkur ke atas lantai dengan darah yang mengucur dengan deeras dari pinggangnya. Setelah itu, Mello dengan spontan menembak Yamaguchi untuk kedua kalinya, dan kali ini Mello menembak tangan kanannya.

Yamaguchi seketika itu juga telah dilumpuhkan dan tidak dapat berkutik. Tak terasa, waktu telah berjalan kurang lebih satu setengah jam, dan Mello dengan cekatan menelpon polisi dan ambulan serta menolong sahabatnya yang sedang tersungkur di lantai, kesakitan.

Tak lama kemudian, polisi datang diikuti dengan ambulan di belakangnya. Seketika itu juga suasana menjadi sangat gaduh akibat suara sirine mobil polisi dan ambulan yang menderu-deru.

Yamaguchi yang terbaring lumpuh sambil bersimbah darah langsung diangkat oleh para polisi yang dibantu dengan beberapa perawat. Matt yang sedari tadi menahan rasa sakit yang terasa di sekitar pinggangnya berjalan sembari dibopong oleh Mello ke dalam ambulan.

Matt yang sudah kehilangan segenap tenaganya langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk diobati. Mello tidak ikut masuk ke dalam ambulan dan malah pergi ke apartemen tempatnya tinggal untuk menjemput Yuki.

Sesampainya di apartemen, Mello langsung mendobrak pintunya dan nyaris membuat Yuki terperanjat kaget.

"Ada apa Mells?" ucap Yuki dengan wajah yang sangat khawatir. "Dan, mana Matt?" sambungnya lagi.

"Matt sekarang sedang ada di rumah sakit. Ayo ikut aku, tidak ada waktu untuk menjelaskannya sekarang," ucap Mello yang langsung menarik tangan Yuki dan berangkat pergi ke rumah sakit.

Wajah Yuki menjadi sedikit pucat saat Mello menceritakan semua yang terjadi kepadanya sembari menyetir mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi. Yuki juga menjadi sangat khawatir dengan keadaan Matt saat ini dan keringat dingin pun terlihat menetes dari pelipisnya.

Sesampainya di rumah sakit, Mello langsung menemui polisi dan berbicara kepada mereke mengenai Yamaguchi, dan Yuki berjalan ke meja resepsionis untuk menanyakan letak ruangan tempat Matt dirawat.

"Permisi, dapatkah kau memberitahuku di mana tempat Mail Jeevas dirawat?" tanya Yuki tanpa basa-basi kepada sang resepsionis.

"Silahkan menuju ke ruang nomor dua ratus tujuh, ruangannya ada di lantai tiga," jawab sang resepsionis yang sedang sibuk dengan catatan-catatannya yang berserakan di atas meja.

Yuki langsung berlari ke arah lift dan naik ke lantai tiga, meninggalkan Mello yang sedang sibuk berbicara dengan para polisi. Wajah Yuki nampak begitu khawatir, bahkan terlihat lebih khawatir dari sebelumnya. Setelah sampai di lantai tiga, Yuki langsung berlarian mencari kamar dengan papan nomor yang bertuliskan nomor dua ratus tujuh.

Setelah berlari-larian, akhirnya Yuki menemukan kamar tempat Matt dirawat dan berdiri di depan pintunya. Terlihat dengan jelas keringatnya mengalir deras dan membasahi bajunya. Namun, Yuki mencoba untuk mulai bersikap tenang dan menarik napasnya dalam-dalam.

Yuki membuka pintu ruangan dan mendapati seorang pemuda berambut merah marun yang terbaring lemah sambil mengenakan baju berupa piyama putih khas rumah sakit. Mata pemuda berambut merah marun tersebut terpejam, nampaknya ia sedang tidur.

Yuki lalu menutup pintu secara perlahan dan berjalan mendekat ke ranjang tempat Matt terbaring. Ditatapnya lekat-lekat pemuda tampan itu. Wajahnya yang sedang tertidur nampak begitu tenang. Yuki pun menarik sebuah kursi lipat dan duduk di sebelah ranjang Matt sambil membelai rambut Matt yang berwarna merah marun.

Yuki tersenyum pahit saat melihat orang yang ia sayangi terbaring lemah di atas kasur rumah sakit yang pastilah sangat tidak nyaman. Yuki mulai memegang tangan kanan Matt dan menggenggamnya lembut. Tangan Matt terasa begitu dingin, berbeda dengan tangan Yuki yang hangat. Lalu, Yuki memberikan sebuah kecupan kecil pada punggung tangan kanan Matt sembari berharap bahwa Matt akan segera sadar dari tidurnya.

Tanpa disangka-sangka, setelah Yuki mencium tangan Matt, tangan Matt yang dingin itu langsung menggenggam tangan Yuki dengan erat.

"M-Matt! Kau sudah sadar?" tanya Yuki yang begitu kaget.

Matt hanya membalas pertanyaan Yuki dengan sebuah senyum kecil. Matanya yang berwarna hijau itu nampak tidak terlalu bercahaya seperti biasanya, dan hal itu membuat Yuki sedikit sedih.

"Aku baik-baik saja, percayalah," ucap Matt sedikit berbisik.

Suasana tiba-tiba berubah menjadi hening. Matt mencoba untuk bersitirahat kembali sementara Yuki menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Mello masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terkebih dahulu, dengan wajah biasa saja.

" Yamaguchi sekarang ada di ruang IGD, tak ada luka yang serius," ucap Mello dengan santai sambil duduk di atas kursi sambil membuka bungkus coklat batangan yang ia bawa.

'Tak ada luka yang serius? Kau bercanda ya Mells? Ditembak dua kali berturut-turut bukankah artinya ia mengalami luka yang cukup parah?' batin Matt dalam hati dengan sedikit perasaan geli.

"Ngomong-ngomong, pacarmu ini dari tadi mencemaskanmu terus," ucap Mello kepada Matt sambil menunjuk ke arah Yuki.

"Si-siapa yang kau sebut pacar?" sergah Yuki dengan muka yang merah semerah tomat.

"Bukannya kalian berdua sudah pacaran?" tanya Mello sembari menggigit coklat yang ada di genggamannya.

"Siapa yang bilang begitu?" Yuki nampak tidak percaya akan ucapan Mello barusan.

Matt terkekeh dan menganggkat tangan kanannya, "Aku," ucapnya sambil tertawa geli.

Yuki langsung blushing saat Matt mengucapkan hal itu, dan Matt melontarkan senyuman jahil ke arahnya.

"Maaf, ya, Yuki. Aku tahu belum resmi karena aku belum menanyakannya langsung padamu. Jadi, maukah kau menjadi pacarku?" ucap Matt dengan senyum malu-malu, dan nampak semburat merah yang samar-samar muncul di wajahnya.

Yuki terdiam sesaat, wajahnya semakin memerah saat ia menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mello yang melihat mereka berdua langsung bersorak-sorai dan memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua.

To be continued...

.

.

.

Fyuuuh! Akhirnya chapter ini selesai juga! Eit, tapi masih ada satu chapter lagi, hehehe *senyum licik*.

Untuk chapter ini sudah Maroo selesaikan dengan susah payah karena Maroo sedang dilanda gejala writer block*curcol* XD

Maaf kalau di chapter ini banyak sekali typos dan alur ceritanya terlalu cepat dan nggak nyambung. Tapi, makasih ya buat semua yang baca, dan juga buat Nami-san yang selalu nge-review cerita saya yang abal ini.

Last chapter, coming soon!

Arigato~