Haaa, ini dia chap 4
Enjoy for read this guys!
Warning : ooc, gaje, typo, alur ga jelas, dll
.
.
.
Always Okuda (4)
.
.
.
"Ne, Okuda-san…"
Karma terdiam menatap guru yang bertampang sangar di hadapannya. Guru itu tersenyum ramah, padahal lipan-lipannya sudah bergeliat kesana kemari.
"Jadi, Akabane Karma, kudengar kau akhir-akhir ini menguntit Asano Gakushuu. Apa ada suatu ketertarikan?" Karma cengo mendengar pertanyaan kepala sekolah. Wadehel plis, Karma masih straight. Karma masih suka cewek. Menguntit? Karma ngga stalker.
"Apa ada bukti, pak kepala sekolah?" tanya Karma balik. Geram juga ia dibilang stalker secara terselubung.
Asano Gakuhou menyalakan LCD proyektor yang entah kenapa sudah ada di ruangannya, "Ini berdasar foto yang dikirimkan Araki Teppei-kun." jelas pak Asano sambil menuding-nuding foto yang memperlihatkan Karma tampak serius menatap Asano Gakushuu. "Dan, kudengar kau selalu menguntitnya ketika ia sedang bersama Okuda Manami-san, apa saya benar?"
Remaja berambut merah itu udah gatel mau jejalin wasabi ke mulut kepala sekolah yang daritadi tersenyum sok tamvan, "Ya, sebenarnya sih saya Cuma kepo." jawab Karma santai.
Om Gakuhou menghela nafas dan bangkit dari kursinya untuk menghampiri Karma, "Kutegaskan sekali lagi, jangan dekati Asano-kun ketika ia sedang bersama Okuda-san." bisik sang kepala sekolah di telinga Karma yang langsung merinding mendengarnya. "Karena, Okuda-san adalah calon istriku."
Alamak wadehel yeaah?! Karma langsung keluar dari ruangan nista kepala sekolah tanpa pamit. Ia bergegas menuju ke kelas A. Menghampiri Asano untuk membisikkan sesuatu. Lalu keduanya melangkah ke lapangan akademi Kunugigaoka.
Duo jenius itu headbang bareng disana diiringi music dari sohib-sohib Asano.
"… ternyata om Gakuhou juga menyukaimu."
.
.
.
.
.
"Dengarkan aku Okuda-san…."
Setan wasabi kelas E sedang ngedumel ga jelas. Tangannya masih setia menulis jawaban dari soal matematika yang ia kerjakan dengan cepat. Koro-sensei menatapnya penuh prihatin. Teman sekelasnya merinding lihat dia galau gitu. Okuda sudah pasrah karena ucapannya daritadi dikacangin sama si jelmaan iblis.
"Karma-kun, setidaknya jangan kacangin mereka yang peduli dong." protes Kayano yang udah bosen liat Karma kayak ngucapin mantra-mantra gitu.
Karma menoleh malas ke kembaran Nagisa itu, "Memangnya kau tau cara menghilangkan sesuatu yang bernama galau?" sengit Karma sambil tetap menuliskan jawaban soal selanjutnya.
Kayano mengangguk yakin, "Tentu saja ak-"
"Kau sendiri saja suka galau kalau dikacangin Nagisa." sindir Karma yang matanya sudah fokus ke buku di hadapannya. Kayano mingkem karena kalimatnya dipotong dengan pedas seperti itu.
"Sou, minna-san, silahkan istirahat. Ingat jangan terlambat masuk di kelas Irina-sensei setelah ini." ucap Koro-sensei memotong semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi antara Kayano dan Karma.
Setan kelas E hanya mendengus kesal tidak peduli. Ia masih saja mengerjakan soal matematika di bukunya. Bahkan Koro-sensei berani bertaruh kalau dalam sehari ini, buku matematika Karma akan selesai dikerjakan.
"K-Karma-kun." Karma menghentikan acara galaunya yang sangat special itu. "Apa ada masalah? Aku lihat, ano, kau tampak memikirkan sesuatu. Dan sepertinya itu membuatmu kesal hari ini." si surai merah mendongakkan kepalanya dan mendapati tukang racun kelas E sudah duduk di kursi Chiiba dan menatapnya heran.
Helaan nafas terdengar, "Ne, Okuda-san.." manic mercury Karma memperhatikan kelas yang benar-benar kosong saat istirahat, "Bagaimana perasaanmu jika kau disukai om-om duda tamvan, berduit, punya jabatan, dan anaknya gak kalah tamvan sama si om itu?" tanya sang Akabane yang sudah fokus ke Okuda.
Manik amethyst Okuda melebar. Ia benar-benar kaget. Pertanyaan seperti itu, biasanya menandakan bahwa yang nanya sedang mengalami hal yang ia tanyakan. "KARMA-KUN DISUKAI OM-OM DUDA BERDUIT?!" pekik Okuda histeris.
Alis Karma bertaut. Ia terperangah sekarang. Sumpah, bukan itu yang ia maksud barusan. "B-bukan seperti itu, Okuda-san!" sanggah Karma cepat. Okuda masih syok dan tidak peduli yang ia katakan. Karma mendecih kesal, "Justru yang disukai om-om berduit itu malah Okuda-san sendiri." ucap Karma setengah memekik kesal.
Okuda semakin syok mendengarnya.
"OKUDA-SAN DISUKAI PAK KEPALA SEKOLAH?!" Okuda dan Karma tidak tau sejak kapan teman sekelas mereka berbakat dalam hal menguping seperti ini dan berbakat mengetahui orang yang sudah disamarkan identitasnya.
"Trus si Isogai gimana?" tanya Fuwa dengan wajah polosnya.
"Hoy, aku masih straight." protes Isogai yang barusan datang sama Maehara.
"Jadi, Okuda-san, kapan pernikahannya?" tepat setelah pertanyaan Nakamura selesai, Okuda pingsan di bangku Chiiba.
"OKUDA-SAN!"
"… mulai sekarang jangan dekati si om lipan itu!"
.
.
.
.
.
"Uwaa, Okuda-san…"
Okuda berhati-hati memasukkan cairan-cairan korosif yang ada di tabung. Bermain dengan cairan seperti ini sih sudah sering baginya. Dan beberapa kali ia mencoba, sampai sekarang nggak pernah gagal tuh. Pasti ada saja ramuan yang tercipta karena kengawurannya.
Lagipula, kalau ada sesuatu yang terjadi pasti Koro-sensei dan Karma sudah ada di sampingnya. Dan sudah dipastikan tidak ada korban, karena percobaan kimia Okuda dilakukan sepulang sekolah.
"Aku datang, Okuda-san." manic amethyst di balik kacamata berlensa tipis itu melihat sosok merah yang selalu menemaninya membuat berbagai macam ramuan. Kalau ditanya alasannya, Karma punya sejuta alasan untuk menjawabnya. Mulai dari, 'Kalau ramuannya berguna, nanti bisa untuk menjahili Terasaka' , 'Itu racun yang bisa bikin orang ketawa tanpa henti? Bisa untuk menjahili Asano-kun tuh.' , atau 'Waa, ramuan yang ini bisa bikin rambutnya Nakamura-san jadi afro nih.'.
Plis, Okuda sendiri udah merinding disko mendengar alsan-alasan kampretnya Karma. Itu alasan entah kenapa kedenger sadis untuk anak seusianya.
"K-Karma-kun darimana?" tanya Okuda yang masih fokus dengan cairan-cairan di hadapannya.
Remaja bersurai merah itu hanya menatapnya sekilas lalu meneruskan acara sedot susu strawberry miliknya, "Aku habis beli susu strawberry, yoghurt strawberry, sama permen strawberry di kantin gedung utama." jawabnya santai sambil memperlihatkan makanan serba strawberry miliknya. "Aa, aku juga belikan Okuda-san susu, tapi rasa anggur. Kesukaanmu baru-baru ini kan?"
Okuda segera menangkap sekotak susu yang Karma lemparkan ke arahnya. Ia tersenyum, "Arigatou, Karma-kun." ujarnya lalu mulai meminum minuman itu. Sudah hampir satu jam ia di lab kimia kelas E, dan selama itu ia tidak minum karena air putihnya habis dirampas Terasaka yang langsung babak belur setelahnya *ditonjokin Karma*.
"Saa, Okuda-san, kali ini ramuan apa yang kau buat?" tanya Karma yang sudah melihat-lihat cairan-cairan yang sudah bercampur ria dengan cairan lainnya.
Okuda tersenyum mendengar pertanyaan yang akrab di telinganya itu, "Kali ini aku Cuma mau buat kolaborasi antara chloroform dan sesuatu yang pedas, seperti yang diimpikan Karma-kun selama ini." jawab Okuda tenang.
Manik mercury Karma melebar senang. Seringainya keluar sangat lebar, "Yatta, arigatou, Okuda-san. Kau mewujudkan racun impianku selama ini." ujar Karma sambil menggenggam tangan Okuda penuh rasa terimakasih.
Okuda menatapnya. Ia terdiam. Rasa panas mulai menjalar ke wajahnya. Sedetik kemudian…
"Ano, Okuda-san, wajahm-"
"A-ah, Karma-kun, aku mau ke kamar mandi sebentar." Okuda ambil jurus seribu langkah dan meninggalkan Karma yang belum menyelesaikan kalimatnya.
Remaja bersurai merah itu tersenyum. Sebuah senyuman. Bukan seringai iblis yang berkolaborasi dengan Koro-sensei, seperti biasanya.
"… wajahmu tadi semerah rambutku loohh."
.
.
.
.
.
.
"Sst, Okuda-san…"
Si jenius Akabane itu tahu, yang namanya wanita pasti suka sekali dengan yang namanya gossip. Kanzaki yang dikenal kalem saja, bisa bergosip dengan riangnya. Hazama sang penulis naskah dorama, bisa bergosip dengan 'bumbu' yang sangat sedap. Jadi, sahabat berkacamatanya itu pasti juga bisa bergosip kan?
Tenang, Akabane Karma bukan berarti suka gossip ya? Dia bukan tante-tante dengan dandanan menor yang suka rumpi-rumpi tetangga atau suami orang. Ia Cuma seorang remaja laki-laki dengan kejeniusan tingkat iblis meringis yang punya telinga tajam untuk mendengar segala macam gossip di SMP Kunugigaoka. Tidak hanya jadi pendengar yang baik, Akabane Karma juga sering menciptakan desas-desus gossip yang punya tingkat keakuratan dan keberhasilan 100%.
Jadi, kali ini ia Cuma ingin tahu reaksi dari sang pembuat racun. Apakah ia terpancing dengan gossip?
"Ne, Okuda-san, apa kau belum ingin pulang?" tanya Karma sambil memainkan Get Rich milik Nagisa. HP Nagisa ada di tangannya tanpa si empunya ketahui *bilang aja, nyolong*.
Si pemilik kepang dua itu hanya menggeleng pelan, "Aku masih harus menyelesaikan tugas sastra Jepang dan bahasa Inggris. Ini tugas khusus katanya. Aku juga harus mengumpulkan tugas-tugas ini sekarang." jelas Okuda tanpa mengalihkan pandangannya dari buku dan kamusnya. Karma yakin, minus milik Okuda bisa bertambah jika ia membaca buku setebal kamus Oxford itu.
"Apa mengajakmu ngobrol akan menghambat pekerjaanmu?" tanya Karma yang baru saja memenangkan permainan pertamanya di HP Nagisa.
Okuda kembali menggeleng dan melirik Karma yang duduk di bangku Chiiba dengan ujung matanya, "T-tidak kok. Bicara sajalah Karma-kun."
"Kau tahu tidak, kalau kemarin Minggu, Sugino pergi bersama Kanzaki-san ke pertandingan baseball yang diadakan di lapangan baseball Kunugigaoka?" Karma mulai melancarkan aksi menggosipnya.
Gadis itu mengangguk, "Kanzaki-san sudah menceritakan itu padaku tadi malam." jawabnya sambil tetap fokus pada tugasnya.
"Sou ka? Aku juga diberi tahu, kalau kemarin ketua kelas kita mentraktir Kataoka-san secangkir teh di café tempat ia magang." lanjut Karma.
"Ah, itu karena Isogai punya hutang teh saat bertaruh dengan Kataoka-san." timpal Okuda yang masih fokus.
Karma mengernyit tak suka. "Tau tidak, kemarin Chiiba dan Hayami-san pergi ke tempat penjualan pistol loh." ujar Karma sambil menyelonjorkan kakinya ke kursi yang sudah ia ambil barusan. Untung saja kelas sepi karena semua sudah pulang.
"Um, sebenarnya mereka Cuma mau mereparasi pistol mereka yang macet karena masuk ke kolam gedung utama." balas Okuda. Ia baru saja menyelesaikan tugas sastra Jepangnya.
Setan Akabane sudah heran pada puncaknya. Sudah tiga gossip yang ia lontarkan, dan Okuda sudah tau semuanya. Ia tau bukan karena gossip, tapi karena dikasih tau pelakunya sendiri. Ini sih bukan gossip namanya, tapi curhat.
"Oya, tadi saat istirahat Nagisa dan Kayano pergi ke toko pudding dekat sekolah kita." Karma yakin, Okuda tidak akan tahu hal ini. Karena kepergian mereka berdua hanya diketahui oleh Akabane Karma seorang diri.
"Memang. Mereka membelikan pudding pesananku." Okuda menutup bukunya lalu memberesi buku-buku lain yang berserakan dan ia masukkan ke tasnya. "A-ano Karma-kun, aku sudah selesai. Kau mau pulang sekarang?" tanya Okuda sambil bersiap melangkah keluar kelas untuk mengumpulkan tugasnya. Karma yang terdiam hanya mengangguk saja lalu mengekor Okuda yang berjalan ke ruang guru.
"Ne, Okuda-san." panggil Karma setelah urusan tugas Okuda selesai. Mereka akhirnya pulang bersama.
"Ada apa, Karma-kun?" sang remaja Akabane diam sejenak memikirkan kata yang tepat.
"Apa kamu suka bergosip? Maksudku, biasanya cewek kan suka gossip gitu." tanya Karma sedikit salah tingkah. Ia segera memalingkan wajahnya yang terasa panas.
Okuda mendongak menatap Karma yang masih memalingkan wajahnya, "Entahlah. Tapi, aku tidak terlalu suka membicarakan orang lain." jawabnya lirih kemudian menundukkan kepalanya.
Karma yang merasa ada hal berbeda dari Okuda, menoleh ke arah gadis di sebelahnya, "Lalu, bagaimana kau bisa tau semua yang kuucapkan? M-maksudku, itu kan gossip yang baru saja beredar hari ini."
"Karma-kun suka gossip ya." ujar Okuda sambil terkikik geli. Karma facepalm. "Maa, tadi aku sudah jelaskan, aku diberi tau mereka. A-aku sering dijadikan tempat curhat. Yah, walaupun aku tidak bisa memberikan saran. Tapi kata mereka, aku adalah pendengar yang baik." ujar Okuda yang masih menundukkan kepalanya.
Karma Cuma terdiam. Ternyata gadis ini…
"… aku baru tau loh kamu tidak suka bergosip. Itu menarik sekali."
.
.
TBC (?)
.
.
.
Yoyoyo, Misa balik bawa chap 4.
Ada yang nunggu? *nggak ada T,T*
wkwkkw, kayaknya yang terakhir agak susah dicerna gitu ya? Ululul, soalnya aku bingung juga mau jelasin maksudnya.
Yap, yap, di chap depan dan seterusnya, akan mulai membuka sisi lain Okuda Manami *ini atas rikues looh*.
Mm, rikues masih dibuka kok. Always malah.
Trusan, makasih yaaa yang udah mau coret-coret di kolom review. Review kalian membuatku terharu ,
Ok, makasih udah baca fict dan curhatan aku ini. Misa tunggu review dan rikuesnya!
