Pairing : Choi Siwon – Cho Kyuhyun
Disclaimer : They belong each other.
Other Casts : Choi Seung Hyun (TOP), Choi Minho, others will be introduced later on
Warning : Lime/Lemon (Rated M for a reason)
Would be glad to present a nice piece of my wild imagination in Bahasa.
Oh shit, kepalaku rasanya sakit sekali. Rasanya seakan mau pecah saat aku membuka paksa mataku. Dan.. wait.. dimana aku… Kamar ini bukan kamarku… Aku melirik meja nakas disebelah king sized bed, ada fotoku dan Seung Hyun hyung disitu dan disebelahnya ada foto kami berempat. So.. I'm in Seung Hyun's room.
Siwon duduk disamping tempat tidur yang aku tempati, "Sudah bangun?"
"Hmm.." Aku menggumam perlahan. "Kenapa aku disini?" Aku berusaha menegakkan tubuhku, tapi justru rasanya seperti ada hantaman palu di kepalaku. Siwon langsung menahan pundakku. "Slow down, Kyu."
"Aku kenapa? Dimana yang lain? Kenapa kamu disini, Siwon hyung?" Tanyaku beruntun. Siwon kembali duduk, matanya tertuju padaku. "Kelelahan ekstrim, pneumothoraxmu kambuh." Gumamnya. "Tidak bisakah kamu memanggilku Siwonnie lagi?" Sorot mata Siwon penuh kelelahan. Ibu jari Siwon mengusap perlahan pipiku. Kau, tahu itu tidak mungkin…Siwon.." Aku menepis tangannya.
Siwon tersentak, aku tahu aku melukainya, tapi dia juga melukaiku, dan jelas tidak mungkin aku mengabulkan permintaanynya, aku sudah bertunangan, dengan Seung Hyun hyung. Tanpa sadar tanganku menggenggam erat tanganku yang lain, meraba jari dimana ada cincin Cartier tersemat disitu. Sepertinya Siwon menyadari arah tatapanku.
"Kenapa…."
"Kenapa harus dia, Kyu? Kenapa harus dengan Seung Hyun hyung? Kenapa harus dengan hyungku sendiri? Kyu, apakah kau sengaja melakukan ini padaku? Kamu sengaja memilih Seung Hyun hyung dibanding seantero namja lainnya kan? Atau… memang dari dulu sebenarnya kamu mengincar Seung Hyun hyung? " Siwon mencengkeram erat kedua bahuku. Wajahnya datar, tapi matanya menyiratkan semuanya. ' Jangan menangis Kyu.. Jangan..' Aku berbisik dalam hati.
"Kenapa harus Seung Hyun hyung katamu? Kenapa tidak kau tanyakan pada dirimu sendiri kenapa saat itu kamu melepasku, Siwon? Kenapa kamu meninggalkanku, hah? Dan sekarang kamu menyalahkanku? Kau sungguh tak berubah, Choi Siwon. Angkuh, arogan, jerk."
Siwon berdiri, "You used to call this jerk 'honey', Kyu." Dia pergi meninggalkan kamarku.
Aku merebahkan diri di kasur, memejamkan mata erat-erat, berharap semua ini hanya mimpi buruk.
.
.
.
.
Siwon terdiam didepan kamar Seung Hyun yang sedang ditempati Kyu. Dia menyandar lemas dipintu. Dia sendiri tidak mengerti bagaimana dia bisa mengeluarkan kata-kata sekejam itu terhadap Kyuhyun-nya, perduli setan Kyuhyun telah menjadi tunangan Seung Hyun, baginya Kyuhyun tetaplah Kyuhyunnya. Siwon merutuki dirinya sendiri, dia pasti telah membuat Kyuhyun sangat membencinya sekarang ini.
Kenapa semuanya berjalan tidak sesuai dengan rencanya, dimulai dari retaknya hubungannya dengan Kyuhyun, kembalinya Seung Hyun ke Korea, dan pertunangan mereka. Siwon menatap tangannya, tangan yang sama yang pernah menggenggam erat jemari Kyu, tangan yang pernah menepis uluran tangan Kyu, tangan yang pernah menjelajahi setiap lekuk tubuh Kyu, juga tangan yang menyakiti Kyu. Tangan itu mengepal erat. Dan Siwon berlalu, dia butuh ketenangan saat ini.
.
.
.
.
"Kyuhyunnie hyung! " Suara Minho menggema di ruang kamar Seung Hyun, membuat Kyuhyun mengernyitkan dahi.
"Ups, hyung tidak boleh marah, karena aku memebawakan es krim kesukaan , hyung, okay?" Minho memperlihatkan tentengannya, satu basket es krim rasa fudge yang mau tidak mau membuatku tersenyum.
Minho mendudukkan dirinya disebelahku, menyodorkan es krim dan mulai membuka cup es krim nya sendiri. "Hyung, kamu tidak apa-apa?" Ucapnya simpatik.
"Tidak apa, Minho-ah, mungkin cuma kecapekan" Aku tersenyum, dibalik sifat manja dan sedikit urakannya, Minho adalah dongsaeng yang perhatian dan sangat kusayangi. "Maksudku bukan itu, hyung, tadi….. aku melihat Siwon hyung keluar dari kamar ini, hyung, tidak apa-apa?" Hampir saja aku tersedak es krimku sendiri.
"Ah, hyung, mianhae.." ucap Minho memasang tampang bersalah. Memang hanya Minho yang mungkin mengetahui sedikit banyak cerita antara aku-Siwon dan Seung Hyun, meskipun tidak mendetail dan meskipun pelaku utama nya justru saling tidak memahami cerita itu sendiri. Aku hanya tersenyum miris.
"Hyung, hyung tahu, didepanku hyung tidak usah berpura-pura baik-baik saja…. Walaupun aku tidak mengerti, tapi setidaknya hyung bisa membagi perasaan menyesakkan hyung, ya?" Minho berkata lirih. Hampir saja dia menangis. Melihat Kyuhyun hyung nya yang paling baik terluka seperti ini sungguh menyesakkan. Apalagi baik Siwon ataupun Seung Hyun tdak mengerti. Siwon hanya bisa menyelahkan dirinya dan Kyu, sedangkan Seung Hyun? Minho bahkan tidak tahu apakah hyung tertuanya mengetahui keadaan yang sebenarnya atau tidak. Tetapi, Kyuhyun, ya, dia selalu bersikap seolah semuanya bak-baik saja, seolah dia baik=baik saja. Ingin rasanya Minho menggeplak kepala semua orang, agar mereka benar-benar melihat, tapi dia bukanlah pelaku utama, dia hanyalah tokoh figuran di drama ini. Dia hanyalah dongsaeng terkecil mereka yang dianggap tidak tahu apapun.
Baik Minho maupun Kyu terlarut dalam lamunan mereka masing-masing sampai mereka tidak menyadari ada ketukan di pintu.
Tok Tok,,, dan disana berdirilah Seung Hyun hyung, bersandar di pintu yang sudah terbuka. "Hey, apa aku menganggu acara 'slumber party' kalian?" tanyanya sambil memperlihatkan senyum yang mampu menawan hati para yeoja dan namja di Korea, penuh dengan kharisma.
Minho segera berdiri, "Tentu tidak hyung. First, ini kamarmu. Second, Kyuhyun hyung itu tunanganmu. Ahh, sepertinya justru aku yang bakal jadi obat nyamuk begini."Kelakar Minho.
"Oh, jadi menurutmu, bau mulutmu setara dengan obat nyamuk begitu?" Aku berucap sarkastik, Minho hanya merengut, "Kyuhyun hyung, bercandamu tidak lucu." Dia mengerucutkan bibirnya membuatku tertawa pelan.
"Sudah sudah,, eomma mencarimu, Minho-ah.." Seung Hyun mengelus rambut Minho. "Tuh kan, bahkan Seung Hyun hyung, a.k.a the TOP mengusirku… baiklah, see you soon, lovebirds.." Minho keluar dari ruangan meninggalkan aku dan Seung Hyun hyung berdua. Dia tersenyum menatapku lekat.
"Mianhae hyung, kamu harus melihatku dalam keadaan berantakan seperti ini.." aku bergegas menghapus sisa-sisa es krim yang belepotan di sekitar bibirku. Haish, kenapa setiap berada didekat Seung Hyung hyung aku selalu terlihat sangat tidak elegan.
Tiba-tiba Seung Hyun hyung mengulurkan tangannya ke bibirku.
"K-kenapa, hyung?"
"You missed a spot, baby.." ujarnya sambil mengelap bibirku.
Aku terhenyak, Entah kenapa ingatanku justru melayang kembali saat aku dan Siwon masih bersama. Dia selalu memiliki kebiasaan-kebiasaan kecil untuk menunjukkan perhatiannya padaku. Seperti saat dia menggenggam tanganku atau menepuk-nepuk pahaku ketika kami berdua bercanda dengan Minho. Atau saat ia memelukku dari belakang tanpa mengucapkan apapun ketika kami diam-diam bertemu.
Ah,rasanya aku ingin sekali membunuh diriku detik itu juga, aku sedang bersama Seung Hyun dan justru Siwon yang berkelana di otakku.
Tanpa kusadari, Seung Hyun hyung mendekat, wajahnya hanya tinggal beberapa inchi, shit.
Aku berpaling. Aku belum siap, meski hanya sekedar ciuman, aku belum siap. Aku menggigit bibir. Seung Hyun hyung pasti marah.
Kyuhyun memalingkan muka, Seung Hyun yang melihat itu hanya bisa tersenyum sedih, 'dia memang masih belum bisa menerimaku.' Batinnya.
"Mian.. Mianhae hyung…" Kyuhyun hampir terisak. Kyuhyun tahu dia sungguh bodoh, tidak berguna,tidak becus dan sangat jahat terhadap Seung apa mau dikata, hatinya tidak mengijinkan Ia 'disentuh' orang lain meski itu hanya sebuah ciuman. Apalagi dia mengerti,Seung Hyun benar-benar berusaha keras untuk memenangkan hatinya.
Seung Hyun yang mendengar rintihan Kyuhyun segera memeluk tubuh pemuda yang sangat dicintainya itu. "Uljima Kyu.. uljima….. jangan menangis, okay? I can't bear to see you crying…Jebal.." suara bass Seung Hyun berusaha menenangkan Kyu. Demi apapun yang ada didunia ini, dia paling tidak sanggup melihat Kyuhyun menangis, lagipula toh dari awal dia tahu bahwa Kyuhyun memang belum sepenuhnya menerima dirinya. Bahwa ada orang lain di hati Kyuhyun dan bahwa dia telah menyanggupi untuk menunggu.
"Hyung,maaf..maaf maaf.." Kyuhyun mengucapkan kata maaf seperti melafalkan mantra.
Seung Hyun mengusap lembut punggung Kyu. "It's okay Kyu.. We'll take it slowly.. I love you.. Kyuhyun dan kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. AKu sudah cukup bahagia diijinkan bersamamu seperti ini. Jangan bebani hatimu sendiri."
Seung Hyun mencium lembut dahi Kyuhyun. Kyuhyun hanya mampu mengangguk pelan, Seung Hyun hyung sangat baik, sempurna, tidak kalah sempurna dari Siwon, tetapi, hatinya tidak bisa berbohong, hatinya masih meneriakkan nama Siwon, dan detik itu dia menangis sekali lagi dalam diam.
.
.
.
.
Malam itu pikiranku dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan. 'kenapa aku belum bisa membuka hati untuk orang lain? Kenapa aku belum bisa mencintai Seung Hyun hyung dengan tulus? Tidak peduli bagaimana keadaannya, Seung Hyun hyung pantas mendapatkan kesempatan itu. Apakah jawabannya karena aku masih mencintai Siwon?
Mungkin ya, mungkin juga tidak, karena sekarang juga tertinggal rasa benci. Aku telah membuka hati dan menyerahkan segalanya untuk Siwon, aku bahkan mempercayainya. Aku tidak menolak keputusannya untuk menyembunyikan hubungan kami, karena dkami sama-sama takut penolakkan. Tetapi, dia justru lebih mementingkan dirinya, karirnya, pandangan orang, ambisinya daripada aku, orang yang mencintainya. Dan disaat aku ingin pergi dari sisinya, dia bahkan tidak memintaku untuk tinggal. Dia hanya menyalahkanku atas ketidaksabaranku.
Dan kemudian dia menyalahkanku kenapa sekarang aku bersama dengan kakaknya. Roda kehidupan itu sungguh kejam, kau tahu. AKu bahkan tidak bisa memberitahu siapaun alasan kenapa aku bersama Seung Hyun hyung. Dan lebih kejam lagi, bagaimana orang yang sangat kita cintai justru yang akhirnya paling menyakiti kita.
Terhadap Siwon sekarang ini, aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah mungkin membenci dan mencintai orang sedemikian rupa di waktu yang bersamaan? AKu masih merindukan kehadirannya, sentuhannya.
Hell, bahkan semalampun aku justru menyerahkan diriku pada Siwon, sedangkan tadi hanya dicium oleh Seung Hyun saja, tubuhku menolak. Aku ini memang murahan. Aku tertunduk pilu.
Dadaku kembali sesak. Sakit, sangat menyakitkan.
Susah payah kuambil obat yang ada dinakas dan langsung kutelan beberapa butir pil pahit itu. Aku benar-benar membutuhkan istirahat.
