Aloha~ Apa kabar minna-san~? Ini dia chapter 4. Maaf ya, sebelumnya terdapat beberapa kesalahan, semoga tidak terjadi lagi.

Special Thanks to echo andalice, Mayou Fietry, Hideyasu Kumori. You all helped me XD

Terimakasih bagi yang masih mengikuti fic saya. Selamat membaca XD


Deimon Devil Bats, tim amefuto yang bertekad mati-matian mencapai impian mereka, Christmas Bowl. Seiring waktu Devil Bats mengetahui Mamori mengidap penyakit yang tak pernah di duga siapapun, perasaan aneh di dalam diri Hiruma mulai tumbuh. Dapat 'kah Mamori mempertahankan hidupnya demi janjinya menuju Christmas Bowl bersama Devil Bats dan Hiruma?

THE PROMISES

Disclaimer : Riichiro Inagaki & Yusuke Murata

Story : Hiruma Yuuzu

Chapter 4

.

.

Sena P.O.V

Mamori-neechan langsung mendapatkan perawatan begitu tiba di rumah sakit Jakomachi yang letaknya tak jauh dari stadion. Lalu aku mulai menghubungi orang tua Mamori-neechan, lebih tepatnya ibu Mamori-neechan karena ayahnya sedang bekerja dan tidak mungkin bisa di ganggu.

"Halo.. Mami-basan."

"Halo.. Sena? Ada apa? Bukankah kau sedang ada pertandingan?"

"I-Iya, pertandingan Deimon sudah-"

"Sena, kau hebat! Tadi aku melihatmu di televisi, kau sangat hebat! Aku tidak pernah menyangka kalau kau-"

"Mamori-neechan sekarang di rumah sakit."

Aku memotong pembicaraannya dengan cepat yang sebelumnya terdengar sangat senang, Sampai beberapa detik kedepan, Mami-basan tidak berbicara sepatah kata pun.

"Mami-basan?" kataku meyakinkan dia mendengar kalimatku sebelumnya.

"Eh? A-Apa maksudmu Sena?" Kudengar dari nada suaranya, ia sangat terkejut.

"Waktu pertandingan tadi... Mamori-neechan pingsan." Sambungan telepon tiba-tiba terputus, aku mencoba menghubunginya lagi tapi yang kudapatkan hanya pesan suara.

"Bagaimana Sena?" tanya Yukimitsu-senpai.

"Aku sudah menghubunginya, tapi tadi tiba-tiba terputus, sepertinya Mami-basan sedang menghubungi suaminya." Ia hanya mengangguk mengerti. Sekarang yang kami bisa lakukan, hanya menunggu dan berdoa untuk keselamatannya.

30 menit kemudian, seorang perawat yang tadi menangani Mamori-neechan menghampiri ku yang sedang duduk di ruang tunggu ini, tapi kenapa ibu Mamori-neechan belum sampai juga?

"Permisi, apa di antara kalian ada keluarga dari Anezaki-san?" tanya perawat itu.

"Belum datang, tapi ada apa ya?"

"Dokter ingin berbicara, apa anda kerabat dekatnya?"

"Em.. Ya, tapi Riku juga..." Aku menoleh pada Riku yang duduk di sampingku, dalam hal seperti ini dia yang lebih mengerti.

"Kau saja Sena." kata Riku. Baiklah, kurasa aku juga tidak apa.

"Tolong ikuti saya."

Aku mengikuti perawat itu menuju ruang kerja dokter yang letaknya bersebelahan dengan kamar Mamori-neechan di rawat. Kami melewati kamar Mamori-neechan, aku melihat dari jendela, di dalam sana Mamori-neechan yang tidak sadarkan diri, kini terbaring lemah di kasur. Ia menggunakan alat bantu bernafas serta infus, apakah separah itu asma nya?

"Silahkan masuk." kata perawat itu membuyarkan lamunanku dan membukakan pintu.

"Ah, iya, terima kasih." kataku lalu meninggalkan perawat itu di luar ruangan.

Dokter perempuan berambut pirang lurus sebahu dan bermata hijau emerald yang sedang duduk dibelakang meja kerjanya, kira-kira usianya masih muda, dia tersenyum padaku dan mempersilahkan untuk duduk di kursi yang telah tersedia.

"Apa anda keluarga Anezaki?" suara lembut dan tegasnya mengingatkanku pada seseorang, tapi siapa?

"Bukan, tapi saya kerabat dekat keluarga Anezaki."

"Hm, begitu. Baiklah, bagaima-"

"Apa penyakit asma Mamori-neechan separah itu dokter?" Aku menyela pembicaraan dokter untuk segera menanyakan keadaan Mamori-neechan. Aku tahu menyela pembicaraan itu tidak baik, tapi aku tidak bisa basa-basi lagi.

Dokter perempuan ini menaikkan sebelah alisnya, terkejut mendengar pertanyaanku, apa aku mengucapkan kata-kata yang salah?

"Asma?"

"Ya, ibu Mamori-neechan bilang kalau dia punya asma. Jadi apakah separah itu?" kataku meyakinkan.

Dokter muda ini kembali tersenyum padaku, senyumnya berbeda dengan senyum yang dia berikan padaku tadi. "Boleh ku tahu namamu?"

"Kobayakawa Sena."

"Sena-kun, Mamori-chan tidak punya asma." kata dokter dengan nada yang lembut.

"Tidak, Mamori-neechan dan ibunya yang bilang sendiri, lalu ia juga-"

"Sena-kun, tenanglah dulu." kata dokter menenangkan karena aku panik. Lalu paras dokter perempuan ini berubah serius, lalu berkata…

"Mamori-chan, mengidap penyakit jantung."

Jantung? Aku tidak tahu kalau itu penyakit jantung. Apa Mami-basan dan Mamori-neechan memang sengaja menyembunyikannya?

"Jantung? Bagaimana dengan kondisinya sekarang? Dia baik-baik saja, 'kan?"

"Buruk."

.

.

Normal P.O.V

"Sena! Bagaimana? Apa kata dokter? Anezaki baik-baik saja kan?" Anggota DDB yang sedari tadi menunggu di luar, langsung menghampiri dan menghujani Sena dengan pertanyaan. Di sana masih lengkap, Hiruma, Musashi, Kurita, Suzuna, Taki, Monta, Yukimitsu, Komusubi, Jumonji, Kuroki, Toganou, juga Riku, mereka semua masih setia menunggu berita tentang Mamori. Sena kagum pada teman-temannya yang setia kawan, lalu wajahnya kembali sedih.

"Sena…" Ibu Mamori baru datang bersama suaminya menghampiri Sena dan lainnya, raut wajahnya terlihat sangat cemas.

"Mami-obasan..?"

"Sena, kau sudah menemui dokter? Apa kata dokter?" tanya Ayah Mamori. Teman-teman serta orangtua Mamori diam menunggu jawaban Sena. Tapi, Sena hanya diam, menunduk, tidak menatap teman-teman serta orang tua Mamori.

Mamori-chan, mengidap penyakit jantung. Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepala Sena.

Lalu, Anezaki Mami, ibu Mamori menghampiri Sena yang tetap menunduk dan tak bersuara. "Sena, ada apa? Dokter bilang ap- Sena? Kenapa kau menangis?"

Sena tetap menyembunyikan suaranya, ia menggigit bibir bawahnya berharap suara tangisannya tidak terdengar siapapun, justru semakin keras ia menangis sampai sesenggukan, kedua bahunya gemetar, ia juga enggan mengalihkan pandangannya dari lantai putih rumah sakit di bawahnya. Anggota Devil Bats, Riku, dan orang tua Mamori bingung dengan sikap Sena.

"Sena.. jawablah." ibu Mamori tetap membujuk Sena yang tidak mau bicara, beliau memegang kedua bahu Sena yang gemetar.

"Ma..mori…neechan.., me…mengidap penyakit...jan…tung… dan kondisinya.. sangat buruk.."

Mata ibu Mamori membelalak lebar mendengar berita kondisi putrinya sangat buruk. Wanita itu mundur selangkah dan menutupi mulutnya dengan kedua tangan. "Tidak mungkin… Mamo-chan... Jantung?"

Mereka semua terkejut dan terlihat tidak percaya dengan ucapan Sena. Di lain sisi, Hiruma hanya duduk diam di kursi dekat mereka berbicara. Tidak mengunyah permen karet, bermain dengan senjata api, bermain laptop, bahkan bermain handphone. Ia hanya melihat Sena dan wajahnya menampakkan keterkejutan.

"Sena…" Riku membuka suara, nadanya terdengar serius.

"Riku?"

"Tarik kembali kata-katamu tadi"

"Riku, apa maksudmu?" ayah Mamori bertanya.

"Kau bohong kan?" Riku menatap Sena dengan pandangan sinis, ia mengepalkan tangan, siap memukul untuk meluapkan emosi.

"Tidak, Riku, aku berkata yang sebenarnya"

BUGH

"Riku! Apa yang kau lakukan?!" Suzuna berteriak melihat Riku meninju Sena tepat di pipinya sampai ia terjatuh. Lalu Riku menghampiri dan berlutut di depan Sena yang jatuh terduduk sekitar dua kaki di hadapannya.

"DASAR BODOH! KAU PIKIR INI LELUCON, HAH?!" teriak Riku mencengkram kerah baju Sena kuat-kuat.

"Aku, aku tidak bercanda Riku!"

"KAU MAU AKU MEMUKULMU LAGI?! TARIK KEMBALI KATA-KATAMU!"

"PUKUL SAJA! AKU TIDAK BOHONG! AKU TIDAK BERCANDA!"

Keributan yang ditimbulkan kedua orang ini menarik banyak perhatian orang yang sedang ada di sekitar ruang tunggu, mereka semua hanya memperhatikan, tidak berani masuk ke dalam perkelahian Sena dan Riku.

"Hiruma-senpai?" Semua terkejut melihat Hiruma yang terlihat kesal tiba-tiba berdiri menodongkan senjatanya di depan Riku dan Sena yang ingin memulai perkelahian lagi.

"Hentikan anak-anak sialan. Kalian pikir tempat ini rumah kalian? Seenaknya saja berkelahi dan berteriak-teriak."

.

.

Hiruma P.O.V

Aku tidak pernah tahu informasi ini, aku juga tidak punya informasi penyakit asma dia. Tch, sialan, kenapa aku harus peduli?

.

Lihat, ini karena ulahmu membuat Agon-san kesal, seharusnya kau itu lebih berhati-hati

Eh? Ke-kenapa kau melihatku seperti itu?

Sudah selesai belum?

Ahm ya sebentar lagi, Hiruma-kun

Cepat

Iya, iya. Sudah kok. Nah, kali ini kau harus lebih hati-hati. Mengerti?

.

Tch, Manajer Sialan... kau benar-benar sialan.

"You-nii…"

"Apa Cheers Sialan?" ternyata Cheers Sialan ini sudah ada di depanku, sejak kapan?

"Kau tidak mau ikut?" Ikut? Ke mana? Ruang tunggu ini mulai sepi, anak-anak sialan itu sudah pergi tidak tahu ke mana, aku terlalu banyak melamun. Tch.

"Ayo kita lihat Mamo-nee." Ajak Cheers Sialan itu, lalu aku mengikutinya dari belakang. Perawat sialan itu menyuruh kami untuk tidak melihat keadaan Manajer Sialan itu ramai-ramai. Tch, apa peduli ku, toh kami cuma mau lihat.

"Ayo masuk anak-anak sialan." kataku memimpin jalan, mulai memasuki kamar rawat.

"Tunggu tuan, kalian tidak bisa- eh, ah, baiklah, silahkan masuk." Perawat sialan ini sepertinya baru sadar kalau aku yang dia lawan.

Manajer Sialan itu terbaring di kasur ruangan serba putih ini, nafasnya teratur, ia menggunakan alat bantu bernafas, serta infus. Kulit putihnya semakin memucat semenjak ia di bawa ke rumah sakit. Orangtua Manajer Sialan itu segera menghampirinya, ibu sialannya menggenggam tangan anaknya itu... Sedangkan kami, hanya bisa melihat dan menunggu Manajer Sialan itu bangun.

"Eh, kenapa ramai sekali ini?" Seorang perempuan berseragam rumah sakit, berambut pirang masuk ke kamar rawat.

"Dokter, ini keluarganya Mamori-neechan" kata Cebol Sialan itu memperkenalkan.

"Hm… Tuan dan Nyonya Anezaki, bisa kalian ikut aku sekarang?"

"Baik dokter". Ketiga orang itu meninggalkan ruangan ini, anak-anak ini hanya diam tidak mengeluarkan suara, hanya memandangi Manajer Sialan yang belum sadar itu.

"Hm…"

"Mamori-san!" Monyet Sialan itu meneriaki nama kecil Manajer Sialan, apa-apaan dia. Ternyata Manajer Sialan itu sudah sadar. Kupikir Monyet Sialan itu mau berbuat aneh-aneh. TCH! APA PEDULIKU!

"Di mana aku?"

"Mamo-nee, kau sekarang di rumah sakit."

"Rumah sakit? Oh iya, sepertinya aku… pingsan, hahaha." Dia tertawa? Dia sadar kalau dia pingsan lalu tertawa? Apa dia gila hah?.

"Maafkan aku ya, aku merepotkan kalian semua." katanya meminta maaf, masih berbaring di sana.

"Memang." Semua mata memandang ke arahku, seperti meminta penjelasan kata-kataku barusan.

"Apa kalian lihat-lihat?"

"Maaf ya Hiruma-kun, aku sudah merepotkanmu." Tch, senyum itu lagi, bisakah ia berhenti tersenyum seperti itu padaku? Membuatku tidak tenang saja.

"Terserah"

.

.

Normal P.O.V

"Tuan dan Nyonya Anezaki, apa di antara kalian ada yang menderita penyakit jantung?"

"Tidak, tapi ibu saya punya penyakit jantung. Mungkin kah penyakit Mamori itu dari neneknya?" jawab ayah Mamori.

"Ya, bisa saja, penyakit jantung itu penyakit turun-temurun. Apa kalian sebelumnya tidak periksa ke dokter? Bagaimana kalian bisa tidak tahu?"

"Beberapa hari yang lalu kami datang ke rumah sakit ini untuk memeriksa keadaan Mamori karena pada hari itu ia bilang mengalami asma. Begitu lulus SMP sampai sebelum kejadian itu dia sudah tidak asma, tapi entah kenapa asma itu bisa kembali. Saya dan istri saya memutuskan untuk check-up ke rumah sakit ini, takut kalau penyakit jantung dari neneknya menurun pada dia, karena selama ini kami tidak pernah memintanya untuk periksa kondisi. Dokter yang memeriksa Mamori bilang ia hanya mengalami asma biasa, karena tidak ada gejala-gejala penyakit jantung."

"Hm... siapa dokter yang menangani Anezaki?"

"Dr. Sajime. Sajime Touha."

"Nana-san, tolong carikan aku data tentang pemeriksaan Anezaki pada dokter tua itu." perintah dokter muda ini pada asisten perawatnya.

"Baik dokter."

"Dokter, apa penyakit anak saya dapat disembuhkan?" tanya ibu Mamori.

"Kami akan berusaha, pertama-tama saya harus lihat medical check-up milik Anezaki dulu."

"Dokter, ini hasil medical check-up Anezaki." Perawat itu memberikan beberapa data yang terbungkus rapih dalam amplop cokelat besar.

Kemudian dokter wanita ini mengamati data-data itu secara teliti, ia periksa satu-persatu dan mengulanginya sampai tiga kali. Lalu setelah ia mendapatkan jawaban yang ia cari, ia menatap kedua pasangan Anezaki di depannya.

"Nyonya, Tuan…"

"Ada apa dokter?"

"Bagaimana? Putriku bisa sembuh, 'kan?"

"Kita harus cari jantung baru untuk Anezaki secepatnya."

"Apa maksud anda?"

Dokter perempuan ini memutar kertas-kertas yang ia baca sebelumnya menghadap pasangan Anezaki, menjelaskan setiap detailnya data-data di dalamnya.

"Ini, di data ini semuanya sudah jelas, dari tes darah, tes urine, rontgen, dan pemeriksaan lainnya. Hasilnya sudah cukup jelas bahwa penyakit Anezaki adalah penyakit jantung. Dan kondisinya semakin memburuk."

"Tapi dokter Sajima bilang kalau-"

"Maaf Nyonya, prioritas utama kita harus segera cari jantung baru untuk Anezaki, atau dia tidak akan selamat."

"Tidak akan selamat? Maksudnya, anak ku… Dokter, kumohon selamatkan anakku! Dia putri semata wayangku! Kumohon dokter!" Anezaki Mami tak kuasa menahan emosi yang meluap dan air mata yang menggenangi pelupuk mata wanita itu mulai membanjiri kedua pipinya.

"Mami, tenanglah… Dokter pasti akan menyelamatkan anak kita"

.

.

"Kapan aku boleh pulang?" Tanya Mamori pada seorang perawat yang sedang menulis-nuliskan data di atas papan jalan, mengecek keadaannya.

"Hari ini kau boleh pulang, Anezaki-san. Teman-temanmu baik sekali ya. Apa mereka semua sudah pulang?"

"Hm, ya mereka memang seperti itu. Kupikir mereka kembali ke sekolah untuk latihan."

"Jadi~ yang mana pacarmu Anezaki?" perawat ini mengajak bicara Mamori layaknya teman dekat

"Tidak, aku tidak punya pacar, hahaha."

"Tapi. Kalau aku lihat, anak laki-laki itu…"

"Siapa?"

"Siapa namanya tadi… Hiruma, ya Hiruma."

"Ada apa dengan Hiruma-kun? Eh? Kau tidak takut dengannya?"

"Untuk apa aku takut dengan orang seperti dia, haha. Jangan terkejut, bukan hanya aku yang tidak takut dengannya. Sepertinya dia mengkhawatirkanmu, Anezaki." kata perawat itu dengan nada jahil

"Tidak mungkin, haha."

"Sungguh, tadi waktu Kobayakawa habis menghadap dokter dan bilang kalau kau punya penyakit jantung pada mereka, wajah Hiruma terlihat sangat terkejut, ia sangat mengkhawatirkan-"

"Tadi… kau bilang, aku punya penyakit… jantung?"

"Anezaki... Kau tidak tahu?" Tanya perawat itu, Mamori hanya menggelengkan kepalanya, tanda 'tidak'.

"Kau harus berjuang, Anezaki. Aku yakin teman-temanmu, orangtua mu, mereka semua mengkhawatirkanmu, mereka pasti akan mendoakanmu, mendukungmu. Kau harus yakin pada dirimu kalau kau akan sembuh."

"Ya, terima kasih."

.

.

Mamori P.O.V

Waktu telah menunjukkan pukul 23:10, hari ini juga, aku diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Aku hanya berguling-guling mencari posisi yang nyaman di kasur yang lembut ini. Hari ini aku tidak bisa tidur lagi, ini sudah ke-tujuh kalinya. Apakah ini salah satu gejala penyakit jantung? Hahaha, Aku tidak tahu kalau punya penyakit jantung. Kenapa tadi mereka diam saja tidak memberitahukanku?

DRT DRT

Ada e-mail, siapa yang mengirimi e-mail di waktu orang-orang tidur begini?

Anak-anak sialan, beberapa hari lagi kita akan datang ke festival Ojou, kumpul di Deimon jam 9 pagi. Tidak ada kata telat! Atau ku bunuh kalian semua, kekeke.

Dasar Hiruma, dia itu seenaknya saja.

Kenapa kau mengiformasikannya sekarang Hiruma-kun? Itu masih beberapa hari lagi kan?

Sudah 5 menit, Hiruma tidak membalas e-mail ku. Apa dia sudah tidur ya? Aku belum mengantuk juga, hanya berguling-guling ke kiri dan kanan di atas kasur sambil memeluk boneka Rocket Bear ini.

DRT DRT

Ah, sepertinya Hiruma belum tidur. Aku duduk bersandar, ku ambil handphone yang ku letakkan di meja kecil dekat kasur, dia tidak mengirimiku e-mail, tapi menelpon. Untuk apa dia menelpon?

"Halo?"

"Manajer Sialan!" Kujauhkan telepon genggam ini dari telinga karena suara Hiruma yang mengagetkan.

"Apa sih Hiruma-kun? Kau tidak perlu berteriak di telpon begitu kan?!" kata ku dengan nada setengah berteriak.

"Kekeke, hanya memastikan kau sudah tidur apa belum"

"Ya, ya, lalu ada perlu apa menelponku malam-malam begini? Kau tidak tidur?"

Eh? Seorang gadis dan laki-laki berbicara di telepon malam-malam sebelum tidur, seperti sepasang kekasih. Ah, ngomong apa sih aku ini, melantur saja.

"Bagaimana keadaan mu Manajer Sialan?"

"Haaah?" Aku tidak sengaja mengikuti style Jumonji, Kuroki, dan Toganou saking terkejutnya dengan pertanyaan Hiruma yang itu, yang terkenal err..

"Kenapa kau jawab 'hah' hah?"

"Hahaha, bukan. Aku hanya terkejut kau tiba-tiba menanyakan keadaan ku."

"Jangan ketawa! Memangnya tidak boleh seorang kapten menanyakan manajernya? Kau tidak suka hah?" Hihihi sepertinya dia malu, ternyata orang seperti dia bisa perhatian juga. Yaah, bagaimana pun dia juga manusia.

"Boleh, boleh. Aku suka kok, Hiruma-kun. Aku baik-baik saja." kataku sambil senyum-senyum sendiri. Setelah aku bicara, Hiruma tidak berkata apa-apa hanya diam saja. Kulihat layar handphone ini, sambungannya belum terputus, eh? Apa aku salah bicara?

"Hiruma-kun...?" Aku memanggilnya, memastikan apakah ia sudah tertidur atau belum.

"Ya, Manajer Sialan."

"Kenapa kau diam saja? Kau sedang apa?"

"Manajer Sialan, apa besok kau masuk sekolah?"

"Tentu saja, aku tidak bisa melewatkan pelajaran."

"Yasudah, aku mau tidur."

"Hm, selamat malam Hiruma-kun."

Aku meletakkan handphoneku di meja kecil dan memposisikan tubuhku berbaring sambil mencoba tidur, aku kembali mencerna kata-kataku di telepon tadi. Kenapa Hiruma tiba-tiba diam seperti itu… Hm…

.

"Jangan ketawa! Memangnya tidak boleh seorang kapten menanyakan manajernya? Kau tidak suka hah?"

"Boleh, boleh. Aku suka kok, Hiruma-kun. Aku baik-baik saja"

.

SUKA. Aku bilang suka? Ya Tuhan aku tidak percaya ini, kenapa kata-kata itu bisa keluar begitu saja dari mulutku ini? Dia pasti beranggapan yang aneh-aneh, tidaaak. Bagaimana aku menghadapi dia besok? Jangan-jangan dia merekam suaraku ditelepon tadi, berharap bisa merekam suaraku sewaktu mengigau, tapi apa aku mengigau? Dia pasti akan mengolok-olokku besok di sekolah!

Tapi aku cukup senang, bisa berbincang-bincang kecil dengannya tanpa ada pembahasan strategi atau pun yang lainnya. Setelah mendengar suaranya aku jadi mulai mengantuk, mungkin aku harus merekam suaranya mulai besok dan mendengarkannya sebelum tidur, hihihi... Oyasuminasai, Hiruma-kun.

.

.

Hiruma P.O.V

.

"Jangan ketawa! Memangnya tidak boleh seorang kapten menanyakan manajernya? Kau tidak suka hah?"

"Boleh, boleh. Aku suka kok, Hiruma-kun. Aku baik-baik saja."

.

Dia bilang SUKA? Kekeke, ini bisa jadi bahan ancaman. Tapi percuma aku meneleponnya tadi, padahal aku sudah menyiapkan perekam suara untuk merekam igauannya, kekeke. Aku menjatuhkan badan ku ke atas ranjang king size yang empuk ini, mulai menutup mata setelah melewati hari yang cukup melelahkan. Besok sekolah seperti biasa.

.

"Ma..mori…neechan, me…mengidap pe..nyakit...jan…tung…"

.

Mataku kembali terbuka, memandangi langit-langit kamar apartemen yang bersih ini. Kata-kata itu kembali muncul.

Jantung, ya… Manajer Sialan.

.

.

"Hiruma-kun." Aku mendengar suara Manajer Sialan itu, tapi mataku tidak mau terbuka.

"Hiruma-kun, ayo bangun." Perlahan ku buka mata ini. Manajer Sialan itu mengenakan seragam sekolah, begitu juga denganku. Dia duduk di sampingku yang sedang tidur di atap sekolah.

Atap sekolah?

"Hiruma-kun, ayo kita ke taman, kau sudah janji padaku, 'kan?" Manajer Sialan ini menarik-narik tanganku untuk cepat bangun.

"Iya, iya, dasar manajer gendut bawel sialan." kataku sambil bangun dari posisi tidur tadi. Aku pikir dia akan marah begitu aku bilang gendut dan sebagainya. Tapi ia hanya tersenyum dan tertawa padaku.

Senyumannya, tawanya, suaranya, semua yang ada pada dirinya cukup membuatku tenang.

Tiba-tiba, pandanganku berubah gelap. Sunyi. Tidak ada suara sepelan pun.

Tak lama, aku mendengar beberapa suara, suara roda-roda yang bersentuhan cepat dengan lantai, suara tangisan, membuatku muak. Tch, aku benci orang lemah.

Aku membuka mata. Kenapa sekarang ruang tunggu rumah sakit? Di sini tidak ada seorangpun. Mana Manajer Sialan itu?

"AAAAAKH."

Apa itu? Suara Manajer Sialan? Aku segera bangkit dari ruang tunggu ini, berjalan menelusuri koridor rumah sakit yang sepi. Lalu langkahku berhenti di depan pintu ruang bertuliskan 'Ruang Operasi'.

"Cepat berikan obat penenangnya!"

"Baik dokter!"

"AAAAKH!"

"Mamori-san, bertahanlah!"

Ap- Mamori? Manajer Sialan? Apa di dalam sana itu Manajer Sialan?

"You-nii..." Aku berbalik mendengar suara yang memanggil namaku. Cheers Sialan itu sendiri berdiri di belakangku, wajahnya seperti mau menangis.

"Kau jahat... Mamo-nee sudah berjuang menahan-nahan kesakitan itu demi kau."

"Apa? Kenapa kau menyalahkan-"

"Hiruma-san." Sekarang Cebol Sialan itu berdiri di sebelah kiri ku, menatap tajam dengan wajah sinis. Apa-apaan tatapannya itu.

"Hiruma-san, kenapa? Kenapa kau memaksanya untuk terus ikut kegiatan klub? Kenapa kau membentaknya? Memarahinya? Bukankah kau tahu kalau dia mengidap penyakit jantung?"

Aku ingin membantah mereka berdua, tapi, lagi-lagi pandanganku berubah gelap. Tch, aku dipermainkan.

Sekarang di mana ini? Tempat apa ini?

Aku mengenakan pakaian serba hitam, aku bersandar di sebuah pohon besar, di sekitar ku terdapat banyak bebatuan aneh. Hujan mulai turun membasahi seluruh tempat ini. Kemudian aku mendengar suara orang menangis, banyak suara. Asal suara itu berasal dari belakang pohon tempatku bersandar, aku menghampiri asal suara untuk menghilangkan kebosanan karena yang aku lakukan hanya bersandar di pohon berlindung dari hujan.

Langkahku berhenti ketika melihat orang yang sedang menangis itu adalah keluarga Manajer Sialan, juga anggota Devil Bats. Mereka semua memakai pakaian serba hitam, membelakangi ku.

Aku menghampiri mereka semua. Sebelum aku bertanya pada Orang Tua Sialan yang berdiri di samping Gendut Sialan yang sedang menangis, Orang Tua Sialan itu berbalik badan menghadapku.

"Ini semua salahmu, Hiruma."

"Apa maksudmu Orang Tua Sialan?"

"Youichi… Kenapa? Kau menyayangi Mamo-chan, bukan? Kenapa kau membiarkan dia?"

"Apa maksudmu Ibu Sialan?"

Kemudian mereka semua berbalik menghadapku, sedikit bergeser sehingga aku dapat melihat apa yang sedang mereka lihat.

Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, aku berjalan pelan menuju batu-batu aneh itu. Di atas batu itu, ada foto Manajer Sialan sedang tersenyum. Melihat senyumannya itu membuat dadaku sakit.

"INI SEMUA SALAHMU, MAMORI MENINGGAL!"

DEG

Aku membuka mataku yang sebelumnya terpejam ini lebar-lebar. Ini… mimpi? Apa itu barusan? Sialan! Apa-apaan itu! Kenapa aku bermimpi seperti itu?

Aku mengusap keringat yang membanjiri dahiku, mimpi buruk sialan. Aku bangkit dan mengambil segelas air putih untuk menghilangkan rasa gatal pada tenggorokanku. Lalu, kembali naik ke tempat tidur.

"Manajer Sialan... Kau membuatku stress."


Sekian untuk chapter 4. Review minna~ fav, follow, juga XD