~*Sweet Love Story*~

Chapter 4: Perjuangan Cinta

Disclaimer: Boboiboy ©Animonsta Studios.

Cast: Boboiboy, Yaya, Fang, Ying.

Genre: Romance & Friendship.

Danger: Author Newbie(baca: SENIOR) #PLAAKK (di geplak ALL AUTHOR SENIOR), REVIEWnya lumayanlah, TYPO muncul dengan sendirinya tanpa disengaja.

A/N:

Wah... walaupun reviewnya dikit tapi hebat karena reviewnya udah mecahin rekor.

Probe:"Mecahin rekor siapa thor?"

Author:"Mecahin rekor diri sendiri."

#ALL:" -_- "

Aku cuma mau ngucapin thank you buat yang setia baca dan pastinya yang setia review. Oh iya, mungkin mulai di chapter ini dan seterusnya akan ada sedikit selipan FangxYing biar terasa komplit, selain itu juga biar story ini awet he..he..he.. , jadi sorry bagi yang gak suka. Tapi tenang aja Pairing BoboiboyxYaya akan jadi yang utama karena itu adalah Pairing kesukaanku. Dan sorry kalau updatenya lama. OK langsung aja klik REVIEW , eh... maksudnya langsung ajah dibaca!.

*HAPPY READING & HAPPY REVIEW*

~*Sweet Love Story*~

Chapter 4: Perjuangan Cinta

*DI RUMAH YAYA*

Sinar mentari telah menyembunyikan cahayanya. Silauan sinar matahari kini sudah mulai berganti dengan kilauan bintang bersama rembulan. Pertanda bagi semua orang untuk beristirahat dari segala aktivitas yang ada.

Di malam itu, kini terdapat seorang gadis yang sedang berbunga-bunga hatinya. Ia sedang membaringkan tubuhnya di kasur pinknya. Gadis periang nan disiplin itu sedang melamun sebelum pergi ke alam bawah sadarnya. Ya. Siapa lagi dia kalau bukan Yaya. Kini ia tengah memikirkan sesuatu. Sesuatu yang selalu tanpa sadar membuatnya tersenyum sendiri. Ia tengah mengingat-ingat kembali kejadian pulang sekolah tadi. Kejadian dimana jantungnya mulai terasa berdetak kencang. Dimana pertengkaran kecil terjadi hanya karena ia berebutan sebatang es krim strowbery dengan seorang pria bertopi terbalik dan masih menggunakan jaket jingganya sama seperti dulu. Yaya terus mengingat-ingat kejadian manis itu. Ia lalu berpikir kalau entah kenapa berada dekat di samping Boboiboy selalu membuat hatinya senang. Kini ia tidak peduli dengan alasannya karena yang terpenting hatinya sangat berbunga-bunga. Ia sudah tidak sabar menunggu hari esok untuk berangkat ke sekolah. Tapi kini bukan semangat belajar yang membuatnya tidak sabar. Melainkan ia tidak sabar kembali ke sekolah hanya untuk menyapa pria yang selalu ia pikirkan saat ini. Yaya berpikir kalau mungkin saja ia bisa bertemunya saat ini juga karena Boboiboy adalah tetangganya. Tapi alasan apa yang akan ia pakai? apa alasannya hanya untuk sekedar menyapa saja?. Oh tidak! itu adalah alasan yang sangat bodoh. Yaya masih belum tidur dan kembali berpikir, kalau saja Ochobot bukan memberikan kuasa gravity padanya melainkan kuasa manipulasi waktu seperti yang di dapat Ying, kini pasti Yaya sudah menggunakan kuasanya untuk mempercepat waktu secepat mungkin hingga besok pagi.
Mungkin bisa saja dirinya meminjam atau mungkin memintanya pada Ying. Tapi jika Ying tau alasannya untuk apa, pasti Ying terus meledeknya dan menggodanya.

Yaya menarik napas dalam kemudian mengembuskannya. Tiba-tiba saja muncul wajah seorang pemuda di pikirinnya. Wajah Boboiboy dengan senyum hangatnya terus berada dipikirannya. Bahkan hanya membayangkan wajahnya saja Yaya tidak bisa menahan rasa malu dan semburat merah merona di pipinya. Saking malunya Yaya sampai menutup wajahnya sendiri dengan bantal karena takut ada yang melihatnya. Padahal jelas sekali takkan ada seorangpun yang melihatnya karena ia sendirian di kamarnya dengan jendela dan pintu yang terkunci rapat. Ia terus mengingat apa-apa saja tentang Boboiboy dan apa yang telah mereka lalui bersama. Yaya masih ingat pertama kali ia bertemu dengan Boboiboy saat itu. Ia masih ingat wajah letih Boboiboy yang di kerjai oleh Tok Aba karena Boboiboy diberikan peta jalan ke kedai Tok Aba lewat jalan yang sangat jauh. Padahal kedai Tok Aba dapat dapat di pandang tidak jauh dari rumahnya. Yaya mulai malu sendiri kala mengingat Boboiboy tidak mau di beritahu jalan cepat ke kedai Tok Aba karena Boboiboy malu padanya. Semburat merah kembali bertengger di pipi chubynya. Yaya semakin mempererat bantal yang menutupi wajahnya merahnya itu. Setelah sekian banyak imajinasinya tentang Boboiboy akhirnya Yaya terlelap tidur dengan senyum manis dan merah merona yang masih ada pipinya.

*PAGI HARINYA*

Permukaan Bumi kembali menerima kehangatan. Kegelapan malam telah berganti dengan terangnya kilauan jingga di pagi hari.
Waktu telah menunjukan "05.35". Pertanda Azan Shubuh sedang berkumandang. Setelah beberapa menit Azan Shubuh telah berlalu, kini giliran jam weker yang berdering. Jam weker pink yang tidak pernah telat membangunkan sang pemilik kecuali jaw weker itu rusak atau habis baterainya. Sang pemilik jam weker tersebut siapa lagi kalau bukan si gadis penyuka warna pink. Tak lama kemudian gadis yang sedang tidak mengenakan hijab pinknya terbangun dari mimpinya. Entah apa yang ia mimpikan tetapi saat terbangun senyum terpatri kembali di bibirnya. Itu pertanda mimpinya mimpi yang indah.
Setelah duduk di sisi ranjangnya beberapa menit, Yaya melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu lalu melaksanakan Sholat Shubuh.

Setelah sholat, ia mandi untuk membersihkan dan menyegarkan tubuhnya. Setelah berpakaian rapih berseragam sekolah lengkap dengan hijab pink dan kacamata renang yang bertengger di kerudungnya. Setelah beres Yaya menuju meja makan. Disana sudah menunggu sarapan yang telah menanti dan seorang wanita paruh baya yang setiap pagi menyapanya.

"Selamat Pagi Yaya!"

"Selamat Pagi Ibu!"

"Wah.. kok putriku ini wajahnya ceria sekali? sepertinya lagi senang banget nih kayaknya? memangnya ada apa sih?"
tanya sang ibu dengan nada menggoda.

Ya. Memang sudah biasa kalau wajah Yaya setiap harinya ceria, tapi sang ibu merasa senyuman putrinya ini terlihat berbeda dan nampak sangat ceria dari biasanya.

"Gak ada apa-apa kok bu."
jawab Yaya sambil mendudukan dirinya di kursi.

"Ah... masa sih, apa jangan-jangan kamu..."
Goda sang ibu dengan senyum jahilnya.

"Ih... apaan sih ibu?!"
Ucap Yaya dan langsung melahap makanannya dengan wajah yang merona.

"Jangan bohong sama ibu, ibumu ini gak bisa kamu bohongi, mukamu merah lho... , memangnya kamu anu sama siapa sih?"

"IBUU!"
Seru Yaya kesal sambil menyembunyikan wajahnya.

"Oke-oke... lanjutin makannya."
Jawab sang ibu lalu kembali ke dapur dan mengurusi urusannya di dapur.

Setelah Yaya selesai makan, ia menuju dapur dan mencuci bersih piringnya yang telah ia gunakan tadi lalu menaruhnya di rak piring. Baru saja Yaya ingin menenteng tasnya, tiba-tiba saja telepon rumah berbunyi.

"KRIING... KRIING..."

Yaya menoleh kearah telepon rumah tersebut kemudian bergumam dalam hatinya.

'Kira-kira siapa yang menelpon pagi-pagi begini ya?'
Batin Yaya lalu melirik jam tangannya yang menunjukan "05.45".

"Yaya! kau sudah berangkat belum? tolong angkat telponnya! ibu masih sibuk nih!"
Teriak sang ibu dari dapur.

"Ya bu!"

Yaya melangkahkan kakinya sambil berpikir kira-kira siapa yang menelpon pagi-pagi begini. Ia mendekat dan entah kenapa jantungnya berdentum cepat. Ia merasakan suatu firasat.
Ia meraih gagang telepon dengan tangan yang gemetar lalu menempelkannya di telinga yang tertutup hijab pinknya, ia terkejut kala mendengar suara yang ada di sebrang telepon.

"Halo, hai Yaya!"

"Umm.. hai! Eeee... kenapa kau menelponku pagi-pagi begini?"

"Umm... itu Yaya sebenarnya aku ingin menjemputmu untuk berangkat bersama, t-tapi... mungkin aku akan terlambat sedikit, t-tidak apa-apa kan?"

"Oh... tidak apa-apa akan aku tunggu, apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?"

"Kalau begitu sudah dulu Yaya, aku ada sedang ada urusan , BYE! Yaya!"

"Bye Ying!"

Setelah menutup telepon, Yaya menghembuskan napas lega.

"Fyuhh.. ternyata Ying yang menelpon, aku kira tadi itu Boboi..."

"KRIINGG... KRIINGG..."
Dering telepon kembali berbunyi yang memotong ucapan Yaya.

Yaya hanya bisa memutar bola matanya malas sambil bergumam.

"Hmm... dasar, kebiasaan sekali si Ying ini!, kalau bicara lewat telepon pasti ada saja yang lupa disampaikan, padahalkan aku sudah mengingatkannya tadi."
Omel Yaya sambil mengangkat kembali gagang telepon.

"Hai Ying, ada apa lagi."
Ucap Yaya dengan nada ketus karena sebal.

"Eh.. Umm h-halo Yaya.."

"DEG.. DEG..."

Tubuh Yaya mematung seketika kala mendengar suara yang ada di seberang telepon. Suara seseorang yang tidak disangka ia bisa mendengarnya sekarang. Suara seseorang yang selalu menyapanya dengan lembut. Sapaannya yang terasa sangat hangat sampai ke hati.
Yaya hanya mematung dengan mulut yang masih terbuka tidak bisa berkata apa-apa. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. 'Ini bukan Ying kan?' tanya Yaya dalam hati. Ia masih bingung harus berekspresi seperti apa. Yang pasti ekspresi pertamanya adalah semburat merah yang merata di wajahnya.

"Ha-halo Y-Yaya.."

masih belum ada jawaban.

"Yaya?"

"Bo-boboiboy?"

"Umm... k-kau marah a-aku telepon ya? ya sudah m-maaf telah mengganggumu.."
Suara patah-patah Boboiboy yang merasa bersalah.

Yaya yang mendengar suara telepon yang seperti ingin di tutup langsung berkata.

"Eh.. tunggu-tunggu, jangan ditutup dulu.."

"Umm... ka-kamu beneran gak marah Yaya?"

"Lho? ke-kenapa harus marah?"
Kini gantian suara Yaya yang patah-patah karena menahan malu.

Sudah sekitar 2 menit mereka diam dalam telepon. Sampai akhirnya Yaya menemukan topik pembicaraan yang pas.

"Eh... ngomong-ngomong ada apa kau menelponku Boboiboy?"

"Umm... kau yakin tidak marah jika aku katakan?"

"Sudahlah.. tidak apa-apa, katakan saja."

Setelah menelan ludah dan dengan tekad yang kuat Boboiboy memberanikan diri.

"Umm... i-itu Yaya, se-sebenarnya..."

Yaya masih menunggu dengan jantung yang tak karuan.

"Se-sebenarnya aku... umm..."

"DEG.. DEG..."

Kini bukan hanya jantungnya yang mengamuk, keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuh Yaya. Ia mulai sulit bernapas sekarang.

"Sebenarnya a-aku ingin..."

Yaya sudah tidak tahan lagi lalu menggigit bibir bawahnya dengan keras.

"Umm... Yaya, kau mau tidak kalau..."

Kini Yaya sangat sudah tidak tahan lagi. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada gagang telepon. Ingin rasanya Yaya langsung menutup teleponnya dan langsung pergi berangkat sekolah, tapi itu sangat tidak sopan dilakukan saat telepon. Yaya sebenarnya sudah sangat tidak kuat lagi untuk melanjutkannya. Tapi ia tetap harus mendengarkannya agar Boboiboy tidak kecewa nantinya.

"Yaya kau mau tidak berangkat sekolah bersamaku?"
Ajak Boboiboy yang akhirnya bisa berkata dengan lancar dan lengkap.

"Umm.. OK! tentu saja aku mau!"

"Baiklah tunggu di situ sebentar."

"B-baiklah."

Setelah selesai bertelepon. Semburat merah di pipinya makin tebal. Hatinya sangat lega dan senang dalam bersamaan. Ternyata Boboiboy hanya mengajaknya berangkat bersama. 'Tapi kenapa hanya mengajak sahabat berangkat bersama bisa sesulit itu? Apa Boboiboy menganggapku berbeda? apa Boboiboy menganggapku spesial?' Yaya yang mulai ke "GR-an" kemudian menggelengkan kepalanya sambil mencoba menghilangkan semburat merah di wajahnya karena Boboiboy pasti sebentar lagi datang.

"TING-TONG..."
Suara bel rumah menandakan seseorang sedang menunggunya di balik pintu.

Dugaan Yaya benar, bukan hanya rumah mereka yang bersebelahan, tapi kuasa Boboiboy juga menjadi alasan kenapa Boboiboy bisa secepat kilat ke rumahnya.

"TING-TONG..."

Suara bel yang berbunyi kedua kalinya membuat Yaya harus cepat membuka pintu. Ia tidak ingin mengecewakan sahabatnya itu, mungkin bagi Yaya Boboiboy lebih dari sekedar sahabatnya, tapi Yaya belum tau pasti harus menganggap sebagai apa Boboiboy.
Yaya berjalan menuju pintu atau mungkin lebih tepatnya terbang menuju pintu sambil membawa tasnya. Sebelum membuka pintu, Yaya terlebih dahulu menghela napas dalam-dalam. Tanpa sadar, Yaya membuka pintu rumahnya dengan wajah yang masih memerah. Seperti biasa Yaya melancarkan senyuman manisnya semanis gula itu pada pria bertopi dinosaurus yang ada dihadapannya. Awalnya Boboiboy membalas senyuman itu namun tak lama kemudian senyuman Boboiboy memudar dan wajahnya terlihat khawatir akan sesuatu.
Yaya hanya mengerutkan dahinya bingung dengan wajah Boboiboy yang terlihat iba itu.

'Kenapa Boboiboy menatapku seperti itu? apa ada yang salah dengan penampilanku?'
Batin Yaya bertanya-tanya.

Karena penasaran, Yaya memberanikan diri untuk bertanya.

"Ada apa Boboibo..."

Belum selesai dengan kata-katanya, tiba-tiba sesuatu menyentuh dahinya. Punggung tangan Boboiboy menempel dengan dahinya yang membuat Yaya tersentak sesaat.

"Yaya... wajahmu memerah, apa kau terkena demam?"
Tanya Boboiboy dengan penuh perhatian.

Yaya tidak percaya, pujaan hatinya ini kini sangat perhatian dengannya. Boboiboy yang menyadari Yaya mematung mengambil kesempatan mengarahkan tangannya kearah pipi chuby Yaya yang merah semerah tomat itu sambil berkata.

"Yaya, kalau kau sakit, tidak usah dipaksakan sekolah. Aku akan melaporkannya pada Cikgu Papa kalau kau tidak bisa sekolah karena sakit."

Ingin sekali rasanya Boboiboy mencubit gemas pipi chuby itu, tapi ia rasa ia tidak berhak melakukannya karena sekarang ia bukan siapa-siapanya Yaya. Lagi pula belum tentu Yaya memiliki perasaan yang sama dengannya. Bisa saja Yaya hanya menganggapnya sahabat biasa. Itulah yang terus Boboiboy pikirkan sambil terus mengelus lembut pipi gadis berhijab itu.
Yaya serasa melayang ke udara kala Boboiboy menyentuh pipinya dengan penuh kasih sayang. *(Probe:"Ish-ish-ish... Dasar Boboiboy ini, bisa-bisanya mengambil kesempatan.)*

Boboiboy mulai panik melihat Yaya yang masih terus mematung sejak tadi. Ia takut jika tiba-tiba saja Yaya pingsan di tempat. Apa alasan yang bisa ia katakan jika sudah disalahkan membuat Yaya pingsan?.
Tanpa pikir panjang Boboiboy melakukan aksinya untuk menyadarkan Yaya dari lamunannya sebelum gadis itu pingsan.

*PLAAKK*

Tamparan pelan mendarat di pipi chubynya yang akhirnya menyadarkan Yaya dari lamunannya.

"AWW! sakitlah Boboiboy!"

"Habisnya kau dari tadi seperti patung , patung seorang putri yang cantik ..."
Ucap Boboiboy sedikit menggoda.

"Ih.. apaan sih.. "
Yaya hanya bisa tersipu malu dan menyembunyikan wajahnya.

"Sudah, gak apa-apa kok.. aku tidak demam"
Ucap Yaya sambil mengenakan sepatunya.

Boboiboy hanya berdiri menunggu Yaya yang sedang duduk sambil memakai sepatunya. Ia terus menatap wajah yang terbalut hijab pink itu tanpa berkedip.

"Nah.. sudah selesai, ayo berangkat."
Ucap si gadis sambil memakai tasnya.

"Ibu, aku berangkat dulu."
Seru Yaya dengan penuh semangat.

"Iya, hati-hati nak."
Jawab sang ibu yang sudah selesai dengan urusannya dan menhampiri Yaya.

"Assalamu'alaikum."
Ucap Boboiboy dan Yaya seraya menyodorkan tangan untuk bersalaman dengan Ibu Yaya.

"Wa'alaikumsalam"
Ucap sang ibu sambil menyambut tangan mereka.

Yaya dan Boboiboy beranjak pergi untuk berangkat sekolah bersama. Hati Yaya kini sangat senang dan berbunga-bunga dapat berangkat sekolah bersama Boboiboy. Saking senangnya Yaya sampai lupa kalau sahabatnya, Ying, sebentar lagi akan menjemputnya untuk berangkat sekolah bersama.

Di perjalanan, mereka diam-diam saling melirik, sampai akhirnya mereka melirik secara bersamaan dan kedua mata mereka bertemu.

"Eh... "

Ucap mereka berdua bersamaan saat mereka saling bertemu mata secara tidak sengaja. Kini kedua sahabat yang dulu tak ragu untuk saling berbincang dan tertawa lepas ini, kini entah kenapa hanya untuk mengatakan sepatah kata butuh sebuah perjuangan. Kecanggungan di antara mereka tak bertahan lama sampai akhirnya Boboiboy memulai perbincangan.

"Yaya... umm... apa aku boleh meminta nomor HP mu?"

"Lho? bukankah kau juga sudah punya nomor telepon rumahku?"

"Iya sih, tapi.. umm... apa tidak boleh aku minta no HP mu? kita kan sudah 1 bulan tidak bertemu, jadi... aku hanya ingin lebih dekat denganmu, bolehkan?"

"BLUUSH"
Wajah Yaya merona hebat.

OH TIDAK! jika setiap hari bertemu dengan Boboiboy, sepertinya wajah Yaya akan berwarna merah dengan permanen.
Baru pertama kali ini saat Yaya dimintai nomornya jantung terasa berguncang hebat dan hatinya sangat senang. Apalagi saat Yaya mendengar alasan Boboiboy "Ingin lebih dekat denganya" membuat Yaya semakin melayang ke Surga dan lupa daratan.

"Karena kebetulan aku sedang tidak membawa HP dan aku juga tidak hafal nomorku, jadi..."
Ucap Boboiboy sambil merogoh sakunya seperti ingin mengambil sesuatu

"Oh, baiklah. Tunggu, aku akan mencatatnya."

Ucap Yaya sambil merogoh tasnya dengan semangat dan berniat mengambil buku untuk mencatat nomornya.

"Eh... tidak usah, ini, aku sudah menyiapkan kertasnya."

Seru Boboiboy sembari menyodorkan secarik kertas dan pulpen dari sakunya yang sepertinya sudah sengaja disiapkannya.
Yaya berhenti mengacak-acak tasnya lalu menerimanya.

"Eh...?"

Yaya terkejut tak terkira kala melihat pemberian dari Boboiboy.
Secarik kertas kecil bernuansa pink dengan motif "LOVE" dan lengkap dengan hiasan cantik berwarna gold di tepi kertasnya. Pulpennya pun pulpen khusus. Pulpen berwarna silver mengkilap serta berkelap-kelip cantik.

'Apakah Boboiboy sampai berlebihan seperti ini?'
Batin Yaya bertanya.

Yaya melirik sejenak Boboiboy. Boboiboy hanya tersenyum tulus padanya dan Yaya hanya bisa membalas senyumannya itu. Seperti mengerti maksud Boboiboy, Yaya mulai menuliskan nomornya sambil tersenyum. Ia menggesekan ujung pulpen pada kertas dengan sangat hati-hati dan berusaha memberikan tulisan tangan secantik mungkin pada Boboiboy. Senyum Yaya makin mengembang kala mengetahui tinta pulpen itu tinta khusus berwarna gold. Yaya menuliskan nomornya dengan penuh perasaan. Setelah selesai menulis nomor yang terakhir, Yaya memberikan kertas beserta pulpennya pada Boboiboy dengan sedikit malu-malu. Boboiboy menerimanya dengan sangat antusias. Boboiboy terus memandangi kertas itu beberapa saat sambil tersenyum. Lalu ia melipat kertas itu dengan sangat rapih dan menaruhnya di saku dengan sangat hati-hati.

5 menit setelah itu mereka hanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Boboiboy yang sangat senang karena sudah mendapatkan sesuatu yang ada di sakunya dan tidak sabar untuk menghubungi nomor tersebut nanti, sedangkan Yaya masih bingung dengan kertas dan pulpen dari Boboiboy tadi.

'Apa Boboiboy benar-benar khusus menyiapkan kertas dan pulpen itu? apa dia memang punya buku dengan kertas yang berwarna pink?'
Batin Yaya terus bertanya.

'Tidak mungkin, lagi pulakan Boboiboy laki-laki, dia tidak mungkin mempunyai buku berwarna pink. Lalu pulpen itu? bukankah disekolah tidak boleh menulis dengan pulpen yang berwarna gold? jadi... untuk apa Boboiboy membawa kertas dan pulpen itu? apa iya itu semua karena khusus hanya untukku?'

Seketika wajah Yaya memanas dan merah merona kala memikirkannya. Boboiboy mulai berpikir kembali untuk menyusun topik pembicaran demi membuatnya semakin dekat dengan Yaya. Tak lama kemudian Boboiboy menemukan topik pembicaraan yang masuk akal.

"Umm.. Yaya? apa sampai saat ini kau... masih membuat biskuit?"

Tidak ada jawaban.

"Yaya?"

Masih belum ada jawaban. Yaya masih melamun dengan semburat merah di pipi cubynya.

"Hey Yaya! jawablah!"

"Eh... iya, kenapa?"
Sadar Yaya dari lamunannya.

Boboiboy hanya memutar bola matanya. Bisa-bisanya ia sudah susah payah berbicara tapi Yaya tidak mendengarkannya.

"Eh... kau tadi bilang apa Boboiboy?"

"Huh... aku tadi tanya, kau sekarang masih buat biskuit atau tidak?"

"Oh iya! aku baru ingat! tenang saja kok, aku masih buat biskuit. Ini! aku buatkan khusus untukmu. Ini resep baru lho!, aku membuatnya susah payah sampai malam khusus untukmu. Ayo cobalah! cobalah!".
Seru Yaya sambil menyodorkan sepaket biskuit yang terbalut pita cantik berwarna pink dari sakunya pada Boboiboy dengan penuh semangat.

OH TIDAK!. Boboiboy merutuki dirinya sendiri. Ia tak mengira jika Yaya membawa biskuitnya. Boboiboy sangat menyesal karena sudah bertanya hal itu. Kini ia lebih memilih Yaya tidak mendengarkannya dari pada begini jadinya.
Memang sih, kali ini biskuitnya terlihat sangat cantik dengan balutan pita pink di bungkusnya, tapi Boboiboy sama sekali tidak berniat untuk mengetahui rasanya. Apa lagi kalau ia tau yang membuatnya adalah Yaya, meskipun resepnya baru jika yang membuatnya Yaya, Boboiboy akan berpikir seribu kali sebelum memakannya.
Boboiboy hanya menatap horor biskuit yang disodorkan Yaya. Seperti biasa Yaya memasang Puppy Eyes-nya. Boboiboy hanya tersenyum miris pada Yaya.

"Umm... tidak usah repot-repot Yaya, aku sudah sarapan kok."

"Tapi.. cicipilah satu Boboiboy.."
Pinta Yaya dengan Puppy Eyes yang menjadi-jadi.

"Umm... aku sudah kenyang Yaya, porsi sarapanku tadi 3 kali lipat dari biasanya."
Ucap Boboiboy sambil mengusap-usap perutnya.

"Cobalah... cobalah..."
Rengek Yaya sambil mendekatkan sepotong biskuit ke mulut Boboiboy.

"Eee... terima kasih Yaya, aku sudah sangat kenyang."
Ucap Boboiboy sambil menahan biskuit itu dengan tangan dan menjauh dari biskuit yang disodorkan Yaya.

"Ayolah Boboiboy... ini resep baru, khusus untukmu lho.."

Yaya yang terus memaksa membuat Boboiboy mempercepat langkahnya hingga meninggalkan Yaya beberapa langkah. Namun Yaya terus mengejar sambil terus menyodorkan sepotong biskuitnya.

"Ayolah Boboiboy... ayolah... SEDAAAP..."

Boboiboy kemudian berlari kecil dan lama kelaman berlari kencang. Yaya masih terus mengejarnya dan memaksanya.

"Ayolah Boboiboy... cuma segigit saja, apa susahnya sih?"

"Umm bukan begitu Yaya, tapi... aku tidak mau kalau tidak masuk sekolah karena pingsan, maaf Yaya."

"Tenang saja, ini resep baru kok, jadi kau tidak akan pingsan ayolah.. Boboiboy ayolah..."

Makin lama Yaya makin memaksa. Kini Yaya habis-habisan terus menyodorkan biskuit ke mulut Boboiboy.

"Ayo buka mulutmu!"

"KYAAA! TIDAAAK!"

"Ayolah Boboiboy!"

"Aku tidak mau!"

"AYO!"

"TIDAK MAU!"

"AYO!"

"TIDAK!"

"AYO!"

"TIDAK!"

"Ayolah Boboiboy!"

"Sudah... sudah cukup Yaya! sudah cukup aku menjadi gila karena cintamu, aku tidak ingin gila karena biskuitmu juga Yaya!."

"Eh..? apa?"
Seketika Yaya mematung dan tak lama kemudian wajahnya memerah.

'ALAMAK! AKU KECEPLOSAAN!'
Batin Boboiboy panik.

Boboiboy yang melihat Yaya mematung mengambil kesempatan untuk kabur. Tanpa pikir panjang diam-diam Boboiboy berubah menjadi Boboiboy Halilintar dan dan berusaha kabur secepatnya tanpa disadari Yaya.

"Eh... eee.. Boboiboy Halilintar, Gerakan Kilat."

Boboiboy meninggalkan Yaya yang masih mematung di tempat. Yaya masih mematung dan mencerna apa yang ia dengar tadi. Bahkan Yaya masih belum menyadari kalau Boboiboy sudah pergi meninggalkannya.

"Ma-maksudmu apa Boboibo... eh? mana Boboiboy?"

Setelah menyadari Boboiboy telah tiada, Yaya kembali berjalan dengan lesu sambil menatap kosong sepaket biskuit di tangannya.

Tanpa mereka sadari sedari tadi sudah ada sesosok manusia yang mengintai mereka berdua dari jauh. Seseorang yang dikelilingi bayangan hitam di sekelilingnya. Seorang pria berambut raven dengan kacamata berbingkai nila dan berjaket merah marun sedang memegang buku kecil dan sebuah pulpen di kedua tangannya. Kemudian orang tersebut menuliskan sesuatu. Di buku tersebut tertulis:

JUDUL:

"PENYELIDIKAN KASUS ANTARA BOBOIBOY DAN YAYA"

Bukti Saat Penyelidikan Pertama:

No.1 Boboiboy dan Yaya berangkat sekolah berdua.

No.2 Awalnya mereka berdua saling malu-malu tapi lama-kelaman terlihat sangat akrab.

No.3 Boboiboy meminta nomor HP Yaya dengan kertas yang tidak biasa.

No.4 Yaya memberikan Biskuit yang tidak biasa atau spesial pada Boboiboy.

No.5 Wajah Yaya memerah serta salah tingkah saat dipuji dan disanjung oleh Boboiboy.

Pria tersebut kemudian mengangguk seraya menutup bukunya lalu melanjutkan perjalanannya menuju sekolah.

*DI DEPAN RUMAH YAYA*

"Hai Yaya! ayo kita berangkat!"
Teriak gadis cina dengan kacamata bulatnya dari luar rumah Yaya.

Masih belum ada jawaban dari penghuni rumah.

"Hey Yaya! ayo, aku sudah menunggu di luar nih!"

Tak lama kemudian muncul seseorang dari rumah tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Ibu Yaya.

"Eh... ternyata dik Ying, oh.. kau sedang cari Yaya?"

"Iya, apa Yaya-nya ada?"
Tanya Ying dengan logat khas chinanya.

"Oh, tadi Yaya sudah berangkat duluan dengan Boboiboy beberapa yang lalu."

"Oh.. kalau begitu terima kasih Makcik."

"Sama-sama dik."

Ibu Yaya melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Belum tiga langkah Ibu Yaya berjalan, Ying kembali bertanya.

"Oh iya Makcik, apa Yaya hanya berangkat berdua dengan Boboiboy?"

Wanita paruh baya itu berbalik badan lalu menjawab.

"Iya, tadi sih.. Makcik cuma melihat Yaya hanya dijemput oleh Boboiboy dan mereka hanya berangkat berdua, memangnya kenapa dik?"

"Oh, tidak apa-apa saya hanya tanya saja ma, sekali lagi terima kasih Makcik."

"Sama-sama dik."

Ying bepikir sejenak. Ia baru pertama kalinya di perlakukan kali ini oleh sahabatnya. Kalaupun Yaya ada urusan mendadak pasti dia memberitahu Ying terlebih dahulu. Tapi sekarang ini Yaya berlalu tanpa kabar.

'Hmm... memangnya ada urusan sepenting apa Yaya dengan Boboiboy? sampai-sampai dia tega meninggalkanku tanpa kabar.'
Keluh Ying dalam hati.

'Lagi pula sekarang ini kan masih pagi, bel masuk sekolah masih lama sekali dari sekarang. Apa dia lupa dengan janjiku tadi?.'
Batin Ying sambil melirik jam tangan berwarna kuning-biru di lengannya.

Ying hanya mengangkat bahunya lalu pergi berangkat ke sekolah tanpa sahabatnya, Yaya.
*(Probe:"Ish-ish-ish... kasihan... teganya si Yaya ini dengan sahabatnya sendiri. Tak patut... tak patut...")*

Di tempat Yaya. Kini Ia terus memandangi biskuitnya indah dipandang tapi kata orang, rasanya tidak seenak rupanya. Yaya masih terus berjalan lesu sambil terus memerhatikan biskuitnya sendiri. Sampai ia benar-benar bosan meliriknya Yaya kemudian menghembuskan napas berat kemudian menaruh sepaket biskuit yang terbalut dengan pita pink itu kembali ke dalam tas.

'Apa rasanya seburuk itu?'
Batin Yaya bertanya.

*DI SEKOLAH*

Boboiboy masih melesat dengan Gerakan Kilatnya menuju sekolah. Sesekali ia menengok ke belakang untuk melihat apakah Yaya mengejarnya atau tidak. Selama melesat, Boboiboy terus membayangkan Yaya sedang terbang mengejarnya dengan wajah yang sangat marah dan sangar karena teganya Boboiboy telah meninggalkan Yaya. Boboiboy merasa sangat bersalah. Bagaimana tidak, padahal Boboiboy sendiri yang mengajak Yaya berangkat sekolah bersama tapi teganya ia meninggalkan Yaya begitu saja.

Ia terus melesat sampai ke dalam kelasnya dan tidak menghiraukan puluhan siswi yang sudah menunggunya di dekat gerbang. Boboiboy melesat tanpa di ketahui para siswi tersebut. Ia sudah kapok untuk melayani para siswi tersebut, karena ia masih ingin hidup. Alhasil para siswi itu hanya menunggu seseorang yang bahkan sudah datang dari tadi.

Setibanya di kelas, Boboiboy langsung menaruh tasnya dan kembali melesat keluar dari kelas. Boboiboy terus mencari-cari kira-kira dimana tempat yang aman untuk bersembunyi. Sembunyi dari amukan Yaya. Akhirnya Boboiboy memutuskan untuk sembunyi di antara dedauan pohon besar yang ada di taman. Boboiboy langsung berubah wujud menjadi Boboiboy Taufan dan terbang menuju ke atas pohon lalu bersembunyi di antara dedaunan yang lebat tersebut.
Boboiboy menunggu harap cemas kedatangan Yaya. Ia terus memikirkan cara terbaik untuk meminta maaf pada Yaya.
Tak lama kemudian sosok yang dinanti Boboiboy muncul juga. Boboiboy terkejut dengan apa yang ia lihat. Kenyataan yang ia lihat sangat berbeda jauh dari bayangannya. Tampang wajah Yaya jauh sekali dari kata"MARAH". Gadis berhijab pink itu berjalan sangat lesu dengan kepala yang menunduk ke bawah. Gadis penyuka warna pink itu memasuki kelasnya dengan ekspresi yang tidak seperti biasanya. Boboiboy semakin merasa bersalah telah membuat gadis periang itu menjadi sangat murung wajahnya saat ini. Boboiboy kembali mengingat kejadian tadi. Boboiboy berpikir, mungkin alasan Yaya sampai seperti itu karena Boboiboy telah menolak biskuit pemberian Yaya tadi.
Boboiboy terus merutuki dirinya sendiri. Tega sekali ia membuat orang yang ia cintai menjadi sangat sedih hari ini.
Boboiboy terus bergelut dengan pikirannya sendiri. Bahkan sampai Fang memasuki sekolah dengan dikerubungi para siswi, hal tersebut sama sekali tidak dihiraukan oleh Boboiboy. Ia masih terus menyesali dirinya sendiri.

Yaya memasuki kelasnya tanpa ekspresi sama sekali. Saat ia telah sampai di ambang pintu, Yaya menghembuskan napas berat setelah melihat kursi Boboiboy yang hanya di huni oleh tasnya tanpa ada pemiliknya.

"Huh... sepertinya Boboiboy marah padaku karena aku terlalu memaksanya tadi.'
Batin Yaya menyesal.

Yaya kemudian menaruh tasnya di kursinya lalu mendudukan dirinya. Yaya hanya menunggu bel masuk dengan menopang dagunya dan sesekali melirik tasnya sendiri yang berisi biskuit.

'Huh... mungkin memang benar. Aku tidak boleh memaksakan orang untuk memakan biskuitku itu. Lagi pula aku belum pernah tau bagaimana rasa biskuit buatanku sendiri.'
Batin Yaya.

Sejenak terlintas di pikiran Yaya untuk mencoba biskuitnya sendiri. Tapi niatan Yaya itu terhenti karena ia sudah pasrah duluan karena ia sudah mengira pasti rasanya tidak akan berbeda dengan biskuit-biskuit sebelumnya. Bahkan Yaya berniat membuangnya sepulang sekolah nanti dan ia rasa ia tidak akan membuat biskuit lagi. Beberapa menit kemudian Yaya melihat Ying yang baru datang di ambang pintu. Yaya kemudian menegakan badannya dan bersiap untuk membalas sapaan dari sahabatnya itu. Mungkin dengan cara bercengkrama dengan sahabat akan membuat Yaya sedikit teralih dari kesedihannya.
Namun jauh dari dugaan, Ying hanya menatap Yaya dengan wajah kecut dan duduk di kursi tanpa menyapa Yaya sama sekali. Yaya mengerutkan dahinya bingung lalu mengingat-ingat apa yang membuat Ying kesal padanya.

'OH... TIDAK! AKU BARU INGAT'

Batin Yaya saat ia baru ingat akan janjinya tadi pagi untuk menunggu Ying untuk berangkat sekolah bersama. Yaya baru pertama kali ini menelantarkan sahabatnya dan itu karena ia terlalu senang dapat berangkat bersama dengan Boboiboy.
Yaya berniat menjelaskan semuanya dan meminta maaf pada Ying. Tetapi niatnya tertunda saat ia melihat Ying yang sedang duduk menghadap belakang dan menopang dagunya di lengannya yang terlipat sembari memandang sesuatu yang ada di belakang dengan tersenyum. Senyum bahagia Ying yang baru pertama kali dilihat oleh Yaya. Karena penasaran, Yaya mengikuti arah lirikan mata Ying. Begitu mengetahui apa yang sedari tadi sedang dipandangi oleh Ying, Yaya mengerutkan dahinya bingung.

'Bukankah itu hanya sebuah kursi? bahkan kursi itu kosong tanpa di huni oleh seorangpun. Mengapa Ying terus memandanginya sambil tersenyum? memangnya apa yang salah dengan kursi itu?'
Batin Yaya terus bertanya.

Setelah berpikir keras, Yaya tiba-tiba tersadar akan sesuatu.

'Eh... tunggu dulu. Bukankah itu kursinya si Fang? benarkan? hmm... memangnya ada apa antara Ying dan Fang?'
Batin Yaya.

Tak berapa lama kemudian akhirnya si penghuni kursi yang terus dipandangi Ying datang. Fang memasuki kelas dengan segerombolan siswi yang masih membuntutinya dari belakang. Seperti biasa, pria berambut raven itu hanya memasang wajah datarnya dan sama sekali tak menghiraukan para siswi tersebut. Namun para siswi itu hanya membuntutinya sampai pintu kelas saja dan saat Fang memasuki kelas para siswi hanya mengintipnya dari pintu dan ada juga yang melihatnya dari jauh lewat jendela.

Setelah Fang duduk di kursinya, tatapan Ying teralih dari kursi menuju ke pemiliknya masih dengan senyum yang terpatri di wajah gadis cina tersebut.
Seperti biasa, Fang hanya menaruh tasnya lalu duduk dan langsung menopang dagunya serta melirik keluar jendela. Bukan jendela yang terdapat para siswi, tetapi jendela yang disisi lainnya. Namun kejanggalan terjadi saat Fang menyadari dirinya tengah dipandangi oleh Ying. Suatu keajaiban terjadi, pria yang sangat antisosial dan dingin serta tidak pernah tersenyum itu kini tersenyum balik membalas senyum Ying. Senyum yang sangat manis dan tulus hingga membuat seluruh siswi pingsan melihatnya. Ying yang menyadari Fang tengah membalas senyum kepadanya hanya salah tingkah dan tersipu malu kemudian gadis cina itu memalingkan wajahnya ke lantai dengan wajah yang memerah.
Yaya wajahnya makin bingung dengan keanehan yang terjadi di depan matanya.

*FLASHBACK*

(KEMARIN-DI SEKOLAH ~ DI CHAPTER 3)

Bel pulang telah berbunyi sendari tadi. Para murid mulai berhamburan keluar kelas. Mereka dengan semangat melangkahkan kakinya menuju rumah masing-masing. Lain halnya dengan Fang. Ia belum pulang karena tengah menunggu seseorang. Pria berambut raven itu tengah bersandar di dinding dengan tangan yang terlipat di dadanya. Rasa kesal dan iri menghiasi wajahnya. Hatinya tak terima dengan apa yang ada di depan matanya. Kini ia tengah melihat segerombolan siswi yang sangat ramai dan bising. Alasan kenapa Fang tidak menyukai adanya kerumunan tersebut hanyalah satu. Yaitu di tengah-tengah kerumunan tersebut adalah "BOBOIBOY".

"Dasar.. apa hebatnya sih dengan Boboiboy? kenapa Boboiboy selalu saja lebih populer! apa tak cukupkah Boboiboy lebih populer dariku di SD?! Huuh..."
Gumam Fang kesal.

Tak lama kemudian orang yang ditunggu oleh Fang datang. Seseorang dengan kacamata bulat berbingkai biru dengan rambut yang dikuncir dua. Siapa lagi kalau bukan Ying.

"Hei Fang, ada urusan apa kau memanggilku?"

"Eh Ying, kau sudah datang?"

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"
Tanya Ying To The Point.

"I-itu, umm... nanti kubicarakan di jalan. Disini terlalu berisik, ayo!"
Ajak Fang.

"B-baiklah"

Ying mengikuti langkah Fang keluar sekolah. Di jalan Ying kembali bertanya.

"Baiklah Fang apa yang ingin kau bicarakan."

"Eee... itu, umm... "

Entah kenapa otak encer Fang kini seakan tidak berguna di hadapan gadis cina ini. Lidah Fang serasa membeku. Fang tidak menyangka kalau mengatakan sepatah kata pada Ying bisa sesulit ini. Fang menelan ludah tanda mempersiapkan mental.

"Fang?"

Kini Fang salah tingkah. Ia semakin bingung untuk beralasan apa pada Ying. Fang tidak mungkin mengatakan niat sebenarnya pada Ying, kalau tidak image Fang akan turun drastis.

"Umm... Ying, kau tidak pulang bersama Yaya? biasanya kulihat kau selalu pulang bersamanya?."
Tanya Fang ragu-ragu.

Ying mengangkat sebelah alisnya bingung.

"Haiya, tadinya juga aku ingin pulang dengan Yaya, tapi tidak jadi ma.. katanya kau ada urusan penting denganku, jadi aku rela membatalkannya demi kau, bagaimana sih?"

"Oh.. iya.. "
Ucap Fang sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.

Ying hanya memutar bola matanya heran. Tidak seperti biasanya Fang bertingkah seperti ini. Ying juga bingung, entah kenapa baru pertama kali ia rela membatalkan janjinya hanya demi pria di sampingnya ini.
Sejenak Ying memerhatikan wajah Fang. Karena penasaran Ying terus memandangi wajah pengendali bayangan itu. Setelah lama memandangi, Ying menyadari satu hal. Ternyata wajah Fang tidak sedingin yang ia kira. Ternyata masih tersimpan sedikit kehangatan di wajah itu. Entah kenapa makin lama Ying terpesona dengan ketampanannya. Ia tenggelam di antara wajah dingin itu. Ia kini menyadari apa alasan para "FANGIRLS" sangat memuja-muja Fang.
Fang yang menyadari dirinya sedang dipandangi oleh Ying akhirnya protes.

"Hei apa kau lihat-lihat hah? apa ada yang salah dengan wajahku?"
Tanya Fang yang akhirnya sifat dinginnya telah kembali dan telah sadar dari salah tingkahnya tadi.

"Eh... gak kok."
Ucap Ying tersadar dari lamunannya dan langsung memalingkan wajahnya malu.

Fang sedikit lega. Akhirnya kini ia kembali memegang kendali dan membalikan keadaan. Seandainya saja Fang tidak memiliki sifat dingin, mungkin ia akan terus salah tingkah dengan pertanyaan Ying yang terus mendesaknya.
Kini Fang baru bisa berpikir jernih dengan leluasa dan menyusun kata-kata karena saat salah tingkah otak Fang takkan bisa terpakai. Fang mengambil kesempatan untuk terus berpikir selagi Ying masih sibuk menyembunyikan wajahnya karena malu.
Belum selesai Fang menyusun kata-kata, Ying kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama.

"J-jadi... kau ingin bicara apa"
Tanya Ying, tapi kini sedikit berbeda karena Ying mulai sedikit malu.

"Eh... anu, umm... "
Ucap Fang kehabisan kata-kata

"Apa Fang?"

"I-itu... umm..."

"Haiya, katakan sajalah Fang! aku sudah rela membatalkan janjiku dengan Yaya!"
Ucap Ying sedikit membentak.

"Umm... i-itu... ma-maksudku... "

Kini entah kemana perginya sifat dingin dan datar dari pria berjaket merah marun ini. Jika sedang bermain catur, Fang rasa posisinya saat ini adalah "SKAK-MAT".
Jika Fang sedang menjadi kiper ia rasa ia sudah "MATI LANGKAH".
Jika Fang sedang bermain game, ia rasa ia sudah "GAME OVER".
Dan jika ia sedang bermain GET RICH atau monopoli, ia rasa ia sudah "BANGKRUT TOTAL" .

"HAIYA! , CEPATLAH FANG! JANGAN BUANG-BUANG WAKTUKU SAJA MA!"
Bentak Ying kini dengan teriak dan dengan suara melengkingnya.

Fang kemudian mengembuskan napas tanda menyerah dan akhirnya mengatakan niatnya yang sebenarnya.

"B-baiklah, se-sebenarnya aku hanya ingin mengajakmu main ke taman, bolehkan?"
Jawab Fang percaya diri yang dipaksakan.

"Eh..? maksudnya?"

"Ya... karena kebetulan dirumahku tidak ada orang. Jadi... dari pada aku bengong di rumah.. lebih aku jalan-jalan ke taman. B-bolehkan?"

"T-tapi kenapa kau hanya mengajakku? ke-kenapa kau tidak mengajak yang lain seperti misalnya Gopal?"

"Kau kan tau sendiri. Bicara dengan Gopal hanya berakhir dengan topik tentang makanan saja. Lagi pula Gopal tidak akan mau jalan-jalan begitu saja tanpa makanan. Aku tidak mau pulang dengan kantong yang terkuras habis."

"Ooouh... , kalau Boboiboy?"

Fang hanya memutar bola matanya seraya berkata.

"Cih... kau ini bagaimana sih? mana mungkin aku tahan jalan-jalan hanya berdua dengannya."

"Ooouh... "

Ucap Ying seraya mengangukan kepalanya. Memang tidak mungkin Fang dan Boboiboy bisa jalan-jalan berdua ke taman tanpa luka disana sini seperti habis perang.

"Kalau Yaya?"

"Hey! kau gilekeh? Yaya itu anak perempuan! mana mungkin aku ini mau main dengan anak perempuan!"
Jawab Fang dengan emosi.

"Eh..? bukankah aku juga perempuan? tapi kenapa kau malah hanya mengajakku?"

"Eh... itu, umm... "

"Hayo! kenapa? kenapa?"

"Umm... memangnya t-tidak boleh a-apa aku maunya de-denganmu? la-lagi pula kau kan... c-ca-cantik.. "

"Eh...?"

Seketika wajah Ying memerah seperti kepiting rebus yang dicat warna merah. Bisa dibayangkan bagaimana betapa merahnya kan?.
Tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih cepat. Bahkan lebih cepat dari langkah kakinya saat ia Berlari Laju dengan kuasanya.
Fang yang melihat reaksi wajah Ying, tertawa licik dalam hatinya.

'He.. he.. he.. , aku rasa aku sudah dapat 1 skor dari hati Ying. Nah... sekarang tinggal ku buat dia jatuh cinta padaku, hehe...'
Batin Fang.

Karena tak tahan menahan malu, Ying diam-diam sedang mengumpulkan kekuatan ditangannya lalu meledakannya tanpa bersuara sehingga semua benda bergerak lamban di sekitar si pengendali masa dalam jarak diameter 50 meter.
Kini Ying dapat bernapas lega dan dengan leluasa bebas melakukan apa saja dalam waktu yang lama demi menghilangkan semburat merah di wajahnya. Sebelum waktu kembali normal, Ying terus memandangi wajah tampan Fang yang sangat lucu ketika melambat. Terlihat jelas oleh Ying, wajah Fang sedang tertawa licik yang semakin menambah lucu wajah itu. Ying memandangi Fang sambil berpikir tentang tawaran Fang tadi. Ying merasa kasihan karena tadi katanya Fang hanya sendirian di rumah. Lagi pula... Ying rasa akhir-akhir ini ia mulai selalu merasa bosan. Ia penasaran, bagaimana jadinya pria yang dingin nan cool ini saat berjalan-jalan di taman. Apalagi hanya di temani seorang gadis yang tidak lain adalah Ying sendiri.
Sebenarnya Ying rasa ia tidak akan pernah bosan memandangi Fang seperti ini. Tapi jam kuasa Ying yang menunjukan waktu melambat akan segera habis membuat ia harus kembali ke tempatnya semula lalu bersiap untuk menjawab ajakan Fang.

Setelah waktu kembali normal, Posisi Fang masih dengan cengiran anehnya tadi. Ia tidak sadar sama sekali akan apa yang berusan terjadi.
Setelah ia melihat wajah Ying kembali, Fang baru sadar ada sesuatu yang aneh. Fang rasa baru ssja beberapa detik tadi ia melihat wajah Ying sedang tersipu malu, tapi kenapa kini mendadak wajahnya kembali normal?.
Fang terus menggaruk pipinya yang tak gatal itu dengan bingung, ia masih belum mengerti fenomena apakah yang terjadi pada wajah manusia yang satu ini.
Setelah itu hanya keheningan di antara mereka. Karena jenuh, Fang akhirnya kembali bertanya.

"Jadi b-bagaimana Ying?"

"Bagaimana apa?"

"I-itu... yang tadi itu lho.. jadi a-apa kau mau?"

"Hayai... aku hampir lupa ma... "

Ucap Ying lalu langsung memegah dagunya berpikir tentang ajakan Fang.

"Hmm... bagaimana ya?"

Fang hanya menunggu harap cemas jawaban Ying. Fang masih terus menunggu sambil mengigit bibir bawahnya dengan keras.

'Hmm... bagaimana ya? kebetulan aku juga sedang bosan sekarang ini. Dan juga aku tidak ingin menyia-nyiakan begitu saja janjiku dengan Yaya yang telah ku batalkan.'
Batin Ying berpikir panjang lebar.

"Umm.. okelah."
Jawab Ying dengan enteng.

"Huh..."

Gumam Fang lega setelah mendengar jawaban Ying.

"Oke kalau begitu, mari ku antar kau ke rumah dengan elang ba... "

"Lambatkan Masa!"

Seru Ying memotong ucapan Fang dengan tidak elitnya karena Fang dan sekelilingnya kembali melambat berkat ulah Ying.

"Nah.. tunggu di sini sebentar ya, Tampan... "
Ucap Ying seenaknya karena takkan ada yang mendengarnya di antara kelambanan itu dan Ying langsung melesat dari tempat itu dengan kuasanya.

"Larian Laju!"

Seru Ying dan langsung melesat ke rumahnya. Saat melesat, Ying kembali memikirkan kata spontannya tadi yang meyebut Fang dengan sebutan "TAMPAN" . Tak lama kemudian muncul semburat merah di pipinya dan kepalanya menunduk. Ying sudah lupa kini dirinya sedang berlari kencang dengan kepala yang menunduk.
Saat Ying sadar, ia langsung mendongakkan kepalanya kembali. Sungguh sialnya ia kali ini karena setelah mendongak ia melihat sebuah tiang lampu jalan yang sudah dekat dan tidak lama lagi akan ia tabrak. Ia mencoba mengerem kakinya sekuat tenaga dengan kuasanya. Tapi kini keberuntungan sangat tidak berpihak padanya hari ini. Sebuah genangan air entah kenapa dapat muncul tepat di depan tersebut.

"ALAMAAAK"
Teriak Ying sebelum akhirnya...

"CETAAAANGGG"
Suara nyaring tiang tersebut yang telah dihantam keras oleh jidat Ying.

"GUBRAAAK"

Ying terjatu sejenak dengan sedikit kesadaran yang ada lalu cepat-cepat bangkit untuk mengumpulkan kesadarannya kembali.
Orang-orang yang berjalan melintasinya, hanya menggelengkan kepala kala melihat tingkah pahlawan super yang satu ini. Setelah dirasa baikan, Ying kembali melesat dengan sesekali memegangi keningnya yang lebam akibat menabrak tiang tadi.
Ying terus berusaha melesat sampai ke rumahnya meskipun kadang ia sedikit oleng dan kehilangan keseimbangan saat berlari. Namun ia tetap berlari mencoba menahan semua itu.
Bagaimanapun juga, Ying tidak ingin kembali saat Fang sudah sadar saat kuasa melambatkan waktu Ying sudah habis. Ia tidak ingin membuat Fang kecewa karena nantinya Fang mengira jika dirinya telah meninggalkan Fang dengan sengaja.
Sampai akhirnya Ying telah tiba dirumahnya dan ia langsung melesat masuk ke dalam kamarnya dan berganti baju.

"Haiya... waktunya tinggal sedikit wo... "

Ucap Ying panik ketika melihat jam kuasanya yang menunjukan waktu kalau sebentar lagi kuasa memperlambatnya di tempat Fang akan segera habis.
Tanpa Bas-Bis-Bus, Ying segera membuka lemari bajunya dan langsung mengambil baju yang pertama ia lihat secara acak karena waktu yang sangat mepet.
Ia langsung memakai baju tersebut secepat kilat dengan kuasanya lalu berkaca sejenak.
Baju yang dipakainya adalah dress selutut berwarna kuning dengan sedikit motif biru yang menghiasinya.
Setelah dirasa beres dengan bajunya, ia berniat menguncir kembali rambutnya yang berantakan karena terjatuh menabrak tiang tadi.
Ketika ia telah melepaskan kedua kuncirannya dan berniat menguncirnya kembali, ia berpikir.

"Ah... tidak usah dikuncirlah.. "

Ya. Ying pikir menguncir dua rambutnya kembali pasti akan memakan waktu yang lama.
Tanpa pikir panjang ia memungut sepatu wanita cantik warna hijau muda di rak sepatu yang entah punya siapa itu ia tidak peduli, Ying langsung memakainya tanpa rasa berdosa.
Ia kembali melirik jam kuasanya dan mengangguk tanda bahwa masih ada waktu untuknya.
Ia kembali melesat kencang melupakan keningnya yang masih memerah.

"Dah nek.. aku pergi dulu, BYE!"
Seru Ying yang hanya di sauti suara mengorok dari sang nenek yang sedang tidur di teras dengan bangku goyangnya.

Ying terus melesat dengan harap cemas akan waktu yang tersisa."

"Semoga saja masih sempat."

Begitu lega hati Ying saat telah tiba di tempat Fang dengan waktu yang hanya tersisa seperkian detik saja.

Waktu telah kembali normal. Fang tersentak kebelakang terkejut saat melihat Ying yang sudah dihadapannya rapih dengan dress kuning-birunya.
Ying hanya tersenyum pada Fang yang sedang terkejut.
Fang yang wajahnya terkejut kini telah berubah menjadi wajah yang bingung dan heran memandangi Ying. Ying hanya bingung dengan reaksi orang yang didepannya.

"Ada apa Fang?"

" ... "
tidak ada jawaban, Fang masih mematung.

"Apa ada yang salah?"
Tanya Ying kembali.

"Hey Fang!"

"Fang!"

"Bicaralah Fang!"

"Hei! jangan diam saja, jawab Fang!"

"FANG!"

Tanya Ying bertubi-tubi yang tidak dibalas satupun oleh Fang.

"Hey bicaralah Fang! jangan membuatku bingung! apa kau ini bisu? ayo cepat bica... "

Kini bentak Ying dengan nada yang tinggi. Namun belum selesai dengan kata-katanya, jari telunjuk tangan kanan Fang menjulur dan menyentuh bibir mungil yang sedari tadi terus mengoceh itu. Dan satu jari Fang yang menempel pada bibir Ying telah membuat mulutnya berhenti mengoceh.
Setelah jari telunjuknya, kini tubuh Fang yang mendekat. Terlebih lagi wajah Fang yang terus semakin dekat dengan wajah Ying dan pria itu seperti tengah memperhatikan sesuatu.
Muka Ying langsung mendidih merah merona kala melihat wajah tampan Fang yang hanya berjarak kurang dari 4 senti dari wajahnya. Tubuh Ying mematung seketika dan tubuhnya serasa berat untuk digerakkan.
Kini tangan kiri Fang mulai beraksi. Ia tempatkan tangan kirinya tepat di atas kepala Ying dengan ibu jarinya mengelus-elus lembut kening Ying.

"Ying, kenapa dengan dahimu ini? kenapa tiba-tiba saja merah seperti ini?"
Ucap Fang sembari melepaskan jari telunjuknya dari bibir Ying.

"DEG.. DEG..."
Suara jantung Ying bergemah.

Kini Ying tidak percaya dengan apa yang kini tengah Fang lakukan.

'Apa aku tidak salah lihat? kini pria yang terkenal sangat DINGIN, ANTI SOSIAL, DAN SANGAT CUEK ini, kini tengah memberi perhatiannya padaku?'
Batin Ying tidak percaya.

Walaupun Fang hanya bertanya tentang sesuatu yang wajar. Tapi sangat tidak wajar jika Fang sangat perhatian dengan seseorang. Fang adalah tipe orang yang sangat acuh dan tidak peduli dengan lingkungan dan keadaan orang-orang di dekatnya.
Dan Ying tau kalau Fang bukan hanya sekedar bertanya, tapi pria itu tengah memberi perhatian padanya.

"Ying, apa yang terjadi? siapa yang tega melakukan ini padamu? biar kuhajar nanti"
Ucap Fang kesal dengan tatapan marah dan tangan kanan yang mengepal.

"Eh... tidak apa-apa, aku tidak apa-apa kok."
Ucap Ying sambil menepis pelan tangan kiri Fang tanpa menjelaskan apa sebab keningnya bisa memerah lebam.

Tentu saja Ying tidak akan memberi tau mengapa keningnya seperti ini. Karena alasan menabrak tiang adalah sesuatu hal yang sangat bodoh dan memalukan.

Fang masih mengepalkan tangannya dan masih memasah wajah kesalnya. Ying merasa tak nyaman dengan atmosfer yang menguar dari tubuh Fang saat pria itu tengah marah.

"Ya sudah, kapan kita akan pergi?"
Tanya Ying mengalihkan suasana.

Fang kemudian mengalihkan pandangannya pada Ying lalu hanya nyekir tidak jelas.

"Oh iya, aku hampir lupa, hehehe... "

Senyum Ying mengembang ketika melihat wajah Fang yang tadi kusam kini telah kembali tersenyum.

"Jadi.. ayo kita ke rumahmu dulu."
Ucap Ying.

"Eh... tidak usah, karena hari ini aku membawa baju ganti, jadi... "

Ucap Fang menggantung dan pria tersebut langsung dikelilingi bayangan hitam yang menutupnya hingga wujud pria tersebut sama sekali tidak terlihat. Bayangan tersebut membentuk seperti sebuah bola besar dan menutup rapat tubuh Fang didalamnya.
Ying sedikt tersentak dan sedikit bingung dengan apa yang tengah di lakukan Fang.
Sekitar 20 detik, akhirnya bayangan itu terbuka dan akhirnya benda hitam itu sirna.
Setelah bayangan itu sirna, dapat terlihat Fang yang telah menggunakan kemeja bermotif kotak-kotak berwarna merah marun dan garisnya berwarna hitam. Celana jeans hitam yang sangat cocok melekat pada pria tersebut.

"Wooow"
Gumam Ying dengan sangat pelan.

Baju tersebut sepertinya sudah sengaja khusus dibawa oleh Fang untuk pergi bersama Ying.
Ying hanya terkesimak dan melamun melihat penampilan Fang yang sangat Cool di depan matanya.

"Baiklah, aku sudah siap, ayo berangkat Ying."

Ying masih melamun di tempat. Fang yang melihat Ying melamun lalu melambaikan tangannya didepan wajah Ying, namun Ying masih belum sadar juga dari lamunannya.

"Hey Ying ! Ying!"

tidak ada jawaban.

"Ying!"

masih tidak ada jawaban.

Fang yang mulai kesal kemudian mengambil kesempatan mencubit gemas pipi Ying.

"HAIYA, SAKIT MA!"
Protes Ying sambil menyembunyikan wajahnya.

Ying akhirnya tersadar dengan semburat merah di pipinya.

"Ya sudah ayo cepat!"
Ucap Fang dingin lalu berjalan mendului Ying.

"Eh... iya, tunggu... "

Ying kemudian menyusul Fang yang telah berjalan duluan.
Saat perjalanan menuju taman, Ying hanya diam dan menundukan kepalanya keatas, eh.. maksudnya ke bawah.
Fang sesekali melirik Ying lalu iris matanya bergerak-gerak tengah memikirkan topik untuk membuka pembicaraan.

"Umm... Ying, apa... si Yaya masih suka membuat biskuit mematikannya itu?"
Tanya Fang basa-basi.

Ying mendongakan kepalanya dan menjawab.

"Oh.. Yaya? entahlah... akupun tak tau. Dia sudah tidak pernah lagi memberi biskuitnya padaku semenjak lulus SD"

Keheningan kembali terjadi setelah perbincangan singkat tersebut, sampai akhirnya Fang kembali membuka mulut.

"Eh.. Ying? apa akhir-akhir ini kau merasa ada hal yang aneh antara Yaya dengan Boboiboy? terutama saat tadi di sekolah."

"Umm... aku tidak terlalu memerhatikan mereka berdua, memangnya ada apa?"

Fang diam sejenak.

"Umm... tidak ada apa-apa."

Fang rasa belum waktunya ia menyebarkan hal ini karena ia belum punya bukti pasti untuk memastikan kecurigaannya pada Boboiboy dan Yaya.
Lagi pula inikan kencan antaranya dan Ying. Ia hanya akan merusak suasana jika membahas hal tersebut sekarang.

'Arrgghh... sepertinya Ying masih belum menyadari kalau aku sedang mengajaknya kencan.'
Kesal Fang dalam hati ketika melihat Ying yang terus diam.

"Oh iya... aku baru ingat. Boboiboy baru pulang dari kota kan? jadi, kapan ia sampai di Pulau Rintis?"
Ucap Ying akhirnya memulai pembicaraan.

Fang hanya memutar bola matanya kesal.

"Hey! kau kan tau dia itu rivalku! mana aku tau dengannya? aku tidak pernah peduli."
Jawab Fang kesal karena makin lama pembicaraan ini malah membicarakan Boboiboy.

"Eh... iya, maaf... "
Jawab Ying terlihat lugu di hadapan Fang.

Sesampainya di taman, mereka berdua mampir terlebih dahulu ke sebuah kedai terdekat sebelum duduk di taman.

Ying hanya membeli sekotak jus mangga ukuran sedang.
Sedangkan Fang sangat kegirangan karena ternyata di kedai tersebut menjual donat lobak merah kesukaannya.
Di kedai itu donat lobak merah tinggal tersisa empat dan Fang membabat semuanya dengan semangat dan ia juga menbeli sekotak jus anggur ukuran besar sebagai minumannya.

Setelah selesai membeli, mereka duduk di bangku taman dan terlindungi dedaunan pohon yang rindang di atasnya.
Saat Ying baru saja ingin menyentuhkan bibirnya pada sedotan, niatnya terhenti kala melihat Fang yang duduk di sebelahnya sedang melahap ganas donat lobak merahnya dengan ganas seperti anak kecil.
Ying mencoba menahan tawanya namun gagal.

"Pfffttt..."

Ia mulai terkikik kecil. Fang yang menyadari sedang ditertawakan kemudian menoleh pada Ying dengan mulut yang masih belepotan dan ia tidak menyadarinya kemudian berkata.

"Hey! apa yang kau tertawakan!"
Teriak Fang ketus dengan tatapan tajamnya.

"Huahaha... hahaha... "
Suara tawa keras Ying yang sudah tidak bisa di tahannya lagi.

"Terserah kau jelah... "
Ucap Fang kemudian kembali melanjutkan makannya.

Setelah Ying puas tertawa, ia melirik Fang yang terlihat donat lobak merahnya tinggal tesisa satu kemudian Ying berkata.

"Eh... maaf ya?"

Tidak ada jawaban dari Fang. Ia masih sibuk melahap donatnya yang terakhir.
Ying kemudian mulai menyeruput jusnya yang sedari tadi belum berkurang setetes pun.

Setelah Fang menghabiskan donatnya yang terakhir, ia baru sadar dengan mulutnya yang belepotan. Ia mengelap mulutnya sambil menduga kalau mungkin inilah sebab Ying tertawa tadi.
Setelah mulutnya bersih, Fang menyeruput jus ukuran besarnya untuk menghilangkan dahaga.

Hari mulai sore. Langit mulai memunculkan warna jingganya. Di taman yang mulai sepi tersebut, Fang dan Ying masih menikmati jus masing-masing dengan santai sambil melihat pemandangan langit senja.

Fang menyeruput jusnya sambil kembali melirik Ying dengan detail kemudian berkata.

"Hey, Ying."

"Hn... "
Jawab Ying yang masih menyeruput jusnya.

"Kau tidak, kalau kau terlihat lebih cantik jika rambut tidak dikuncir dan terurai seperti ini."

"OHOOK! OHOOK!"

Ying tersedak jusnya terkejut dengan perkataan Fang barusan. Dengan sigap, Fang menyerahkan jusnya dan menyuruh Ying meminumnya.
Ying menurutinya dan ia meminumnya dengan semburat merah muncul di pipinya.

'Kenapa harus pakai jusnya Fang? bukankah ini sama saja dengan ciuman tak langsung?'
Batin Ying saat menyeruput jus milik Fang.

Setelah tenggorakannya kembali pulih, Ying berterima kasih.

"Umm... terima kasih ya Fang."
Ucap Ying malu-malu.

"Hn."
Jawab Fang singkat.

Dan setelah itu mereka hanya diam menghabiskan jus masing-masing sambil menikmati indahnya langit senja.
Setelah menghabiskan jus masing-masing, Fang memulai pembicaraan.

"Indah sekali langit sore, kan Ying."
Tanya Fang sambil memandang langit jingga di sore itu.

"Iya."
Jawab Ying singkat.

"Umm... Ying, kau mau tidak melihat langit itu dari dekat?"

Ying mengkerutkan dahinya.

"Bagaimana caranya?"

"Elang Bayang!"
Seru Fang lalu muncul seekor elang hitam dengan mata yang merah.

"Wah... tentu saja! aku mau.. aku mau!"
Jawab Ying semangat.

"Ya sudah, kita sekalian pulang saja. Soalnya Elang Bayangku takkan bertahan lama karena hari sebentar lagi gelap."

"Baiklah."

Kemudian mereka berdua naik Elang Bayang tersebut dengan posisi Fang di depan dan Ying di belakang.

"Sudah siap?"
Tanya Fang.

"OKAAY."

"Elang Bayang... TERBAAANG!."

Kemudian Elang Bayang tersebut mulai mengepakkan sayapnya kemudian terbang.

Di udara, Ying bisa merasakan udara sejuk menerpa rambutnya yang tidak terkuncir itu. Matanya berkaca-kaca melihat indahnya langit senja dari jarak yang dekat seakan ia bisa menyentuhnya.
Ying merentangkan tangannya menikmati hembusan angin sejuk.
Fang yang melihat hal tersebut mengambil tidak menyianyiakan kesempatannya.

"Ying, kita akan melaju lebih cepat, pegangan!"

Ucap Fang memberitahu secara mendadak, lalu Elang Bayang itu tiba-tiba melaju tiga kali lebih cepat. Ying tersentak saat tiba-tiba melaju lebih cepat kemudian tangannya refleks memegang sesuatu agar tidak jatuh. Tentu saja, sesuatu apalagi yang dapat dipegang Ying selain seseorang yang ada di depannya.
Dengan refleks tangan Ying melingkar di perut Fang.

"DEG.. DEG..."

Ying kembali merasakan gejala aneh pada jantungnya. Ia sangat malu saat ini, tapi jujur saja entah kenapa Ying merasa nyaman seperti ini. Ying dapat merasakan aroma tubuh pria yang sedang ia dekap itu. Aroma parfum beraroma anggur terasa damai di hidung gadis cina itu.
Karena Fang tidak protes, Ying hanya diam dengan posisi yang masih seperti tadi. Bahkan Fang malah tersenyum senang melihat tingkah Ying.
Disepanjang perjalan, mereka masih terus berpelukan seperti itu. Bahkan Fang saking merasa enaknya, ia mengurangi kecepatan laju Elang Bayang secara diam-diam dan perlahan-lahan agar tidak ketahuan.
Anehnya Ying yang menyadari kalau laju Elang Bayang sudah melambat, ia malah memperat tangannya yang melingkar memeluk Fang.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah Ying, mereka masih terus berpelukan seperti sepasang kekasih.

Sesampainya di rumah Ying, hari sudah malam. Sebelum Ying masuk, mereka kembali berbincang tepat di depan pintu.

"Umm... terima kasih Fang... "
Ucap Ying dengan kepala menunduk menahan malu.

"Untuk?"

"U-untuk semuanya... "

"Tidak, seharusnya aku yang berterima kasih padamu karena kau bersedia menemaniku tadi. Terima kasih Ying."
Ucap Fang dengan senyum tulus di akhir kalimat.

"Umm... i-iya, sama-sama Fang, aku masuk dulu Fang."

Setelah pintu tersebut menutup, Fang kembali bersuara dari balik pintu.

"Mimpi indah malaikat cantikku... "

"DEG.. DEG..."

Ying yang masih dibalik pintu mematung seketika mendengarnya.
Mukanya seakan baru di cat tebal warna merah.
Kini serasa ada jutaan bunga berwarna-warni di dalam hatinya. Kini ia serasa melayang ke udara. Ying berpikir mungkin seperti ini rasanya saat Yaya terbang di udara. Ah.. tidak. Ini berbeda dengan saat terbang. Bukan hanya tubuh yang melayang, tapi hatipun ikut melayang.
Ying baru menyadari kalau tadi sebenarnya Fang mengajaknya kencan.
Ia terus bertanya pada dirinya sendiri saat berbaring di kasur. Seribu kali ia telah bertanya pada hatinya sendiri dan semua jawabannya tetap sama.
Yaitu di hatinya memang ada perasaan tidak biasa pada Fang.
Ia sempat tidak percaya kalau dirinya sendiri dapat jatuh cinta pada orang seperti Fang. Orang yang terkesan sangat dingin. Tetapi Ying dapat menemukan kehangatan di antara sifat dingin Fang.
Kini ia sudah mengakui penuh kalau ia memang sudah jatuh cinta pada seorang pria yang namanya kini terasa indah di hati Ying. Dan nama orang itu adalah "FANG".

Ya... mungkin begitulah cara Fang untuk meperjuangkan cintanya dan mendapatkan hati Ying.

*FLASHBACK END*

Yaya masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Ia tidak percaya kalau senyuman bisa tercipta di bibir Fang.

"KRIIIINNGG... "

Dering bel yang menyadarkan seorang manusia yang tengah berada di atas pohon.
Boboiboy berubah ke mode Halilintar dan masuk ke kelas menggunakan Gerakan Kilat untuk menghindari Yaya.

"Gerakan Kilat!"

Setibanya di kursinya, Gopal yang tepat berada di samping tempat Boboiboy muncul langsung terkejut tak terkira. Bahkan Gopal hingga kejang-kejang dan akhirnya terjatuh.
Boboiboy tidak menghiraukannya karena ia lebih terkejut melihat Yaya yang duduk di depannya sedang menundukan kepala dan terlihat badannya sangat lemas.
Boboiboy semakin merasa bersalah. Ia sekarang sangat ingin sekali melihat gadis berhijab itu riang gembira seperti biasanya.
Bahkan sampai guru datang dan menjelaskan materi, Yaya terlihat seperti malas-malasan tidak seperti biasanya.
Bahkan, yang biasanya buku Yaya terlihat penuh dengan tulisan catatan dan rangkuman yang Yaya buat dari penjelesan guru, kini terlihat bukunya nampak kosong sepi tanpa satu hurufpun rangkuman. Hanya ada tugas-tugas yang memang terpaksa Yaya kerjakan.

*SKIP TIME*

"KRIIIIINGG... "

Bel sekolah yang berbunyi untuk kedua kalinya yang berarti waktu istirahat telah tiba. Kebanyakan orang menghabiskan waktu istirahatnya untuk mengisi perut di kantin. Sebagian ada juga yang sekedar bermain bersama dilapangan.
Terlihat Gopal langsung melesat seperti jet munuju ke kantin dengan membawa perutnya yang besar sudah mulai menipis kelaparan.
Lain halnya dengan Boboiboy. Ia hanya melamun dan memikirkan cara untuk meminta maaf pada Yaya yang masih duduk di depannya.
Boboiboy menelenan ludah dan tekadnya sudah bulat untuk minta maaf pada Yaya sekarang.
Namun ia terlambat. Baru saja ia menyiapkan ancang-ancang untuk berdiri, tiba-tiba saja Ying menghampiri Yaya lalu mengajaknya ke kantin. Yaya hanya menurut dan beranjak pergi bersama Ying. Boboiboy melihat punggung mungil Yaya dengan sendu. Ia sangat menyesali dirinya sendiri.
Sekarang ini Boboiboy sungguh ingin melakukan apa saja supaya gadis manis itu dapat kembali tersenyum meskipun ia harus memakan biskuit mematikan itu. Boboiboy lalu mengingat sesuatu. Biskuit yang Yaya berikan padanya tadi, mungkin ia bisa menerimanya sekarang. Tapi sepertinya Yaya tidak akan memberi biskuitnya lagi untuk yang kedua kalinya setelah Boboiboy menolaknya mentah-mentah. Boboiboy baru menyadari kalau dirinya terlalu berburuk sangka. Ia terlalu percaya jika biskuit Yaya tadi pasti rasanya tidak enak. Meskipun Boboiboy sangat senang saat Yaya bilang biskuit ini spesial hanya untuknya dan Yaya membuatnya hingga larut malam hanya untuk membuat biskuit tersebut, tapi ia merasa ngeri saat membayangkan rasanya.
Boboiboy mulai penasaran dengan biskuit tadi. Ia terus melirik tas Yaya yang di dalamnya berisi biskuit. Boboiboy melirik seluruh sudut yang ada di kelas. Ya. Di kelas itu hanya ada Boboiboy murid yang lain sudah keluar kelas semenjak bel istirahat. Boboiboy mengangguk kecil setelah dirasa keadaan aman. Boboiboy bangkit dari kursinya dan melangkahkan kakinya menuju kursi Yaya sambil melirik keluar jendela untuk memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Setelah di kursi Yaya, ia menelan ludah sebelum mulai membuka resleting tas Yaya. Ia terus mencari sesuatu dengan grasak-grusuk karena buru-buru. Alhasil isi tas Yaya berantak oleh tangan Boboiboy yang terus berkeliaran di dalam tas.
Boboiboy terus membongkar tas tersebut sambil sesekali melihat sekitar. Setelah terus mencari, akhirnya Boboiboy menemukan apa yang ia cari. Sepaket biskuit Yaya dengan pita cantik berwarna pink membalut bungkusnya. Boboiboy langsung menutup cepat semua resleting yang terbuka ketika Boboiboy mendengarkan suara beberapa murid tengah menuju ke dalam kelas. Setelah semua resleting tertutup, Boboiboy langsung duduk di kursinya dengan membawa biskuit Yaya di gengamannya. Kelas mulai sedikit ramai karena beberapa murid yang datang dengan membawa makanan masing-masing dari kantin.
Boboiboy hanya menatap ragu-ragu bungkus biskuit di tangannya. Seperti biasa biskuit Yaya indah dari luar tapi buruk di dalam. Di dalam bungkus itu semua biskuitnya berbentuk hati. Namun kini sedikit berbeda. Baru pertama kali Yaya membuat biskuit berbentuk hati dengan berbagai macam warna. Warna-warni biskuit itu seakan menggambarkan keadaan hati Yaya. Boboiboy terus menatap ragu biskuit di tangannya. Ia sudah sebanyak tiga kali menelan ludah sepanjang melirik biskuit tersebut.
Dengan jantung yang berdebar, Boboiboy membuka pita pink itu secara perlahan. Ia mulai membuka bungkus tersebut dengan tangan yang gemetar. Gejala aneh mulai terjadi ketika bungkus biskuit tersebut terbuka. Aroma coklat yang sangat menyengat menguar dari dalam bungkus. Aroma yang sangat menggugah selera bagi siapa saja yang menghirupnya. Boboiboy mengambil sepotong biskuit bentuk hati itu yang berwarna pink dengan warna biru di tepi biskuitnya. Sebelum melahapnya, Boboiboy terlebih dahulu berdoa dan berharap kalau ia tidak pingsan di sekolah. Rasa penasarannya kini telah mengalahkan keraguannya. Tangan Boboiboy serasa berat saat mendekatkan biskuit Yaya pada mulutnya. Aroma coklat semakin terasa menyengat saat hidungnya mendekat dengan biskuit. Mulutnya terbuka menyambut biskuit yang sudah menunggu. Keanehan kembali terjadi. Biskuit dimulutnya serasa sangat lembut dan lunak saat gigi putih Boboiboy menggigitnya. Ia mulai menggerakan rahangnya kaku untuk mengunyah biskuit tersebut. Wajah Boboiboy terlihat mengkerut saat ia sedang mengunyahnya pertanda sudah siap dengan rasanya. Keanehan itu ditutup dengan rasa biskuit itu. Lidah Boboiboy serasa riang gembira menikmati biskuit tersebut. Mata Boboiboy membulat sempurna. Sangat tidak di sangka, dapat tercipta rasa seperti ini dari biskuit Yaya. Dan Boboiboy masih tidak percaya dengan lidahnya sendiri. Baru kali ini Boboiboy bisa merasakan biskuit lezat yang dibuat oleh Yaya. Dan sekaligus Boboiboy adalah orang pertama di dunia yang dapat merasakan nikmatnya biskuit Yaya. Wajah Boboiboy damai seketia saat terus menguyah biskuit itu sampai habis. Setelah habis, Boboiboy masih tidak percaya dengan keajaiban dunia ke delapan yang ia saksikan.

'Apa ini benar biskuit Yaya? apa ini benar buatannya?'
Batin Boboiboy bertanya sambil memerhatikan biskuit yang tinggal separuh karena ia telah memakan separuhnya.

'Apa jangan-jangan... hanya kebetulan saja? jangan-jangan hanya biskuit ini saja yang enak.'

Boboiboy kemudian mengambil kembali tiga buah biskuit dari dalam bungkus. Ia kemudian memakan habis ketiga biskuit itu dan rasanya tetap sama. Keempat biskuit yang telah ia makan habis semuanya rasanya manis dan gurih.

'Tapi... sepertinya biskuit dengan bentuk yang seperti ini hanya Yaya membuatnya. Hmm... mungkin memang benar ini buatannya.'
Batin Boboiboy terus memerhatikan biskuit itu lalu melahapnya.

Boboiboy mulai ketagihan dan terus memakan biskuit Yaya dengan lahap sampai mulutnya penuh dengan biskuit.

Tak lama kemudian datang pria india bertubuh gempal tengah berjalan menuju kursinya sambil membawa banyak makanan dan minuman di kedua tangannya yang sudah menggunung. Saking banyaknya makanan itu sampai-sampai menutupi wajah sang empunya. Gopal melempar semua makanannya ke meja lalu duduk.
Boboiboy yang duduk di sebelahnya masih sibuk dengan makanannya.
Gopal kemudian mulai membuka bungkus sebatang coklat lalu menyantapnya. Saat Gopal sedang memakan sebatang coklat itu, ia sedikit terkejut kala melihat Boboiboy yang sepertinya sedang lahap memakan biskuit yang mirip seperti biskuit Yaya. Gopal terus memandang teman sebangkunya yang tengah lahap memakan biskuit.

'Ah... itu mungkin bukan biskuit Yaya, mungkin hanya kebetulan saja bentuknya mirip dengan biskuit buatan Yaya'

Gopal terus memerhatikan Boboiboy sambil menguyah coklatnya.
Lama-lama Gopal penasaran juga. Ia tidak yakin dengan dugaannya itu. Setelah menelenan coklatnya, Gopal akhirnya bertanya.

"Oii... Boboiboy, apa yang kau makan itu? kau beli di mana?"

"Nyam-nyam-nyam... Oooh... ini, aku sedang makan biskuit Yaya, tapi jangan bilang siapa-siapa ya?"
Jawab Boboiboy dengan mulut yang masih penuh dengan biskuit.

"APA! KAU MAKAN BISKUIT YAYA!"

Teriak Gopal sangat kencang dengan kedus tangan yang terangkat keatas. Alhasil sebatang coklat yang ada di tangannya tadi kini terlempar dan telah menempel manis di wajah Iwan yang ada disampingnya.
Teriak Gopal sudah membuat seisi kelas melirik ke arah Boboiboy. Untung saja di dalam kelas itu tidak terlalu ramai karena jam istirahat. Tapi berita ini pasti akan menyebar dengan cepat.
Boboiboy cepat-cepat menelan gumpalan biskuit di mulutnya lalu berkata.

"HEY! Kan sudah ku bilang jangan beritahu pada SIAPAPUUN!"
Bisik Boboiboy pada Gopal.

"Eee.. hehehe... "
Cengengesan Gopal tidak jelas.

"KRIIIIIING... "
Bunyi bel masuk kelas.

"ALAMAAK! AKU BELUM SELESAI MAKAN!"
Seru Gopal panik.

Tanpa pikir pangjang, Gopal langsung menaruh semua makanannya yang ke dalam tasnya.
Boboiboy buru-buru menaruh bungkus biskuit yang tinggal tersisa setengah itu kedalam tas sebelum Yaya tau kalau ia mengambilnya. Yaya pasti akan marah kalau ia tau Boboiboy telah mengambil biskuitnya begitu saja.

*SKIP TIME*

"KRIIIIINGG... "

Semua murid dengan semangat membereskan tas mereka masing-masing lalu bergegas pulang. Boboiboy sudah kehabisan akal bagaimana cara untuk meminta maaf pada Yaya. Tapi ia tidak akan menyerah begitu saja. Boboiboy harus bertanggung jawab atas kesalahannya.

Yaya baru sadar kalau seisi tasnya sudah berantakan seperti habis di bongkar saat ia sedang membereskan tasnya.
Ia terus memeriksa setiap barang yang ada di tasnya, dan semuanya masih ada di tempat dsn utuh. Kecuali... kecuali sepaket biskuit yang tadinya Yaya ingin membuangnya sepulang sekolah. Tapi setelah mengetahui barangnya sudah hilang, Yaya hanya mengangkat bahunya enteng dan merasa tidak peduli.
Terlihat Yaya kini telah selesai membereskan tasnya lalu beranjak pulang sendiri. Ya. Kini Ying entah ada urusan apa lagi dan dengan tega membiarkan Yaya pulang sendiri lagi.
Boboiboy yang melihat itu mencoba mengambil kesempatan dengan membuntuti Yaya.

*DI JALAN*

Kini keadaan Yaya pulang sama seperti berangkat sekolah tadi. Gadis berhijab itu jalan dengan lesu bagaikan orang yang sedang berpuasa.
Boboiboy yang melihatnya dari belakang hanya bisa merasa iba sekaligus merasa bersalah.
Setelah membulatkan tekadnya, Boboiboy memberanikan diri mendekati gadis tersebut.

"Umm... hai Yaya!"
Sapa Boboiboy ragu-ragu.

"Oh... Boboiboy, hai... "
Jawab Yaya lesu.

Beberapa menit setelah itu mereka hanya diam dalam keheningan. Sampai akhirnya.

"Boboiboy." / "Yaya."
Sapa mereka berdua bersamaan.

"Eh... "
Ucap mereka bersamaan.

"Kau saja duluan."

"Umm... kau, duluan saja Yaya."

Kedua orang itu hanya terdiam sejenak dan salah tingkah. Sampai akhirnya.

"Aku minta maaf... "
Ucap mereka berdua kembali bersamaan.

"Lho.. kok bisa sama?"
Tanya Boboiboy heran.

Yaya hanya diam saja.

"Kau minta maaf untuk apa? seharusnya aku yang minta maaf."
Tanya Boboiboy kembali.

"Umm... itu, anu... aku minta maaf karena... aku terlalu memaksamu untuk memakan biskuitku tadi... "
Jawab Yaya dengan nada merendah.

"Eh?"

"Lalu kau sendiri Boboiboy? kenapa kau meminta maaf?"

"Umm... sebenarnya, aku ingin minta maaf karena telah terlalu berburuk sangka kepada biskuitmu. Padahal biskuitmu tadi itu sangat enak."

"Eh?"
Ucap Yaya heran.

UPS! , Boboiboy secara tidak sengaja telah memberi tau kalau dirinya telah mengambil biskuit Yaya.
Boboiboy berpikir pasti sebentar lagi Yaya akan mengamuk begitu tau dirinya telah mengambil biskuitnya tanpa izin.

"Boboiboy kau tau dari mana? apa kau di mana biskuitku? soalnya biskuitku itu... tadinya inginku buang, tapi sudah menghilang entah kemana."

"Lho? memangnya kenapa kau ingin membuangnya?"

"Habis... aku sudah menyerah untuk membuat biskuit, aku tidak pernah bisa membuat biskuit yang enak."
Jawab Yaya lesu.

"Biskuit itu sudah ku buat susah payah dengan resep yang sulit bagiku. Walaupun dengan resep yang berbeda... tapi pasti rasanya sama saja. Aku memutuskan kalau itu adalah biskuit terakhir yang kubuat.
Mungkin aku akan berhenti untuk membuat biskuit."
Tambah Yaya.

Boboiboy makin merasa bersalah. Mungkin kesalahannya kini sudah melewati batas.

"Umm... memangnya biskuit itu padamu?"
Tanya Yaya

Boboiboy langsung keringat dingin setelah mendengar pertanyaan tersebut. Kini ia terlalu panik untuk memikirkan alasan untuk berbohong. Akhirnya Boboiboy hanya bisa pasrah dan mengaku.

"Oh... itu, umm... ma-af Yaya a-aku mengambilnya dari tasmu tanpa izin saat istirahat tadi."
Ucap Boboiboy sembari mengeluarkan biskuit Yaya dari tas.

Yaya menerimanya dan matanya membulat ketika melihat biskuit yang didalamnya tinggal tersisa setengah.

"Lho? kok tinggal setengah? apa yang setengahnya k-kau... membuangnya?"
Tanya Yaya.

"Umm... ma-maaf Yaya, se-sebenarnya... yang setengahnya lagi sudah aku makan. Habisnya... biskuitmu yang satu ini sangat enak, aku tak tahan lalu aku makan setengahnya."
Ucap Boboiboy dengan kepala yang menunduk.

"Ja-jadi... ma-maaf aku telah memakan biskuitmu... "
Tambah Boboiboy.

"Jadi... aku mohon Yaya, janganlah berenti membuat biskuit. Karena biskuitmu yang ini benar-benat enak."

Setelah mendengar alasan Boboiboy, Yaya langsung menatap Boboiboy dengan mata yang berkaca-kaca.
Boboiboy masih menunduk. Siap untuk kena amukan Yaya karena ia telah menolak biskuit Yaya, tapi ia malah memakannya tanpa izin begitu saja.

"A-apa itu benar Boboiboy?."

Boboiboy hanya mengangguk kecil mengakui kesalahannya.

Senyum akhirnya mengembang kembali dibibir gadis itu. Tanpa ragu Yaya langsung memeluk Boboiboy. Sedangkan yang dipeluk wajahnya memerah dan kebingungan dengan tingkah gadis berhijab ini.

"Terima kasih Boboiboy, hiks... hiks... "
Ucap Yaya tersendu-sendu.

Tetesan air mulai membasahi bahu si pria bertopi terbalik. Boboiboy merasakan tubuh gemetar dari orang yang memeluknya.

"Eh... Untuk apa Yaya?"

Boboiboy berpikir kalau ia akan di marahi habis-habisan oleh Yaya. Tapi kenyataannya sangat berbeda dari bayangannya.

"Te-terima kasih karena kau telah memujiku, hiks... hiks... , memujiku dengan tulus."

Yaya mempererat pelukannya lalu kembali berkata.

"Mungkin , hiks... , biskuit itu akhirnya bisa menjadi enak karena aku membuatnya sungguh-sungguh hanya untukmu. Hiks... , karena aku membuatnya dengan setulus hatiku."

"DEG... DEG... "
Detak jantung Boboiboy.

Boboiboy tak menyangka kalau Yaya begitu sangat perhatian padanya hingga seperti itu. Hati Boboiboy tersentuh mendengarnya. Akhirnya Boboiboy membalas pelukan Yaya dengan mengelus rambut yang tertutup hijab pink tersebut. Tangis Yaya makin menjadi-jadi. Tentu saja tangisan itu tangisan bahagia.

Setelah dirasa tangisan Yaya sudah sedikit mereda, Boboiboy melepaskan pelukannya, lalu menatap Yaya dengan penuh perhatian.

"Sudahlah Yaya, jangan menangis lagi. Kau tetap akan membuat biskuitkan?
KAN? KAN KAN?"
Ucap Boboiboy sambil mengusap mata Yaya dengan kedua tangannya.

Yaya tertawa kecil mendengar Boboiboy menirukan kata-katanya. Lalu ia mengangguk kecil tanda menurut.

"Nah... sekarang kau tidak perlu lagi untuk menjual atau memberi biskuitmu yang enak ini pada orang lain."

"Tidak. Aku tidak akan memberi biskuit baruku ini pada orang lain."
Ucap Yaya dengan wajah yang murung.

"Lho? memangnya kenapa? biskuitmu yang barukan sangat enak?"

"Karena aku hanya akan memberikannya padamu... "
Ucap Yaya dengan kepala menunduk menyembunyikan wajah yang malu.

"Eh?"

"BLUSSS"
Wajah Boboiboy memerah dalam sekejap.

Mereka berdua lalu pulang dengan masing-masing hati yang berbunga-bunga.

Di malam harinya, Boboiboy lonjat ke ranjangnya sambil berteriak.

"YEAAAH! WUHUUUU!"
Teriak Boboiboy.

Entah kenapa hari ini ia merasa begitu senang. Ia lalu memandangi senyum kertas bertulisan nomor telpon pujaan hatinya kemudian mengambil ponsel.
Ia mengirim pesan ke nomor tersebut dengan isi pesan seperti ini.

Boboiboy: ( Yaya, apa kau sudah tidur? )

Setelah menunggu beberapa menit, ponsel Boboiboy berbunyi.

Yaya: ( Belum, memangnya kenapa? )

Boboiboy: ( Umm... tidak apa-apa )

5 menit kemudian.

Boboiboy: ( Yaya? )

Yaya: ( Apa? )

Boboiboy: ( Good night... )

Setelah itu belum ada balasan dari Yaya.
Sambil menunggu, Boboiboy merenung sambil melirik langit-langit kamarnya.
Ia berpikir kenapa biskuit Yaya setelah sekian tahun lamanya, baru kali ini rasanya enak. Boboiboy bertekad akan memperjuangkan cintanya ini meski apa pun yang terjadi, ia akan terus menjaga agar ikatan tidak putus.

Mungkin kata orang memang benar kalau "Kekuatan cinta sangat kuat, dan bisa membuat hal yang mustahil sekalipun."
Bahkan saking kuatnya bisa membuat biskuit Yaya menjadi enak.

Boboiboy pikir mungkin Yaya sudah tidur karena sudah lama belum ada balasan dari Yaya.
Tanpa sadar, Boboiboy terlelap di ranjangnya. Tak lama setelah ia tidur, ponselnya kembali berbunyi di tengah malam, namun sang pemilik masih terus tertidur.
Dan pesan tersebut berisi.

Yaya: ( Good nighg too, ...My Love... )

*To Be Continue*

A/N:

OKE, mungkin ni fanfic makin lama makin GAJE. Karena mungkin cuma di fanfic ini doang Biskuit Yaya bisa enak karena cinta dan di cartoonnya mungkin hal itu tidak akan pernah terjadi.
BTW, para reader kira-kira mau HAPPY ENDING atau SAD ENDING? Silahkan klik review bagi yang mau berpendapat.
OKE... sampai ketemu lagi di chapter selanjutnya!