PRACTICE
CH. 4 — Aggressive
by diciassette
Warning(s): vulgar-language(!); masturbation(!); no-childern-area(!)
you better close this tab because this chapter contain 18+ thingies.
i've told you, guys.
Mingyu menatap pintu besi berwarna putih di hadapannya sambil mengatur nafasnya yang hilang-hilangan. Dengan geram tangan kirinya memukul-mukul permukaan pintu sehingga menimbulkan suara yang bising.
Mingyu menurunkan tangannya ketika melihat kenop pintu yang berputar—menandakan seseorang di dalam sedang membukakan pintu untuknya.
"Keparat mana yang seperti orang kesetanan mengetuk pintu—"
Urat-urat di sekitar pelipis Mingyu terlihat ketika melihat siapa yang membukakan pintu untuknya. Seungcheol belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Mingyu menghujaminya dengan tinju di sekitar rahang dan wajahnya. Seungcheol bahkan terjatuh dengan Mingyu yang berada di atasnya sambil memukuli wajahnya.
Well, alasannya menurunkan tangan ketika melihat kenop pintu berputar adalah dia takut kalau Wonwoo yang membuka pintunya dan dia kelepasan memukul sahabat manisnya. Kalau ternyata yang menyambutnya adalah si Choi keparat Seungcheol ini, Mingyu tidak ragu-ragu untuk melayangkan pukulan bahkan tendangannya sekalipun.
"Apa yang kau lakukan dengan Wonwoo bajingan?!" Gigi Mingyu bergemelatuk marah. Dia benar-benar tidak memberikan Seungcheol kesempatan untuk melawan.
"Tunggu—uhk! Hey tunggu dulu!" Seungcheol berteriak kencang, membuat Mingyu menghentikan tinjunya—tapi tetap memegang erat kerah bajunya.
"Wonwoo ada di dalam sialan! Aku belum menyentuhnya sama seka—"
Mingyu memotong ucapan Seungcheol dengan menendang perutnya membuat Seungcheol terbatuk-batuk sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri. Mingyu bergegas memasukki kamar itu dan betapa leganya dia ketika mendapati Wonwoo yang tengah duduk di atas sofa. Mingyu berjalan mendekati Wonwoo dengan senyumnya. Mingyu berjongkok untuk mensejajarkan wajahnya dengan Wonwoo yang sedang duduk.
"Hey, kau tidak apa-apa?" tanya Mingyu sambil mengelus pipi putih Wonwoo yang terlihat merona. Mingyu menggeram rendah. Apa benar si keparat Seungcheol belum melakukan apa-apa pada Wonwoo? Kenapa wajah Wonwoo merona seperti itu?
Wajah Mingyu berubah serius. Mingyu mengapit dagu Wonwoo dengan ibu jari dan telunjuknya—mengarahkan kepala Wonwoo untuk menghadap ke arahnya. "Apa yang Seungcheol lakukan padamu?" tanya Mingyu dominatif.
Wonwoo menatap Mingyu sejenak sebelum kembali menundukkan kepalanya. Kedua tangannya meremas celana bagian tengahnya yang tampak mengetat. Kepala Wonwoo terasa berputar-putar dan hasratnya yang meminta untuk dipuaskan membuatnya pusing. Sebenarnya minuman macam apa yang baru Wonwoo minum barusan?
Mingyu membuang wajahnya ke samping dan mendesah frustasi. Mata Mingyu menelisik penampilan Wonwoo dari atas sampai bawah.
"Hey..." Mingyu menajamkan matanya sambil mendekatkan dirinya ke Wonwoo. Tangannya menarik sedikit kerah baju Wonwoo dan sialan! Dia menemukan sebuah kissmark di sana. Mingyu mengalihkan pandangannya ke arah Wonwoo dengan tatapan kesal.
"Maafkan aku kalau aku lancang Wonwoo, tapi aku benar-benar tidak suka dia menandaimu seperti ini." Adalah kata-kata yang Mingyu ucapkan sebelum pemuda berkulit tan itu mendekatkan bibirnya ke leher Wonwoo.
Mingyu menjilat dan menyesap kissmark yang dibuat Seungcheol dan menggantikannya dengan miliknya—membuat kissmark itu semakin memerah dan mengecupnya lembut. Wonwoo menggigit bibirnya dengan keras untuk menahan lenguhan yang keluar dari bibirnya. Mingyu menggigiti kissmark barunya dan menjauhkan wajahnya dari leher Wonwoo. Mingyu menatap wajah Wonwoo yang memerah dan tersenyum kecil menatap mahakaryanya.
"Nah, punyaku lebih baguskan, Wonwoo?" tanya Mingyu dengan wajah polosnya. Wonwoo hanya diam dan menunduk. Mingyu menautkan alisnya bingung.
Mingyu ingin bertanya kenapa tetapi melihat Seungcheol yang sepertinya akan bangkit mengurungkan niatnya dan membuatnya bergegas menyelipkan tangannya di antara kaki dan pundak Wonwoo lalu membawa sahabatnya keluar dari kamar itu dengan cepat.
"Sialan kau Kim Mingyu!" umpat Seungcheol ketika Mingyu berjalan melewati tubuhnya yang masih diliputi rasa nyeri.
.
.
Mingyu mendudukkan Wonwoo di mobilnya dengan hati-hati da menutup pintu mobilnya. Dia memutari mobilnya dan memasukki seat pengemudi. Mingyu menoleh ke arah Wonwoo yang menundukkan kepalanya. Mingyu menghela nafas saat menyadari Wonwoo belum mengenakan seatbelt-nya.
Mingyu mencondongkan tubuhnya ke arah Wonwoo dan menarik seatbelt di sisi Wonwoo. Wonwoo sedikit terkejut ketika mendapati leher jenjang Mingyu berada tepat di depan matanya.
"Sial, kenapa harus tersangkut segala..." Mingyu mengumpat sambil menarik-narik seatbelt yang sepertinya tersangkut. Dan entah dorongan dari mana, Wonwoo dengan beraninya mendekatkan bibir plum-nya ke leher jenjang Mingyu.
Mingyu menghentikan kegiatannya yang tengah sibuk menarik seatbelt ketika merasakan sebuah material yang lunak menyusuri kulit lehernya. Mingyu memejamkan matanya ketika merasakan sensasi aneh dari daging tak bertulang milik Wonwoo.
Mingyu membuka matanya lebar-lebar ketika menyadari jemari Wonwoo mulai merambat mengelus dada bidangnya dan perlahan membuka dua kancing teratas kemejanya. Mingyu menggeleng keras dan menahan tangan Wonwoo—membuat Wonwoo kebingungan dan menatap Mingyu.
Mingyu tersenyum dan mencium kening Wonwoo lembut. "Tidak, Wonwoo. Aku tidak mau merusakmu. Aku seharusnya menjagamu, tapi karena kebodohanku, Seungcheol berhasil menodaimu, a—aku minta maaf—"
Wonwoo menyumpal mulut Mingyu dengan bibirnya. Persetan dengan bagaimana dia harus bertemu dengan Mingyu besok, yang ia butuhkan sekarang adalah memuaskan hasratnya agar penisnya tidak sakit lagi.
Mingyu lagi-lagi memutuskan ciuman Wonwoo dan menatap Wonwoo dengan tatapan yang serius. "Kau sedang tidak sadar Wonwoo. Aku tidak mau melakukannya saat kau tidak sadar." Ucap Mingyu sambil memasangkan seatbelt Wonwoo dengan cepat an kembali ke tempatnya.
Wonwoo merengut dan Mingyu mengabaikannya. Dia berusaha mengemudi dengan tenang walaupun libidonya sedang meletup-letup karena serangan tiba-tiba dari Wonwoo tadi. Sepertinya dia harus meminjam kamar mandi apartement Wonwoo untuk menidurkan adiknya nanti.
.
.
Mingyu menendang pintu kamar Wonwoo dan berjalan mendekati ranjang berseprai putih milik Wonwoo. Dia meletakkan tubuh Wonwoo di sana dengan hati-hati. Mingyu melepaskan kedua sepatu yang masih menempel di kaki Wonwoo agar tidur Wonwoo tidak terganggu.
"Mingyu..."
Mingyu menoleh ke arah Wonwoo yang sedang menatapnya dengan mata sayunya. Suara serak Wonwoo yang memanggil namanya membuatnya ingin sekali menyumpal bibir pink Wonwoo dengan miliknya.
"Mingyu, kemarilah."
Mingyu menurut dan duduk di sisi ranjang. "Kenap—" Mingyu membulatkan matanya ketika Wonwoo menarik lehernya dan menyatukan bibir mereka. Wonwoo melumat bibir atas dan bawahnya bergantian dengan tergesa-gesa. Mingyu awalnya membalas lumatan Wonwoo dengan tidak kalah hebatnya sebelum kesadarannya kembali. Dia menjauhkan bahu Wonwoo sehingga ciuman mereka terputus.
Dia tertawa kecil dan menyisiri rambut Wonwoo yang sedikit berantakan. "Kalau sedang mabuk, Jeon Wonwoo benar-benar agresif ya."
Wonwoo mendengus kecil. "Aku ini tidak mabuk sama sekali, Mingyu!"
Mingyu menaikkan sebelah alisnya bingung. Tidak mabuk? Jelas-jelas Wonwoo berperilaku seperti orang mabuk—tunggu! Berperilaku seperti orang mabuk bukan berarti dia sedang mabukkan?
"Kau tidak mabuk? Benarkah?" Mingyu mengerjapkan matanya saat Wonwoo mengangguk mantap.
"Kalau begitu, ini berapa?" tanya Mingyu sambil menunjukkan kelima jarinya.
Wonwoo memutar matanya malas. "Lima."
Mingyu berdecak kagum. Wonwoo memang murid yang pintar di sekolahnya tapi kalau dia bisa berhitung dalam keadaan mabuk itu berarti Wonwoo sejenis dewa atau apa?
"Aku ini siapa?" tanya Mingyu lagi.
"Mingyu. Kim Mingyu si hitam."
Mingyu berdecak kesal dan melanjutkan sesi pertanyaan bodohnya. "Kalau kau siapa?"
Wonwoo mendecih malas dan menatap Mingyu sinis. "Hey! Aku itu benar-benar tidak mabuk!" geram Wonwoo.
Mingyu masih dalam mode lambannya. "Lalu... kalau kau tidak mabuk, apa kau sadar apa yang daritadi kau lakukan padaku?" Pertanyaan Mingyu membuat Wonwoo menutup mulutnya rapat-rapat.
Tentu saja dia sadar.
"Aku... aku sadar."
Mingyu membulatkan matanya. Wonwoo sadar? Hell! Dia jadi menyesal karena menolak Wonwoo berkali-kali.
"Pasti ada yang tidak beres denganmu, Wonwoo." Ucap Mingyu. Wonwoo menatap Mingyu sekilas dan kembali menundukkan kepalanya.
"Ya kau benar... Aku... aku tidak tahu bagaimana tapi aku rasa setelah aku meminum blue—blue carcao yang Seungcheol berikan, tiba-tiba saja aku..." Wonwoo menggigit bibrnya, merasa tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya. Pipinya bersemu.
Mingyu menukikkan alisnya. "Kau kenapa?" tanyanya tidak sabar.
Wonwoo semakin menundukkan kepalanya. "Aku hard. Dan... uh—Mingyu aku tidak tahan! Ini sakit sekali!" adu Wonwoo kemudian melepas pegangannya pada celana bagian tengahnya.
Mingyu melotot sempurna melihat celana Wonwoo yang terlihat mengetat.
"Jangan memandanginya seperti itu, idiot!" geram Wonwoo. Mingyu terkekeh pelan sambil menggaruk tengkuknya canggung.
"Apa kau bisa masturbasi, Wonwoo?"
Pertanyaan Mingyu membuat Wonwoo kembali menundukkan kepalanya dan menggeleng pelan. Berciuman saja tidak bisa, apalagi masturbasi?
"Ah—bagaimana ya?" gumam Mingyu kebingungan. Wonwoo menatap cemas Mingyu.
Setelah beberapa saat berpikir, Mingyu membuka suaranya. "Kau hanya perlu menyentuhnya saja kok." Ucap Mingyu agak ragu. Wonwoo mengerutkan dahinya.
"Me—menyentuhnya?"
Mingyu mengangguk mantap.
Wonwoo menelan ludahnya yang terasa mengganjal dan mulai membuka zipper celananya dengan perlahan. Dia mengeluarkan penisnya yang sudah mengeras.
"Hell, itu kecil sekali! Seperti setengah milikku!" jerit Mingyu dalam hati ketika melihat penis kecil Wonwoo.
Wonwoo mulai menyentuh adiknya yang membuat Mingyu gemas karena pergerakkan Wonwoo terlalu lamban dan pasti tidak menghasilkan efek apapun. Baru dua menit—atau satu menit Wonwoo sudah menyerah dengan peluh yang membanjiri dahinya.
"Aku tidak bisa melakukannya, Mingyu! Astaga, sentuhan itu semakin menyiksaku!"
Mingyu memandang Wonwoo dengan gemas. Apa yang harus mereka lakukan sekarang?
"Apa kau mau aku membantumu, Wonwoo?"
.
.
A/N: so, guys! that's all for this chapter! ah, akhirnya jadi juga chapter ke-4. aku udah bilang lho di atas kalau ini bakal ada masturbation thingy-nya dan aku juga udah kasih fanfict ini rated m ya. hehe. maafin aku telat update-nya huhu harusnya update tanggal 12 tapi baru update sekarang. semoga chapter ini ga terlalu mengecewakan kalian walaupun aku tau masih kurang hot ya? ihihihi tunggu chapter selanjutnya ya~
oh, ya sekalian, aku mau balesin beberapa review:
hamipark76 : makasih ya, kalau kamu suka fanfict aku, aku jadi seneng hehehe tapi karena fanfict-ku yang ini rated m jadi mungkin adegan ambigu-nya bakal banyak nih /cries/
wan UKISS : ah, kamu tanya wonwoo suka ga sama mingyu? hm~ gimana ya~
safabelle : astaga HAHAHAHA kenapa aku ketawa baca review kamu ya? ini udah dilanjut kok~ semoga ga mengecewakan kamu ya!
wonuemo : god, please! i love your avatar sooo much, bae~ hehe kalau buat dipanjangin kayanya belum bisa karena aku masih amatiran(?) but thank you!
Iceu Doger : mingyu sebenarnya polos kok cuma dia khilaf aja(?) hahaha
naaah~ sampai jumpa lain waktu! jangan siders dong huhu. akhir kata, review please!
