Title: Not so Awesome love story!

Rating: T

Summary: Kesalahan kecil yang diperbuat Austria membuat Prussia berhenti mengunjunginya! Seharusnya ia merasa senang karena Prussia berhenti mengganggunya. Namun, saat Prussia malah menjadi akrab dengan Canada, apakah Austria akan merasa lega atau malah… cemburu?

Warning: Sho-ai, Semi AU, agak sedikit OOC, cerita aneh yang gak jelasnya minta ampun, etc.

Pairings: AustriaxPrussiaxAustria (bingung mau yang seme yang mana! XD), PrussiaxCanada, Brotherly!GermanyxPrussia, and others (mostly just hint) that will be mentioned in later chapter! (it's still a secret da~!) 8D

A/N : yahoo, minna-san! Maaf atas keterlambatannya! Niatnya sih saya ingin mengupload chapter ini lebih cepat, tapi ternyata… SMA bikin rusuh. Yang MOS lah, yang LDKS lah, yang tugasnya kebanyakan lah! Semuanya benar-benar bikin saya capek lahir batin tuh! Dasar sekolah gila… *dilempar kentang*

Eto, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Pembaca yang numpang baca (nama yang aneh… =.=;) yang telah memberikan informasi tentang G8 pada saya. Saya benar-benar lupa bahwa G8 belum terbentuk saat perang dunia kedua… (habisnya menonton Hetalia benar-benar membuat pengetahuan sejarah saya jadi berantakan… Timeline hetalia terus berganti-ganti sih!) Maafkan saya! *bows* karena itu, keterangan tentang hal itu akan saya masukkan di sini:

G8 memang terbentuk setelah perang dunia kedua berakhir, namun seperti yang saya katakan di chapter sebelumnya, anggap saja bahwa G8 sudah terbentuk walaupun perang dunia kedua masih berlangsung! (penjelasan yang maksa memang XD) dimohon pengertiannya! ^^

Eem… karena sepertinya banyak yang penasaran dengan bagaimana Prussia dan Canada bisa akrab, saya akan membuat chapter sendiri tentang pertemuan pertama mereka dan di chapter ini juga akan ada angst fluff! PruCan lho~ jadi, berbahagialah! *Author ditendang ke sutet*

Di chapter ini, porsi penjelasan dan dialognya agak lebih banyak daripada chapter sebelumnya karena saya ingin lebih memperdalam lagi dekskripsi mengenai seluruh peristiwa yang terjadi, jadi kalau ada banyak paragraph yang panjang, mohon dimaklumi… 15 halaman Microsoft word lebih bo~ isn't it awesome? XD

Ah, iya, terima kasih juga untuk xxx Cross D Yukito xxx yang telah memaparkan kesalahan saya di chapter lalu! Saya benar-benar tidak sadar kalau Disclaimer-nya ada dua! XD Thanks, akang Yuki~! X3

Tanpa berbasa-basi lagi, ENJOY!

Disclaimer : Boro-boro punya, movie hetalia yang Ginmaku Hetalia : paint it white! aja saya belum nonton! T^T (emang ada hubungannya ya?)

~~~~~~~~~~~~~~~O~~~~~~~~~~~~~~~

NOT SO AWESOME LOVE STORY!

Part 4: Awkward

~~~~~~~~~~~~~~~O~~~~~~~~~~~~~~~

Austria POV

"Gi-gilbert?" Tanyaku terbata-bata. Kekagetan tergambar jelas pada nada suaraku.

Perkembangan ini… sama sekali di luar perkiraanku…

Aku memang sudah berencana menemuinya untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini, namun tak kusangka ia yang akan berkunjung ke sini terlebih dahulu! Lagipula, sekarang juga bukanlah waktu yang tepat! Aku sama sekali belum mempersiapkan mentalku! Apa yang harus kukatakan padanya sekarang pun aku tak tahu!

Apa yang harus kulakukan sekarang?

Otakku berputar keras, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk kuucapkan pada laki-laki albino di depanku. Namun, hal itu terbukti sia-sia mengingat otakku yang tak bisa menyeimbangi kondisi hatiku yang benar-benar tak stabil sekarang.

Ya, yang kumaksud adalah perasaanku yang benar-benar berantakan sekarang.

Semuanya campur aduk. Rasa panik, kaget, bingung, kesal, ketakutan namun juga…

…Bahagia…

Semua perasaan yang dengan seenaknya muncul tanpa diundang itu sama sekali tak bisa kukendalikan dengan baik. Membuatku mematung di hadapan Gilbert, seperti seorang narapidana yang sedang menunggu hukuman yang setimpal dari kesalahannya.

"…Oy! Roderich!" Panggilan kencang Gilbert menyadarkanku dari kepanikanku.

"Y-ya?" Jawabku pelan, betapa aku membenci suaraku yang terdengar bergetar ini!

"Kapan kau akan membiarkanku masuk? Kau tak berniat membuatku berdiri di sini seharian kan?" Ujarnya dengan wajah cemberut, membuatku sedikit menelan ludah.

Kalau aku yang biasanya pasti sudah langsung memukul kepalanya akibat gaya bicaranya yang tak sopan itu… Ugh, semua masalah ini benar-benar mengacaukan cara berpikirku!

Dengan pikiran itu, aku pun menghela napas dan mempersilahkannya masuk ke rumahku.

Sepertinya hari ini akan jadi hari yang panjang…

Memikirkannya saja langsung membuatku kembali menghela napas…

~~~~~~~~~~~~~~~O~~~~~~~~~~~~~~~

Ugh, Atmosfer diruangan ini… benar-benar tidak nyaman…

…Mungkin cuma diriku saja yang merasakannya karena sepertinya daritadi Gilbert terlihat tenang-tanang saja sambil bermain dengan burung kecilnya itu di sofa kamarku…

Mein gott, sekarang aku merasa seperti orang bodoh…

Apa Gilbert sama sekali tidak merasa canggung dalam keadaan seperti ini? Kenapa dia bisa sesantai itu sementara aku segugup ini? Padahal kan seharusnya kita ada dalam posisi yang sama!

"Emm, Gilbert?" Ujarku pelan, gugup.

"Hn? Apa?" Mata anggur itu mengalihkan pandangannya ke arahku, membuatku menelan ludah dan kehilangan kemampuan bicaraku. "Ugh…"

Ketidakmampuanku untuk berbicara saat itu menyebabkan kesunyian, hal yang biasanya sangat tak mungkin kurasakan bila sedang bersama Gilbert, menyelubungi ruangan luas yang nyaman itu. Membuat suasana nyaman yang diberikan ruangan itu berubah menjadi suatu kecanggunan yang sangat tak nyaman.

"…Bukankah sudah merupakan suatu keharusan bagi seorang tuan rumah untuk menyuguhkan sesuatu pada tamunya ya?" Ujar Gilbert memecah keheningan sambil memperlihatkan seringai penuh kemenangannya ke arahku.

"Ya, aku tahu… Kalau begitu, apa yang ingin kau minum Gilbert?" Tanyaku makin gugup. Beraninya dia mempermainkanku seperti itu! Betapa inginnya aku mencekik laki-laki yang sedang menyeringai ke arahku sekarang! Namun, tentu saja… aku tak dapat melakukannya. Setidaknya tidak sekarang.

Awas kau Gilbert…!

"Bir, dan jangan lama-lama Roderich~!" Jawabnya yang lalu kembali bermain dengan burung kesayangannya itu. Aku pun menghela napas lagi untuk kesekian kalinya hari ini.

"Baiklah. Tunggulah sebentar di sini, Gilbert…" Ujarku sebelum bangkit dari kursiku dan beranjak keluar kamar. Terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri yang ingin segera melarikan diri dari atmosfer tak nyaman ini sehingga aku tak melihat pandangan tajam Gilbert yang terus mengikuti langkahku dan helaan napasnya…

~~~~~~~~~~~~~~~O~~~~~~~~~~~~~~~

Normal POV

"Hmm… daging sudah… sayuran sudah… apalagi ya yang harus kubeli?" Gumam Eliza sambil mengingat-ingat kembali apa ada bahan makanan yang lupa ia beli di supermarket tempatnya berpijak sekarang, "yah, sepertinya tak ada…" Lanjut Eliza sambil mengangguk. Ia pun langsung membawa seluruh belanjaannya dan berjalan ke kasir untuk membayarnya.

Baru saja personafikasi dari Negara Hungary itu ingin memberikan belanjaannya ke kasir sebelum suara yang familiar memanggilnya,

"Hungary!" Mendengar suara yang sudah tak asing lagi itu, Hungary pun membalikkan badannya untuk bertemu mata dengan pemilik rambut pirang yang tersisir rapi dan mata biru langit yang telah memanggilnya tadi itu, "Oh, hallo, Germany! kau sedang berbelanja juga?" Tanya Hungary sambil tersenyum lembut.

"Ah, iya… Italy berniat untuk membuat pasta (lagi) untuk makan siang, dan karena aku tak ingin dia tersesat atau membeli hal-hal aneh di sini, aku yang berbelanja untuknya…" Ujar Ludwig sambil tersenyum kecut. Membuat senyum Hungary semakin melebar.

"Pfftt, Ita-chan memang tak pernah berubah ya?" Ujar hungary sambil tertawa kecil. Mengingat saat-saat dimana Italy masih berada di bawah kekuasaan Austria selalu membuatnya tertawa.

"Hah, iya, tak salah lagi… Ah, ngomong-ngomong, apa sebelum kau pergi ke sini kau melihat Bruder datang ke mansion Roderich?" Tanya Germany.

"Eh? Gilbert? Kenapa ia mau-bukankah dia dan Austria-san sedang… kau tahu? Mengalami masa-masa sulit?" Eliza malah balik bertanya, kekagetan tergambar jelas di wajahnya.

"Eh? Kau tak melihatnya datang? Apa ia belum sampai ya? Dan ya, ia benar-benar ingin datang ke rumah Roderich. Ah, sebenarnya bukan ia yang berniat datang, aku yang menyuruhnya datang ke sana" Ujar pemuda Jerman itu sambil menghela napas.

"Ka-kau? Menyuruhnya datang ke mansion Austria-san? Kenapa?" Tanya Eliza semakin bingung. Sebenarnya apa yang ingin diraih Germany dengan menyuruh Prussia untuk mengunjungi Austria-san?

"Aku hanya tak ingin melihat keadaan Roderich semakin memburuk… aku yakin kau mengetahui apa maksudku, Hungary…" Ujarnya, rasa khawatir tergambar jelas di wajahnya.

'Ah, iya… Hari ini Germany memang datang ke mansion Austria-san ya?' Batin Hungary.

"Ya… aku mengerti maksudmu, cepat atau lambat seseorang memang harus menggerakkan salah satu dari mereka. Namun, bagaimana caranya kau menyuruh Gilbert datang? Kau belum lama pulang bukan?"

"Ya, aku memang belum lama pulang. Aku menelpon Spain dan memintanya yang kebetulan sedang mengadakan pertemuan dengan errm… kalau tak salah namanya Canberra atau apalah itu, untuk memberikan telfonnya ke Bruder yang sedang berada di sana dan menyuruhnya mengunjungi Roderich. Harus kuakui bahwa agak susah meyakinkannya untuk akhirnya mau menurut, namun aku tetap berhasil." Jelas Germany sambil tersenyum kecil. Ada rasa bangga yang ia rasakan dari keberhasilan kecilnya itu.

"Ah begitukah? Aku mengerti sekarang. Tapi, aku masih belum mengerti Germany… Aku tahu bahwa kau dan Austria-san memang sangat dekat, namun kenapa kau berusaha sejauh ini untuknya? Bukankah kau yang biasanya hanya akan mengambil posisi netral dan membiarkan orang yang salah bertanggung jawab?" Tanya Hungary, sambil menaikkan alisnya. Alasan Germany yang sebenarnya benar-benar membuatnya penasaran.

"Mengenai hal itu aku hanya… " Germany berhenti sejenak, kelihatannya ia sangat enggan mengatakan alasan yang sebenarnya, "Aku hanya… tak ingin melihat wajah Gilbert yang terlihat benar-benar terluka saat aku membicarakan Roderich untuk kedua kalinya… Sudah cukup tiga kali aku melihat ekspresinya yang seperti itu (1)…" Ujar Germany dengan ekspresi penuh sesal, kedua tangannya telah mengepal di sampingnya. Melihat Ekspresi Germany membuat Hungary merasa menyesal telah menanyakan pertanyaan itu.

"M-maafkan aku telah mengingatkanmu dengan ingatan yang tak menyenangkan, Germany. Tapi, walaupun kau selalu keras terhadapnya… ternyata kau memang sangat menyayangi Gilbert ya?" Tanya Hungary, senyum lembut sekali lagi menghiasi wajahnya. Betapa beruntungnya Gilbert mempunyai seorang adik, yang sebenarnya lebih cocok menjadi kakaknya, yang benar-benar peduli dengan padanya.

"Tak apa-apa, kau tak bersalah Hungary. D-dan tentu saja aku menyayanginya… walaupun ia sangat menyebalkan, namun ialah keluargaku satu-satunya…" Jelas Germany lembut, rona merah sedikit menghiasi wajahnya. Membuat Eliza benar-benar menyesal tidak membawa kamera digitalnya hari ini.

"T-tapi kuharap kau tak mengatakan hal ini kepadanya… i-ini sangat… m-memalukan…" Lanjut Ludwig. Rona merah semakin menghiasi wajah pemuda itu. Terlihat sekali bahwa ia merasa sangat malu dan menyesal telah mengatakan hal itu pada Hungary, namun senyum lembut tetap menghiasi wajahnya.

'I-imutnya…! Hari ini memang bukan hari keberuntunganku!' Batin pelayan Austria itu sambil menahan tangis.

"Ya, aku mengerti Germany… Gilbert benar-benar beruntung mempunyai saudara sepertimu… walaupun terkadang aku bingung sebenarnya siapa yang kakak dan siapa yang adik di antara kalian…" Ujar hungary sambil tertawa kecil, membuat rona merah di wajah Germany semakin bertambah.

"H-hungary… bukankah sebaiknya kau segera membayar barang belanjaanmu dan kembali pulang?" Tanya Germany, terlihat sekali bahwa ia ingin mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya Hungary ingin lebih menggodanya, namun melihat wajah "aku-ingin-segera-kabur-dari-sini-sebelum-Italy-meledakkan-sesuatu di-rumah-lagi" milik Germany, ia mengurungkan niatnya.

'Aw, ia benar-benar lucu~ Ingatkan aku untuk memasang beberapa kamera tersembunyi di rumah Germany suatu hari nanti!' Batin Hungary sambil menyeringai kecil.

"Ah iya! sebaiknya aku memang segera pulang, akan repot kalau aku tak kembali dan menyiapkan makanan untuk-" Hungary tak dapat menyelesaikan kata-katanya saat otaknya menyadari sesuatu yang seharusnya sudah bisa ia sadari sebelumnya.

Austria-san… yang hampir sama sekali tak peka akan dirinya sendiri… harusmenghadapi Prussia di saat yang sangat tidak tepat… di saat di mana ia sama sekali belum tahu menahu bagaimana ia harus menghadapi laki-laki itu … sendirian…

…Sendirian….

"AKH! Gawat! Ini berbahaya!" Teriak Eliza sambil mengacak-acak rambut panjangnya itu. Barang belanjaannya telah jatuh terbengkalai ke lantai.

"A-ada apa Hungary?" Tanya Germany dengan ekspresi bingung. Sebenarnya apa yang terjadi pada wanita yang baru sedetik yang lalu terlihat sangat tenang tadi?

"I-ini gawat Germany! A-austria-san pasti sama sekali tak tahu apa yang harus ia lakukan bila berhadapan dengan Prussia! Kalau ia bertemu dengan Prussia sekarang… semuanya bisa jadi bencana! Lagi pula ia juga belum menyadari perasaanya! Ini berbahaya!" Jelas Hungary panik. Para pengunjung toko itu langsung berhenti dan memandangnya dengan tatapan aneh.

"Te-tenangkan dirimu Hungary, aku mengerti bahwa keadaan ini memang agak berbahaya, namun apa yang kau maksud dengan Roderich belum menyadari perasaannya?" Ujar Germany berusaha menenangkan Hungary, pandangan dari orang-orang di sekitar mereka mulai membuatnya tak nyaman.

Mendengar pertanyaan terakhir Germany, Perempuan berambut coklat itu langsung terdiam, "E-eh? Ka-kau tak menyadarinya?" Hungary hanya bisa bertanya balik.

"Hah? Menyadari apa?" Entah kenapa Germany pun malah ikut bertanya balik. Membuat Hungary menepuk dahinya sendiri.

'DUH! Ia bisa menyadari solusi dari masalah Austria-san dan Prussia dengan mudah namun tak dapat menyadari perasaan Austria-san?'

"AKH! Yang namanya laki-laki itu memang hampir semuanya tak ada yang peka dengan yang namanya perasaan!" Teriak Hungary seraya berlari keluar dari toko itu, tak memperdulikan teriakan Germany yang menanyakan ada apa sebenarnya dengan dirinya dan mau diapakan barang belanjaan yang ditinggalkannya itu.

~~~~~~~~~~~~~~~O~~~~~~~~~~~~~~~

"Hey, Gilbird… keadaan ini benar-benar tidak Awesome…" Ucap Gilbert pada teman kecilnya yang lucu itu.

Gilbird hanya bisa memandang majikannya dengan mata hitam kelam besarnya.

Se-awesome apa pun Gilbird, burung tetap tak bisa bicara. Andai saja Gilbert bisa mengerti hal itu…

"Apa yang harus kita lakukan sekarang kita sedang berada di mansion yang tak awesome ini?" Tanya Gilbert pada anak burung yang sedang berkicau riang di atas kepalanya itu. Saat ia tak mendapatkan jawaban, ia hanya bisa menghela napas dan merebahkan tubuhnya di sofa kamar Roderich.

'Ngomong-ngomong soal Roderich… ia belum juga kembali…' Batin Gilbert sambil menutup matanya. Berusaha membuat dirinya tertidur sehingga ia tak harus berhadapan dengan si mata empat yang tak awesome itu.

Sungguh, sebenarnya ia benar-benar tidak tahu apa yang akan ia lakukan atau katakan saat ia bertemu dengan Roderich, bukannya ia gugup – yang benar saja! Gugup itu sangat tak awesome! Dan sesuatu yang tidak awesome tak pernah muncul dalam kamus awesome-nya! – namun ia hanya tak tahu apa yang sebaiknya ia perbuat.

Semuanya benar-benar membuatnya bingung.

'Mein gott, dasar West sialan… kalau saja ia tak menyuruh- tidak, tidak! Menyembah padaku untuk datang ke sini, aku pasti sedang bersantai-santai bersama Mattie sekarang!' Batin Gilbert sambil mendengus kesal, mengingat alasannya datang ke sini saja sudah membuatnya kesal!

Flashback

Beberapa jam yang lalu di Rumah Canada…

"MATTIE~! Buatkan aku pancake~!" Seru Gilbert sambil memeluk Canada dengan manja, namun tetap dengan tenaga yang dimiliki seorang prajurit militer. Membuat yang dipeluk kehabisan napas.

"G-gil! K-kau meremukkanku! La-lagipula bukankah kau sudah memakan 3 buah Pancake barusan?" Tanya Matthew sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Gilbert. Beruang yang selalu menemaninya telah kabur menyelamatkan dirinya sendiri entah kemana sesaat sebelum Gilbert memeluknya. Meninggalkan sang majikan untuk menghadapi pemuda serampangan nan manja itu sendirian.

'Ku-kumakichi kau penghianat!' Batin Canada sambil meringis. Di suatu tempat, terdengar suara nge-bass berkata, "Aku Kumajirou…"

"Ja~ tapi aku masih lapar Mattie~ buatkan aku satu lagi!" Pinta Gilbert sambil makin menguatkan pelukannya pada Canada, tak menyadari bahwa pelukan – mautnya – itu dapat memberi dampak fatal bagi yang dipeluk.

Matthew, yang menyadari bahwa menolak berarti mati konyol, hanya bisa menghela napas dan menuruti keinginan pemuda berambut perak itu, "I-iya-iya! Kau menang Gil! Aku akan membuatkanmu lagi! Tapi lepaskan dulu pelukanmu padaku! Aku tak dapat membuatnya jika kau tetap menempel padaku!" Ujar Matthew, mencoba menyelamatkan nyawa semata wayangnya itu.

"Yeah! Kesesese~ Itu baru Mattie-ku yang awesome~!" Ucap Gilbert sambil menyeringai lebar. Membuat rona merah tampak di wajah Matthew.

'Ma-mattie-ku…?' Matthew mengulang kata-kata Gilbert dalam hatinya, yang membuat wajahnya semakin memanas. Pemuda berambut ikal itu pun membalas seringainya dengan senyum malu-malu. Oh, pancake… apa Gilbert tak menyadari bahwa kata-katanya itu dapat diartikan sebagai sesuatu yang… intim?

"E-eh… aku akan membuat pancake-nya sekarang, kau duduk manis di sini dan jangan buat keributann ya, Gil?" Goda Matthew sambil beranjak pergi ke arah dapur. Tawa kecil dapat terdengar keluar dari bibirnya saat ia melihat Gilbert memberi hormat padanya sambil berkata, "Aye, aye, sir~!". Sungguh, Gilbert memang benar-benar lucu dan kekanak-kanakan sekali!

"Nah~ Apa hal awesome yang harus kita lakukan sambil menunggu Mattie membuat pancake-nya, Gilbird?" Tanya Gilbert pada burung kecilnya.

Gilbird hanya berkicau riang. Membuat sang pemilik makhluk kecil itu memeluk peliharaannya dengan penuh kasih sayang. Gilbird memang sangat awesome dan imut sekali~!

Merasa tak ada hal yang dapat ia lakukan sampai Matthew kembali, Gilbert pun hanya membenamkan mukanya di meja makan rumah personafikasi Negara Canada itu. Membiarkan derai angin sejuk berhembus mendera wajahnya, membiarkan suara alunan piano dari radio milik Matthew menenangkan dirinya…

Piano…

"…Kau yang otaknya hanya bisa digunakan untuk berperang saja dan bahkan sudah bukan Negara, mana mengerti apa yang harus dirasakan oleh negara sepertiku?"

"…KH!" Suara meja makan yang bergetar dan berbagai peralatan makan yang jatuh berantakan di lantai dapat terdengar dari ruang makan rumah Canada. Membuat sang pemilik rumah yang sedang berada di dapur terlonjak kaget dan segera bergegas kembali ke tempat kejadian. Hanya untuk menemukan Gilbert yang sedang berdiri terengah-engah dan mengumpat kesal di sana. Cangkir teh yang sudah ia sediakan untuk Prussia telah jatuh terpecah belah di lantai.

"Gi-gil…" Gumam Canada pelan. Keadaan meja makannya yang agak berantakan membuatnya sedikit terguncang. Mendengar seseorang memanggil namanya, laki-laki bermata anggur itu pun mengalihkan pandangannya pada Canada. Dan apa yang Canada lihat saat itu, benar-benar membuatnya menelan ludah…

Ekspresi Gilbert saat itu… benar-benar menyeramkan…

Tidak…

Mungkin menyeramkan bukanlah kata yang tepat.

Menyesakkan lebih bisa menggambarkan ekspresi Gilbert saat itu.

Namun, sejenak setelah ekspresi itu muncul, ekspresi itu menghilang. Tergantikan dengan seringai yang biasa ia perlihatkan pada semua orang. Walaupun Canada tahu betul bahwa seringai itu terlihat sangat terpaksa. Beratus-ratus tahun mengamati para Negara lain membuatnya dapat memahami dengan mudah arti dari ekspresi mereka.

"A-ah, yo, Mattie! Maaf aku membuat meja makanmu berantakan! Kakiku terpeleset tadi!" Ujar Gilbert sambil menyeringai kecil. Terlihat sekali bahwa yang ia katakan adalah kebohongan. Bahkan Gilbert sendiri juga dapat merasakannya. Namun, ia tak dapat berbuat banyak, semua logika meninggalkan dirinya saat ingatan itu muncul ke permukaan.

Sampai sekarang pun, mengingat hal itu masih membuatnya kehilangan kontrol akan emosinya.

Dan itu adalah hal yang paling ia benci sekarang.

Hal yang menunjukkan betapa lemahnya dirinya…

Dan tentu saja… Canada yang sudah menghabiskan waktu lebih dari 2 minggu bersama pemuda itu dapat menyadarinya. Ini juga bukan pertama kali Canada melihat ekspresi Gilbert yang seperti itu. Beberapa kali saat ia meninggalkan Gilbert, ia kembali hanya untuk melihat Gilbert mengacak-ngacak rambutnya dan memasang ekspresi yang benar-benar sama dengan saat ini.

"Apanya yang terpeleset, Gil? Kalau kau memang terpeleset, mengapa kau memasang ekspresi seperti itu? Sebenarnya ada apa denganmu?" Tanya Matthew memberanikan dirinya. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan Prussia.

"Ha-hah? Apa yang kau katakan, Mattie? Tentu saja aku tak apa-apa! Well, kakiku sedikit sakit namun yang lainnya awesome-awesome saja tuh!" Ujar Gilbert sambil menggaruk-garuk kepalanya. Masih berusaha bertingkah bodoh untuk mengelabui Matthew.

Dan hal itu… membuat sang Canadian bermata violet itu benar-benar kesal.

"Hentikan omong kosongmu Gilbert! Mau sampai kapan kau mempermainkanku? Kau pikir aku sebegitu bodohnya sampai tak menyadari perubahan pada dirimu? Semua ini benar-benar membuatku muak Gil…! Sebenarnya ada apa dengan-!"

"MEMANG APA YANG KAU MENGERTI?" Teriakan tiba-tiba Gilbert membuat Canada tak bisa berkata-kata lagi. Ini pertama kalinya Gilbert membentak atau berteriak padanya.

"Gi-gil..." Ucap Canada terbata-bata.

"Memangnya apa yang mengerti?" Gilbert kembali mengucapkan kalimat itu. Mata anggurnya memandang tajam kea rah Matthew. Membuat pemuda personafikasi Negara Canada itu menelan ludah.

"Kau tak mengerti apa pun namun kau tetap saja berusaha melibatkan dirimu! Memang apa yang bisa kau lakukan? Semua ini… tak ada hubungannya denganmu Matthew!" Pekik Gilbert kesal. Amarah telah mengontrol dirinya seutuhnya sehingga ia sama sekali tak menyadari apa yang ia katakan pada Canada. Tak menyadari efek dari kata-kata itu terhadap pemuda pirang itu.

Dan tentu saja… kata-kata itu… benar-benar menyakitkan…

"Y-ya… aku memang tak mengerti apa pun…" Canada memulai dengan suara kecil. Menundukkan kepalanya, berusaha menahan tangis. Menyadarkan pemuda albino di hadapannya dari keadaan penuh emosinya tadi.

'A-apa yang sudah kulakukan?' Batin Gilbert panik.

"Ma-mattie, aku…!"

"Seperti katamu. mungkin memang tak ada hal yang dapat orang sepertiku lakukan untukmu…" Ucap Mattie, kali ini gilirannya yang memotong ucapan Gilbert.

"Namun, kalau begitu… sebenarnya untuk apa aku ada di sini, Gilbert?" Lanjut Matthew pelan. Air mata memang tak jatuh dari pelupuk matanya, namun ekspresi Matthew saat itu merupakan ekspresinya yang paling menyedihkan yang pernah Gilbert lihat. Jauh lebih menyedihkan dari ekspresinya pada saat mereka pertama kali bertemu dulu.

"...Mungkin… aku memang bodoh karena peduli padamu, Gilbert…" Ujar Matthew sambil tersenyum kecut. Setelah mengatakan itu, ia pun beranjak pergi meninggalkan Gilbert keluar ruang mekan. Meninggalkan pemuda itu dengan seluruh rasa bersalah yang ia rasakan.

"…Dasar… BODOH!" Seru Gilbert kesal sambil membenturkan kepalanya ke meja makan. "…Sakit…" Ujarnya sambil meringis.

'Namun… yang ia rasakan pasti lebih sakit lagi…'

"Apa yang sebenarnya kupikirkan? Kenapa malah mengulang kesalahan yang mirip seperti itu lagi?" Ujarnya Prussia pelan sambil kembali membenturkan kepalanya ke meja makan. Berharap dengan begitu semua rasa bersalahnya akan terselubung oleh rasa sakit, dan menghilang.

'Apa aku akan kehilangan… tempatku… lagi?'

Begitulah pemikiran pemuda albino itu sebelum ia melihat Canada kembali ke ruang makan sambil membawa sebuah pancake dan secangkir maple syrup.

"Ke-kenapa kau kemba-mpppfh!" Gilbert tak bisa menyelesaikan kata-katanya saat sepotong pancake dimasukkan secara paksa, namun dengan lembut, ke dalam mulutnya oleh Canada.

"A-apa yang kau lakukan? Bukannya kau sudah pergi keluar tadi? Kenapa kau ada di sini?" Pekik Gilbert bingung saat ia telah menelan pancake lezat yang ada dalam mulutnya tadi.

"Hm? Tentu saja aku memberikanmu pancake yang kau minta tadi Gil. Dan siapa bilang aku pergi keluar? Aku ada di dalam dapur sejak tadi. Untuk pertanyaan terakhirmu tentu saja aku boleh berada di manapun aku mau, ini rumahku." Ujar Canada datar sambil memotong pancake yang ia pegang menjadi potongan-potongan kecil.

"Ta-tapi tadi kau kan-mppphhh! Mapwhew!" Gilbert tak dapat menyelesaikan kata-katanya lagi saat Matthew menyuapkan sepotong pancake (secara paksa) ke dalam mulutnya untuk kedua kalinya.

"Diam dan makanlah Gilbert. Jangan mengatakan apa pun dengan mulut penuh" Perintah Matthew dengan ekspresi serius. Saat itulah Gilbert memutuskan untuk diam saja dan membiarkan Matthew menyuapinya dalam hening.

Sebelum…

"…Aku memang tak dapat melalukan apapun… aku bahkan tak mengetahui pokok permasalahan yang kau hadapi… namun…" Ujar Matthew pelan, sampai-sampai Gilbert harus mendekatkan telinganya kea rah mulut Matthew untuk mendengarnya.

"…Namun?" Tanya Gilbert, penasaran akan apa yang ingin diucapkan Matthew.

"Namun aku pun… setidaknya punya hal yang bisa aku lakukan untukmu kau tahu! Walaupun mungkin hal itu hanya hal kecil yang bisa dilakukan siapapun, aku juga… punya peran dalam hidupmu! Kau juga selalu datang padaku kan? Karena itu jangan seenaknya mengatakan bahwa semua ini tak ada hubungannya denganku… Gilbert!" Jelas Matthew penuh determinasi, walaupun mukanya sekarang sudah semerah tomat. Terlihat sekali bahwa ia berusaha terlalu keras untuk menahan tangisannya dan terlihat kuat.

"Pffft! Ja, ja, kau yang menang Matthew. Kau benar, mukamu itu benar-benar membantuku ceria kembali Matthew!" Goda Gilbert seraya mengacak-acak rambut kuning keemasan Matthew dan menyeringai nakal. Membuat wajah Matthew semakin memerah, yang seharusnya merupakan hal yang tak mungkin, mengingat betapa merahnya muka Matthew sekarang.

"Gi-Gil! Jangan mengolok-olokku lagi!" Protes Matthew sambil berusaha menghentikan tangan Gilbert yang masih terus saja mengacak-ngacak rambutnya.

Walaupun kata-kata Gilbert tadi bagi orang lain terdengar tak lebih dari sekedar olokan, namun Matthew tahu, bahwa itu adalah cara Gilbert menyampaikan terima kasih dan permohonan maaf padanya. Dan kalau harus jujur, dibanding apapun, sebenarnya hal itulah yang menyebabkan rona wajah Matthew menjadi semerah ini.

"Kesesese~ tapi itu menyenangkan Mattie~!" Ujar Gilbert, masih menyeringai nakal. Ingin ia lebih mengoda Matthew lagi sebelum ia mendengar bel rumah Matthew berbunyi, "Hmm? Boss-mu?" Tanya Gilbert.

"Eh? Oh, tidak, bukan dia, hari ini aku ada meeting dengan Spain. Apa aku belum mengatakannya padamu?" Jelas Canada yang telah kembali ke ekspresinya yang biasa.

"Nein, kau tak mengatakan apa pun padaku. Ya sudahlah, lebih baik kau cepat membuka pintunya sebelum si Spaniard itu mulai meneriakkan hal-hal bodoh mengenai tomat!" Ucap Gilbert sambil menyeringai kecil. Membuat senyum kecil ikut terkembang di bibir Matthew.

"Hahaha, iya juga ya? Baiklah, aku akan membuka pintunya, kau tunggu di sini saja, Gilbert!" Ujar Canada sebelum pergi meninggalkan Gilbert dan membukakan pintu untuk Spain.

Canada pun membukakan pintu rumahnya, "Ya, Canada di sini, apa ka-UAGH!" Canada tak bisa melanjutkan kata-katanya saat pintu rumahnya menghantam keras wajahnya.

"Hola, amigo~! are? Kenapa tak ada orang di sini?" Tanya Antonio saat ia beranjak masuk ke dalam rumah Canada namun tak melihat siapapun di sana. Tentu saja ia sama sekalki tak menyadari kehadiran Canada di sana.

"Yah, sudahlah~ mungkin ia sedang pergi ke toilet~ aku masuk saja!" Ujar Antonio dengan santainya sebelum masuk ke dalam rumah Canada. Meninggalkan Matthew yang sedang meringis kesakitan sambil memegangi wajahnya.

'Ughh… lagi-lagi…' Batinnya sambil menghela napas dan beranjak pergi menyusul Antonio.

~~~~~~~~~~~~~~~O~~~~~~~~~~~~~~~

"Ara? Gilbo, kau ada di sini?" Tanya Antonio bingung saat melihat teman minum birnya itu sedang duduk santai sambil memakan pancake di meja makan. "Kupikir kau telah kabur dari rumah entah kemana, amigo!" Lanjutnya.

"Siapa yang kabur dari rumah hah? Darimana kau mendapatkan informasi gila seperti itu, Antonio?" Tanya Gilbert menahan marah.

"Hahaha, yah… belakangan ini kau tak pernah bermain denganku dan Francis lagi dan Francis bilang kau tak tak ada di rumahmu ataupun rumah Roderich jadi kupikir kau kabur dari rumah! Hahaha!" Jawab Antonio santai.

"Tentu saja tidak lah! Apa kau bercanda? Aku hanya mencari suasana baru saja! Jangan berfikir yang tidak-tidak bodoh!" Pekik Gilbert kesal kepada Antonio, namun seperti biasa, Antonio hanya tertawa.

"Si, si! Kalau begitu kenapa kau ada di sini sendirian Gilbert? Pergi kemana si errr, Carnaval itu?" Tanya Antonio.

"Di belakangmu, bodoh…" Jawab Gilbert sambil menunjuk Canada yang sebenarnya sudah ada di sana sejak tadi dengan garpunya.

"Uwah! Kau benar! Sejak kapan kau ada di sini, Carnaval?" Ujar Antonio kaget saat ia melihat Matthew ada di belakangnya.

"…Aku sudah berada di belakangmu sejak kau masuk ke ruangan ini Antonio… Lagipula, namaku Canada bukan Carnaval…" Jelas Canada sambil menghela napas, "Aku akan membuatkan minuman untukmu, kau tunggulah di sini bersama Gilbert, Antonio…" Lanjut Canada sebelum ia beranjak ke dapur.

"Wow, aku tak tahu Canada berbakat menjadi ninja…" Ujar Antonio, nada suaranya penuh dengan rasa kekaguman.

"…Semua negara di dunia selain diriku juga berpendapat begitu…" Ujar Gilbert pelan sambil menyeringai kecil.

Baru saja Spain ingin duduk di kursi yang ada di sebelah Prussia sebelum dering handphone miliknya menghentikannya.

"Hola! Espana di sini~ Dengan siapa aku bicara?" Ujar Spain menjawab handphone-nya dengan riang.

"Oh! Ludwig? Ada apa? …Eh? Gilbert? Si! Dia ada di sini! Kenapa, kau ingin aku memberikan handphoneku kepadanya? …Boleh saja!" Ujar Spain pada orang yang menelponnya, yang ternyata adalah Germany.

"Hey, mi Amigo~ Ludwig ingin bicara padamu!" Ujar Spain sambil memberikan handphone miliknya pada Prussia.

"Ada apa, West?" Tanya Gilbert setelah ia menerima hanphone milik Antonio.

"Bruder… kenapa kau tak mengatakan apapun padaku soal Roderich?" Pertanyaan tiba-tiba dari Ludwig membuat mata Gilbert terbelalak.

"A-apa maksudmu West?"

"Kupikir kau tahu apa maksudku Bruder… Kenapa kau sampai melakukan hal seperti ini? Mengambek juga ada batasnya kan?" Jelas Ludwig, mencoba untuk melunakkan hati kakak laki-lakinya itu.

"A-apa? Kau tak tahu apa-apa West! Jangan berlagak layaknya kau mengetahui apa yang terjadi! Semua ini merupakan kesalahannya kau tahu? Aku hanya-!"

"…Roderich… Juga merasakan hal yang sama, Bruder…" Ucapan lembut Ludwig menghentikan seluruh kalimat protesan yang ingin dilontarkan Gilbert.

"W-was? Apa maksudmu? Merasakan… hal yang sama?" Tanya Gilbert bingung.

"Dia juga sudah menyadari bahwa itu merupakan kesalahannya… bukanklah itu sudah cukup?" Jelas Ludwig.

"Menyadari? Kau pikir hanya dengan menyadari sudah cukup West? Kalau memang ia benar-benar merasa bersalah, kenapa ia tak datang sendiri ke tempatku berada sekarang dan meminta maaf, hah?" Pekik Gilbert kesal. Semua emosi yang ia rasakan beberapa saat yang lalu ia mulai mencuat keluar kembali.

"Ja, aku mengerti… Mungkin memang tak cukup hanya dengan merasa bersalah. Namun pernahkah kau berpikir mengenai bagaimana Roderich memandang masalah ini? Tentang bagaimana posisi dan kondisinya sekarang? Pasti tak mudah baginya untuk langsung meminta maaf padamu bukan? Pasti banyak yang ia pikirkan. Bukankah hal itu, dibanding siapapun, kau yang paling mengerti, Bruder?"

Penjelasan Ludwig itu membuat Gilbert terdiam sejenak. Sepertinya ia cukup memikirkan kata-kata Ludwig.

"Dia juga menderita, kau tahu? Bahkan kupikir ia sudah mencapai batasnya…" Tambah Ludwig, mencoba untuk semakin meyakinkan kakak semata wayangnya itu.

"…Lalu apa yang sebaiknya kulakukan…?" Bisik Gilbert pelan, hamper terlalu pelan untuk terdengar oleh Germany. Untuk saja ia masih dapat menangkap kata-kata yang diucapkan Gilbert.

"Bukankah hal itu sudah jelas, Bruder?" Ucap Ludwig. Senyum kecil mulai terlihat di wajah yang biasanya terliat kaku itu.

"…Kadang-kadang aku benar-benar ingin memukulmu… West…" Ucap Gilbert yang malah membuat senyum Ludwig semakin melebar.

"Aku benci mengakui bahwa yang kau katakana memang benar, West… Bukankah seharusnya itu yang kau katakan padaku?" Goda Ludwig yang kemudian tertawa kecil saat ia mendengar Gilbert berteriak "Kubunuh kau!" dari ujung sana dan mengakhiri pembicaraan mereka secara sepihak.

"Semoga semuanya bisa berjalan lancar…" Ujar Ludwig sambil tersenyum kecil.

End of Flashback

... Dan itulah kilas balik (yang sangat) panjang mengenai alas an kenapa ia bisa berada di sini sekarang…

"Cih, kenapa aku mau-maunya menuruti keinginan West sih? Pasti ada yang salah dengan sirkuit Awesome-ku saat itu!" Maki Prussia kesal. Masih tak mau mengakui bahwa ia datang ke mansion Roderich atas keinginannya sendiri. "Lagipula, kenapa si mata empat itu lama sekali sih?" Lanjut Prussia.

Tak lama setelah kalimat itu terlontar dari mulutnya, pintu kamar Roderich terbuka dengan kencang.

"Oy, Roderich! Kenapa kau lama se-! G-gee… Hungary…!" Gilbert yang tadinya ingin memarahi Roderich atas keterlambatan dirinya yang tak awesome itu berubah haluan menjadi menelan ludah saat ia melihat Hungary berdiri di ambang pintu dengan ekspresi mautnya, frying pan sudah tergenggam erat oleh tangan kirinya.

"Gilbert… kau…" Ujar Hungary pelan. Kedua mata hijau daunnya memandang tajam mata anggur milik Gilbert. Membuat yang dipandang menelan ludah.

'Oh nein…!'

TBC

~~~~~~~~~~~~~~~O~~~~~~~~~~~~~~~

(1) Yang pertama kali itu adalah saat The dissolution of Prussia terjadi, dan yang kedua saat Prussia dan Germany harus terpisahkan oleh Berlin Wall. Menurut analisis(?) saya, mana ada Negara yang mau dihapus dari peta dunia dan dipisahkan oleh adik kesayangannya?

A/N: *Blush* U-uwah! Sumpah chapter ini panjang banget! Namun walaupun panjang, saya juga merasa sepertinya masih ada banyak hal yang kurang dalam chapter ini! Karena itu, bila kalian menemukan masih ada hal-hal yang berantakan di sini, mohon beritahu saya ya? Dan maaf jika beberapa (alias semua) character di sini terkesan sangat OOC! Saya memang payah! Please forgive me!

…Eer, Bingung mau bicara apalagi…!

…Mind to Review?