Saia nggak nyangka, ternyata masih ada yang baca bahkan me Review fic saia setelah Insiden Flamers berdarah kotor yang menyerang dan memMonyet buta kampung saia.. wkwkwk *Di pelototin Flamers* ya udahlah, lupain aja soal itu xDD
Halaman Reviews!
Kurnia : Emaknya Neji *sejak kapan jadi ndeso* udah tau sifat anaknya, makanya dia nyuruh Tenten untuk ngebuat Neji jadi suka sama dia.. biasanya yaa, cuman menurut logika gue *klo menurut yg laen tao dah?* klo seseorang sudah menyukai orang lain, otomatis perasaannya itu bisa membuat sifatnya berubah bahkan total, contoh : ce tomboy, klo lagi jatuh cinta kayak apa? Nari – nari gaje ato bisa juga nyengir2 kayak orang gila… *Tenten yg tersinggung menampar Fuun* co bences sekalipun, ada kemungkinan berubah jadi maskulin saat mempunyai orang yg disayangin. *waduh.. jadi panjang*
Riztichimaru : *nyengir lebar* okok
Deidara' Katsu-himeUn : Owh… thanks ea buat infonya xDD
Ella-cHan as NaGi-sAn : dichapter ini bakalan dibahas soal ketahuan ato nggaknya, juga ngebahas gimana reaksi Tenten kepada Neji nanti xD
AyuliaKirei : Makasih udah sempet – sempetin baca!
Tobi-san : jujur, saia makin nggak mudeng sama omonganmu… wkwkwk… Nasip Neji? Entahlah… *ditodongin piso dapur*
Zephyramfoter : Katanya Neji lagi usaha mau tobat… dia nitip salam tuh xDD. Iya, ntar saia gambar… ok, di post di profile nanti xDD
Karinuuzumaki : Oh *mulai ngerti* makasih, yosh! Saia akan berusaha semaksimal mungkin
Akasuna no NiraDEI Uchiha : Jawabannya setelah pesan – pesan berikut *dilemparin bola besi* maksudnya, jawabannya ada di chapter ini ^^
Ditha spenyk : jawabannya ada di chapter ini ^^ Owh… untunglah ^^
Rhaa Yamanaka : Arigatou ghozaimasu! Hontou nee Arigatou
PokoknyaNejiTenSlamaLamanya : xDD maaf sudah membuatmu menunggu
Sweet's Strawberry : PM ku udah nyampe kan? *nanya ga jelas* hehehe… *ketawa jayus* (Sweet : Apaaa coba?) maaph, lagi stress… lewatin aja
~ Desclaimer : ~
Masashi Kishimoto
~ Warning : ~
Don't Like? just Don't Read, OOC, ada OC kali ini, bahasa rada aneh mohon maklum, No Yuri/Yaoi, No hentai, rada Lebay mungkin
~ Story : ~
Mine
~ Title : ~
Aku Sadar Sekarang
'A.. apa ini?' pikirku saat melihat sebuah kamar yang bernuansa manis dan kecewek – cewekan seperti ini.
Di dalam kamar tersebut terdapat tumpukkan boneka yang terpajang di atas lemari pakaian. gorden di kamar tersebut juga berwarna merah hati, dan ruangan di dalam kamar tersebut terlihat sangat rapih, bahkan lebih rapih daripada kamarku. Mataku tak hentinya terbelalak, tak membiarkan sedetikpun untuk berkedip ria. Bola mataku bergerak liar, mencoba untuk menangkap segala suasana yang terdapat didalam kamar ini. 'Wha… the…?' aku semakin tercengang saat melihat sebuah keranjang besar di dalam kamar tersebut, yang isinya seperangkat alat menjahit beserta dengan hasil jahitannya yang berupa boneka, saputangan ataupun syal untuk musim dingin. Selain itu, di meja belajar tertumpuk kotak – kotak transparan yang isinya manik – manik beserta dengan talinya untuk membuat kalung dan gelang.
'Apa… Neji punya sodara perempuan ya?' sejenak dipikiranku terbesit pertanyaan tersebut
'Ta… tapi Hinata kan nggak tinggal serumah dengannya….?' Aku semakin bingung.
'Lalu, ini… kamar siapa…?'
Karena penasaran, aku sibuk mencari papan nama atau pun unsur lain yang berhubungan dengan si pemilik kamar. Tiba – tiba bola mataku membesar saat tertuju pada sebuah papan dibelakang pintu yang bertuliskan Neji's
DEG!
Jantungku memberikan reaksi penolakkan,
'Ini pasti bohong….' Aku menyangkal, mengucek – ngucek mataku dan berharap bahwa aku hanya salah lihat. Tapi, berapa kalipun kusakiti mataku, tetap saja tulisan di papan nama tersebut terbaca Neji's tidak berubah - ubah. 'Ma.. mataku… tidak salah…'
Neji datang menghampiriku, ia terlihat panik saat melihatku berdiri didepan pintu kamarnya,
"Neji… ini.." kalimatku terdengar lirih. Anggota tubuhku terasa lemas, sedikitnya aku masih berharap bahwa papan nama yang tergantung di pintu itu hanyalah kesalahpahaman.
"Maaf…" Neji meminta maaf begitu saja. Aku melihat raut wajahnya, ia menunduk dan memperlihatkan mimik sedihnya. Apa dugaanku benar?
"Ke.. kenapa minta maaf? Ini hanya kamar Hinata yang sudah lama tidak dipakai kan? Haha… pasti kamarmu ada ditempat lain. Coba tunjukkan padaku…" aku mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin. Karena aku masih mengharapan kata 'Ayo kekamarku' dari mulut Neji
"Bukan Tenten.." ternyata Neji mengucapkan kalimat yang lain dari pikiranku. "Ini… ini kamarku…." Kalimatnya yang terakhir, membuatku terkejut setengah mati. Aku memperhatikan wajahnya, ia berkata jujur.
"Ja… jangan bohong!" aku terus berkelit, nggak mungkin Neji yang keren seperti ini memiliki kelainan…
"Aku… nggak bohong Tenten… Maafkan aku… maaf sudah, mengecewakanmu.. aku.. seperti inilah aku yang sesungguhnya" ia kelihatan pasrah. Menunggu reaksi dan sepatah kalimat dariku.
"Kkh.." aku nggak bisa menjawabnya. Dan karena kesal, aku pergi meninggalkannya begitu saja. Secepat mungkin kubereskan barang – barangku, dan pergi berlari keluar rumahnya. Aku tak peduli lagi, saat ini aku terlalu shock untuk mengingatnya. 'Orang yang kusukai seperti ini? Sulit kupercaya'
XxxxX
Berhari - hari kulalui tanpa menyapanya. sudah seminggu lebih kira - kira... awalnya Neji menelponku berkali - kali bahkan meng-smsku dengan kata 'maaf' nya. namun, aku tidak peduli. ku diamkan saja HP ku yang berdering keras, ku delete semua sms nya yang meminta maaf. sampai akhirnya ia menyerah, dan berhenti menelpon ku atau bahkan meng sms-ku. Hinata dan teman - temanku khawatir, tapi aku tidak mau mengumbar masalah ini. aku selalu menyangkal bahwa tidak terjadi apa - apa diantara aku dan Neji. Lagipula, Hinata pernah bilang bahwa Neji juga berkata kalau dia dan aku sedang baik - baik saja. namun, meskipun begitu Hinata kurang percaya kepada kata – kata Neji. Aku berusaha untuk menyakinkan Hinata, bahwa kami benar - benar tidak sedang bermasalah.
"Sungguh Nee-san? Hoh… ku.. kupikir Neji-nii berbohong padaku" Untunglah, perkataanku dipercaya olehnya. dengan begitu, kebohonganku bisa terus berlanjut, tapi sampai kapan?
"Ano, Nee-san... akhir - akhir ini, kau seperti menjauhinya..." Ino yang cerdik, bisa menganalisa masalahku dengan baik
"Hee... itu cuman perasaanmu saja..." aku cuman bisa mengelak tanpa memberi argumen yang jelas
"Nng... Tapi..."
"Ah, bel sekolah sudah berbunyi.. aku masuk ke kelas duluan ya...? Sore Jaa... Ino, Sakura, Hinata, Temari" ucapku yang memotong perkataan Ino
"Jaa..." jawab mereka berempat heran
Aku merasakannya. tapi aku tidak ingin melihatnya lagi... hanya saja... kenapa, batinku menolak. seolah - olah tidak setuju kalau aku tidak bertemu dengan Neji lebih lama lagi. apa... apa aku merindukannya? kangen? apa... aku, sudah benar - benar menyukainya? sama seperti aku yang menyukai jiwaku sendiri... kenapa...? kenapa aku kepikiran soal Neji terus, sejak kami berpisah? tidak mungkin aku menyukainya... harusnya tidak mungkin.. sebab, aku sudah membencinya sekarang... benci kan? ini pasti benci.
XxxxX
hingga di suatu hari, tepat di hari Minggu. udara diluar terasa segar, angin di minggu pagi ini berhembus lembut melambaikan gorden kamarku, jendela kamar yang dibuka oleh ibu membuat sinar mentari pagi masuk kedalam kamar dan menghangatkan ruangan sekitar
"Tenten bangun! Sudah jam 7 pagi nih! Ayo bantu ibu" ibuku berteriak, menarik paksa selimutku hingga aku terbangun dan berjalan lemas menuju kamar mandi
"Hh.. iya bentar, Tenten mau mandi dulu.." ucapku dengan langkah gontai sambil membawa handuk biruku yang bermotif lumba – lumba.
Aku menyalakan keran air di bathtube, dan membiarkannya mengisi bathtube ku sampai setengah penuh. Sambil menunggu, tiba – tiba saja aku kepikiran lagi soal Neji. 'tuh kan...' ia masuk lagi mengisi otakku sampai penuh... Aku bingung harus bereaksi seperti apa saat bertemu dengannya nanti. Aku sendiri nggak tau.. bener - bener nggak tau harus merasa kesal dan kecewa, atau kasian kepadanya. sudah cukup lama, aku menjauhkan diriku dari Neji. Aku nggak sanggup untuk memandangnya lagi.. karena aku sedang membencinya sekarang... ya.. kurasa…
Tak lama aku melamun, akhirnya bathtube ku terisi setengah penuh dengan air. akupun segera masuk dan berendam didalamnya.
Setelah mandi, cepat – cepat aku menuju dapur dan membantu ibuku mencuci piring. Tentu saja, kalau membantu masak, aku takkan sanggup.
"Tumben kamu diam sekali Tenten? Biasanya suka nyanyi – nyanyi… ada apa nih?" ibuku penasaran karna hari ini aku terlihat sangat diam
"Nggak… Tenten cuman ngantuk… hoaeem" ucapku yang pura – pura menguap
"Haah, dasar! Kamu itu nggak ada manis – manisnya ya.." ujar Ibuku kesal sambil memotong – motong kentang yang akan dimasak pagi itu.
"Hmm…" aku cuman bisa berdehem, sambil menuntaskan kerjaan cuci piring ini
"Ya sudah, kalau kamu udah selesai, tunggu di meja makan sana. Sarapannya nanti ibu siapkan"
"Ya.." ucapku yang sedang membersihkan tangan setelah mencuci piring. Kemudian mengambil beberapa piring gelas di rak, dan setelah itu kutata rapih di meja makan.
XxxxX
Selesai makan, aku bergegas masuk ke dalam kamar dan mengganti baju tidurku dengan baju polo shirt beserta celana jeans favoritku. Karna merasa jenuh dirumah, aku memutuskan untuk jalan – jalan keluar dan bermain puas. Agar setidaknya, aku nggak akan kepikiran terus soal Neji.
"Aku pergi!" teriaku keras sambil berlarian keluar pintu rumah
"Hati – hati ya" balas Ibuku dengan suara datarnya
Biasanya kalau sedang bosan, aku selalu bermain ke tempat game center atau taman hiburan. Tapi, hari ini rasanya aku hanya ingin sekedar berjalan kaki mengelilingi kota. Saat sedang asiknya mengamati keindahan suasana pagi, tiba – tiba saja mataku terpaut oleh sebuah toko pernak pernik mungil yang bertembok violet biru. 'Cantiknya' tanpa sadar, batinku sedikit berdecak kagum. Namun, kehadiran toko itu membuatku teringat (Lagi) kepada Neji..
'Maafkan aku' entah kenapa kalimat Neji terngiang – ngiang ditelingaku. Aku semakin nggak ngerti, kenapa mamanya Neji meminta tolong untuk membuatnya menyukai ku?
"Akh! Bikin kesal saja toko ini!" tanpa sadar, gumaman ku berubah menjadi perkataan yang keluar dari mulut. Setelah itu aku pergi meninggalkan toko ini karena sepertinya orang – orang yang berjalan kaki disekitar sana memandangku dengan pandangan anehnya.
Pukul 09.00 am
Setelah lelah berkeliling, aku memutuskan untuk beristirahat sebentar di bangku taman yang diatasnya diteduhi oleh pepohonan yang rindang. Sambil beristirahat, aku memandangi sekumpulan anak kecil yang sedang bermain rumah – rumahan disana. Salah satunya, ada seorang cowok yang wajahnya terlihat sangat manis seperti perempuan…
"Akh..! kamu nggak pantas jadi suami! Lebih baik kamu jadi anakku saja, biar Kazu yang jadi suaminya.." teriak seorang anak perempuan ketus kepada seorang bocah berambut kecoklatan
"Ke.. kenapa?" tanya bocah polos itu gugup
"Kamu itu kayak cewek tahu!" teriakkan anak perempuan itu bener – bener membuatku kaget
'Seperti… cewek…' gumamku dalam batin
"Ta.. tapi kan…" omongan si bocah berambut coklat itu dipotong oleh anak cowok yang bernama Kazu.
"Sudahlah..! aku nggak mau main rumah – rumahan lagi..! dasar cewek TOMBOY! Jangan pernah menghina temanku! Ayo Shin, kita pergi…" ucap Bocah bernama Kazu kemudian menarik tangan Shin si cowok berambut coklat itu pergi. Sementara anak perempuan yang ketus itu cuman menangis, dan teman - teman perempuannya berusaha untuk menghiburnya.
'Anak yang bernama Shin itu…. dan anak perempuan yang diejek Tomboy itu… aku melihat mereka berdua seperti Neji dan diriku sendiri' karena penasaran, makanya aku menghampiri anak – anak itu
"Kamu nggak apa – apa?" tanyau sambil mengelus kepalanya
"Sekarang semua orang membenciku! Huaaa!" dia menangis keras, aku berusaha untuk menenangkannya.
"Sudahlah, kamu kan bisa mengucapkan kata maaf nanti.." ucapku sambil tersenyum. Tapi anak itu masih tetap saja terisak – isak.
"Kakak, sini.." seorang teman dari anak perempuan itu memanggilku dan membisikkan sesuatu.
"Sebenarnya Mai sangat menyukai Shin. Aku sering melihat Mai yang selalu memandang ke arah Shin. Tapi, dia selalu marah kalau aku bertanya apakah dia menyukai Shin atau tidak, mungkin Mai malu karena Shin itu seperti cewek. Makanya ia berpura – pura galak, dan cuek kepadanya…" aku mengerti maksud anak ini
"Mai!" teriakku, sambil berjalan menghampirinya
"!" anak itu kaget, dan menengok kearah ku
"Kau menyukai bocah berambut coklat tadi kan?" tanyaku sambil tersenyum. Ia hanya bersemu sambil menitikkan air matanya yang tak berhenti membasahi pipi.
"Ta.. tapi, Shin pasti marah padaku.. apalagi, sekarang temannya Kazu pasti tidak akan membiarkanku bermain lagi dengan Shin"
"Kalau gitu, bilang saja Maaf.. aku yakin, semarah – marahnya seseorang, pasti akan luluh dengan kata – kata itu. lagipula, saat Kazu dan Shin meninggalkanmu pergi, aku melihat Shin sedang memandangimu dengan wajah sedihnya. Ia pasti ingin berbaikan dan bermain lagi bersamamu.."
"Be.. benarkah kak? Bukannya Shin marah padaku?" tangan anak itu berhenti mengucek matanya yang berair, dan memandangku dengan wajah penasaran
"Tentu! Shin itu sepertinya anak laki – laki yang baik kok..! kalau dia marah padamu, harusnya dia membentakmu saat kau mengatainya seperti perempuan tadi" jawabanku sesaat membuatnya tersenyum lagi
"Sungguh? Kalau aku meminta maaf apakah Shin akan memaafkanku?"
"Ya" jawabku yang disambut dengan senyuman anak itu
"Terimakasih kak! Kakak tahu, meskipun Shin itu terlihat dan kadang bersikap seperti perempuan, aku tetap menyukainya. karena, Shin terlihat sangat keren dimataku. bahkan lebih keren daripada anak - anak cowok yang lain. Berkali – kali ia sering melindungiku. Memang sih, aku malu kalau teman – temanku tau aku menyukai anak cowok seperti dia. Tapi, sejak kakak berbicara tadi… aku jadi senang… aku, pasti akan menyatakan perasaanku padanya nanti.. terimakasih kak... sampai nanti!" anak itu melambaikan tangannya kepadaku.
Seketika, ucapannya barusan juga menyadarkanku. 'Seperti apapun diriku, Neji selalu menerimaku apa adanya. Dia bahkan pernah menganggapku sebagai seorang cewek yang manis *?* disaat seluruh anak - anak cowok mencapku sebagai seorang Tomboy yang melebihi anak laki - laki. Dan, aku juga sadar akan sesuatu... perasaanku nggak bisa kubohongi. ya... yang aku kesali sebenarnya bukanlah Neji yang seperti itu, melainkan diriku sendiri yang masih tetap menyukainya meskipun aku tahu sifat asli Neji. Sekarang aku mengerti maksud Mamanya Neji yang meminta bantuan kepadaku, akan kuubah dia sampai benar – benar menjadi seorang cowok… pasti!' batinku menggebu, secepat mungkin aku berlari menuju kerumah Neji, memencet tombol bel disamping gerbang rumahnya, dan melompati pagar seperti biasa.
XxxxX
Clek
Dan, pintu rumah Neji pun dibuka
"Neji!" teriakku begitu melihatnya membukakan pintu
"Ten… ten" ia kaget, melihatku datang mengunjunginya
"Maaf… maafkan aku!" aku membungkuk, berusaha meminta maaf kepadanya
"Ke.. kenapa kemari? Bukankah.. kau, membenciku sekarang…" ia berbicara tanpa menatapku
"Memangnya… kau mau aku membencimu…?"
"Bukan begitu… Ng"
"Sekarang, saat aku ada di sini, ada yang mau kau sampaikan? Aku akan mendengarkan semua perkataanmu, dan akan kuterima semuanya…" aku mencoba tersenyum. Kuharap, senyumanku membuat Neji sedikit berani untuk berbicara
"Ka.. kalau begitu.. kumohon... tetaplah bersamaku" tiba – tiba Neji memelukku, rasanya hangat.
"Baiklah.." jawabku ringan, sambil membalas pelukannya
"Hah? kamu… nggak kaget kalo aku ini… Ng.. agak berbeda dengan cowok lain..?" tanyanya dengan gelagapan, sambil melepaskan pelukannya
"Awalnya sih kaget… tapi, aku bisa terima semuanya kok sekarang. Kamu tenang aja! Hehehe…" tawaku membuatnya menyunggingkan senyuman kecil
"Terimakasih.." ia terlihat senang sekali "Kau satu – satunya orang yang mengetahui rahasiaku dan menerimaku" kemudian tersenyum, keren…
"Hoo… begitu.. eh, bisa buatkan aku kalung dengan manik seperti ini nggak?" tanyaku sambil menunjukkan manik manik biru kristal dengan sebuah liontin berbentuk salju yang baru saja kubeli di toko perhiasan bertembok violet biru tadi.
"Kau.. yakin? Tenten…?" tanyanya yang kebingungan
"He eh.. nih!" kusodorkan bungkusan berisi manik - manik tersebut kepada Neji "Buat yang bagus ya..!"
"Ta.. tapi.. aku nggak tau... sejak kapan kamu suka manik – manik hei…?" Neji yang menerima bungkusan dariku terlihat penasaran
"Sejak aku melihatmu barusan.. hehehe" aku tertawa dengan anehnya, "Aku nggak dipersilahkan masuk nih?" tanyaku dengan nada mengejek
"Ah, maaf.. kalau begitu ayo masuk, saatnya makan siang" ia menarik tanganku dan kami berduapun masuk.
Blam
(Apa yang terjadi di dalam rumah Neji?)
To Be Continue~
Sekali lagi maaf yaa, alurnya kuubah… 'padahal di summary nya Tenten nginep dirumah Neji' abis, aku bingung nentuin ceritanya kalo tenten jadi nginep. Makanya, mendadak aku bikin ulang chapter 4 ini… gimana menurut kalian chapter ini? maaph lagi klo kependekkan =_=
Kali ini aku gambar Neji pake dress sementara Tenten yang pake jas… hahaha.. emang sih nggak mirip =_= tapi… Eee… ya sudahlah…
For All Readers :
bagi yang udah kebelet sama romance-nya, mohon ditahan dulu… author bakal menjabarkannya pelan – pelan… hwehwehwe… *dihajar* saia tidak akan pernah membuat cerita Lemon *ga bisa bikinnya* oleh sebab itu, jangan mengharapkan akan ada lemon di cerita saia xDD
Terimakasih sudah menyempatkan diri kalian untuk membaca fic ku, tolong saran dan koreksinya karena ceritaku masih banyak kekurangan… oh iya, tunggu Fic humor one shot ku yang lain ya *ditendang readers gara – gara banyak maunya*
Hee Arigatou xDD
…..
(Saia nggak berani lagi kasih summary sebelum terbit fic chap 5… takut salah lagi kayak chap 4 ini =_=)
Btwy, ada yang tau nggak bedanya Hits en Visitor ? ? ? ? ?
