Di setiap pertemuan, pasti ada perpisahan pada akhirnya.

Tapi ironis adalah, ketika kau tidak bisa apa-apa selain melihat apa dan siapa yang penting bagimu itu pergi berlalu begitu saja. Terpaksa pasrah dikala terlahap rasa kecewa. Terpaksa berakting kuat dikala hatimu lemah tanpa perlindungan. Dan Walau amarahmu membludak, kau tidak bisa menyalahkan siapapun. Bahkan waktu sekalipun.

Karena waktu tak pernah bertoleran kawan.

Saat sudah waktunya, Waktu akan mengambil apa yang berharga bagi kita.

Kita tak bisa apa-apa.


KEHILANGAN

Gintama And all the character belong to ©Hideaki Sorachi

This Fanfiction belong to me

WARNING

Typo, OOC

RnR ~


Edo pada sore hari itu diguyur hujan lebat. Langit tampak gelap karena ditutupi oleh awan kelabu bergumpal-gumpal yang jenuh air. Jalan terlihat sepi, karena ketika hujan seperti ini, para penduduk Edo memilih untuk tidak meninggalkan rumah.

Begitu pula pemandangan sama terlihat di distrik Kabuki-cho. Jalan terlihat senggang meskipun pertokoan tetap buka.

Sakata Gintoki, atau akrab dipanggil Yorozuya Gin-san, terlihat sedang duduk dan bermalasan di kediamannya sambil membaca komik Jump terbaru minggu ini. Sedangkan Shimura Shinpachi, salah satu pekerja Yorozuya, terlihat tengah menyapu ruangan yang diisi sofa, televisi tabung berukuran sedang dan meja itu.

"Gin-san, Kagura bilang akan pulang jam 2 tapi sekarang sudah jam 3 lebih, apa ini tidak masalah?" Shinpachi memandang jam putih berbentuk bulat yang bertengger di dinding. "Belum lagi, kelihatannya hujan ini tidak akan berhenti sampai malam nanti..."

"Biarkan saja Pattsuan, paling-paling dia sedang berteduh di suatu tempat, hujan ini kan sudah turun dari jam 1, si rakus itu pasti tertahan hujan besar ini dan tidak bisa pulang." Tanggap Gintoki dengan santainya.

"Tapi Gin-san, dia kan membawa payungnya, jadi mana mungkin dia tidak bisa pulang ?" Shinpachi terlihat makin khawatir.

"Berhentilah mengkhawatirkan si rakus itu Pattsuan! Tidak akan ada yang terjadi pada gadis yang memiliki kekuatan setara Godzilla itu." Gintoki menutup komik Jump-nya lalu menggaruk tengkuknya.

"Tapi bagaimana bila terjadi apa-apa padanya Gin-san! Tolong perhatianmu sedikit!" Shinpachi setengah berteriak. Ia merasa kesal karena tanggapan Gintoki yang menurutnya terlalu santai, ia lalu melemparkan sapu yang ia pegang ke lantai.

Suasana menjadi hening.

"Sejak Okita-san koma, Kagura menjadi lebih... lebih... lebih lemah dari biasanya, dia tidak terlihat bersemangat, bahkan dia tidak mengajak Sadaharu bermain seperti biasanya dan dia juga tidak nafsu makan akhir-akhir ini, tidakkah ini mengganggumu Gin-san ?!"

Gintoki yang terdiam kemudian membuka suaranya.

"Pattsuan, tidak ada yang bisa kita lakukan. Si rakus itu akan tetap seperti itu sampai si pangeran sadis itu bangun." Gintoki kembali membuka komik Jump nya.

"Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menghiburnya saat ini."

Suasana kembali hening.

"Kurasa kau benar, Gin-san"

Tepat saat Shinpachi mulai mengerti maksud dari perkataan Gintoki, suasana berat itu dibuyarkan ketukan dari pintu depan. Ketukkan yang terdengar terburu-buru.

"Cih, apa lagi sekarang? kenapa ada pelanggan di hari seperti ini ? harusnya aku pasang tanda tutup atau semacamnya!" Keluh Gintoki yang merasa kegiatannya membaca Jump terganggu kembali. "Shinpachi, buka pintunya!"

"Kau tidak boleh berkata seperti itu lho, Gin-san, pelanggan itu harus disyukuri. Apalagi kondisi keuangan kita sedang memburuk" Shinpachi menceramahi Gintoki seperti biasanya.

"Gya-gya-gya-gya, bukakan saja pintunya! " Keluh Gintoki dengan memperlihatkan wajah 'tak tertarik'nya.

Sambil tetap mengomel, Shinpachi berjalan menuju pintu dan membukakannya.

"Selamat datang di Yoro –" Perkataan Shinpachi tercekat di tenggorokan ketika melihat sosok yang diketahuinya di depan pintu itu.

.

.

.

"Yamazaki-san?" Shinpachi diterkam kebingungan ketika memandangi petugas polisi itu. Raut wajahnya kaku dan serius, dan pakaiannya basah oleh air hujan.

"Kenapa anda berjalan di tengah hujan besar ini tanpa payung, Yamazaki-san?! apa anda mabuk? Mooo... padahal sudah kubilang lebih baik anda makan Anpan saja dari pada minum Sake ! " Shinpachi sedikit terkejut dengan kehadiran salah satu petugas Shinsengumi tersebut. Apalagi dengan penampilan yang kacau seperti itu.

"Aku tidak akan lama Shimura-san, ada beberapa hal yang perlu kuberitahukan. Sebenarnya tidak ada kaitannya dengan kalian, tapi kukira kalian pun harus tahu." Bahkan saat Yamazaki mulai berbicara, raut wajahnya bertambah serius.

Shinpachi menatap lekat iris hitam itu sambil menunggu kalimatnya yang selanjutnya. Ia sudah tahu kalau pembicaraan ini menyangkut kondisi serius dan ia dapat merasakannya. Yamazaki yang konyol itu, sedang tidak ingin bercanda.

"Kapten Okita..., di-dia..."

Lalu hujan yang turun saat itu, tanpa diduga turun lebih lebat lagi. Lebih lebat dari sebelumnya. Lalu langit pun menjadi lebih gelap.

.

.

"There is love of course. And then there's life, its enemy."
Jean Anouilh

.

.

.

.

Di waktu yang sama, di tengah hujan lebat yang semakin hebat mengguyur Edo, Kagura tengah berjalan menyusuri jalan yang hampir kosong. Tidak ada siapapun yang terlihat. Sejauh mata memandang, hanya rintikkan hujan yang jatuh ke tanah.

Gadis berambut vermillion dengan cepol khas cina itu berhenti sejenak untuk menghela nafasnya. Kini sudah hampir tiga jam semenjak ia meninggalkan rumah dengan tujuan awal untuk membeli Sukonbu. Namun ia berakhir dengan berjalan-jalan mengelilingi Edo. Kagura merasa, dia tidak terlalu mood untuk diam di rumah. Terlalu banyak yang ia pikirkan. Otaknya penuh dengan hal-hal abstrak yang bahkan dia pun tidak bisa mendefinisikannya. Kagura tahu, dia tidak bisa menceritakan ini pada Shinpachi maupun Gin-chan. Jadi ia berjalan-jalan berharap kalau pikiran 'tidak jelas' yang mengganggunya itu hilang.

Ia mengurungkan niatnya untuk menjenguk Sougo hari ini. Padahal selama beberapa hari belakangan ini, ia selalu menjenguknya untuk sekedar mengetahui kondisi lelaki itu.

Tapi kali ini ia merasa tak ingin melihat wajah orang itu. Apalagi saat wajahnya itu seperti orang mati. Ditambah dengan apa yang sudah di dengarnya kemarin ini.

Itu yang membuatnya gusar.

.

.

Namun nihil. Selama apapun Kagura berjalan, sejauh apapun ia melangkah, pikiran itu tidak hilang. Malah semakin menjadi.

.

.

Apakah dia akan mati?

Apakah dia akan dikeluarkan dari Shinsengumi karena telah melanggar aturan?

Kalau dia hidup, apa si bodoh itu bisa hidup tanpa kaki dan lengan kirinya?

SIAL !

.

.

Pemikiran ini melahap gadis itu. Melahapnya hingga ia tidak bisa memikirkan hal rasional lainnya. Bahkan gadis ini lupa membeli Sukonbu yang menjadi tujuan awalnya.

Walaupun sebuah payung berwarna ungu menudungi tubuhnya, tapi karena derasnya hujan sore itu, baju cheongsam yang dipakai oleh Kagura tetap setengah basah. Rambutnya pun kusut. Penampilan yang sangat buruk bagi seorang gadis dengan perawakan manis itu.
Tapi ia tidak peduli. Jadi ia meneruskan perjalanannya yang tidak memiliki tujuan pasti itu. Membelah tirai hujan yang seakan tidak mau mengalah pada siapapun.

Ah, kadang cuaca pun tidak mendukung perasaan kita.

.

.

.

.

.

.

.

Sudah genap 1 bulan sekarang.

Laki-laki berambut coklat muda itu masih terbaring tak berdaya di atas kasur rumah sakit dengan berbagai instalasi medis terpasang di tubuhnya. Di sisi kasurnya, sang leader Shinsengumi, Kondo Isao, tengah duduk sebari menyilangkan tangannya.

Pandangannya menerawang terhadap sosok yang terbaring itu. Bawahannya sekaligus teman yang sudah dianggap keluarga olehnya. Sougo Okita.

Kondo tidak menyangka kalau jadinya akan separah ini. Karena yang ia tahu, Sougo adalah orang yang kuat. Ia bahkan tidak tahu kalau Sougo menyelinap ke kapal Harusame dan menyerangnya.

Kondo mengutuki dirinya. Ia bersikeras kalau apa yang terjadi pada Sougo adalah kesalahannya. Ia tidak mengawasi bawahannya dengan benar. Kondo pikir, bila ada seseorang yang harus disalahkan dalam kasus ini, ialah yang harusnya di salahkan.

Kesalahan bawahan adalah akibat dari kelalaian atasan. Kondo memegang teguh prinsip itu.

Harusnya ia melakukan seppuku. Ia telah melanggar Bushido-nya sendiri.

Kondo menghela nafasnya dengan kasar.

.

.

"Sebenarnya apa sih yang kau pikirkan, Sougo ?" Kondo membuka suara.

"Tindakanmu itu kelewatan. Aku tidak membicarakan tentang aturan, tapi kalau kau ingin menyerang... kenapa melakukan itu sendirian? Kalau kau sudah mengetahui informasi tentang penyelundupan dan wilayah persembunyian Harusame, kenapa kau tidak memberitahuku? Yang kau lawan itu, tak bisa dilawan semuanya hanya sendirian."

Kondo menghela nafas. Lagi. Kali ini lebih kasar.

"Apa tujuanmu, Sougo?"

Hening.

Terlalu banyak yang Kondo ingin tanyakan pada bawahannya itu. Tapi seorang yang koma, seseorang yang diantara hidup dan mati, seseorang yang ditetapkan oleh doktor sehari yang lalu bahwa ia tidak akan selamat dan waktunya tidak banyak, tidak akan menjawab apa-apa. Jadi kondo kembali menghela nafas untuk kesekian kalinya, kemudian bersiap untuk meninggalkan ruangan itu.

"Aku tidak bisa meninggalkan tugas patroliku terlalu lama. Jadi aku harus pergi."Kondo mengambil pedangnya yang disenderkan pada dinding ruangan lalu menyelipkannya pada sabuknya.

Leader Shinsengumi itu menoleh terakhir kalinya sebelum ia keluar dari ruangan itu.

"Kalau kau pergi menemui Mitsuba dan mendahuluiku, Sougo" Pria bertubuh tegap itu merasakan tangannya yang sedang mengepal bergetar.

.

"Aku tidak akan memaafkanmu."

Katanya terakhir sebelum Kemudian meninggalkan ruangan itu.

.

.

.

Keheningan kembali menyergap selama beberapa menit sebelum pada akhirnya tangan kanan lelaki yang terkulai kaku itu tiba-tiba bergerak, dan bunyi ritme dari monitor pengawas detak jantung terdengar lebih cepat.

Tapi ruangan itu kosong.

.

.

.

.

Ketika tinggal beberapa meter lagi menuju Yorozuya, rumahnya, Kagura dihentikan oleh munculnya sesosok yang familiar.

.

Imai Nobume.

.

Perempuan itu terlihat memakai seragam Mimawariguminya seperti biasa dan ekspresi datar itu tetap seperti biasa juga menghiasi wajahnya. Sebuah payung menudunginya, melindunginya dari hujan yang belum juga berhenti. Payungnya berwarna merah dengan motif bunga khas jepang menghiasi permukaannya

Namun gadis bercepol itu merasa tidak peduli. Ia terlalu malas untuk mengobrol pada siapapun. Walaupun itu Gin-chan ataupun Anego sekalipun. Ia ingin bergumul dengan pikirannya sendirian saja. Jadi dengan dengan cepat ia berjalan melewati Nobume tanpa menghiraukannya.

"Okita-san"

Satu kata itu cukup untuk membuat kagura menghentikan langkahnya dan membeku di tempat.

Kini mereka berdiri berpunggungan.

"Saat belahan jiwamu itu terbaring di rumah sakit, apa yang kau lakukan bermain hujan-hujanan di sini?" Nobume bertanya dengan nada menyindirnya yang khas.

"Si bodoh itu bukan belahan jiwaku –aru, aku sedang muak melihat wajahnya. Jadi aku tidak menjenguknya hari ini."

"Kau masih bisa berkata seperti itu...? atau itu hanya akting agar kau terlihat tidak peduli?" Nobume menghela nafasnya.

"Jadi kau hanya jalan-jalan santai berkeliling Edo di cuaca seperti ini? aku meragukannya"

Kagura tak menjawab. Dirinya yang tak ingin berbohong tapi tak ingin orang lain mengetahui itu.

.

.

Dia selalu memikirkannya. Dirinya selalu peduli.

.

.

Bahkan sejak pertama kali ia diberitahukan kalau Sougo dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi yang kritis, ia sudah tak dapat tidur. Lalu saat dia melihat keadaan kapten divisi 1 Shinsengumi itu untuk pertama kalinya, ia jadi tidak bernafsu makan.

Yamazaki menjelaskan apa yang dikatakan dokter padanya. Syaraf kaki Sougo lumpuh akibat hantaman yang sangat kuat. Kemungkinan besar dalam jangka panjang, ia tidak dapat menggunakan kakinya untuk berlari. Sudah bisa berjalan pun sudah suatu keajaiban.

Tangan kirinya pun, sekarang sudah tak ada di tempatnya lagi. Tulangnya hancur, tim medis tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain mengamputasinya dari sikut sampai telapak tangannya. Dan karena beberapa hantaman yang kuat juga, beberapa tulang dan organ dalamnya terancam rusak.

Kagura masih belum siap kehilangan lelaki itu. Bukan, jangankan melihat wajah itu di dalam peti, melihat wajahnya ditutupi alat pernafasan saja membuatnya gusar. Ditambah dirinya bahkan sudah tahu kalau Sougo si sadis itu tidak akan bertahan lebih lama lagi.

Kagura mengingat, Apa yang ia dengar saat itu, baru lewat satu hari yang lalu. Saat ia menjejakkan kakinya di depan pintu kamar dimana Sougo di rawat, seorang dokter dan perawat tengah bercakap-cakap,

.

.

Pasien ini..., mungkin hanya beberapa hari lagi sampai ia sampai batasnya.

.

.

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Membuatnya kesal dan frustasi.

Intinya, kalau sampai si sadis itu hanya bertahan beberapa hari lagi, ia tak ingin datang menjenguknya dan mendapati wajahnya yang ditutupi kain putih.

Kagura tak menginginkan itu. Ia memilih untuk tak menjenguknya daripada mendapati hal yang ia tidak inginkan.

Hatinya tak akan pernah siap untuk menerimanya.

.

.

"Kau membuang-buang waktumu, Kagu-"

"Urusai –aru"

Hujan terasa semakin deras tatkala Kagura menginterupsi perkataan Nobume.

"Ini sebabnya aku tak mau bicara pada siapapun –aru" Kagura menghempaskan nafasnya kasar.

"Kalian tidak akan mengerti-"

"Aku mengerti" Nobume menjawab dengan cepat tanpa sedikit pun menunggu jeda. Kemudian ia memandangi langit yang tertutup awan kelabu dari balik payungnya. "Kau juga bingung untuk menjelaskannya, bukan begitu? Kau tidak mau melihat keadaannya karena itu membuatmu berpikir kalau dia akan mati."

Suasana hening kembali.

.

.

"Lihat, langit pun menangis" Nobume melanjutkan, "Kau tak perlu menahan air matamu, Kagura-san."

Di belakang Nobume, tubuh mungil gadis itu gemetar. Sebuah sayup isakkan kecil tiba-tiba terdengar dari balik punggungnya. Tanpa disadarinya, bulir – bulir kepahitan meleleh dari mata gadis berambut vermillion itu, turun ke pipinya, terus ke dagunya dan jatuh bebas ke tanah. Bersatu dengan air hujan.

Kagura tidak menoleh. Tidak ada yang boleh melihatnya kacau seperti ini.

"Kalau kau ingin lihat wajah malasnya itu, masih ada waktu sampai jam jenguk habis. Sekarang atau tak ada jaminan kalau wajah malas itu bisa kau lihat lagi nanti" Nobume melanjutkan kata-katanya.

.

.

"Kau baru akan menyesalinya, saat kau sudah kehilangannya"

.

.

Alih-alih isakkan Kagura berhenti, dirinya merasakan ketegangan akan kalimat yang dikatakan Nobume.

"Apa maksudmu –aru?"

"Iie, nanimo..., aku hanya bilang begitu agar kau mengunjunginya dari pada berkeliaran di Edo untuk menghapus pikiran yang tidak bisa kau hapus sampai kapanpun." Nobume tetap memandangi langit. Beberapa tetesan hujan membasahi wajahnya yang bersih itu.

.

.

"Kagura –san..." Nobume menoleh ke belakang lalu melanjutkan, "Kalau kau ada di posisi Okita-san saat ini, apa yang paling kau inginkan?"

Kalimat terakhir Nobume membuat Kagura menolehkan wajahnya yang masih sembab karena sisa kepedihannya. Saat kedua mata mereka bertemu, Nobume langsung meneruskan kalimatnya.

"Mungkin aku tidak mengenal Okita-san sebaik dirimu. Tapi kalau aku ada di posisinya... aku ingin saat terbangun nanti, ada seseorang yang kukenal di sisiku. Seseorang yang selalu aku kutemui di mana pun aku berada, seseorang yang mungkin aku benci, tapi seseorang yang membuatku tidak bisa berhenti memikirkan dirinya. " Nobume memberi jeda sebelum melanjutkan.

Hening saat jeda itu. Kagura tidak mengeluarkan suaranya.

"Bahkan kalau mungkin aku tidak terbangun lagi sekalipun... aku sudah cukup bahagia merasakan kehadiran orang itu di sisiku. Bahkan mungkin, aku akan kembali lagi dari kematian karena mendengar orang itu memanggil namaku."

.

.

.

Kagura merasakan darahnya berdesir dengan hebat tatkala mendengarkan kalimat terakhir dari Nobume. Bak sebuah tangan menamparnya dengan keras, Kagura akhirnya tahu apa yang harus dilakukannya. Dirinya kini mengerti, dan perkataan Nobume lah yang membuatnya mengerti.

.

.

Ia telah salah. Justru saat ini, Sougo membutuhkannya.

Bukankah Kagura sendiri yang bilang, kalau Sougo tidak boleh mati selain dirinya sendiri yang membunuhnya.

Harusnya ia tidak boleh membiarkannya mati begitu saja dan meninggalkannya, hanya karena ia takut kalau lelaki itu akan mati tepat di depan matanya.

.

.

Dengan gerakan yang cepat, Kagura melemparkan payungnya, membiarkan tubuhnya terguyur hujan, lalu berlari ke arah di mana Nobume berdiri, melewati petugas Mimawarigumi itu tanpa menoleh lagi sedikitpun.

..

.

Nobume yang masih tetap berdiri di sana, hanya memandangi punggung Kagura yang semakin menjauh. Ia merasakan sebuah perasaan janggal yang seakan sedang melahapnya saat itu.

Nobume menyunggingkan senyum masam sekilas Lalu ia menghela nafasnya. Ia kembali memandangi langit dari balik payungnya.

Kalau Kagura -san yang memanggil namamu, Okita-san. Kau pasti akan kembali dari kegelapan itu bukan?

Karena bagaimanapun juga, walau pelangi tidak selalu muncul setelah hujan, matahari tetap di sana untuk menerangi semuanya lagi.

Walau berharap sebelumnya, Nobume sudah mengerti. Sampai kapanpun, ia tidak akan bisa menjadi matahari bagi Okita Sougo.

Karena sejak awal, ia telah memiliki matahari yang lain.

.

.

.

.

.

"Bahkan kalau mungkin aku tidak terbangun lagi sekalipun... aku sudah cukup bahagia merasakan kehadiran orang itu di sisiku."

.

.

Jalan menuju Rumah Sakit Oedo tinggal beberapa meter lagi dan Gedungnya sudah terlihat dari kejauhan. Kagura mempercepat ritme larinya. Padahal nafasnya sudah tersengal-sengal. Dari rambut hingga baju Cheongsamnya basah keseluruhan. Sepatu yang ia kenakan penuh lumpur. Mungkin esoknya ia akan terkena demam dan flu berat.

Tapi ia tidak mempedulikan itu. Kagura terus menambah ritme larinya.

Karena terlalu cepat berlari, tanpa ia ketahui, kakinya terantuk sebuah batu berukuran sedang. Keseimbangannya oleng dan ia pun terjatuh.

.

.

Walaupun ia merasakan perih luar biasa di pergelangan kakinya, Kagura memaksakan dirinya untuk kembali berdiri. Perasaannya bergejolak, dan ia mengingat setiap perkataan Sougo sebelumnya.


"Aku harap..., Baka-Aniki itu bisa berhenti –aru . Kembali menjadi aniki yang dulu kukenal. Aku ingin mengajaknya makan sukonbu bersama dengan pappy..."

"Berharap? Kalau kau hanya berharap, tidak ada jaminan aniki payahmu itu bisa kembali,Baka China Musume!"

.

.


Kagura masih berlari. Ia tetap berlari walau kakinya terasa sangat sakit. Lalu saat itu, walau Gadis itu tidak menyadarinya, Hujan mulai mereda dan awan kelabu di langit sedikit demi sedikit menghilang. Sinar matahari terpancar dari selah-selah awan yang kini kehabisan air matanya sekarang.

.

.


"Kau terlihat lemah saat murung, Oi, Baka China Musume ! dan aku membencinya. Kalau kau menunjukkan wajah konyol itu lagi, aku akan menghajarmu !"

"Aku yang akan menendang bokong kakak bodohmu itu dan membawanya kembali padamu China, jadi kau akan mengakui betapa kuatnya aku dan kau tidak akan menunjukkan wajah konyol itu lagi"

.

.


Sampailah Kagura di rumah sakit Oedo. Lain dari hari biasanya, rumah sakit ini terlihat sepi dan hening. Bangku tunggu yang biasanya dipadati pengunjung sekarang hanya diisi satu atau dua orang saja. Dengan cepat Kagura melesat menaiki tangga ke lantai tiga lalu berlari ke arah ruangan yang ditujunya. Kamar dimana Sougo dirawat.

Setelah beberapa waktu kemudian ia sampai di depan pintu ruangan itu, Kagura berhenti sejenak. Mengatur nafasnya agar lebih tenang.

Dan saat hendak membuka pintu, tiba-tiba saja ia teringat perkataan Anego padanya beberapa hari yang lalu.


.

.

"Seseorang yang sudah pernah kehilangan orang yang paling penting baginya dan sudah merasakan kepahitan itu, pasti ia tidak ingin orang yang ia cintai saat ini merasakan hal yang sama yang pernah terjadi padanya."

.

.


Namun saat membuka pintu itu, Kagura mendapati kalau Sougo tak ada di sana, juga instalasi medis yang tak lagi beroperasi telah dipindahkan ke pojok ruangan.

Meja kecil sebelah tempat tidur yang biasanya telah penuh dengan berbagai buah-buahan dan sebotol mayonnaise, sekarang tidak ada sama sekali.

Ruangan itu kosong.

.

.

.

.

.

.

.

Wait, is this still not the end yet?! How long this story gonna be?!

.
To be Continue...


(A/N : Maafkan hayati, harusnya ini tuh cerita terakhir di rangkaian cerita Okikagu ini, tapi saya menderita penyakit bernama WRITER'S BLOCK dan alhasil saya kehilangan ide :"") tapi saya bahagia karena akhirnya cerita ini jadi lumayan panjang walau dirasa rada janggal hahaha...#akhirnyaSayaBisaBikinCeritaPanjangg

*Oiyaa, curhat dikitt,, saya baru tahu cara nambahin chapter (jadi berurut) setelah sekian lama, hahaha... miris yah :"")*

Terima kasih banyak atas seluruh review di chapter sebelumnya ya ! ^_^ ,, untuk cerita kali inipun, miind to RNR ?

Happy Reading ~~

#Hail #OkiKagu