Heartbeat

EXO Fiction

Characters: Chanyeol, Jongin (Kai), Jongdae, Luhan, Kris and others

Pairing: ChanKai, KrisKai

Warning: BL, Typo

Rated: T-M

Boomiee92

Hi ini chapter empat selamat membaca, maaf atas segala kesalahan. Happy reading all….

Previous

"Kau tidak bisa menghentikan aku Luhan, kali ini tidak bisa."

Luhan tersenyum miring namun ia memutuskan untuk melepaskan pergelangan tangan Kris. "Baiklah terserah kau saja, aku tidak akan ikut campur juga tidak akan memberimu bantuan dalam urusan ini."

"Kau cukup diam, itu sudah cukup Luhan." Usai menyelesaikan kalimatnya Kris melenggang pergi meninggalkan ruangan tak peduli dengan para pimpinan yang sedang rapat dengannya.

Tangan kanannya meremat ponsel yang masih menampilkan sebuah yang dikirimkan oleh orang kepercayaannya, foto Chanyeol dan Jongin duduk bersama di kedai teh, terlihat mesra dan bahagia, kepala Jongin bersandar pada bahu Chanyeol dan Chanyeol yang mengecup dahi Jongin. Semua itu sudah cukup menyulut api amarah dalam diri seorang Wu Yifan. Kim Jongin adalah miliknya. Bukan milik yang lain.

BAB EMPAT

BRUK! "Jongin!"

"Sakit!" lengkingan suara Taemin disusul Jongin adalah pembuka pagi yang indah.

BRUGH! "Jongin!" Taemin bersungut-sungut menatap Jongin sengit yang telah dengan tega mendorongnya dari ranjang. "Kejam!" Taemin lantas berdiri dari lantai menuding Jongin.

"Kau lebih kejam membangunkan tidur damaiku dengan cara yang menyebalkan." Jongin berucap santai ia tendang selimutnya hingga ke ujung ranjang tempat tidurnya kemudian mendudukan tubuhnya.

"Aku kan sedang senang." Taemin membela diri ia lantas duduk di samping Jongin di pinggir tempat tidur sang sahabat.

"Senang sih senang tapi tidak perlu menubrukku juga….," Jongin menggumamkan protesnya, Taemin hanya nyengir lebar tanpa rasa bersalah sama sekali.

"Apa kau siap mendengarkan kabar baikku?!" suara ceria dan antusias Taemin seketika memusnahkan rasa jengkel Jongin. Iapun mengangguk penuh antusias menghadap sang sahabat dengan kedua mata berbinar.

"Kau tau Jongin… Aku diterima di Wu entertainment!"

"Hebat!" Jongin berteriak bahagia kemudian keduanyapun berpelukan riang seperti anak TK yang mendapat mainan baru atau jatah makan siang. Jongin tahu sudah sejak lama Taemin ingin sekali menjadi trainee Wu entertainment, sepupu serta sahabatnya itu sudah lima kali mencoba dan baru tahun ini diterima.

"Jongin!" Taemin melepaskan pelukan Jongin menatap wajah Jongin dengan seksama.

"Apa?"

"Kapan kau akan menyusul?"

"Hmmmm itu….," Jongin tentu tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya, jika keluarganya dan Chanyeol pasti akan marah besar jika dirinya masuk agensi dan bekerja keras berlatih hingga dua belas jam sehari, menjalani diet ketat, dan mengikuti setiap peraturan agensi yang sangat keras.

"Hasil pemeriksaannya baik-baik saja kan?" Taemin menampakan raut kecemasannya, Jongin mengangguk pelan. "Kau seharusnya sudah bisa melakukan banyak hal bukan?"

"Ya tapi entahlah aku rasa—aku harus memastikan semuanya benar-benar baik mungkin tahun depan aku akan mencoba."

"Park?"

"Tidak. Aku akan mencoba tempat lain, agensi yang lebih kecil."

"Baiklah semoga kau berhasil dan kita menjadi sukses bersama-sama!" Taemin memekik bahagia, Jongin tersenyum lebar menanggapi antusias Taemin.

"Bisakah aku melihatnya? Surat pemberitahuan kau lolos audisi?"

"Aku tidak membawanya, maaf Jongin."

"Lain kali bawa dan tunjukkan padaku."

"Ah ya kafe kopi saingan itu sudah tutup rupanya, aku baru tahu." Taemin mengucapkan kalimatnya sambil berdiri dari ranjang tempat tidur Jongin menghampiri poster hitam putih Michael Jackson kesayangan Jongin yang tertempel bertumpuk dengan poster-poster kalimat-kalimat penyemangat pada dinding.

"Ya sudah tutup. Wu entertainment yang membeli bangunannya." Jongin kini berdiri melipat selimutnya.

"Benarkah?!" Taemin memekik tak percaya.

"Ya."

"Untuk apa? Mau dijadikan apa?"

"Menjual pernak-pernik artis dari Wu entertainment."

"Hmmmm, itu terdengar seperti bisnis yang sangat menguntungkan."

"Ya."

"Chanyeol tidak datang hari ini?"

"Sepertinya dia sedang sibuk."

"Bagaimana kencan kalian?"

Jongin menoleh menatap Taemin bingung. "Kencan?"

"Ya, kemarin kalian berkencan di dalam kedai, di tengah guyuran hujan, dan Chanyeol mencium dahimu, ah kau menyandarkan kepalamu pada bahu Chanyeol. Romantis, apa itu namanya bukan berkencan?" Taemin melihat keraguan yang nampak jelas pada wajah Jongin. "Sampai sekarang hubungan kalian belum jelas?" Jongin menggeleng pelan, Taemin hampir berteriak frustasi. "Apa yang kau tunggu bocah dungu?! Kau cinta tidak?! Kenapa dengan perasaan sendiri saja kau tidak mengerti?!"

"Jangan berteriak padaku Taemin."

"Karena kau sangat bodoh!"

"Sudahlah terserah kau saja, pesanku hanya satu jangan sampai kau menyesal jika suatu saat Chanyeol pergi karena lelah menunggumu."

"Aku akan memikirkannya."

Taemin memutar kedua bola matanya malas. "Aku pergi dulu, aku ingin pergi ke taman bermain air. Mau ikut?"

"Aku harus bekerja."

Taemin tersenyum lebar. "Kalau begitu aku akan pergi dengan Minho."

"Kau selalu pergi dengan dia kenapa memberitahuku, aku sudah muak mendengarnya."

"Urusanmu! Dasar tidak peka!" Jongin hanya menjulurkan lidah, Taemin mendengus kemudian keluar kamar dengan membanting pintu.

.

.

.

Sepanjang hari Jongin terus menerus memikirkan kalimat Taemin juga perasaannya terhadap Chanyeol, semuanya benar-benar membingungkan. Pukul satu siang, jam istirahat seperti ini seharusnya Chanyeol datang. Pria itu juga tidak membalas pesan yang Jongin kirim. Ia merasa cemas, tentu saja Jongin merasa cemas. "Apa perasaan tidak ingin kehilangan berarti cinta?" Jongin menggumam seorang diri. "Ah!" Jongin berjingkat kaget karena sesuatu yang dingin menyentuh pipi kanannya.

"Maaf." Jongin menoleh cepat ke arah sumber suara menatap sengit seseorang yang sudah mengganggu ketenangan melamunnya. "Maafkan aku sungguh, Kim Jongin. Sudah jangan menatapku seperti itu menyeramkan."

"Kris."

"Ya ini aku."

Kening Jongin berkerut dalam, kemarin Chanyeol dan sekarang Kris ada apa dengan mereka berdua sebenarnya. "Bukankah kau seharusnya masih sibuk di luar negeri?"

"Jepang?" Kris bertanya sambil mendudukan tubuhnya pada kursi, berhadapan dengan Jongin. Jongin mengangguk pelan menjawab pertanyaan Kris. "Pekerjaanku selesai dengan cepat.

"Hmmm." Jongin menggumam pelan.

Kris menyodorkan kaleng minuman berisi jus jeruk dingin ke hadapan Jongin. "Sangat panas kenapa kau memilih duduk di luar?"

"Aku suka musim panas." Jongin menatap Kris. "Untukku?" tangan kanannya menggenggam kaleng jus jeruk. Kris mengangguk pelan. "Terima kasih banyak."

"Kulitmu sudah cukup gelap."

Jongin yang tadi sedang menikmati jus jeruk dinginnya seketika menghentikan kegiatannya, menatap Kris sengit. "Sekali lagi menyinggung soal kulitku jangan salahkan aku jika ada kaleng soda melayang ke wajahmu Kris." Ancam Jongin yang justru ditanggapi dengan senyum lebar Kris. "Sudahlah." Jongin mendengus.

"Sepertinya suasana hatimu sedang tidak baik?"

"Aku?" Jongin menunjuk dirinya sendiri.

"Ya, siapa lagi selain kau dihadapanku sekarang."

"Aku baik-baik saja kau salah tebak Kris." Kris menaikkan sebelah alisnya menanggapi kalimat Jongin. "Terserah jika kau tidak percaya." Bahkan nada bicara Jongin terdengar sangat sebal, tentu saja Kris bisa dengan mudah mengetahui suasana hati seorang Kim Jongin. Selanjutnya tidak ada obrolan selama beberapa saat karena Jongin sibuk dengan jusnya sedangkan Kris sibuk dengan soda dan juga sibuk memperhatikan Jongin.

"Kau bisa bercerita apapun jika kau mau padaku, kita kan teman apa kau lupa itu?"

"Hmmm." Jongin hanya menggumam terlihat tak tertarik. Kris sebenarnya sangat jengkel mendapat tanggapan dingin seperti itu, namun ia berusaha keras untuk menahan diri. "Apa aku juga bisa bertanya apapun padamu?"

"Tentu." Kris membalas singkat.

"Kau bekerja dimana?"

"Hanya pegawai biasa di perusahaan biasa." Jongin tersenyum miring mendengar jawaban Kris. "Kenapa? Tidak percaya?"

"Bahkan anak kecil saja tahu jika kau sedang berbohong, perusahaan seperti apa yang memberi fasilitas mewah pada pegawai biasa." Kris mengikuti arah pandang Jongin dan dirinya hanya bisa mengumpat di dalam hati saat melihat mobil sedan merah mewahnya yang terparkir di seberang jalan.

"Itu warisan." Kris memutar otak untuk mendapatkan jawaban terbaik.

"Pertemanan harus dimulai dengan kejujuran." Kalimat Jongin menusuk Kris telak membuat wajah seorang Kris Wu yang biasanya datar mampu terperanjat untuk beberapa detik.

"Maaf Jongin, baiklah aku bekerja di Wu entertainment." Jongin masih melempar tatapan tidak percaya. "Aku pemiliknya." Pada akhirnya Jongin tersenyum diakhir jawaban Kris.

"Terima kasih sudah jujur Kris."

"Ya. Sekarang giliranmu apa yang mengganggumu?"

"Aku—hanya masalah perasaan—apa kau pernah jatuh cinta?"

Genggaman tangan kiri Kris pada kaleng soda menguat. "Jatuh cinta….," Kris menggantung kalimatnya karena saat itu bayangan Kyungsoo terlintas di pikirannya. "Tentu saja aku pernah jatuh cinta."

"Seperti apa rasanya jatuh cinta?" Kris tertawa pelan. "Ayolah Kris, jawablah aku mohon. Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu."

"Jawabannya sedikit rumit, aku jawab berdasarkan pengalamanku saja ya. Saat aku jatuh cinta pada seseorang, aku akan selalu memikirkan orang itu, membayangkan betapa indahnya jika aku dan dia bersama selamanya, jantungku berdetak cepat, aku juga bermimpi tentang dia, aku akan merasa sangat bahagia hanya dengan memikirkan tentangnya apalagi bertemu, sangat nyaman saat bersamanya, dan waktu akan berjalan sangat cepat saat bersama. Ya, kurasa seperti itu kurang lebih. Kenapa kau bertanya tentang jatuh cinta? Apa kau sedang jatuh cinta?"

Jongin tertawa pelan. "Entahlah, mungkin, ya mungkin." Jongin menjawab tanpa kepastian mengangkat kaleng jus kemudian meminum sisa jus di dalam kaleng sementara kedua matanya menerawang ke arah lain bukan pada Kris. Dan Kris berharap mata itu hanya memandangnya, hanya dirinya.

"Jongin!" Jongin langsung menoleh ke belakang dan dia melihat Chanyeol, menatapnya dengan pandangan yang tak terlihat senang berdiri di dekat mobilnya, stelan jas biru tua masih Chanyeol kenakan dengan rapi. Chanyeol berjalan mendekati meja yang diduduki Jongin dan Kris.

"Hai Chanyeol." Kris berucap ramah berdiri mengulurkan tangan kanannya.

"Hai Kris." Chanyeol tersenyum lebar menyambut uluran tangan Kris. Saat jabat tangan itu selesai perhatian Chanyeol kini sepenuhnya tertuju pada Jongin. "Aku ingin mengajakmu berjalan-jalan, bagaimana?"

"Aku masih bekerja."

"Aku sudah meminta izin pada Ayah." Jongin terlihat ingin mengucapkan penolakan. "Kali ini tidak ada penolakan." Tegas Chanyeol, Jongin hanya mendengus namun tak melawan saat Chanyeol menarik pergelangan tangan kanannya.

"Aku masih memakai seragam kerja dan dompetku tertinggal di kamar…..," protes Jongin seolah hanya hembusan angin bagi Chanyeol ia menoleh ke belakang dan disambut dengan tatapan tajam Kris.

Tatapan Chanyeol seolah mengatakan pada Kris untuk menjauhi Jongin sedangkan Kris membalas dengan tatapan yang menegaskan bahwa Chanyeol tidak akan bisa menghentikan semua yang ia ingin lakukan pada Jongin.

"Chanyeol!" Jongin protes karena genggaman tangan Chanyeol terlalu erat pada pergelangan tangan kanannya dan itu membuatnya merasa tidak nyaman.

"Maaf." Chanyeol berucap singkat ia lantas membukakan pintu penumpang untuk Jongin. Jongin menundukkan kepalanya agar tak terantuk saat memasuki mobil Chanyeol.

Saat mobil melaju meninggalkan kedai, Jongin menoleh ke kanan memperhatikan jalanan yang mereka lalui, Chanyeol melirik Jongin dari ekor matanya melihat pergelangan tangan Jongin yang memerah. "Apa itu sakit?"

"Apa?" Jongin menoleh ke kiri menatap Chanyeol tidak mengerti dengan pertanyaan Chanyeol.

"Pergelangan tangan kananmu."

"Tidak apa-apa, tidak sakit."

"Maaf aku menggenggamnya terlalu kuat." Jongin hanya tersenyum menanggapi permintaan maaf dari Chanyeol. Chanyeol menahan diri untuk tidak bertanya banyak hal perihal Kris Wu kepada Jongin, setidaknya hingga mereka sampai ke tempat tujuan.

"Kenapa?" Pertanyaan itu langsung Jongin lemparkan saat ia mengetahui kemana Chanyeol membawanya pergi.

"Awalnya aku berpikir tentang sungai Han tapi udara sangat panas sekarang dan matahari bersinar terik….,"

"Lantas kau berpikir rumahmu adalah tempat yang lebih baik dari sungai Han?" Jongin memotong kalimat Chanyeol saat Chanyeol tersenyum lebar saat itulah Jongin mendengus malas.

"Setidaknya aku punya taman dengan pohon rindang yang sejuk." Jongin terlihat tak tertarik dengan penjelasan Chanyeol.

"Jangan berpura-pura Chanyeol aku tahu kau ingin mengatakan sesuatu."

"Tidak." Elak Chanyeol.

"Tentang Kris, aku yakin itu. Tiba-tiba kau bersikap posesif, itu kekanakan sekali Chanyeol."

Chanyeol menghentikan mobilnya di depan pagar tinggi kediamannya mesin mobil sengaja tak dimatikan agar pendingin udara dan sirkulasi udara di dalam mobil tetap terjaga. "Ya, aku memang memiliki banyak hal yang ingin aku tanyakan tentang Kris padamu."

"Apa?"

"Kapan kau mengenalnya?"

"Aku sudah mengatakannya, dulu aku menolong seseorang yang mencari mawar putih untuk ulangtahun ibunya." Jongin menoleh menatap Chanyeol namun yang dilakukan Chanyeol hanya menatap lurus ke depan dengan kedua tangannya menggenggam setir kemudi erat.

"Jauhi Kris."

"Karena dia Wu Yifan, Kris Wu. Saingan perusahaanmu?"

"Jauhi dia Jongin, Kris berbahaya untukmu."

"Dia temanku Chanyeol."

"Jongin jangan membantah!" Chanyeol berteriak menoleh menatap Jongin garang. Jongin menarik tubuhnya ke belakang, punggungnya menyentuh pintu. Chanyeol tidak pernah membentak sebelumnya. "Maaf Jongin aku tidak bermaksud untuk membentakmu, aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu." Jongin tersenyum melihat senyum tulus Chanyeol.

"Jangan menilai seseorang dengan buruk Chanyeol, aku tidak memiliki teman selain Taemin, kau dan keluargaku, kurasa pasti akan baik bertemu dengan orang lain. Keluar dari zona nyamanku."

Chanyeol mengurungkan niatnya untuk membantah Jongin, baiklah ia akan mencoba bersikap postif tentang Kris. Meski ia masih ragu dengan Kris, Kris itu ambisius dan rasanya mustahil jika Kris mendekati Jongin tanpa embel-embel lain hanya sekedar pertemanan biasa. "Berhati-hatilah aku tidak ingin melihatmu terluka Jongin."

"Tentu."

Chanyeol lantas mencondongkan tubuhnya ke kanan setelah melepas sabuk pengamannya, kedua tangannya terjulur untuk memeluk tubuh Jongin. Jongin menerima pelukan Chanyeol dengan senang hati. Kedua tangan Jongin melingkari punggung Chanyeol sementara wajahnya ia benamkan pada dada bidang Chanyeol. Chanyeol mengecup pelipis kiri Jongin kemudian beralih pada dahi Jongin. "Aku mencintaimu Jongin." Chanyeol berbisik pelan.

Kedua lengan Jongin yang berada pada punggung Chanyeol tanpa sadar meremat kemeja bagian belakang yang Chanyeol kenakan. Ia masih ragu, namun ia yakin akan apa yang dikatakannya. "Aku juga mecintaimu Chanyeol."

"Jongin!" Chanyeol memekik tentu saja setelah melepaskan pelukannya dari Jongin. "Benarkah? Apa yang kau katakan tadi apa aku tidak salah dengar? Jongin?" pertanyaan bertubi Chanyeol membuat Jongin bingung.

"Iya, aku mengatakannya. Aku mencintaimu apa pendengaranmu terganggu Chanyeol?" Jongin melempar tatapan cemas.

"Tidak! Tidak! Pendengaranku masih baik, aku hanya—hanya tidak percaya saja akhirnya perasaanku terbalas." Jongin tersenyum mendengar jawaban polos Chanyeol. Terkadang Chanyeol bisa bersikap begitu polos dan jujur dan itu cukup menggemaskan menurut Jongin.

Senyum lebar menghiasi wajah tampan Chanyeol. "Terima kasih sudah menerima perasaanku Kim Jongin."

"Ya." Jongin membalas singkat disertai anggukan pelan dari kepalanya. Chanyeol mengacak rambut Jongin gemas kemudian keduanya tertawa bersama.

"Aku berpikir….,"

"Apa?" penasaran, Jongin memotong kalimat Chanyeol.

"Bagaimana jika kita menikah?" alis Jongin seketika bertaut.

"Aku hanya bercanda Sayang." Chanyeol tertawa diselingi tarikan pelan pada ujung hidung Jongin.

.

.

.

"Dimana semua orang?" Jongin bertanya saat tak mendapati siapapun di dalam rumah Chanyeol.

"Bukankah aku pernah memberitahumu jika para pekerja di sini akan pulang siang hari, dan kembali besok pagi." Chanyeol menatap Jongin yang kini tengah sibuk mengamati pajangan kepala rusa pada dinding di atas tungku perapian.

"Aku Lupa." Jongin menjawab santai.

"Kau memang mudah melupakan banyak hal, Kim Jongin." Chanyeol berucap dengan nada bercanda dan berhasil membuat Jongin terkekeh pelan.

"Ah." Jongin tersentak saat merasakan tangan kekar melinkari perutnya juga hembusan napas hangat Chanyeol pada leher, telinga, serta sisi kanan wajahnya.

"Aku tidak menyangka kau akan membalas perasaanku Kim Jongin."

"Kenapa memanggil namaku dengan lengkap Chanyeol? Terasa aneh seperti kita baru mengenal dua hari yang lalu." Jongin mendengar tawa renyah Chanyeol serta hembusan napas hangat Chanyeol yang lebih sering menerpa permukaan kulit lehernya, membuat rambut hulus di tengkuk Jongin meremang.

"Aku baru mengenalmu hari ini, tentu saja aku harus bersikap sopan."

Jongin tertawa pelan. "Apa maksudmu?"

"Hari ini hari pertamaku mengenalmu sebagai kekasihku." Lanjut Chanyeol.

"Hmmm." Jongin menggumam mengerti.

"Apa kau haus?" Chanyeol bertanya bersamaan ketika dirinya melepaskan pelukannya dari tubuh Jongin.

"Tidak." Jongin membalas singkat. "Ah." Dan Jongin kembali tersentak karena Chanyeol kembali memeluknya, kali ini bukan pelukan dari belakang seperti yang pertama tadi. Kedua tangan Chanyeol memeluk pinggang ramping Jongin, pandangan bertemu. Chanyeol tersenyum.

"Aku sangat bahagia hari ini Kim Jongin."

"Hentikan Chanyeol!" geram Jongin. "Jangan memanggil namaku dengan nama lengkap itu terdengar aneh." Chanyeol tertawa pelan lantas mengecup kening Jongin cukup lama.

"Aku ingin merayakan hari bersejarah ini."

"Apa?" Jongin mengerutkan kening tak paham dengan kalimat Chanyeol.

"Aku tidak akan memaksa tapi jika kau bersedia, maukah kau menyerahkan dirimu padaku hari ini?" baiklah, Jongin mungkin tak memiliki pengalaman soal cinta dan jalinan kasih, namun ia tak bodoh untuk memahami maksud ucapan Chanyeol. "Aku tidak memaksa Jongin." Melihat keraguan pada kedua bola mata Jongin, sungguh Chanyeol tidak akan memaksa namun Jika Jongin bersedia pasti akan sangat membahagiakan bagi dirinya karena Jongin memberinya kepercayaan dan artinya mereka telah terikat meski janji sehidup semati belum terucap.

"Ya." Jawaban singkat membuat Chanyeol seolah berada di antara dunia nyata dan dunia mimpi.

"Jo—Jongin?" bahkan bibirnya bergetar menyebut nama pemuda yang sangat ia cintai melebihi dirinya sendiri itu. Jongin mengangguk pelan, alih-alih berteriak girang Chanyeol membawa Jongin ke dalam dekapan hangatnya. "Terima kasih Jongin, terima kasih kau sudah mempercayaiku."

Jongin membiarkan Chanyeol menggenggam pergelangan tangan kanannya dengan lembut menggiring tubuhnya meninggalkan ruang keluarga, menuju tangga yang sengaja didesain melengkung indah, satu persatu anak tangga mereka lewati. Tangan kiri Chanyeol dengan sigap mendorong pintu bercat abu-abu di hadapannya. Jantung Jongin berpacu liar melihat ruangan apa yang mereka masuki sekarang. "I—ini kamarmu?" Sedikit kesulitan untuk bertanya karena seolah suaranya tercekat di tenggorokan.

"Ya." Hanya jawaban singkat yang Chanyeol berikan sebelum suara derit pintu yang lembut menyapa kedua telinga Jongin. Keduanya kembali berhadapan kedua tangan Chanyeol terangkat ke atas membingkai wajah sang kekasih menatap kedua mata bulat sayu yang selalu berhasil menariknya ke dunia lain, dunia yang dipenuhi dengan berbagai fantasi tentang kehidupan sempurna, maupun fantasi liar yang biasa dipikirkan oleh manusia dewasa. "Aku mencintaimu Jongin." Ucapan perlahan dengan suara yang nyaris tak terdengar seandainya ruangan ini bukanlah ruangan yang sangat tenang. Kalimat pernyataa telah selesai diucapkan, Chanyeol menghapus jarak yang tercipta di antara bibirnya dan bibir penuh sang kekasih.

Tanpa keraguan Chanyeol menyapa bibir penuh menggoda itu. Jongin memejamkan kedua matanya sentuhan lembut nan memabukan itu belum pernah ia rasakan sebelumnya, ia rasakan gerakan bibir Chanyeol yang seolah menuntut tanpa sadar Jongin memberikan jarak di antara bibirnya membiarkan lidah basah Chanyeol melesak masuk. Tengkuknya ditekan, pinggangnya diraih dan dicengkeram dengan kuat. Lidah Chanyeol bergerak brutal di dalam mulutnya dan Jongin hanya bisa pasrah menerima semua perlakukan Chanyeol.

"Mmmmm….," lenguhan nikmat lolos dari bibir Jongin yang kini sedang dijamah oleh Chanyeol. Jongin tak mengerti ketika Chanyeol menggerakkan tubuhnya tanpa melepaskan ciuman memabukan mereka. Kedua mata Jongin yang tadinya tertutup langsung terbuka, terkejut saat tungkainya menyentuh sesuatu yang keras. Tangan kiri Chanyeol yang tadi mencengkeram pinggang kanannya dengan posesif kini beralih pada bahu kanannya, mendorongnya, Jongin takut jika dirinya mendarat pada sesuatu yang kasar. Nyatanya tidak, punggungnya membentur sesuatu yang nyaman dan empuk, ranjang. Ya, tentu saja ranjang tempat tidur Chanyeol.

"Aku mencintaimu Jongin," Chanyeol untuk yang entah keberapa kalinya mengucapkan kalimat itu. Ia hanya takut jika Jongin tiba-tiba kehilangan kepercayaan atas dirinya. Kedua mata sayu itu menatapnya penuh dengan kepercayaan, membuat Chanyeol tersenyum. Keduanya bertatapan tanpa jeda, Jongin mengabaikan jantungnya yang memompa darah semakin cepat kala merasakan dinginnya ruangan kamar Chanyeol. Kulitnya kini tak memiliki pelindung, Chanyeol bisa melihat dirinya dengan utuh tanpa penghalang. Chanyeol juga tak berbeda jauh dengan keadaan dirinya saat ini.

Bibir kembali menyatu dalam hitungan detik, perlahan ciuman itu berpindah tempat. Jari jemari tangan kanan Chanyeol dengan bebas menyentuh alis, kelopak mata, pipi, menulusuri tulang pipi, rahang, dan kini berakhir pada dagu belah Jongin. Sementara jari jemari tangan kirinya bermain-main pada dada kanan Jongin, mengusap, membelai, memelintir, mencubit. "Channn….," desahan menggairahkan itupun terdengar, suhu di dalam kamar naik dengan cepat, begitupun suhu kedua tubuh yang saling melekat satu sama lain tak berjarak. Setiap lekuk tubuh Jongin menakjubkan, Chanyeol seolah sedang menyentuh patung dengan pahatan terbaik dari zaman Yunani kuno. Jongin miliknya sekarang, miliknya untuk diraba, disentuh, dikagumi, serta dimasuki. Bibir Chanyeol kembali menyapa bibir penuh menggoda Jongin, permukaannya berwarna merah menggoda seperti anggur terbaik. "Ennngghhhhh..," kembali desahan merdu itu terdengar menyapa kedua telinga Chanyeol. Ia rasakan kedua tangan Jongin mencengkeram kedua bahu kekarnya saat telunjuk tangan kanannya memasuki Jongin tanpa peringatan.

Bibir Chanyeol bergerak turun memberi kecupan lembut pada dagu Jongin, jari tengah masuk. Tubuh Jongin tersentak namun kali ini tanpa erangan. Bibir Chanyeol tak berhenti ia daratkan bibir kelaparan itu pada leher jenjang Jongin ia rasakan nadi berdenyut di bawah kulit hangat Jongin. "Chan… Yeol…," terbata Jongin mengucap namanya, dan Chanyeol berusaha untuk tak tersenyum karena rasa bahagia. Bibir Chanyeol kembali turun mengecupi tulang selangka Jongin dan berakhir pada cekung leher Jongin. "Mmmmm." Geraman tertahan itu keluar saat jari ketiga masuk.

Merasa semuanya sudah cukup, Chanyeol menarik keluar ketiga jarinya Jongin tak mengeluarkan protes namun tatapannya mengatakan jika ia telah kehilangan momen puncak yang mungkin sudah begitu dekat ia raih. Menopang tubuh dengan kedua tangan kekarnya, Chanyeol tersenyum menatap Jongin. "Aku akan menyakitimu Jongin, apa yang akan aku lakukan setelah ini pasti akan menyakitimu."

"Aku mempercayaimu Chanyeol." suara Jongin terdengar parau. Tangan kanan Chanyeol bergerak pelan menyingkirkan poni dan anak rambut Jongin yang menjuntai menyentuh kelopak mata kanan Jongin. Anak rambut itu terasa lembab.

"Aku akan memulainya sekarang." Chanyeol berbisik dengan suara rendah. Jongin mengangguk pelan, menarik kedua kaki jenjangnya ke sisi kanan dan sisi kiri tubuhnya memberikan kemudahan untuk Chanyeol, memilikinya, mendominasinya, mencumbunya. Semua yang bisa laki-laki itu berikan untuknya.

Kepala kejantanan Chanyeol menyapa pintu masuk Jongin, perlahan, dengan susah payah Chanyeol mulai menyatukan tubuhnya dengan tubuh Jongin. Ini pertama kali untuk Jongin, Chanyeol tidak bisa melakukannya dengan cepat lantas menyelinap masuk seperti seorang pencuri. Ia mengangkat wajahnya menatap Jongin yang terlihat kesakitan. "Maaf." Chanyeol berucap singkat, sebagian dari dirinya ingin meraih kenikmatan dengan cepat sementara sebagian yang lain ingin melakukannya dengan lembut dan lama. Pinggul Chanyeol mendorong perlahan, cengkraman kedua tangan Jongin pada bahunya semakin erat.

"Chan!" Kalimat itu terpotong dalam sebuah pekikan singkat. Ketika seluruh kejantanan Chanyeol menyelinap masuk ke dalam tubuhnya.

Penolakan dari tubuh Jongin menimbulkan sensasi tarikan kuat kejantanan Chanyeol, membuat sang pemilik harus menahan desahan dan geraman. Ia tak ingin terlihat egois sebagi satu-satunya pihak yang menikmati penyatuan ini sementara Jongin di bawahnya terlihat tersiksa dengan air mata mengalir keluar dari kedua mata sayunya yang tertutup. Wajah Chanyeol menunduk untuk mengecup kedua kelopak yang tertutup itu dengan lembut. "Maaf." Ia kembali berucap maaf karena mengambil sesuatu yang pasti berharga bagi Jongin.

Perlahan kelopak itu terbuka, pandangan keduanya bertemu. Jongin mengangguk lemah memberikan persetujuannya untuk ditaklukan oleh Chanyeol. Kedua bibir kemerahan itupun bertemu, pinggul Chanyeol bergerak lembut berusaha memberi kenikmatan kepada sang kekasih di bawahnya. "Ahhhh!" desahan itu membuat Chanyeol tersenyum, Jongin menemukan kenikmatannya Chanyeol dengan berani mempercepat gerakan pinggulnya. Kedua kaki jenjang Jongin tanpa sadar melingkari pinggang Chanyeol begitupun kedua tangannya melikari leher sang kekasih, bibir kembali beradu lumatan-lumatan memabukan tercipta dengan cepat.

"Jongin." Chanyeol menyebut nama Jongin setelah menarik bibirnya.

"Ennngghhh Chan?" setelah desahan Jongin bertanya.

"Jangan pernah pergi dariku Jongin." Jongin melihat ketulusan dan kejujuran pada kedua mata Chanyeol, iapun mengangguk pelan. Chanyeol tersenyum bahagia ia kecup dahi lembab Jongin. Gerakan pinggulnya semakin cepat, tubuh Jongin terhemtak kasar di atas ranjang. Chanyeol merasakan cengkraman Jongin pada kejantannya menguat.

"Channn…," desahan Jongin menyebut nama Chanyeol seperti seekor bianatang yang menahan kesakitan, namun apa yang Jongin rasakan sekarang jauh dari rasa sakit.

Cengkraman Chanyeol rasakan semakin menggila, ia tak mampu bertahan lagi Chanyeol menundukkan wajahnya melumat bibir Jongin, sementara sang kekasih memeluk tubuh lembabnya semakin erat. Selang beberapa detik sebelum mencapai puncak, Chanyeol mengakhiri ciuman mereka ia takut tanpa sengaja melukai Jongin karena rasa nikmat yang tak terbendung. Kedua tangan Chanyeol mencengkram seprai di bawah tubuh Jongin untuk melampiaskan rasa nikmat. Gerakan pinggul Chanyeol semakin brutal.

"Ahhhh…," Jongin tak mampu bertahan dahinya menempel pada dada kanan Chanyeol serta setengah tubuhnya terangkat dari ranjang tempat tidur saat puncak kenikmatan ia raih.

"Engggghhhh….," Chanyeol melenguh nikmat dan mengeluarkan benihnya ke dalam tubuh Jongin. Chanyeol ambruk ke sisi kiri tubuh Jongin ia sengaja melakukan hal itu agar tubuhnya tak mendarat di atas tubuh Jongin. Napas keduanya saling memburu, kedua mata Jongin terpejam. Mengumpulkan sisa tenaga Chanyeol menopang tubuhnya menggunakan kedua tangannya, memisahkan diri kemudian berbaring di sisi kiri tubuh Jongin memeluk pinggang ramping sang kekasih.

Kedua mata Jongin terbuka merasakan kecupan lembut pada dahinya. Mata bulat Chanyeol menyapanya dengan ramah, iapun tersenyum. "Terima kasih Jongin," ucap Chanyeol lembut. Jongin hanya mengangguk lemah ia sangat lelah sekarang. Chanyeol mendekatkan tubuhnya pada sang kekasih, dahi sang kekasih bersandar pada dada bidangnya.

"Lelah?" sebuah anggukan Chanyeol rasakan. "Tidurlah." Ucapnya pelan, keduanya berbaring miring sekarang tangan kiri Chanyeol bergerak pelan mengusap punggung lembab Jongin. "Tidurlah Jongin." Dan ucapan Chanyeol terdengar seperti lagu pengantar tidur untuk Jongin.

TBC

Lemon gagal, terima kasih untuk seluruh pembaca yang sudah bersedia membaca cerita abal dan aneh saya. Terima kasih untuk review kalian DeviaChoi, hnana, Ovieee, laxyovrds, jongienini, yousee, ulfah cuittybeams, cute, Athiyyah417, kanzujackson jk, YooKey1314, sejin kimkai, Putri836, Park Rinhyun Uchiha, KaiNieris, Kim Jongin Kai, Kim762, jjong86, LulluBee, hunexohan, blackbearvampire, Lyn Monica, vivikim406, KeepBeef, firstkai94. Sampai bertemu di chapter selanjutnya.