Akademik Magic Poveglia, di perpustakaan pada musim semi

Seorang gadis duduk di kursi perpustakaan, menuliskan sajak-sajak puitis di atas kertas.


Kalau sampai waktuku

Aku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi


Gadis itu tersenyum membaca puisi ciptaannya. Dia mengangguk-angguk senang. Tetapi sesaat, ekspresinya berubah. Sedih dan kesal.

Icha and Michi-san Present:

The Girl with One Hope

.

.

.

Naruto dan Highschool DxD bukan milik saya, keduanya adalah karya besar dari Masashi dan Ichibumi

Sebuah Puisi asli karya Chairil Anwar

Rate: M

Genre: Adventure, Fantasy, Drama, Romance

Warn: Latar Original. Lolicon (maybe)

Naruto (16) x Hinata (10), Lolicon khan?

.

.

.

Poveglia Magic Academy's 1

Poveglia adalah sebuah kota yang terdapat di Pulau Poveglia, terletak 30 Kilometer dari Semenanjung Venesia. Untuk sampai di kota tersebut, harus menaiki kapal feri yang beroperasi dari pukul 8 pagi sampai 6 sore. Poveglia salah satu kota terbaik Bangsa Magic selain Kuoh karena kota ini dijadikan pusat pendidikan para Magician. Karena hal tersebut, penjagaan Poveglia sangat ketat. Pengunjung wisata maupun penduduk tetap dipisahkan. Lalu juga ada orang-orang yang datang untuk belajar di Akademi Magic Poveglia dipisahkan. Jadi ada tiga kapal feri menuju ke kota tersebut, yang mana warna putih untuk akademisi Magician, warna biru laut untuk pengunjung dan warna gold untuk penduduk tetap.

"Ramai sekali pelabuhannya." Ucap Naruto saat sampai di gerbang pelabuhan Kota Lido, kota terakhir di Semenanjung Venesia sebelum menyebrang menuju Poveglia.

"W-waaah. Kereen. Apa nama tempat di sana Naruto-kun? Penginapan?" mata Hinata berbinar-binar. Tentu saja baru kali ini dia melihat aktifitas manusia di pelabuhan.

"Penginapan lagi…." Naruto menepuk keningnya "Namanya Pelabuhan. Di sana ada kapal feri yang menjadi transportasi kita menuju Poveglia. Sebelum itu…" Naruto membaca pesan Azazel di ponselnya "Kita harus mengurus beberapa hal sebelum memasuki kota tersebut."

Pelabuhan Kota Lido adalah pusat perdagangan dan transportasi air di Semenanjung Venesia. Di Dunia, Pelabuhan Kota Lido termasuk salah satu dari 5 pelabuhan terbaik. Selain sebagai terminal peti kemas, pelabuhan ini merupakan penghubung Kota Poveglia di Pulau Poveglia dengan dunia luar. Istilah sederhananya, Pelabuhan Kota Lido adalah satu-satunya jalur masuk ke Kota Poveglia.

Terdapat dua terminal utama di Pelabuhan Kota Lido, yakni Terminal Kapal Feri menuju Poveglia dan terminal peti kemas dengan sistem monorel. Selain dua terminal tersebut, di komplek pelabuhan terdapat kafe, resto maupun hotel. Pemandangan paling indah yang sering dilakukan wisatawan ketika berada di pelabuhan kota Lido adalah melihat matahari terbenam, karena sunset di Pelabuhan Lido adalah salah satu yang terbaik.

Naruto memarkirkan motornya di depan sebuah kafe yang ada di komplek pelabuhan Kota Lido. Seperti pesan Azazel, Naruto harus bertemu salah seorang anak buahnya untuk memuluskan administrasi sehingga saat pemeriksaan di pelabuhan Lido menjadi lebih mudah. Naruto melihat sosok anak buah yang dimaksud Azazel. Pria berkacamata dengan rambut abu-abu keputihan duduk di meja dekat dinding kaca. Sepertinya Azazel berpesan kepada anak buahnya bertemu dengan Naruto di tempat kesukaannya saat di kedai atau restoran, yakni meja dekat jendela atau dinding kaca.

"Yo Naruto-kun…lama tidak berjumpa." sapa pria itu ketika Naruto dan Hinata sampai di dekat mejanya.

"Yo Kabuto-san. Ternyata kau mau juga disuruh Ossan pemabuk itu." Naruto duduk di depan Kabuto. Sementara Hinata yang memasang wajah penasaran duduk di samping Naruto.

"Seperti kau tidak disuruhnya saja."

"Dia bukan menyuruhku, dia meminta tolong kepadaku." Naruto bersidekap dada "Bisa dibilang aku melaksanakan misi dari seorang klien."

Kabuto tertawa. Dia mengerti sifat anggota Chasseurs tersebut. Pelayan datang ke meja mereka dan menanyakan menu yang ingin dipesan. Naruto memesan sebuah cola sementara Kabuto teh lemon.

"Kalau anda nona kecil?" tanya pelayan sambil memandang ramah kepada Hinata "Anda manis ya?" puji pelayan itu lagi.

"A-a-a-a-a…" Hinata gugup tiba-tiba dipuji seperti itu. Entah kenapa tiba-tiba pikirannya blank

"Dia pesan susu kental manis hangat," Naruto mengacungkan telunjuknya sambil memejamkan mata "Bisa ditambahkan sedikit jahe juga?"

"Susu kental manis hangat dengan sedikit jahe. Sebenarnya ini tidak ada pada menu, tetapi karena ini adalah pesanan untuk adik kecil yang manis, maka-"

"M-matte! K-k-kenapa kau yang memesankan untukku?!" tanpa dijelaskan, kepala Hinata sudah berasap seperti air mendidih "Kenapa kau selalu memesan susu kental manis hangat dengan sedikit jahe?!"

"Lho, bukankah itu minuman favoritmu-ttebayo?"

"BUKAN ITU MASALAHNYAA!" teriakan malu itu disertai pukulan tangan ke wajah Naruto. Saat Naruto menggosok-gosok wajahnya yang perih, Hinata mengganti pesanannya dari susu kental manis hangat dengan sedikit jahe menjadi es susu kental manis dengan sedikit jahe.

"Kau menyebalkan. Kau menyebalkan setan kecil. Kau hanya mengganti suhu susumu saja!"

Kabuto tertawa renyah melihat kelakuan keduanya. Naruto dan Hinata memandang bingung ke arah pria berkacamata tersebut. Kabuto berdehem sambil membenarkan letak kacamatanya.

"Maaf saya tertawa seperti itu. Melihat kalian berdua seperti melihat sepasang kekasih yang sedang bertengkar," Kabuto memandang keduanya dengan jahil. Naruto terkejut hingga jatuh ke belakang bersama kursinya, sementara Hinata langsung menundukkan kepalanya dengan wajah sudah merah seperti tomat dan kepala berasap lebih tebal. Bukan asap air mendidih, tetapi asap kebakaran hutan!

"Hahaha, maaf yang tadi hanya bercanda. Kalian seperti kakak-adik yang benar-benar dekat," Kabuto mengulurkan tangannya kepada Hinata "Namaku Yakushi Kabuto, senang bertemu denganmu gadis manis."

Hinata menyambut tangan Kabuto "Na-namaku Hy-" Hinata teringat perkataan Azazel tentang perkenalan dirinya. Tidak boleh ia ulangi.

"Namaku Hinata."

"Hinata ya…Hanya Hinata?"

"Kuyut Hinata." Ucap Naruto sekenanya sambil mendirikan kursinya "Dia berasal dari Kinshasa."

"Kinshasa, wah kota yang jauh itu ya…wah, tak kusangkan Kuyut-san bisa bertemu Naruto-kun." Kabuto menggoyangkan jabatan tangannya. Wajahnya takjub karena mendengar informasi Hinata dari Naruto.

'K-Kuyut? Nama keluarga macam apa itu?!' Hinata memandang Naruto dengan tatapan membunuh. Sementara Naruto hanya tersenyum mengejek sambil matanya memandang ke atas tak bersalah. 'Inspirasi Kuyut itu berasal dari ucapan salah Kyuu-Kyuu soal nama mode robotnya. Rasakan itu setan kecil…'

"Sebelum kalian memasuki Poveglia, ada 3 lapis pemeriksaan yang dilakukan oleh Pasukan Varangian, yakni para penjaga Poveglia yang berada dibawah komando Penguasa Kota Poveglia. Untuk menyelesaikan masalah ini, kalian berdua akan menjadi siswa mutasi dari sekolah sihir dari kota lainnya."

"Wah…ja-jadi selain Akademi Magic Poveglia ada sekolah Magician lainnya ya?" tanya Hinata dengan suara penasaran. Kabuto menganggukkan kepalanya.

"Di kota-kota para Magician yang ada di dunia, jelas ada institusi pendidikannya agar Magician-Magician muda bisa menjadi penerus Magician lama. Namun semuanya hanya sekolah yang mengajarkan satu aliran Magic berdasarkan aliran di kota mereka. Contoh Kota Malta memiliki Akademi Magic sendiri, tetapi hanya mengajarkan tentang aliran Dark Magic. Satu-satunya akademi atau sekolah yang memiliki kurikulum pendidikan 3 aliran Magic adalah Akademi Magic Poveglia. Hal tersebut membuat Kuoh bahkan menjadikan Akademi Magic Poveglia sebagai sekolah resmi mereka…" Kabuto tersenyum "…Jadi jangan heran ketika kalian berada di sana, kalian akan bertemu Magician-Magician muda dari berbagai kota dan desa Bangsa Magic."

"T-terdengar keren," ucap Hinata dengan mata berbinar-binar. Naruto hanya menghela napasnya, kemudian bertopang dagu memandang ke luar "Lalu, berapa banyak administrasi yang harus kami urus?"

"Ada 4 surat yang telah kubuat dan kupalsukan dengan sempurna, sesuai permintaan Azazel-sama. Surat permohonan pindah sekolah lama, surat keterangan pindah sekolah yang diterbitkan sekolah lama, surat keterangan mutasi dari kota lama dan surat rekomendasi pindah sekolah dari kota lama. Kota lama yang dimaksud adalah kota tempat sekolah lama kalian. Aku menjadikan Kota Budapest sebagai kota lama kalian dan Akademi Magic Budapest sebagai sekolah lama kalian," Kabuto membuka satu persatu amplop di dalam surat dan mengeluarkan sesuatu dari saku jaket tebal yang dipakainya. Hinata memandang tangan Kabuto yang bersarung tangan hitam. Di tangan itu ada sebuah benda berbentuk trapezium di bagian atasnya dan kubus di bagian bawahnya yang terbuat dari logam. Banyak sekali ukiran-ukiran seperti Hieroglif di dinding benda tersebut. Kabuto menekan ukiran bola mata satu di tengah benda. Bagian atas, yakni bagian trapezium, terbuka.

Kabuto yang melihat wajah penasaran Hinata langsung memperkenalkan benda itu "Namanya adalah Printeri Pismo. Mesin manipulasi surat-surat, dengan alat ini aku bisa membuat surat sesuai standar sekolah-sekolah Bangsa Magic. Karena aku baru tahu nama keluarga Kuyut-san, maka aku akan menambahkan Kuyut di depan nama Hinata," Kabuto meremas satu persatu kertas surat itu lalu memasukkannya di dalam mesin Printeri Pismo yang terbuka bagian atasnya. Ia menutupnya dan menekan sebuah tombol hitam di bagian kubus mesin.

"A-ano Naruto-kun, sebenarnya Kabuto-san itu berasal dari bangsa mana?" bisik Hinata di telinga Naruto.

"Bangsa Teknologi. Dia adalah salah satu orang kepercayaan Azazel ojii-chan seperti Azazel ojii-chan mempercayaiku."

Hinata mengangguk-angguk paham. Melihat mesin yang bisa mengeluarkan empat kertas yang sudah rapi dan baru membuat Hinata yakin Printeri Pismo itu adalah mesin canggih. Padahal sebelumnya empat kertas itu dironyok oleh Kabuto.

"Semuanya beres." Kabuto dengan cekatan memasukkan keempat kertas kembali ke amplopnya. Ia menyerahkannya kepada Naruto. Kabuto memasukkan Printeri Pismo ke saku jaketnya lalu mengeluarkan empat buah kartu. Ada 2 kartu penduduk dan 2 kartu pelajar.

"Kau akan mengeluarkan mesin manipulasi Kartu penduduk dan kartu pencetak?" tanya Naruto dengan wajah datar.

"E-eh, ada juga mesin seperti itu?!" Hinata terkejut bukan main dan tingkahnya sangat lucu. Kabuto tertawa mendengar pertanyaan Naruto. Dia menggelengkan kepala. Pria berkacamata itu mengeluarkan sebuah pen berwarna emas dengan ukiran Hieroglif di seluruh badan pen tersebut.

"Namamu Uzumaki Naruto kan, U-Z-U-M-A-K-I."

"Namaku-"

"Cukup. Aku tidak mau menuliskan nama panjang dan anehmu itu." Kabuto menyerahkan dua kartu kepada Naruto, kartu penduduk dan kartu pelajar. Setelah itu ia menuliskan nama Hinata. Kini Naruto dan Hinata memiliki identitas baru.

"Selain 4 surat tersebut, kalian juga mesti menyerahkan dua kartu tersebut. Jangan sampai para Varangian tahu identitas kalian. Apalagi jika mereka tahu seorang anggota Chasseurs menyusup, masalahnya akan rumit."

"Yang terakhir…ini," Kabuto menyerahkan sebuah tongkat sihir kepada Hinata.

"W-wah…aku dapat tongkat sihir?"

"Itu untuk penyamaran-ttebayo. Aneh kan jika kau murid pindahan Magician tetapi tidak memiliki tongkat sihir, terima-lah." Naruto memandang datar Kabuto "Kabuto-san, itu bukan tongkat sihir asli?"

"Tepat," Kabuto tersenyum. Ia senang Naruto dapat menebaknya. Hinata mengambil tongkat itu dan memutar-mutar di kedua telapak tangannya.

"Ini hanya replika tongkat sihir para Magician. Azazel-sama menyuruhku membuat penyamaran kalian berdua harus benar-benar tidak diketahui. Tongkat sihir ini sebuah tongkat metallic-timah yang dikombinasikan dengan teknologi. Jadi ketika Kuyut-san menekan bagian bawah tongkat, maka akan muncul tombol-tombol di tengah tongkat tersebut. Boleh dicoba…"

Hinata mengangguk takjub lalu melakukan apa yang Kabuto katakan. Seperti yang dikatakan pria berkacamata tersebut, muncul 10 tombol kecil di bagian tengah tongkat yang melingkari tongkat tersebut. Ada 10 macam warna tombol.

"Tombol-tombol itu mewakili replika sihir para Magician. Tongkat ini karya yang sama seperti Permata Element Magic, jadi pengguna dari non-Magic bisa menggunakannya."

"S-Sugoi…boleh dicoba?"

"TIDAK SEKARANG!" teriak Kabuto dan Naruto bersamaan.

"K-kenapa Naruto-kun tidak dapat?"

Kabuto memandang Naruto, mengisyaratkan kepada anggota Chasseurs itu untuk menjelaskan.

"Yah…karena aku sudah punya, Hinata."

"E-eh, k-kau punya tongkat sihir?"

Naruto menganggukkan kepala. Hinata tidak bertanya kembali karena Naruto berjanji akan menjelaskannya saat mereka sampai di Vaexjoe.

Pesanan ketiganya datang diantar pelayan. Mereka menikmati masing-masing minuman mereka. Seperti yang Hinata duga, es susu kental manis dengan sedikit jahe tidak enak. Dia lebih suka dijadikan hangat atau panas saja. Hinata memandang kesal Naruto. Jika saja minuman kesukaannya tidak terlebih dahulu dikatakan pria berambut pirang itu, dia pasti akan memesannya! K-kenapa juga dia menjadi malu saat Naruto memesan minuman kesukaannya?!

"Apakah kau tahu sedikit tentang masalah di Akademi Magic Poveglia, Kabuto-san?"

Pertanyaan Naruto dibalas Kabuto dengan mengangkat kedua bahunya "Aku tidak tahu. Tugasku hanya mem-back up kalian dengan urusan administrasi. Sisanya Azazel-sama pasti menyerahkannya kepada kalian berdua. Ah…" Kabuto menghabiskan teh lemonnya dan berdiri "Aku harus pergi, ada beberapa klien yang menungguku untuk surat-surat palsu mereka."

"Pekerjaanmu sangat berbahaya ya?" gumam Hinata. Kabuto sedang mengemas-ngemas barangnya di tas lalu ia berdiri sambil tersenyum kepada Hinata.

"Semua pekerjaan pasti ada resikonya Kuyut-san. Aha…boleh kupanggil kau Hinata-chan?"

Hinata senang seseorang memanggil nama depannya. Itu berarti orang tersebut ingin akrab dengannya. Hinata menganggukkan kepala penuh semangat. Kabuto mengucapkan terima kasih, membayar pesanannya lalu pergi meninggalkan kafe.

"Untuk masalah administrasi sudah," Naruto memasukkan keempat surat itu ke saku dalam jubahnya. Sementara dua kartunya ia masukkan ke salah satu kantong di pinggangnya "Hinata, masukkan kartumu ke dalam tas. Kita akan mencoba sesuatu…"

"Se-sesuatu?" Hinata terkejut dengan ucapan sesuatu dari mulut Naruto,

Naruto membayar pesanan Hinata dan pesanannya lalu mengajak gadis Hyuuga itu ke sebuah penginapan di Pelabuhan Lido. Seperti yang Naruto katakan, Hinata harus meminum larutan Metsahasaknery pemberian Azazel agar menyamar menjadi gadis berusia 16 tahun. Mereka memesan sebuah kamar di lantai 1. Penginapan itu memiliki kamar sederhana dengan dinding bercat biru, serta sebuah meja hias dan lampu tidur. Ada 3 lukisan di dinding yang semuanya melukiskan tentang keindahan laut.

"Jangan sampai tersedak ya…" kata Naruto. Dia sedang duduk di tepi ranjang sambil memandang Hinata yang takut-takut membuka tutup botol Erlenmeyer berwarna hitam tersebut. Setelah membukanya, Hinata meletakkan tutup botol itu di meja dan memandang horror isi dalamnya. Ia meneguk ludah perlahan.

"A-air di dalamnya kok berwarna kuning berminyak gini ya Naruto-kun?"

"Namanya juga air Magic," Naruto memasang wajah serius "Sekarang…minum pelan-pelan larutan tersebut…"

Hinata memasang wajah jijik. Ia membayangkan larutan itu adalah susu kental manis hangat dengan sedikit jahe dan madu, kemudian meneguknya dengan terpaksa. Beberapa cairan kuning terlihat mengalir pelan di bawah bibirnya.

"Haah…" Hinata bernapas lega ketika meminum larutan tersebut sekali teguk. Ia meletakkan botol larutan Metsahasaknery di atas meja hias dan memandang Naruto dengan pandangan kenapa tidak ada perubahan?

Naruto memiringkan kepalanya. Dia juga bingung. Itu adalah larutan Metsahasaknery dari Azazel yang tahu-menahu soal cara kerja suatu Magic. Seperti yang diingatnya, Azazel hanya menyuruh Hinata meminum cairan Magic tersebut agar menjadi gadis berusia 16 tahun.

"Geh…Na-Naruto-kun. Badanku kok panas ya?" Hinata memeluk tubuhnya. Pipinya perlahan-lahan memerah "Kok…kok rasanya,"

"Magic-nya mulai bekerja kah?" Naruto segera berdiri. Dia tidak tega melihat wajah Hinata yang terlihat tidak nyaman, namun Hinata segera berlari ke arahnya dan memeluk tubuh anggota Chasseurs tersebut.

"Na-Naruto-kun…aku...aku…"

Naruto dapat merasakan kepala Hinata yang menyentuh bagian bawah rusuknya perlahan-lahan naik, naik hingga sampai di bagian atas dada. Hinata bertambah tinggi secara spesifik. Perlahan tapi pasti, terdengar suara pakaian yang robek. Baru saat itu Naruto menyadari sesuatu…

'Jika tubuhnya berubah secara fisik, berarti semua ukuran tubuhnya pasti membesar…' Naruto memandang takut-takut ke bawah. Seperti yang ia duga, gaun kecil Hinata robek karena ukuran tubuh gadis itu yang membesar dan hanya menyisakan gaun yang robek disana-sini. Hebatnya, Naruto dapat merasakan dua tonjolan empuk di dadanya. Dua anugerah wanita yang menjadi penghias tubuh para Kaum Hawa.

"Waaaa Hinataaa, apa yang terjadi, kenapa kau memelukku?!" Naruto memegang kedua bahu Hinata yang sudah bertubuh gadis berusia 16 tahun dan menjauhkan dari tubuhnya. Di tubuh Hinata hanya dibaluti gaun yang sudah robek, yang memperlihatkan belahan dada Hinata yang membesar dan bagian pangkal pahanya yang hampir terlihat. Naruto memandang ke arah kanan karena malu melihat pemandangan tersebut.

Suara handphone Naruto berbunyi. Ia membukanya, ternyata pesan dari Azazel.

Maaf Naruto-kun, aku baru mengecek cara pemakaian Cairan Metsahasaknery. Larutan Magic itu harus diminum setengah botol saja agar merubah tampilan fisik seseorang menjadi umur 16 tahun. Jika meminumnya satu botol, selain berubah secara fisik, orang itu akan mengalami peningkatan nafsu selama beberapa saat karena terkena perubahan karakter sekunder tubuh atau dengan kata lain efek masa pubertas di usia 16 tahun. Maaf baru mengatakannya karena aku lupa cara pemakaiannya. Hahaha, aku pikir mengatakan cara memakai cairan Metsahasaknery kepadamu saat di Aleppo tidak usah didengarkan, mungkin saat itu aku setengah mabuk. Bilang ke Hinata-chan jangan habiskam satu botol ya…

Dan sebuah emoticon yang sedang mengedipkan mata. Naruto menggenggam kuat ponselnya, hampir hancur karena remasan tangannya.

"Na-Naruto-kun…"

Naruto memandang Hinata yang sudah berwajah merah padam. Anggota Chasseurs itu sadar kalau Hinata berada dalam birahi tinggi akibat efek samping meminum satu botol cairan Metsahasaknery.

Kala itu, Naruto berusaha menahan gairah birahi sang Last Ninja kurang lebih selama 1 jam. Keparat Azazel dengan kalimat SMS beberapa saat nya.


Setelah Hinata tenang, hal yang pertama dilakukan Naruto adalah membeli baju yang cocok bagi Hyuuga Hinata. Setelah berdiskusi dengan penjaga toko pakaian tentang baju yang bagus untuk seorang gadis berusia 16 tahun yang berkarakter polos…dan berdada besar, maka Naruto mendapatkan beberapa model pakaian untuk Hinata. Selain itu ia juga membeli beberapa pakaian untuknya. Tentu saja selama satu bulan ia harus memiliki beberapa pakaian agar kebutuhan primer tersebut tidak mengganggu kerjaannya. Ia banyak mengucapkan terima kasih kepada penjaga toko sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dan menenteng kantong belanjaannya.

"Titip salam kepada pacarmu ya, tuan bermata biru yang tampan."

Naruto hampir menyemburkan air liurnya mendengar teriakan tidak penting dari penjaga toko pakaian tersebut. Anggota Chasseurs itu masuk ke kamar penginapan dan memberikan Hinata dengan malu-malu kantong pakaian untuk gadis tersebut.

"Nih, untuk dirimu."

"A-arigatou," Hinata tidak berani mengangkat wajahnya "Naruto-kun…"

Entah kenapa sebutan Naruto-kun dari mulut Hinata sekarang lebih terasa menggetarkan hati Naruto daripada dulu. Mungkin karena tubuh gadis Hyuuga itu sudah 16 tahun, suaranya pun semakin feminim. Jangan lupa semakin terdengar cute.

"Aku akan menunggu di luar. Cepat kemaskan barangmu," Naruto memandang ke jendela. Di sana terlihat pemandangan air laut yang biru tersinar pantulan cahaya matahari "Sore sekitar pukul 3 kita berangkat."

Kapal Feri untuk para akademisi Poveglia adalah kapal feri berjenis Hydrofoil. Berwarna putih, kapal feri ini terdiri atas 3 lantai yang mana lantai pertama untuk tempat reguler para penumpang, lantai kedua untuk tempat bersantai dan lantai ketiga tempat pengemudi. Kapal feri Hydrofoil dapat meluncur cepat di laut karena memiliki sayap yang dapat melintasi air. Sayap ini-lah yang disebut foil atau hydrofoil. Bentuk sayap ini seperti sayap udara (airfoil) sebuah pesawat terbang. Sayap kapal feri ini melekat pada topangan yang membentang ke bawah dari lambung kapal. Ada dua pasang foil, satunya sebagai pusat gravitasi kapal dan satunya diletakkan di bagian belakang kapal.

Tulisan Poveglia Magic Academy's berwarna hitam dan bergaya tulisan atau theme fonts Allan tercetak jelas dan besar di lambung kiri kapal. Hinata memandang takjub sesuatu yang tak pernah ia lihat di Desa Konoha.

Saat ini Naruto memakai kaos hitam berlengan panjang dengan bagian neck yang berbentuk V serta celana jeans biru dongker. Sebuah ikat pinggang dengan kepala berbentuk bulat dan bermerek Levi's bertengger di pinggang Naruto. Sebuah tas selempang untuk pelajar tertenteng di bahu kanannya. Hinata sendiri tampil cantik dengan tinggi tubuh sekitar 150 cm dan memiliki lekuk seorang gadis remaja. Ia memakai Dress jenis Full Skirt berwarna ungu terang yang berbahan katun lembut. Poni depan-nya yang datar atau lurus ia sisir ke samping dan ditambahkan penjepit rambut berbentuk bunga. Bagian belakang atas kepalanya ia sanggul, namun tetap mempertahankan uraian di rambut bawah belakangnya. Hinata menenteng tas pemberian Naruto dengan perasaan penuh semangat.

"A-aku belum pernah melakukan perjalanan di atas laut. A-apa kita akan baik-baik saja Naruto-kun?"

Naruto menganggukkan kepala "Semuanya akan berjalan baik jika kau tidak mabuk laut."

"Mabuk laut?"

"Perasaan mual ketika kau merasakan goyangan di atas kapal akibat gelombang laut. Lanjutan dari perasaan mual itu bisa pusing maupun muntah."

"Ter-terdengar menakutkan."

Naruto mendengus pelan. Ia menepuk pelan kepala Hinata "Jangan berpikir terlalu jauh. Mabuk laut hanya…" dan Naruto baru sadar, sosok Hinata disampingnya bukan gadis kecil berusia 10 tahun yang oppai-nya belum tumbuh, tetapi seorang remaja berusia 16 tahun yang memiliki oppai di atas standar.

"Lupakan." Ucap Naruto sambil memalingkan wajahnya dari Hinata sehingga gadis Hyuuga itu tidak bisa melihat wajah anggota Chasseurs tersebut.

Mereka memasuki pos untuk pembayaran tiket kapal. Di sana sudah ada dua orang pasukan Varangian yang berjaga. Keduanya memeriksa Naruto-Hinata dan kelengkapan-kelengkapan mereka.

"Pelajar pindahan ya?" penjaga itu memberikan surat-surat Naruto dengan cara menepuk-nepukkan dada Naruto menggunakan surat-surat tersebut "Selamat bersenang-senang di Akademi Magic Poveglia, anak muda…"

Naruto mengambil surat itu tanpa berkata apapun. Setelah mereka lolos dari penjagaan pertama, mereka pun mendapatkan tiket menaiki kapal. Seperti yang terlihat dari luar, kapal feri untuk pelajar-pelajar Akademi Magic Poveglia memang megah.

"Waaah…li-lihat langit-langit lantai pertama Naruto-kun. Lampu-lampunya seperti tertanam di sana."

"Itu hiasan interior plafond. Mereka memakai lampu LED berbentuk bulat yang dipasang di dalam plafond agar pencahayaan bisa diatur secara built-in LED. Artinya pencahayaannya merata-ttebayo," Naruto melirik ke arah Hinata, hampir ia terjungkal karena gadis itu mendekati wajahnya dan memasang wajah tak berdosa.

"A-apa itu?"

Naruto dapat melihat semburat merah tipis di pipi mulus tersebut. Wajah remaja Hinata benar-benar berlipat-lipat ganda manis dari Hinata kecil.

"Po-pokoknya untuk seusiamu, kau belum mengerti-ttebayo!" ucap Naruto sekenanya. Ia memasukkan kedua tangannya di saku celana sambil menghela napas letih.

"Bagaimana dengan motormu Naruto-kun. Bagaimana dengan Kyuu-Kyuu?"

Naruto tertawa kecil. Berbicara soal Kyuu-Kyuu benar-benar menyenangkan. "Ia kutinggalkan dengan pemilik tempat kita menginap tadi. Aku juga membuatnya menjadi mode aktif. Jadi jika ada sesuatu atau seseorang yang macam-macam dengannya, maka Kyuu-Kyuu bisa melakukan tindakan pencegahan."

"Mo-motormu terdengar keren Naruto-kun…"

Naruto mendengus pelan. Wajah dingin dan angkuhnya ia tampakkan walau hanya sekilas. Suara klakson kapal berbunyi menandakan bahwa perjalanan menuju Pulau Poveglia akan dimulai. Ikatan kapal di tiang tepi pelabuhan dilepas. Dengan hidupnya mesin kapal, Naruto dan Hinata bersiap menuju pulau para akademisi Bangsa Magic.

Keduanya berdiri di geladak utama bagian haluan kapal. Hinata merentangkan kedua tangannya. Ia dapat merasakan angin kencang menerpa kulitnya, membuat epidermis-epidermis itu terasa sejuk. Naruto yang bersandar di tepian kapal tersenyum karena Hinata ternyata tidak mabuk laut.

"Hoeek hoeek." Terdengar ciri khas suara orang yang sedang muntah di samping Naruto. Hal tersebut membuat Naruto memandang ke arah tersebut, membuatnya melihat seorang gadis berusia 16 tahun dengan rambut merah sedang mengelap bibirnya menggunakan sapu tangan. Entah kenapa rambut merah gadis itu membuatnya teringat seseorang.

"Haah, naik kapal feri memang merepotkan…" gadis itu bersandar di tepian kapal, lalu perlahan-lahan melorotkan tubuhnya ke bawah "Kepalaku pusing. Hee…" mata gadis itu melebar. Dia menutup mulutnya dan sepertinya ingin muntah kembali.

"Tarik napas perlahan-lahan, lalu hembuskan."

Gadis itu menoleh terkejut ke arah sumber suara. Dia memandang aneh seorang lelaki yang berusia sama sepertinya memberikan arahan tentang teknik menahan muntah. Naruto yang mengatakan hal tersebut menaikkan alis perlahan-lahan.

"Jika kau terus saja menuruti perutmu untuk muntah, maka kau akan terus muntah selama perjalanan."

"D-diam," gadis itu memandang kesal ke arah Naruto "Ini sudah…hoo-"

"Tarik napas…" Naruto langsung menggerakkan kedua jari tangannya berputar-putar ke arah hidung, memberi kode kepada gadis itu untuk menarik napasnya "Ya…perlahan-lahan, tarik napas sambil membayangkan kau kini sedang berdiri di sebuah taman tanpa gelombang laut dan goyangan."

Entah kenapa gadis itu menuruti kata-kata Naruto. Dia menarik napasnya, lalu menghembuskannya ketika Naruto menyuruh hal tersebut. Hinata yang melihat Naruto sedang membantu seorang gadis pemabuk laut hanya memiringkan kepala kebingungan.

"Sebentar lagi kita akan sampai…yak, tarik napasmu lagi, lalu hembuskan…" Naruto menghela napasnya lalu menyandarkan punggungnya ke tepian kapal. Ia memandang datar gadis tersebut "Bagaimana? Kau terlihat lebih baik dari tadi."

"Me-mendingan. He-hebaat." Gadis itu memandang kedua tangannya seolah-olah tubuhnya ini bukan tubuh aslinya "Aku tak merasakan mual lagi."

"Jika kau bisa mengendalikan pikiranmu dan menangkal keinginan untuk muntah, maka mabukmu pasti akan hilang."

"Dari mana kau mempelajarinya?"

Naruto terlihat berpikir, kemudian ia terkekeh perlahan "Karena aku dulu seorang pemabuk juga." Bisa dibilang Naruto dulu mengatasinya karena pelatihan anggota Chasseurs yang ia lakoni. Gadis berambut merah yang mendengar ucapan Naruto sedikit kaget. Ternyata seorang pemabuk bisa berubah, bahkan terlihat menikmati perjalanan laut ini! Ada harapan di dalam diri gadis itu ia bisa menikmati perjalanan lautnya dengan perasaan bahagia.

"Lalu…kenapa kau menolongku?"

"Menolong? Maksudmu?"

Gadis itu bertopang dagu di tepian kapal. Rambut merahnya berkibar pelan ditiup angin. Benar-benar terlihat indah dan menawan. Gadis itu juga terlihat cantik walaupun tadi habis muntah-muntah akibat mabuk laut.

"Kenapa kau peduli soal mabuk lautku tadi?"

Naruto kembali terlihat berpikir. Apa ya…pikir anggota Chasseurs tersebut "Tidak ada alasan khusus," ucapnya "Kau terlihat tersiksa dengan mabuk lautmu dan aku mempunyai solusinya, maka kupikir menolongmu adalah kewajibanku. Mabuk laut sebenarnya disebabkan oleh 7 hal, yakni distorsi visual, kekurangan udara segar, kelelahan, posisi di kapal, makan banyak, dehidrasi dan sugesti. Dalam kasusmu, sepertinya kau mabuk laut karena distorsi visual dan sugesti. Nyatanya setelah kau menyugesti dirimu untuk tidak mabuk laut dan membayangkan tidak di sebuah kapal, kau baik-baik saja-ttebayo."

"Heh…penjelasan yang menarik," gadis itu memandang Naruto "Karena ini kapal feri untuk siswa-siswi Akademi Magic Poveglia, sepertinya kau…hmmm, murid pindahan."

"Ada dua orang-"

"Na-Naruto-kun."

'Naruto-kun?' batin gadis itu yang akhirnya tahu nama lelaki yang menolongnya.

Baru dibilang sudah datang. Ucap Naruto di dalam hatinya. Hinata berjalan mendekati Naruto dan gadis tersebut. mata Amethyst indahnya memandang berbinar rambut merah dan aura anggun dari gadis tersebut. Juga tanpa sadar Hinata memandang dua gunung milik gadis tersebut, terlihat lebih besar dari dua gunungnya.

"Nee-Nee-Nee-chan sangat cantik dan anggun," Hinata menggenggam kedua tangannya di depan dada "Nee-chan terlihat keren."

"Waaah, kau memujiku gadis imut," gadis berambut merah itu menyalami tangan Hinata dengan ramah "Hihihi…wah, matamu sangat indah. Seperti…seperti sinar bulan yang redup namun teduh." Wajah gadis itu terpantul di iris Amethyst Hinata. Gadis itu begitu antusias berbicara dengan sang Last Ninja.

"Hmm…jadi kalian berdua adalah murid pindahan ya?"

"H-hai'." Hinata menganggukkan kepalanya dengan gugup "Kalau Nee-chan sendiri?"

"Jangan panggil Nee-chan. Kita seumuran kok. Coba kalian lihat, tidak ada siswa-siswi Akademi lainnya selain kita bertiga kan? Jadi kupikir karena kalian tidak memakai seragam Akademi Magic Poveglia, kalian pasti siswa pindahan."

Naruto mengerti yang dimaksud gadis tersebut. Pakaian yang dipakai gadis itu adalah sebuah seragam sekolah dengan blazer. Rok pleats setengah pahanya berwarna hitam dan blazer-nya berwarna senada. Rompi berwarna krem berada di balik blazer dan Kemeja putih berada di balik rompi tersebut. Sebuah dasi berwarna merah terlihat di kerah kemeja yang ujungnya dimasukkan ke dalam rompi. Naruto dapat melihat lambang Akademi magic Poveglia di dada kanan Blazer. Berbentuk bangun perisai dengan dua ular yang melilit perisai tersebut, lalu ada tiga tongkat sihir yang membentuk seperti huruf Y di tengah perisai, membagi bagian dalam perisai menjadi tiga bagian. Di pojok kiri ada gambar salib bercahaya dan sebuah tasbih yang melilit salib tersebut. Di pojok kanan ada gambar lingkaran sihir berwarna ungu dan bintang segi enam di dalam lingkaran tersebut. Di bawah ada gambar tangan manusia yang bercahaya kekuningan sedang dalam pose menggenggam, sebuah tanaman merambat seperti Drymoglossum melilit tangan itu dari pergelangan tangan hingga akhir gambar tangan. Naruto menebak arti tiga bagian gambar dalam perisai di lambang Akademi Magic Poveglia adalah mewakili tiga aliran Bangsa Magic.

Salib bercahaya dengan tasbih untuk aliran God Magic

Lingkaran sihir berwarna ungu dengan bintang segi enam di dalam lingkaran untuk aliran Dark Magic

Tangan manusia dalam posisi menggenggam, bercahaya kekuningan dan sebuah tanaman merambat untuk aliran Human Magic.

Seperti yang dikatakan Kabuto, Akademi Magic Poveglia adalah satu-satunya sekolah sihir di dunia yang memiliki tiga kurikulum aliran para Magician. Karena hal tersebut, sekolah di Kota Poveglia itu menjadi sekolah Magic terbaik bagi para Magician.

"Ja-jadi, kalau boleh tahu siapa-"

Terdengar suara klakson kapal feri, menandakan mereka sudah sampai di pelabuhan Kota Poveglia. Apa yang Naruto dan Hinata tangkap di pandangan mereka adalah sebuah pulau indah dengan rumah-rumah tersusun rapi beratap merah cerah yang menarik mata. Di tengah pulau ada sebuah bukit. Pasir-pasir putih bersih terhampar di pulau. Pulau Poveglia dikenal sebagai tempat terbaik untuk memandang sunset matahari selain di Pelabuhan Kota Lido. Ketika mereka sampai di dermaga, ketiganya langsung diperiksa para penjaga Varangian. Setelah itu mereka diantar menuju gerbang luar dermaga. Nah, digerbang terluar ini juga dilakukan pemeriksaan kembali, yang Naruto tebak adalah pemeriksaan terakhir. Setelah urusan pemeriksaan selesai, ketiganya diantar menuju sebuah mobil sedan berwarna putih yang menunggu. Ada tulisan Akademi Magic Poveglia seperti di lambung kapal feri tadi. Sepertinya mobil sedan ini khusus menjemput para siswa-siswi Akademi Magic Poveglia untuk diantar menuju sekolah mereka.

"Selamat datang di Poveglia." kata penjaga itu. Dia mengucapkan salam kepada supir mobil sedan lalu kembali ke pos penjagaan. Naruto memandang waktu di ponselnya. Pukul 4 sore lewat 15 menit. Baiklah, dia masih mempunyai banyak waktu untuk beristirahat.

"Ko-kota yang keren…" gumam Hinata takjub. Naruto sendiri takjub dengan Poveglia. Jalanan di kota ini adalah jalan yang dibuat dari bata-bata yang tersusun rapi. Gaya perumahan ala Eropa, serta beberapa burung camar putih yang terbang di angkasa. Kesan kota pulau modern terasa sekali di Poveglia. Naruto memandang pohon-pohon yang ada di tepi jalan. Pohon-pohon Mapel yang daunnya kini berwarna kuning, oranye dan merah, berkombinasi dan terlihat indah. Naruto baru sadar bahwa musim gugur telah tiba. Perubahan warna daun Mapel menandakan musim sesudah musim panas tersebut kini menyambangi Pulau Poveglia.

"Oh iya. Di-di mana Nee-chan berambut merah yang cantik tadi, aku mau tahu siapa namanya?" Hinata menoleh kesana-kemari dengan wajah penasaran. Naruto memandang sekelilingnya. Gadis berambut merah tidak ada di sekeliling mereka.

"Aku pergi dulu ya. Maaf, limousine penjemputku sudah tiba, jadi aku tidak bersama kalian." Gadis itu berada di dalam sebuah limousine mewah. Dia berada di paling belakang. Gadis itu melambaikan tangannya "Jika kalian masuk sekolah besok, kalian pasti tahu siapa diriku. Jaa…"

Setelah ucapan perpisahan itu, limousine tersebut melaju di jalan Kota Poveglia. Hinata melambaikan tangannya dengan wajah sedikit murung. Padahal ia benar-benar ingin tahu nama gadis cantik tersebut.

"Ayo Hinata. Masih ada beberapa urusan yang harus kita lakukan." Naruto membukakan pintu mobil untuk Hinata dan mempersilahkan gadis Hyuuga itu masuk ke dalam. Naruto memandang cahaya matahari sore di lautan, terlihat indah padahal belum masuk ke tahap sunset. Ia masuk ke dalam mobil dan mereka kini menuju sekolah Magic paling terkenal di dunia.


Mobil sedan itu disambut gerbang megah setinggi 8 meter. Dengan daun pintu gerbang seperti jeruji besi untuk para raksasa, di atas gerbang terpahat tulisan Poveglia Magic Academy's. Beberapa ekor gagak bertengger di atas gerbang, seperti mengawasi siapa yang masuk dan siapa yang keluar. Penjaga gerbang mengetuk kaca mobil dan memastikan mobil sedan dibawa oleh supir sekolah.

Pukul 4 lewat 30 menit, Naruto dan Hinata sudah berada di halaman parkir Akademi Magic Poveglia. Parkirnya seluas lapangan sepakbola. Ada 6 bagian parkir yang masing-masing dipisahkan pagar tanaman. Pagar tanaman itu dirawat rapi. Semak-semak pagar dari tanaman Clitoria dikombinasikan dengan pepohonan Fagus.

Naruto dan Hinata diantar menuju ruang kepala sekolah. Mereka memasuki bagian tengah akademi yang merupakan sebuah taman raksasa dengan kolam air mancur berdiameter 100 m. Ada patung seorang Magician yang memegang buku sihir di tangan kanan dan tongkat sihir di tangan kiri. Dari atas ujung tongkat sihir itu keluar air mancur. Saat Hinata ingin mencelupkan tangannya ke dalam air kolam, Naruto menarik belakang rambut gadis itu agar tidak berbuat yang aneh-aneh.

Di bagian kanan taman ada lapangan olahraga, yakni lapangan bola, jalur lari untuk estafet serta lapangan Baseball. Beberapa siswa-siswi terlihat berkumpul di sana, sepertinya sedang melakukan kegiatan klub. Di bagian kiri taman berdiri tegak Gedung Olahraga. Naruto menebak banyak sekali permainan olahraga indoor di sana. Selain menyokong kurikulum Magic mereka, Akademi Poveglia ternyata sangat memperhatikan hobi para siswanya.

Untuk menuju kantor kepala sekolah, Naruto dan Hinata harus melewati 3 lorong panjang yang mewah dan menaiki lift hingga ke lantai 10. Kantor kepala sekolah berada di sebuah menara seluas 300 meter persegi dengan suite yang sangat mewah. Dinding di belakang kursi kepala sekolah adalah dinding kaca satu arah sehingga kepala sekolah bisa melihat aktifitas siswa-siswinya dari atas sedangkan siswa-siswi tidak bisa melihat isi di menara tersebut.

Principal Akademi Magic Poveglia duduk menyatukan kedua tangannya di meja. Wanita berusia 32 tahun, masih lajang, dengan rambut pirang kecoklatan ditata herringbone, top-simpul dengan band berwarna biru tua dan empat poni, yang mana dua poni pendek dan dua poni rambut yang panjang hingga jatuh ke dadanya. Pertama kali melihat Kepala sekolah tersebut, Naruto mendapatkan kesan bahwa sang Principal adalah wanita yang berkompeten.

"Ternyata ini siswa-siswi pindahan yang dimaksud Azazel. Selamat datang di Akademi Magic Poveglia, namaku Terumi Mei. Salam kenal…"

Naruto dan Hinata membungkukkan tubuh mereka. Sementara supir yang mengantarkan keduanya undur diri lalu keluar dari ruangan.

"Kalian masuk ke kelas 2 pada semester genap. Apa yang membuat kalian pindah dari Budapest? Bukankah itu sekolah Magic aliran Dark yang bagus…"

'Bagaimana aku menjelaskannya…' batin Naruto dengan wajah sweatdropped.

"A-anu, kami di sini karena permohonan dari Aza-"

"Azazel ojii-chan berpendapat bahwa Akademi Magic Poveglia merupakan sekolah terbaik di dunia untuk para Magician. Beliau juga meminta kami mempelajari aliran-aliran Magic lainnya. Jadi ketika kami sudah menjadi Magician dewasa, setidaknya kami mampu beradaptasi dengan dunia yang lebih keras. Para Magician yang hebat tidak hanya ahli di alirannya, tetapi mengenal dua aliran lainnya agar Bangsa Magic tidak terpecah-belah," Naruto memandang ke arah lain 'Ngomong apa sih aku-ttebayo…'

Hinata memandang Naruto dengan mata berbinar. Terima kasih…itu kode dari mata binar Hinata. Jika saja Naruto tidak memotong ucapan gadis Hyuuga tersebut, bisa-bisa penyelidikan rahasia mereka terbongkar di depan Kepala Sekolah.

Makanya jangan terlalu polos…itu arti dari pandangan Naruto kepada Hinata. Terumi menepuk kedua tangannya. Ia tersenyum senang.

"Alasan yang bagus. Bagus sekali…boleh aku minta surat administrasi kalian?"

Naruto menyerahkan empat amplop kepadaTerumi Mei. Setelah memeriksa sekilas, sang Kouchou memanggil seseorang lewat teleponnya.

"Ketua OSIS akan mengantarkan kalian ke asrama. Asrama sekolah diperuntukkan untuk siswa-siswi yang berasal di luar Poveglia. Bagi siswa-siswi asli dari Kota Poveglia, boleh tinggal di rumah mereka. Tenang saja…asrama kami sangat nyaman dan berkelas."

'Sepertinya Kepala Sekolah ini senang membangga-banggakan sekolahnya…' Naruto menganggukkan kepala. ia bersama Hinata sekali lagi mengucapkan terima kasih. Beberapa menit kemudian, sang Ketua OSIS datang. Dia membicarakan beberapa hal dengan Kepala Sekolah sebelum matanya memandang tajam Naruto-Hinata.

Boleh mendeskripsikan Kaicho Akademi Poveglia? Tentu saja…

Ketua OSIS itu memiliki rambut hitam lurus yang pendek bermodel bob, bermata violet dengan tubuh sedikit slim. Tingginya sekitar 160-cm. Memakai kacamata, bermata tajam dan tipe gadis non-ekspresi, Ketua OSIS Akademi Magic Poveglia pantas mendapatkan gelar Ketua. Ada band di lengan kanannya yang bertuliskan Kaicho.

"Aku akan mengantarkan kalian ke asrama…" Ketua OSIS membuka pintu ruangan kepala sekolah "Terumi-Kouchou, saya izin permisi."

"Terima kasih, Sitri-san." Jawab kepala sekolah Terumi.

'Sitri…' Naruto memandang punggung gadis yang berjalan di depannya. Tegak dan berwibawa. Mungkin akan sulit menggali informasi dari sang Ketua OSIS.

"A-ano, Kaicho…perkenalkan nama saya Hyu, maksudnya Kuyut Hinata," Hinata memandang ke arah lain dengan deraian air mata 'Na-Naruto-kun kampret, nama keluargaku jadi aneh begini' Hinata kembali menghadap ke arah Sitri-Kaicho yang berwajah datar "Sa-salam kenal."

"Salam kenal, Kuyut-san. Namaku Sitri Sona." Ucap Sitri Sona-Kaicho sekenanya. Sona merasa ada yang aneh, dia yang memandang serius ke depan kemudian memandang ke sisi kanannya. Hinata mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Ada sedikit ekspresi kaget dari wajah datar Sona, walaupun ekspresi itu sangat tipis untuk dilihat.

"Maafkan atas ketidaksopananku, Kuyut-san. Salam kenal juga." Ucap Sona sambil menyalami tangan Hinata.

Wuaah, walaupun meminta maaf, aura-aura Kaicho-nya sangat terasa! Batin Naruto heboh. Hinata sendiri sampai gugup ketika tangannya disalam sang Ketua OSIS. Naruto merasa Sona bukanlah gadis sombong, ia seperti tipe gadis pendiam yang hanya berbicara seperlunya. Tipe gadis seperti apa itu? Emm..emm…Tsundere? Dandere? Yandere? Atau Sonadere?

'Apa yang kupikirkan?' batin sang Chasseurs dengan wajah kikuk.

"W-wah, kau tidak perlu meminta maaf Sitri-kaicho," Hinata menggenggam kedua tangannya. Kemudian perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya dan memandang Sona dengan tatapan penasaran "Bo-boleh Sitri-kaicho kupanggil Sona-chan. Ka-kaicho boleh memanggil nama depanku juga."

Sona berhenti berjalan. Dia memandang Hinata dengan wajah tanpa ekspresi. Persis seperti papan penggiling. Naruto jengah. Apa Ketua OSIS itu akan memarahi Hinata karena beraninya sok-sok dekat padahal beberapa waktu baru kenal.

"Terima kasih ya, karena sangat ramah Hinata-chan. Kau boleh memanggil nama depanku." Ucap Sona dengan suara tenang dan datar. Hinata memasang wajah bahagia. Dia mendapatkan teman baru lagi dan teman barunya itu adalah Ketua OSIS Akademi Poveglia!

Uwoooh, saat berkata seperti itu aura wibawa-nya tidak hilang, benar-benar Super Kaicho! Batin Naruto karena melihat cahaya-cahaya kebijaksanaan keluar dari tubuh Sona.

Akhirnya Naruto hanya sebagai pendengar obrolan Hinata dan Sona. Hinata yang bersuara lembut nan cute banyak bertanya tentang akademi dan Sona menjawabnya dengan lugas. Keduanya seperti saling melengkapi. Naruto tersenyum karena gadis The Last Ninja itu dapat mengikat pertemanan dengan mudahnya.

"Hee…jadi pemuda berambut kuning di belakang kita itu goblok ya," bisik Sona dengan wajah datar sambil melirik ke arah Naruto.

'BISIKANMU TERDENGAR JELAS!' batin Naruto kesal. Hinata yang dibisiki Sona mengangguk-angguk penuh semangat.

'Jadi kau memberitahu hal aneh lagi, setan kecil!' perempatan muncul di kening Naruto. Lagi-lagi dia dikatain.

"Bukan goblok, Sona-chan…tetapi bego."

"Si kuning bego?"

"Ya, si kuning bego."

'AKU MENDENGAR BISIKAN KALIAAAN!' Naruto ingin menenggelamkan kedua kepala gadis itu ke tanah, namun tanpa terasa mereka melewati taman akademi dan sampai di depan asrama cowok.

Asrama cowok terletak 200 meter di belakang gedung olahraga, lalu terpisah dengan sebuah gang kecil dan pagar, ada asrama untuk cewek. Kedua asrama memiliki 30 lantai dengan bangunan bergaya kastil. Naruto memandang gerbang asrama. Tertulis Magic itu Berani. Magic itu Berseni dalam bahasa latin.

Di samping gerbang asrama cowok terdapat dinding bata setinggi 5 meter. Di depannya ada pekarangan bunga yang terdiri atas bunga Lavender, Marigold dan Madenvilla. Perhatian Naruto terpusat pada peri-peri bunga kecil yang sedang bermain-main di atas kelopak bunga tersebut. Ada sekitar 10 peri yang bertubuh seukuran semut. Mereka memiliki empat pasang sayap seperti sayap capung. Para peri bukan hanya berkelamin wanita dengan dress model Babydoll dan bagian bawah dress mereka berbentuk zig-zag, ada juga peri bunga berkelamin pria tanpa baju dan hanya memakai rok selutut yang dililitkan ke pinggang dari bahan linen.

"Waaah, imutnyaa." Ucap Hinata antusias. Saat ia ingin memegang satu peri bunga, Sona menahan tangan Hinata.

"Jangan mengganggu mereka saat menghisap nektar bunga, Hinata-chan. Bisa-bisa kau diserang."

"Me-mereka bisa menyerang?"

"Ya." Sona menunjuk ke depan, Hinata mengikuti pandangan Sona dan melihat Naruto yang sedang dipukul kepalanya oleh peri bunga pria karena mengganggu proses pengambilan nektar.

"Kenapa kau tidak bilang dari tadi-ttebayo?!" protes Naruto dengan sedikit benjolan di kepalanya. Sona membenarkan letak kacamatanya.

"Maaf." Ucapnya datar.

Wuooh, bahkan saat meminta maaf, aura wibawanya masih terpancar! Batin Naruto kaget. Sona tetap bisa menjaga cahaya kepemimpinannya.

"Ini kartu pelajar barumu." Sona memberikannya kepada Hinata. Tentu saja Naruto kebingungan. Hinata juga.

"A-ano, ini punya Naruto-kun?"

Sona menganggukkan kepala. Walaupun bingung dengan sikap Sona, Hinata memberikan kartu itu kepada Naruto.

"Terima kasih, Sitri-kaicho. Terima kasih dengan kartunya dan terima kasih karena telah mengantarku ke asrama cowok. Hmm lalu…"

"Saar kau masuk ke gerbang asrama, gunakan kartu itu."

"Hm? Untuk apa?"

Sona menunjuk tulisan Magic itu Berani. Magic itu Berseni di atas gerbang "Lambaikan kartumu tiga kali."

Naruto mendengus pelan. Seharusnya Sona menjelasnya lebih detail, tetapi mengingat sepertinya itu sikap asli sang Kaicho, ia menurutinya saja. Naruto melambaikan kartu itu tiga kali di depan gerbang dan tiba-tiba cahaya merah muncul dari tulisan latin di atas gerbang. Cahaya seperti laser itu tepat menembak ke kartu pelajar Naruto, seperti cahaya scan, kemudian terdengar "Verifikasi berhasil. Selamat datang di Asrama Lelaki Akademi Magic Poveglia, Mr. Uzumaki…"

Gerbang asrama tiba-tiba menghilang, bersama dengan dinding-dindingnya dan menjadi sebuah kolam besar dengan air berwarna merah. Seramnya, terkepul asap-asap mencurigakan dari air merah kolam. Naruto dan Hinata tentu saja terkejut. Kenapa asrama tiba-tiba berubah menjadi kolam aneh?!

"Ini adalah Sihir Four Dimension Phenomenom. Lihat di sebelah sana…" Sona menunjuk beberapa meter di sisi kanan kolam. Dinding dan gerbang asrama yang tadi mereka lihat berpindah ke sana. Hinata takjub melihatnya. Ia bertanya dengan antusias apa yang sebenarnya terjadi.

"Ini adalah Mono Red Pool. Kolam yang mengandung alkali beracun seperti klorida, karbonat dan sulfat. Jika berendam selama 3 menit di kolam ini maka akan langsung kehilangan nyawa."

Saat mengatakan kehilangan nyawa, senyuman tipis muncul di wajah Sona. Psikopat…batin Naruto, namun aura wibawa tetap terpancar dari Ketua OSIS tersebut!

"Mono Red Pool dan asrama cowok adalah dua tempat yang bisa berpindah dalam sekejap. Tidak ada yang tahu ketika memasuki gerbang asrama cowok, apakah itu benar-benar asrama atau Mono Red Pool. Fenomena ini karena sihir dari Four Dimension Phenomenom yang dipasang, agar ketika ada penyusup yang masuk, maka mereka akan terjebak. Satu-satunya cara menetralisir sihir ini adalah kartu pelajar Akademi Magic Poveglia," Sona memandang kartu di tangan Naruto dengan serius "Jangan sampai meninggalkan kartu anda, Uzumaki Naruto-san."

Naruto meneguk ludahnya. Kejam juga sekolah ini. Naruto berpikir sesuatu sebelum bertanya "Apa itu berlaku di asrama cewek?"

Sona mengangguk "Asrama cewek berpasangan dengan Kivu Blue Pool. Sebuah kolam berwarna biru yang terdiri atas metana tinggi dan karbon dioksida."

'Bu-bukankah kolam itu berbahaya berada di dekat asrama pelajar?' batin Naruto dengan alis naik-turun sweatdropped.

"Untuk keselamatan, tenang…seluruh asrama dilapisi sihir barrier yang kuat, jadi tidak terpengaruh oleh kolam. Ini hanya untuk pencegahan agar tidak ada penyusup yang memasuki asrama seenaknya."

Mungkin untuk para pengintip juga, batin Naruto. Dia kemudian ber-ojigi "Terima kasih Sitri-kaicho karena telah menjelaskan," Naruto menyodorkan tangan kanannya, ingin mengajak bersalaman "Maaf jika tidak memperkenalkan diri seperti Hinata. Jika kau mau, kau bisa memanggilku Naruto."

Sona memandang tangan Naruto dan berbalik arah "Tidak usah. Aku tidak perlu."

'Wah…sayang sekali, padahal kukira dia ramah…' Naruto menekuk alisnya 'Tetapi aura wibawanya tetap keluar saat ia menolak salamanku coy!'

"Ti-tidak boleh seperti itu Sona-chan, Naruto-kun hanya ingin berteman denganmu." Hinata dengan seenaknya memegang kedua bahu Sona lalu memutar tubuh Sona untuk menghadap ke arah Naruto. Tanpa sengaja tumit sepatu Hinata tersandung peri bunga yang sedang lewat sehingga mendorog tubuh Sona ke depan. Sona hampir saja masuk ke kolam Mono Red jika Naruto tidak menangkap pergelangan tangan sang Kaicho.

"Kaicho! K-kau tidak apa-apa?" tanya Naruto dengan wajah khawatir. Hinata menggosok tumitnya sambil meminta maaf kepada peri bunga yang ia langgar.

Sona terdiam. Dia tidak menoleh ke arah Naruto atau mengucapkan terima kasih. Perlahan-lahan dengan kaku sang Ketua OSIS memandang pergelangan tangan kanannya yang dipegang oleh Naruto.

"Le-le-le-le-le…" Sona menepis tangan Naruto lalu terpantul-pantul ke segala arah seperti per "LEPASKAN TANGANMUUUU!"

Sang Kaicho hampir saja masuk ke kolam kembali jika Naruto tidak melompat dan menangkap tubuh gadis berkacamata tersebut. Sona menerjang Naruto dengan kedua kakinya hingga sang Chasseurs terhuyung-huyung ke belakang dan sedikit lagi masuk ke kolam.

"W-woi, padahal aku menolongmu-ttebayo!" Naruto tentu saja tidak terima denga perlakuan Sona. Masa ia capek-capek menolong gadis itu agar tidak jatuh ke kolam beracun malah mendapatkan terjangan dan bentakan.

"Kaicho-samaaa!"

Perhatian Naruto dan Hinata teralihkan ke seorang gadis berambut hitam panjang lurus hingga selutut dengan iris mata coklat terang. Gadis itu juga memakai kacamata dengan frame biru. Tubuhnya lebih berbentuk daripada Sona. Namun bukan itu masalahnya, kembali ke topik utama,

Kenapa Ketua OSIS yang berkharisma tadi tiba-tiba terlihat takut dengan tubuh bergemetaran.

"Ka-Kaicho?!" gadis berkacamata frame biru langsung khawatir melihat getaran tubuh Sona "Ouh! Ada pria!" ucapnya yang membuat Naruto tambah bingung. Sementara Hinata di dalam hatinya melihat bergantian ke arah Naruto dan ke arah Sona. Dia takut wajah pucat Sona adalah akibat perbuatannya.

"K-kau tidak apa-apa Kaicho? Maafkan aku karena tidak bersamamu…"

"Apa yang terjadi pada Sitri-kaicho dattebayou?"

"ITU KARENA KAU TIDAK TAHU KALAU KAICHO-SAMA MENGIDAP ANDROPHOBIAAAA!" teriak gadis itu dengan wajah kesal "Ups. Aku keceplosan." Tambahnya dengan wajah tak bersalah. Sona langsung menutup mulut gadis itu dengan ganas.

"Kau selalu saja keceplosan Tsubaki!"

Androphobia? Naruto mengangkat alisnya. Dia akhirnya mengerti kenapa Sona tiba-tiba bersikap aneh, tetapi…Bahkan ketika rahasianya ketahuan, aura Sona-kaicho tetap bersinar!

"Ma-maaf Kaicho." Gadis yang bernama Tsubaki itu ber-ojigi. Dia berdiri tegak dan membetulkan letak kacamatanya. Ia memandang kesal ke arah Naruto. Anggota Chasseurs itu sendiri hanya memasang wajah bingung, seolah-olah semua hal tadi adalah kesalahannya.

"Kau…Androphobia ya?"

"Ya…" ucap Sona dengan nada datar dan sedikit beremosi "Kau tahu, cowok itu…" Sona menundukkan kepalanya "COWOK ITU BRENG*K, KEPARAT, BAJI*GAN, AN*IING TANAH, BUSUK, EEK KUDA, PE*IS KANGGURU, DAKI KADAL, TOMPEL BINASA, MAHLUK NAFSUAN! COWOK ITU ADALAH HAL PALING MENJIJIKKAN DI DUNIA!" Aura Sona berubah. Yang tadinya bersinar penuh kebijaksanaan kini menjadi berapi-api. Hinata melongo. Dia tak menyangka Sona-chan punya sisi yang unik.

"Heeh…heeh…" Sona sudah puas mengungkapkan kekesalannya, dia menujuk Naruto dengan tangan bergetar "K-kau…kau satu-satunya cowok yang berani menyentuhku. Sejak aku masuk Akademi ini, tidak pernah satupun cowok yang bisa menyentuhku. Hiii! Aku akan mencuci tubuhku dengan bunga 7 rupa dan susu Wyet S26, kemudian menggosoknya dengan sabun antiseptik selama 7 hari! Menjijikkan…menjijikkan…" Sona membenarkan letak kacamatanya. Perlahan-lahan sikapnya kembali tenang. Aura kebijaksanaannya kembali.

"Jangan mengulanginya lagi atau kubunuh kau dengan mantera-ku."

Hinata yang penasaran dengan Androphobia akhirnya dijelaskan oleh Naruto. Androphobia/Arrhenphobia adalah phobia terhadap lelaki, mau itu berdekatan dengan laki-laki maupun disentuhnya. Androphobia bisa diakibatkan beberapa hal, yakni trauma masa lalu atau adanya sugesti bahwa cowok itu adalah sampah. Hinata mengangguk-angguk mengerti mendengar penjelasan Naruto.

Akhirnya Sona dan Tsubaki, yang merupakan wakil ketua OSIS, pergi meninggalkan Naruto. Hinata bersama keduanya. Naruto dapat mendengar bagaimana Sona menjelek-jelekkan soal tiga garis kucing di pipi Naruto seperti eek kuda yang pernah ia lihat.

"MANA PERNAH EEK KUDA BERBENTUK TIGA GARIS KUCING, SIALAAN!" Naruto dapat mendengar Hinata yang ikutan berbisik bahwa kepala kuning Naruto-lah yang cocok menjadi eek. Tsubaki ikutan nimbrung bahwa warna mata Naruto yang cocoknya menjadi eek.

'E-eek apa yang berwarna biru?' batin Naruto dengan alis berkedut kesal.

Dia memasuki gerbang asrama dengan pikiran kaget. Ternyata Ketua OSIS yang dingin dan berwibawa punya kelemahan juga. Saat kakinya menjejak di halaman asrama, Naruto tidak merasakan apapun. Ia pikir ada jebakan lagi, nyatanya hanya sihir Four Dimension Phenomenome yang terpasang di depan asrama.

Ia menaiki undakan tangga batu yang memiliki 16 anak tangga. Kemudian ia membuka pintu berdaun dua dari kayu belian yang dipasang dengan terali besi. Pegangan di daun pintu bagian kanan berbentuk kepala harimau, yang bagian kiri berbentuk kepala elang.

"Selamat datang di asrama cowok Akademi Magic Poveglia, Uzumaki-dono."

Naruto sedikit terkejut dengan sambutan seorang pria berbadan besar, berwajah seperti Freddy Mercury vokalis Band Queen, memakai kaos putih dan celana boxer berwarna pink.

"Namaku Alaindelon. Aku adalah kepala asrama." Dia bergaya seperti pelayan-pelayan di restoran kelas atas. Naruto mengangguk kikuk. Tiba-tiba Alaindelon mendekatinya dan menempelkan tangan kanannya di pipi Naruto.

"Tak kusangka murid pindahan ini ganteng juga ya…lalu apa kumis kucing di pipi ini? membuatmu semakin imut saja," Alaindelon mengedipkan matanya "Mungkin kau bisa menjadi salah satu fa-vo-rit-ku." Tidak lupa dengan gambar hati yang muncul dari kedipan maut nan nista dari Alaindelon.

"Ya ya ya!" Naruto melompat mundur menjauhi Alaindelon. Ia rasa kepala asrama ini memiliki kelainan. Tubuh berotot, kekar dan macho sekali, KENAPA PAKAI BOXER WARA PINK?! Apa-apaan penampakan betis besi itu? Bulu kaki mengerikan itu juga…

Naruto menepuk keningnya. Ia rasa kepala asrama ini akan sedikit merepotkannya.

"Sini biar kuantar ke kamar anda Uzumaki-dono." Alaindelon berjalan di depan Naruto. Anggota Chasseurs itu memandang sekelilingnya. Sepertinya ini adalah ruang tamu asrama. Sangat luas. Dia dapat melihat Tv LCD 90 yang melayang di udara, sepertinya dilayangkan dengan sihir. Lalu ada tiga kursi yang terlihat empuk di depan Tv tersebut. lampu-lampu di atas ruang tamu adalah lampu gantung yang berbentuk seperti berlian. Berlian-berlian itu memancarkan cahaya. Mata biru teralihkan ke sebelah kanan ketika suara Alaindelon memanggil nama depannya.

'Suasana di sini benar-benar magis. Khas bangsa Magic…' Naruto berjalan memasuki lorong panjang yang luas. Dia dapat melihat lukisan-lukisan manusia di setiap lorong. Ada lukisan Dullahan, mahluk yang tubuh dan kepalanya terpisah; lukisan Van Gogh, pelukis terkenal abad 19; lalu juga lukisan seorang wanita gendut bertopi merah dan bersepatu merah, sedang membawa anjing dengan talinya; kemudian sebuah lukisan seorang wanita yang menari di tengah padang rumput yang kosong, terlihat mistik dan misteri.

"Jangan terlalu menatap Ana, bocah. Kau bisa membuat tubuhnya kaku dan menggigil."

Naruto berhenti berjalan. Dia memasang wajah kaget. Kemudian memandang sekelilingnya, menoleh ke belakang dan melihat Alaindelon yang masih berjalan tegap ke depan.

"Suara siapa itu?" Naruto menaikkan alisnya. Suara tadi berbeda dengan suara Alaindelon. Bahkan suara tadi memiliki logat khas Belanda. Naruto berjalan menuju lukisan Van Gogh dengan jantung sedikit berdebar.

"Buh!" kata van Gogh di dalam lukisan. Naruto hampir mencabut pistol yang ia sembunyikan di balik kaosnya karena terkejut. Lukisan itu tertawa terbahak-bahak karena berhasil menjahili Naruto.

"Tidak boleh seperti itu, Mr. Van Gogh. Kau membuat anak muda itu takut."

Naruto melongo memandang wanita gendut di lukisan yang berada di sebelah lukisan Van Gogh berbicara. Anjingnya bahkan ikut menggonggong.

"Ah…jangan terlalu diambil serius Madame du Barry," van Gogh mengedipkan matanya "Aku kira kau tidak terkejut, kan di sekolah-sekolah Magic memiliki beberapa lukisan yang bisa hidup. Tetapi aku pikir…"

Naruto ingat. Dia harus pura-pura sebagai siswa pindahan dari Sekolah Magic Budapest. Terkejut karena pertama kali melihat lukisan yang bisa berbicara membuatnya dicurigai. Dia tidak mau rencananya ketahuan oleh sebuah "lukisan".

"A…ahahahaha," Naruto menggaruk belakang kepalanya "Aku terkejut karena bisa melihat anda wahai, Tuan Van Gogh. Anda dulu adalah pelukis terkenal yang sangat disukai ayah saya."

"W-wooh, benarkah? Aku merasa menjadi orang hebat." Van Gogh berdehem "Jika diperkenankan, aku akan menunjukkan karyaku nak." Wajah Van Gogh menjauh, sepertinya lukisan itu mundur ke belakang sehingga view yang dilihat di lukisan bukan hanya wajah Van Gogh, tetapi seluruh tubuhnya dan ruangan yang ada di lukisan tersebut. Orang-Orang Magic memang agak kurang kerjaan, menghidupkan lukisan dari orang-orang yang telah meninggal.

Di ruangan lukisan Van Gogh terdapat banyak lukisan-lukisan karyanya yang terpasang di dinding. Ada tempat perapian di sana, juga sebuah sofa empuk berwarna merah dan meja kecil. Di atas meja kecil itu ada sebuah botol wiski dan gelas kecil.

"Ini adalah The Starry Night. Aku melukisnya ketika bersantai di sebuah kafe sambil menikmati kopi. Kau pasti tahu kehebatannya kan? Hahaha, aku tak menyangka campuran warna abstrak-ku menghasilkan mahakarya."

Naruto tidak terlalu paham soal lukisan. Tetapi dengan bijak ia mengatakan "Anda memiliki aliran seni yang unik, Mr. Van Gogh."

"Wohooo…kau membuatku tersanjung nak. Sekarang aku menyukaimu." Kata Van Gogh sambil menunjuk Naruto dengan kedua tangannya yang dibuat seperti pistol. Dari mana Van Gogh belajar pose itu?

"Lalu, gadis menari ini yang tadi dipanggil Ana?" Naruto memandang lukisan gadis menari dengan takjub. Model gadis di lukisan itu terlihat anggun dan cantik. Aura mistik dan misterinya sangat khas.

"Nyaan."

"Nyaan?" alis Naruto bertaut kebingungan. Tiba-tiba dia melihat tubuh gadis di lukisan bergetar.

"Nyaaan! Jangan tatap aku seperti itu. Malu-nyaaaan!"

Naruto hampir terjatuh sweatdropped. Ternyata gadis anggun di lukisan mistik itu malu ketika dirinya dilihat. Bukankah lukisan memang harus dilihat untuk dapat mengagumi karyanya?! Apalagi Ana di lukisan itu selalu berkata seperti kucing.

"Ana memang pemalu. Tetapi sebenarnya ia adalah gadis yang baik." Kata Madame du Barry. Naruto meminta maaf di depan lukisan Ana.

"Namanya Ana Pavlova. Sosok aslinya adalah penari balet terkenal. Kelemahannya adalah sifat pemalunya yang berlebihan sehingga dia gugup dan mengatakan nyaan," Naruto memandang Dullahan di lukisan yang berbicara. Dia mencari-cari kepala Dullahan tersebut. Tidak ada. Di lukisan itu hanya ada tubuh Dullahan berbalut armor kesatria dengan api hijau lembut dari lehernya, serta sedang menaiki kuda tanpa kepala juga. Background gelap membuat lukisan ini benar-benar Dark.

"Jangan terlalu dipikirkan, kepalaku memang suka menggelinding sendiri…"

Naruto memandang datar kepala Dullahan yang berada di sudut bawah kanan lukisan. Ada kepala model lukisan digambar sampai di sana?!

Setelah berbicara dengan empat lukisan hidup tersebut, Naruto sampai di kamarnya. Alaindelon mempermisikan dirinya dan sebelum berpisah ingin mengecup Naruto. Anggota Chasseurs itu tentu saja menutup pintu kamarnya dengan cepat.

Kamar itu mewah. Ranjang seperti penginapan di Aleppo namun sedikit lebih kecil dan tidak ada kelambu. Ada sebuah lemari, meja dan cermin. Naruto meletakkan tas-nya di tepi ranjang dan duduk di sebuah kursi yang ada di meja. Pertama-tama apa yang harus ia lakukan…sekarang ia sudah masuk di kandang para Magician-Magician muda.

Di sebuah kamar asrama cewek, tertelungkup seorang gadis berambut indigo panjang. Dia terlihat letih.

Hinata baru saja disambut penghuni asrama cewek dan diberi hadiah berupa makanan dan minuman. Ia kembali teringat perlakuan warga desa Konoha yang selalu memberinya kue saat ia pulang dari ladang.

'Apa yang harus dilakukan ya?' batin sang The Last Ninja dengan wajah penasaran.

Apa yang dilakukan Naruto-kun sekarang? Itu adalah tambahan isi hatinya

Poveglia Magic Academy's 1 END

Sebenarnya mau diteruskan sampai hari pertama Naruto-Hinata sekolah sebagai murid pindahan, tapi aku pikir di-stop di sini dulu.

Untuk arc ini Hinata memiliki tubuh seperti gadis umur 16 tahun tapi tetap dengan pikiran loli-nya (apa itu pikiran loli?!). Berkat larutan magic yang diberikan Azazel. Jadi untuk beberapa chapter ke depan, para pecinta loli diharapkan bersabar.

Nama Poveglia sendiri kuambil dari pulau angker Italia, terletak antara Venesia dan Lido di Laguna Venesia, Italia Utara. Sejarah mencatat, pulau ini pertama kali dihuni tahun 421 M ketika kaum Padua dan Este melarikan diri untuk menghindari invasi barbar.

Lalu ada karakter Sitri Sona yang terkena Androphobia. Hehe, mungkin cukup beresiko menjadikan Sona phobia terhadap laki-laki. Tetapi ide itu didapatkan dari Icha yang membantah ide awalku. Saat itu aku ingin menjadikan Sona cewek cool tetapi pemalu, tetapi Icha berkata "Itu terlalu umum, bagaimana jika Sona kita jadikan phobia terhadap laki-laki." Lalu kami cari di Mbah Google dan ternyata ada namanya Androphobia, yakni ketakutan atas kehadiran laki-laki maupun disentuhnya. Walaupun phobia, Sona mungkin lebih ke arah jijik.

Alaindelon sendiri adalah karakter dari Anime/Manga Beelzebub. Bisa cek di Mbah Google. Untuk ide lukisan hidupnya terima kasih kepada Icha yang memberikan saran berdasarkan Novel Harry Potter. Aku sangat berterima kasih menjadikan hal itu acuan. Lukisan-lukisan seperti Van Gogh, Madame du Barry, Ana Pavlova dan Dullahan benar-benar ada. Coba cek di Google. Kalau Dullahan pasti tahu-lah ya. Untuk Van Gogh adalah pelukis terkenal asal Belanda, salah satu karyanya The Starry Night yang kusebutkan di cerita. Madame du Barry seorang mistress King Louis XV dan Ana Pavlova adalah penari balet terkenal. Ingin lebih tahu, silahkan cek di Google.

Untuk nama Varangian sendiri diambil dari pasukan elit penjaga Romawi Timur abad ke-14. Ah ya…semoga menjadi Terumi Mei kepala sekolah Akademi Magic Poveglia disukai teman-teman.

Beberapa Reviews Guest:

Dua kali seminggu? Waw…mungkin bisa jika per chapter 2K lebih, tetapi aku pikir lebih baik seminggu jika aku bisa menghasilkan banyak words.

Terima kasih atas pembetulan Magazen-nya ya. Magazine jadi majalah haha. Ya, itu kata temanku adalah Pistol Glock. Anu, apa pistol Glock itu otomatis atau semi-otomatis ya?

Alhasil, selamat menikmati fic Adventure-Fantasy ini, semoga menyenangkan. Jangan lupa tinggalkan Review ya. Aku tak akan mencantumkan glosarium karena beberapa hal di atas sudah kujelaskan.

Next Chapter: Poveglia Magic Academy's 2

"Hei…kau menatapku seperti jagoan, rambut kuning!"/Ada empat siswa di Akademi Magic Poveglia yang disebut empat pilar…"/"Berani-beraninya mereka menculik Hinata!"