Pria blonde itu mengikuti arah pandang Hinata, dia terbelalak saat tahu bagaimana posisinya sekarang bersama Karin. Ya tuhan, bodoh sekali dia. Sekarang dia sedang bertemu dengan mantan istrinya dan kenapa pada saat dia sedang begitu.
"Ini tidak seperti yang kau bayangkan," ucap Naruto menyakinkan Hinata. Kenapa begitu peduli dengan tanggapan Hinata ketika melihat kau dengan Karin begitu, ingatlah kalau kalian itu sudah berpisah 7 tahun yang lalu, dan baru bertemu hari ini setelah hakim mengetuk palu dan memisahkan kalian.
Sedangkan Hinata, wanita indigo itu tidak bisa menjawab dia merasa semua sarafnya mati ketika melihat itu dia masih sangat kaget. Tubuhnya sudah tidak tahan untuk berdiri kepalanya pun semakin pusing karena cuaca bertambah dingin. Lalu, selanjutnya yang dia ingat adalah suara langkah Naruto yang mendekat dan memanggil namanya.
Pria blonde itu menangkap tubuh Hinata yang pingsan setelah melihat penampilannya sekarang, Karin pun lalu membenahi pakaiannya yang sudah tidak berbentuk agar bisa menutupi sebagian tubuhnya. Wanita itu mendecih, padahal mereka baru saja dalam tahap pemanasan.
"Himawari buka pintunya!" Ucap Naruto sedikit berteriak. Dia mencoba membujuk Himawari dengan Hinata digendongannya.
"Aku tidak mau!"
"Ayolah Himawari! Tolong dibuka ya!" Naruto membujuk sekali lagi.
"AKU TIDAK MAU!" Suara Himawari yang sedikit serak itu membuat Naruto menghela nafas, anak gadisnya itu benar-benar keras kepala. Tidak ada pilihan lagi, dia membawa Hinata ke kamar Bolt, menidurkan tubuh Hinata diatas kasur milik anak pertama mereka.
Pria itu keluar dari kamar Bolt setelah menyelimuti Hinata, dia melihat Karin yang sudah memakai mantel bulunya. "Kau mau pulang?" tanya Naruto sembari berjalan kearah dapur.
Karin hanya mengangguk, setelah mengucapkan selamat tinggal dia langsung keluar dari unit milik Naruto, tangan lentiknya itu meraba pelan lehernya. 'Hh, dia bahkan belum membuat sebuah Kissmark untukku,' keluhnya.
.
.
.
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Pair: Bolt U., Himawari U., [Naruto U., Hinata H.]
Rated: T+ (for dialog)
Genre: Family, Drama.
The Stardard Warning Used
.
.
.
Naruto menatap tubuh yang terbaring di ranjang kamar Bolt itu dalam diam, dia pun duduk di kursi belajar Bolt sambil tetap memandang wajah wanita indigo itu. Dia bahkan tak memperdulikan tubuhnya yang hanya memakai celana jeans setelah insiden bersama Karin.
Haruskah dia berterimakasih kepada Hinata, karena kedatangannya membuat dia sadar tentang apa yang akan dia lakukan kepada wanita merah itu.
Sungguh, Naruto benar-benar tidak ingin melakukan itu dengan Karin. Dia hanya sedang tergoda, mungkin. Dan, hei siapa yang tidak akan tergoda ketika melihat santapan kalian menantang untuk dimakan.
Naruto tetap menatap tubuh Hinata yang berbalut selimut tebal itu sampai ada sebuah tangan mungil yang memegang lengannya.
"Ayah, apa ibu marah padaku?" Himawari menatap ayahnya penuh harap. Terlihat ada jejak air mata di sekitar pipi chubby Himawari, menunjukkan bahwa anak itu baru saja menangis.
Naruto menarik Himawari untuk duduk dipangkuannya, lalu mengelus puncak kepala anak perempuannya itu dengan lembut.
"Ibu tidak marah padamu. Dia hanya sedang lelah," ucap Naruto pada akhirnya. Entah kenapa, menyebut Hinata seperti itu membuatnya mengingat kenangan terpendam mereka.
"Ayah, apa ibu akan baik-baik saja?" Himawari membalikkan tubuhnya menghadap Naruto, memandang pria blonde itu. Naruto pun tersenyum dan memeluk puteri kecilnya lalu berkata, "Sebentar lagi, ibumu pasti bangun,"
Himawari merasa ada yang aneh dadi ayahnya itu, astaga bagaimana bisa ayahnya ini tidak memakai baju tebal saat musim dingin dan bertelanjang dada seperti ini.
"Ayah, kenapa tidak pakai baju?" Pertanyaan Himawari yang secara tiba-tiba itu membuat Naruto terdiam seketika.
Apa Himawari melihat yang dia lakukan tadi bersama Karin? "Aku tadi langsung berlari dan masuk kamar, aku tidak melihat ayah dimanapun," tambah Himawari.
Naruto menghembuskan nafas lega ketika mendengar ucapan Himawari. "Ayah, baru saja mandi. Dan melihat ibumu pingsan, ayah lupa untuk mengganti baju,"
Lancar sekali berbohongnya, Naruto.
Himawari tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai. Bahkan, Naruto bergidik ketika melihat Himawari seperti itu. "Ayah, apa masih mencintai ibu?" Pria itu terdiam, bahkan awalnya sangat kaget saat anaknya itu mengatakan hal itu.
"Kau ini. Umurmu baru tujuh tahun, dan sudah berkata tentang cinta. Memang kau tahu, apa itu cinta?" Naruto mencubit pelan pipi anaknya itu, gemas karena tingkah Himawari atau untuk menghilangkan tingkah canggungnya.
"Tentu saja aku tahu. Cinta adalah saat dua orang bersama dan tertawa. Aku benar kan?" ucap Himawari sambil menatap wajah ayahnya.
Pria itu terdiam setelah mendengar ucapan Himawari, dia jadi teringat akan percakapan antara dirinya dan Hinata saat setelah ikrar janji pernikahan mereka dulu.
..
Banyak sekali teman dan kerabat yang hadir untuk menyaksikan pengucapan ikrar mereka, bahkan pihak gereja harus menyiapkan kursi tambahan setelah mengetahui bahwa tamu yang datang sangat banyak dan bahkan sampai ada yang duduk dan menyaksikan pengucapan janji itu diluar ruangan.
"Hah, kalau kutahu akan seperti ini lebih baik outdoor saja," ucap Naruto sembari memijit keningnya pelan. Pria yang baru saja resmi menjadi suami dari Uzumaki Hinata ini melihat para tamu yang ada di luar ruangan berdesakan masuk agar bisa menyalami mereka setelah pengucapan ikrar.
"Itu berarti banyak yang mencintai Naruto-kun. Mereka semua ingin menjadi saksi saat hari bahagiamu," Hinata yang melihat suaminya itu memijit keningnya langsung mengelus pelan pundak kekar berbalut tuxedo hitam itu.
"Mungkin kau benar, aku kan populer. Hehehe," Naruto mulai mengklaim dirinya terhebat jika sudah dipuji seperti itu. Dan, menurutnya itulah cara agar dia bisa melepaskan stres yang sedang melandanya kini.
"Oh iya Naruto-kun. Bicara soal cinta, apa yang Naruto-kun ketahui soal cinta?" Entah kenapa Hinata ingin mendengar pendapat Naruto terhadap hal itu.
Naruto yang mendengar pertanyaan dari istrinya itu langsung tersenyum. Dia mendekat pada Hinata dengan menyatukan kening mereka, seraya berucap, "Cinta adalah saat dua orang bersama dan tertawa,"
Hinata mengerjap beberapa kali setelah mendengar jawaban dari suaminya itu. Hinata tersenyum hampir menahan tawanya, dua menutup mulutnya dengan kedua tangan lentiknya itu untuk meredam tawanya.
"Simple sekali," ucapnya. Hinata pikir Naruto akan mengeluarkan gombalannya untuk menjawab pertanyaannya itu, setahunya suaminya itu tidak akan melewatkan satu detik pun untuk menggodanya dan hari ini dia diberi kesempatan itu kenapa pria blonde yang mempesona tersebut tidak mau memanfaatkannya.
Naruto tersenyum melihat reaksi Hinata setelah mendengar jawabannya. "Memang simple sih, tapi karena itu aku bisa bersamamu karena aku disini dan tertawa. Dan, karena itulah aku bisa menemukan kau, cintaku!"
Hinata terdiam seketika, lalu menatap lagi wajah suaminya yang semakin dekat dengannya. Tanpa menunda lagi, perempuan itu langsung melingkarkan tangannya ke belakang leher Naruto dan mencium lembut bibir pria itu.
..
'Ting..'
Suara itu berhasil membuyarkan seluruh ingatan Naruto akan kenangan manis mereka. Himawari yang merasa ayahnya terus saja mendiamkan dan tidak kunjung menjawab pertanyaannya itu langsung menawarkan diri membukakan pintu untuk tamu mereka itu. "Aku akan membuka pintunya," ucap Himawari lalu berlari ke arah pintu besar yang tertutup itu.
"Saya dipanggil oleh Uzumaki-sama, bisa tunjukkan dimana pasiennya?" Dokter itu sedikit kaget ketika yang membuka pintu itu adalah seorang anak kecil yang sangat manis.
Himawari tersenyum, lalu mengantarkan dokter itu ke kamar kakaknya untuk melihat kondisi ibunya.
Dokter itu langsung memeriksa kondisi Hinata, Naruto tetap duduk tenang ketika pemeriksaan itu berlangsung. Gadis kecil berambut indigo itu menghampiri ayahnya dan duduk dipangkuan ayah tercintanya itu. "Ayah, apa ibu akan sembuh?" Tanya Himawari sedikit berbisik. Dia takut jika suaranya bisa mengganggu konsentrasi dokter itu.
"Tentu saja, dia hanya sakit ringan. Lagipula, ibumu itu orang yang kuat. Dia pasti akan segera sembuh," jawab Naruto menyakinkan Himawari dengan senyum dibibirnya.
Pria blonde itu memijit keningnya sejenak, hari ini benar-benar sangat mengejutkan untuknya. Saat Karin tiba-tiba datang, mereka hampir melakukan sesuatu dan puncaknya adalah kedatangan Hinata di apartemennya lalu berakhir disini, duduk dan memangku puteri kecilnya seraya mengamati proses pemeriksaan untuk Hinata, mantan isterinya.
"Hallo," ucap Naruto setelah mengangkat ponselnya yang berdering. Pria itu menurunkan Himawari dan berjalan keluar dari kamar Bolt.
Dokter itu telah selesai memeriksa ibunya, dengan senyum yang semakin mengembang dokter itu mendekati Himawari dan berkata, "Ibumu baik-baik saja. Sebentar lagi pasti akan bangun," ucap dokter itu seraya mengelus puncak kepala Himawari.
"Terimakasih sudah memeriksa ibuku," ucap Himawari ketika mengantar dokter itu keluar dari unit apartement ayahnya.
"Itu sudah menjadi tugasku. Jaga ibumu ya! Setelah dia bangun berikan obat dan minuman hangat, ok?" Dokter itu langsung keluar dari dalam unit apartement milik Presdir Usecorp itu setelah mendapat anggukan dan senyum dari Himawari.
...
Good Father?
...
Himawari bingung pada sikap ayahnya yang sedang kalang kabut sambil tetap menelpon orang yang mungkin sangat penting. Hinawari hanya bisa terdiam menatap ayahnya, ingin membantu tetapi dia tidak tahu apa yang dibutuhkan ayahnya sekarang.
"Himawari!" Suara itu langsung memhuat Himawari terlonjak kaget, dia menatap pria blonde itu bertanya kenapa ayahnya memanggilnya. Naruto mendekati anak perempuannya itu sembari mengelus puncak kepala Himawari dengan sayang. Pria blonde itu dengan lembut berucap, "Kamu menemani ibu sendiri saja ya. Ayah tidak bisa menemanimu karena ada pekerjaan yang harus ayah kerjakan,"
Himawari yang mendengar hal itu agak sedikit sedih, sebenarnya dia ingin ayahnya itu bersamanya menunggu ibuunya sampai siuman dan setelah itu dia bisa melihat raut wajah apa yang terlihat dimuka tan ayahnya itu.
Tetapi mau bagaimana lagi, mungkin dia bisa mencari waktu lain untuk melihat reaksi ayahnya. Anak perempuan itu pun mengangguk pelan dan mengantarkan ayahnya sampai didepan pintu unit apartement Predir Usecorp itu.
..
Udara mulai menghangat karena matahari yang semakin naik menuju singgasananya. Wanita berambut indigo itu duduk didepan televisi sambil menonton dorama kesukaannya."Tadaima," ucap seorang pria berambut pirang yang langsung masuk kedalam rumah mungil mereka. Wanita itu ingin berdiri dari sofa nyamannya, tetapi pria yang berstatus sebagai suaminya itu langsung menahannya dengan memgang kedua lengannya.
"Jangan," ucap pria itu pelan, sembari mengantarkan Hinata ke sofa yang dia duduki tadi.
"Kenapa Naruto-kun?" tanya Hinata. Dia hanya ingin menyapa suaminya dan membantu suaminya untuk melepaskan jas dan menaruh tas kerja kulit berwarna hitam itu dikursi tempat suminya biasa mengerjakan pekerjaannya.
"Aku tidak ingin kau lelah. Dan aku tidak mau dia kenapa-kenapa," jawab Naruto sambil mengelus perut Hinata yang semakin membasar.
Ya, wanita cantik itu sedang hamil muda, sekaligus kehamilan pertamanya. Wajar jika Naruto begitu protektif terhadapnya karena itu juga termasuk anak pertamanya dengan istri tercinta, Hinata.
"Uh, tapikan aku hanya berdiri untuk menyambutmu," bantah Hinata. Wanita itu benar-benar tidak bisa menerima sepenuhnya apa yang telah diucapkan suaminya itu.
"Untuk sementara ini jangan dulu ya sayang," ucap Naruto dengan sayang sambil mengelus kepala wanita cantik itu. Naruto tersenyum kecl ketika melihat wajah kesal dari istrinya itu. Naruto yang akan tingkah kekanakan istrinya itu harus menciba menahan dirinya untuk tidak menggoda Hinata habis-habisan.
.
Kini istrinya itu sedang menonton dorama kesukaannya, Naruto yang baru saja keluar dari ruang kerjanya itu langsung mendekati Hinata. "Kau mau minta apa Hinata? Ayo katakan," ucap Naruto. Jujur dia sedikit khawatir dengan keadaan istrinya yang tidak pernah meminta sesuatu selama wanita itu hamil, istilah lainnya ngidam. Ya, Hinata wanita berambut panjang itu tidak pernah ngidam hal yang aneh dan meminta hal aneh itu kepada suaminya.
Hinata menggeleng, lalu menatap lagi layar kaca yang menampilkan sebuah sajian yang disukainya. "Benar tidak mau apa-apa?" tanya Naruto sekali lagi. Hinata memandang wajah suaminya itu lalu menggeleng pelan, "Sungguh, aku tidak sedang ingin apapun naruto-kun. Walau sebenarnya, ada satu hal yang kupinta darimu,"
Naruto yang mendengar Hinata permintaan itu langsung bersemangat mendengarkan ucapan istrinya yang selanjutnya. "Kau mau apa sayang?" tanya Naruto.
"Tolong jawab kenapa kau bertanya 'apa yang kuinginkan'!" ucap Hinata dengan menatap mata shappire Naruto tegas.
Naruto terdiam, tidak mungki dia beritahu apa yang sebenarnya dia pikirkan sekarang, tetapi ini permintaan istrinya dan termasuk permintaan anaknya yang sedang dikandung Hinata. Lalu, pria blonde itupun membenarikan diri berucap kepada Hinata, "Aku juga ingin merasakan bagaimana istrinya ngidam, meminta sesuatu yang mustahil, kesal karena perubahan sikapnya Hinata-chan. Setiap temanku yang bercerita tentang pengalaman mereka, aku juga ingin merasakannya,"
Hinata terdiam, jadi hanya karena teman sekantor atau bisa dibilang bawahan Naruto yang berkata seperti itu, pria yang dicintainya itu bertanya hal yang menurut Hinata sangat aneh.
"Baiklah, kalau begitu ayo jalan-jalan ke taman," ajak Hinata yang langsung berdiri dari duduknya. Entah kenapa Hinata ingin jalan-jalan sekarang juga, mungkin anaknya itu ingin melihat ayahnya bahagia karena peermintaanya.
"Benarkah?" ujar Naruto. Dia tidak menyangka bahwa Hinata pada akhirnya meminta sesuatu padanya, dengan girang pria itu langsung berdiridan berjalan bersama istrinya menuju taman didekat kolam ikan tengah kota.
..
"Tadaima," ucap Bolt ketika dia sudah masuk kedalam unit apartement milik ayhanya itu. "Okaeri," balas adik cantiknya. Dengan sumringah, Himawari berjalan menuju kakanya dan memeluk si sulung karena baru pulang setelah tiga hari yang lalu, untuk penggarapan film perdananya.
"Kakak lelah, kakak mau istirahat dulu," ucap Bolt sembari menggiring koper besarnya menuju kamarnya. Himawari hanya tersenyum ketika melihat kakanya itu masuk kedalam kamar pribadinya, mungkin kakanya itu akan terkejut meliht apa yang ada didalam sana.
Bolt dengan pelan membuka pintu kamarnya, dan menaruh kopernya disudut kamar. Dia ingin segera istirahat dengan tidur seharian diatas kasur mewahnya, kaki kecilnya melngkah kearah kamar mandi. Mencuci kaki, sikat gigi, dan mencuci muka adalah kegiatan rutin sebelum beristirahat.
Terlihat seperti orang dewasa bukan? Tetapi inilah dirinya, seorang anak lelaki yang tinggal bersama ayah yang super sibuk dan menjadi artis agar tidak kesepian jika dia dirumah ketika ayahnya sedang bekerja. Kadang, dia rindu akan ibunya.
Mata sebening shappire itu terbelalak, dia terkejut atas apa yang dia lihat. "Ibu!" teriaknya dan langsung menghambur kepelukan wanita yang sedang menatapnya dengan rindu.
"Apakah aku sedang bermimpi?" tanya Bolt pada dirinya sendiri, tetapi yang dia rasakan adalah pelukan itu semakin mengerat. Wanita yang sedang dia peluk itu juga membalanya dengan pelukan yang lebih erat lagi.
"Tidak. Kakak tidak sedang bermimpi, dia memang ibu kita," ujar Himawari yang sedang melihat pertemuan itu diambang pintu kamar Bolt.
Hinata tersenyum, lalu mengelus surai lembut itu sayang, lalu mengecup puncak kepala anak sulungnya itu lama. "Hai, bagaimana kabarmu?" Hanya itu yang keluar dari mulut Hinata, dia benar-benar sangat bersyukur hari ini karena bertemu lagi dengan anak pirangnya ini. Entah apa yang ingin Hinata ucapkan selanjutnya, dia benar-benar seperti telah kehilangan kemmpuannya untuk berbicara, dia bisu untuk saat ini. Mungkin, kaburnya Himawari menjadi berkah tersendiri baginya karena dengan begitu dia bisa bertemu dan memeluk putera kecilnya.
"Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu, kenapa baru datang?" Bolt mulai terhisak, dia benar-benar tidak kuat untuk menahan airmatanya. Dia rindu akan ibunya, apakah ini karena doa yang selalu dia minta saat datang ke Gereja setiap minggu. Dia rasanya ingin memeluk tuhan dan mengucapkan terimakasih berkali-kali karena telah mendengar doanya.
"Bolt maafkan ibu," ucap Hinata lirih, dia memeluk kembali puteranya itu dengan erat, erat sekali hingga seakan tidak bisa terlepas. Bolt menggeleng ibujya tidak salah dalam hal ini, dia yang patutnya disalahkan karena telah menyebabkan orangtuanya bercerai.
"Tidak! Ibu tidak salah, Bolt yang salah. Kalau saja Bolt tidak ada mungkin ibu dan ayah masih bersama,"
Hinata terbelalak mendengar penuturan anaknya itu, dia melepaskan pelukannya dan memandang Bolt tajam. "Apa maksudmu? Kami memang berpisah tapi bukan karena kau. Kau tahu, datangmu kedunia ini adalah impian kami. Kau bukan masalah Bolt, ada sesuatu yang tida bisa kami pertahankan. Tapi, jangan berkata seperti itu lagi!" ujar Hinata agak panjang. Dia menasihati anaknya agar tidak menyalahkan dirinya sendiri dalam perceraian kedua orangtuanya.
Bolt tersenyum, dan memeluk ibunya lagi. "Aku tidak akan berkata seperti itu lagi. Aku janji," lalu menenggelamkan kepalanya dalam pelukan sayang ibu kandungnya.
"Sepertinya aku dilupakan," ucap Himawari dengan wajah cemberut. Hinata ynag melihat itu tersenyum dan berkata, "Ayo Himawari, memang kau tidak rindu dengan ibu?"
Himawari langsung menghamburkan dirinya kepelukan ibunya, dan mereka bertiga pun berpelukan melepas kerinduan.
...
Good Father?
...
Ruang rapat dengan banyak kolega yang duduk dengan nyaman di kursi mewah itu sedang mendengarkan banyak penjelasan dari direktur utama perusahaan ini, Uzumaki Naruto.
Ya, pria itu sedang menjelaskan jenis baru dari produk yang sudah lama mereka pasarkan. Pria itu sesekali memandang para koleganya yang sedang sibuk berdiskusi dengan para asisten mereka sembari mendengarkan penjelasannya.
"Keuntungan memakai produk ini adalah, konsumen kami yang kebanyakan wanita akan merasa harus memiliki produk ini. Mereka akan membeli produk ini karena akan meningkatkan derajat orang yang memakai. Para sosialita modern pasti akan langsung memburu produk ini sehari setelah produk diluncurkan. Selengkapnya akan dijelaskan oleh sekretaris saya, nona Yamanaka silahkan," Naruto menyerahkan urusan detail produk kepada Ino, ini memang kelemahannya. Dia tidak bisa mengingat dalam jangka waktu yang lama, karena itu dia selalu menyerahkan hal itu kepada sekretarisnya.
"Terimakasih tuan Uzumaki. Baik, produk ini kami beri nama GW. Jam tangan yang beratnya hanya 25 gr ini sangat mewah dengan sentuhan rubby disekeliling lingkaran framenya. Kami juga memberi sentuhan perak ditali pengikatnya. Bisa anda lihat bahwa jam ini sangat cocok digunakan saat formal maupun informal," Ino sedikit melirik kearah Naruto yang sedang memainkan ponselnya tanpa memperdulikan sekeliling. Lalu wanita muda itu melanjutkan lagi penjelasannya tentang produk jam tangan terbaru yang akan mereka lucurkan bulan depan.
..
"Terimakasih Ino," ucap Naruto ketika mereka selesai dengan para kolega dan mendapat keuntungan yang cukup besar karena mampu memenangkan hati para kolega kolot itu.
Ino tersenyum, "Itulah gunanya teman," jawabnya. Mereka terus bercakap, hingga senja mulai menampakkan dirinya. Naruto yang ingat akan ada seorang wanita di apartementnya langsung pergi pulang tanpa mengucapkan apapun kepada Ino. Dan itu membuat Ino kebingungan akan timgkah bosnya itu.
Pria blonde itu memacu mobilnya cepat, jalanan yang dia lalui juga cukup senggang saat jam sibuk seperti sekarang ini. Pikirannya tertuju kepada keluarga kecilnya yang sedang menunggu dirinya untuk pulang. Entah kenapa hari ini Naruto serasa mempuyai tujuan untuk cepat pulang ke apartementnya.
Naruto turun dari mobilnya dan memberikan kuncinya kepada petugas, dia langsung berlari menuju lift dengan tidak sabaran. Dia menghebuskan nafas lega ketika melihat pintu unitnya ada didepannya sekarang. Dengan cepat, dia menggesekkan kartu unitnya dan membuka pintunya dan masuk kedalamnya dengan senyum.
"Tadai-" ucapan Naruto berhenti ketika mendengar suara seorang wanita bercakapdengan anak sulungnya yang dibatasi dengan pintu kamarnya. Dengan Hinata didalam dan Bolt diluar kamar.
"Bolt, apa benar hanya ini?" teriak Hinata dengan nada yang sedikit ragu.
"Sudahlah bu. Tidak ada baju lagi yang pas untukmu. Pakai saja," jawab Bolt disertai suara tawa yang sangat pelan hingga mungkin Hinata tidak akan mendengarnya.
Naruto melangkah pelan, lalu menepuk pundak Bolt. Ketika bocah itu menengok, Naruto menaikkan alisnya sebagai tanda dia ingin tahu apa yang terjadi. "Kau juga akan mengetahuinya nanti," ucap Bolt acuh. Dia lalu memalingkan wajahnya dan bercakap lagi dengan ibunya.
"Sudah selesai? Ayah? Okaeri," ucap Himawari yang baru keluar dari dapur dan sedang memakan camilan. Ketika dia melihat ayahnya dia langsung mengucapkan salam.
"Himawari, sebenarnya ada apa sih?" tanya Naruto dengan sedikit berbisik, dia tidak mau Bolt tahu dan malah menyuruh adiknya diam dan tidak memberiahu apa yang terjadi kepadanya.
"Oh, ibu sedang berganti baju degan-"
Ucapan Himawari berhenti ketika melihat penampilan ibunya yang sangat cantik. Melihat Himawari yang tidak fokus kepadanya, Naruto mengikuti arah pandang Himawari. Dia memutar badannya dan diam mematung ketika melihat Hinata menggunakan gaun pengantin mereka dulu.
"Kau mau menikah?" tanya Naruto spontan. Dia benar-benar tidak bisa berkedip atau bahkan lupa caranya berkedip ketika melihat Hinata seperti itu. Yang dia lihat sekarang adalah, seorang wanita berambut indigo 11 tahun yang lalu. Hinata terlihat seperti saat mereka di dalam gereja, saat pengucapan janji suci mereka, janji suci yang telah dilanggar untuk selamanya.
"Ibu cantik sekali," komentar Himawari yang langsung mendekati ibunya dan memeluk kaki jenjang ibunya.
Hinata tersenyum kikiuk, dia lalu mengangkat Himawari dan menggendongnya. "Bolt, baju ibu kapan datangnya?" tanya Hinata sembari duduk di salah satu sofa empuk itu dengan Himawari dipangkuannya. "Mungkin 15 menit lagi," jawab Bolt. Hinata benar-benar tidak punya pilihan lain untuk mengenakan gaun ini. Awalnya dia hanya ingin minum air putih, namun tangannya masih terlalu lemah hingga ia menjatuhkan gelasnya dan menumpahkan airnya kebaju satu-satunya yang ia bawa dari Paris.
Wanita itu langsung bertanya kepada Bolt, apa ada pakaian wanita di apartement mantan suaminya ini. Setahunya dari informasi di internet, Naruto adalah seorang playboy jadi pasti banyak pakaian wanita didalam unit mewahnya ini.
Bolt mengangguk, lalu mencarikan baju untuk Hinata, dan dia membawa gaun putih panjang itu kepada ibunya. Awalnya Hinata tertegun, dia bertanya kenapa Naruto masih menyimpan gaun ini padahal mereka sudah mengakhiri yang ada 7 tahun yang lalu. "Hanya ini baju perempuan yang ada dikamar ayah," ucap Bolt sambil menaruh gaun itu disamping Hinata duduk.
.
Naruto yang melihat lengan Hinata tampak bergetar itu langsung berjalanmenuju kamarnya dan keluar dengan membawa selimut tebal dan dipakaikan kepada Hinata. Wanita itu sedikit kedinginan karena gaun itu yang sangat tidak cocok untuk musim dingin seperti saat ini. "bajumu adi di laundry?" tanya Naruto pada Hnata ketika memakaikan selimut tebal kepada wanita itu. Hinata hanya mengangguk, Naruto begitu dekat dengannya sekaran, dan kalau Himawari turun dari pangkuannya, mungkin jarak mereka hanya berkisar 10 cm saja.
"Oh iya aku lupa," teriak Himawari sembari memukul keningnya. "Kata petugasnya, baju ibu akan selesai malam ini. Karena dingin jadi mereka harus hati-hati memakai listrik, mereka takut jika listrik padam ketika mereka memakai daya yang cukup tinggi," jelas Himawari. Hinata terbelalak, dia bisa mati kedinginan jika harus menunggu selama itu. Hinata yang tahu bahwa tubuhnya tidak bisa bertahan dengan cuaca dingn itu hanya pasrah pada apa yang akan dia alami nanti.
"bagaimana kalau ibu pergi ke toko baju bersma ayah," usul Bolt yang dismabut tawa oleh adiknya dan tatapan kaget dari orang tuanya. "Yah, mau bagaimana lagi. Tidak mungkin kalau aku yang menemani ibu berbelanja, aku kan tidak bisa mengemudikan mobil, dan kalau ibu pergi sendiri, dia kan tidak punya uang Yen," penjelasan logis Bolt bisa diterima oelh kedua orangtuanya, dan tawa lebar Himawari. "Hh, baiklah. Ayo Hinata, kita pergi sekarang!" ucap Naruto sembari menurunkan Himawari dari pangkuan ibunya dan menggandeng tangan Hinata dan berjalan keluat dari unit, Hinata yang masih tidak percaya akan apa yang sdang terjadi ini hanya bisa menurut dan terdiam.
...
Good Father?
...
Parkir di KonohaMall benar-benar masih renggang, untung saja mereka pergi ketika senja masih terlihat sehingga Naruto bisa mencari tempat parkir sesukanya. Setelah mematikan mesinnya, Naruto langsung melepaskan sabuk pengaman miliknya dan menatap Hinata. "Kau, tunggu disini!" ucap Naruto sambil menatap mata bulan milik Hinata. Enath kenapa, dia sangat rindu akan tatapan Hinata dulu kepadanya. Dan menatap Hinata lagi sekarang, rasanya Naruto bernostalgia dengan memorinya yang dulu.
"Kenapa aku tidak boleh turun?" tanya Hinata.
"Kau tidak lihat kau berpakaian seperti apa sekarang? Nanti kalau kau ikut turun, mereka yang ada didalam sana, akan mengira bahwa aku adalah seorang pria yang sedang membawa kabur pengantin wanita," ucap Naruto. Hinata langsung tersenyum kikuk dengan ucapan Naruto. Dia benar-benar lupa bagaimana penampilannya sekarang, dia yang hanya memakai gaun pernikahannya dengan Naruto dulu itu langsung mencari sesuatu untuk melindungi badannya dari dinginnya musim.
"Ini pakailah," ucap Naruto sembari melemparkan sebuah jaket hitam tepat di kepala Hinata. Wanita itu tersenyum dan segera memakai jaket pemberian Naruto itu dan berucap, "Arigatou," dengan senyum hingga membuat Naruto sedikit merona karena melihatnya.
Pria blonde itu langsung keluar dari mobilnya dan berlari menuju dalam Mal untuk mencari pakaian yang cocok untuk Hinata. Dai memasuki sebuah butik baju dan langsung memilih pakaian yang terpajang rapi disana.
"Ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang pelayan yang mendekatinya. "Em, bisa carikan baju hangat untuk wanita dewasa," jawab Naruto sembari tetap memilih baju-baju itu dengan teliti. "Seperti apa cirinya, kalau saya boleh tahu tuan?" tanya pelayan itu dengan sopan.
"Langsing, tingginya kira-kira 175 cm, dan punya kerentanan dengan suhu dingin," Naruto seperti sudah bertemu Hinata lama, padahal mereka baru bertemu setelah sekian lama. Dia hanya memakai pengethuannya tentang Hinata 11 tahun yang lalu. Pelayan itu langsung mencarikan baju yang cocok untuk wanita dengan ciri-ciri yang disebutkan tadi. "Ini mungkin cocok dengan wanita itu," pelayan itu memberikan 5 pasang baju hangat kepada Naruto, pria itu berpikir sejenak untuk memutuskan yang mana yang akan dia pilih, lalu berkata, "Aku ambil semua," Pelayan itu langsung berjalan menuju kasir dan membungkus pesanan Naruto.
Naruto langsung memacu langkahnya ketika sudah keluar dari butik itu. Dia berjalan menuju tempat yang mungkin tabu untuknya, tetapi ini demi wanita yang pernah ada didalam hatinya dalam waktu yang cukup lama, dan demi ibu dari anak-anaknya. Naruto menguatkan tekad dan masuk kedalam toko girllingerie dengan muka menunduk. Dengan cepat, dia langsung menuju ke tempat diaman dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. "Kau juga membeli disini?" tanya seorang pria yang berpakain seperti wanita itu. Naruto kaget ketika yang mendatanginya adalah seorang waria kelas super. "Namaku Oro, dan ini adalah toko langgananku. Siapa namamu kawan?" Naruto hanya diam, dia langsung mengambil sembarang pakaian khas wanita itu. Lalu berjalan cepat menuju kasir, dia yang ingin menghindari Oro malah harus terkena sial saat para gaadis cekikikan melihatnya. "Dia manis ya," "Andai aku pacarnya, pasti langsung dimana seperti itu," "Beruntung sekali yang menjadi gadisnya," "Apa dia membeli itu untuk gadisnya ya?"
Naruto langsung tancap gas berlari menuju kasir, dan membayar dengan kartu debit miliknya. "Cepat bungkus," ucap Naruto sedikit mendedis. Dia menatap petugas kasir tajam hingga membuat kasir itu bergidik ketakutan.
..
"Ini," ucap Naruto sembari menyerahkan beberapa bungkus baju untuk Hinata pakai. "Terimakasih," ucap Hinata sambil menerima bungkusan itu. Naruto langsung menyandarkan punggungnya kesandaran kursi dan mengusap wajahnya kasar. Dia merutuki nasib hari ini, kenapa begtu sangat suram, pikirnya.
"Eum, Naruto-kun," Panggil Hinata pelan. "Hm, ada apa?" tanya Naruto sambil menutup matanya.
"Bisa kau keluar?" Hinata menatap Naruto dengan tatapan memohon. Sedangkan Naruto, dia langsung terlonjak kaget mendengar permintaan Hinata. "Maksudmu, aku keluar dari mobilku sendiri?" Naruto menggeram ketika mendapat anggukan dari Hinata sebagai jawaban.
"KAU-" Naruto tidak dapat melanjutkan perkataannya ketika melihat Hinata menggenggam erat bungkusn berisi pakaiannya itu. "Baiklah, aku akan keluar. Cepat ganti bajumu!" Naruto langsung keluar dari moblnya sesudah melihata senyum dari Hinata. "Jangan mengintip!" uujar Hinata pada Naruto yang sudah ada diluar mobi mewah itu. "Hn," jawab Naruto seadanya. Lalu Hinata menaikkan lagi kaca mobil dan berganti pakaiannya di belakang mobil Naruto.
Wanit itu membuka bungkusan berisi pakaian itu dengan pelan, tetapi ketika dia melihat sesuatu yang sangat pribadi, wajahnya memerah karena malu. Dia mengangkat bra berwarna orange itu setinggi wajahnya. "Naruto-kun, apa kau yang juga membelikanku pakaian dalam?" tanya Hinata sedikit berteriak. Mungkin wajar jika dia masih berstatus sebagai istri Naruto dan menanyakan hal itu kepada suaminya. Namun, sekarang Hinata yang tahu bahwa dia hanya seorang mantan istri dan bukan apa-apa lagi bagi Naruto, menanyakan hal itu merupakan tabu untuknya.
Naruto langsung mengalihkan pandangannya dari kaca spion yang mengarah ke Hinata, dia menatap langit dan menjawab, "Iya. Memang kenapa? Bukannya kau tidak membawa sehelai baju pun? Jadi, mungkin kau juga tidak membawa pakaian dalammu juga, dan makanya tadi kubelikan," Entah kenapa, wajah Naruto dan Hinata sama-sama memerah ketika menjawab dan mendengar jawaban itu.
Oh ayolah, kalian bukan remaja labil yang sangat pemalu jika berbicara tentang hal pribadi dengan lawan jenis, kalian bahkan sudah tahu seluk beluk tubuh mantan pasangan kalian dulu. Jadi, kenapa harus malu?
"Em, tidak apa-apa kok. Terimakasih," ucpa Hinata. Dia lalu melepaskan gaun putih itu dan memakai pakaian yang dibeli oleh Naruto.
'Klik' Hinata terbelalak kaget ketika bra itu snagat pas di dadanya, begaimana Naruto bisa tahu ukurannya. Padahal mereka baru saja bertemu setelah 7 tahun berpisah. 'Bagaimana mungkin?' Hinata langsung tidak menghiraukan apa yang baru saja dia pikirkan. Dia langsung memakai baju itu dan memanggil Naruto untuk segera pulang.
...
Good Father?
...
Makanan yang mereka makan tadi cukuplah normal, apalagi untuk Bolt dan Naruto. Mereka yang biasa hanya memakan makanan cepat saji, kali ini disuguhi makanan khas Jepang yang sangat mampu membuat dua lelaki itu tidak berhenti mengunyah.
"Jadi ibu bisa memasak makanan Jepang?" tanya Himawari. Anak itu terkejut ketika ibunya sangat jago dalam hal memasak, tetapi kenapa selama di Paris ibunya itu tidak pernah memasak makanan Jepang setiap hari, hanya dalam hari penting dan tidak seenak ini.
Hinata mengangguk, lalu membereskan sisa makanan dari anak dan mantan suaminya itu. Himawari dan Bolt langsung mengambil tempat di depan televisi transparan itu, sedangkan Naruto, dia lebih memilih ke dapur untuk mengambil softdrink kesukaannya. Saat melihat Hinata, dia seperti sedang berada di rumah mereka yang lama.
"Hinata," panggil Naruto. Si wanita langsung menengok menatap Naruto seolah bertanya 'kenapa kau memanggilku'
"Em, aku ingin bicara denganmu. Bisa temui aku di kamarku?" tanya Naruto lalu disambut anggukan dari Hinata. "Setelah ini," Hinata lalu meneruskan pekerjaannya mencuci piring kotor sisa makanan mereka.
"Iya," Naruto lalu berjalan keluar dari dapur dan masuk kedalam kamarnya serta menunggu Hinata.
..
..
..
..
TBC
..
..
..
A/N: Sorry lama update guys, dan maaf kalau chapter ini banyak typo karena jadwal reallife gila-gilaan. Maaf ya, karena Vidi gak ngecek ulang dan kalau typo bertebaran, ngomongnya pelan-pelan ya di review. Dan untuk para anymous reviewer (bener gak tuh tulisannya) saya baca review kalian semua dan maaf gak bisa balas karena data kalian terhapus. Tapi untuk yang bukan anymous review cek di p.m masing-masing.
a
Pengumuman :
Cerita fanfiction yang berjudul Good Father? by yamanakavidi akan Hiatus selama 3 bulan. Dan akan disambung lagi setelahnya. Setelah 3 bulan, fic ini dipastikan akan update kilat per 2 minggu. Terimakasih kepada para reader yang sudah menunggu fic ini berlanjut. Maaf apabila pengumuman ini tidak dapat diterima bagi para reader, tetapi saya mohon pengertian dari anda semua. Terimakasih.
..
Salam,
yamanakavidi, (March, 2015)
