Pagi yang cerah memberikan sensasi yang indah,nyanyian merdu para burung terdengar jelas di telinga Shikamaru. Pagi itu ia pergi kesekolah dengan malas,yah...malas memanglah kebiasaan buruknya.
Menatap awan yang indah,ia berjalan sambil memejamkan matanya. Dia tidak habis pikir dengan yang terjadi kemarin,Sakura menelponnya memberitahu kalau Sasori tidak ada dirumah.
"Hmmm..." gumamnya tidak jelas,kalau dipikir-pikir perginya Sasori secara tiba-tiba tidaklah bagus. Seharusnya Sasori tetap disana,mungkin saja ia bisa membantu pria itu agar bisa menceritakan masalahnya dan berbaikan dengan Temari.
Sesampainya dikelas,ia langsung duduk dikursinya dan menidurkan kepalanya diatas meja sama sekali tidak punya niat untuk sekolah.
"Hey Shikamaru,kau kenapa?" Shikamaru mendonggakkan kepalanya.
"Kau ini Chouji...aku sedang tidur..."
Chouji menggelengkan kepalanya pelan,kenapa anak ini selalu tidur setiap saat? Pikir Chouji penasaran.
Chouji memakan kripik kentangnya, "Hey...Shikamaru,kemarin kau dan kakak Gaara kenapa datang kerumahku?" reflek tubuh Shikamaru menegang mendengar pertanyaan Chouji.
'Gawat! Aku belum memikirkan jawabannya!' batin Shikamaru panik.
Shikamaru menggaruk-garuk belakang kepalanya,mencoba menghilangkan kepanikan dirinya. "Engh...itu kemarin...aku..." Shikamaru tersenyum kikuk,membuat Chouji mengkerutkan keningnya.
"Hai! Kalian sedang apa?" Gaara menyapa dengan tiba-tiba,membuat Shikamaru dan Chouji terkejut secara bersamaan.
"Jangan menyapa orang seperti ini! Membuat terkejut saja!" Chouji menegur Gaara,sedangkan yang ditegur hanya tersenyum tanpa rasa bersalah sedikitpun "Maaf..kulihat kalian dari kejauhan terlihat serius." ia duduk dikursi sebelah Chouji yang masih belum datang pemiliknya, "Kalian sedang membicarakan apa?" lanjutnya penasaran.
Chouji tersenyum kecil. "Kemarin kakakmu dan Shikamaru datang kerumahku,kau tidak tau?" Shikamaru menepuk jidatnya keras. Sedangkan Gaara tampak terdiam.
Gaara memegang dagunya, "Hmm...aku tau kalau mereka pergi berdua,tapi...aku tidak tau kalau mereka pergi kerumahmu.." Gaara mengangguk-anggukkan kepalanya,membenarkan perkataannya sendiri.
"Kau tidak takut kalau kakakmu diapa-apain?" tanya Chouji sambil memakan kripiknya kentangnya.
'Yang benar saja! Dia itu monster!' batin nista Shikamaru.
Gaara tertawa kecil,ia melihat kearah Shikamaru yang kelihatan kesal. "Mungkin...kalau ada yang berani,maka orang itu akan dipukulnya." jawab Gaara menatap Shikamaru dengan senyuman,Shikamaru berdecak kesal ditatap Gaara seperti itu.
"Wah! Hebat sekali dia." puji Chouji kagum dengan kakak Gaara.
"Jadi...kenapa Shikamaru datang kerumahmu?"
"Ohh..itu yang kubicaran dengan Shikamaru sekarang!" jawab Chouji sambil memakan kripik kentangnya "Tapi kelihatannya Shikamaru tidak ingin memberikan jawabannya." tambahnya.
Gaara menepuk pelan bahu Chouji. "Kalau begitu ceritakan saja." Shikamaru memejamkan matanya erat,berharap bel masuk terdengar secepatnya.
"Ya,kalau tidak salah..."
FlashBack
Saat itu siang hari,Chouji tengah duduk di sofa dekat ruang keluarga. Ia tengah menonton acara kesukaannya.
"Chouji! Chouji!" suara dari luar rumah terdengar jelas ditelinganya,ia tau siapa orangnya. Ia beranjak pergi menuju pintu utama rumahnya.
Ia membuka pintunya perlahan,sedikit demi sedikit pintu terbuka memperlihatkan Shikamaru dan seorang wanita disampingnya.
"Seperti biasa ya! Shikamaru,kau buka pagar rumahku seenaknya." Chouji tersenyum sinis,sudah biasa Shikamaru melakukan hal seperti itu baginya.
"Yo! Chouji,bagaimana kabar ibu dan ayahmu?" sapa Shikamaru basa-basi.
Chouji tidak menjawab,ia memperhatikan Temari dari atas kebawah secara teliti.
Temari jelas tidak senang diperhatikan seperti itu, "Shikamaru!" mencengkram kerah baju bagian belakang Shikamaru,membuat empunya terkejut, "Ayo pergi!" kemudian ia menyeret Shikamaru pergi sekuat tenaganya.
"Hey! Kau kenapa?! Itu juga temanku!" Shikamaru meronta-ronta berusaha melepaskan cengkraman Temari.
"Yang benar saja! Bukan temanmu yang itu yang kumaksud!" bentak Temari membuat Shikamaru ciut seketika.
'Mereka itu...ngapain ya?' batin Chouji sweetdropet.
FlashBack End
"Begitulah ceritanya." ujar Chouji mengakhiri cerita yang diingatnya.
"Yang benar saja..." Gaara terdiam,mencoba mencari jawaban atas apa yang dilakukan kakaknya.
Shikamaru memutar kedua bola matanya bosan.
"Maka dari itu Shik–"
Bel masuk berbunyi nyaring,membuat Chouji berdecak sebal karena perkataannya belum sempat diselesaikannya. Tidak lama setelah itu muncul guru yang mengajar jam pertama pada hari ini,Iruka namanya. Dan setelah itu semuanya berjalan seperti biasanya bagi Shikamaru.
.
.
.
Bel istirahat akhirnya berbunyi,semua murid bersorak senang,mereka pergi menuju kantin sekolah.
Lain lagi dengan Shikamaru yang malah tidur-tiduran dikelas,hal seperti ini selalu ia lakukan setiap saat. Sedang enaknya tidur,tiba-tiba seseorang meletakkan sebuah benda yang hangat menimpa jidatnya pelan.
Ia membuka matanya perlahan dan mengambil benda yang menimpa jidatnya. "Kotak bekal?" ia mengkerutkan keningnya,kemudian ia menoleh kearah seseorang yang berada dibelakangnya "Gaara?" Shikamaru heran melihat Gaara.
"Dari Temari,dia menyuruhku untuk memberikannya padamu." jelas Gaara,Shikamaru mengangguk paham.
"Ya ini mudah ditebak...kotak bekal ini adalah kotak bekal yang biasanya diberikannya padaku,jadi sudah bisa ditebak kalau ini dari Temari." menatap Gaara disertai senyuman meremehkan.
Gaara duduk dikursi yang berada didepan meja Shikamaru, "Aku pikir Temari menitipkan kotak bekal ini padaku karena ia terburu-buru,tapi setelah mendengar cerita dari Chouji sepertinya dia ada masalah lain,apa kau tau masalahnya?" Gaara menatap Shikamaru dengan tatapan mengintimidasi.
"Temari memang punya masalah,tapi masalah itu dapat diselesaikannya," Shikamaru menjawab tenang "Tapi kemarin aku sempat melihat ia bersedih,apa mungkin sedihnya dia ada hubungannya dengan kotak bekal ini?" Shikamaru membuka kotak bekal yang diberikan padanya.
Gaara mengangguk paham. "Bisa kau ceritakan apa saja yang terjadi dengan dia?" bertanya penuh harap dengan jawaban dari Shikamaru.
Shikamaru memakan makanan dari kotak bekalnya, "Hmm...kemarin Temari bertarung dengan Sasori,lalu kami menitipkan Sasori yang tidak sadarkan diri dirumah Sakura,lalu setelah itu Temari memintaku untuk diantarkan kerumah teman-teman sekelas,yah...walaupun masih ada beberapa rumah yang belum kami kunjungi,kemudian dia mengantarku...dan ia kelihatan sedih saat itu.." jelas Shikamaru panjang lebar,Gaara mengangguk mengerti dengan penjelasan Shikamaru.
Gaara memasang pose berpikir,ia tampak berpikir keras. "Lalu Sasorinya bagaimana?"
Shikamaru menelan makanannya, "Dia kabur,padahal rencananya saat ia sadar nanti aku ingin memperbaiki hubunganya dengan Temari,yah agar mereka berbaikan." jelas Shikamaru.
Lagi,Gaara mengangguk paham. Ia tidak bisa mengungkap kejadian yang terjadi dengan Temari,tapi kelihatannya Temari sedang kurang senang dengan Shikamaru.
"Shikamaru,bisakah kau datang kerumah kami nanti?"
Shikamaru menaikkan sebelah alisnya,bingung. "Yang benar saja,untuk apa aku kesana?"
"Sepertinya kemarin dia menangis." ucapan Gaara membuat Shikamaru heran.
"Dia itu kuat,bagaimana mungkin orang seperti dia menangis?" mengunyah makanannya sambil menatap Gaara heran.
Gaara terdiam,kemudian ia tersenyum kecil, "Shikamaru,ternyata kau kurang peka ya." ujar Gaara.
"Kau ini kenapa Gaara? Mencoba memaksaku? Dasar...kakak dan adik sama saja," menggelengkan kepalanya pelan, "Ya sudah aku kesana nanti,tapi kau yang jemput." tambahnya,Gaara tersenyum lebar.
"Oke"
Pemuda Malas by RPGuT
Disclaimer by Masashi Kishimoto
Rated T
Warn : AU,OOC,Typos,Dll
Chapter 4
Emosi
Shikamaru melihat-lihat sekitarnya,tidak ada tanda-tanda kedatangan Gaara sedikitpun,bahkan bunyi suara mobilpun tidak dapat didengarnya.
Diceknya ponsel pintarnya,ia berdecak kesal,seharusnya Gaara memberinya kabar lewat pesan agar ia tidak lama berdiri didepan pagar rumahnya. Yah...meskipun didepan pagar rumahnya,tapi tetap saja merepotkan baginya.
'Lama sekali' batin Shikamaru menyesal meng-iyakan perkataan Gaara disekolah tadi.
Setelah 40 menit lamanya ia menunggu,barulah muncul Gaara dengan mobil merahnya.
"Lama sekali." ucap Shikamaru saat melihat Gaara keluar dari mobilnya.
Gaara membalas dengan senyumannya sama sekali tidak merasa bersalah, "Yang penting aku datang,ayo pergi." kemudian masuk kedalam mobilnya.
Shikamaru memutar kedua bola matanya bosan, 'Adik dan kakak sama saja merepotkan.' batinnya kesal.
.
.
.
"Jadi...untuk apa aku disini?" Shikamaru membuka suara,setelah lama menunggu kedatangan Gaara,kini ia menunggu kedatangan Temari diruang tamu.
"Yah...mereka berdua belum pulang,jadi tunggu saja sebentar lagi." Gaara memainkan ponsel pintarnya,terlihat serius sekali.
Shikamaru berdecak kesal,kenapa setiap saat berhubungan dengan keluarga Gaara ia merasa dipermainkan? Setidaknya itulah yang ada dipikirannya saat ini, "Hey Gaara,kuulangi perkataanku saat disekolah tadi untuk apa aku kesini?" kelihatannya Shikamaru mulai bosan dengan situasi saat ini.
Gaara menghentikan aktivitas bermain ponselnya,ia menatap Shikamaru yang terlihat tidak mempunyai minat sedikitpun. "Temari kemarin menangis." jawab Gaara kemudian melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti.
"Ck! Kau menyebalkan." ucap Shikamaru yang sama sekali tidak digubris oleh Gaara.
Tidak lama kemudian suara mobil terdengar jelas, "Itu mereka," Gaara menghentikan aktivitas memainkan ponselnya,kemudian ia beranjak pergi membuka pintu rumah.
Setelah pintu terbuka lebar barulah kedua kakak Gaara dapat dilihat oleh Shikamaru.
"Yo!" sapa Kankuro dengan senyumannya. Sedangkan Temari terus berjalan melewati Shikamaru dan yang lainnya. Gaara segera mengejar Temari,meninggalkan Kankuro dan Shikamaru yang saling bertatapan,bingung.
Gaara menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Temari, "Aku sudah memanggil Shikamaru." Temari menghentikan langkah kakinya,membuat Gaara juga berhenti.
"Aku tau Gaara,tapi aku tidak butuh dia." berusaha menahan amarahnya,Temari tidak ingin meneriaki adiknya sendiri.
"Tapi...kau menangis." Gaara menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya.
Temari melihat Gaara sedih,sudah terlihat dengan jelas olehnya kalau adiknya tengah mengkhawatirkannya saat ini.
"Terserah," satu kata yang diucapkannya membuat Gaara mendonggakkan kepala, "Tapi aku tidak ingin bertemu dengannya." tambahnya lagi membuat Gaara mengkerutkan keningnya heran.
"Itu sama sajakan?"
Temari memukul kepala Gaara pelan, "Gaara,kau ini bukan lagi anak kecil,jadi hilangkan sifat kasih sayangmu itu dan karena kau bukan anak kecil lagi...aku jadi tidak bisa membodohimu lagi." kemudian Temari pergi menuju kamarnya,membiarkan Gaara terdiam dan berpikir.
"Kasih sayang...bisa ada pada siapa saja.."
Temari menghentikan langkahnya,ia yang baru saja sampai anak tangga ketiga menolehkan kepalanya menatap Gaara secara intens. "Maksudmu?"
Gaara menghembuskan nafas ringan, "Kasih sayang itu akan selalu ada pada siapapun,tanpa melihat usia mereka,yang terpenting dari kasih sayang adalah orang yang mereka sayangi." jelas Gaara,membuat Temari membeku ditempat.
Tidak ingin berdiam diri lebih lama lagi,Temari kemudian pergi menaiki tangga menuju kamarnya,pusing dengan situasi yang menimpanya saat ini.
Gaara tersenyum kecut kemudian pergi keruang tamu,dilihatnya disana Kankuro dan Shikamaru saling mengobrol,tapi Kankuro terlihat lebih bersemangat dari pada Shikamaru.
Gaara mendekati Shikamaru dan menepuk pelan bahunya, "Kakakku...ingin bertemu denganmu...dikamarnya." gumamnya pelan membuat Shikamaru sedikit bingung.
"Tidak bisakah disini saja?" tanyanya yang langsung diberi jawaban berupa gelengan kepala dari Gaara,Kankuro yang tidak tau apa yang mereka bicarakan malah senyum-senyum sendiri.
"Huft...yang benar saja..." keluh Shikamaru.
.
.
.
Didalam kamar,Temari tengah berbaring dengan wajah yang tertutupi oleh bantal,ntah mengapa hatinya menjadi gundah saat ia melihat Shikamaru. Sebenarnya bukan pemuda itu yang harus disalahkannya,namun perasaannya saat berhadapan dengan Shikamarulah yang harus disalahkan,ia merasa tidak pantas saat berada dihadapan Shikamaru.
"Tok! Tok! Tok!"
Suara pintu yang diketuk dari luar membuat Temari tersadar dari lamunannya,segera ia membuka pintu,namun yang terlihat dihadapannya adalah Shikamaru.
"Mau apa kau?" dengan nada kurang senang ia bertanya.
"Eh?" bingung dengan Temari,hanya itulah respon dari Shikamaru saat ini.
Temari memasang tampang beringas, "KAU KENAPA?!" bentaknya membuat Shikamaru terlonjak kaget, "Kenapa mengganggu hidupku?" tambahnya dengan nada halus.
"Yah...aku tidak tau masalahmu itu seperti apa,tapi...Gaara bilang kau ingin menemuiku di kamarmu." menggaruk belakang kepalanya Shikamaru berusaha menghilangkan kegugupannya.
Temari menghela nafas,mencoba menahan amarahnya. "Sejak kapan kau jadi bodoh.." ujarnya sabar.
Shikamaru mengelus dagunya. "Hmm...apa mungkin...Gaara membohongiku?" gumamnya pelan, 'Sial! Jadi Gaara membohongiku!' batinnya menyesal.
"Jadi kau mau apa sekarang?" tanya Temari menyadarkan Shikamaru dari alam pikirannya.
"Yah..emmm...kalau kau ada masalah..ceritakan saja,siapa tau aku bisa membantumu."
Temari mengerucutkan bibirnya, "Yang benar saja,kaukan tau aku bisa mengatasinya." kemudian ia menutup pintu kamarnya,Shikamaru menggelengkan kepalanya pelan.
.
.
.
"Jadi,kau sudah mau pulang? Biar kuantar" ucap Gaara menawarkan bantuan.
Shikamaru terkekeh, "Tidak perlu,aku bisa jalan kaki,lagipula sesekali pulang jalan kaki tidaklah masalah bagiku," balas Shikamaru menolak dengan halus "Lagipula nantinya selama diperjalanan pulang,aku akan memikirkan tentang masalah kakakmu itu,soalnya kalau aku diantar maka akan cepat sampai rumah dan aku akan langsung tidur nanti." lanjutnya menjelaskan semua yang ada dipikirannya saat ini.
Gaara tertawa kecil mendengar penjelasan Shikamaru. "Aku mengerti." ujarnya.
"Kalau begitu,terimakasih untuk hari ini!" setelah permisi pulang,Shikamaru pergi menjauhi kawasan rumah Gaara.
Gaara menutup pintu rumahnya,kemudian ia berbalik dilihatnya Temari yang berjalan cepat menuju pintu. "Kau kenapa?" tanyanya bingung dengan Temari yang tiba-tiba mau keluar dari kamarnya,berbeda dengan kemarin,Temari hanya ingin didalam kamar. Apa mungkin karena Shikamaru?.
"Apa salahnya kalau aku ingin berbelanja?" balasnya cepat kemudian melesat pergi keluar dari rumah.
Gaara menggaruk pipinya,bingung dengan Temari.
Sedangkan Shikamaru,ia tengah berpikir keras dengan kejadian yang menimpa dirinya, 'Apa mungkin ini semua salahku?' batinnya resah 'Mungkinkah karena kemarin aku minta pulang? Ah! Mungkin karena masih ada beberapa rumah temanku yang belum kukunjungi! Cih! Wanita memang sulit untuk ditebak.' dengan gelisah Shikamaru menggaruk belakang kepalanya,mungkin besok saja pikirkan hal itu.
"Hey kau" seseorang memegang bahu kanan Shikamaru, "Kau yang kemarinkan? Ayo bertarung disini!" tantang orang tersebut.
Shikamaru berdecak kesal, "Yang benar saja,Sasori. Kau itu bukan lagi anak kecil,dendam atau apapun itu masalahmu,selesaikanlah dengan baik."
"Hahahah! Sasori! Kau baru saja diceramahi oleh anak ini!" rekan Sasori menertawakannya
Sasori mengepalkan tinjunya. "Yang benar saja.." desisnya marah.
"Buakh!" sebuah tinjuan tepat mengenai rahang Shikamaru,membuat pemuda itu mundur kebelakang sambil meringis kesakitan.
"Pffttt! Apa-apan itu! Jadi kau cuma bisa ceramah saja ya!" ledek rekan Sasori kelihatan senang melihat Shikamaru dipukul.
"Diamlah,Deidara!" sahut Sasori sambil berjalan mendekati Shikamaru. Setelah jarak antara Sasori dan Shikamaru sangat dekat,Sasori kemudian menendang perut Shikamaru membuat empunya terduduk lemas,tidak berhenti sampai disitu Sasori kemudian menendangi kepala Shikamaru membuat pemuda itu tumbang dan terbaring dijalanan.
'Sial! Kalau masalah beginian,Temari memang lebih cocok!' batin Shikamaru pasrah dengan dirinya yang sudah tidak bisa melawan lagi.
"Buagh! Brukk!" bunyi yang menggema hingga telinga Sasori.
Sasori menolehkan kepalanya kebelakang dilihatnya Deidara yang sudah tumbang dan dilihatnya Temari yang sedang memegang kantung plastik berisi bahan belanja yang besar.
"Sedang apa kau?" tanya Temari sambil melihat orang yang tengah dipijak kepalanya oleh Sasori,memang tidak terlihat dengan jelas oleh Temari.
Sasori tertawa keras sampai meneteskan air mata, "Yang benar saja! Kau tidak mengenalinya?!" teriak Sasori menjauhi kakinya dari kepala Shikamaru.
Seketika tubuh Temari menegang,terdiam dengan apa yang dilihatnya,Shikamaru tersenyum dengan wajah yang sudah babak belur dan hidung juga bibirnya yang berdarah. Temari meletakkan kantung belanjanya ketanah dengan perlahan,kemudian ia berlari cepat dan langsung menerjang wajah Sasori,membuat Sasori terpelanting jauh.
Dengan cepat Temari menendangi wajah Sasori,dipijaknya kepala pria berambut merah itu tanpa belaskasih dan ampun sedikitpun.
'Bahkan disaat babak belur,kau masih bisa tersenyum? Kenapa? Kenapa?' Temari terus menginjak kepala Sasori,amarahnya sudah tidak bisa dikendalikan lagi,dalam pikirannya saat ini,hanya senyuman bodoh Shikamarulah yang terbayang-bayang olehnya.
Shikamaru sendiri bingung harus berbuat apa,sepertinya Temarilah yang harus diandalkan disaat seperti pikirnya. Ia membalikkan tubuhnya kedua bola matanya membulat seketika,dilihatnya Sasori yang kepalanya sudah mengeluarkan darah.
"TEMARI!"
Temari tersentak kaget,ia berhenti menginjak kepala Sasori,menolehkan kepalanya. Ditatapnya Shikamaru yang menatapnya dengan ekspresi marah.
"Berhenti! Jangan sampai dia mati," ujar Shikamaru berusaha berdiri,namun tetap saja ia tidak bisa. "Tenangkan dirimu,kalau seperti ini kau bisa saj–"
"KAU TERLUKA!" teriak Temari tidak terima dengan Shikamaru yang malah mengomelinya.
Shikamaru terlonjak kaget,bukan karena Temari yang berteriak kencang padanya,namun karena ekspresi marah Temari yang sama seperti di mimpinya. Terkadang ia bertanya-tanya,kenapa setiap disaat yang tidak dimengerti olehnya ia melihat ekspresi Temari yang mirip sekali dimimpinya. Perlahan matanya tertutup dan dirinya terbawa oleh kegelapan.
.
.
.
"Ah!" Shikamaru tersadar dari tidurnya,ia memperhatikan sekelilingnya dan ternyata saat ini ia berada dikamarnya sendiri.
"Sudah bangun rupanya." sahut Temari keluar dari dalam kamar mandi yang berada didalam kamar Shikamaru.
Shikamaru menatap Temari bingung,berharap diberikan jawaban atas keberadaannya saat ini.
Temari menghela nafas,ia berjalan mendekati Shikamaru kemudian duduk dikasur tepat disamping Shikamaru yang tengah berbaring, "Kau pingsan jadi kubawa pulang dengan mobilku,Sasori dibawa kerumah sakit oleh Gaara dan temannya itu pulang sendiri setelah sadar." jelas Temari panjang lebar.
Shikamaru mengangguk paham, "Lalu kau sendiri,bagaimana?" Temari mendengus geli mendengar pertanyaan dari Shikamaru.
"Jangan khawatirkan aku,urus saja dirimu sendiri,lihatlah wajahmu jelek karena babak belur." ledek Temari.
Shikamaru tersenyum kecil,kemudian ia melihat langit-langit kamarnya.
Sentuhan lembut dari sebuah tangan yang halus nan putih menyentuh tangannya membuat lamunan Shikamaru buyar. Ia menoleh melihat kearah Temari,dilihatnya wajah Temari yang tidak seperti biasanya.
"Jangan sampai terluka lagi," ujar Temari lirih.
Shikamaru tersenyum kikuk "Oke,santai saja." kemudian ia memalingkan wajahnya dari Temari 'Dia itu..mencemaskan aku ya' pikirnya sederhana.
"Ya sudah kalau begitu,tugasku untuk menjagamu sudah selesai," ujar Temari tersenyum lembut kemudia berdiri "Mungkin besok kau jangan sekolah dulu dan besok aku akan menjagamu lagi." tambahnya kemudian pergi,Shikamaru menggelengkan kepala pelan.
Semuanya terasa begitu cepat,padahal hari-hari yang dilewati olehnya bukanlah singkat,namun terasa begitu dalam hingga kehati,yah..untuk besok biarlah besok pula. Setidaknya ia masih bisa tersenyum dihari-hari biasa.
To Be Continued
Maaf telat update!
Sepertinya Chap depan bakal habis! Soalnya di Chap ini ada 2 ekspresi lagi...
Nah! Tebak aja sendiri yak!
Bye!
