The Mysterious Accident
Warning : AU, Typo(s) bertebaran, GaJe, OOC, Humor jelek nyempil disana-sini, alur muter-muter, kejadian yang tidak masuk akal, bloody scene.
Disclaimer :
Vocaloid bukan punya saya melainkan punya Yamaha Corp and Crypton Future Media. Mysterious Accident, tentunya, punya saya.
Summary : Kecelakaan? Itu hal yang biasa tapi jika dihubungkan dengan sesuatu yang diluar nalar manusia.. Apa jadinya?
Don't Like Don't Read
Silahkan pencet tombol 'back' kalau tidak suka..
HAPPY READING, MINNA-SAN
.
.
..
.
.
(Miku POV)
.
.
Aku cuma bisa menggigit jari saking takutnya. Apa yang akan dilakukan Sonika padaku dan Rin karena dia memiliki potongan rambut kami.
"Miku, tenanglah" Jo-san mendekatiku sambil memberikan secangkir teh.
"mana bisa aku tenang! Nyawaku terancam!" teriakku.
"Miku!" Kaito terdengar marah, "belum tentu Sonika itu penyihir!"
"tapi mereka itu adalah orang yang punya kemampuan supernatural! KEKUATAN SUPERNATURAL KAITO!" ulangku lalu menangis, "a-aku tidak mau mati"
Kaito menggenggam tanganku, "kau selalu mengulang kalimat itu. Kurasa kasus ini belum ada apa-apanya dengan kasus yang pertama kali kita tangani. Kita pasti akan tetap berlima sampai kasus ini berakhir"
"semoga begitu" jawabku sambil menyeka air mataku.
.
.
.
(Rin POV)
.
.
Jam menunjukkan tepat jam 12 tengah malam, aku dan Len baru saja menyelesaikan pekerjaan kami. Aku pergi ke kamar Len dan melihat dia sedang kayang dengan GaJe-nya (*dipukul pohon pisang).
"Konbanwa, Len-kun" sapaku.
"kon.. , Rin-ny" sahutnya sambil menahan napas.
"ngapain malam-malam begini kayang?" tanyaku sambil duduk di atas tempat tidurnya.
"pinggangku rasanya berubah bentuk. Harus sedikit lengkung, sekarang malah lurus" jawabnya sambil meyudahi acara kayang malam harinya.
"kau dapat sesuatu?" bisikku.
Len mengeluarkan benda-benda segede kelereng dari saku jas-nya, "8 micro camera dan 20 penyadap. Kau sendiri dapat apa?"
"5 micro camera dan 8 penyadap, aku menemukan ini di ruang cuci dan toilet lantai dua" jawabku sambil mengeluarkan micro camera dan penyadap yang sudah pasti non-aktif itu dan saku beretsleting di lipitan rokku.
"dan lihat apa yang kutemukan juga" Len mengeluarkan sebuah kantung plastik dengan cairan berwarna merah dari balik jasnya, "aku menemukan ini saat bersih-bersih di perpustakaan. Cairan ini ada di vas bunga kristal meja si Tuna-sama itu. Baunya seperti darah manusia, tapi kata Tekuno ini cuma darah burung biasa. Mereka menipu"
"aku juga menemukan sejumput rambut putih di toilet lantai satu, rambut itu ditutupi dengan lakban biar tidak mencurigakan" ucapku.
"ra-rambut?"
"ne" aku memerhatikan Len yang berwajah shock itu, "Daijoubu ka, Len-kun?"
"rambut putih melambangkan perserikatan para penyihir Crypton" jawab Len masih shock.
"pe-penyihir?" ulangku.
"uh, tidak usah pikirkan itu. Sebaiknya kita beristirahat, 2 jam lagi kita pasti dibangunkan Tekuno-san untuk beres-beres keperluan si Tuna-sama itu untuk besok pergi ke Tokyo"
"de-demo.."
"besok kita bisa bicarakan ini lagi. Tenang saja, Rin-chan"
"wakarimashita. Oyasumi, Len-kun" aku berjalan keluar kamar Len sambil melambaikan tanganku.
"oyasumi, Rin-chan" sahut Len.
.
.
(Kaito POV)
.
.
Aku sedang memakan ice cream hasil pemberian ayahku (sebenarnya sogokan supaya Tou-san bisa minum-minum sake di yatai dekat sini). Mitsu-san dan Miku-chan sudah tidur di atas sofa, sementara Lui-san, Jo-san dan Gakupo sedang tidur dengan (tidak) elitnya. 30 puluh monitor berukuran 9 inch berjajar di depan mataku. Aku sedang berjaga (mungkin lebih tepatnya mengintip paksa) Megurine Mansion. Melihat cewek seksi sedang tidur (author : stop Kaito, stop! Ingat rating, rating Kaito, rating!)
.
.
Ulangi lagi.
.
.
Melihat salah satu terduga tidur itu membuatku bosan setengah mampus.
"Kaito.." sebuah suara memanggilku.
"hn.." jawabku
"Kaito.." aku baru sadar bahwa itu bukan suara dari 5 manusia yang lagi tidur, suaranya terdengar dingin dan.. menakutkan.
Aku memalingkan wajah, "da-dare?"
"Kaito.." dia terus memanggilku.
"da-dare ga?" tanyaku lagi sampai sesendok penuh ice cream tertelan. Kepala, hidung, dan leherku rasanya beku.
KRINGG... KRINGGG...
Suara telepon itu membuatku kaget. Aku menempelkan(?) gagang telepon itu ke telingaku.
"moshimoshi" sapaku.
"Kaito-kun?"
"ha'i"
"Aku Deruko. Apa Shion-kaichou masih bangun?"
"Tou-san sedang keluar. Doushita no, Deruko-san?"
"kami menemukan petunjuk tentang kematian Megpoid Gumi" kata Deruko-san.
Aku mengeluarkan buku kecil dan sebuah bolpoin untuk mencatat apapun info yang kudengar dari Deruko-san.
"aku akan mencatat apapun yang Deruko-san katakan" ucapku.
"Kami menemukan sebuah diary yang sudah rusak di kamar mandi. Isinya hanya coret-coret huruf kanji tak sempurna"
Aku mencatat info tersebut.
"lalu apa lagi yang ditemukan?" tanyaku.
"sejumput rambut putih" jawab Deruko-san.
"rambut putih?"
"sou na. Demo Kaito-kun, bagaimana keadaan Rin-san dan Len-san? Orang tua Rin menanyakan kabar mereka berdua"
"mereka baik-baik saja" jawabku setengah berbohong, aku tidak mengetahui keadaan mereka.
"wakatta. Doumo, Kaito-kun. Tolong sampaikan informasinya pada Shion-kaichou, ne?!"
"wakarimashita. Konbanwa, Deruko-san"
"Konbanwa, Kaito-kun" sambungan pun terputus.
Aku merasa sebuah tangan menyentuh bahuku. Aku gemetaran, ingat cerita penjaga penginapan yang bilang bahwa ada orang yang bunuh diri yang di kamar yang kami tempati.
"Kaito!" suara Tou-san, aku bernapas lega.
"Tou-san kau mengagetkanku!?" aku berbalik sambil menaruh kembali gagang telepon pada tempatnya.
"siapa tadi yang telepon?" tanya Tou-san sambil menyimpan kantung kertas berisi bahan makanan.
"Deruko-san" jawabku, "dia memberikan info tentang hasil penelitian kasus kematian Gumi"
"kenapa belum tidur sampai sekarang. Ini sudah malam. Sekarang tidurlah, aku yang akan berjaga" kata Tou-san, tumben-tumbenan baik.
"aku akan berjaga sampai jam 6 nanti" ucapku meyakinkan.
.
.
(skip time. 02.15 A.M)
.
(Nomal POV)
.
.
Ucapan Kaito saat dia bilang akan berjaga sampai jam enam pagi, rupanya cuma isapan jempol belaka. 15 menit setelah dia bilang janji itu, dia sudah tertidur diatas kursi dengan posisi yang rumit untuk dijelaskan. Kepala seloyoran diatas keyboard komputer, tangan masuk ke dalam mangkuk ice cream, kaki nyosor di kursi lain, mata kanannya setengah terbuka. Bisa dibilang dia tertidur dengan mata terbuka sebelah.
"dibilangin nggak mau nurut" Kaitou-san geleng kepala-kepala karena cara tidur anak laki-lakinya.
Kaitou-san melihat kearah monitor pergerakan 2 anak buahnya yang sedang menyelidiki Megurine Mansion. Tak ada sinyal mereka dalam mansion, mereka tak terbaca dalam monitor.
"SEMUANYA BANGUN!" teriak Kaitou-san. Mereka semua bangun. Nasib Kaito sangat sial, begitu dia bangun dan lupa bahwa kakinya nyosor di kursi, dia langsung jatuh terguling bersama dengan kursi tersebut.
"ittai" kata Kaito begitu dia merasakan bahwa pantatnya mencium lantai.
"Doushita no, Shion-kaichou?" tanya Miku.
"Megurine, Rin dan Len hilang dari monitor" kata Kaitou-san, sibuk memegang mouse dan menatap monitor.
"bagaimana mungkin?" Kaito membenarkan posisi duduknya.
"entahlah, banyak gangguan satelit sini" Kaitou-san mengetik beberapa kata di keyboard.
Tanpa sengaja kaki Lui menekan tombol 'on' pada TV.
'terjadi kecelakaan di Osaka. Korban tidak bisa diidentifikasi karena kecelakaan terjadi karena sebuah roadroller tak terkendali menggilas mobil limousine mewah' kata presenter berita tengah malam itu.
"kecelakaan lagi?" Jo-san mengusap-usap matanya, "cepet banget kejadiannya"
"roadroller?" Miku berpikir, "jangan-jangan Rin atau Len sengaja melindas Luka dengan roadroller"
"Miku, satu hal yang kita tahu adalah bahwa Rin dan Len bisa mengendarai roadroller sampai roadroller itu melakukan breakdance" Gakupo berkomentar.
'dalam kejadian itu ada sepasang anak kembar berumur sekitar 16 tahun yang ikut dalam limousine tersebut melarikan diri. Diduga kuat bahwa anak kembar tersebut memiliki kesaksian kuat mengenai kecelakaan ini' kata reporter TV tersebut.
"jangan-jangan Rin-chan dan Len-kun mengalami luka serius" Miku mulai menggigiti kukunya lagi.
"tenangkan dulu pikirkan kita" Kaitou-san mematikan komputer, "Jo, panaskan mobil. Kita berangkat ke tempat kejadian itu"
"ha'i, Shion Kaichou!" Jo-san langsung keluar dari penginapan dan memanaskan mobil yang ada di istal (readers : lo kira tu mobil kuda balap apa? #dibantai), maksudnya di garasi penginapan.
yogasareta shihou hikoku de hinpu de
shimaru jaijou
Ponsel Kaito berdering.
"ha'i, Len" sapa Kaito.
"kalian sudah lihat berita TV'kan? Tentang kecelakaan limousine itu"
"ne. Kalian baik-baik saja'kan? Kuharap kalian baik-baik saja. Nyaris seluruh anggota mengkhawatirkan kalian berdua"
"kami baik-baik saja disini tapi Rin sudah lima belas kali muntah karena melihat mayat Luka yang rata sama tanah"
Kaito mengaktifkan speakerphone-nya untuk memperdengarkan suara Rin muntah.
"Kaito.. kalian.. ce..pat kesini.. hoooekkk.. kepolisian dan tim foren..sik menolakk... mengangkat.. hoooeeekkk... mayat Luka" ucap Rin sambil muntah-muntah.
"kami akan berangkat sekarang. Jaga diri kalian baik-baik. Jaa nee"
"ne, Kaito. Jaa nee" sambungan pun terputus.
"Kaito, ayo kita pergi" ajak Miku.
"ya" jawab Kaito sambil mengekor di belakang Miku.
.
.
.
(Len POV)
.
.
.
"kau masih pusing Rin?" tanyaku.
"bukan pusing tapi mual, Len" jawab Rin yang terduduk lemas. Kami sedang bersembunyi di sebuah gang sempit.
"kalau begitu beristirahatlah. Jangan takut, aku takkan bermacam-macam"
BLETAKK!
"jangan ngomong yang nggak-nggak deh!" kata Rin sambil menyenderkan kepalanya ke bahuku, "kau masih pendek ya'"
JLEB!
"kau juga sama saja" ucapku balik meledek. Rin tidak membalas, dia sudah tertidur dengan mudahnya.
Setelah lebih dari setengah jam, akhirnya Kaitou-san datang beserta rombongannya (Kaito, Miku, Gakupo, Lui-san, Jo-san, dan Mitsu-san).
"Len, kamu dimana?" terdegar suara Mitsu-san. Aku mau menghampiri mereka tapi Rin masih saja tertidur di bahuku. Aku mengetuk-ngetuk tempat sampah besar di sampingku untuk memberitahu keberadaanku.
"Jangan-jangan itu sinyal yang dibuat Len. Ayo kita pergi ke sumber suara!"
"Len?! Kenapa kamu sembunyi di tempat GaJe kayak gini?" teriak Mitsu-san begitu dia melihatku.
"tadinya kami mau sembunyi di gedung tapi si Rin lemas karena banyak muntah" jawabku.
"yokatta. Sudahlah yang penting kalian berdua selamat" kata Kaitou-san, "beristirahatlah. Nanti kalau kalian sudah baikan, kalian boleh ikut penyelidikan"
"aku baik-baik saja, Kaitou-san. Jangan baik bawa Rin ke rumah sakit karena di kelelahan parah, sepertinya" jawabku.
"Jo, bisa kalian bawa Rin ke rumah sakit?"
"ha'i!" Jo-san langsung menggendong Rin dan membawanya ke mobil.
"Miku, kau bisa ikut. Aku yakin kau tidak akan kuat melihat jenazahnya. Rin saja muntah" kata Kaitou-san.
"ha'i, Kaitou-san" Miku berlari menuju mobil.
"baiklah.. jika kau masih kuat, kau boleh ikut penyelidikan Len" Kaitou-san pergi menuju TKP. Aku, Kaito dan Gakupo mengikutinya.
Aku kembali menuju ke tempat kecelakaan. Aku melihat sebuah kepala yang sudah terpisah dari badannya. Kepala tersebut nyaris hancur. Badannya hancur dengan darah dimana-mana.
"inikah mayat Megurine Luka?" tanya Kaitou-san.
"ne" jawabku.
Kaito dan Gakupo memakai sarung tangan mereka.
"merepotkan sekali. Aku harus mengangkut kepala ini ke kantung jenazah. Kenapa tim forensik itu malah angkat tangan dan menyerahkan kasus ini ke Vocasky?!"keluh Kaito sambil mengambil kepala Luka. Dia biasa-biasa saja tidak merasa jijik ataupun takut.
"Kaito, jangan mainkan kepala mayat seperti itu!" teriak Kaitou-san begitu melihat anaknya bertingkah. Kaito berjalan seperti zombie sambil membawa kepala Luka.
Kaito memasukkan kepala Luka ke dalam kantong jenazah, "santai saja, Tou-san. Kepala ini tak mungkin menggigit lagi"
Kaitou-san menepuk jidatnya kuat-kuat.
"berikan mayat Megurine-sama" kata seseorang dari belakang kami, suaranya sangat menakutkan.
"dare ga omae? Orang selain penyidik dilarang masuk kesini" usir Gakupo, Gakupo mulai mengeluarkan sense berandalnya.
Pria itu mengeluarkan senjatanya, "berikan mayat Megurine-sama"
"apa hanya kalimat itu yang bisa kau ucapkan?" Kaito menyeret kantung jenazah.
"berikan mayat Megurine-sama" paksa pria itu. Dari berbagai arah berdatangan pria berpakaian sama seperti pria memaksa meminta mayat Luka.
"FiveFormation!" teriakku.
"yosh!" Kaito dan Gakupo mengeluarkan pistol semi-otomatis mereka.
"jangan mulai tanpa kami" kata Rin sambil mengisi magazine revolver-nya, dibelakangnya Miku melakukan hal yang sama.
"start!" teriak Miku, "have a nice show!"
"saa," Rin memulai formasi kami.
"hitotsu.." aku menembak dua pria sekaligus.
"futatsu.." sambung Miku, dia melompat setinggi mungkin sambil menembak dua pria.,
"mitsu.." lanjut Kaito, menembak dua pria dalam jarak dekat.
"yottsu.." Gakupo menembak lima pria sekaligus. Sense berandalnya aktif.
"itsutsu" Rin menendang tangan dua orang pria dan menembaknya.
"muttsu" Mitsu-san ikut-ikutan.
"sagatsu... too" kami semua menembak ke arah seorang pria. Kurang lebih delapan peluru sekarang bersarang di tubuhnya.
"ittai.. Itsukara nan darou? Tameiki wa nante nante nai no ni" Rin menyanyi untuk menutup aksi formasi.
"mayat Megurine-sama.." pria itu menghembuskan napas terakhirnya.
"yeay, mission complete!" seru Miku sambil menembak ke langit, "ups?"
Kami semua menatap Miku lalu tertawa.
"ayo kita urus mayat ini dan membongkar si rambut putih itu." ucapku sambil menarik mayat-mayat pria yang mati di tangan kami beberapa menit yang lalu. Aku menumpuknya menjadi piramida mayat.
"Sambutlah karya besar Vocasky tahun ini, saya persembahkan Piramida Mayat!" ucapku dan Rin dengan kompak, kami mempromosikan piramida mayat hasil bunuhan kami.
"harga dibuka mulai dari dua ratus ribu yen" senyum mengembang di bibir Rin. Rin mengangkat kaki kanannya dan mengeluarkan jari telunjuk dan jari tengahnya sambil mengedipkan mata kirinya. Pose imut, menurutku.
"masih fresh! Kami menjamin tidak ada pengawet dan pengeras. Ini asli mayat asli" tambahku dengan membentangkan tangan dengan lebar.
Aku melihat Miku, Kaito, Gakupo, Kaitou-san, Lui-san, Jo-san dan Mitsu-san kicep dengan mulut setengah terbuka.
"aku harap kalian masih waras dan nggak kesambet apa-apa" kata Kaito yang disambut anggukan dari Miku dan yang lainnya.
"gomen ne, sense pedangang kami muncul lagi" ucapku sambil cengengesan bareng Rin.
"nah, ayo kita mulai serius," perintah Kaitou-san, "Kaito, Gakupo coba teliti roadroller itu dan berikan hasil penelitian kalian padaku. Rin, Miku coba kalian cari tahu tentang petunjuk lain yang memungkinkan. Len dan sisanya periksa mayat Megurine sekali lagi"
"HA'I, KAICHOU!" jawab kami kompak.
.
.
.
-To Be Continue-
.
.
Author Line :
Hiks, gomen update lama.
Gomen, chapter kemaren nggak ada warning, diclaimer, dll. Author terlalu konsen download anime.
Hape author sempet disita sama ortu author (aku ngerjain fic di handphone samsung valencia yang ada windows mobile-nya. Jujur nih, author belum punya uang buat beli PC baru #curcol) karena nilai UTS author hancur. Author sekarang sibuk dengan soal fisika dan biologi. Jadi, kalau suatu saat author nggak pernah publish berarti author sedang mengalami masa kehilangan ponsel (readers : 'sabodo ah).
Aku berterima kasih buat para reviewers yang udah nge-fav/follow/review fic ini. Aku akan berjuang lebih keras lagi dan menghasilkan fic menarik & update sekilat mungkin. Cukup sekian bacotan author. See yoU! (gomen nggak bisa bales review. Chapter depan aja, Ok?)
A/N : tolong tetap tinggalkan jejak demi kemajuan fic ini. Terima Flame yang bermanfaat.
R
E
V
I
E
W
Please? *_*
-Shintaro Arisa-chan-
