Yosh~ Akhirnya setelah sekian lama saya ber-hibernasi, chapter 4 ini muncul juga~~
Ternyata SMA itu nggak gampang ya... ._. Jadi jarang nonton Anime lagi... =.= Huhuhu~ Malang nian nasip kita para anak SMA... Oke, segitu aja nge-gajenya, kebetulan Yuri lagi waras (baca : galau) jadinya nggak bisa ngelawak... Sekian curcol dari Yuri...
Declaimer : Masashi Kishimoto-sensei, tapi Gaara punyaku~ (sesama psycho~ *dibuang*)
Warning : OC, OCC, gaje, aneh, jayus de el el
Story : (sok) Romance & Friendship (yang mananya?)
Happy Reading~ XD
The Storm
Keadaan masih kacau, tapi kepanikan Temari sudah bisa diatasi. Gaara masih menjalani perawatan medis dan masih berbaring lemas. Sementara itu Kankuro yang menangani Yuri ada di ruangan lain. Yuri yang ditanya hanya bisa diam. Kankuro bingung harus berbuat apa. Perasaannya bercampur aduk sama seperti Temari. Ia tak tahu apakah ia berhak membentak dan mengancam Yuri jika dia tak mau menjawab seperti ini. Tapi dia juga punya kewajiban menjaga Yuri yang selama ini membantu perkembangan pesat yang terjadi di Sunagakure dan perubahan pada adiknya.
"Baiklah jika kau tak mau menjawab. Aku akan meninggalkanmu di sini. Penyesalanmu akan datang dengan sendirinya." Kankuro meninggalkan Yuri sendiri saking bingung apa yang harus ia lakukan pada anak itu.
Di ruangan tadi, Yuri hanya diam di atas tempat tidur dan meringkuk sambil memeluk kedua lututnya. Sorot matanya yang selama ini memancarkan semangat dan kehangatan sudah tak ada lagi. Ia benar-benar terlihat menyedihkan. Ia terus-terusan memandangi telapak tangannya yang tak kunjung berhenti bergetar.
"Aku pembunuh. Aku telah membunuhnya. Aku telah melukainya." bisiknya pada diri sendiri
Mau tak mau, inilah jalan terbaik yang bisa diambilnya. Air mata mengalir di pipi Yuri. Lalu tubuh Yuri bernguncang karena menangis. Ia tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Ia bukannya menangis karena takut dibenci. Ia sudah memikirkan konsekuensi yang akan ia terima jika melaksanakan tugas ini. Ia menangis karena tidak tega mengingat apa yang telah ia perbuat.
"Bagaimana keadaan Yuri?" tanya Gaara pada Temari
"Dasar bodoh! Kenapa kau cemaskan orang lain daripada dirimu yang terluka parah seperti ini?" kata Temari menggenggam tangan adiknya
"Aku memang terluka parah, tapi ini pasti akan segera sembuh. Tapi Yuri, lukanya lebih parah dari pada lukaku." kata Gaara
"Luka Yuri?" kata Temari bingung
"Ya, hatinya pasti sangat pasti merasa sangat bersalah pada kita." timpal Gaara
"Ya, memang seharusnya begitu!" kata Temari
"Tahukah kau Temari? Aku tahu akal busuk Danzo, ia menyuruh Yuri melakukan semua ini. Dan ia pasti mengancam Yuri jika tidak melakukan tugas ini, Sunagakure akan ia ratakan dengan tanah. Yuri mau tak mau harus memilih. Takdir Sunagakure ada di tangan Yuri, itu bukanlah tanggung jawab yang kecil, sama seperti Kazekage. Lalu, jika ia salah langkah, yang terkena dampaknya kita juga. Dan inilah pilihan terbaik yang ia berikan bagi kita. Jangan salahkan Yuri. Salahkanlah Penyihir jahat yang memimpin Konohagakure itu." kata Gaara. Mendengar itu, mata Temari terlihat berkaca-kaca.
"Kenapa? Padahal Yuri telah berbuat seperti ini padamu. Kenapa kau masih membelanya?" kata Temari tak bisa membendung airmatanya
"Jangan menangis, kak. Aku bukan membelanya, aku hanya mengatakan keadaan yang sebenarnya. Lagipula, Yuri sudah banyak berpengaruh bagi desa ini. Berkatnya kita semua dapat berkembang pesat. Dan darinya, aku dapat belajar banyak hal. Ia yang mengajariku untuk menyayangi, berteman dan masih banyak lagi. Apakah dengan mencemoohnya urusan ini akan selesai?" kata Gaara sambil tersenyum
"Tidak." kata Temari singkat
"Hal ini pun aku pelajari dari Yuri. Kita hanya bisa bersabar dan terus berusaha. Yakinlah jika kita terus berdoa dan berusaha, semua kesulitan ini akan bisa kita hadapi. Perlakukan Yuri dengan baik. Jangan biarkan dia merasa bersalah dan jangan perlakukan dia sebagai tahanan, perlakukan dia sebagai tamu seperti biasa kita menyambutnya. Hiburlah dia." pesan Gaara
"Baiklah." kata Temari. Ia merasa bangga pada adiknya.
"Biarpun tampak tenang, sebenarnya hati Yuri masih sangat rapuh. Ia sudah banyak kehilangan orang yang disayanginya. Termasuk laki-laki yang dicintainya." kata Gaara
"Gaara, bagaimana kau bisa..." Temari tersentak kaget
"Aku sudah bersahabat dengannya cukup lama, tak ada hal yang bisa ditutupi dariku biarpun ia tak memberi tahunya. Dan, cinta itu adalah hal yang misterius. Sekarang, aku akan memasuki masa kritis. Berdo'alah agar aku bisa melewatinya." kata Gaara
"Hei, apa-apaan perkataanmu itu?" Temari kembali panik, genggaman tangan adiknya mulai melemas.
"Tenanglah. Tak apa. Satu lagi, usahakan kabar bahwa aku berhasil diracuni oleh Yuri cepat sampai di telinga Danzo. Untuk taktik berikutnya, tanyakan pada Yuri" kata Gaara, genggaman tangannya terlepas dari tangan kakaknya. Terlihat bibit bunga lili di tepi jendela ruang itu tampak melayu.
Sementara itu, Yuri masih terlihat tak mau berhenti menangis. Ia terus-terusan menangis. Kankuro pun yang mengawasi Yuri tak dapat membendung air matanya untuk anak itu. Ia kasihan melihat Yuri yang seolah ditimpa tanggung jawab yang sangat berat. Ia mengerti, bahwa ini semua adalah tugas dari Danzo. Dan ia memahami kondisi ini dengan baik.
Kenapa harus Yuri yang ditimpakan masalah yang begitu membuatnya bersedih seperti ini? Dasar kakek tua itu! Aku bersumpah demi adikku dan Yuri, aku harus mengalahkan Kakek tua itu! Geram Kankuro dalam hati. Ia melontarkan sumpah serapah untuk Danzo yang telah membuat orang-orang menderita seperti ini.
"Kankuro-san! Cepat ke kantor Kazekage-sama! Beliau sedang kritis!" teriak seorang kurir
"..." Kakuro hanya bisa diam. Tapi suara tangisan dari dalam pintu di belakangnya terdengar makin keras dan terdengar sangat menyedihkan.
"Bodoh, seharusnya kau tidak bicara sekeras itu. Sekarang lihat apa yang kau perbuat pada Yuri-san!" tegur salah seorang ninja yang juga menjaga Yuri
"Sudah jangan bertengkar! Nah, ayo kita ke tempat Gaara." lerai Kankuro
"Bagaimana dengan Yuri-san?" tanya kurir itu
"Dia tak akan pergi sampai Gaara sembuh." kata Kankuro sambil tersenyum
Yuri Oohara
"Bagaimana keadaan Gaara?" kata Kankuro begitu masuk ke ruang Kazekage
"Dia sedang kritis. Semoga dia bisa melewati masa krisisnya." kata Temari sambil menggenggam tangan adiknya
"Apakah ada yang dikatakan Gaara sebelum ini?" tanya Kankuro
"Ya, dia bilang, agar kabar bahwa dirinya kritis secepatnya sampai ke telinga Danzo. Dankita jangan salahkan Yuri. Satu lagi, untuk rencana berikutnya tanyakan kepada Yuri." lapor Temari
"Hmmm, begitu ya. Pasti sebelum ini mereka sudah merencanakan semua untuk kedepannya." kata Kankuro
"A-Ano, Temari-san! Kankuro-san! Obat penawar untuk racun ini tidak ada. Bagaimana ini?" kata seorang ninja medis panik
"Jangan panik! Kita pasti menemukan jalan keluarnya!" kata Kankuro tegas
"Aku akan menemui Yuri." katanya lagi lalu bergagas ke ruangan Yuri
"Yuri?" kata Kankuro menghampiri Yuri, yang dipanggil masih terisak
"Sampai kapan kau mau terus menangis? Bukankah itu membuat Gaara tambah sedih?" tanya Kankuro, Yuri masih saja terisak
"Dasar. Yuri, kau punya obat penawarnya kan? Kami membutuhkan itu sekarang. Nah, ayo cepat hapus air matamu!" kata Kankuro
"Ba-baiklah." kata Yuri dengan muka sembab, ia merogoh kantong ninjanya lalu mengeluarkan sebuah botol
"Itu?" tanya Kankuro
"Ya, aku sudah meneliti racunnya dan menciptakan obat penawarnya." kata Yuri
Dia gadis yang cerdas, puji Kankuro dalam hati
"Baluri ini disekitar lukanya, dan juga campur dengan air lalu minumkan pada Gaara." kata Yuri dengan suara yang sedikit serak karena terlalu banyak menangis
"Baiklah, terima kasih." kata Kankuro
"Aku punya beberapa permintaan padamu." kata Yuri
"Apa itu?"
"Tolong berikan surat ini pada Aoi, summon burungku yang sudah kusuruh dia menunggu di luar, dan pasti akan akan ada seorang Anbu Ne dari Konoha yang akan mengecek kebenaran cerita bahwa Gaara sekarat, tolong tempatkan aku di penjara tingkat tinggi dalam beberapa hari ini." pinta Yuri
"Untuk yang pertama mungkin aku akan memenuhinya, tapi kalau yang ke dua..."
"Ini adalah salah satu bagian rencana."
"Hhhh~ baiklah kalau begitu. Aku akan menyerahkan ini pada Temari lalu akan menyuruh ninja penjanga membawamu ke penjara bawah tanah."
"Terima kasih Kankuro-san, kau sudah mau mengerti keadaanku." kata Yuri
Kankuro kembali ke ruangan Kazekage lalu menyerahkan obat penawar dari Yuri, Temai dan para ninja medis kaget ketika melihat botol yang dibawa Kankuro. Awalnya merka sempat ragu, tapi setelah Kankuro meyakinkan, akhirnya mereka menggunakan obat penawar buatan Yuri. Dan hasilnya, ternyata berhasil! Tubuh Gaara yang mulanya kaku perlahan-lahan mulai kembali seperti semula. Seluruh tubuhnya yang pucatpun mulai kembali seperti semula. Semua yang berada di ruangan itu terkagum-kagum melihat kemanjuran obat penawar buatan Yuri. Tapi Kankuro berpesan agar dampak dari obat penawar jangan sampai terlihat jelas dalam beberapa hari ini, karena sperti yang dikatakan Yuri, mungkin akan ada Anbu Konoha yang akan memeriksa kebenaran berita kritisnya Gaara.
Yuri lalu dipindahkan di penjara bawah tanah. Tapi dia diperlakukan baik di sana. Kakuro pun sering datang mengunjunginya biar hanya sekedar menanyakan kabar Yuri. Seperti permintaan Gaara, Yuri harus diperlakukan dengan baik. Detelah beberapa hari, Kankuro mendapati seseorang yang tak dikenal dalam gedung Kazekage dan seorang lagi sedang menuju penjara bawah tanah.
Itu pasti mereka, anbu dari ne, pikir Kankuro
Ia bergegas pergi ke penjara bawah tanah dan ke tempat Yuri. Ia mengumumkan bahwa penyusup telah datang dan mereka harus berpura-pura membenci Yuri. Yuri dan para panjaga lainnya mengangguk mengerti. Ketika pergantian shift, orang yang tadi diilihat Kankuro muncul menyamar sebagai penjaga. Kankuro memberi sinyal bahwa pertunjukkan akan segera dimulai.
"KAU MAU DIAM SAMPAI KAPAN HAH?" kata salah seorang penjaga
"Ada apa lagi ini?" kata Kankuro
"Dia masih tetap tidak mau bicara! Padahal, Kazekage-sama tengah sekarat dan dia malah enak-enakan tidur di sini!" kata anbu yang menyamar sebagai penjaga
"DASAR RENDAH! KAU MASIH SAJA TETAP DIAM?" kata penjaga yang pertama
"KALAU KAU PUNYA MULUT, BICARA!" kata penjaga yang lainnya
"SUDAH CUKUP! Yuri Kazami, kau harus menebus dosamu. Kami akan membiarkanmu membusuk di tempat ini. Jadi, selamat menikmati hari-harimu! Aku muak denganmu. Hanya bicara saja tidak bisa!" kata Kankuro
"Kau! Kau jaga pegkhianat ini!" kata Kankuro menujuk Anbu dari Konoha itu
"Baik!" kata Anbu tersebut
Setelah semuanya pergi, kecuali Anbu Konoha itu, dia berbalik dan berbicara pada Yuri.
"Kau melaksanakan tugasmu dengan baik, Kazami-san. Pantas kau dijuluki Lily of The God. Kau terlalu sempurna!" kata Anbu tersebut
"Kau terlalu memuji." kata Lily tersenyum dengan misterius
"Nah, aku akan mengeluarkanmu." kata Anbu tersebut
"Jangan! Keluar sekarang hanya akan menyambut maut!" bantah Yuri
"Tapi Hokage-sama memerintahkanku membawa kau kembali." kata Anbu itu
"Keadaannya tidak menguntungkan! Katakan itu pada Danzo, gan katakan bahwa aku yang berkata seperti itu. Aku juga akan mengamati keadaan Sunagakure lebih lama." kata Yuri
"Ba-Baiklah!" kata Anbu itu lalu pergi, tak lama kemudian Kankuro dan penjaga yang lainnya kembali
"Anbu ne memang gampangan!" kata Kankuro
"Hanya begiru saja sudah percaya." Timpal salah seorang penjaga dan disetujui oleh yang lainnya
"Yuri, maafkan kami kalau kata-kata kami tadi keterlaluan." kata Kankuro sambil membuga jeruji besi
"Tak apa. Aku pun pantas mendapatkannya." Yuri keluar dengan tenang
"Kau sudah terlihat tenang."
"Ya, aku sudah puas menangis waktu itu. Kini saatnya melalukan serangan balasan pada kakek tua itu! Dan tolong lakukan perawatan total pada Gaara sekarang juga." kata Yuri dengan tegas
Sungguh gadis yang luar biasa, puji Kankuro lagi
~Yuri Oohara~
Yuri dan Kankuro mengumpulkan Ketua dari tim Ninja yang sudah dibagi-bagi untuk mengawasi wilayah tertentu. Awalnya mereka sempat ragu karena yang memerintah mereka adalah Yuri Kazami –yang notabenenya dia adalah seorang perempuan dan dia telah membuat Kazekage mereka kritis– Tapi setelah diterangkan oleh Kankoru dan Temari bahwa itu adalah sebagian dari rencana, semua mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Yuri.
"Nah, apakah kalian semua mengerti?" tanya Yuri
"Ya." Kata para ketua tim mengangguk
"Nah, aku percayakan kepada kalian semua!" kata Yuri, para ketua tim langsung menyebar ketika Yuri memberikan isyarat untuk melaksanakan misi kelompok mereka masing-masing
"Kuakui, kau memang hebat. Bisa menciptakan obat penawar dan langsung bisa menguasai keadaan seperti ini." puji Temari
"Terima kasih. Tapi ini juga atas rencana yang disusun Gaara." kata Yuri merendah
"Keadaan Gaara sudah mulai pulih."kata Kankuro
"Aku... Aku benar-benar minta maaf..." kata Yuri menyesal
"Itu bukan salahmu."kata Temari
"Ya! Ini semua salah Danzo!" kata Kankuro
"Terima kasih kalian masih mau percaya padaku. Baiklah, aku akan mengobati Gaara."kata Yuri
"Ya, Tolong ya."kata Temari
"Aku akan berjaga di sini kalau-kalau ada laporan. Dan kalau ada perkembangan tentang Gaara, beri tahu aku!" kata Kankuro
"Ya!" kata Temari lalu mendampingi Yuri menuju ruangan dimana Gaara dirawat
Sesampainya di sana, Yuri kelihatan sedih. Tapi ia menguatkan dirinya dan berjalan menuju tempat tidur Gaara. Setelah memeriksa keadaan Gaara, ia mencari-cari tanaman obat yang sebelumnya telah ia minta dan meraciknya. Ia lalu menyerahkan racikan itu agar dioleskan ke luka di perut Gaara dan kembali meracik ramuan lagi.
"Selesai. Apa lagi yang bisa aku bantu?" tanya Temari
"Tolong minumkan ini padanya."kata Yuri sambil menyerahkan ramuan yang ia pegang
"Kau terlihat canggung."kata Temari
"Gara-gara aku, Gaara jadi begini."sesal Yuri
"Sudah kubilang, ini bukan salahmu. Ini sudah terjadi, sekarang, kita hadapi saja yang sudah di depan mata kita. " kata Temari
"Ya."kata Yuri
"Wah, sejak kapan adikku jadi pengertian begitu?" kata Kankuro
"Kankuro no baka!" kata Temari
"Ano, apa ada kabar?" tanya Yuri
"Sejauh ini belum, aku males nunggu."kata Kankuro terus terang
"Dasar!" kata Temari
"Apa aku boleh meminta seekor burung merpati?" tanya Yuri
"Mau mengirim surat untuk siapa?" tanya Kankuro yang sudah tahu tujuan Yuri
"Naruto dan yang lainnya. Aku ingin meminta bantuan mereka."kata yuri dengan tatapan serius
"Baiklah." kata Temari lalu keluar ruangan itu
"Yuri?" panggil Kankuro karena Yuri terlihat sibuk dengan dunianya sendiri
"Ah, ya? Kenapa?" tanya Yuri
"Kau kelihatan cemas."kata Kankuro
"Menurut Kankuro-san, apa aku harus membunuh Danzo?" tanya Yuri
"Jangan, jangan. Gadis sepertimu tidak boleh melakukan hal kejam seperti itu."kata Kankuro
"Kenapa? Kalau dia tidak dibunuh..."
"Dia memang harus dibunuh. Dan aku ingin akulah yang membunuhnya demi membalas perbuatannya pada Gaara dan semuanya."
"Tapi, Kankuro-san..."
"Kenapa? Kau tidak suka kalau aku yang melakukannya?"
"Bukan , sejak awal aku dan Gaara sudah menyusun rencana yang hebat."kata Yuri percaya diri
"Rencana? Apa itu?"
"Aku hanya akan memberi tahu Kankuro-san dan Temari-san."
"Aku berjanji tak akan membocorkannya."
"Begini, menurutmu, apakah orang-orang akan terkejut jika mereka mengetahui bahawa Kazekage yang tengah sekarat tiba-tiba memimpin pasukan terdepan yang menyerang Konoha?"
"Apa maksudmu?"
"Setelah mengumpulkan pasukan yang cukup, kita akan menyerang Konoha dengan kekuatan penuh. Dan yang memimpin pasukan adalah Gaara. Penyerangan akan dilakukan 2 minggu lagi."
"Kau gila? Mana mungkin Gaara sembuh dalam waktu secepat itu?"
"Untuk itulah aku bekerja keras selama ini untuk menciptakan obat penawarnya. Serta aku sudah menemukan metode yang tepat untuk menghilangkan racun itu."
"Mungkin untuk mengobati Gaara dengan waktu 2 minggu cukup, tapi memulihkan seseorang butuh waktu yang cukup lama."
"Dan Karena itulah mulai sekarang aku akan mengerahkan kemampuanku. Aku pun akan meminta bantuan dari Sakura dan Ino. Kalau mereka setuju membantu kita, waktu 2 minggu bukan masalah."
"Kalau mereka menolak?"
"Aku rasa mereka tak akan menolak."
"Kau percaya diri sekali."
"Karena Gaara berkata bahwa rencana ini akan berhasil, aku percaya padanya."
"Dasar kau ini. Kau sangat menyayangi adikku ya."
"E-eh?" Yuri terlihat salah tingkah
"Ya kan?"
"U-untuk perang, jangan bahas dulu. Kita sampingkan urusan pribadi dan utamakan masalah perang ini."
"Hahaha. Kau pintar mengalihkan pembicaraan!"
"Yuri, ini merpatinya."kata Temari memasuki ruangan
"Ya, Terima kasih. Dan, Kankuro-san, tolong beritahukan Temari-san rencana kita semua."kata Yuri
Yuri lalu bekerja keras siang dan melam demi memulihkan Gaara dan hal itu terus berlangsung selama beberapa hari berikutnya. Tetapi pada hari ke 5, tiba-tiba Yuri ambruk ketika sedang mengobati Gaara dengan chakra-nya.
"Yuri?" Temari langsung menghampiri tubuh Yuri yang terkulai lemah
"Mungkin dia terlalu lelah. Sudah 5 hari dia begadang dan terus menggunakan chakra-nya tanpa beristirahat sedikit pun." kata Kankuro
"Ka- Kankuro-sama! Temari-sama! Gawat! Ini gawat!" teriak seorang Kurir
"Kenapa?" tanya Temari
" Ada segerombolan ninja Konoha menuju ke arah kita! Dan sepertinya lebih dari 100 orang!"
"Heh? Mereka menyerang secepat ini? Mana mungkin strategi kita bocor?"
"Saya tidak tahu! Tapi, mereka terus maju biarpun sedang badai."kata Kurir itu
"Gawat, seluruh pasukan sedang bertugas. Yang tersisa hanyalan pasukan pemula dan infantri serta wanita dan anak-anak."kata Temari
"Danzo benar-benar niat menghancurkan kita! Kuso!" kata Kankuro
"Lalu, apa yang haru kita lakukan? Gaara sedang sakit dan Yuri pingsan. Mereka lah satu-satunya harapan kita!" kata Temari sedikit panik
"Pertama-tama, jangan panik. Tenankan dirimu Temari." Kata Kankuro
Setelah mereka mangumpulkan pasukan dan sukarelawan yang jumlahnya juga lebih dari 100 orang. Biarpun kekuatan mereka tidak menjanjikan, tapi mereka sudah bersiap untuk berperang. Apapun kemungkinan yang akan terjadi, mereka sudah siap. Termasuk siap mati. Ketika awan debu itu tinggal 100 meter lagi, mereka secara refleks menahan nafas mereka karena tegang.
Lalu, apakah yang akan terjadi? Tunggu saja di chapter 5! *kicked*
TBC~
Omake~
Wogh! Perjuangan masih berlanjut kawan! Terutama kalian yang harus menunggu dan baca cerita saya yang gaje ini! =_=
Mari sama-sama kita berjuang~
Mohon review, saran dan kritiknya ya~ biar ada motivasi, supaya nggak lama kayak gini...=.=
