Title: I'M A FALLEN LEAVES
Cast: Jin, Namjoon, Jungkook, Taehyung, Jimin, Hoseok, Yoongi - #NamJin #KookJin #TaeJin #HopeMin FF
Lenght: Five Shoot
Rating: 15+
Author: Tae-V [Line KTH_V95, Twitter KTH_V95}
Inspired by movie "Sweet Sixteen - Hangeng KrisWu JooWon".
CHAPTER 4
.
BUSAN, FEBRUARI 2016
"Apa kau senang bisa mendapatkan proyek ini, hyeong?" sahut Jimin dengan nada sinis pagi itu ketika ia sudah bisa kembali bekerja.
Saat itu Jin dan Jimin berpapasan di kantin ketika mereka sedang sarapan disana.
"Jimin ah~ Kau tahu kan aku tidak pernah berniat merebut proyek ini darimu? Ini semua murni karena kau kecelakaan makanya atasan kita menyerahkan proyek ini ke tanganku.." sahut Jin.
"Whoaaaaaa~ Hyeong, siapa pria manis ini? Kenalanmu?" sahut Hoseok, yang tiba-tiba saja sudah muncul disamping Jin, sambil tersenyum menatap Jimin.
Jimin menatap Hoseok dengan mengerutkan keningnya.
"Annyeong.. Kenalkan, aku Hoseok, dari divisi finance... Kau?" sahut Hoseok, mengajak Jimin berkenalan.
Jimin tidak membalas sapaan Hoseok. Ia justru membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari Jin dan Hoseok.
"Uh? Ia kenapa, hyeong? Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Hoseok kebingungan.
"Maklumi saja, Hoseok ah~ Namanya Park Jimin, senior di divisiku... Kelakuannya memang agak jutek dan menyebalkan..." sahut Jin sambil berjalan menuju sebuah meja kosong.
Hoseok mengikut Jin dan duduk di meja yang sama dengan Jin.
"Ah.. Karakternya memang seperti itu?" tanya Hoseok.
Jin menganggukan kepalanya.
"Whoaaa~ Itu sangat keren! Aku suka tipe pria yang sulit didekati seperti itu.. Biasanya pria seperti dia bersikap begitu karena kekurangan kasih sayang, hyeong.." sahut Hoseok.
"Keren kau bilang?" tanya Jin dengan ekspresi terkejut.
"Hyeong! Jodohkan aku dengannya... Aku rasa aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya..." sahut Hoseok, membuat Jin semakin membelalakan kedua bola matanya.
"Kau? Menyukainya? Mwoya, Hoseok a! Seleramu benar-benar mengerikan..." sahut Jin dengan ekspresi wajah bergidik, terkejut melihat betapa aneh selera sahabatnya itu.
"Ia terlihat manis dan keren di mataku.." sahut Hoseok.
Jin menggelengkan kepalanya.
"Ah, ngomong-ngomong, mengapa kau bilang ia seniormu? Aku baru melihatnya hari ini..." sahut Hoseok.
"Saat kau masuk, ia baru saja kecelakaan dan harus dirawat selama sebulan di rumah sakit.. Makanya kau baru bertemu dengannya hari ini..." sahut Jin.
"Ah~ Pantas saja aku belum pernah melihatnya..." sahut Hoseok.
.
.
.
"Hyeong, kau ada di dalam?" tanya Jungkook sambil mengetuk pintu kamar Jin malam itu.
"Uh~ Masuk saja, Jungkook ah~: sahut Jin dari dalam kamarnya.
Jungkook membuka pintu kamar Jin dan berjalan masuk ke dalam kamar Jin.
"Jungkook ah~ Bogoshipo, jinjja..." sahut Jin ketika melihat wajah Jungkook dihadapannya.
Karena kesibukan Jin mengerjakan proyek kerjaannya, Jin sudah hampir tiga hari tidak bertemu dengan Jungkook sama sekali.
"Kau sangat sibuk akhir-akhir ini, hyeong.. Aku merasa.. Kesepian..." sahut Jungkook sambil duduk di sofa yang ada dalam kamar Jin.
"Mian, Jungkook ah~" sahut Jin sambil menatap Jungkook dengan tatapan merasa bersalah.
"Kupikir kau sudah melupakanku.." sahut Jungkook.
"Yaissssh, imma! Sejak kapan aku melupakan dongsaeng manisku ini?" sahut Jin sambil duduk tepat di sebelah Jungkook sambil mengusap pelan kepala Jungkook.
"Empat bulan lagi aku akan mengikuti ujian akhir SMA ku, hyeong..." sahut Jungkook.
Jin menatap Jungkook. "Waktu berjalan sangat cepat ya, Jungkook ah~ Rasanya baru kemarin aku memberimu selamat karena kau lulus SMP... Rasanya baru kemarin.. Kau mengenakan seragam SMA mu itu..."
Jungkook menganggukan kepalanya.
"Dan rasanya baru kemarin kau menolak pernyataan cintaku, hyeong.." sahut Jungkook dengan wajah sedih.
"Yaishhhh, imma! Jangan membuatku merasa bersalah... Kau tahu mengapa aku menolakmu? Karena Namjoon sudah terlebih dulu masuk dalam kehidupanku... Seandainya kau terlahir beberapa tahun lebih cepat, dan bertemu denganku sebelum aku bertemu Namjoon, aku yakin aku pasti jatuh cinta padamu... Wajah tampanmu, dan sifatmu yang sangat baik.. Siapa yang bisa menolak pria sesempurna dirimu?" sahut Jin.
"Kau.." sahut Jungkook dengan gaya coolnya sambil menunjuk hidung Jin dengan jari telunjuknya.
"Uh?" Jin menatap bingung ke arah Jungkook.
"Siapa yang bisa menolak pria sesempurna diriku? Kau, hyeong..." sahut Jungkook dengan wajah coolnya.
Membuat Jin tertawa keras. "Hahahahaha~ Kau ada-ada saja, Jungkook ah~"
Jungkook tersenyum melihat Jin tertawa sebahagia itu.
"Rasanya sudah sangat lama aku tidak melihat tawa lepasmu ini, hyeong.. Apa pekerjaanmu.. Begitu melelahkan?" tanya Jungkook.
Jin terdiam sambil merenung. Benar apa kata Jungkook. Entah sudah berapa lama ia tidak tertawa selepas itu.
Kekasihnya yang berada jauh disana dan sudah hampir tiga tahun sama sekali tidak pernah ditemuinya. Tekanan yang diberikan Jimin di kantornya. Pekerjaannya yang cukup melelahkan dan banyak menyita waktunya. Semua itu membuat Jin nyaris tidak pernah bisa tertawa dengan lepas.
Belum lagi... Pria menyebalkan bernama Kim Taehyung yang selalu menggodanya setiap mereka bertemu untuk membahas pekerjaan.
Semuanya menjadi beban yang sangat membebani pikiran Jin akhir-akhir ini.
Jin merebahkan kepalanya di bahu Jungkook.
"Jungkook ah~ Tak terasa usiamu sudah delapan belas tahun... Sebentar lagi kau akan lulus SMA.. Dan tak terasa bahumu sudah selebar ini... Biasanya, kau yang selalu bersandar di bahuku setiap kau butuh sandaran.. Kali ini, ijinkan aku bersandar di bahumu ya, Jungkook ah~" sahut Jin.
Jin sudah tidak tahu harus menyandarkan kepalanya kemana lagi.
Hanya Jungkook satu-satunya tempat yang bisa dijadikan sandaran olehnya, untuk beristirahat sejenak dari semua lelah yang dirasakannya.
Jungkook, seolah bisa mengerti jalan pikiran Jin, menganggukan kepalanya. "Aku sudah dewasa sekarang, hyeong... Aku.. Sudah bisa menjadi penjagamu.. Mulai hari ini, kau bukan lagi penjagaku.. Akulah yang akan menjaga dan melindungimu, hyeong.. Araseo?"
"Jinjja, Jungkook ah? Kau bersedia menjadi penjagaku mulai sekarang?" tanya Jin.
"Tentu saja, hyeong... Aku sudah bukan anak-anak lagi.. Aku bahkan berlatih judo, kau tahu itu kan? Aku.. Akan semakin menjadi pria yang kuat, agar bisa menjagamu dengan baik seumur hidupku..." sahut Jungkook.
"Gumawo, Jungkook ah~" sahut Jin.
Dan tak lama kemudian, Jin tertidur di bahu Jungkook.
.
.
.
Jin membuka kedua matanya karena sinar matahari yang masuk dari celah jendela kamarnya menyorot tepat ke wajah Jin.
Dan ketika Jin bangun, ia merasakan ada seseorang yang memeluk tubuhnya dari belakang.
Jin menoleh dan mendapati Jungkook tengah tertidur pulas dibelakangnya, tangan kanan Jungkook memeluk pinggang Jin.
Membuat Jin terkejut.
"Aigoo~ Bocah ini.." gumam Jin sambil mengangkat tangan Jungkook pelan-pelan agar tidak terbangun.
Jin duduk di tepi kasurnya sambil menatap Jungkook yang masih tertidur pulas.
"Kau semakin hari terlihat semakin tampan, imma..." gumam Jin. "Seandainya Namjoon tidak ada dalam kehidupanku, aku pasti memilihmu menjadi pasangan hidupku..."
Karena hari itu hari Minggu, Jin memutuskan untuk membiarkan Jungkook tertidur lebih lama.
Jin turun ke lantai satu menuju dapur untuk membuatkan roti isi telur dan mayonaise agar Jungkook bisa memakannya setelah bangun nanti.
"Jungkook tertidur di kamarmu?" tanya ayah Jin.
Jin menganggukan kepalanya. "Ia bahkan masih tertidur sekarang.."
"Bocah itu.. Tak terasa ia sudah semakin dewasa.." sahut ibu Jin, diiringi anggukan kepala Jin.
"Rasanya baru kemarin ia menjadi bocah kecil yang mengidap trauma... Sekarang, karena bantuanmu, Jin.. Ia sudah bertumbuh menjadi pria normal yang sangat tampan.." sahut ayah Jin.
"Eomma sangat bangga memiliki anak sepertimu.." sahut ibu Jin.
"Hehehe~ Gumawo, eomma~ Gumawo, appa~" sahut Jin sambil sibuk menyiapkan sarapan untuk Jungkook.
.
.
.
Siang itu handphone Jin berdering.
Minggu siang. Waktu kesukaan Jin. Waktu dimana Namjoon bisa menelponnya selama sekitar setengah jam.
"Annyeong, Namjoon aaaaah~ Bogoshipo, jinjjja~" sahut Jin ketika ia menjawab panggilan Namjoon.
"Nado, hyeong~ Whoaaa~ Menunggu hari minggu datang memang selalu terasa sangat lama..." sahut Namjoon.
"Bagaimana keadaanmu hari ini, Namjoon ah?" tanya Jin.
"Aku? Kabarku buruk..." sahut Namjoon.
"Waeyo? Apa kau terluka lagi? Apa lukamu belum sembuh? Minggu lalu kau bilang kau terluka saat latihan dance, kan?" sahut Jin dengan cemas.
"Kabarku buruk.. Karena aku sangat merindukanmu, hyeong.. Hehehe~" sahut Namjoon.
"Yaishh! Kupikir kau terluka lagi! Aigoo~ Kau menyebalkan, huft!" gerutu Jin.
"Kau marah?" tanya Namjoon.
"Aniya~ Hehehe~ Kita bahkan hanya bisa berbicara sebentar setiap minggu, aku tak mau menyia-nyiakan waktu berharga ini hanya untuk bertengkar denganmu..." sahut Jin.
Mereka lalu membicarakan akan banyak hal dan tidak terasa sudah dua puluh menit lebih berlalu.
"Sebentar lagi panggilan harus kuakhiri... Hiks.." sahut Namjoon dengan nada sedih.
"Dan aku harus menunggu seminggu lagi sampai kau bisa meneleponku..." sahut Jin dengan nada tak kalah sedih.
Jin tiba-tiba terpikir, apakah ia harus menceritakan masalah Taehyung yang sering menggodanya atau tidak kepada Namjoon.
Tapi, Jin takut Namjoon jadi terus mencemaskannya, padahal beberapa bulan lagi Namjoon akan debut dan harus berkonsetrasi penuh untuk mempersiapkan debutnya. Jadi Jin memutuskan tidak menceritakan apapun kepada Namjoon mengenai Taehyung.
"Jaga dirimu baik-baik ya, hyeong... Kalau ada yang menyakitimu, beritahu aku... Araseo?" sahut Namjoon, seolah ia bisa membaca isi hati kekasihnya.
"Ne! Tenang, aku baik-baik saja, Namjoon ah~ Kau tahu kan betapa aku ahli menjaga diriku dengan baik? Hehehe~" sahut Jin.
"Saranghae, Kim Seokjin~ Muach~" sahut Namjoon sambil memberikan kecupan via panggilan.
"Nado saranghae, Kim Namjoon~ Muach~" sahut Jin.
Dan panggilan pun terputus.
.
.
.
Pagi itu, Jin dan Jimin sudah bersiap-siap di office untuk menuju lokasi pembangunan proyek yang tengah dijalani Jin.
Sebenarnya Jimin tidak perlu ikut, namun Jimin bersikeras ingin melihat lokasi pembangunan itu, karena Jimin tahu siang nanti Taehyung akan kesana, dan Jimin memang jatuh cinta pada Taehyung, sejak pertama kali mereka bertemu membahas proyek yang dipegang Jin itu, tepat sehari sebelum Jimin mengalami kecelakaan.
"Uh? Kalian mau kemana?" tanya Hoseok ketika ia berpapasan dengan Jin dan Jimin di lobi office.
"Kami akan pergi ke lokasi proyek... Kau?" tanya Jin, sementara Jimin seperti biasanya, mengacuhkan Hoseok.
"Aku akan mengurus beberapa dokumen di bank... Setelah itu aku akan menyusul kalian ke lokasi proyek ya!" sahut Hoseok sambil tersenyum ke arah Jimin, sementara Jimin menatap tajam ke arah Hoseok lalu membuang mukanya ke arah lain.
"Terserah kau saja, imma~" sahut Jin sambil menepuk pelan bahu Hoseok.
Jin dan Jimin segera menaiki mobil yang sudah disediakan, lalu menuju ke lokasi proyek.
Tadinya Jin ingin mengendarai sendiri mobil perusahaan, namun karena semua mobil dipakai, jadi mereka ke lokasi proyek dengan menggunakan mobil dan supir atasan mereka, lalu mereka akan di drop disana dan mereka bisa menggunakan taxi untuk kendaraan pulangnya.
Setibanya di lokasi proyek, Jimin hanya duduk di bawah tenda, menggunakan kacamata hitamnya, layaknya seorang bos yang berkuasa, sementara Jin harus mondar mandir kesana sini mengurus banyak hal sampai tubuhnya basah oleh keringat.
"Aigoo~ Lihat kelakukannya..." gerutu Jin sambil menatap Jimin dari kejauhan. "Aku benar-benar bekerja sangat keras disini, tapi ia seenaknya saja duduk-duduk disana.. Apa maunya? Huft~"
Dan tak lama kemudian, mobil ferarri keluaran terbaru berwarna merah terang tiba di lokasi.
Jimin segera bangun dari duduknya dan menghampiri mobil itu.
Jin menatap dari kejauhan. "Cih~ Si brengsek itu..."
"Annyeong, Taehyung-sshi~" sapa Jimin sambil tersenyum manis ketika Taehyung turun dari mobilnya.
Taehyung terlihat sangat keren dengan blazer putih, celana panjang putih, dan kemeja hitam sebagai dalaman blazernya.
"Ah~ Jimin-sshi... Kudengar kau kecelakaan.. Kau baik-baik saja?" tanya Taehyung.
Taehyung berbincang-bincang sejenak dengan Jimin, dan tak lama kemudian ia melihat Jin tak jauh di hadapannya.
Taehyung segera berpamitan dengan Jimin dan segera menghampiri Jin, yang sebenarnya sejak tadi sudah berusaha menghindar dari Taehyung.
"Cih! Untuk apa ia menghampiri Jin hyeong.." gerutu Jimin saat Taehyung meninggalkannya hanya untuk menghampiri Jin.
"Annyeong, sweetie~" sahut Taehyung dengan senyuman menggoda Jin.
"Ada apa?" tanya Jin dengan nada dingin seperti biasanya.
"Aigoo~ Kau selalu galak menghadapiku.. Apa kau sebegitu membenciku?" tanya Taehyung.
"Aku masih banyak kerjaan.. Kutinggal dulu.." sahut Jin sambil membungkuka badannya dan segera menjauh dari Taehyung.
Setelah semua pekerjaan selesai untuk hari itu, Jin bersiap-siap untuk pulang, begitu juga dengan Jimin.
Taehyung menghampiri mereka. "Ayo naik mobilku, akan kuantar."
"Oke~" sahut Jimin sambil mengambil tasnya.
"Ah~ Bukan kau.. Tapi Jin-sshi.." sahut Taehyung.
"Uh?" Jimin membelalakan kedua bola matanya.
"Aku bisa pulang sendiri..." sahut Jin sambil berjalan menjauh.
Taehyung menghampiri Jin sambil menarik tangan kanan Jin. "Naik mobilku saja, aku akan mengantarmu.."
"Dweso!" bentak Jin sambil menampis tangan Taehyung.
Jimin menatap dari kejauhan. "Mengapa Jin hyeong menolak ajakan Taehyung? Apa ia sudah gila?"
"Kalau kau tidak mau kuantar, aku akan segera menarik semua dana yang sudah kuinvestasikan.. Kau... Siap mempertanggung jawabkan itu semua?" ancam Taehyung.
"Kau mengancamku?" bentak Jin.
"Terserah kau mau percaya atau tidak tapi aku bisa saja melakukan hal itu.." sahut Taehyung dengan gaya coolnya.
Membuat Jin terpaksa menaiki mobil ferarri merah itu.
Jimin merasa kesal karena ditinggalkan sendirian disana.
Dan tak lama kemudian, sebuah mobil hyundai berwarna silver menghampiri Jimin.
"Ayo, naik mobilku... Akan kuantar.." sahut Hoseok yang mengemudikan mobil itu.
Awalnya Jimin menolak, tapi Hoseok bersikeras memaksa Jimin ikut dengannya.
Akhirnya Jimin menaiki mobil milik Hoseok itu, dan mereka berbincang-bincang akan banyak hal walau awalnya Jimin terlihat tidak tertarik berbincang-bincang dengan Hoseok.
.
.
.
Jin meminta Taehyung menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Aku turun disini saja.. Aku hanya perlu berjalan kaki selama sepuluh menit dan akan tiba di rumahku.." sahut Jin.
Jin tidak ingin Taehyung mengetahui rumahnya.
Jin turun dari mobil itu, dan Taehyung juga ikut turun, berjalan mengikuti Jin.
"Kembalilah ke mobilmu, jangan ikuti aku.." sahut Jin dengan nada ketusnya.
"Aku sudah mengantarmu, apa kau tidak berniat mengajakku mampir ke rumahmu?" tanya Taehyung.
Jin menghentikan langkahnya. "Aku tidak memintamu mengantarkanku.. Jadi aku tidak perlu menjamu dirimu di rumahku.."
Taehyung memegang tangan kanan Jin. "Mengapa kau begitu menghindariku? Apa yang tidak kau suka dariku? Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa aku menyukaimu?"
Jin berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Taehyung, namun Taehyung semakin mempererat genggamanya. "Sudah kukatakan padamu kan? Aku sudah punya kekasih!"
"Lalu? Apa aku tidak boleh bersamamu jika kau sudah punya kekasih? Aku.. Selalu mendapatkan semua yang kuingingkan selama ini..." sahut Taehyung.
"Lepaskan tangannya!" sahut Jungkook, yang tiba-tiba sudah ada diantara Taehyung dan Jin, sambil menarik tangan Taehyung hingga tangan Jin bisa terlepas dari tangan Taehyung.
"Jungkook ah~" Jin menatap Jungkook.
"Ayo, cepat naik, hyeong.." sahut Jungkook sambil menarik Jin ke arah sepedanya.
Jin segera duduk di bangku belakang sepeda Jungkook, dan Jungkook segera mengendarai sepedanya.
"Awas kalau kau berani mengganggu atau melukai Jin hyeong!" bentak Jungkook kepada Taehyung sebelum ia menjalankan sepedanya.
Jin segera memeluk erat pinggang Jungkook, dan sepeda itu pun melaju, menjauh dari tempat Taehyung berdiri.
"Cih! Mobil ferarriku kalah dengan sepeda butut itu?" sahut Taehyung dengan tatapan penuh kekesalan.
.
.
.
Jin menceritakan semuanya mengenai Taehyung kepada Jungkook ketika mereka tiba di rumah Jin.
"Mengapa selama ini kau tidak pernah memberitahuku, hyeong?" sahut Jungkook dengan agak kesal.
"Aku... Masih bisa mengatasinya selama ini, jadi kupikir, aku tidak perlu merepotkanmu... Tapi, jinjja gumawo untuk bantuanmu hari ini, Jungkook ah~" sahut Jin.
"Lain kali, jika kau bersamanya dan kau dalam bahaya, segera hubungi aku, araseo?" sahut Jungkook sambil menatap tajam ke arah Jin.
Jin segera menganggukan kepalanya. "Aku janji~"
Jungkook mengusap pelan kepala Jin. "Untunglah kau baik-baik saja, hyeong... Jauhi pria berbahaya itu, oke?"
"Ne~" sahut Jin sambil tertawa.
"Mengapa kau tertawa?" tanya Jungkook kebingungan.
"Seingatku, dulu aku yang selalu menjagamu begini... Tak terasa kau semakin dewasa, bahkan kini kau bisa melindungiku seperti ini, Jungkook ah~" sahut Jin sambil mengusap pelan kepala Jungkook.
"Kan sudah kubilang, aku akan selalu menjagamu..." sahut Jungkook.
"Neeeeeeee~" sahut Jin sambil tersenyum.
.
.
.
BUSAN, APRIL 2016
Proyek yang dipegang oleh Jin akhirnya selesai dengan sempurna.
Dan Jin merasa sangat lega, karena bisa terbebas dari gangguan pria bernama Kim Taehyung itu.
Selama proyek itu berlangsung, entah berapa kali Jin harus bersabar menghadapi sikap Taehyung yang mengerikan itu.
Dan selama dua bulan belakangan ini, entah sudah berapa kali Jungkook selalu muncul menolong Jin setiap Jin merasa terganggu oleh Taehyung.
Bahkan akhir bulan Maret 2016 kemarin, Taehyung dan Jungkook terlibat adu pukul karena Jungkook berusaha menolong Jin yang dipaksa Taehyung menemaninya makan malam di sebuah hotel.
Untung saja Jin berhasil diselamatkan Jungkook sebelum Taehyung berbuat macam-macam kepada Jin.
Dan selama dua bulan itu juga, Hoseok tak henti-hentinya mengejar Jimin, sampai akhirnya Jimin bisa membuka hatinya untuk Hoseok dan mereka resmi berkencan.
Dan sejak Jimin menjadi kekasih Hoseok, sikapnya kepada Jin berubah menjadi sangat ramah.
"Aku membencimu karena kau merebut semua hal dariku.. Aku merasa kau merebut semua milikku... Tapi kini aku sudah memiliki kekasih yang begitu tampan dan baik... Jadi, aku rasa aku tidak perlu lagi membencimu, karena aku sudah mendapatkan kebahagiaanku~" sahut Jimin ketika ia berdamai dengan Jin.
.
.
.
"Chukkae hyeong atas kesuksesan proyekmu!" sahut Jimin sambil megangkat gelasnya.
"Gumawo, Jimin ah~" sahut Jin sambil ikut mengangkat gelasnya.
"Cheers!" sahut Hoseok sambil ikut mengangkat gelasnya.
Malam itu, mereka bertiga makan malam bersama sepulang bekerja untuk merayakan kesuksesan proyek yang ditangani oleh Jin.
Setelah bersulang, mereka mulai memakan makanan mereka.
"Aaaaaaa~" sahut Jimin sambil menyodorkan sesendok makanan ke mulut Hoseok, bermaksud menyuapi Hoseok.
Hoseok membuka mulutnya lebar-lebar dan tersenyum ketika memakan makanan yang disuapi Jimin padanya.
Jimin memakan makanannya, dan di sudut bibirnya menempel saus dari makanan yang dimakannya.
"Aigoo~ Makanmu berantakan, sayang~" sahut Hoseok sambil melap sudut bibir Jimin dengan jarinya.
Jimin tersenyum sangat manis. "Gumawo, chagi~"
"Aigoooooooooo~ Kalian tega bermesraan dihadapanku sementara kalian tahu kekasihku sedang berada jauh di Seoul sana? Ckckck~" gerutu Jin sambil menggelengkan kepalanya.
"Gantian, hyeong... Dulu kau dan Namjoon selalu bermesraan dihadapanku ketika aku sedang single, hehehe.." sahut Hoseok sambil tertawa menggoda Jin.
"Jinjja? Ia dan kekasihnya bermesraan dihadapanmu saat kau sedang sendirian?" tanya Jimin.
Hoseok menganggukan kepalanya. "Mereka berdua sangat tega kepadaku..."
"Jin hyeong jahat!" sahut Jimin, berpura-pura marah kepada Jin.
Dan mereka bertiga tertawa setelahnya.
"Aku sangat merindukan masa-masa SMA kita, Hoseok ah~" sahut Jin.
.
.
.
"Hyeong, pria brengsek itu tidak mengganggumu lagi kan?" tanya Jungkook malam itu ketika ia main ke rumah Jin.
Jin menganggukan kepalanya. "Aku akan segera menghubungimu jika dia kembali berulah, Jungkook ah~"
"Aku akhir-akhir ini tidak bisa belajar dengan tenang, hyeong.. Aku selalu takut kau kenapa-kenapa karena ulah si brengsek itu, hyeong.." sahut Jungkook.
"Aku baik-baik saja, jinjja ya~ Kau harus fokus pada pelajaranmu, imma.. Bulan depan ujian akhir SMA kan?" sahut Jin.
Jungkook menganggukan kepalanya. "Aku akan jadi mahasiswa sebentar lagi, hehehe..."
"Dan Namjoon akan segera debut menjadi artis... Aku juga sudah semakin menjadi arsitek yang sukses~ Whoaaa~ Betapa indahnya kehidupanku ini... Aku berhasil dalam karirku, kekasihku segera mewujudkan cita-citanya, dan dongsaeng kesayanganku akan segera meraih kesuksesan juga~ Bukankah aku pria paling bahagia di dunia ini? Hehehe~" sahut Jin.
Jungkook tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
Tanpa Jin sadari... Bahwa beberapa waktu ke depan, kehidupannya akan berubah drastis.
.
.
.
BUSAN, JUNI 2016
Jungkook melalui ujian akhirnya dengan sangat baik.
Jungkook dinyatakan lulus dan merayakan kelulusannya bersama kedua orang tua Jin dan juga dengan Jin tentunya.
Mereka berempat makan malam di sebuah rumah makan yang cukup ternama di Busan.
"Tak terasa kau sudah lulus SMA, Jungkook ah~" sahut ayah Jin, menatap Jungkook dengan ekspresi terharu.
"Semua karena bantuan kalian, dan juga Jin hyeong.. Gumapta, jinjja..." sahut Jungkook sambil menatap mereka bertiga denganmata berkaca-kaca.
"Tinggal ujian test masuk universitas, Jungkook ah~ Kalau kau sudah lulus test masuk, maka kau akan segera menjadi mahasiswa~" sahut Jin sambil tersenyum menatap Jungkook.
Tanpa dirasa, waktu begitu cepat berputar. Jungkook yang dulu seorang bocah di hadapan Jin kini sudah berubah menjadi pria yang sangat tampan dan keren, yang selalu siap menjaga Jin dari gangguan orang-orang disekitarnya.
Belum lagi minggu depan, tanggal 13 Juni, Namjoon dan Yoongi akan melakukan debutnya sebagai rapper-songwriter dan itu berarti Namjoo juga akan segera meraih impiannya selama ini.
Sementara Jin baru saja dipromosikan menjadi Assistant Manager di perusahaannya.
Semua terlihat begitu indah di mata Jin.
Jin merasa, ia seperti sebuah daun yang sedang tumbuh dengan sangat hijau dan segar di atas pohon yang indah, berdampingan dengan dua daun indah lainnya, yaitu Namjoon dan Jungkook.
.
.
.
Tanggal 10 Juni 2016.
Perusahaan Jin merayakan acara kesuksesan proyek mereka dan mereka mengundang sangat banyak tamu undangan malam itu.
Taehyung termasuk salah satu undangan di acara itu.
Jin, Hoseok, dan Jimin tengah duduk bertiga di salah satu meja di sudut ruangan sambil memakan hidangan yang ada di meja dan berbincang-bincang dengan cerianya.
"Hyeong, kami akan menikah bulan depan!" sahut Jimin dengan senyuman ceria di wajahnya.
"Jinjja?" Jin membelalakan kedua bola matanya.
Hoseok tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Jinjja ya~ Ah... Apa kira-kira Namjoon bisa hadir? Ia akan debut tiga hari lagi... Apa bisa ia menyempatkan dirinya menghadiri pernikahan kami bulan depan?"
"Aku rasa akan sulit.. Tapi akan coba kutanyakan padanya jika ia menghubungiku... Whoaaa~ Aku sangat iri pada kalian..." sahut Jin.
Hoseok melingkarkan lengannya di pundak Jimin. "Aku sangat bersyukur, karena pria jutek ini akhirnya bersedia membuka hatinya untukku.. Hehehe..."
"Jutek? Aku ini cool, chagiya!" sahut Jimin sambil mencubit hidung Hoseok.
"Ckckck~ Geumanhae, jinjja.. Kalian membuatku iri..." sahut Jin.
"Ini yang kurasakan setiap kau dan Namjoon bermesraan, hyeong... Hehehe..." sahut Hoseok, menggoda Jin.
"Aigoo~" sahut Jin sambil memukul pelan kepala Hoseok.
Tak lama Taehyung terlihat masuk ke dalam ruangan.
"Liat pria playboy itu, ckckck~ Kudengar ia terlibat kasus perselingkuhan dengan pasangan seorang pejabat..." sahut Jimin sambil berbisik.
"Jinjja?" Hoseok menatap Jimin.
Jimin menganggukan kepalanya. "Untung saja aku tidak bersamanya... Kau jauh lebih keren daripada pria playboy itu!"
"Padahal kau dulu begitu gila mengejarnya, Jimin ah~" sahut Jin, menggoda Jimin.
"Hyeooong~ Waktu itu aku dibutakan ketampanannya..." gerutu Jimin, membuat Hoseok dan Jin tertawa.
Jin berjalan ke sebuah meja untuk mengambil makanan, dan ia berpapasan dengan Taehyung.
"Lama tak berjumpa, Jin-sshi.." sapa Taehyung dengan senyum menggodanya.
"Aku justru sangat bahagia tidak berjumpa denganmu.." sahut Jin dengan nada ketus.
"Cih~ Kau pikir aku masih menyukaimu? Aku sudah punya kekasih, jadi jangan bertingkah sombong seolah aku masih mengejarmu..." sahut Taehyung dengan tatapan sinisnya.
"Baguslah.. Itu kabar terindah yang pernah kudengar... Bahagialah dengan kekasihmu.." sahut Jin dengan dinginnya sambil berjalan menjauhi Taehyung.
Jin duduk kembali ke mejanya sambil membawa beberapa makanan .
"Apa yang kau bicarakan dengannya, hyeong?" tanya Jimin.
"Hanya sapaan formal..." sahut Jin dengan cueknya.
"Ayo makan lagi!" sahut Hoseok.
Sementara Taehyung, diam-diam tengah memicingkan kedua matanya, menatap Jin dari kejauhan.
.
.
.
"Silakan diminum~" sahut seorang pelayan sambil memberikan tiga gelas wine ke meja tempat Jin, Jimin, dan Hoseok duduk.
"Gumawo~" sahut mereka bertiga sambil mengambil wine itu.
"Cheers!" Mereka bertiga bersulang dan meminum wine itu, tanpa ada kecurigaan sama sekali.
Tak lama kemudian, kepala Jimin terasa sangat pusing. Begitu juga dengan Hoseok.
"Hyeong, aku rasa kami harus kembali sekarang~ Kepalaku pusing." sahut Jimin.
"Aku juga~ Ayo kita pulang..." sahut Hoseok.
Jimin dan Hoseok segera berpamitan, sementara Jin mulai merasakan pusing juga.
Jin berusaha berjalan mencari taxi terdekat, namun ia jatuh pingsan sebelum tiba di lobi gedung hotel tempat acara itu diadakan.
Dan Taehyung, yang sedari tadi sudah memperhatikan Jin dari kejauhan, segera berlari menggendong Jin, sambil tersenyum dengan jahatnya.
Taehyung segera membawa Jin masuk ke sebuah kamar di gedung hotel itu.
Taehyung menggendong tubuh Jin layaknya pasangan pengantin baru yang bersiap melakukan malam pertamanya.
Taehyung mengunci pintu kamar itu, dan segera membawa Jin ke dalam kamar mandi yang bathtubenya sudah penuh terisi air.
Jin segera sadarkan diri ketika Taehyung menceburkan dirinya ke dalam bathtube itu.
"Tae... Taehyung ah! A.. Apa yang ingin kau lakukan?" Jin sangat terkejut melihat dirinya berada dalam kamar mandi, hanya berduaan dengan Taehyung.
Taehyung tak menjawab, ia hanya tersenyum. Senyuman yang mengerikan.
.
-TBC-
reply for review:
ORUL2 : wkwkw coba di vn ke saya coba suara teriakannya gimana? XD
AngAng13 : thx ya udah nyempetin baca :) here lanjutannya :) taehyung mengerikan ya disini waks
Kimeul : annyeong kimeul salam kenal :) kayaknya baru liat idmu review ff saya nih :) thx a lot udah nyempetin baca ya :) thx a lot pujiannya :) wkwkw masa sama tiga2nya? XD
zizid exo : wkwkw kok saya ngakak ya baca reviewmu XD
Nam0SuPD : wkwkw abis bingung mau ngasih nama perusahaannya apa jadilah kpikiran aliens corp XD
dewiaisyah : hayolo gimana kira2 hayo? :) next chapter bakalan end nih :( sedih juga namatin ini ff :( thx for liking my ff ya :) u too, hwaiting!
sekarzane : ayo kita kasih betadine hatinya jungkook/? XD keren kan Aliens Corporate? wkwkw XD kaga kpikiran nama lain kalo inget taehyung saya tuh XD wkwkw HOT mana sama TBC disini? btw next chapter END :( sedih juga saya namatin ff ini :( keren gimana? brengsek2 ganteng gitu ya? whoaaaaaaaaaa~ thx thx thx a lot bgt loh buat pujiannya {} terharu nih /nangis di bahu bang pdnim/?/
iPSyuu : sini2 jd kapel virtual saya yuu #nahloh #iniapa XD namjin kita tenggelemin kayak titanic gitu? biar kookie bahagia dunia akherat? XD berharap apa yuu? /smirk/ penghargaan wkwkw abisan bingung mau nyari nama perusahaannya yg "taehyung" banget itu apa alhasil jadilah keingetan alien XD kaga kok kaga panjang saya seneng baca semua review kalian {}
celindazifan : #seribucoinuntukjungkook XD taehyung sok gans/? XD
MAU NGASIHTAU AJA, NEXT CHAPTER IS... END :(
Jangan lupa baca prologue ff baru saya "EVEN IF I DIE, IT'S YOU - KookJin TaeJin TaeGi FF" :)
SALAHKAN HWARANG KENAPA NYURUH TAEJIN NGISI OST, JADI KEPIKIRAN BIKIN FF BARU KAN XD
