-0-0- MY SLEEPLESS NAMJA -0-0-
Need Mom for christmas part - 1
Cast :: Jung Yunho, Shim Changmin, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun.
Pair:: Yunjaemin, Yoosu.
Disclaimer :: all cast is not mine.
WARNING! :: BL, TYPO(S), AU, OOC, GAK SUKA JANGAN BACA! YANG BACA HARUS TINGGALIN JEJAK
.
A/n :: Maaf untuk TYPOS-nya. Kebiasaan terjelek saya adalah menghilangkan Typos. Jika typos nya fatal banget kasih tahu saya ne~. Thanks
Happy read
(Selamat datang para reader baru)
.
Yunho menampakan seringaiannya seolah berkata.
'I got you babe.'
.
BRAK
Tiba-tiba Jaejoong langsung dengan cepat menutup pintu rumah.
"HYA! Buka pintunya! YA!" Teriak Yunho sambil menggedor-gedor pintu rumah itu dengan kuat.
"Aish.. bagaimana ini.." Panik Jaejoong sambil mengigit kukunya panik. Ia tidak menyangka kalau akan bertemu lagi dengan namja yang dikiranya preman itu. Haah... benar kata kalian, ternyata Jeju itu sempit.
"Ya! kenapa kau meneriakkan namaku tadi? Dan lagi, kenapa kau tidak membukakan pintu?" Tanya Heechul yang baru menyusulnya keruang tamu.
Jaejoong menunjukan kertas yang ada di tangannya pada Heechul. "Apa kau yang melakukan ini?"Pertanyaan Jaejoong menuntut Jawaban, sedangkan di luar Yunho terus menggedor-gedor pintu rumah mereka.
Heechul yang menerima selembar surat dari Jaejoong hanya membacanya sekilas lalu menampakan senyum puasnya.
"Awas!" Heechul dengan sadisnya langsung mendorong Jaejoong yang menghalangi pintu rumah, lalu segera membukakan pintu untuk tamu yang sedari tadi tidak berhenti menggedor pintu rumahnya.
"YAK—
Ucapan Yunho terhenti saat pintu terbuka dan menampilkan sosok namja cantik lain.
"Mr Sleepless?!" Heechul mencoba memastikan dengan nada ramah.
"Ne?" Yunho bingung.
"Yunho, kan?" Heechul mencoba memastikan kembali.
"Ne."
"Ah ternyata kau sudah datang." Sambut Heechul ramah.
"Apa kau yang mengirimkan aku surat itu?" Kini berbalik Yunho yang memastikan. Heechul tersenyum lalu mengangguk.
"Silahkan Masuk."
.
My Sleepless Namja
Heechul mempersilahkan tamunya masuk dan duduk di ruang tamu. Sedangkan Jaejoong memilih meneruskan pekerjaannya di dapur. Selain malas untuk bergabung, ia juga menghindar dari tatapan tajam namja asing itu.
"Jadi, benar anda yang mengirim surat itu?" Tanya Yunho kembali.
"Itu benar."
"Aku tak sengaja mendengar radio dan mendengar sekilas sesi curhatanmu, aku tidak tahu kenapa bisa kata-katamu yang sederhana itu membuatku tertarik." Kata Heechul, membuat Yunho mengulum senyum.
"Itu hanya kesalahan anakku saja." Kata Yunho.
"Apa benar kau tidak bisa tidur saat malam hari?"
"Ya... aku sama sekali tidak mengantuk malam hari. Terlalu banyak yang berkecamuk di otakku saat malam." Jawab Yunho.
"Aah, begitukah." Heechul mengangguk-anggukan kepala. Sebenarnya ia tahu kenapa Yunho tidak bisa tidur saat malam, Mungkin ada hubungannya dengan isrtrinya yang telah meninggal.
"Kau datang ketempat ini, apakah berarti kau tertarik dengan surat itu?"
"Lebih tepatnya, anakku yang sangat tertarik dengan surat itu. Dia memaksaku datang kesini." Kata Yunho.
Sementara mereka tengah mengobrol, tak di sadari oleh Yunho anaknya sudah tidak ada di sampingnya.
Changmin saat ini dengan tidak sopannya sudah nyelonong ke dapur dan memperhatikan namja cantik yang ditemuinya kemarin tengah sibuk di dapur.
"Hyung!" Tegur Changmin.
"Eh, kenapa kau bisa ada disini bocah?" Tanya Jaejoong kaget.
Changmin mengembungkan pipinya imut. Jaejoong dari kemarin memanggilnya bocah, kan namanya Changmin bukan 'bocah'.
"Aku punya nama hyung. Namaku Jung Changmin!" Kata Changmin sambil berjalan mendekati Changmin.
"Apa aku bertanya?" Kata Jaejoong dengan wajah tanpa dosa, membuat Changmin semakin sebal.
"Hyung."
"Haha.. aku hanya bercanda." Jaejoong tertawa lalu berjongkok didepan Changmin.
"Jung Changmin ya? hmm.. Changmin... Changmin... sepertinya pernah dengar nama itu." Kata Jaejoong mencoba mengingat, saat nama yang di rasanya tidak asing di telingannya itu.
"Omo! jangan bilang kalau kau anak yang meneLpon radio dan mengatakan ayahnya butuh istri baru dan membuat Korea selatan heboh?" Tanya Jaejoong histeris.
Changmin mengangguk-anggukan kepalanya. Omo... apa lagi ini, pertama Jaejoong sudah membuat laki-laki yang dikiranya preman itu marah, dan sekarang orang yang ia tendang betisnya dua kali itu adalah Mr. Sleepless yang ... ehem sedikit dikaguminya-lah
.
.
Sementara itu Yunho yang sedang mengobrol dengan Heechul merasa ada sesuatu yang janggal saat mata musangnya tak sengaja melirik cincin emas yang melingkar di jari manis Heechul. Dahinya berkerut.
'Bukankah itu cincin pernikahan? Berarti orang ini sudah menikah. Lalu kenapa dia mengirim surat itu padaku? apa orang ini berencana mencari suami kedua?' Batin Yunho bingung.
Yunho juga mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tanpa memperhatikan namja cantik didepannya yang sedang berbicara. Di dinding ruangan tempatnya sekarang terdapat beberapa foto pernikahan namja cantik didepannya dengan seorang pria tampan membuat Yunho makin bingung.
"Emm anu... apa kau sudah menikah?" Tanya Yunho sedikit terdengar ragu-ragu.
"Ah, iya... aku sudah menikah 5 tahun lalu. Kenapa? apa kau risih dengan hubungan sesama namja?" Aura Heechul mulai tidak bersahabat membuat Yunho gelagapan.
"Eh.. aniyo, aku tidak masalah dengan hubungan seperti itu. Hanya saja... Kenapa kau mengirim surat itu padaku padahal kau.. ehem.. sudah bersuami." Kata Yunho pelan.
Heechul terdiam seolah memproses perkataan Yunho sesaat kemudian ia tersentak dan mencoba membantah pikiran salah Yunho tentang dirinya.
"Eh, kau salah paham. Surat itu bukan aku yang menulis tapi adikku." Kata Heechul sedikit berbohong.
"Aigo.. aku jadi lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan, aku Kim Heechul." Heechul menjulurkan tangannya.
"Aku Jung Yunho." Yunho menyambut tangan Heechul dan mereka bersalaman sesaat.
"Kalau bukan kau.. lalu siapa?"
"Ah, tunggu sebentar. Aku akan memanggilnya." Kata Heechul, ia beranjak menuju dapur menyusul Jaejoong.
Di dapur, Jaejoong bersandar di meja dapur dengan tangan bersedekap di dada, raut wajahnya bertekuk nampak sangat kesal. Hyungnya benar-benar keterlaluan. Saat hyungnya muncul di dapur ia mulai melancarkan protesnya.
"Hyung bisa kau jelaskan padaku apa yang terjadi?" Tuntut Jaejoong meminta penjelasannya.
"Penjelasan?" Entah benar tak mengerti atau hanya pura-pura tak mengerti dengan maksud Jaejoong.
"Kau menulis kata-kata konyol di surat ini mengatas namakan aku dan mencuri tulisan di jurnalku?!" Marah Jaejoong. "Dan kau mengirimkannya pada Mr. Sleepless?!" Tambahnya semakin jengkel.
"Bukankah kau sendiri yang bilang di jurnalmu bahwa kau sangat ingin bertemu dengannya? kau mengaguminya, kan? aku hanya meluluskan keinginanmu di jurnal itu." Kata Heechul terdengar santai.
"Tapi tidak dengan cara begitu hyung. Apa lagi aku dan dia... arggh." Jaejoong mengusap kasar wajahnya, lalu duduk di kursi meja makan. "Terjadi kesalah pahaman antara aku dengannya kemarin. Aku salah telah mengiranya preman yang sedang merebut es krim anak-anak, padahal itu anaknya sendiri. Dan aku sudah menendang tulang keringnya dua kali." Jaejoong bercerita tentang kejadian yang menurutnya memalukan itu. Kenapa ia bisa dengan soknya malah menganggap orang preman dan dengan beraninya menendang kaki orang itu? sungguh rasanya Jaejoong ingin berlari keluar rumah dan menceburkan diri di laut.
Heechul terkekeh, "Pahlawan sok tahu." cibirnya. Jaejoong hanya mendengus kesal.
"Kau tinggal minta maaf saja padanya."
"Memangnya semudah itu."
"Mudah, kau tinggal keluar dari sini dan menghampirinya, lalu bilang maaf padanya." Jaejoong kembali mendengus, bukan itu masalahnya, tapi rasa malunya untuk berhadapan dengan namja itu masalahnya.
"Sudah, sekarang keluarlah, dia menunggumu."
.
Jaejoong keluar dari dapur berjalan dibelakang hyungnya menuju ruang tamu dimana Yunho dan Changmin—yang tadi sudah duluan ke ruang tamu—berada.
cepat duduk!" Heechul menarik tangan Jaejoong untuk duduk di sampingnya.
Mata Jaejoong dan Yunho berpapasan sebentar, namun Jaejoong segera mengalihkan pandangannya ketempat lain pura-pura tidak melihat.
"Dia Kim Jaejoong adikku."
"Oh, jadi namanya Kim Jaejoong?" Dimata Jaejoong Yunho terlihat menyeringai walaupun ekspresinya datar. Dari mata musangnya yang menatapnya tajam saja seperti berkata 'Mati kau'
"Oh ya, Jeju cukup lucu, ya. Memang ini bukan kali pertama aku datang ketempat ini, tapi baru kali ini aku mendapat sebuah pengalaman yang menggelikan." Yunho mulai bercerita kepada Heechul sambil sesekali melirik Jaejoong.
"Benarkah? pengalaman apa itu?"
"Kemarin aku di anggap preman oleh seseorang yang bersikap bak pahlawan kurang kerjaan hanya karena merebut es krim anakku. Bahkan pahlawan bodoh itu menendang betisku dua kali."
Jleb
sindiran Yunho menohok hati Jaejoong. Bayanganya tentang sosok Mr. Sleepless yang ia kagumi di radio adalah namja dewasa yang baik itu retak seketika.
"Aah, benarkah?" Heechul terkekeh mendengar cerita Yunho, padahal ia tahu jelas kalau Yunho sedang menyindir Jaejoong. Sedangkan namja cantik di sampingnya memberikan deathglare kepada hyungnya yang tertawa sok asik.
"Sekarang memang banyak orang setengah gila seperti itu." Tambah Heechul setelah tawanya berakhir, mengundang umpatan dari adiknya yang tengah menyumpah serapahi hyungnya yang malah ikut memojokan dia.
"Iya, kau benar. Sepertinya orang itu ingin menjadi pahlawan, namun tak kesampaian. Kasihan sekali." Sambung Yunho, membuat Jaejoong ingin mencincang-cincang namja menyebalkan didepannya. Namun ia berusaha menekan amarahnya.
"Sepertinya kau harus kembali kedapur. Aku ingin melanjutkan masakanku. Kalian berdua mengobrolah agar saling mengenal." Pamit Heechul lalu pergi kedapur melanjutkan masakan Jaejoong yang tertunda.
Sekarang tinggalah Jaejoong, Yunho dan Changmin di ruang tamu. Jaejoong risih karena Jung dewasa itu terus menatapnya dengan tajam, sedangkan Changmin sedang sibuk menghabiskan setoples kue kering Heechul yang tersedia di meja.
"Maafkan aku atas kejadian kemarin. Aku benar-benar tidak tahu jika kau adalah ayah dari anak itu."
"Tentu saja kau tidak tahu, kau asal marah-marah begitu saja tanpa mendengar penjelasan orang lebih dulu."
"Makanya aku bilang maaf, kan?"
"Tapi betisku yang kau tendang masih sakit, kau tahu? Bahkan bengkak dan membiru."
"Makanya sekarang aku minta maaf, Ahjussi jelek!" Jaejoong mulai dongkol. Namja didepannya tahu tidak, sih dengan kata maaf?
"Apa kau bilang?!" Teriak Yunho kesal saat Jaejoong menyebutnya ahjussi jelek
Changmin menggeplak jidatnya sendiri melihat tingkah konyol dua orang dewasa di hadapannya.
"Hyung! apa benar hyung yang mengirim surat itu?" Tiba-tiba Changmin bertanya.
"Itu—
"Changmin, kau tidak seriuskan meminta orang yang tidak jelas yeoja atau namja ini jadi ibumu?"
"YA! apa kau bilang? Jelas-jelas aku ini namja."
Yunho memandang Jaejoong dari bawah ke atas. Oke, bagaimana Yunho TIDAK menyangsikan kalau orang didepannya itu yeoja atau namja. Lihat saja penampilan Jaejoong yang saat itu mengenakan kaos v neck berwarna krem dengan celana setengah tiang berwarna coklat, poni Jaejoong diikatnya ke atas menggunakan karet pelangi hingga wajah putih mulusnya yang tanpa cacat terlihat jelas. Mata doe eyesnya sekaligus bibir merahnya membuat namja itu terlihat imut dan cantik.
"Kau tidak terlihat seperti namja."
"Ya! kau tidak lihat dadaku rata?!" Jaejoong menunjuk dada montoknya.
"Sebagian yeoja mempunyai dada rata."
"YA! AKU NAMJA!"
Yunho memasang pose berpikir, ia mengelus-elus dagunya sambil memperhatikan Jaejoong. "Minnie apa benar dia terlihat seperti itu?"
"Emm..." Changmin ikut memperhatikan Jaejoong. "Hyung cantik."
"Benarkan." Yunho setuju dengan ucapan anaknya. Sepertinya secara tak sadar Yunho sudah mengakui kecantikan Jaejoong. "Tapi dia memang tidak terlihat seperti yeoja, apalagi..." Yunho dengan santai mengarahkan telunjuknya ke sesuatu yang mengembung di balik celana Jaejoong.
"Gyaa! apa yang kau tunjuk?!" Histeris Jaejoong.
"Dia bukan yeoja, tapi juga tidak terlihat seperti namja, lalu apa?"
Masih dengan santainya Yunho berpikir seperti itu, tanpa peduli dengan mata Jaejoong yang rasanya mau keluar karena sedari tadi selalu mendelik.
"Alien." Celetuk Changmin. Padahal dalam hati ia ingin mengucapkan 'waria'.
"GYAAAAAAAA! PERGI KALIAAANNNNN!" Teriakan Jaejoong membahanaa. Wajahnya memerah karena jengkel, dongkol, sebal, kesal, marah dst.
Heechul yang berada di dapur sebenarnya mendengar teriakan Jaejoong, tapi ia malah memilih mengabaikannya tidak berniat membela adiknya. Tapi teriakan Jaejoong justru mengaggetkan seseorang yang baru saja memasuki rumah itu.
"Ada apa ini?" Suara seseorang terdengar menginterupsi teriakan merana Jaejoong dan seringaian Yunho, saat Hangeng tiba-tiba muncul disana.
.
0-0-0-0-0-0
Jaejoong menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Ritual itu diulangnya berkali-kali saat ingin menetralisir amarahnya. Apalagi saat ini ia tengah duduk berhadapan dengan namja yang di panggilnya 'Ahjussi jelek', membuat hatinya panas dan ingin menjambak rambut laki-laki menyebalkan yang sudah mengejeknya itu
Saat ini Jaejoong, Heechul, hangeng dan di tambah dua tamu mereka tengah duduk di meja makan untuk menikmati makan siang hari itu. Awalnya Yunho sudah menolak, namun Heechul di tambah Hangeng plus pupy eyes Changmin, membuatnya mengalah hingga akhirnya sedikit tidak enak hati ikut makan siang di rumah itu.
Hangeng dan Heechul memperhatikan adu mata yang dilakukan Yunho dan Jaejoong. Jaejoong dengan mata dipaksakan tajam, sedangkan Yunho dengan tatapan mata biasa namun intens memandang Jaejoong dilengkapi seriangaian mengejeknya. Sementara apa yang dilakukan Changmin?. Changmin saat ini tengah sibuk memandangi makanan yang
memenuhi meja makan, memilih makanan mana yang akan terlebih dahulu masuk ke dalam perutnya.
Melihat suasana yang sedikit panas namun menggelikan, membuat Hangeng segera mengeluarkan suara.
"Ehem. Maaf, ini meja makan, bukan ajang untuk perang mata." Tegur Hangen.
Yunho mengalihkan matanya dari Jaejoong lalu tersenyum kikuk pada Hangeng.
"Jadi, Jung Yunho-ssi, apa benar kau yang membuat para yeoja dan uke sekorea selatan heboh karena acara di radio itu?" Tanya Hangeng kemudian. Disambut tawa kecil oleh Yunho.
"Ania, itu semua karena anakku."
"Sepertinya menyenangkan ya mencari istri dengan cara itu, semuanya berdatangan dan kau bebas memilih sesuai keinginanmu." Hangeng tertawa, di hadiahi injakan kaki oleh Heechul di tambah deathglare setannya.
Hangeng yang melihat wajah seram istrinya kelabakan, ia berdehem sebentar sebelum kembali berbicara dan cepat mengganti topik.
"Kalau begitu, apa tujuan anda datang kesini?"
"Dia ingin melamar uri Jaejoongie." Sela Heechul.
"Mwo?!" Kaget Jaejoong.
"Bukan begitu. Sebenarnya anakku yang meminta untuk bertemu dengannya setelah ia membaca surat itu. Dia menyukainya."
"Benarkah?" Heechul beralih menatap Changmin yang sibuk sendiri dengan makanannya. "Kenapa kau bisa menyukainya?" Tanya Heechul pada Changmin dengan senyum lembut.
"Karena tertulis di surat, Jaejoong hyung bisa memasak."
Hening
semua terdiam atau lebih tepatnya sweatdrop mendengar ucapan Changmin, kecuali Yunho. Menyukai seseorang hanya karena di surat tertulis Jaejoong bisa memasak? lalu bagaimana kalau semua orang yang mengirim surat untuk Yunho menulis kalau mereka bisa memasak, apa Changmin juga akan menyukai semuanya?
Cepat sadar dari sweatdropnya, Heechul kembali bertanya. "Sekarangkan sudah ketemu, lalu Hyungnya mau Changmin apakan?"
"Dibawa pulang dan di jadikan istri untuk appa." Jawab Changmin polos.
"MWO?/ANDWAE?! Teriak Yunho dan Jaejoong bersamaan dan nampak histeris.
"Ahjumma, apa boleh Minnie tambah?" Celetuk Changmin tiba-tiba, dengan manis sambil menyodorkan piringnya yang sudah kosong pada Heechul.
Lagi-lagi semua orang di ruangan itu di buat sweatdrop oleh Changmin termasuk appanya sendiri. Bagaimana tidak, Changmin sudah minta tambah makanan, padahal orang-orang dewasa sama sekali belum menyentuh makanannya.
.
0-0-0-0-0-0
.
"Hyung kumohon, berhentilah bersikap seenaknya seperti ini." Jaejoong berkacak pinggang didepan Heechul yang kini tengah mengupas buah untuk suaminya. Saat ini mereka tengah bersantai di teras belakang rumah yang menghadap ke lepas pantai. Acara makan siang sudah selesai. Yunho sudah pulang sambil menyeret anaknya yang belum ingin pulang dengan paksa, satu jam yang lalu.
"Hyung sudah dengan lancangnya menulis surat konyol mengatas namakan aku, dan mengirimkannya pada mereka tanpa seizinku." Teriak Jaejoong kesal.
"Jaejoong kita sudah membahas ini tadi. Aku hanya meluluskan keinginanmu saja. Lagi pula Yunho adalah lelaki yang terlihat baik dan bertanggung jawab. Kurasa kalian cocok."
"Tapi bukan begitu caranya, kau membuatku malu." Heechul meletakan pisau ke piring buah. Kali ini Jaejoong mendapat penuh perhatiannya. Sedangkan Hangeng sibuk mencomot apelnya tanpa mau ikut campur perdebatan itu dulu.
"Lalu dengan cara apa lagi? Apa kau bisa memberitahuku cara yang terbaik?" Jaejoong diam tak menjawab, Dan kemudian Heechul melanjutkan. "Kau tahu, aku bosan melihat sifat munafikmu beberapa hari ini, kau bilang kau baik-baik saja, kau bilang kau dengan gampang melupakan Siwon. Tapi tiap malam aku selalu mendengar tangisanmu. Aku tahu kau tidak baik-baik saja."
Jaejoong membuang pandangannya. "Mungkin yang hyung dengar itu suara hantu." Malah itu alasan yang keluar dari mulut Jaejoong. Alasan yang hampir membuat Hangeng tertawa.
Heechul mengabaikan alasan Jaejoong. "Dan lagi, aku pikir Yunho itu sudah dewasa, ia cukup berpengalaman. Dan kurasa tidak ada salahnya mencoba dengannya, mungkin ia bisa mengajarkan banyak hal tentang cinta."
"Aku tidak perlu belajar tentang cinta."
"Iya kau benar. Kau adalah masternya. Tapi coba kau lihat kembali ke masa lalu beberapa banyak yeoja dan namja yang kau pacari dan hanya berlangsung singkat. Coba kau pikirkan lagi apa yang menyebabkan hubunganmu dengan Siwon kandas, tak sepenuhnya kesalahan berasal dari dia. Coba lihat dirimu, betapa egois dan kekanakannya dirimu, kau hanya memikirkan perasaanmu sendiri saja."
Entah kenapa Jaejoong malah emosi mendengarnya. "Hyung tidak usah berbelit-belit, bilang saja kalau kau keberatan aku tinggal disini, dan menginginkan aku cepat keluar dari rumah ini, iya kan? jangan malah sok tahu tentang perasaanku, hyung tidak tahu apa-apa tentangku." Setelah berkata seperti itu Jaejoong masuk kedalam rumah lalu mengambil kunci mobil berniat pergi dari sana. Ia tidak tahan lagi berada di rumah berisi kakak kandung yang sudah seperti kakak tiri cinderela. Kelakuan seenaknya sang hyung membuatnya kesal bukan kepalang.
Heechul menghela nafas berat, ia melihat suaminya menatapnya tajam. "Kenapa melihatku begitu?" Tanya Heechul.
"Kau benar-benar seenaknya chulie." Hangeng ikut masuk ke dalam rumah meninggalkan Heechul sendirian di teras.
Sebenarnya Heechul bukannya tidak senang Jaejoong tinggal bersama mereka. Dia hanya sedikiiiiiiiit tidak senang saja, itu karena Jaejoong membuatnya tidak bisa bermesraan dengan suaminya. Alasan kekanakan memang.
.
.
Jaejoong membawa mobilnya berputar-putar Jeju tanpa tujuan. Dia bingung mau pergi kemana, karena di Jeju Jaejoong tidak memiliki banyak teman dekat. Karena Jaejoong sebenarnya belum lama juga tinggal di Jeju. Ingin kembali ke Jepang dan tinggal di sana bersama sang appa, tapi ia tak mau disuruh memimpin perusahaan. Ingin pergi ke Seoul, tapi ia sudah tak tahu lagi bagaimana kabar teman-temannya disana.
Jaejoong menghentikan mobilnya di sebuah kedai kopi, kebetulan hari itu hujan turun rintik-rintik, jadi ia rasa tepat untuk menikmati secangkir kopi hangat. Jaejoong masuk ke kedai kopi lalu memesan kopinya. Ia mengambil tempat duduk di dekat jendela sehingga ia bisa menikmati kopi sambil melihat pemandangan luar.
Dengan secangkir americano hangat ditangannya, ia melemparkan pandangannya ke luar. Awan hitam bergulung di langit menyebabkan sore hari sedikit menggelap. Biasanya jika sudah semendung ini, hujan akan turun dengan deras sebentar lagi. Mungkin saja bisa jadi badai.
diseberang jalan kedai kopi bisa Jaejoong lihat seorang laki-laki yang sedang berteduh didepan sebuah toko. sepertinya laki-laki itu lupa membawa payung dan terjebak disana. Selang beberapa saat sebuah mobil berhenti tepat didepan toko, keluar seorang laki-laki lain dari mobil membawa payung. Laki-laki itu menyerahkan payung pada laki-laki yang berteduh, lalu melepaskan jaz-nya dan memakaikannya pada namja yang terlihat seperti ukenya. Hati Jaejoong berdenyut sakit. Ia merutuki pulau Jeju yang terasa sangat sempit. Laki-laki yang terlihat sedang merangkul laki-laki lain dan membawanya masuk kedalam mobil itu tidak lain adalah Siwon. Hati Jaejoong lebih teremas saat raut wajah Siwon tampak sumringah saat mengecup pipi laki-lakinya sebelum masuk ke mobil dan pergi dari sana.
Apa Siwon sudah secepat itu melupakannya?
Jaejoong merasa tiba-tiba kepalanya pusing. Mungkin ia harus istirahat. Dari pada pulang ke rumah dan bertemu hyungnya, Jaejoong merasa lebih baik menyewa hotel untuk menghabiskan malamnya. Walaupun ia benci tidur sendiri, setidaknya itu lebih baik dari pada pulang kerumah dan membiarkan hyungnya merusak moodnya yang memang sudah hancur seharian ini. Sepertinya menginap di penginapan ressort adalah yang terbaik.
.
Changmin dan Yunho ingin istirahat lebih awal malam ini. Tadi setelah pulang dari rumah Kim Jaejoong, Yunho mengajak anaknya jalan-jalan lalu di akhiri dengan bermain di pantai sepuasnya. Dan malamnya Yunho dan Changmin tampak kelelahan.
Changmin yang sudah lengkap dengan piyama hamtaronya kini duduk di sofa ruang tengah kamar hotel sambil memeluk boneka paha ayamnya. Wajahnya terlihat sayu karena mengantuk. Sambil bersandar di bonekanya, Changmin memperhatikan appanya yang sedang menyeduh segelas susu untuknya di dapur kecil yang terletak di sudut ruangan—mengingat saat ini Yunho menyewa kamar vvip di resort itu—
"Appa!" Panggil Changmin dengan suara lemahnya akibat mengantuk.
"Hmm?"
"Jadi menurut appa, bagaimana dengan Jaejoong hyung?"
"Jaejoong hyung?" Yunho terdengar memastikan.
"Kim Jaejoong. Masa appa lupa."
"Kenapa dengan dia?" Tanya Yunho balik, Kini ia tengah mengaduk susu.
"Minnie ingin dia."
"Maksudmu?" Yunho berjalan menghampiri anaknya setelah susu yang ia buat sudah jadi. Ia menyodorkan segelas susu itu pada Changmin lalu duduk single sofa di samping sofa panjang yang di duduki Changmin.
"Minnie memilih dia jadi istri appa."
Yunho tertawa. "Jangan bercanda. Cepat habiskan susumu."
Changmin meminum susunya sampai habis tak bersisa. Menyisakan busa susu di sekitar bibirnya, ia menghilangkannya dengan menjilati bibir atas dan bibir bawahnya.
"Aku tidak bercanda appa." Kata Changmin seraya meletakan gelas susunya yang telah kosong di atas meja didepannya.
"Dia namja."
"Junsu imo juga punya suami seorang namja."
"Apa kau tak malu punya ibu seorang namja?"
"Orang tua Kyuhyun, Kangin ahjussi dan Leeteuk ahjumaa sama-sama namja. orang tua seungri Seunghyun ahjussi dan Jiyong ahjumma juga. Dan banyak lagi teman minnie yang memiliki orang tua sesama namja. Jadi kenapa harus malu? lagi pula Jaejoong hyung cantik."
"Kau benar, dia memang cantik. Tapi sepertinya appa tidak tertarik dengannya."
"Appa bisa belajar untuk menyukainya nanti." Yunho terkejut, kenapa anaknya semakin pintar bicara.
"Siapa yang mengajarimu bilang begitu?"
"Yoochun ahjussi."
'Sepertinya aku harus membatasi pergaulan anakku dengan si jidat lebar itu. Ia mulai menurunkan bibit casanovanya pada Changmin. Awas saja nanti' Batin Yunho menggerutu.
"Jadi bagaimana?" Tanya Changmin lagi masih penasaran apakah appanya mau mendekati Jaejoong.
"Begitu banyak yeoja di luar sana yang cantik dan bisa memasak, kenapa malah kau menyuruh appa memilih namja?"
"Entahlah, Minnie menyukainya begitu saja."
"Lalu bagaimana dengan Ahra noona."
"Ahra ahjumma? tidak, Minnie tidak menyukainya. Minnie tidak akan setuju jika appa dengannya."
"Appa rasa dia juga bisa memasak."
"Kalau bisa memasak kenapa spagheti saja ia gagal membuatnya?" Ucapan Changmin mengingatkan Yunho pada kejadian kegagalan ahra memasak spaghetti untuk Changmin. Rasa makanan yang dibuat perempuan itu benar-benar aneh. Entah bagaimana cara perempuan membuatnya hingga rasanya abstrak begitu.
"Pokoknya aku tidak akan setuju jika appa menikah dengan perempuan itu." Tolak Changmin sekali lagi. Ia menegaskan bahwa ia benar-benar tidak menyukai perempuan itu.
Yunho mendesah pelan. "Arraseo. Sekarang ayo kita tidur."
"Tapi appa belum menjawab tentang Jaejoong hyung."
"Kita bahas itu nanti. Lebih baik sekarang kita tidur. Appa lelah dan pasti kau juga."
Changmin menuruti Yunho masuk ke kamar ia juga lelah dan mengantuk.
Di kamar ranjang Yunho dan Changmin terpisah. Changmin di singlebed-nya dan Yunho di springbednya. Changmin ingin segera naik ke ranjangnya dan merebahkan diri di sana, namun Yunho menahannya.
"Bagaimana kalau malam ini kau tidur dengan appa?"
"Badanku akan remuk tertindih badan appa nanti."
"Tidak akan."
Changmin menurut dan segera menidurkan diri di ranjang milik appanya yang lebih besar. Yunho membenahi selimut mereka agar menutupi tubuhnya dan juga Changmin.
"Sudah berapa lama kita tidak tidur berdua?"
"Aku tidak ingat."
"Appa merindukanya."
"Aku juga." Balas Changmin. Yunho tersenyum lalu membelai rambut Changmin. Memang benar, semenjak istrinya meninggal Yunho tak pernah berdekatan sedekat ini dengan anaknya. Ia terlalu sibuk dengan dukanya.
"Appa."
"Hn?"
"Surga itu seperti apa?"
"Kalau begitu appa mati dulu untuk melihat surga seperti apa."
"Appaaa~ Minnie serius."
"Tentu saja yang namanya surga itu indah."
"Apa eomma ada di tempat itu?"
"Tentu saja."
"Aku merindukannya."
Yunho terdiam sebentar. Ia berpikir topik yang bagus untuk mencairkan susana yang mulai sedih ini.
"Kau tahu, aku bermimpi tentang ibumu. Kami jalan-jalan sambil bercerita... tentangmu. Ia menanyakan kabarmu dan aku menceritakan semua tentangmum padanya. Ia tampak bahagia mendegarmu tumbuh menjadi anak yang baik dan jenius."
"Kalau appa memimpikan eomma lagi, katakan padanya Minnie sangat merindukannya dan mencintainya sampai kapanpun."
"Tentu saja appa akan menyampaikannya."
Changmin tersenyum, ia mulai memejamkan matanya yang sudah teras memberat. "Good night appa."
"Good night baby." Balas Yunho lalu mengecup kening anaknya.
Dan untuk pertama kalinya dalam satu setengah tahun ia tertidur lebih awal. Entah karena nyaman dengan keadaan yang teramat dekat dengan anak semata wayangnya, atau ada perasaan tenang karena suatu hal yang lain, entahlah. Tapi yang jelas untuk malam ini Yunho bisa tertidur lebih awal.
.
0-0-0 MY SLEEPLESS NAMJA 0-0-0
Paginya setelah sarapan di restaurant hotel, Changmin menunggu dengan bosan appanya yang tengah mengobrol dengan teman lama yang tak sengaja bertemu di lobi saat mereka akan kembali ke kamar. Jadilah sekarang Yunho sibuk mengobrol dengan temannya dan mengabaikan Changmin.
Changmin mengedarkan pandangannya ke segala penjuru lobi, ia tak menemukan sesuatu yang bisa ia lakukan untuk menghibur diri. Namun dugaanya salah saat matanya menangkap seseorang yang baru saja keluar dari lift. Namja yang dilihat Changmin saat itu mengenakan t-shirt putih v neck yang di padukan dengan kemeja kotak-kotak yang tidak terkancing dan lengannya di gulung sampai siku, di telinganya tersemat headseat. Namja itu berjalan menuju pintu keluar hotel.
Tanpa berkata apa-apa pada appanya Changmin pergi begitu saja mengejar namja yang ia rasa dikenalnya itu.
"Hyung!" Panggil Changmin pada orang yang diidentifikasikan sebagai Jaejoong, Namun orang yang di panggilnya tak menoleh sama sekali. Mungkin merasa bukan dia yang di panggil, atau malah tidak terdengar karena saat ini ia tengah mendengar musik.
Jaejoong segera masuk ke dalam mobilnya ketika ia lihat mobilnya telah diparkirkan di depan beranda hotel oleh petugas. Dan tanpa pikir panjang juga Changmin ikut masuk ke dalam mobil di kursi belakang. Lagi-lagi Jaejoong tidak menyadari ada orang lain didalam mobilnya, karena saat ini ia tengah bersiul kecil mengikuti lagu yang didengarnya melalui headset.
Jaejoong mulai menjalankan mobilnya keluar dari area resort. Tangannya mengetuk-ngetuk di stir mobil mengikuti irama. Sesekali siulan berganti dengan senandung. Dilihat dari tingkah pagi ini sepertinya suasana hati Jaejoong telah kembali membaik.
"Hyung!
"Uwaaaaaaaa!"
Ckiiiiiitttttt
Dugh
"Aduduh..." Ringis Jaejoong saat jidatnya terbentur stir mobil karena menginjak rem mendadak.
"Hyung tidak apa-apa?"
"Yak! kenapa kau ada disini?" Teriak Jaejoong histeris karena bocah itu muncul tiba-tiba di mobilnya.
Changmin berpindah ke kursi depan. "Tadi saat di hotel aku memanggilmu, tapi hyung tidak mendegarnya."
"Cepat keluar sana."
"Hyung tega menurunkan aku di tengah jalan seperti ini?"
"Aissh.. jinja. Mana appamu?"
"Dihotel."
"Aku akan mengantarmu kembali kesana." Jaejoong bersiap untuk kembali melajukan mobil dan berputar arah, namun Changmin malah menolak.
"Hyung apa tidak boleh hari ini aku ingin jalan denganmu?"
"Aku sibuk bocah."
"Namaku Jung Changmin, hyung."
"Terserah."
"Ayolah hyung, izinkan aku ikut denganmu hari ini. Aku ingin tahu lebih dekat calon istri appa."
"Siapa yang mau menikah dengan appamu?"
"Appa-ku tampan loh hyung."
"Lalu?"
"Banyak orang yang tergila-gila dengan appaku."
"Lalu apa urusannya denganku?"
"Tidak ada sih. Hanya penasaran kenapa hyung tidak menyukainya."
"Lebih baik tutup mulutmu dan duduk manis disana. Aku akan mengantarmu kembali ke hotel." Ancam Jaejoong.
"Ya hyung aku kan ingin ikut hyung."
"Ani. Aku tidak mau dikejar-kejar polisi karena di sangka telah menculik anak orang."
"Arraseo." Rengut Changmin sebal.
Jaejoong memutar arah mobil untuk kembali ke hotel mengantar Changmin. Aigoo... pemikiran Jaejoong tentang pulau Jeju yang sempit sepertinya memang benar adanya. Kenapa ia gampang sekali bertemu dengan orang yang tidak ingin ditemuinya. Sepertinya lain kali ia harus mencoba mengelilingi pulau Jeju dan mengukur apa benar Jeju sesempit itu. Begitulah kira-kira pemikiran konyol Jaejoong.
.
"Turunlah." Kata Jaejoong setelah mereka tiba didepan beranda hotel.
"Hyung tidak mengantarku? bagaimana kalau aku tersesat? aku tidak tahu bagaiamana caranya naik lift." Changmin mengajukan beberapa alasannya yang membuat Jaejoong memutar bola matanya malas.
Akhirnya Jaejoong memutuskan mengalah dengan bocah kecil yang merepotkan itu. Terpaksa ia mengantar Changmin sampai ke kamar tempatnya menginap dengan sang appa. Kamarnya terletak di lantai 16 dengan nomor kamar 308.
Namun saat mereka tiba di depan kamar nomor 308, ternyata Yunho tidak ada disana. Tidak sadarkah mereka Yunho sedang panik mencari keberadaan Changmin?
"Aku sudah mengantarmu sampai disini. Jadi kau tunggu sendiri saja. Aku harus pergi." Ujar Jaejoong lalu berbalik meninggalkan Changmin.
"Hyung, aku takut di sini sendirian." Rengek Changmin. Ia tidak mengada-ada Ia benar-benar takut. Koridor hotel itu tampak lengang.
Jaejoong menghela nafas panjang. "Aku akan mentraktirmu es krim di bawah, dan kita akan menunggu disana sampai appamu datang."
Changmin menjawab dengan cengiran lebar.
.
Sebenarnya ia tidak membenci anak-anak. Jaejoong cukup menyukai anak kecil, bahkan ia berharap nanti bisa mempunyai banyak anak—Walaupun disini orientas seksualnya tak memungkinkan bisa memiliki anak—Tapi sekarang appa dari anak yang sedang menikmati es krimnya dengan lahap didepanya adalah orang yang menghinanya kemarin. Melihat Changmin membuatnya mengingat ayah si anak yang sempat membuatnya kesal kemarin.
"Hey, bocah! makannya pelan-pelan. Tidak ada yang akan merebut es krimmu." Tegur Jaejoong saat Changmin memakan es krimnya seperti sedang di kejar-kejar setan. Saat ini mereka tengah berada di restaurant hotel. Changmin menikmati semangkuk besar clotted ice cream-nya sedangkan Jaejoong hanya memandangi dengan takjub nafsu makan bocah didepannya.
"Aku penasaran, kenapa waktu itu kau menelpon radio dan mengatakan bahwa appa-mu butuh istri baru?" Jaejoong bertanya tentang hal yang cukup membuatnya penasaran selama ini.
"Karena appa selalu bersedih semenjak eomma meninggal, appa juga jarang bisa tidur saat malam hari, aku menghawatirkan appa, dan appa menghawatirkan aku, padahal keadaan appa jauh lebih buruk. Aku hanya berpikir kalau appa benar-benar membutuhkan istri baru, mungkin dia bisa sedikit lebih bahagiaa. Walaupun aku tahu tak ada yang bisa menggantikan eomma."
"Semua orang pasti begitu ketika orang yang dicintainya di renggut darinya. Lalu apa kau telah mendapatkan calon istri untuk appa
mu?"
"Sudah. Hyung." Changmin menunjuk Jaejoong.
"What? Kau gila?!"
"Apa hyung punya kekasih?"
"Tidak."
"Lalu kenapa hyung tidak tertarik pada appaku yang tampan."
"Aku yakin appamu bukan gay."
"Memang bukan, tapi hyung bisa membuatnya menjadi seperti itu." Ujar Changmin dengan polosnya mengutarakan ide gilanya.
Yup, Jaejoong akui anak didepannya memang jenius karena gaya bicaranya bak orang dewasa, tapi sangking jeniusnya anak itu sedikit gila menurut Jaejoong, adakah anak yang mendukung appanya menjadi gay?
"Tidak terima kasih."
"Tidak bisakah hyung menjadi ummaku setidaknya sampai hari natal saja?"
"Kenapa harus aku?
"Karena aku tidak mau Ahra ahjumma yang menjadi ibuku."
Jaejoong tidak tahu siapa itu Ahra, dan ia juga tak mau tahu. Tatapan memohon Changmin yang ditujukan padanya membuat hatinya sedikit melunak. "Ajukan alasanmu kenapa aku harus mau menuruti keinginanmu."
"Karena aku menyukai hyung dan hanya mau hyung." Jawab Changmin. kemudian kembali menikmati es krimnya.
"Tapi aku tidak siap menjadi ibumu, apalagi istri appamu."
"Bagaimana kalau kita berteman dulu hingga hyung siap." Tak sempat Jaejoong menjawab terdengar seruan keras dari pintu restaurant.
"JUNG CHANGMIN!" Seru Yunho saat melihat anaknya tengah duduk manis di dalam restoran. Jantungnya rasanya mau jatuh saat tiba-tiba Changhmin menghilang tadi. Ia mencari sampai keluar hotel hingga ke taman namun tak menemukan anaknya. Tapi saat ia kembali ke hotel mencoba mencarinya disana sekali lagi, Tak sengaja Yunho melihat Changmin di dalam restoran hotel tempat mereka sarapan tadi pagi
Yunho dengan raut wajah panik dan nafas terengah-engah karena kelelahaan segera menghampiri meja tempat Changmin dan Jaejoong duduk.
"Appa!" Seru Changmin senang.
"Kau kemana saja? kenapa tiba-tiba menghilang? kau membuatku ketakutan." Yunho langsung menyambar tubuh anaknya dan memeluknya. Betapa Yunho sangat ketakutan jika Changmin sampai hilang. Changmin begitu berharga untuk hidupnya.
Changmin yang melihat appanya panik merasa bersalah. "Maafkan Minnie appa. Aku tidak bermaksud membuat appa panik." Yunho melepaskan pelukannya lalu memandang sang anak. "Aku tadi melihat Jaejoong hyung dan mengikutinya." Changmin melirik Jaejoong dan Yunho mengikutinya.
"MWO?! Yah! Kenapa kau ada disini? Aiish... kenapa pulau ini terasa begitu sempit sih. Kemana-mana pasti ujung-ujungnya bertemu denganmu." Gerutu Yunho.
"Ya, ahjussi. Kau pikir aku senang bertemu denganmu? dari kemarin kau membuat moodku berantakan."
"Aku bisa gila kalau bertemu denganmu terus. Ayo kita pergi!" Yunho menarik tangan Changmin berniat mengajaknya segera pergi dan Changmin malah dengan isengnya menarik tangan Jaejoong.
"Changmin, lepaskan tanganku." Changmin menghiraukan kata-kata Jaejoong, ia malah mengeratkan genggamannya di tangan Jaejoong, Hingga terpaksa Jaejoong ikut terseret ke luar restoran. Dengan langkah lebar Yunho menyeret Changmin ditambah Jaejoong menuju lift.
"Hey, namja jejadian, kenapa kau mengikuti kami?" Kesal Yunho saat melihat Jaejoong yang dikiranya mengikutinya.
"Anakmu yang menarik tanganku." Jaejoong melepas tangan Changmin dari tangannya. "Dan lagi tadi kau sebut aku apa? namja jejadian?! kau masih meragukan jenis klaminku?" Jaejoong memandang Yunho sengit sambil melangkah maju mendekati Yunho. Cukup sudah ia mendengar Yunho menghinanya dengan meragukan statusnya sebagai seorang namja tulen.
"Kau masih meragukan kejantananku sebagai seorang pria tulen?" Yunho mendengar kata 'kejantanan' memundurkan langkahnya. Entah kenapa yunho ngeri sendiri mendengarnya.
Mata Yunho membulat horor. Nafasnya tercekat saat tiba-tiba namja cantik didepannya mengangkat baju dan memperlihatkan pada Yunho perut rata yang di hiasi absnya yang indah serta... tentu saja kedua dada montoknya walaupun tidak semontok punya yeoja, namun cukup membuktikan bahwa dia namja. Apalagi kulit mulus seputih susu dan tatto di dada Jaejoong yang kontras dengan kulit putihnya yang membuat tubuh itu terlihat sangat seksi di mata Yunho. Bahkan tanpa sadar Yunho menelan ludahnya gugup.
Belum habis rasa terkejut Yunho, Jantungnya di ajak kembali berpacu saat tiba-tiba Jaejoong menarik satu tangan Yunho dan menempelkannya tangan besar itu ke dadanya.
"Bagaimana? masih belum terasa kalau aku ini namja? Atau kau ingin menyentuh sebuah 'bukti kuat' bahwa aku seorang namja?" Jaejoong menyeringai melihat Yunho terdiam. Mungkin ia merasa menang karena berhasil membuat Yunho tak bisa berkata-kata lagi.
Apakah Jaejoong tidak sadar kalau mereka masih berada di lobi hotel? Dan saat ini semua orang tengah memakukan matanya pada mereka yang begitu menarik perhatian. Bahkan sebagian dari tamu hotel yang kebetulan ada di lobi berteriak seru melihatnya. Bisa di pastikan bahwa sekumpulan yeoja yang berteriak histeris itu adalah fujoshi.
"KYAAAAA!" Teriak para fujoshi saat menonton adegan live itu. Diotak mereka telah berseliweran adegan-adegan selanjutnya yang menjurus ke yadong, yang mereka harap akan ditampilkan oleh YunJae.
Jaejoong tersentak mendengar teriakan-teriakan itu yang langsung membuatnya tersadar dengan keadaan sekitar.
Deg
Jaejoong memandang Yunho
Deg
Deg
Jaejoong diikuti Yunho sama-sama melihat dada Jaejoong dimana ada tangan Yunho di atasnya.
Deg
Nafas Jaejoong serasa putus di sana, Wajahnya memucat seketika. Kembali Jaejoong menatap Yunho yang juga diam seribu bahasa. Hingga akhirnya suara teriakan yang membuat telinga berdenging membahana di seluruh ruangan lobi.
"GYAAAAAA!"
"HUWAAA~!"
Changmin yang sedari tadi menyaksikan adegan konyol nan memalukan itu menggeplak jidatnya sendiri.
"Appa! Hyung! kalian membuat Minnie malu!" Celetuk Changmin lalu segera berlari duluan masuk ke lift yang kebetulan terbuka pada saat itu. Meningalkan YunJae dengan posisi memalukan mereka.
.
.
To Be Continue
JENG JENG JENG
anda bingung? saya juga bingung pemirsa
tanpa hujan dan bdai ni ff ngilang, dan tiba-tiba muncul lgi. Jumlah rev ttp sama cma yg ngfav n foll ngilang
setelah bergalau-galau dan berbingung-bingung ria semalaman, berpikir apa salah sya tiba2 pas sya buka akun lg ternyta eh ternyata...
entah bagaimana muncul lg...
oke untuk yg udah koment di REPOST makasih bnyak ne atas semangtnya brkat doa klian ni ff muncul lg. #ciumsemuareader
oke untuk chap ini terlalu memaksakan ya?
maaf ya klo gak puas
kalo begitu untuk chap dpan humornya akan dikurangin dan ceritanya berjalan dengan serius.. otte?
.
Selamat menunaikan ibadah puasa
bagi yang menjalankannya ^^
