Disclaimer: Boboiboy Monsta
Balasan Review
Guest: Hahaha, Taufan memang dimana saja orangnya memang kayak gitu ya. Aduh, makasih udah ngingetin, pantes aja kayak ada yang salah sama judul fictnya, jadi udah diganti deh. Salah satu huruf memang beda arti sih :") dan benar, Blaze dan Fang di dunia Fairy Tail~ XD Chapter untuk Ice dan Gopal udah rilis, selamat membaca, dan makasih reviewnya ya ^^
Ciiko: Yah, kalo sama Zeref entar kacau deh. Bukannya selamat, Fang sama Blaze malah berakhir nahas #plak Blaze dan Natsu...yah, mereka memang mirip, dan mereka akan bertemu nanti~ XD Ice sama Gopal di chapter ini, dan soal Adu du...ah, dia juga di chapter ini ahahaha...oke, thanks udah mereview~
Ililara: Jiwa petualangan yah...saya lebih suka menyebutnya insting bertahan hidup XD ini udah update, makasih udah review ya ^^
Kaze akira: Well...saya memang otaku...tapi mungkin anime yang akan ditampilkan disini bukan hanya AoT sama FT aja sih...Ice sama Gopal gimana? Jawabannya ada di chapter ini, dan sebenarnya di dunia mana Halilintar dan Yaya terperangkap, apa anime juga? Ahaha...kalo itu di next chapter ya *Ya udah ngapain ngasih tau disini* oke, makasih atas reviewnya, semoga chapter ini bisa memuaskan ya~ ^^
Buat yang punya akun, udah saya PM ya~
Enjoy~
"Ughh…"
"Proffesor, lihat dia masih hidup,"
"Tentu saja dia masih hidup. Aku sudah memeriksa denyut nadinya tadi,"
"Bagaimana ini?"
"Ssst, tenanglah semuanya. Kita lihat dulu reaksinya,"
Samar-samar, Gopal bisa mendengarkan suara-suara asing yang memasuki telinganya. Kepalanya terasa berdenyut, namun mau tidak mau Gopal harus membuka matanya.
Yang pertama kali dilihatnya adalah seberkas cahaya yang diketahui adalah lampu di ruangan tersebut, sempat membuat penglihatannya buram karena matanya butuh waktu untuk beradaptasi dengan cahaya tersebut.
"Uhh…" Gopal kemudin mengucek matanya untuk memfokuskan penglihatannya.
"Hey, anak muda…kamu tidak apa-apa?" samar-samar kini Gopal bisa melihat seorang pria dewasa berambut hitam yang memakai kemeja serta jas laboratorium.
"Huh? D-dimana ini? Apa yang terjadi?" Gopal langsung mengedarkan pandangannya. Disekelilingnya tampak tabung-tabung berisi cairan kimia yang entah apa dengan berbagai macam alat-alat sains.
Kelihatannya pria dihadapannya ini adalah seorang ilmuwan, dan tempat ini adalah laboratorium.
Gopal kemudian meraba tubuh serta wajahnya.
"Masih utuh…" gumamnya lega kemudian menyenderkan kepalanya ke kursi empuk yang didudukinya.
"Tenanglah, nak. Ini minum dulu," pria tersebut menyodorkan secangkir teh hangat, dan langsung diminum oleh Gopal dengan sukacita. Perlahan rasa takutnya sedikit berkurang setelah merasakan teh hangat yang manis tersebut.
"Fyuh…terima kasih ya, pak cik," ucap Gopal kemudian meletakkan cangkir kosong tersebut ke atas meja disampingnya.
"Jadi…namamu siapa? Anak-anak menemukanmu tidak sadarkan diri di tengah jalan dan mereka membawamu kemari," jelas pria berjas tersebut.
"Benarkah? Astaga…syukurlah kalo begitu," Gopal merinding membayangkan bagaimana nasibnya nanti jika tetap pingsan di tengah jalan.
"O iya, namaku Gopal. Anu…anda sendiri…?" tanya Gopal kemudian.
"Aku Professor Utonium, tapi panggil saja aku Professor," pria tersebut menjawab dengan seulas senyum ramah.
"Oh, kalo begitu terima kasih Professor, sudah repot-repot membawaku ke sini," ucap Gopal sambil mengelus tengkuknya.
"Tidak masalah, itu juga sudah tugas kami," sahut Utonium.
"O iya, tadi Professor bilang aku diselamatkan oleh anak-anakmu, jadi dimana-"
"Professor!" tiba-tiba saja tiga makhluk aneh berkepala besar dan berbadan kecil muncul entah darimana sambil meneriakkan nama Professor tepat di depan wajahnya.
"HWAAA!" Gopal yang terkejut langsung jatuh terjungkal dari kursinya.
"Oh, astaga…kau baik-baik saja? Tidak ada luka kan?" salah satu dari makhluk yang diketahui bergender perempuan tersebut menghampiri Gopal yang masih terjungkal. Tampak kedua mata birunya yang bulat dan besar menatap Gopal.
"Hiiii…a-apa mereka ini?!" Gopal langsung mundur sambil memeluk tubuhnya sendiri dengan gemetar.
"Hey, benar-benar tidak sopan," yang berambut hitam dan bermata hijau menggerutu tidak suka. "Kelihatannya kita membuatnya takut," timpal yang berambut jingga dan memiliki mata berwarna pink.
"Oh, maafkan aku, Gopal. Aku belum mengenalkanmu," Utonium kemudian menarik tangan Gopal untuk mendekat, meski pemuda bertubuh gempal tersebut masih tampak ketakutan.
"Gopal, perkenalkan, mereka adalah anak-anakku," ucap Utonium.
Gopal mengerjap-ngerjapkan matanya, melihat tiga anak perempuan berkepala bulat dan bermata besar yang tampak melayang disamping sang Professor.
"Err…anak-anak?" beo Gopal tidak yakin.
Anak-anak itu bahkan tidak terlihat seperti manusia pada umumnya.
"Hai, aku Blossom, yang paling tua dan paling cerdas," yang bermata pink dan berambut jingga dengan hiasan pita merah dikepalanya berbicara dengan seulas senyum manis.
"Aku Bubbles, yang paling imut dan menyenangkan," sambung si rambut pirang dengan mata biru muda sambil tersenyum ceria.
Harus Gopal akui, gadis kecil berambut kuncir dua tersebut memang terlihat imut.
"Aku Buttercup, dan aku yang paling kuat dan keren," terakhir, gadis berambut hitam pendek dengan mata hijau muda berbicara dengan seringaian dan kedua tangannya yang tidak berjari teracung seolah sedang menantang Gopal bertarung.
"Yah, mereka adalah anak-anakku. Biasanya mereka disebut The Powerpuff Girls," ucap Utonium sambil mengelus kepala ketiga 'anak'nya tersebut.
"Oke…aku Gopal. Salam kenal, err…siapa tadi?" tanya Gopal dengan kikuk.
"Powerpuff Girls. Gitu aja susah banget sih," sahut Buttercup dengan ketus.
"Jangan seperti itu, Buttercup. Eh…tunggu dulu, kau…tidak kenal kami?" Blossom yang baru saja menyadari hal tersebut bertanya.
"Eh…iya, soalnya aku bukan orang dari sini," jawab Gopal.
"Hmm…memang benar sih, kami tidak pernah melihatmu sebelumnya. Kau memangnya berasal darimana?" tanya Blossom lagi.
"Aku berasal dari Pulau Rintis, Malaysia," jawab Gopal.
"Apa?! Itu jauh sekali…bagaimana bisa kau sampai terdampar tak sadarkan diri disini?" kaget Bubbles dengan ekspresi takut yang agak berlebihan.
"Ah," Gopal kembali ingat, sebelum ini dia bersama dengan keempat temannya bertarung melawan Adu du, kemudian Adu du menembak mereka dengan senjata aneh dan akhirnya dirinya tidak ingat apa-apa lagi sampai dirinya berada di tempat ini.
"Pasti ini ulah Adu du," gumam Gopal kesal. Alien kotak pendek tersebut selalu saja membuat kekacauan.
"Hah? Ulah siapa?" tanya Buttercup yang samar-samar mendengar Gopal menggumamkan nama aneh.
"Eh…aku ada disini karena dipindahkan oleh alien hijau berkepala kotak," jawab Gopal ragu, tidak yakin apa keempat makhluk (Gopal masih belum yakin gadis-gadis kecil tersebut manusia ngomong-ngomong) dihadapannya ini tidak akan percaya.
"Oke, jadi kamu dipindahkan oleh alien. Menarik sekali," komentar Utonium membuat Gopal terkejut.
"Kalian…kalian percaya?" tanyanya.
"Well, kami hampir setiap hari berhadapan dengan monster aneh yang berasal dari berbagai tempat di dunia dan luar angkasa, jadi itu bukan hal baru bagi kami," jawab Buttercup santai.
"Kalian ini…sebenarnya siapa?" Gopal kembali merasa takut.
"Astaga, kami ini The Powerpuff Girls! Kau ini berapa kali harus dikasih tau sih?!" bentak Buttercup yang kelihatannya mulai kehabisan kesabaran.
"Tenanglah, Buttercup. Dia belum tau siapa kita, jadi wajar kan jika dia merasa bingung," Blossom menepuk punggung saudarinya tersebut, kemudian melayang mendekati Gopal.
"Kami ini mungkin masih anak-anak, tapi kami punya kekuatan super, seperti yang sudah kau lihat sekarang. Tugas kami adalah melindungi kota ini, kota Townsville, dari serangan makhluk jahat," jelas Blossom sambil tersenyum.
"Jadi…kalian ini superhero?" tanya Gopal yang masih belum paham sepenuhnya.
"Iyep, kami superhero, dan kami selalu membantu orang yang membutuhkan~" sahut Bubbles sambil tertawa kecil, membuat sosoknya yang sudah imut itu jadi makin imut saja.
"Wow…" Gopal menggumam takjub.
Pasalnya, tiga gadis berkepala bulat dihadapannya ini sama sekali tidak terlihat kuat. Mereka malah terlihat seperti boneka daripada gadis kecil.
"Tunggu, jika mereka ini anak-anakmu, berarti…" Utonium yang sudah paham maksud Gopal tertawa pelan.
"Mereka ini memang anak-anakku, lebih tepatnya, aku membuat mereka," jelas Utonium.
"Membuat mereka?" tanya Gopal tidak mengerti.
"Yah…awalnya aku hanya berniat membuat gadis-gadis kecil yang manis dengan campuran gula, rempah-rempah, serta segala bahan yang baik, tapi aku tidak sengaja menambahkan cairan kimia X, dan akhirnya terciptalah Powerpuff Girls," jelas Utonium dengan Blossom, Bubbles, dan Buttercup yang kini memeluk sosok 'ayah' mereka tersebut.
"Wow…kekuatan sains memang hebat," Gopal yang takjub hanya bertepuk tangan.
"Sekarang, bisa tolong kamu ceritakan lebih detail, mengenai bagaimana kamu bisa berakhir disini?" tanya Utonium.
"Yah…seperti yang aku bilang tadi, aku dan teman-temanku berhadapan dengan alien hijau berkepala kotak, dia menembakkan senjata aneh pada kami kemudian aku sudah tidak ingat apa-apa lagi, hingga akhirnya aku berakhir disini…ngomong-ngomong ini dimana?" tanya Gopal.
"Townsville Amerika Serikat," jawaban Bubbles tersebut membuat Gopal tersedak.
"A-apa?! Amerika?! Ah…t-tahun berapa?!" tanya Gopal lagi yang berusaha untuk tidak lebih histeris.
"Err…tahun 2001?" jawab Buttercup ragu, karena dirinya juga tidak begitu ingat tahun berapa ini.
"Iya, ini tahun 2001. Memangnya kenapa?" tanya Blossom.
"Ayo yo…2001 kan seharusnya aku masih berusia 1 tahun…aduh," Gopal mulai panik.
"Tenanglah, Gopal. Memangnya kamu berasal dari tahun berapa?" tanya sang Professor.
"Tahun 2013," jawab Gopal lesu.
"2013?! Itu 12 tahun dari sekarang!" Bubbles ikut histeris.
"Jadi, kau bukan hanya berpindah Negara, tapi juga tahun ya?" Buttercup mengambil kesimpulan.
"Bagaimana ini? Bagaimana caranya aku kembali…aduh, Appa aku pasti bisa marah kalo aku tidak pulang…" Gopal masih panic di tempat.
"Hmm…kelihatannya kamu memang berteleportasi," ucap Utonium.
"Maksudnya?" tanya Gopal.
"Tadi kamu bilang kalian diserang oleh alien yang menembakkan senjata bukan? Kemungkinan itu bukan senjata, tapi alat teleportasi yang memindahkanmu ke dimensi, ruang, dan waktu yang berbeda," jelas Utonium.
"Aduh…jangan-jangan yang lainnya juga bernasib sama…" Gopal mulai lemas.
Blossom yang merasa kasihan, melayang mendekati Gopal kemudian menepuk pundaknya dengan tangan kecilnya.
"Jangan sedih, Gopal. Professor kami ini orang yang jenius. Dia pasti bisa membantumu untuk kembali ke dunia asalmu," hibur Blossom.
"Benarkah?" tanya Gopal sambil menatap Utonium penuh harap.
"Err…bagaimana yah…teleportasi antar dimensi dan waktu itu sebenarnya bukan masalah kecil, dan aku belum pernah mencoba hal itu sebelumnya," gumam Utonium ragu.
"Tapi, kau kan pernah membuat mesin waktu," ucap Bubbles.
"Mesin waktu dan teleportasi dimensi itu hal yang berbeda, Bubbles. Tapi baiklah, aku akan mencoba untuk mencaritahu caranya," ucap Utonium yang tidak tega melihat wajah kecewa Bubbles.
"Bukankah itu hebat, Gopal? Professor bisa membantumu," ucap Blossom lagi dengan wajah yang lebih ceria.
"Semoga saja. Terima kasih ya," Gopal akhirnya tersenyum lega.
"Sambil menunggu, bagaimana kalo kita jalan-jalan? Atau kau mau melihat gerakan kung fu baruku?" tanya Buttercup semangat.
"Ehm, dia pasti lelah, Buttercup. Biarkan dia istirahat," ucap Bubbles.
"Ck, apaan sih? Aku kan mau main dengannya," Buttercup menatap Bubbles dengan cemberut.
"Sudah, sudah. Bubbles benar, Buttercup, untuk saat ini biarkan Gopal istirahat dulu. Setelah itu, baru kau bisa mengajaknya bermain," Blossom menengahi sebelum kedua saudarinya itu akan mulai bertengkar lagi seperti biasa.
"Entah kenapa, melihat kalian bertiga sedikit mengingatkanku padanya," Gopal tertawa kecil.
"Pada siapa?" ketiga gadis berusia lima tahun tersebut bertanya dengan kompaknya.
"Err…sahabat baikku, dia biasanya juga seperti ini ketika sedang berpecah," jawab Gopal ragu.
"Huh? Berpecah?" ketiga gadis itu kembali bertanya kompak.
"Ups…umm, baiklah, aku akan ceritakan," Gopal menghela napas kemudian kembali duduk di sofa bersama dengan Blossom, Bubbles, dan Buttercup yang ikut duduk disampingnya.
~0~0~0~0~
Pulau Rintis, Markas Kotak, 16.05.P.M.
"Sebentar, apa maksudmu data dari empat Boboiboy yang lain hilang?" tanya Boboiboy Gempa yang tidak mengerti dengan penuturan sahabat robotnya tersebut.
"Maksudku adalah, data mengenai Halilintar, Taufan, Blaze, dan Ice menghilang. Biasanya, meski kalian berpecah, masing-masing dari kalian menyimpan data dari elemen lain meski yang aku scan hanya satu Boboiboy. Itu memudahkanku untuk merampungkan data dari kondisi fisik kalian," jelas Ochobot.
"Tapi kali ini, data dari empat lainnya menghilang, yang tersisa hanya elemen tanah saja," lanjutnya dengan bingung.
"Kemungkinan itu adalah efek dari alat teleportasi yang memisahkan kalian," Adu du ikut berbicara kemudian menunjukkan benda berbentuk kepala naga yang merupakan alat teleportasi yang digunakannya untuk memisahkan Boboiboy dan teman-temannya tersebut.
"Kurasa itu lah alasan mengapa kau tidak hilang ingatan, Gempa," komentar Ochobot.
"Tapi kenapa? Jika memang iya, kenapa sampai berefek pada kami juga? Itu hanya alat teleportasi kan?" tanya Gempa yang masih tidak mengerti.
"Kelihatannya, masih ada fungsi dari alat ini yang belum aku ketahui. Tapi, jika yang aku pikirkan benar…" Adu du kemudian menatap Gempa dan Ochobot bergantian.
"Alat ini bukan hanya memisahkanmu dan teman-temanmu ke dunia lain, tapi juga membuat kalian berlima yang aslinya adalah Boboiboy terpisah secara individu," jelas Adu du.
"Yang artinya…" Ochobot kembali merasa takut.
"Ini masih teoriku, tapi bisa jadi alat ini membuatmu beserta pecahanmu terpisah dengan 'paksa', sehingga kalian ada disini bukan sebagai 'pecahan' Boboiboy, tapi sebagai diri kalian sendiri," jelas Adu du.
"Terciptanya individu baru, yang berasal dari satu individu, yang berarti…" gumam Ochobot.
"Klon," satu kata dari Adu du tersebut membuat Gempa menelan salivanya.
"Err…untuk sekarang ini, tidak apa-apa kan? Paling tidak kami tidak hilang ingatan," Gempa berusaha berpikir positif.
"Masalahnya, Boboiboy…" Ochobot memegang kedua bahu Gempa. "Jika kalian seperti ini terlalu lama, ada kemungkinan kalian tidak akan bisa bersatu kembali meski kita berhasil membawa yang lainnya kembali ke sini," ucap Ochobot khawatir.
"Aduh…sekarang bagaimana dong?" Gempa ikut merasa takut.
"Mungkin jika aku bisa menyempurnakan teleporter ini, kita bisa mencaritahu kemana teman-temanmu berada, sehingga kita bisa menjemput mereka," ucap Adu du.
"Oke. Umm, tapi kenapa kau tiba-tiba membantu kami? Semua ini terjadi karena kau juga, ingat?" ucap Gempa sambil menatap Adu du dengan curiga, karena bisa saja alien hijau tersebut merencanakan sesuatu terhadapnya.
"Hah…" Adu du memutar matanya, kemudian kembali menatap Gempa.
"Kau lihat tidak, ada yang janggal di tempat ini?" tanya balik Adu du.
Gempa dan Ochobot saling pandang kemudian memperhatikan sekeliling mereka.
Markas kotak Adu du masih sama seperti saat terakhir kali mereka ke sini untuk bersembunyi dari Ejo jo, kecuali sekarang sudah terdapat lebih banyak peralatan canggih serta tambahan monitor dan lantai logam di beberapa bagian, tidak lupa computer setia Adu du yang sedang memantau monitor serta kambing S9000 yang asik mengunyah rumput di pojok ruangan.
"Semuanya…kelihatan baik-baik saja…" gumam Gempa.
"Ya, tidak ada yang janggal, kecuali…" Ochobot menggumam, kemudian kedua mata biru menyalanya membulat.
"Probe!" Gempa dan Ochobot berucap bersamaan.
"Tepat sekali. Si bodoh itu tanpa sengaja membuat dirinya sendiri berpindah dimensi dan sekarang aku tidak tau dimana dia," ucap Adu du sambil menghela napas panjang, anak buahnya yang satu itu memang merepotkan.
"Astaga, kenapa kami tidak menyadarinya ya? Pantas saja tempat ini terasa lebih sunyi," komentar Ochobot.
"Hoo…jadi kini kau berniat berkawan dengan kami, karena ingin menyelamatkan Probe LAGI ya?" ucap Gempa dengan nada menyindir.
"Ish. Kau ini, masih untung aku mau membantu. Lagipula aku juga sudah membuat suatu kesalahan besar," sahut Adu du yang kesal.
"Kesalahan besar?" beo Ochobot.
Adu du menghela napas lagi kemudian menatap alat teleporter ditangannya.
"Aku tak seharusnya menggunakan benda ini," gumamnya dengan perasaan bersalah.
"Hah?" Gempa yang tidak mendengar ucapan Adu du menatap bingung ke arah si alien hijau.
"Hah…lupakan saja. Sekarang, aku mau membetulkan benda ini. Ochobot, kau bantu aku," ucap Adu du kemudian sambil meletakkan teleporter berkepala naga tersebut ke atas meja dan ditanggapi dengan senang hati oleh Ochobot.
Gempa mendesah, merasa sedikit lega karena setidaknya dia tidak perlu membuang tenaganya untuk memaksa Adu du membantunya. Meski begitu, penjelasan Ochobot sebelumnya membuatnya resah.
"Semoga kalian baik-baik saja," gumam Gempa dengan kedua mata yang memperhatikan monitor milik Adu du yang menampilkan Pulau Rintis di berbagai sudut.
0~0~0~0
July, 2001, Townsville, U.S.A. 14.56.P.M.
"Wow, jadi kalian ini superhero juga?" Bubbles menatap Gopal dengan takjub.
"Benar sekali. Aku, bersama keempat teman-temanku adalah kelompok superhero terhebat dan terkeren di Pulau Rintis, dan tugas kami adalah melindungi bumi serta galaksi dari serangan alien jahat," jelas Gopal dengan bangga.
Saat ini dirinya sedang menceritakan kehidupannya beserta teman-temannya sebagai superhero di Pulau Rintis, dan tentu saja ceritanya sedikit dilebih-lebihkan untuk membuat ketiga gadis kecil disampingnya terkagum-kagum, meski kenyataannya hanya Bubbles yang benar-benar merasa takjub.
"Kalo kau memang superhero, apa kekuatanmu?" tanya Buttercup penasaran. "Nah, bagus kau bertanya. Aku bisa memanipulasi molekul," jawab Gopal.
"Memanipulasi molekul?" Bubbles memiringkan kepalanya dengan tatapan imut.
"Maksudmu, mengubah struktur molekul suatu benda menjadi benda lain?" tebak Blossom.
"Tepat sekali. Nah, coba lihat ini," Gopal mengambil cangkir teh yang tadi diminumnya.
"Tukaran makanan!" dan dalam sekejab, cangkir yang terbuat dari kaca tersebut bertransmormasi menjadi roti manis berbentuk cangkir.
"Wow!" Bubbles menatap roti tersebut dengan pandangan berbinar.
"Tukaran semula!" Gopal kemudian kembali merubah roti tersebut menjadi cangkir kaca.
"Lakukan lagi, lakukan lagi!" seru Bubbles bersemangat.
"Jadi kau bisa mengubah semua benda menjadi makanan?" tanya Buttercup.
"Bukan hanya makanan, tapi berbagai macam benda. Tapi, aku memang lebih suka mengubah mereka menjadi makanan," jawab Gopal sambil tertawa.
"Hmm…kalo begitu coba ini," Buttercup menyodorkan bola kasti yang sejak tadi disimpan di bajunya.
"Oke. Tukaran makanan!" Gopal kemudian merubah bola tersebut menjadi donat cokelat dengan isian vanilla.
"Keren, dan rasanya juga enak!" Buttercup yang kegirangan langsung memakan donat tersebut dalam sekali suapan.
"Hey, aku juga mau! Gopal, buatkan aku shortcake stroberi~" pinta Bubbles.
"Oke…tapi benda apa?" tanya Gopal.
"Ini, ini saja!" Bubbles dengan antusias menyerahkan sebuah balok berbentuk segitiga yang merupakan salah satu mainannya.
"Tukaran makanan!" Gopal kemudian merubah balok tersebut menjadi sepotong kue stroberi dengan hiasan krim kocok dan buah stroberi.
"Mmm~ terima kasih Gopal~" Bubbles dengan ceria langsung memakan kue nya, dan hal itu tentu saja membuat Gopal jadi semakin gemas dengan gadis kecil yang imut tersebut.
"Aku juga, Gopal. Tolong buatkan aku pancake," Blossom ikut menyerahkan sebuah piring kaca berwarna putih pada Gopal.
"Oke…tukaran makanan!" Blossom kemudian langsung menyambut pancake miliknya dengan sukacita.
"Terima kasih, Gopal," ucap Blossom dengan seulas senyum manis.
"Hehehe, sama-sama," Gopal merasa senang, karena kelihatannya anak-anak super tersebut mulai menyukainya.
"Kalo kau ada disini, kelihatannya kita tidak perlu khawatir akan kelaparan lagi," ucap Buttercup sambil menjilati tangannya yang berlumuran cokelat.
"Benar~ kita bisa makan kue sepuasnya," timpal Bubbles dengan mulut penuh krim.
"Sebenarnya keseringan makan makanan manis itu tidak baik, tapi memang benar kekuatanmu ini sangat bermanfaat, Gopal," komentar Blossom yang masih sibuk mengunyah pancake nya.
"Anak-anak, jangan memanfaatkan kekuatan Gopal seenaknya. Kalian tidak mungkin mau memakan se-isi rumah bukan?" Utonium yang sejak tadi mendengarkan percakapan ketiga anaknya bersuara.
"Iya, professor~" sahut ketiga anaknya dengan patuh.
Tet tet tet…
"Suara apa itu?" tanya Gopal yang mendengar suara semacam alarm dari lantai atas.
"Itu saluran Powerpuff!" seru Bubbles.
"Kelihatannya sedang ada masalah di kota, ayo kita pergi, teman-teman," Blossom yang sudah menghabiskan pancakenya segera terbang menuju menuju lantai atas diikuti oleh kedua saudarinya.
"Saluran Powerpuff itu apa?" tanya Gopal pada Utonium yang masih sibuk dengan penelitiannya.
"Oh, itu adalah panggilan darurat dari Walikota via telepon rumah. Jika telepon itu berbunyi, artinya sedang ada aktivitas criminal atau serangan monster di kota, dan itu sudah tugas mereka bertiga untuk menghentikannya," jelas Utonium tanpa menoleh.
"Monster…?" Gopal bergumam pelan.
Sedetik kemudian, seberkas cahaya perpaduan pink, biru, dan hijau muncul dihadapan Gopal dan membuat mata pemuda India itu kembali berkunang-kunang.
"Hey, Gopal. Kau mau ikut kami menghadapi monster?" ajak Buttercup semangat.
"H-hah? Monster? Err…sebaiknya aku disini saja, aku tidak mau mengganggu, hehehe…" sahut Gopal kikuk.
"Oh, ayolah…kau kan superhero juga. Ini pasti menyenangkan," Buttercup menarik tangan kiri Gopal.
"Iya, kau bisa mengubah monsternya menjadi jelly raksasa~!" Bubbles ikut menarik tangan kanan Gopal.
"E-eh? Tapi…tapi aku…" Gopal mulai merasa takut.
Melawan monster raksasa?
Dirinya tidak mungkin melakukan itu sendirian.
"Well, kelihatannya aku juga ingin melihat kehebatan kekuatanmu, jadi kurasa tak masalah," Blossom juga akhirnya memegang kerah baju bagian belakang Gopal.
"Err, Professor…?" panggil Gopal, berharap ayah dari tiga gadis cilik super tersebut mau menolongnya.
"Ah, pergilah, Gopal. Jangan khawatir, anak-anak akan melindungimu," Utonium hanya menyahut santai tanpa menoleh. Kelihatannya tidak terlalu fokus dengan percakapan ketiga anaknya tadi.
"Heeh?" Gopal hanya bisa gemetar dan panic begitu ketiga gadis kecil tersebut sudah menyeretnya menuju kota untuk mengalahkan monster tersebut.
0~0~0~0~0
Singkat cerita, kini para Powerpuff Girls sibuk menghajar monster raksasa berwarna biru yang kelihatan seperti jelly tersebut sedangkan Gopal hanya terpaku di pinggir jalan melihat betapa besarnya ukuran monster tersebut, tapi kelihatannya hal itu tidak menjadi masalah bagi ketiga anak-anak yang sibuk melayang tersebut.
"Dia bahkan lebih besar dari Koko Jambul," Gopal hanya mundur ketakutan, merasa menyesal karena tadi sudah membesarkan ceritanya sebagai superhero di Pulau Rintis.
"Gopal, dia menembakkan lendir ke arahmu!" teriak Blossom.
"Hah? Ah! T-tukaran krim puff!" Gopal reflek menghindar sambil mengubah lendir berwarna biru tersebut menjadi krim lembut yang biasa ada didalam pastry.
"Waah…krim puff~" Bubbles kembali berbinar.
"Fokus, Bubbles! Kau bisa mendapatkan krim kocokmu setelah ini selesai!" teriak Buttercup yang sibuk menembaki tubuh si monster dengan lasernya.
"Kekuatan Gopal sangat hebat, sayangnya dia tidak bisa terbang…" gumam Blossom yang sibuk memperhatikan bagaimana Gopal menghindari dan mengubah semua lendir yang mengarah padanya menjadi makanan.
"Baiklah semuanya, kita selesaikan ini dengan cepat agar kita bisa kembali ke rumah," ucap Blossom kemudian.
"Dan memakan krim puff!" sambung Bubbles semangat.
"Oke! Mari kita lakukan," seru Buttercup dengan semangat.
Ketiga gadis kecil tersebut kemudian saling berpegangan tangan, kemudian berkosentrasi.
Samar-samar percikan cahaya berwarna pink, biru, dan hijau menguar dari tubuh mereka.
"Astaga…" Gopal hanya bisa memandang takjub kejadian dihadapannya tersebut.
"HYAAAH!" mereka membuka mata secara bersamaan, kemudian muncullah seberkas cahaya putih yang menyilau pandangan.
Cahaya tersebut langsung menghantam si monster hingga makhluk berwarna biru muda tersebut tak sadarkan diri.
"Yes! Kita berhasil!" sorak Bubbles yang tampaknya paling bahagia karena sebentar lagi dirinya akan memakan krim puff.
"Woy! Monster itu bisa menghancurkan pemukiman!" teriakan Gopal kembali mengalihkan perhatian para Powerpuff.
"Astaga! Benar juga, kita tidak memperhatikan dimana monster itu berdiri tadi!" Blossom panik seketika.
"Oke, ayo kita tahan dia sebelum dia mengotori gedung-gedung dengan lendir menjijikkannya!" seru Buttercup kemudian segera melesat menuju si monster yang sebentar lagi akan mendaratkan tubuhnya diantara gedung-gedung Townsville.
"Haruskah aku mengubahnya menjadi jelly…?" gumam Gopal yang baru saja mau beranjak dari tempatnya, tapi kemudian Gopal kembali terdiam karena merasa kedinginan.
"H-hey…kenapa tiba-tiba udara menjadi dingin? Disini masih musim panas kan?" gumamnya sambil menggosokkan kedua tangannya.
"Buttercup! Apa yang terjadi?" Bubbles dan Blossom yang baru saja menghampiri Buttercup menatap bingung ke arah saudari hijau mereka yang hanya terdiam ditempatnya.
"Coba lihat," Buttercup menunjuk si monster yang sudah tidak sadarkan diri, tetapi tubuhnya tidak menimpa bangunan Townsville karena saat ini tubuh monster tersebut ditahan oleh semacam balok es raksasa yang menguarkan hawa dingin di sekitarnya.
"Blossom?" Bubbles menatap saudari tertuanya dengan maksud meminta jawaban.
"Bukan aku, teman-teman. Aku kan baru datang," jawab Blossom yang sudah paham maksud Bubbles.
Itu karena diantara mereka bertiga, hanya Blossom satu-satunya yang bisa mengeluarkan es dari mulutnya.
"Tunggu sebentar, es…?" dengan terburu-buru, Gopal segera berlari menghampiri tempat kejadian.
"Hah…berisik sekali. Orang lagi tidur juga…" seorang remaja berpakaian serba biru muda bergumam malas. Sebelah tangannya yang tertutupi es perlahan membekukan monster tersebut sampai akhirnya seluruh tubuh si monster terlapisi balok es.
"Astaga…" kaget Bubbles.
"Siapa…itu?" gumam Blossom tak percaya.
"Ice…? Tunggu dulu...Ice! Itu kau kan?" panggil Gopal pada anak yang wajahnya tertutupi topi tersebut.
"Hmm? Gopal…?" si pemilik nama mengusap kedua matanya untuk memfokuskan pandangannya.
"Benar…kau benar Ice!" seru Gopal kegirangan, merasa bersyukur karena ternyata dirinya bukanlah satu-satunya yang terdampar di kota ini.
"Kenapa kau bisa disini? Kau darimana?" tanya Gopal setelah berhasil meredakan rasa senangnya.
"Ah, aku tadi terbangun di gang sebelah sana, kemudian aku pindah tempat di dekat tempat sampah anorganik untuk tidur," jawaban Boboiboy Ice tersebut membuat Gopal sweatdrop.
"Kau ini benar-benar…tapi sudahlah. Setidaknya sekarang aku menemukanmu," desah Gopal.
"Gopal, itu siapa?" tanya Blossom yang baru saja kembali bersama kedua saudarinya setelah memindahkan monster beku akibat ulah Ice tadi ke laut.
"Oh, semuanya…perkenalkan, ini Boboiboy Ice tapi panggil saja Ice. Dia teman baikku…yang kelihatannya ikut berteleportasi bersamaku," jawab Gopal.
"Mmm, Gopal? Mainan barumu? Kau beli dimana?" tanya Ice.
"Hey! Sembarangan saja kalo ngomong," protes Buttercup yang tidak terima dibilang mainan.
"Seorang pengendali es? Keren!" Bubbles malah terlihat sangat antusias melihat remaja bermata biru muda tersebut yang sedikit tersamarkan akibat tertutupi lidah topinya.
"Mereka bukan mainan, Ice. Aku tau mereka memang terlihat lucu, tapi mereka ini superhero di kota ini. Umm…kalo tidak salah, mereka itu Powerpuff Girls," jelas Gopal.
"Hee…menarik sekali," komentar Ice santai. Seandainya saja dirinya punya ponsel, mungkin ketiga gadis kecil dihadapannya ini sudah dipotretnya untuk kenang-kenangan.
"Aku Blossom, dan itu kedua saudariku, Bubbles dan Buttercup. Bagaimana kalo kau juga ikut dengan kami? Saat ini ayah kami sedang mencoba untuk membawa kalian kembali ke tempat asal kalian," ucap Blossom.
"Baiklah. Hoaam~ aku juga merasa lelah sih," sahut Ice sambil menguap.
"Lelah? Kau bahkan baru bangun tidur," Gopal hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah ajaib salah satu pecahan sahabatnya tersebut.
"Baiklah kalo begitu, ayo kita berangkat! Dan jangan lupa krim puff untukku ya, Gopal~" seru Bubbles sambil memeluk leher Gopal dengan kedua tangan kecilnya.
"Iya,iya..." Gopal hanya menghela napas. Kelihatannya apa yang diinginkan Bubbles akan sulit untuk tidak dikabulkan.
"Sebaiknya kau jelaskan lebih lanjut apa yang terjadi, Gopal," ucap Ice.
"Baiklah. Tapi kau sendiri juga harus menjelaskan banyak hal terutama mengenai kenapa kau tidak hilang ingatan," sahut Gopal.
"Aku tidak tau soal itu…tapi kelihatannya diriku yang lain juga mengalami hal yang sama. Ya sudahlah," desah Ice sambil membetulkan hoddie jaket yang menutupi kepalanya.
0~0~0~0~0
"Oh, astaga…" Professor Utonium menatap takjub remaja bertopi biru muda yang katanya 'ditemukan' oleh Gopal dan anak-anaknya tersebut.
"Jadi…kamu temannya Gopal?" tanya Utonium.
"Ya. Aku Boboiboy Ice," ucap Ice dengan datar.
"Oke…nama yang unik. Kata anak-anak, kamu bisa mengendalikan es?" tanya sang professor lagi.
"Ya. Itu elemenku," jawab Ice masih dengan ekspresi yang sama.
"Ini menarik…baiklah, aku akan berusaha semampuku untuk bisa membawa kalian kembali ke dunia asal kalian, jadi kamu tidak keberatan menunggu bukan?" ucap Utonium.
"Tidak masalah. Ah, tapi aku bisa numpang istirahat disini kan? Aku lelah…" sahut Ice sambil menguap.
"Ya, kamu bisa ikut dengan anak-anakku. Biar mereka yang mengantarmu," jawab Utonium.
"Mmm…oke," Ice dengan malas berbalik kemudian berjalan menyusul ketiga gadis kecil yang kini melayang menuntun Ice menuju kamar mereka.
"Ahahaha…maaf ya, Professor. Ice memang seperti itu…karena emosi yang diwakilinya," jelas Gopal gugup.
"Tidak apa-apa. Tapi apa maksudmu emosi yang diwakilinya?" tanya Utonium.
"Yah…sesungguhnya dia itu adalah salah satu dari persona sahabat baikku, Boboiboy. Boboiboy itu memiliki kekuatan elemen dan juga berpecah menjadi beberapa persona yang berbeda, dan masing-masing personanya itu mewakili satu elemen dan juga kepribadian, dan Ice adalah salah satunya. Dia mewakili emosi ketenangan dan elemen air serta es," jelas Gopal.
"Wow, menarik sekali…aku jadi ingin bertemu dengan dirinya yang lain," komentar Utonium.
"Yah, sayangnya keempat persona lainnya juga terdampar entah dimana. Jadi semakin cepat kita keluar dari sini, akan semakin baik," ucap Gopal.
"Kalo begitu jangan cemas, Gopal. Serahkan saja padaku," Utonium menepuk bahu Gopal sekilas kemudian kembali berkutat dengan penelitiannya.
"Sebenarnya, apa yang sedang anda lakukan?" tanya Gopal.
"Aku sedang mencoba untuk membuat mesin yang serupa, sayangnya aku tidak pernah melihat senjata alien itu secara langsung jadi tidak tau apa komponen dasarnya tapi..." Utonium berpikir sejenak kemudian kembali menatap Gopal.
"Menurutmu, benda apa yang memiliki potensi menjadi perantara perpindahan objek?" Gopal hanya mengerjapkan matanya, tanda tidak mengerti.
"Err…maksudku, yang kelihatannya pantas untuk menjadi bahan dasar mesin teleportasi. Benda sederhana saja," jelas Utonium lagi.
"Mmm…entahlah. Aku bahkan tidak sempat memperhatikan senjata Adu du waktu itu…" Gopal mencoba mengingat-ngingat bentuk dari teleporter milik alien hijau tersebut meski sayangnya yang diingatnya mengenai alat itu hanyalah bentuk kepala naganya saja.
"Arrrgh! Tidak bisa…aku tidak tau, Professor. Lagipula aku ini tidak berbakat untuk hal-hal berbau sains," desah Gopal sambil mengacak rambutnya.
"Umm, tidak apa-apa, Gopal. Aku rasa wajar untuk anak seusiamu," hibur Utonium, menjadi tidak enak karena mendadak Gopal menjadi rendah diri karena pertanyaannya.
"Hah…sudahlah, Professor. Tapi aku memang bukan ahli soal ini…bahkan setiap kali aku menatap diriku sendiri di cermin, aku selalu merasa malu dengan wajahku yang selalu memasang tampang 'tidak jenius'…" gumam Gopal suram.
"Oh, Gopal…kamu tidak seharusnya…tunggu sebentar," Utonium yang berniat menghibur Gopal langsung terdiam.
"Cermin. Itu dia! Cermin adalah jawabannya!" seru Utonium sambil menjentikkan jarinya.
"Terima kasih, Gopal. Sekarang ayo kita temui anak-anak dan menjelaskan semuanya," seru Utonium sebelum berlari menuju lantai dua tepatnya kamar anak-anak supernya.
"Wow…aku baru saja memberikan inspirasi kepada seorang professor…?" Gopal cengengesan kemudian menyusul sang professor ke lantai dua.
0~0~0~0~0
Sementara itu, di markas kotak Adu du.
Tampak Adu du yang sibuk mengutak-atik mesin teleportasi miliknya dibantu oleh Ochobot yang melayang kesana-kemari mengambil beberapa perkakas yang dibutuhkan.
Komputer Adu du juga tampak sibuk menganalisa situasi di Pulau Rintis sambil sesekali membantu bosnya dengan memberi penjelasan di beberapa bagian teleporter, serta kambing S9000 masih sibuk dengan rumput yang entah kapan habisnya itu.
"Huft…" Boboiboy Gempa, satu-satunya yang tidak mengalami kesibukan hanya duduk termenung di meja makan Adu du.
Penjelasan si alien mengenai dirinya dan pecahan yang lainnya menjadi satu individu sejati membuatnya gundah.
Bagaimana jika mereka tidak bisa bersatu kembali meski berhasil bertemu?
Bagaimana jika mereka harus hidup seperti ini selamanya?
Bagaimana dengan nasib Tok Aba yang harus hidup dengan cucu tambahan?
Bagaimana jika mereka berkembang dan berevolusi menjadi sosok yang berbeda?
Bagaimana jika kehadiran mereka membuat diri Boboiboy yang sesungguhnya lenyap?
Gempa menggelengkan kepalanya dengan cepat, berusaha menghapus bayangan gila yang menghantui pikirannya.
"Gempa, kau tidak apa-apa? Kau merasa tidak enak badan?" tanya Ochobot yang memutuskan untuk menghampiri sahabatnya yang berelemen tanah tersebut.
"Oh, tidak apa-apa kok. Hanya saja…aku terus kepikiran dengan nasib yang lainnya," jawab Gempa pelan.
"Astaga, kau itu…hanya karena kau tidak berteleportasi, bukan berarti kau juga aman-aman saja, Gempa. Daripada bengong disini, kenapa kau tidak membantu komputer Adu du memantau situasi?" ucap Ochobot yang mulai jengah.
"Err…oke. Semoga saja aku bisa membantu…" sahut Gempa pasrah kemudian beranjak menuju monitor tempat komputer bekerja.
"Ochobot, aku baru saja membeli suku cadang tambahan untuk menyempurnakan Dragosioner ini. Bagaimana menurutmu?" tanya Adu du sambil mengeluarkan dua buah benda kecil mirip sayap naga berwarna abu-abu dan meletakkannya di atas meja.
"Mmm…benda kecil ini kelihatan biasa, tapi jika ini berpengaruh untuk teleporter itu, artinya ada sesuatu di dalamnya. Kita tidak bisa memasangnya sembarangan," jelas Ochobot dengan kedua mata birunya memperhatikan kedua benda tersebut dengan seksama.
"Bago go bilang, jika senjata ini sempurna, kita bisa mengatur dan menentukan kemana kita akan pergi, bahkan ke lubang hitam sekali pun," ucap Adu du.
"Err…jika sehebat itu, aku tak yakin jika ini akan simple untuk…oh tidak…" kedua mata Ochobot membulat sempurna.
"Kenapa, Ochobot? Ada yang kurang?" tanya Adu du.
"Bukan itu, tapi…aku baru ingat sesuatu. Aku tau ada yang tidak beres dengan senjata ini dan...astaga!" Ochobot mulai panic.
"Jelaskan, Ochobot! Ada apa?!" desak Adu du yang ikut merasa panic.
"Kau tau, kenapa teleportasi itu sangat diinginkan oleh banyak makhluk di dunia ini? Itu karena teleportasi adalah kuasa terkuat yang mampu membuat kita melakukan apa saja dan dimana saja! Dan jika mesin yang belum sempurna itu diaktifkan maka…"
"Bos!"
Panggilan dari komputer memotong penjelasan Ochobot.
"Ada apa, komputer? Kau tidak lihat kami sedang sibuk?" sahut Adu du kesal.
"Maaf, bos. Aku hanya mau bilang…ada yang aneh dengan Pulau Rintis," ucap komputer.
"Aneh? Maksudnya?" tanya Adu du.
"Ya. Aku tidak ingat pernah ada unta di Pulau Rintis," ucap Gempa dengan sebelah tangan menggaruk tengkuknya.
"Karena memang tidak pernah ada. Komputer, coba kau periksa lokasi lain," pinta Ochobot.
Komputer menuruti, kemudian mengarahkan kamera pemantau ke sudut Pulau Rintis yang lain.
"Kedai Tok Aba…?" Gempa hanya bisa menganga melihat bagaimana Tok Aba sibuk membereskan barang-barang di kedainya. Kakek dari Boboiboy tersebut terpaksa tutup lebih awal karena daerah disana mendadak dihuni oleh sekumpulan gladiator.
"Aku akan pergi menemui Atok dulu. Kalian…"
"Disini berita cuaca, kami melaporkan ada kejadian aneh dimana salju turun di Pusat kota, sedangkan di daerah perkebunan sendiri malah muncul banyak cairan panas yang diketahui terbuat dari susu cokelat," laporan dari berita yang ditayangkan komputer tersebut kembali membuat Gempa beserta Adu du dan Ochobot melongo.
"Dan oh! Daerah Sekolah Rendah Pulau Rintis kini dipenuhi oleh ratusan makhluk yang tidak diketahui asal usulnya!" kamera, beralih ke sekolah dimana Boboiboy dan teman-temannya menuntut ilmu.
Bangunan itu memang kini dikuasai makhluk-makhluk aneh yang seperti perpaduan binatang dan manusia.
Dengan kata lain, monster.
Tampak Papa Zola sibuk lari kesana-kemari sambil mengamankan dokumen-dokumen yang diketahui adalah hasil ulangan matematika dari anak-anak murid kebenarannya.
"Ini kacau! Apa yang telah terjadi dengan Pulau Rintis…?" ucap Gempa tak percaya.
"Bukan hanya Pulau Rintis," komputer menyalakan monitor utama, menunjukkan beberapa berita dari berbagai belahan Negara lain.
"Piranha berjalan di Amazon, dinosaurus membuat kekacauan di San Fransisco, orang-orang era 80-an di Italia, Unicorn di Africa, Pixie dan Pegasus di Jerman dan…mesin-mesin balik menyerang warga di Tokyo," jelas komputer.
"Apa yang…" Gempa semakin bingung dengan situasi yang saat ini dihadapinya.
"Ini yang aku takutkan!" jerit Ochobot panic.
"Apa maksudmu?" tanya Gempa.
"Ingatlah, mesin teleporter yang diaktifkan itu belum sempurna, selain memindahkan yang lainnya ke dunia yang berbeda serta memiliki kemungkinan telah memisahkan kau dan pecahan yang lain, teleporter itu juga membawa efek untuk dunia kita," jelas Ochobot.
"Maksudnya…anomali dimensi?" tanya Adu du ragu.
"Sejenis itu lah. Karena teleporter itu diaktifkan, portal teleportasi terbuka disembarang tempat, waktu, dan dunia, membuat seluruh makhluk hidup berpotensi untuk mendatangi dunia ini," jelas Ochobot.
"Sekarang ini masalah…" komentar Gempa tidak percaya.
"Astaga…Adu du! Kita harus cepat membetulkan benda mengerikan ini dan menyudahi masalah ini sebelum semua objek di seluruh dunia berpindah ke sini," jelas Ochobot semakin panik.
"Baiklah, baiklah. Tenanglah, Ochobot…panic tidak akan membuahkan hasil apapun. Sekarang aku akan pergi menjemput Tok Aba, dan saat aku kembali, aku harap kalian sudah menemukan solusi terbaik," ucap Gempa.
Meskipun berusaha menenangkan Ochobot, Gempa sendiri sebenarnya juga sangat panic, namun remaja bertopi terbalik tersebut tetap berusaha untuk berkepala dingin seperti biasa.
"Dan kita harus cepat. Ayo, Adu du," Ochobot menarik tangan Adu du, mengabaikan ocehan dari si alien kotak mengenai tangannya yang lecet.
"Huft…sebaiknya aku cepat sebelum Atok kenapa-kenapa," Gempa menciptakan Golem Tanah, dan dengan kecepatan penuh, Boboiboy berelemen tanah tersebut langsung melesat menuju kedai Tok Aba sambil berdoa semoga tidak ada hal aneh yang menghadangnya kali ini.
0~0~0~0~0
July, 2001, Townsville, U.S.A. 15.20.P.M.
"Hah? Cermin?" para Powerpuff Girls berucap bersamaan sambil menatap sang ayah dengan wajah penasaran.
"Ya. Dengan cermin, ada kemungkinan aku bisa mengaktifkan portal teleportasi dimensi, seperti yang kalian lakukan waktu itu," jelas Utonium.
"Uh…entahlah, Professor. Terakhir kali kami menuju dunia pararell, kami malah menuju Vilestown…dan membuat para Powerpunk Girls melarikan diri ke dunia ini," ucap Blossom ragu.
"Power…punk Girls?" tanya Gopal tak mengerti.
"Biar kutebak, versi lain dari kalian?" sambung Ice yang beberapa menit lalu terbangun akibat teriakan sang Professor.
"Tepat sekali. Mereka sama seperti kita, hanya saja…mereka jahat!" jelas Bubbles dengan wajah yang dibuat seseram mungkin, meski gagal tentu saja.
"Ya. Berserk, Brat, dan Brute…mereka dibuat dari campuran garam, cuka, dan segala bahan yang buruk. Mereka adalah kebalikan dari kami," sambung Blossom.
"Dan pertama serta terakhir kali mereka ke sini, Townsville benar-benar hancur karena mereka," Buttercup ikut berkomentar dengan kesal.
"Benarkah…?" Gopal tidak percaya, makhluk imut seperti mereka menjadi jahat dan melakukan hal kejam seperti alien-alien yang diketahuinya.
"Makanya, kami tidak bisa membuka portal dimensi lagi, professor," ucap Blossom.
"Jangan khawatir, kali ini, aku akan memperkirakan semuanya. Yang harus kita lakukan adalah menemukan saat yang tepat untuk mengaktifkan portal tersebut," ucap Utonium yang paham dengan perasaan ketiga anaknya tersebut.
"Professor kenal dengan Powerpunk Girls?" tanya Ice.
"Yah…saat mereka terdampar disini, aku mengira mereka anak-anakku, sampai akhirnya mereka mengusirku dari kamar dan pergi menghancurkan kota," jelas pria berjas putih tersebut.
"Oke, kita tidak bisa menambah kemungkinan buruk lagi. Kita pokoknya harus bisa keluar dari sini," tukas Gopal ketakutan.
"Ya. Aku juga…merasa tidak enak," gumam Ice.
"Hah? Kau merasakan sesuatu?" tanya Gopal.
"Entahlah…mungkin hanya efek kurang tidur atau sejenisnya. Selama menjadi satu Boboiboy, aku bisa mendapatkan banyak waktu tidur jadi mungkin…aku tak terbiasa dengan ini," gumam Ice lagi.
Gopal kini menatap sahabat bertudungnya tersebut tak percaya.
"Ice…kau…" Gopal ingin sekali berkomentar, tapi mendadak dirinya tidak tau mau berkata apa.
Yang pasti, saat ini Gopal berpikir tidak seharusnya pecahan dari Boboiboy berkata seperti itu.
"Oke, tenang saja, anak-anak. Sebagai seorang ilmuwan, aku berjanji akan menuntaskan masalah ini. Jadi, Powerpuff Girls, mau membantuku?" tukas Utonium sambil menyamakan tingginya dengan ketiga gadis kecilnya.
"Siap, Professor!" sahut ketiga anaknya kompak.
"Bagus, ayo kita bekerja," setelah mengelus kepala mereka satu per satu, Professor beranjak kembali menuju laboratoriumnya bersama dengan ketiga anaknya.
"Hah…semoga saja semuanya berakhir baik," desah Gopal kemudian ikut menuju laboratorium, meninggalkan Ice yang hanya terdiam menatap pantulan dirinya sendiri didalam cermin.
"Blaze, Taufan, Halilintar, Gempa…tidak…" Ice berjalan mendekat kemudian menyentuh refleksi dirinya dengan telapak tangannya yang berbalut es.
"Boboiboy…kau dimana…?" gumamnya pelan.
Remaja es tersebut merasa aneh, tapi disaat yang bersamaan juga keadaan tubuhnya baik-baik saja.
Ada yang salah dengan dirinya, dan Ice sangat yakin hal ini bukan disebabkan oleh kurang tidur.
.
.
.
T B C
Se no!
Demo Sonna nja dame, mou sou nanja hora- *dilempar tomat*
Oke…maaf, salah naskah.
Ehm…Hai semua~~~ Ada yang masih ingat sama fict ini? Ahahaha…karena sekarang diriku sudah punya lappy lagi, bisa lanjut ngetik fict lama deh. Senangnya~~~ kalian senang nggak? Nggak? Oke…*pundung*
Ehm, anyway, sebagai permintaan maaf, makanya chapter ini saya buat panjang. Yah…meski ga terlalu panjang dari biasanya sih. Nah, sekarang beberapa pertanyaan sudah terjawab, dan akhirnya scene Ice dan Gopal dimunculin juga. Dan mereka jatuh di….*drum sfx* Powerpuff Universe! Yah, kartun masa kecil ahaha…dan karena dimensi mereka cukup erat dengan yang namanya 'sains' makanya Gopal sama Ice dimasukkan ke sana. *gelindingan*
Chapter selanjutnya? Ga tau sih mau post kapan, karena untuk sekarang saya akan kembali menyusun skejul *cyaah* untuk update fict. Duh…utang saya berkembang biak *cry*.
Baiklah, sampai disini saja, jika ada kritik, saran, atau pertanyaan yang ingin diajukan, silahkan ke kotak review~ ^^
Bye bye~ XD
Review please~
