A/N: *Sedang berbahagia karena dapat buku dan pensil isi baru* Ho, Ho, Ho, HAPPY READING MINNA, Ho, Ho, Ho

Disclaimer: Inazuma Eleven belong to Level-5

Warning: OOC, gaje, abal, nista, genre melenceng, de el el

Suki da you, Ichi-kun!

"Hosh, hosh, hosh, hosh," terdengar suara nafas yang memburu dari seorang remaja laki-laki berwajah tampan dan memakai eye patch yang tengah berlari dengan terburu-buru sambil menggendong ala bridal style seorang remaja laki-laki berwajah cantik dan berambut turquoise yang tak sadarkan diri.

Remaja ber eye patch itu tidak lain adalah Sakuma Jirou, dan remaja yang digendongnya itu tentulah Kazemaru Ichirouta.

Kalian masih ingat kan? Di chapter yang lalu, Ichirouta yang tersesat setelah berlari meninggalkan Jirou yang membentaknya, di culik oleh 3 orang preman dan hampir di *piiip*, untunglah Jirou datang menyelamatkan Ichirouta dan menghajar para preman itu.

Sayangnya Ichirouta sempat dilukai oleh Rei, bos para preman itu, dan akhirnya Ichirouta pun tak sadarkan diri.

Dan sekarang, Jirou tengah dalam perjalanan menuju ke Liocott Hospital agar luka-luka Ichirouta dapat segera ditangani oleh Dokter.

"Ichirouta, bertahanlah! Sebentar lagi kita sampai!" batin Jirou sambil menatap wajah Ichirouta yang pucat.

Setelah 25 menit berlari, akhirnya mereka pun sampai di Liocott Hospital.

"Dokter! Dokter! Tolong Ichirouta!" teriak Jirou begitu melihat seorang Dokter yang akan masuk ke gedung Liocott Hospital.

"Ya ampun, apa yang terjadi? Suster!" Dokter yang kaget melihat Ichirouta dalam keadaan terluka pun langsung memanggil para suster dan menyuruh mereka mengambil tempat tidur pasien (tempat tidurnya itu punya roda, jadi bisa dibawa kemana-mana).

Jirou pun menidurkan Ichirouta di atas tempat tidur itu lalu mengikuti Dokter dan para Suster yang membawa Ichirouta ke ruang UGD.

Begitu sampai di depan ruang UGD, Dokter dan para Suster langsung membawa Ichirouta masuk, sementara Jirou harus menunggu diluar.

"Suster! Ambilkan kapas dan alcohol!" perintah Dokter yang tengah memeriksa Ichirouta.

"Ini Dok!" seru salah seorang Suster sambil memberikan yang di minta Dokter.

"Sepertinya tulang pipi nya mengalami masalah, cepat periksa dengan rontgent!" perintah Dokter lagi.

"Baik!" seru para Suster.

Sementara Dokter dan para Suster tengah sibuk menangani Ichirouta, Jirou menunggu diluar UGD dengan perasaan cemas dan takut.

Cemas memikirkan keadaan Ichirouta, dan takut… kehilangan Ichirouta…

"Kumohon, kumohon, tolong selamatkan Ichirouta! Kumohon, untuk kali ini saja, kabulkanlah do'a ku ini Tuhan!" batin Jirou sambil meneteskan air mata yang berisi ketakutan… ketakutannya… kehilangan "lagi" orang yang dicintainya…

XxSuki da youxX

Satu jam pun berlalu… tapi Ichirouta belum juga selesai di tangani oleh Dokter, hal itu membuat Jirou bertambah cemas.

"Kenapa… kenapa kau tidak mengabulkan do'a ku Tuhan…? Apakah… kau ingin menghukumku? Atas dosa yang telah kulakukan…"

*Sakuma Jirou Flashback*

"Apa-apaan ini? Kenapa peringkatmu turun? Padahal kau sudah mengikuti berbagai macam les pelajaran, kenapa peringkatmu malah semakin turun?" bentak seorang laki-laki berumur 31 tahun, berambut hijau pudar, dan bermata merah, dialah Sakuma Jin, pemilik perusahaan AKAISHI Corp. yang merupakan Perusahaan Arsitektur terkenal di seluruh Jepang.

"Gomennasai Otou-sama, Honto ni Gomennasai, saya akan belajar lebih giat lagi agar dapat meraih peringkat 1, saya janji," kata seorang anak laki-laki berumur 8 tahun yang berwajah manis dan berambut warna hijau pudar seperti Jin, anak itu bernama Sakuma Jirou, putra tunggal Sakuma Jin sekaligus penerus perusahaan AKASHI Corp.

"Cih, bocah tak berguna! Apa ini balasanmu setelah aku memberimu semua yang kau inginkan? Baju, mainan, makanan, apa lagi yang kurang? Dasar tak tau diri! Kembali ke kamarmu! Aku tau mau melihat wajahmu!" bentak Jin sambil mendorong anak semata wayangnya itu hingga terjatuh.

"…" tanpa mengatakan apapun, Jirou berdiri dari posisinya yang dalam keadaan jatuh terduduk, membungkuk hormat pada ayahnya, lalu berjalan pergi ke kamarnya.

"Huh! Apa-apaan dia itu! Dia pikir satu-satunya yang kubutuhkan hanya harta? Kalau mau peringkatku naik, sering-seringlah di rumah dan jangan marah-marah terus! Dasar Ayah tak tau diri!" teriak Jirou sambil memukuli bantalnya lalu melemparnya dengan kasar ke lantai.

"…padahal dulu Otou-sama sangat baik… selalu bermain denganku… membelai rambutku… dan tidak pernah memarahiku… tapi sejak Kaa-chan meninggal… Otou-sama selalu memukuli dan memarahiku…" batin Jirou, ekspresi wajahnya menunjukkan sekali kesedihan dan kepedihan di hatinya…

Sebenarnya, Jin adalah seorang laki-laki yang baik, ramah, dan penuh kasih sayang, tapi sejak kematian Sakuma Sakura, istri yang sangat dicintainya itu, Jin berubah menjadi orang yang gampang marah, suka main pukul, dan membenci orang-orang yang bahagia.

"Kaa-chan… kenapa kau tidak membawaku pergi bersamamu…? Aku… sudah tidak tahan lagi…" akhirnya, sang Sakuma kecil pun menitikkan air matanya, menumpahkan semua kesedihan dan kepedihan yang di alaminya, di tengah malam yang kelam itu…

XxSuki da youxX

"Ingat baik-baik, kalau sampai kau malas-malasan belajar dan mendapatkan nilai jelek, kau takkan kuampuni," ancam Jin dengan wajah kesal sebelum dia berangkat ke kantornya.

Sementara Jirou yang tadi diancam pun hanya diam dan menundukkan kepalanya sebelum masuk kedalam mobil mewahnya dan pergi menuju sekolah.

"Jirou-bocchan, jangan pikirkan ancaman Jin-sama, belajarlah dengan rajin hingga kau meraih peringkat 1 dan membuat Jin-sama bangga, saya yakin, Jin-sama pasti akan tersenyum lagi begitu Jirou-bocchan berhasil menjadi nomor 1," hibur Ryuuichi, supir pribadi Jirou.

Kasuga Ryuuichi, umur 25 tahun, berwajah tampan, dengan rambut dan mata berwarna hitam, dan tinggi badan 165 cm, sudah bekerja pada keluarga Sakuma sejak Jirou berumur 1 tahun, saat Jin dan Sakura sedang bekerja, Ryuuichi lah yang menemani Jirou bermain dan menjaga Jirou.

Ryuuichi sudah menganggap Jirou sebagai anaknya sendiri, dan dia rela melakukan apapun demi membahagiakan Jirou, dia juga selalu melindungi Jirou setiap kali dia di siksa Jin, walaupun Ryuuichi-lah yang jadi babak belur karena dipukuli oleh Jin.

Sedangkan Jirou… awalnya, dia menganggap Ryuuichi itu adalah ayahnya, tapi seiring berjalannya waktu… perasaannya terhadap Ryuuichi berubah… menjadi suatu perasaan yang melebihi rasa cinta seorang anak kepada ayahnya… yaitu…

"Iya… arigatou Ryuuichi-san," ucap Jirou sambil tersenyum kecil ke arah Ryuuichi, rasa sedih di hatinya berkurang setelah mendengar kata-kata Ryuuichi yang dia cintai.

Ya… dia cintai… sebenarnya… Jirou jatuh cinta kepada Ryuuichi…

Dia menyadari perasaannya itu saat hari pemakaman Ibunya, hari itu, Jirou terus menangis seharian, tidak mau makan, tidak mau minum, dia terus mengurung diri di kamar.

Tapi Ryuuichi tetap berusaha membujuk Jirou untuk keluar dari kamarnya.

"Jirou-bocchan! Keluarlah! Anda tidak bisa begini terus! Kalau anda terus sedih, Sakura-sama pun akan ikut sedih!" seru Ryuuichi.

"Kalau Kaa-chan tidak mau aku sedih, kenapa dia harus pergi meninggalkan aku? Aku membutuhkan Kaa-chan, tapi Kaa-chan sekarang sudah tidak ada, tidak ada lagi yang membacakan aku buku cerita hingga aku tertidur, tidak ada lagi yang membelai pipiku dengan lembut, tidak ada lagi yang menjagaku saat aku sakit, TIDAK ADA LAGI KAA-CHAN!" teriak Jirou.

"BRAAAAK!"

Jirou terkejut sekali saat tiba-tiba pintu kamarnya di dobrak, dan yang mendobraknya adalah… Ryuuichi…

Ryuuichi berjalan mendekati Jirou, lalu memeluknya erat-erat.

Jirou benar-benar kaget dengan kelakuan Ryuuichi itu, tapi… dia merasa nyaman sekali dalam pelukan Ryuuichi.

"Saya-lah yang akan membacakan anda buku cerita hingga anda tertidur, saya-lah yang akan membelai pipi anda dengan lembut, saya-lah yang akan menjaga anda ketika anda sakit, karena itulah Jirou-bocchan, jangan bersedih terus, saya ada disini, saya akan menjaga dan menyayangi anda dengan sebaik-baiknya, saya berjanji," ujar Ryuuichi sambil membelai lembut pipi Jirou.

Pipi Jirou memerah seketika, jantungnya berdetak cepat, dan wajahnya pun terasa panas…

Jirou pun menyadari… kalau dia… jatuh cinta kepada Ryuuichi...

Saat tengah memandangi pemandangan di luar, mata Jirou menangkap sebuah pemandangan dimana beberapa anak sebayanya tengah bermain sepak bola dengan gembira di sebuah tanah lapang.

"Sepak bola ya… dulu, Otou-sama sering sekali mengajakku bermain sepakbola, bahkan dia mendukung cita-citaku untuk menjadi pemain Sepak bola professional… tapi… sekarang Otou-sama tak memperbolehkanku bermain sepak bola lagi… aku… ingin bermain sepak bola…" batin Jirou sambil menatap sendu anak-anak yang tengah bermain sepak bola itu.

Ryuuichi yang melihat ekspresi sedih Jirou pun ikut jadi sedih karenanya, padahal dulu Jirou adalah anak yang sangat ceria, senyuman tak pernah lepas dari wajahnya, dan saat bermain sepak bola, Jirou tampak sangat bahagia sekali.

Tapi sejak Jin berubah, Jirou tak pernah lagi tersenyum, dan dia selalu menunjukkan ekspresi wajah sedih.

"…Jirou-bocchan, bagaimana kalau besok kita bermain sepak bola?" usul Ryuuichi.

Jirou membelalakkan matanya mendengar usulan Ryuuichi, walaupun dia senang mendengarnya, tapi Jin pasti tidak akan mengijinkannya bermain sepak bola.

"Ta-tapi, Otou-sama kan tidak memperbolehkan aku bermain sepak bola," kata Jirou.

"Kita mainnya diam-diam saja, saya tau sebuah tempat yang bagus untuk bermain sepak bola, dan saya jamin Jin-sama tidak akan mengetahuinya," kata Ryuuichi sambil tersenyum.

Mata Jirou pun langsung berbinar bahagia, bahagia karena bisa bermain sepak bola lagi, dan bahagia karena tau kalau Ryuuichi yang amat dicintainya sangat peduli padanya.

"Un! Besok saja mainnya bagaimana? Aku besok tidak ada les, Otou-sama juga lembur! Jadi bisa bermain sepak bola sepuasnya deh~," ujar Jirou sambil tersenyum ceria.

"Baiklah, besok ya," kata Ryuuichi, dia merasa senang sekali karena dapat melihat senyuman Jirou yang sudah lama tidak dia lihat.

"Ryuuichi-san memang baik sekali, dia selalu mengerti dan membahagiakan aku, aku… benar-benar mencintai Ryuuichi-san…"

XxSuki da youxX

Hari itu, dari pagi sampai sore, Jirou terus belajar mati-matian di sekolah, setelah itu, dia juga harus pergi dari satu tempat les ke tempat les lainnya, itu semua demi mendapatkan peringkat 1…

"Haah… akhirnya pulang juga, benar-benar hari yang melelahkan," keluh Jirou sambil meregangkan tubuhnya yang pegal-pegal karena terus belajar dari pagi hingga sekarang, pukul 7 malam.

"Ahaha, Otsukaresama deshita, Jirou-bocchan, sebagai hadiahnya…" Ryuuichi memberikan sebuah kotak berukuran sedang yang dibungkus oleh kertas kado warna hijau motif daun dan berpita hijau pada Jirou.

Jirou menatap bungkusan yang diterimanya dari Ryuuichi dengan perasaan senang sekali dan bingung.

"Bukalah," kata Ryuuichi sambil tersenyum lembut.

"Blush!" Jirou pun langsung blushing seketika melihat senyuman lembut Ryuuichi, dia pun buru-buru menyembunyikan wajahnya dan membuka kotak itu dengan hati-hati.

"Waah, bola sepak!" seru Jirou sambil memeluk bola sepak berwarna putih-merah dari Ryuuichi itu dengan perasaan bahagia yang tak terkira, bibirnya tersenyum senang, matanya berbinar-binar, dan dia tak henti-hentinya menciumi bola sepak itu.

"Maaf, saya tak bisa membeli bola sepak yang dijual di toko olahraga, jadi saya membeli bola sepak itu dari toko 500 yen, kalau Jirou-bocchan tidak suka tidak apa-apa kok," kata Ryuuichi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Aku tidak peduli, meskipun bola ini hanya seharga 500 yen, yang penting bola sepak ini bisa dimainkan, dan lagi, ini hadiah dari Ryuuichi-san, arigatou Ryuuichi-san!" seru Jirou sambil memeluk Ryuuichi sebagai ucapan terima kasih.

"Sama-sama, saya senang sekali karena saya bisa membuat Jirou-bocchan bahagia, dan saya berjanji akan terus berusaha membahagiakan Jirou-bocchan, janji," ujar Ryuuichi sambil mengulurkan jari kelingkingnya.

Jirou pun menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Ryuuichi, tanda bahwa mereka telah berjanji.

"Nee Ryuuichi-san… kau akan terus menemaniku kan…?" tanya Jirou sambil menatap Ryuuichi dengan tatapan penuh harap.

Ryuuichi tersenyum lembut dan memeluk tubuh kecil Jirou yang amat di sayanginya itu.

"Iya, saya akan terus menemani Jirou-bocchan, dalam keadaan susah maupun senang, saya tidak akan pernah meninggalkan Jirou-bocchan, saya berjanji," ujar Ryuuichi.

Jirou mengeratkan pelukannya pada Ryuuichi, merasakan kehangatan tubuh Ryuuichi, merasakan kasih sayang yang melimpah dari Ryuuichi, Ryuuichi yang dicintainya…

Jirou pun tertidur di pelukan Ryuuichi dengan perasaan bahagia yang tak terhingga…

XxSuki da youxX

"Nilai macam apa ini? Kenapa nilaimu jadi anjlok begini? Padahal aku sudah membayar mahal untuk biaya sekolah, les, dan Guru Privat untukmu! Dasar anak tidak berguna!"

"PLAAAAK!"

Jin menampar keras pipi Jirou hingga Jirou jatuh ke lantai dengan sangat keras, pipinya yang di tampar oleh Jin jadi memar, dan dari sudut sudut bibirnya mengalir darah segar.

"Otou-sama, maafkan aku, kumohon beri aku kesempatan sekali lagi, kali ini aku pasti akan mendapatkan nilai terba-"

"BUAAAAK!"

Dengan kejamnya, Jin menendang tubuh kecil Jirou hingga Jirou terpelanting ke belakang dengan sangat keras dan menyakitkan.

"Uhuk! Uhuk! Akh! Ittai… ittai…" tangis Jirou sambil memegangi dadanya yang terasa sangat sakit akibat di tending oleh Jin.

"Jangan menangis anak bodoh! Cih, dasar tak berguna! Kau memang harus di beri pelajaran yang keras! Ayo ikut!" Jin menarik tangan Jirou dengan kasar dan memaksanya untuk berjalan.

"Tidak… tidak… kumohon Otou-sama, jangan lakukan hal "itu" padaku…" mohon Jirou sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Jin.

"BUUUGH!" dengan kasar, Jin mendorong Jirou masuk ke sebuah ruangan yang gelap dan kotor, dan di dindingnya, tampak banyak sekali alat-alat penyiksaan yang di susun rapi di sebuah rak.

Jin lalu mengikat tangan dan kaki Jirou dengan menggunakan rantai yang terhubung dengan dinding dan mengambil sebuah cambuk.

"Inilah hukuman karena telah mempermalukan keluarga Sakuma…" kata Jin sambil berjalan mendekati Jirou dengan membawa cambuk itu.

"CTAR! CTAR! CTAR! CTAR! CTAR! CTAR!" Jin mencambuki tubuh kecil Jirou yang tak berdaya dengan membabi buta tanpa belas kasihan sama sekali.

Ekspresi wajahnya terlihat senang sekali saat Jirou menangis dan berteriak kesakitan.

"AKH! AKH! YAMETTE! AKH! OTOU-SAMA YAMETTE! AKH! AKH! AAAAKH!" Jirou benar-benar kesakitan saat itu, sekujur tubuhnya terluka, banyak yang lukanya sampai mengeluarkan darah, tubuhnya terasa panas dan perih, dan pikiran Jirou hanya tertuju pada satu hal…

Kematian…

"…Gomen ne Ryuuichi-san… besok aku tidak bisa bermain sepak bola denganmu… dan untuk selama-lamanya pun, aku takkan bisa bermain sepak bola dengan Ryuuichi-san lagi… Ryuuichi-san… terima kasih karena kau telah memberikanku kasih sayang yang tak terhingga… maafkan aku karena pergi begitu saja… tapi jangan khawatir Ryuuichi-san… Kaa-chan akan menemaniku "di sana", gomen Ryuuichi-san… Sayonara…"

"Aishiteru…"

Perlahan-lahan, pandangan mata Jirou mulai kabur, dia makin kesulitan bernafas, dan kesadarannya hampir hilang…

Saat mata Jirou mulai tertutup…

"Hentikan Jin-sama! Jangan lukai Jirou-bocchn!" teriak seseorang yang sangat Jirou kenal dan juga dicintai nya… Jirou mengangkat wajahnya, lalu tersenyum senang melihat orang itu.

"Ryuu..ichi..-san..."

"Supir rendahan! Mau apa kau kesini? Jangan campuri urusan keluargaku! Kau tak punya hak untuk itu! Pergi!" bentak Jin yang murka karena kegiatannya terganggu gara-gara kedatangan Ryuuichi.

"Aku memang bukan keluargamu, tapi aku sudah menganggap Jirou-bocchan seperti keluargaku sendiri, takkan kubiarkan kau menyakiti keluargaku!" teriak Ryuuichi sambil berlari menerjang Jin.

"Heh… berani juga kau ya? Kalau begitu… PERGILAH KE ALAM BAKA!" Jin menyerang Ryuuichi dengan menggunakan cambuknya, tapi Ryuuichi berhasil menghindar.

Ryuuichi lalu mengambil rantai panjang yang ada di rak dan menyerang Jin dengan rantai itu.

"Cih, dasar supir rendahan tak tau diri! Padahal aku sudah memberimu yang dulu pengangguran itu pekerjaan, dan ini balasanmu? Tak tau diri! Aku tak butuh orang seperti kau! Akan kuhabisi kau dengan tanganku sendiri! Lalu aku akan menghabisi nyawa bocah tak berguna itu!" teriak Jin, dia lalu melilitkan cambuknya ke leher Ryuuichi dan mencekiknya dengan keras.

"AKH! Akh… kkh… J-Jirou-bocchan… AAKH!" Ryuuichi terdesak, tubuhnya melemah karena kehabisan nafas, lehernya sakit, dan matanya berkunang-kunang.

"Ryuuichi-san… Ryuuichi-san…" tangis Jirou saat melihat Ryuuichi yang tidak berdaya.

"Kkh… aku harus… menyelamatkan… Jirou-bocchan… kkh… AAAAAARGH!" dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, Ryuuichi mencengkram cambuk yang melilit lehernya, dan melepaskannya.

"A-apa? Kurang ajar!" Jin pun kembali menyerang Ryuuchi dengan cambuknya.

Tapi dengan mudahnya, Ryuuichi menangkap tali cambuk itu dan merebutnya dari Jin, lalu Ryuuichi berlari dengan kencang ke arah Jin dan menendang bagian belakang kepalanya dengan sangat keras.

"BUAAAAK!"

"AAAAAKH!" teriak kesakitan Jin, dia pun jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri dengan kepala berdarah.

"Jirou-bocchan!" Ryuuichi langsung berlari ke arah Jirou dan melepaskan rantai di tangan dan kakinya.

"Hiks… hiks… Ryuuichi-san… syu-syukurlah kau baik-baik saja… hiks… kalau sampai… terjadi apa-apa padamu… hiks… aku… aku… HUWEEEEEEE!" Jirou pun menangis sekencang-kencangnya sambil memeluk erat tubuh Ryuuichi.

Ryuuichi pun balas memeluk Bocchan nya itu, membelai lembut rambutnya, dan mengecup lembut keningnya.

"Aku tidak akan pernah meninggalkan Jirou-bocchan, aku takkan membiarkanmu kesepian, aku akan terus melindungimu, Jirou-bocchan, kita akan terus bersama selamanya…" ujar Ryuuichi sambil tersenyum lembut.

"Ryuuichi-san… Ryuuichi-san… Suki da you, Ryuuichi-san... jangan pernah tinggalkan aku… aku ingin terus bersama Ryuuichi-san…" ucap Jirou sambil menatap mata Ryuuichi dengan mata besarnya yang meneteskan air mata.

Ryuuichi awalnya terkejut mendengar pengakuan Jirou, tapi dia langsung tersenyum dan menghapus dengan lembut air mata Jirou menggunakan punggung tangannya.

"Ya Jirou-bocchan… kita akan terus bersama selama-nya…" tiba-tiba saja… Ryuuichi jatuh ke lantai dengan keadaan tubuh bersimbah darah dan ada pisau yang tertancap di punggungnya.

"Ryuuichi…-san..? nee Ryuuichi-san, kenapa kau malah tiduran…? Bangun Ryuuichi-san… Ryuuichi-san…" Jirou mengguncang tubuh Ryuuichi yang terkapar itu, berusaha membangunkan Ryuuichi yang tidak juga bangun…

"Ryuuichi-san… jangan bercanda seperti ini… ini tidak lucu… Ryuuichi-san… kumohon bangunlah… Ryuuichi-san…" tangis Jirou sambil tetap berusaha membangunkan Ryuuichi.

"J-Jirou… bocchan…" ucap Ryuuichi lirih.

"Ryuuichi-san! Kau tidak apa-apa kan? Tolong bilang kau tidak apa, aku mohon Ryuuichi-san…" tangis Jirou, tangan kecilnya menggenggam erat tangan Ryuuichi yang lebih besar darinya, seolah kalau dia melepaskannya, Ryuuichi pun akan hilang dari hadapannya…

"Jirou-bocchan… gomennasai… aku… tak bisa bersamamu… aku… tak bisa menepati janjiku… Jirou-bocchan… jadilah orang yang kuat… lindungilah orang yang kau sayangi dengan kekuatanmu… bahagiakanlah orang yang kau sayangi… gomennasai… sayonara… Suki da you, Jirou…" Ryuuichi pun mencium lembut bibir Jirou kecil, memberikan kehangatan yang tersisa di bibirnya, sebelum akhirnya semua kehangatan itu hilang…

Dan bersamaan dengan mendinginnya bibir itu… Ryuuichi pun pergi untuk selama-lamanya…

"Ry…Ryuuichi…-san… ke-kenapa tanganmu jadi dingin? Ke-kenapa wajahmu pucat…? Ryuuichi-san… Ryuuichi-san… kau masih ada di sini kan…? Kau tidak pergi ke tempat Kaa-chan kan? Ryuuichi-san… kumohon jangan mati… Ryuuichi-san… RYUUICHIIIIII!" teriak Jirou dengan air mata yang mengalir deras di pipinya, dia berteriak memanggil-memanggil Ryuuichi, tangan kecilnya mengguncang keras tubuh Ryuuichi.

Tapi tak ada gunanya… Ryuuichi sudah pergi… dan tak akan kembali lagi… untuk selama-lamanya…

"Heh, adegan yang menjijikkan dari 2 orang yang menjijikkan," kata seseorang yang sudah lama Jirou kenal, orang yang mewariskan darahnya kepada Jirou… orang… yang paling di takuti oleh Jirou…

"Otou-sama…" ucap Jirou sambil menatap ke arah Jin yang menyeringai bagaikan iblis dengan tatapan mata penuh ketakutan.

"Dasar bodoh, dia pikir aku bisa di bunuh dengan mudah? Jangan bermimpi, takkan ada yang bisa mengalahkan Sakuma Jin… TIDAK ADA!" seru Jin sambil mencabut pisau yang menancap di punggung Ryuuichi.

"Otou-sama… telah… membunuh… Ryuuichi-san…" gumam Jirou, matanya menatap lurus mata ayah kandungnya itu.

"Ya, akulah yang telah membunuh supir rendahan itu, dan sekarang, kau pun akan menyusulnya!" teriak Jin sambil mengarahkan pisaunya ke Jirou, dan…

"CRAAASH!"

…Jin menusuk mata kanan Jirou dengan pisaunya, seketika… Jirou pun jatuh terlentang dengan pisau menancap di mata kanannya, dan darah segar mengalir dari matanya…

"…ahaha… dia mati… bocah sialan itu mati… mati… mati…. AHAHAHAHAHAHA! AHAHAHAHHAHAHA-AAAAKH!" tiba-tiba saja, Jin merasakan rasa sakit yang luar biasa di perutnya, dan dari perutnya… keluar darah segar yang terus mengalir deras.

"Kaulah yang bodoh, Sakuma Jin…" kata seorang anak laki-laki dengan mata kanan yang berdarah-darah dan luka tusuk yang lebar, mata kirinya yang baik-baik saja, menatap penuh kebencian sosok Jin yang terbelalak tak percaya melihat anak itu.

Dialah Sakuma Jirou… putra dari Sakuma Jin… yang baru saja menusuk ayahnya sendiri dengan pisau yang tadi tertancap di matanya…

"GAKH! K-kau masih… hi..dup…?" kata Jin tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Ya… membunuh Tanaka adalah kesalahan besar yang kau lakukan, Jin… sekarang… terimalah hukuman dariku… selamat tinggal… dan sampai jumpa di neraka… Sakuma Jin…" ujar Jirou, yang dengan tangan kecilnya itu, menebas dada Jin tanpa ampun.

"BRUUUUK!"

Jin pun jatuh ke lantai, dengan luka tebas yang lebar di dada dan perutnya…

Tanpa memperdulikan mata kanannya yang sudah rusak, dan cipratan darah yang ada di tubuhnya, Jirou berjalan mendekati tubuh Ryuuichi, dan menatapnya dengan sendu.

"Gomen… Ryuuichi-san… aku… tidak bisa bertemu denganmu di surga… gomen…" ucap Jirou sambil membelai lembut pipi Ryuuichi dengan tangannya yang bersimbah darah.

Setelah menutupi tubuh Ryuuichi dengan kain yang di temukannya di tempat itu, Jirou pun berjalan pergi dari tempat itu.

Tempat dimana dia dibesarkan, tempat yang penuh dengan kenangan indah sekaligus menyakitkan, tempat dimana dia bertemu Ryuuichi…

"Suki da you, Ryuuichi-san…"

TO BE CONTINUE…

A/N: …Oke, kenapa fic ini berubah genre jadi gore? Inilah akibat karena terlalu banyak baca cerita yang bikin galau, ukh… walaupun gaje, tolong baca and review fic ini ya! Btw, chapter depan itu masih flashback nya Jirou.

Balasan Review!

Yuki-nee: Wkwkwk saia juga suka ShuuIchi~ *plak!* Ohoho, sekali-sekali tukeran posisi gitu Fudou sama Sakuma nyo~ AAAAAAKH! SAIA JUGA GAK TAU KENAPA MALAH BIKIN SEDIH SAKU-CHAN(?) DAN ICHI-CHAN(?)! INI GARA2 KEBANYAKAN BACA CERITA GALAU! Ufu~ kalau Saku-chan jadi keren sih, itu sepertinya karena saia nonton Beelzebub *plak!* jadi bawaannya pengen ada adegan berantem yang kerennya nyo~ Ah, sayangnya hal itu baru akan di klarifikasi di chapter 6 nyo~ sabar ya~ sekarang nikmati dan review chapter 4 ini~

Chiisai: Keliatan~ keliatan~ *ngintip Ichi mandi/plak! Bukan woi!* Ufu~ SakuIchi pasti akan jadian kok~ tunggu aja~ ufu, I love konflik batin *plak!* Arigatou~ baca and review chapter ini nyo~

NaoShiteRu1264: Gak apa nyo~ XD Ufu, sekali-kali crack pair dong biar fandom IE lebih berwarna~, Ufu~ Ore-sama no Saku-chan emang kakkoii~ *plak!* Pasti dong Ichi-chan suki suki daisuki sama Saku-chan~, soal ShuuIchi nantikan saja di chapter 6~, Saku-chan pasti dapetin hati Ichi-chan kok~ Arigatou ya~ baca and review fic ini~

Nagi & Rima: Ufu~ telat taka pa yang penting review~ bagus! Ajaklah sebanyak-banyaknya orang untuk me review fic saia! Ufu, Ore-sama emang hebat ya perkembangannya *taboked* Sabar aja ya *nepok2 kepala Nagi* arigatou thumbs up nya~ Ufu, takkan kubiarkan tamat secepat itu *plak!* Semoga chapter ini juga memuaskan kalian, baca and review fic ini~

Syifaa: Ufufu~ teriak juga gak apa, walaupun hasilnya di gebukin karena berisik *plak!* Ohoho, Ore-sama no Saku-chan wa kakkoii nee~, saia emang jagonya bikin chara di cerita saia galau *plak!* Ufu, banyak yang suka adegan berantem Shuuya vs Sakuma ya~ XD Saku-chan emang bikin meleleh~ Oke deh, saia bikin Ichi tambah menderita *jangan woi kasian*, Arigatou nyo~ udah update nih~ baca and review~

Hikary: Bagi saia segitu udah panjang nyo~ tapi semoga anda puas dengan panjang fic nya di chapter ini, kalau mau yang hot baca Lemon Collection dong~ *promosi ceritanya*, Gak apa kok~ tapi chapter ini jangan lupa review ya~ HiroMamo is my 1st OTP~ *plak!* SakuIchi nya bakal ada di chapter 6 nyo~ tunggu ya~ Baca and Review fic ini~

– c h a n: Arigatou~ Ufu~ alasan Shuuya nyium Ichi bakal ada di chapter 6~ pasti yang dapet Ichi-chan itu Saku-chan kok~ Shuuya kan punya Yuuka~ *itu adiknya woi* Ini chapter 4 nya~ baca and review~

HideyoshiK: I already update it~ ah sorry, in this chapter, Ichirouta only appear in the beginning, sorry, Thank you~ you not come from Indonesia? Please keep read and review my story~

Nagi -AoFujisaki- SPAzell: Ore-sama no Saku-chan emang keren~! Tak apa kok~ asal review, telat pun tak apa~ Saku-chan emang keren dan sugoii XD Udah saia update~ tapi maaf ya gak kilat, Douita~ baca and review fic saia~

Sekian balasan review nya~ sampai jumpa di chapter 5 nyo~

Our Heart will Always be a Syncron

Kimagure 'Aya' Author