Plip…plop…plip…plop

Suara dengan ritme teratur itu bergema berulang kali. Menyisakan tak sedikit pun jeda bagi pendengaran gadis yang berjalan di bawah naungan awan kelam. Sebuah benda panjang penangkal hujan tergenggam kuat di sela jari-jarinya. Ia menundukkan kepala, melewati kumpulan air yang banyak terbentuk di kiri-kanan jalan dengan usaha. Sepasang alas kaki yang digunakannya tampak berat dan basah menyerap cairan yang sedari tadi dilaluinya. Berhenti sesaat, gadis itu mendongak ke atas. Pandangan yang dipudarkan oleh tetes-tetes hujan tidak mengurangi rasa puas yang meluap-luap di hatinya. Ingin sekali ia berlari keluar dari naungan payung kecilnya dan berlarian di bawah hujan. Membasahi seluruh tubuh dan mungkin menjatuhkan diri ke genangan air di sekitar. Tak perduli akan sakit yang bisa saja menyerang atau pakaian kotor yang akan menumpuk di cucian.

Tersenyum sendiri, gadis itu bergumam pelan,

"Haah, betapa indahnya jika hujan ini segera menjadi badai. . ."


Weird? Maybe A Little….

Disclaimer: Vocaloid Yamaha Corporation

Story: Viory.01


"Ah, hujan memang menyebalkan! Suasana jadi terasa gelap dan suram!" seseorang di ruang kelas itu berbicara sambil mengerutkan wajah kesal. Beberapa orang yang berkumpul di dekatnya menganggukan kepala sambil ikut-ikutan berkomentar.

"Setuju! Tak ada penolakan di sini! Rasanya dengan matahari bersinar cerah saja hidup ini sudah terasa cukup berat…" pernyataan itu disambut gelak tawa rendah.

"Kau bisa saja Suzu…Yah, bagiku sih tidak ada masalah. Hujan atau tidak hujan. Dua-duanya sama saja, asalkan…"

/Greek/

Tiba-tiba pintu ruang kelas bergeser dan menghentikan pembicaraan. Tampak sebuah kepala menyembul dari arah luar.

"Hee, sudah banyak yang datang? Pagi sekali kalian hari ini" Rin yang baru tiba berkata sambil berjalan ke arah bangkunya. "Biasanya di cuaca seperti ini orang cenderung malas ke sekolah," Rin meletakkan tasnya di atas meja. Ia kemudian berjalan menuju kumpulan di tengah kelas.

"Pfft, begitulah. Tetapi, datang ke sekolah di cuaca seperti ini memiliki kelebihan sendiri," Neru berkata dengan wajah bangga.

"Kelebihan apa memangnya?" Rin menyeret bangku terdekat dan menatap kawan-kawannya.

"Seperti biasa, saat seperti ini adalah saat yang baik untuk banyak kegiatan. Di antaranya adalah bermain Truth or Dare, atau bahkan bercerita seram!" Neru berseru antusias dan hanya disambut oleh helaan nafas panjang di sekelilingnya. "Haa….jangan mulai lagi Neru.." Suzune memutar bola matanya.

Rin hanya terseyum kecil menanggapinya, tetapi tiba-tiba Miki melontarkan kata-kata yang sedikit membuatnya tersentak. "Eh, hei Rin…ngomong-ngomong soal Truth or Dare, apakah benar kalau kau bermasalah dengan Kagamine-kun?"

"Haa…?" sebelum Rin sempat menjawab, Momo sudah mendahuluinya, "Ah! Benar, benar! Kemarin heboh sekali. Ada banyak murid kelas lain yang melihat juga!" Hampir tanpa jeda, Ruko yang sedang dalam posisi duduk di atas meja langsung menurunkan tubuhnya dan menambahkan cepat, "Wah, Rin! Banyak yang melotot ke arahmu waktu itu! Aku ingat sekali. Tapi, yang paling horror dari semuanya adalah tatapan dari para Senpai…"

"Aku setuju! Mattaku, Rin. Sebaiknya kau berhati-hati. Kau tahu kan para Senpai itu seperti apa. Terlebih lagi para Senpai dari koridor kiri bawah. Semuanya mengerikan!" Neru menggertakan giginya mengingat masa-masa awal dimana ia tanpa sengaja melibatkan dirinya dengan salah satu Senpai yang legendaris.

"Baik, baik! Iya! Aku mengerti! Lagi pula aku juga tidak pernah mau bermasalah dengan si idiot itu." Rin mulai tampak gusar.

"Nah, kalau begitu, mulailah memperbaiki hubungan dengan memanggilnya dengan benar." Suzune menggerak-gerakan jari telunjuknya. "Hmm, memang agak aneh karena nama depan kalian sama, tetapi kau bisa menggunakan Len-san…"

"..atau, Len-kun…? Kyahaha…" Momo tertawa mengerikan. "Hei! Dia baru masuk beberapa hari yang lalu. Belum ada yang boleh memanggil secara khusus seperti itu, ingat?" Ruko menyela. "Kecuali para cowok tentunya. Haah…aku jadi iri…"

Rin hanya dapat meringis. Ia baru ingat kalau kawan-kawan sekelasnya juga banyak yang mengagumi Len.

"Haah…semoga hujan ini tidak berhenti, setidaknya sampai jam sekolah usai"


"Plip, plop, plip, plop..."

Pelajaran hari itu berlangsung dengan tenang. Meskipun Rin sadar, bahwa tatapan intens yang ditujukan kepada Tuan-Sok-Keren di sampingnya masih terasa sangat kuat dari berbagai penjuru ruangan.

Ia bertambah ngeri memikirkan perasaan Len yang tenang-tenang saja menghadapi ribuan-tidak-belasan gadis, jika dihitung dari tadi pagi hingga sekarang.

Yah, jumlah kumpulan anarkis itu memang jauh berkurang jika dibandingkan dengan hari kemarin.

"…efek lain dari hujan?"

..Tluk-

Terlalu banyak memikirkan hal yang tidak perlu membuat Rin menjatuhkan penghapusnya tanpa sengaja. Dan untungnya, penghapus itu tidak jatuh ke bagian Tuan-Bermuka-Dua.

Menunduk singkat dan meraih penghapus cepat, Rin kembali ke posisi awal.

Dan entah kenapa, saat itu juga awan menggelegar dan angin menghantam jendela. Menjadi latar dari ekspresi tanpa ekspresi dari wajah gadis yang tanpa sengaja menyaksikan hal biasa yang tidak biasa.

Kagamine Len, entah mengapa-

-tampak begitu hangat dan lembut dalam tidurnya…

*To Be Continued


A/N:

Chapter yang jauh lebih singkat dari chapter sebelumnya OTL

Saya jadi kepikiran sendiri. Jangan-jangan akan tiba saat dimana saya mengupdate chapter yang hanya berisi judul dan disclaimer ^^"a

Meskipun begitu, saya bangga dengan hal yang tidak seharusnya dibanggakan. Yaitu, saya masih bisa melanjutkan cerita ini. Karena entah kenapa di semester ini, sekolah makin tidak pengertian dan kehilangan rasa persaudaraan sehingga menyebabkan saya harus menanggung banyak derita.

Tapi, sekarang saya sudah mulai membiasakan diri dan sudah memutuskan untuk mencoba meng-update lebih cepat (sungguh cepat sekali) meskipun dengan jumlah word yang sedikit dan berubah-ubah jumlahnya (semacam labil)

Karenanya, sekali lagi saya berterima kasih pada para pembaca yang masih mau sabar dan mengikuti cerita saya ini.

Salam,

Viory.01