Numpang Curhat :
Oh iya, mau ngasih tahu dulu, mungkin Unfaithful Love bakal rada telat updatenya tapi aku janjiin ga bakal diskontinyu soalnya aku menikmati banget waktu nulis ff ini. XD ahahahay~ *joget joget*
Btw, Aku mau fokus buat namatin Guren dan buat bulan ini dan semoga Guren bisa end sebelum akhir bulan ini. Setelah itu bakal fokus sama Unfaithful Love sama FF buat GA Yaoi HunHan INA satunya yang jujuran aja cukup bikin puyeng. X'D duh.. NC isn't my arena seriously.. *menggelimbung* tapi aku akan berusaha untuk itu. *halah*
.
Unfaithful Love
Chapter 4
.
I just own story line here and dirty mind on my head.
.
Happy reading~
.
Sehun memberengut ketika ia membuka pintu mobilnya dan kemudian menyusul perempuan yang baru saja keluar dari mobil yang sama dengannya dan berdiri menunggunya. Ini adalah hari minggu dan Sehun harus menghabiskan waktu liburnya untuk hal yang tidak penting seperti saat ini.
Sehun kesal sekali, sangat kesal bahkan. Ketika ia baru saja memutuskan untuk tidur siang setelah mood-nya menjadi buruk karena alasan yang sebenarnya sepele. Sepele tapi efeknya begitu terasa.
Sehun mencoba untuk menghubungi Bambi-nya hanya untuk mengajaknya membunuh hari minggunya yang membosankan. Pergi ke Lotte World atau kemana saja asal bersama Luhan pasti akan menyenangkan. Sehun sudah membayangkan itu, dia akan melihat Luhan banyak tertawa dan tersenyum, Luhan yang akan berteriak takut dan memeluknya ketika dia ketakutan, semuanya sudah Sehun rencanakan dan setelah itu mereka akan berakhir dengan panas di apartemen milik Luhan.
Rencana hanyalah sebuah rencana dan itu tidak akan terlaksana ketika ia mencoba memejamkan matanya dan kemudian ponsel miliknya berbunyi. Mendesah ketika ia melihat nama Soo In disana dan kemudian membuatnya berakhir dengan berada di butik milik Ibunya.
"Sehunna! Ayo cepat sedikit!" Soo In menghentakkan kakinya ketika ia mengatakan itu, menatap Sehun dengan memberengut yang dibuat-buat dan tersenyum cerah ketika Sehun menghampirinya. Merangkul lengan kokoh milik kekasih tampannya itu dengan manja dan kemudian melangkah masuk kedalam butik itu.
"Kenapa harus sekarang, sih? Kita bisa datang besok Soo In."
Perempuan itu memberengut, "Tidak sayang, Bibi Oh dan aku sudah berjanji untuk melakukan fitting baju hari ini~"
"Apa?!"
Soo In menatap Sehun dengan bingung. Reaksi Sehun terdengar aneh sekali. "Kita 'kan sudah memutuskan menikah bulan depan, sayang. Jadi sekarang kita akan melakukan fitting baju~"
Memijat pelipisnya karena pusing, Sehun benar-benar bingung dengan apa yang sekarang bisa ia lakukan. Ia masih tidak bisa berfikir kenapa Soo In berfikir untuk menikah secepat ini.
"Soo In.."
"Ya?"
"Tidakkah kau berfikir.. kita menikah terlalu cepat?"
Perempuan itu menggeleng, "Kurasa tidak. Kita hanya menikah dan tidak untuk memiliki anak secepatnya."
"Tapi kita masih terlalu muda, Soo In. aku baru dua pulu satu tahun.. masih banyak hal yang bisa kita lakukan di umur semuda ini."
Soo In menatap Sehun jengkel. Melepaskan pegangan tangannya pada lengan Sehun dan kemudian berdiri dihadapan Sehun. "Kau tidak mau menikah denganku?"
Mulai lagi.
Sehun harus memijit pelipisnya karena pusing. Soo In kembali menjadi menyebalkan setelah beberapa menit yang lalu perempuan dengan status tunangannya berlaku manis padanya. Sehun harus bersabar jika Soo In sudah seperti ini.
"Bukan begitu.. tapi—"
"Jika kau tidak mau menikah denganku, aku bisa bilang pada Appa untuk membatalkan pernikahan ini."
Ini sudah tidak lucu jika membawa orang tua dalam hubungan mereka seperti ini.
"Soo In.. dengarkan aku.."
"Kau sudah tidak mencintaiku 'kan?" Soo In siap untuk menangis, matanya memerah dan Sehun yang melihat itu harus mendesah, mencoba menahan emosinya yang siap untuk meledak.
Sehun bawa tubuh itu dalam rangkulannya, mencoba untuk menenangkan tunangannya itu walau sebenarnya dia kesal sekali. Kadang Sehun merasa dirinya tidak terlalu tegas dengan tingkah Soo In yang kadang di luar nalar dan kekanakan, namun seberat apapun Sehun melakukan itu—mencoba untuk tegas dan menolak—ia akan jatuh kembali pada pikiran kolotnya yang sebenarnya akan mempersulit keadaannya sendiri.
"Maafkan aku.." ucapnya ketika tangannya mengusap punggung ramping itu. Sehun bisa merasakan Soo In mengangguk dalam dekapannya dan itu membuat Sehun harus mendesah berat -bukan lega- karena dia baru saja menambah satu masalah untuk kedepannya.
Apa yang akan dia katakan pada Luhan tentang hubungannya dengan Soo In?
Apa yang akan Sehun katakan ketika ia bertemu dengan Luhan tentang pernikahannya bulan depan? Sehun tahu Luhan pasti akan sedih dan hancur. Ia tidak ingin Luhan bersedih karena ini, namun sungguh Sehun tidak tahu apa yang akan Sehun lakukan untuk membuat Luhan bisa mengerti?
Masih berkutat dengan pikirannya sendiri tentang Luhan, Sehun hanya berjalan dengan malas ketika Soo In menariknya masuk kedalam butik milik Ibunya itu. Soo In sudah tidak menangis, terlihat jauh lebih cerah dari sebelumnya.
"Onnie, apa Bibi Oh ada didalam?"
"Hai Soo In. Ibu ada didalam. Kau ingin fitting baju lagi?"
Sehun tidak menghiraukan Soo In yang tengah berbincang dengan Jinri—kakak perempuannya—dan hanya menjatuhkan tatapan matanya kepada dua orang yang kini berada dihadapannya itu. Sehun kenal dua orang itu. Terlebih sosok mungil yang kini baru saja menangkat kepalanya dengan tangannya yang digenggam begitu erat oleh pemuda yang lebih tinggi.
Itu adalah pemuda yang sama ketika ia melihat Luhan beberapa hari yang lalu di lorong kampus dan di kantin. Sehun bisa tahu Si Rambut Pirang itu tertarik pada Luhan dan itu membuatnya tidak suka. Tidak ada yang bisa menyentuh Luhan selain dirinya.
"Ah iya Kris.. ini Oh Sehun dan ini tunagannya Park Soo In. Dan dia adalah anak dari Bibi Wu, Kris dan—"
"He's my boyfriend. Lu Han"
Sehun menatap tidak suka ketika pemuda dengan nama Kris Wu itu mengatakan kalau Luhan adalah kekasihnya. Apa dia tengah membual? Apa dia sedang bermimpi? Siapa dia berani menyebut Luhan sebagai kekasihnya? Tidakkah dia tahu kalau si mungil yang ia sentuh itu adalah milik Oh Sehun?
"Mereka—Sehun dan Soo In akan menikah bulan depan dan aku harap kalian bersedia hadir nanti."
Tidak! Ini tidak baik.
Sehun menatap Jinri dengan tatapan kesal sementara Soo In tersenyum puas untuk itu.
Apa yang baru saja terjadi. Sehun tidak ingin Luhan tahu dengan keadaan seperti ini. Tidak. Ini akan membuat Luhan-nya menjadi hancur.
Sehun menatap Luhan yang kini juga menatapnya. Mata rusanya terlihat mendung. Matanya memerah dengan air mata yang siap membendung dipelupuk matanya untuk jatuh. Sehun bisa melihat ketika Kris merangkul bahu Luhan dan kemudian tersenyum kearah Jinri dan juga kearahnya.
Sehun tahu Luhan siap untuk jatuh karena kakinya melemas. Astaga, mata itu.. Sehun benci melihat mata kesukaannya itu terlihat terluka dan itu karena dirinya. Ingin rasanya sSehun memeluk Luhan dan membisikkan kata-kata yang membuat Luhan menjadi tenang. Mengatakan kalau pernikahan itu bohong dan Luhan tidak perlu khawatir tentang apapun.
Namun Sehun tidak melakukan itu. Sehun tidak melakukan apapun. Kakinya hanya mematung dengan mata yang lurus menatap Luhan yang kini menunduk. Menyembunyikan air matanya yang siap untuk jatuh.
"Ah, kurasa aku sudah telat untuk kencanku dengan pacarku." Kris tertawa dan membuat Jinri tersenyum menggoda. "Kami permisi."
Sehun melihat semuanya. Ketika tangannya terkepal saat matanya menemukan Kris merangkul bahu rapuh Luhan dan membiarkan Luhan tenggelam dalam lengan kokohnya. Sehun bisa melihat semuanya ketika Kris akhirnya menggendong Luhan ketika Luhan hampir saja jatuh. Kris melakukan semuanya dan Sehun melihatnya. Dan Sehun harus akui ia membenci melihat itu.
Harusnya… apa yang Kris lakukan untuk Luhan adalah apa yang seharusnya Sehun lakukan. Bukan Kris melainkan Sehun.
Sehun mematung. Menahan sesuatu perasaan yang perlahan menelusuk dari dadanya dan membuat tenggorokkannya tercekat seperti ada sesuatu yang tersangkut disana. Rasanya sakit sekali. Rasa sesak didadanya.
Apa yang Sehun rasakan saat ini? Kenapa rasanya sakit sekali ketika ia melihat orang lain membawa Luhan-nya tepat dihadapannya. Hari ini dia membawa Luhan menjauh darinya.. mungkinkah orang itu akan membawa Luhan pergi meninggalkannya?
Luhan tidak tahu sejak kapan ia menjadi masochist seperti ini. Ia tahu mencintai seorang Oh Sehun memang menyakitkan tapi ia tidak tahu kenapa ia menjadi sebegitu menyedihkan. Ia sudah sering kali terluka untuk ini ketika ia mengetahui Sehun dengan Soo In dan ia berpikir ia sudah terlalu terbiasa untuk itu namun kenyataannya ia tidak terbiasa sama sekali. Ia masih merasakan sakit yang sama. Ia masih merasakan perasaan yang menyiksa itu berkali-kali dan bodohnya ia masih bisa bertahan dengan itu semua.
Luhan tidak tahu kenapa ia bisa begitu bodoh dan masuk terlalu dalam pada pesona seorang Oh Sehun yang terlihat bagai dewa dimatanya. Luhan tidak tahu sejak kapan ia merasa kalau Sehun adalah rumahnya, Luhan tidak tahu sejak kapan ia menganggap Sehun adalah tujuannya. Sehun adalah segalanya, mungkin Luhan sudah mulai menganggap Sehun adalah sebagian dari dirinya saat ini.
Rasanya sakit sekali untuk mencintai seorang penuh pesona bernama Oh Sehun. Luhan berkali-kali ingin pergi dari jerat seorang Oh Sehun namun ia selalu berakhir ditempat yang sama. Ia selalu kembali berlabuh pada Sehun.
Sesakit apapun Luhan dan sesakit apapun luka yang Sehun torehkan padanya, Luhan akan kembali luluh ketika ia mendapati seorang Oh Sehun berdiri didepan pintu apartemennya dengan sebuah bunga mawar hijau dan juga sebuah tatapan mata yang terlihat memelas. Sebuah kata maaf yang akan selalu membuat Luhan luluh.
Itu terjadi berkali-kali. Sehun akan meminta maaf dan memperlukan Luhan dengan lembut membuat Luhan melupakan rasa sakit yang baru saja Sehun berikan padanya. Sehun akan membisikkan kata-kata cinta dan juga kata-kata maaf yang akan membuat Luhan terlena dan jatuh dalam pelukan Oh Sehun lagi dan lagi.
Atau ketika Luhan bersikap alot untuk tidak memaafkan Sehun, Sehun akan bertindak sedikit kasar. Sehun akan mencuri ciumannya dengan rakus dan tidak melakukannya dengan lembut dan kemudian mereka akan bercinta dengan Sehun yang akan melakukannya dengan liar dan kemudian Luhan akan memaafkan Sehun setelah itu.
Dan Luhan berharap itu terjadi saat ini. Luhan sudah bersiap dengan kemeja putih yang membuat tubuh mungilnya tenggelam dalam balutan kemeja putih itu. Membiarkan kemeja putih itu jatuh sampai menutupi paha bagian atasnya dan membiarkan Luhan untuk menunjukkan paha dan kaki mulusnya.
Luhan sudah bersiap ketika Sehun akan datang dan kemudian Luhan akan berpura-pura untuk tidak memaafkan Sehun dan kemudian mereka akan berakhir di ranjang dengan kegiatan panas mereka.
Luhan harus akui ia merindukan sentuhan Sehun disetiap inci tubuhnya.
Luhan duduk dibalkon apartemennya saat ini dengan satu mug berisi coklat hangat dengan campuran sedikit kopi didalamnya. Membiarkan angin menyentuhnya, membiarkan angin malam yang dingin menarikan setiap helai rambut miliknya. Ia tidak menghiraukan tubuhnya yang sebenarnya mengigil saat ini karena Luhan yakin Sehun akan datang malam ini untuknya dan kemudian memberikan kehangatan yang ia rindukan kemudian Sehun akan menjelaskan semuanya tentang apa yang dia dengar tadi tentang pernikahannya dengan Soo In.
Pernikahan
Luhan kembali mengusap air matanya yang jatuh. Mengingat itu membuat dadanya kembali sakit. Kenapa Sehun begitu jahat padanya. Kenapa Sehun harus menikah dengan perempuan menyebalkan itu. Padahal Sehun tahu perempuan itu menyebalkan, Soo In kekanakan. Kenapa Sehun harus memilih Soo In sementara Luhan yakin kalau Luhan jauh lebih baik daripada Soo In? Kenapa Sehun tidak memilihnya? Pertanyaan itu selalu mengusik pikirannya.
Setega itukah Sehun padanya. mungkinkah Sehun sudah benar-benar muak dengan hubungan rumit ini?
Luhan tertawa—lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri. Dirinya begitu bodoh untuk tidak menyadari ini dari awal atau mungkin dia tidak mau untuk menerima itu. Sehun tidak mencintainya sama sekali. Tidak. Karena Sehun hanya menganggapnya sebuah persinggahan.
Bahkan Sehun juga tidak datang malam ini untuk dirinya seperti hari-hari sebelumnya. Sehun tidak datang untuk menemuinya dan meminta maaf padanya. Ah, siapa Luhan ini sehingga ia berani berfikir bahwa Sehun akan menemuinya dan meminta maaf? Dia bukan apa-apa bagi Sehun. Luhan tidak memiliki arti apapun.
Sudah saatnya untuk menyerah. Sudah saatnya untuk berhenti. Sudah saatnya untuk berhenti berharap dan menunggu. Sudah saatnya Luhan untuk mengakhiri perasaannya pada Oh Sehun. Tapi bagaimana caranya dan apakah Luhan bisa untuk itu?
"Bagaimana? Kau bisa menghubunginya?" Baekhyun menatap penuh harap kearah Kris yang kini sibuk dengan ponselnya dan gelengan dari Kris menjawab semuanya. Baekhyun mendesah dan menunduk sebelum akhirnya tangan milik pemuda disampingnya itu merangkulnya. Menyenderkan kepala yang lebih pendek itu di bahunya.
"Sudahlah Baekhyun.. Luhan mungkin butuh waktu untuk sendiri."
"Tapi Yeol.." Baekhyun memukul pelan tangan Chanyeol yang masih sempatnya untuk menjamah pahanya disaat waktu seperti ini, "Ini sudah satu minggu dan Luhan sama sekali tidak ada kabar. Bahkan dia tidak ada di apartemennya."
"Mungkin Chanyeol ada benarnya Baek. Luhan mungkin butuh waktu sendiri." Kris mendudukkan dirinya disamping Baekhyun dan kemudian mendesah berat. Kris tidak bisa berbohong kalau sebenarnya ia juga cemas ketika ia tidak menemukan Luhan dimanapun.
"Hyung… jadi benar Sehun akan menikah dengan Soo In bulan depan?" kali ini Chanyeol yang membuka suara dan Kris hanya menangguk sebagai jawaban. "Tidakkah itu terlalu cepat.. maksudku mereka masih muda."
Kris mengendikkan bahunya, "Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Tapi itu cukup untuk membuat Luhan patah hati."
"Seandainya aku tidak membiarkan Luhan untuk jatuh cinta dengan Sehun mungkin kejadiannya tidak seperti ini." Baekhyun menyembik siap untuk menangis.
"Ssst.. bukan salahmu, Bae." Ucap Chanyeol lembut.
"Baekhyun… apa Luhan orang yang berpikir pendek?"
Baekhyun mengernyitkan keningnya ketika ia mendengar itu, ia masih tidak tahu apa maksud Kris yang sebenarnya.
"Maksudmu Hyung?"
Mendesah, "Maksudku, apa Luhan itu masih labil? Aku takut kalau dia—"
"Jangan teruskan!" Baekhyun memberengut kesal. "Aku yakin Luhan tidak sebodoh itu hanya karena patah hati dan kemudian dia bunuh diri."
"Tetanggaku bunuh diri ketika dia tahu kekasihnya berselingkuh dan menikah dengan laki-laki lain. Patah hati bisa membuat pikiran orang menjadi kacau dan pendek kurasa."
"Chanyeol!"
Sungguh Chanyeol sama sekali tidak memberi solusi. Perkataan Chanyeol membuat Baekhyun dan Kris kemudian beranjak dari sana. Tidak. Tidak. Luhan tidak seceroboh itu.
"Chanyeol ka bawa mobil kan?" Chanyeol mengangguk. "Kau dan Baekhyun cari kemanapun tempat yang biasa Luhan kunjungi. Baekhyun hubungi aku juga ketika kau menemukan Luhan. Araji?"
Baekhyun mengangguk.
"Hyung kau mau kemana?"
Mengabaikan pertanyaan Baekhyun barusan, Kris berlari menuju ke tempat parkir mobilnya. Mengabaikan ketika ia menambrak bahu seseorang dan berlalu tanpa meminta maaf. Hanya fokus pada langkah kakinya dan kemudian menghilang dibalik pintu mobilnya.
Kris tidak tahu siapa orang yang ia tabrak tadi. Seseorang yang menatapnya dengan tatapan tidak suka. Seseorang dengan wajah poker-face miliknya. Oh Sehun. Mahasiswa yang baru saja Kris tabrak tadi dan ia tinggalkan tanpa permintaan maaf itu adalah Oh Sehun. Kris tidak tahu bahwa Sehun mendengar suaranya ketika ia mengucapkannya, "Luhan, ku mohon bertahanlah."
"Sehun!"
Sehun tersenyum ketika ia melihat pemuda mungil itu tersenyum kearahnya dengan wajah yang tersenyum cerah dengan satu cup ice cream rasa vanilla di tangannya.
"Enak?" si mungil itu tersenyum dan Sehun mengusap surai berwarna coklat gelap itu dan kemudian mencium keningnya. Si mungil tersenyum ketika Sehun melakukan itu dan hanya menangguk sebagai jawaban.
"Mau?" Sehun menggeleng dan si mungil itu memberikan pout untuknya.
Kadang Sehun berfikir kenapa Luhan itu terlihat menggemaskan dan terlihat seperti anak kecil walau kenyataannya Luhan satu tahun lebih tua darinya. Luhan selalu terlihat hangat seperti sinar matahari pagi. Matanya berkilau penuh binar ketika tersenyum membuat Sehun begitu menyukai mata itu.
Kadang Sehun berfikir kenapa orang yang terlihat seperti anak kecil seperti Luhan memiliki hati dan pemikiran yang dewasa. Luhan selalu memiki cara untuk membuat hati Sehun sedikit tenang ketika ia memiliki masalah entah karena kekasihnya atau tentang Ayahnya yang menuntutnya lebih.
Sehun ingat ketika ia pertama kali bertemu dengan Luhan ketika ia tidak sengaja menabraknya dan membuat bubble tea rasa taro miliknya jatuh. Luhan memberengut lucu yang terlihat sepeti melakukan aegyo dengan wajah yang memarah kesal kemudian Sehun harus mengganti bubble tea itu menjadi tiga kali lipat dengan beberapa cake sebagai balasan.
Awal yang manis untuk perkenalan mereka yang membawa mereka menjadi dekat.
"Sehun.. terima kasih untuk hari ini." Sehun tersenyum ketika ia mendengar Luhan yang tersenyum kearahnya ketika mengatakan itu. "Hari ini menyenangkan." Cicitnya sebelum akhirnya memasukkan satu sendok ice cream vanilla kedalam mulutnya. Uh.. Luhan ini menggemaskan sekali.
Sehun tidak menjawab hanya menatap Luhan dengan tatapan yang dalam. Matanya fokus pada sosok mungil itu. Menatap Luhan dengan cara yang berbeda dan itu mampu untuk membuat Luhan merasa canggung.
Sehun tidak tahu entah alasan apa yang membuatnya bisa begitu terjerat dengan wajah polos milik Luhan itu. Matanya yang polos tapi penuh dengan kehangatan itu seakan selalu menghipnotisnya. Membuatnya selalu ingin melihatnya setiap hari. Sorot mata teduh berbinar itu seakan mempunyai mantra yang membuat beban dihatinya menjadi lebih ringan.
"Xiao Lu.."
"Iya?"
"Jadilah milikku…"
Dua kalimat yang cukup untuk membuat Luhan membeku dengan Sehun yang menyentuhkan tangannya kearah pipi Luhan dan kemudian mengusapnya lembut. Membuat Luhan bisa merasakan rasa hangat yang membuatnya begitu nyaman. Membuatnya begitu terlindungi. Luhan memejamkan matanya ketika merasakan Sehun menariknya mendekat dan kemudian menciumnya tepat di bibirnya.
Sehun menjatuhkan kepalanya ke setir mobil ketika ingatannya bersama Luhan itu muncul. Sehun ingat ketika ia pertama kali meminta Luhan untuk menjadi miliknya dan Luhan yang seperti kertas putih itu tidak menolak.
Luhan yang polos. Luhan yang seperti kertas putih untuk pertama kalinya merasakan sebuah hal bernama jatuh cinta. Sehun yang memberikan coretan-coretan warna-warni pada kertas itu dan kini hanya memberikan tinta hitam disana dan mungkin kertas itu siap untuk rusak.
Sehun merasa menjadi seorang yang begitu brengsek ketika ia melihat Luhan yang dulu terlihat bersinar kini menjadi redup karena ditelan kegelapan. Luhan tidak terlihat seperti dulu dan Sehun tahu itu karena dirinya.
Dering ponselnya berbunyi ketika ia hendak untuk menjalankan mesin mobilnya untuk bergegas pulang setelah hampir satu hari ini ia mencari Luhan setelah ia tidak menemukan sosok mungil itu didalam kamar apartemennya dan dimanapun.
Sehun tersenyum ketika ia menemukan nama 'Bambi' di layar ponselnya. Dengan cepat ia geser tombol berwarna hijau itu. "Bambi.. kau dimana.. aku—"
"Ah maaf.. anda kenal dengan pemilik ponsel ini?"
"Ya. Maaf ini siapa?"
"Maaf tuan. Kami….."
Jantung Sehun berhenti sejenak ketika ia mendengar suara wanita di seberang sana.
Luhan..
Dengan pikiran yang kalut Sehun kemudian memegang kemudi mobilnya, menjalankan dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia harus sampai di rumah sakit secepatnya.
.
TBC
.
Chapter depan mungkin bakal fokus ke Sehun sama hubungan Luhan. TTwTT Aku terlalu sayang HunHan ga tega bikin mereka sakit kek gini. /dikeplak/ ah serius Sehun cinta Luhan kok disini cuma ya ada alasan sendiri lah kenapa dia gitu, coba posisiin diri jadi Sehun deh.. TT3TT
Ah terimakasih sudah membaca ff ini. Terimakasih untuk dukungannya. Terimakasih untuk review, follow dan favoritnya. Terimakasih banyak.
Silakan kritik dan sarannya aku terima di kolom review. Baik dari ceritanya, alurnya, gaya nulis dan soal Luhan yang kenapa itu silakan tulis dikolom review.. heheh~ *kedip najis*
.
05 November 2015
23.46
DeathSugar
