Yosh, kali ini aq memasukkanbumbu humor agar kalian tak bosan. Ini trivia lagi dari Odacchi. Ada yang sadar ga kalau Sanji dan Nami itu sebenarnya akrab banget dilihat dari cara mereka saling memanggil nama? Let's check it out!


Title #4: Call My Name

Words: 1999

Type: Trivia

*Hint: Suffix and meaning of –san and –kun

Genre: Friendship/Humor/Hurt/Comfort

Summary: Luffy dan Ussop membuat Sanji dan Nami marah. Emangnya mereka ngapain yach? Apa yg Robin dan Zoro lihat dari cara Sanji dan Nami saling memanggil?


"Nami-san…," seru sebuah suara yg mendesah mesra.

"Sanji-kun…," jawab seseorang yg hanyut pada bujuk rayu yang memanggilnya.

Kedua orang itu berpelukan erat, saling menekan, dan terkulai. Kemudian...

GYAHAHAHAHA!

"Mirip sekali Luffy," kata Ussop menertawakan tingkah Luffy yg menirukan gaya Sanji. Ini bukan pertama kalinya Luffy iseng seperti itu. Sebelum ini, ia sudah pernah mempraktikkannya di Arabasta.

"Kau juga Ussop," kata Luffy melepaskan rangkulan Ussop. Ia lalu mengulanginya lagi. "Dewiku. Malaikatku. Aku jatuh cinta padamu."

Ussop semakin tertawa berguling-guling. Chopper ikut bergembira bersama mereka meski tidak tahu benar apa yg sebenarnya mereka guraukan. Luffy dan Ussop tidak berhenti tertawa tanpa menyadari ada bayangan manusia di hadapan mereka dari seseorang yang berdiri di belakang mereka. Ussop sudah merasakan hawa horor mendatangi mereka. Tapi Luffy...

"Dengar nih," kali ini ia menirukan Nami. Tidak mirip sebenarnya, karena Nami belum pernah bertingkah seperti yg sedang ditirukan Luffy. "Oh, pangeranku. Aku juga cinta padamu."

Sst, Luffy, batin Ussop memberi isyarat. Terlambat...

"Ussop...! Luffy..!"

BLETAK! JDUKK!

"Gya! Ampun, Nami!" seru Luffy memegang jidatnya. Tiga buah benjolan besar muncul di kepalanya.

"Wua...!" Ussop tak kalah kesakitan. Ia lupa bahwa Nami-lah yang paling kuat di kapal karena bisa menghajar siapa pun.

"Kalau tak ada kerjaan, lebih baik kalian bersih-bersih kapal!" kata Nami galak. Lalu ia memandang tajam pada Chopper yg sudah merinding meski tidak ikut dipukul. "Kau juga! Padahal kau dokter cerdas tapi malah bermain bersama dua orang bodoh ini."

"BAIK..." jawab mereka bertiga serempak. Lalu mereka berlari menjauhi Nami dan mencari pel.

"Kau juga, pemalas!" Nami menendang Zoro yg tidur dalam posisi duduk tidak jauh dengan posisi mereka bertiga. Ia bahkan tidak bangun terganggu keributan yg ditimbulkan trio kanak-kanak tadi.

"Oi, ada apa sih?" tanya Zoro terbangun dan memandang Nami yg tampak bad mood di matanya.

"Tidak usah tanya-tanya. Kerja ya kerja!"

"Apa ada badai?" tanyanya.

"Bersihkan kapal! Kau pikir aku tahan di kapal yang sudah berlumut, bau, dan kotor?"

"Apa yg kau katakan? Kapal kita kan masih baru. Kalau Franky mendengarnya, ia bisa sedih. Untung ia di ruang kemudi," kata Zoro tenang.

Nami tersentak. Ia tidak sadar kalimat tadi terlontar begitu saja. Tapi ia tidak mau terlihat salah. "Pokoknya, kapal seminggu sekali harus dibersihkan. Panggil Franky juga. Ini kapal kita semua, jangan dia saja yang paling perhatian pada Sunny."

Nami lalu pergi dengan memalingkan muka. Zoro hanya menggaruk-garuk kepala hijaunya. Ia sudah terbiasa dengan kelakuan Nami yg gampang jutek tapi yang barusan itu nampak tidak beralasan. "Dia kenapa sih?"

Nami masuk ke dalam kamarnya dan menggebrak pintu. Ia lalu terduduk lemas di baliknya. Napasnya naik turun. "Aku kenapa sih?"

Sial, batinnya. Sebenarnya siang itu, ia cuma bermaksud mengamati cuaca dan log pose seperti biasa. Tapi begitu keluar kabin, ia malah mendapati Luffy dan Ussop bercanda keterlaluan. Ini gara-gara waktu santap malam kemarin. Ia membantu Sanji mencuci piring dan menghitung semua persediaan makanan yang masih tersisa, serta membuat anggaran makanan untuk ke depannya. Ia tahu Sanji pintar mengelola bagiannya tapi jika sudah menyangkut uang –ya, uangnya– ia akan ambil bagian. Apalagi pola makan Luffy tak bisa diatur. Sanji sudah sering memarahinya tapi Luffy baru bisa diam tak membantah jika Nami sudah turun tangan. Itulah mengapa kunci lemari es dan gudang makanan mereka berdua yang pegang. Tapi Robin juga diberitahu nomor kodenya oleh Sanji. Dan hal ini dimuai saat Robin berceletuk.

-Flashback-

"Wah, kalian ternyata mesra sekali ya," kata Robin dengan senyum maut.

Nami membatu sesaat sementara Sanji langsung memasang pose Mellorine.

"Benarkah itu, Robin-chwan?" Sanji sudah hampir memeluk Nami.

"Apa maksudmu, Robin-neesan? Aku mesra dengan si otak kotor ini?" kata Nami menatap Robin sambil meninju keras Sanji tanpa melihatnya. Membiarkannya terkapar bahagia. "Yang benar saja. Kami kan cuma membicarakan anggaran."

Robin duduk dengan menyandarkan dagu pada telapak tangannya. "Habisnya, cara kalian saling memanggil nama itu lain dari yang lain. Sejak kapan kalian saling memanggil nama dengan panggilan khusus seperti itu?"

"Panggilan khusus?" tanya Nami masih tidak mengerti. "Tidak ada koq."

"Kau tidak pernah memanggil lelaki di kapal ini dengah akhiran –kun kecuali kepada Tuan Koki. Apa kau tidak menyadarinya?"

Eh? Masa? Nami membatin, Betul juga. Sejak kapan ya?

"Dan Tuan Koki hanya memanggil –san padamu. Masa aku yang dewasa ini dipanggil -chan?" lanjut Robin tertawa kecil.

Chan? Nami ingat bahwa Vivi juga dipanggil -chan oleh Sanji. "Memangnya apa artinya?" tanya Nami pada Robin.

"Sejak pertama kali melihat Tuan Koki di Whiskey Peak, aku segera hapal sifatnya yang mudah terpesona dengan setiap wanita. Aku mempelajari bahwa partikel nama panggilan menunjukkan seberapa derajat orang memandang lawan bicaranya. –San berarti ia sangat respek terhadapmu. Dibandingkan denganku yg dipanggil –chan, meskipun kesannya lebih akrab, tapi itu tandanya ia menempatkanmu sebagai wanita teratas. Dalam kasus ini, kurasa jelas ia yang memulainya. Tapi, kau membalasnya dengan –kun. Itu artinya kalian saling perhatian satu sama lain."

Nami mengelak. "Tapi kau juga memanggilnya dengan Cook-san, bukan?"

Robin semakin senang menggoda gadis yang berusia 10 tahun lebin muda darinya itu. "Aku memang memanggil semuanya dengan –san kok: Captain-san, Swordsman-san, Nami-san (dulu Navigator-san), Long Nose-san, Doctor-san, Franky. Sebelum bergabung, aku bahkan tidak pernah memanggil orang dengan seakrab itu. Bagiku, kalian tak tergantikan dan aku memang menyayangi kalian semua. Tapi –kun hanya panggilan khusus untuk lelaki. Beda dengan –san, -kun sama dengan –chan yang menunjukkan derajat keakraban. Kalau ga salah bisa diartikan adik laki-laki, tapi karena Cook-san lebih tua darimu kurasa bukan itu arti sebenarnya. Apa kau tak sadar telah menganggapnya sebagai pacar?"

Nami kehilangan kata-kata untuk membantah Robin. Menganggapnya pacar? Sungguh, selama ini tak ada maksud khusus ia memanggil Sanji dengan sebutan itu. Ia terbiasa dengan segala perlakuan istimewa Sanji dan apakah karena itu pula ia sangat menghargainya? Lalu, membalasnya?

"Maaf menyela kalian," kata Ussop mendatangi mereka.

"Ada perlu apa?" tanya Nami

"Itu Luffy minta makan lagi. Barusan ia menangkap ikan raksasa. Bisa tolong segera dimasak?"

-End of Flashback-

Sial, batin Nami. Sudah berapa lama Ussop mendengarkan pembicaraan itu? Ia sama sekali tak menyangka cowok usil itu akan menjadikannya sebagai bahan lelucon untuk Luffy dan Chopper yang masih polos. Rasa-rasanya ia ingin marah hari ini. Ia malu sekali.

Nami masih membenamkan kepala di antara kedua tangannya. Memanggil nama tanpa partikel akhiran kepada yg lain memang terkesan kasar. Tapi ia merasa hal itu pantas-pantas saja untuk semua ulah kru bodoh itu. Yang waras di kapal ini hanya dirinya dan Robin. Hei, Sanji juga termasuk yang tidak waras kan? Lantas, kenapa ia memanggilnya berbeda? Apa? Apa yang membuatnya demikian? Nami mencari-cari jawabannya.

Tiba-tiba wajah Nami memerah. Kenapa aku jadi memikirkannya? Aku tidak mungkin suka dengan cowok mesum, piktor, dan playboy itu. Sebenarnya kalau saja Sanji bisa bersikap lebih normal mungkin ia akan mempertimbangkannya. Cowok itu baik, pengertian, tidak pernah membantahnya, dapat diandalkan, semua masakannya sangat lezat, dan yang paling penting: ia selalu melindunginya meski itu bisa mengorbankan nyawanya sendiri, Nami bingung, ia tidak punya muka untuk menghadapi Sanji dengan tampang seperti ini. Pada jam-jam segini, biasanya Sanji akan mendatanginya untuk memberinya snack.

Sesuai firasat Nami, di luar Sanji mencarinya. Ia tidak menemukan Nami duduk di kursi malas yang biasanya untuk menikmati udara laut yang cerah. Sanji mengamati rekan-rekannya yang sedang kerja rodi mengepel lantai, membersihkan rumput, dan mengelap pagar. Wah, tumben mereka rajin sekali.

"Hei, Alis Keriting," sahut Zoro. "Ayo, Kerja!"

"Dasar, Marimo. Aku juga kerja tahu! Kau tahu aku seharian di dapur? Tanganku terlalu berharga untuk melakukan pekerjaan kasar seperti kalian. Kau mau kelaparan? Atau kau doyan menyantap daging mentah?"

Zoro sedang tidak ingin berkelahi. Kalau sudah menyangkut makanan, ia akan mengalah. Kalau sudah selesai membersihkan kapal, ia jelas lapar.

"Hei, Luffy. Kau melihat Nami-san?" tanya Sanji mendekati Luffy.

"Snack!" Luffy tidak menjawab sesuai konteks karena melihat apa yg ada di tangan Sanji.

"Kau ini," Sanji mendaratkan kaki pada wajah Luffy yang hendak merampas snack-nya. "Kebetulan kau menangkap ikan besar kemarin. Persediaan makanan sudah nyaris habis tahu! Di Grand Line ini agak susah memancing ikan."

"Semalam koq belum dimasak sih?"

"Itu jatah untuk 2 hari. Bukan untuk kau habiskan sendiri. Hei, kau belum menjawab pertanyaanku. Di mana Nami-san?"

Glek. Ussop maupun Chopper menahan napas. Mereka baru saja mau membekap mulut Luffy yang teramat sangat jujur. Terlambat...

"Oh, tadi kami baru saja menggodanya lalu ia marah. Lihat ia kejam sekali menyuruh kami membersihkan kapal."

BLETAK! JDUKK!

"Gya! Sakit!" Luffy merasakan benjolannya muncul lagi padahal tadi sudah diobati Chopper. Ia lupa kalau Sanji juga berani memukul kepala kaptennya seperti saat mereka di Skypea menghadapi ujian bola Satori. Ia kira yang bisa memukulnya sampai benjol besar cuma Nami dan kakeknya.

Luffy menggoda Nami? Tidak mungkin, pikir Sanji. Ia lalu menoleh pada tersangka lainnya. "Ussop! Apa yang kau katakan pada Luffy?"

Ussop pun mengaku.

Zoro memperhatikan Luffy dan Ussop yang kelimpungan dari dek bawah. Ia mendesah akhirnya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ia bisa memahami mengapa Nami sangat bad mood. Ia sendiri tak terkejut. Sama seperti Robin, sudah lama ia menyadari bahwa dua orang itu saling memanggil dengan sebutan khusus. Tapi ia merasa hal itu bukan urusannya.

Setelah puas menghajar dua anak bodoh tersebut, Sanji pun mencari Nami. Di perpustakaan, ia hanya bertemu Robin. Biasanya kalau tidak sedang mengamati laut, Nami menggambar peta sementara Robin membukukan catatan pelayaran. Robin tidak tahu di mana Nami. Ia lalu mencari lagi ke tempat lain tapi di ruang santai yang menghadap akuarium juga tidak ada. Satu-satunya tempat yang belum dicari adalah kamar cewek tapi apa ia berani masuk?

Sanji pun mengetuk pintu, "Nami-san. Kau di dalam?"

Gya, jerit Nami dalam hatinya. Benar kan, Sanji mencariku sampai ke sini. Pasti Luffy dan Ussop yang mengatakannya. Bagaimana ini?

"Kalau kau merasa keberatan dengan nama itu, aku akan memanggilmu secara biasa," lanjut Sanji. "Kau juga cukup memanggilku dengan sebutan Sanji saja seperti trio kanak-kanak itu. Atau kau boleh memanggilku dengan sebutan yang lain seperti Zoro. Franky, dan Robin-chan. Terserah kau."

Masih tidak ada jawaban.

"Nami, kau dengar kan? Jangan pedulikan Luffy dan Ussop."

Nami? Nami? Cuma Nami? Nami merasa aneh dipanggil seperti itu barusan. Rasanya ada sesuatu yang hilang.

"Aku sudah menghajar dua anak bodoh itu. Kalau belum puas, aku akan menyeret mereka kemari untuk minta maaf."Sanji masih belum mendengar suara tapi ia merasakan Nami di dalam. Ia pun menghela napas dengan semburan asap rokoknya. "Snack-mu ku letakkan di dekat pintu ya?" lanjutnya

Sanji pun menunduk hendak meletakkan piring tapi pintu terbuka. Ia meihat raut wajah Nami yang campur aduk. Terlihat habis marah, kusut karena banyak pikiran, dan sedikit sembab seperti barusan menangis.

"Kau tak apa-apa, Na..."

Sanji belum selesai bicara saat Nami langsung memeluknya. Sanji terpaku meski di dalam benaknya timbul tanda hati yang sangat besar. Ia menutupi rasa senangnya dan mencoba bersikap wajar dengan sikap gentleman untuk menenangkan wanita. Ia mengangkat sebelah tangannya yang tidak membawa piring dan membalas pelukan Nami.

"Jangan kau ubah cara panggilmu. Aku tak mau kau jadi seperti orang lain," kata Nami pelan.

"Jadi kau tidak keberatan kupanggil Nami-san?"

Nami mengangguk dari balik kemeja Sanji.

"Kau masih mau memanggilku Sanji-kun?"

Nami mengangguk lagi.

" Syukurlah..," kata Sanji tersenyum.

Nami lega dengan jawaban Sanji. Ia mundur dan melepas pelukan Sanji. Ia masih belum tahu perasaannya yang sebenarnya sebagaimana Sanji tak pernah mengejarnya untuk meminta jawaban langsung darinya meski ia tahu Sanji jelas menyukainya dan tergambar jelas di setiap perilakunya. Tapi, setidaknya semua kembali jelas dan kembali seperti semula. Ia kira ia akan terus menghindari Sanji hari ini.

"Sanji-kun..."

"Nami-san..."

Luffy dan Ussop tak bisa menahan geli dari balik tembok. Awalnya, mereka hendak meminta maaf pada Nami atas desakan Zoro yang merasa kena getahnya. Tapi mereka malah melihat pemandangan ganjil yang sebelumnya jadi bahan lelucon mereka. Tentu saja, Sanji dan Nami mendengar suara dan menyadari keberadaan mereka.

"Keparat-keparat kecil," kata Sanji sudah pasang tampang seperti setan. "Masih kurang ya? Minta dihajar lagi?"

"SEMBUNYI!" seru Luffy menarik lengan Ussop.

Ussop pasrah karena tahu tak bisa melarikan diri di dalam kapal. Zoro ikut marah karena mereka berlari menabrak ember dan menumpahkan air sabun di kepalanya. Franky dan Chopper tidak bisa melerai mereka. Robin mendengar keributan itu dan ia menganggapnya sebagai keceriaan biasa yang sudah sering melanda kelompok ini. Nami cuek dengan kelakuan bodoh empat remaja cowok berusia 17 dan 19 itu, kali ini ia malas menjitak mereka satu per satu. Ia pun melahap snack dengan perasaan gembira.

End


1. Odacchi pernah bilang di SBS vol.54, Luffy bisa berpikiran mesum kalau ada Ussopdi sampingnya. Itu jawaban waktu ada pembaca yg tanya kenapa Luffy bisa mimisan pas Nami memperlihatkan tubuhnya di pemandian istana Alubarna. Jadi, jangan merasa aneh ya dengan permainan Ussop dan Luffy di pembuka cerita?

2. Luffy pernah berpose pake gaya Sanji, itu bisa dilihat di cover manga vol. 19. Aq lupa chapter berapa. Waktu itu critanya mereka lagi disekap Crocodile dan kan ga ikut tertangkap, trus Luffy maen2 pake gaya Sanji gitu deh XD. Kata Ussop "Gya, mirip banget!"

3. Dalam SBS juga, kan ada yg tanya, kenapa koq Sanji memanggil Nami dengan –san? Koq malah Robin yg pake –chan? Mereka kira Sanji ga sopan manggil wanita yg lebih tua pake –chan. Tapi Oda bilang, bagi Sanji, Nami lebih "queenly." OWH!

4. Lalu, soal nomer kode atau kunci kulkas dan gudang makanan memang hanya Sanji-Nami-Robin yang bisa mengaksesnya. Oda menjelaskan itu saat menggambar denah Thousand Sunny (klo ga salah di vol. 46).

Maaf, aku tak tahu cara Robin memanggil yg lain dalam bahasa Jepangnya karena selama ini aku selalu membaca manga-nya,. Aku hampir ga pernah nonton anime dalam bahasa aslinya. Jadi cuma bisa kutulis pake bahasa Inggris.

Semoga kalian terhibur kali ini, jgn lupa R&R ya!