ChanBaek
T
.
.
.
"Ini salahmu tahu!"
"Hah? Kenapa aku?"
"Dasar tiang bodoh!"
Baekhyun memegangi kepala Chanyeol yang berada dipangkuannya, mengusap wajah lelaki tampan itu ketika peluh-peluh kecil mulai nampak di pelipisnya. Ini sudah 3 menit sejak Chanyeol ambruk, tak ada satupun orang yang mengetahui chef tampan itu tengah tak sadarkan diri disalah satu bilik restoran disana.
Baekhyun berkali-kali memijat kepala lelaki itu dan sesekali juga mengarahkan botol minyak aromateraphy yang selalu ia bawa ke hidung Chanyeol. Membiarkan aromateraphy itu mengalir masuk bersamaan ketika lelaki itu menarik nafasnya.
"Bagaimana bisa kau mengenal Chanyeol?"
"Huh?"
Lelaki tinggi itu bertanya, menyamankan duduknya disamping Baekhyun yang tengah mengusapkan minyak hangatnya didada Chanyeol. Baekhyun tersenyum mendengar pertanyaan lelaki yang tak kalah tinggi dari Chanyeol itu. Ah, ia jadi ingat awal pertemuannya dengan Chanyeol yang langsung membuatnya berdbar-debar.
"Dia pasienku kemarin"
"Kemarin?"
"Ne"
"Bagaimana bisa?"
"kau ingat acara memasak yang ia bintangi?" Lelaki tinggi itu mengangguk, "Kau tahu kalau kemarin dia tidak datang ke lokasi syuting?"
"Ya, aku yang menggantikan membawakan acaranya Baek"
"Kau tahu alasan ia tidak bisa hadir?"
"Staf produksi mengatakan kalau Park Chanyeol sedang ada urusan keluarga"
"Urusan keluarga? Ayolah~ bahkan kemarin ia merintih diranjang rumah sakit"
"Jadi ia benar-benar pasienmu?"
Baekhyun mengangguk, mengancingi kembali kemeja Chanyeol yang sempat ia buka tadi. Tangannya kembali terulur untuk merapikan helaian rambut Chanyeol yang tiba-tiba saja menjadi sangat menyenangkan untuknya.
"Dia keracunan masakannya sendiri Kris"
"Benarkah? Si bodoh ini?"
"Tidak keracunan juga sih, hanya saja tubuhnya tidak merespon dengan baik ma-"
"Eumhh. Dimana ini?"
Baekhyun mengalihkan pandangannya, sedikit tersenyum ketika menyadari lelaki yang kepalanya ada dipangkuannya sudah tersadar. Rasa khawatirnya sedikit demi sedikit menghilang karena melihat Chanyeol yang sudah duduk dan tersenyum padanya. Lelaki tampan itu menggaruk tengkuknya sedikit gugup, Baekhyun memakluminya.
"Bagaimana? Sudah benar-benar sadar"
"Ne, maaf merepotkan"
"Tak apa."
"Park!"
Chanyeol menolehkan kepalanya, menyadari bahwa masih ada seorang pria lagi yang berada diantara dirinya dan Baekhyun. Ia ingat betul kenapa ia bisa ambruk dihadapan Baekhyun tadi. Ia ingat, ini semua gara-gara Wu Yifan sialan itu yang berani-beraninya mengecup pipi pujaan hatinya.
"Apa yang kau lakukan hingga mampir dibilik kami? Kau mengganggu kencanku ngomog-ngomong"
"Apa? kencanmu? Kau pasti bergurau"
"Kau tidak percaya hah?"
"Tidak akan percaya kalau itu KAU yang mengatakan!"
"Yaak! Tiang sialan!"
"Tch, tidak sadar diri"
Baekhyun disana hanya bersikap acuh mendapati dua lelaki tampan didekatnya masih saling menyindir, ia terlalu malas untuk ikut campur didalam hal-hal sepele seperti itu. Ia merapikan tas-nya dan beralih sejenak pada Yifan dan Chanyeol yang masih saja saling berselisih. Sedikit kesal sebenarnya, niatnya kan ia hanya ingin mencari sarapan. Tapi kenapa malah harus berakhir seperti ini? Heol Baek, ini belum berakhir.
"Kalau kalian masih ingin berdebat seperti itu aku pergi"
"JANGAN!/JANGAN!"
"Berhentilah bertengkar."
"Maafkan aku Baekkie"
"Baekkie?"
Chanyeol mendelik kesal kearah Yifan, ia berusaha bangkit dari duduknya walau kepalanya masih terasa sedikit berdenyut. Ia mengedipkan beberapa kali matanya untuk menghilangkan pening sebelum ia berdiri tepat dihadapan Baekhyun.
"Pasti kau masih merasa pusing ya Yeol?"
"Sedikit"
"Duduklah dulu"
"YAAK! Kau bilang ingin pergi Bacon!"
"Maaf hyung, pasienku masih sakit. Aku tidak bisa meninggalkannya"
"Rasakan itu dasar Tiang"
"Yaak! Caplang!"
"Apa kau bilang? Das-"
"Aku cari tempat lain saja!"
Oke, kedua lelaki tinggi itu diam. Keduanya saling tatap sejenak sebelum mereka menyadari kalau Baekhyun sudah keluar dari restoran itu. Mata keduanya membelalak, dan dengan sangat terburu keduanya langsung melesat keluar. Bahkan mereka sampai lupa melakukan penyamaran mereka.
"Ini salahmu hyung!"
"Apa? Jelas-jelas ini salahmu! Kalau kau tidak datang dan menghancurkan kencanku pasti Bacon tidak akan pergi seperti ini"
"Yaak! Sialan, jangan sebut itu kencan!"
"Terserah saja! Yang pen-"
"Wu Yifan?"
"Chanyeol?"
Resiko, resiko dan resiko. Memang terkadang sedikit sulit ketika kau adalah seorang publik figure yang dikenal oleh sisapapun. Kau akan sangat sulit menjalani harimu jika tidak ada penyamaran atau pengawasan dari label management. Begitulah sekarang Yifan dan Chanyeol.
Keduanya sudah terpojok dengan para wanita dan beberapa wartawan yang mengerubungi mereka. Mereka nampak sangat antusias hingga Chanyeol sendiri kembali merasakan pening. Ia menatap Yifan sejenak ketika pertanyaan-pertanyaan dari para wartawan dan fans mulai mendesaknya.
"Dalam rangka apa kalian terlihat sangat akrab seperti tadi?"
"Park Chanyeol, kenapa dihari lalu anda tidak hadir di program memasakmu? Apakah benar ada urusan keluarga?"
Itu baru dua pertanyaan, kalau boleh jujur sebenarnya Chanyeol pun tidak terlalu peduli dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Ia hanya tidak suka situasi seperti ini, membuatnya merasa frustasi karena suara mereka terdengar seperti berdengung ditelinganya.
Yifan disebelahnya berusaha sebisa mungkin untuk meladeni pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Berbading terbalik dengan Chanyeol yang hanya diam dan tetap berusaha untuk melontarkan senyum. Terkesan seolah-olah menyerahkan semuanya pada lelaki tinggi keturunan China Kanada disebelahnya.
"Maaf teman-teman, tapi aku dan Park Chanyeol masih harus mengurusi beberapa hal"
"Tapi Yifan, kudengar kau sedang dekat dengan seseorang. Benarkah?"
"Seseorang? Dekat dalam artian apa?"
"Menjalin hubungan mungkin?"
"Ah itu…..mungkin iya"
"Bisakah kau mem-"
"Permisi!"
Demi apapun Chanyeol dapat mendengar beberapa umpatan dari mulut wartawan didepannya. Ia baru saja hendak menyadarkan wartawan itu tentang apa yang ia ucapkan, tapi tiba-tiba saja tangannya sudah ditarik dan diajak berlari. Ia mengedipkan matanya berkali-kali, menoleh kesampingnya dan kembali mendapati Yifan yang ikut berlari bersamanya juga. Wajahnya nampak kebingungan, dan Chanyeol yakin kalau wajahnya pun pasti menunjukkan ekspresi yang sama seperti itu.
Ia melirik tangannya dan tangan Yifan yang ditarik dan dipaksa untuk berlari itu. Ia blank, tetapi masih bisa mendengar beberapa teriakan yang menyerukan namannya ataupun Yifan dibelakang sana. Kalau ditanya lelah, jujur Chanyeol sangat lelah. Ia tak tahu apakah orang yang menariknya itu ataupun Yifan merasakan lelah juga. Yang jelas ia ingin berhenti berlari dan istirahat, biar saja ia kembali dikerubungi yang penting ia tidak sesak nafas karena kelelahan seperti ini.
"Kumohon!"
"Sebentar lagi"
"Baekkie?"
"Ne Yeollie, sebentar lagi sampai"
"Yaak! Kau mau membawa kami kemana Bacon?"
"Yang jelas membawa kalian kabur agar terhindar dari wartawan-wartawan haus berita itu hyung!"
Kedua lelaki tampan itu masih setia berlari dengan salah satu tangan mereka yang digandeng oleh lelaki bermasker hitam yang belum lama diketahui adalah Baekhyun. Mereka terus saja berlari hingga tiba-tiba saja Baekhyun malah mendorong Chanyeol dan Yifan untuk masuk kedalam gang yang super sempit.
"Hosh,,,hosh,, maaf…aku sudah lelah"
"B-Baekkie hosh,,,,terimakasih"
"Kau benar-benar membantuku Bacon sayang"
"YAAK! Jangan memanggilnya begitu Yifan hyung!"
"Kenapa memangnya? Dia kan bukan kekasihmu"
"Memang bukan… tapi dia kan calon istriku!"
Mwo? Baekhyun sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba suhu tubuhnya meningkat mendengar Chanyeol mengatakan hal itu. Ia malu sungguh, Chanyeol baru saja menggombalinya didepan kakak sepupunya sendiri. Ia melirik Yifan sejenak, memperhatikan bagaimana wajah terkejut sepupunya yang tiba-tiba saja tergantikan oleh seringaian tampan.
"Percaya diri sekali, kau tahu tidak? Baekhyun saja akan menikah denganku bulan ini"
"Aku tidak percaya padamu hyung!"
"Kalau tidak percaya tanya saja pada Baekhyun. Benarkan say-"
"Tidak dan tidak akan pernah Yifan! Sekarang lebih baik kalian berdua ikut denganku."
Chanyeol menyeringai, membuat Yifan ingin sekali rasanya untuk meninju wajah tampan Chef yang sedang naik daun itu. Apa-apaan tadi? Kenapa Baekhyun tiba-tiba saja berubah menjadi sangat sulit untuk diajak bekerja sama. Ah, mungkin hanya karena ia tidak ingin Chanyeol berpikir macam-macam.
'Nampaknya mengganggu Park idiot ini dan juga si Bacon sangat menyenangkan'
.
.
.
"Jadi kalian hanya sepupu?"
"Ne"
Disebrang bangku Chanyeol, Yifan hanya bisa menggerutu tak jelas. Hatinya mengutuk sejadi-jadinya Baekhyun yang malah membongkar status mereka. Padahal niatnya ingin mengerjai Park Chanyeol, tapi sudahlah. Sepertinya Yifan akan mengurungkan niatnya yang satu itu.
Mereka baru saja tiba di kedai setelah berlari-lari menghindari fans dan juga wartawan yang mengejar dua lelaki tampan itu. Berterimakasihlah pada Baekhyun dan otak cemerlangnya, kalau tidak mungkin Yifan dan Chanyeol sudah menjadi santapan lezat para wartawan haus berita itu untuk surat kabar esok hari.
"Aku akan menghabisimu Bacon!"
"Sebelum kau menghabisi Baekkie, kau duluan yang akan habis ditanganku hyung!"
"Diam kau idiot!"
"Kau jauh lebih idiot daripada aku hyung!"
"YAAK! Bacon, tidak kah kau bersedia untuk membantu hyung-mu yang tengah dibully ini?"
"Maaf hyung, kurasa aku setuju dengan Yeollie"
"Huh? Apa-apaan itu? Baekkie dan Yeollie? Kekanakan sekali"
Wajah Chanyeol dan Baekhyun merona seketika, keduanya sempat berdeham sebelum akhirnya membuang pandangan mereka masing-masing. Yifan yang melihatnya kembali menyeringai, ia sudah lelah dan sepertinya ia benar-benar harus tidak peduli lagi pada sepupu cantiknya yang kurang ajar macam Baekhyun itu. Akhirnya pun ia memilih pergi meninggalkan dua lelaki yang saling jatuh cinta itu daripada ia harus menjadi korban pembully-an keduanya.
"Aku pergi. Kalian lanjutkan saja kencan kalian!"
"H-hyung, mau kemana?
"Kenapa sayang? Kau tidak mau aku pergi?"
"Issh, yasudah pergi saja sana!"
"Park, tolong jaga adikku."
"N-ne hyung"
Yifan terkekeh setelahnya, berjalan dengan cool meninggalkan keduanya tanpa memperdulikan Baekhyun yang tengah mengutuknya diam-diam.
"Jadi Baekkie, mau sampai kapan kau disini?"
"E-ehh, bisakah sebentar lagi? Aku masih merasa cukup lelah"
"Apapun untukmu.. selamanya aku berada disini juga tak apa. Asalkan itu bersamamu aku sanggup"
"Apa-apaan itu"
Baekhyun merona dibuatnya, ia menyeruput kembali teh hangat miliknya dengan perlahan. Melirikkan matanya sesekali dan menyadari kalau Park Chanyeol tidak pernah beralih untuk menatap kearah lain selain dirinya. Ia jadi gugup sungguh, ia tidak terbiasa ditatap sebegitu intens oleh orang-orang.
"A-apa ada yang salah Yeol?"
"Tidak ada"
"Lalu kenapa kau terus-terusan menatapku?"
"Apa tidak boleh?"
"B-bukan begitu. Tapi pasti kau punya alasan kan?"
"Aku suka saja memandangi wajahmu, kau menggemaskan dan aku menyukaimu Baekkie"
"Uhukk…a-apa?"
Dengan cekatan Chanyeol membantu Baekhyun, tangan kokohnya terangkat untuk mengusap punggung Baekhyun secara perlahan. Lelaki manis itu merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya malah tersedak seperti tadi. Memalukan.
"Kau tak apa?"
"N-ne, maaf mengejutkanmu"
"Yakin tidak apa-apa?"
"Ne Yeollie, aku hanya tersedak ok"
"Ah, baiklah. Hanya tersedak, kau benar"
Keadaan menjadi hening sejenak, Baekhyun sibuk dengan cipratan teh-nya yang mengotori kemeja putihnya. Ia sesekali menggumam tak jelas hingga Chanyeol disebelahnya tidak bisa untuk tidak tersenyum ketika melihatnya.
"Kau menggemaskan"
Baekhyun mengangkat kepalanya, memandang Chanyeol dengan matanya yang berkedip bingung. Park Chanyeol tidak salah ketika mengatakan Baekhyun itu menggemaskan. Pada kenyataannya kan memang si dokter manis bermarga Byun itu memang menggemaskan. Tak ada yang bisa menyangkal itu.
Keduanya saling tersenyum dengan sedikit rona kemerahan dipipi Baekhyun, Chanyeol menyadarinya dan ia merasa ingin sekali untuk menyentuh pipi Baekhyun yang dihiasi rona merah itu. Namun ia hanya diam, ia masih punya rasa malu ngomong-ngomong. Ia tidak mau dicap sebagai lelaki kurang ajar yang berani menyentuh orang yang baru dikenalnya hanya karena penasaran.
"Hmm, Baekkie"
"Ne?"
"Bisa pinjam ponselmu?"
"Untuk apa?"
"Hmm, rahasia. Sebentar saja"
"Uhm, Baiklah ini"
Baekhyun menyerahkannya, ia kembali sibuk dengan kemejanya yang terdapat noda dan mengabaikan Chanyeol yang tengah sibuk juga dengan ponsel putihnya. Ia menggeleng sesekali karena noda teh itu nampak tak mau hilang dari pakaiannya. Oh ayolah, tidak mungkin Baekhyun bekerja dengan pakaian yang terdapat noda teh seperti itu.
Tadi ia sudah mengingat-ingat apakah ia memiliki cadangan kemejanya dirumah sakit, namun setelah dipikir-pikir itu tidak ada. Ia mengenakan kemeja cadangannya seminggu yang lalu ketika tak senganja Nenek Kim -pasiennya- memuntahkan buburnya dipakaian Baekhyun.
Ia sempat berpikir untuk pulang saja, namun demi apapun ia baru ingat kalau ia sedang merajuk pada mama-nya. Ia sedang tidak mau bertemu dengan wanita itu. Salahkan saja mama-nya yang terus-terusan mengoceh mengenai pacar, tunangan, suami ataupun istri hingga membuat Baekhyun sendiri pusing mendengarnya.
"Ini kukembalikan"
"Sudah?"
"Ne"
Baekhyun tersenyum menerimanya, mengotak-atik sejenak benda persegi putih miliknya yang baru saja dipinjam Chanyeol. Ia melirik sejenak lelaki tampan itu yang masih tersenyum lebar disebelahnya, ia balas tersenyum sebelum kembali lagi kepada ponselnya.
"Coba kita lihat, nama apa yang kau cantumkan untuk kontakmu"
"Eh, kau tahu darimana kalau aku menyimpan kontak-ku?"
"Ayolah Chanyeol, itu sudah terlalu mainstream"
"Benarkah?"
"Ne. Aku bahkan sudah men- tunggu! Future Husband?"
Baekhyun menoleh ragu-ragu dan sekali lagi ia mendapati Chanyeol tengah tersenyum lebar padanya. Ia tertawa, menyipitkan matanya hingga hanya garis yang terlihat oleh Chanyeol. Demi apapun Baekhyun terlihat sangat manis kala itu.
"Baiklah, kita lihat bagaimana ini bekerja"
Baekhyun menekan ikon hijau bergambar telepon diponselnya, menunggu sejenak sebelum lelaki tampan disebelahnya mulai bergerak karena sesuatu disaku celananya mulai bergetar. Chanyeol merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel serupa dengan Baekhyun yang tengah menunjukkan panggilan masuk disana.
"Berikan padaku!"
Baekhyun merebut ponsel Chanyeol, tersenyum aneh ketika tangannya mulai bergerak diatas layar ponsel itu. Nampaknya ia melakukan hal serupa dengan Chanyeol, ditunjukkan dengan senyumnya yang tiba-tiba saja merekah dan juga rona merah dipipinya.
"Ini!"
"Coba ku-"
"Lihatnya nanti saja!"
"Kenapa?"
"Nanti saja pokoknya!"
"Huft, baiklah. Aku mengalah pada kekasih manisku ini"
"YAAK! Kita bukan kekasih Yeollie"
"Tapi kalau aku memintamu menjadi kekasihku bagaimana? Kau mau kan?"
"A-aku,,, a-ah sudah pukul 9. Aku harus kerumah sakit sekarang hehe….ada beberapa operasi hari ini"
"Benarkah? Kalau begitu ayo aku antar"
Baekhyun baru saja hendak membuka mulutnya dan menolak ajakan Chanyeol. Namun melihat lelaki itu sudah menariknya ia hanya diam dan pasrah. Ia berjalan menunduk dan mengusahakan agar orang-orang tidak menyadari bagaimana wajahnya yang memerah saat ini.
.
.
.
"Maaf Baekkie, tapi aku harus mengantarkan ini dulu ke Restoran. Apa kau keberatan untuk menunggu sebentar?"
"Hmm, bergegaslah"
"Baik. Tunggu disini, hanya 5 menit"
Chanyeol tersenyum ketika melihat Baekhyun mengangguk, ia tidak bisa menagan rasa gemasnya pada lelaki manis itu. Ia pun mengulurkan tangannya hanya untuk mengusak helaian rambut Baekhyun dan mencubit pipinya sebelum ia membanting pintu mobilnya dan berlari menuju restorannya.
Baekhyun sendiri hanya bisa diam dan mematung, dinginnya ac mobil Chanyeol tidak terasa sama sekali olehnya. Ia hanya menatapi pantulan dirinya sendiri sambil menyentuh pipinya yang sedikit memerah akibat ulah Chanyeol.
"I-ini! Aku pergi lagi ne. Hanya sebentar! Kalian buka saja restorannya. Aku tidak akan lama"
"Bos, kau mau kemana?"
"Hanya mengantar seseorang"
Baro yang baru saja bertanya mengangguk, ia menyerngit bingung menatap atasannya yang masih terengah-engah itu. Ia sedikit tak tega dan pda akhirnya pun ia meminta Minho untuk mengambilkan segelas air.
"Minumlah! Kau nampak kacau"
"Ne, terimakasih"
"Ohiya, eomma Park mencarimu"
"Benarkah? Dimana dia?"
"Sedang ke toilet"
Chanyeol mengangguk, memberikan lagi gelas kosongnya pada Minho dan tersenyum pada anak buahnya itu. Minho menanyakan apakah Chanyeol masih membutuhkan air dan Chanyeol hanya menggeleng sebagai jawabannya.
"YAAMPUN CHANYEOL! ANAK NAKAL! KAU DARIMANA SAJA HAH? EOMMA MENUNGGUMU BERJAM-JAM!"
"Y-Yaak eomma, sakit"
Chanyeol memekik, ia memegangi tangan eomma-nya yang tengah menarik telinganya dengan brutal. Apa-apaan eomma-nya itu? Ia baru saja sampai dan langsung dimarahi seperti itu?
"Kau darimana saja hah?"
"Aku tadi mampir ke pasar eomma"
"Berjam-jam begitu?"
"Issh, aku mengobrol sedikit dengan seseorang"
"Sia-"
"Bukan siapa-siapa dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan eomma!"
Eomma Park hanya bisa menggerutu tak jelas dan kembali menarik telinga Chanyeol, lelaki tampan itu mengaduh kesakitan dan berusaha meminta tolong pada Karyawannya yang hanya mentertawakan dirinya tanpa rasa iba.
"Eomma, aku harus pergi"
"Kemana?"
"Mengantar seseorang"
"Siapa?"
"Eomma tidak perlu tahu"
"Katakan atau aku tidak akan melepaskan telingamu!"
"YYAK! Eomma kejam sekali"
"Biar saja, cepat katakan!"
"B-baiklah, aku harus mengantar Baekhyun bekerja"
"Baekhyun?"
Eomma Park melepaskan tangannya dari telinga Chanyeol, wanita itu terdiam dan menatap penuh tanda tanya kearah anak lelakinya yang sangat tampan itu. Baekhyun? Seperti pernah dengar.
"Siapa Baekhyun? Kekasihmu ya?"
"Apasih eomma"
"Eoh, ternyata kekasihmu"
"Yaak! Dia dokter Byun eomma. Yang kemarin"
"Benarkah?"
"Ne,"
"Jadi, kekasihmu itu dokter Byun ya?"
"Ya ampun eomma~ berapa kali harus kubilang? Sudahlah aku mau pergi saja!"
"Y-yyak! Anak durhaka! Chanyeol! Chanyeol Park! Ohiya, ajak dokter Byun untuk makan malam bersama!"
"Tidak bisa dia sibuk eomma!"
"Ah baiklah"
Eomma Park menunduk lesu, bibirnya sedikit dimajukan dan itu menggemaskan. Chanyeol yang melihat eomma-nya tertunduk lesu hanya diam dan mengabaikan. Ia sudah cukup lelah dengan sikap kekanakan eomma-nya. 'Nanti juga kembali normal lagi' begitu pikirnya.
Chanyeol pun berpamitan pada eomma dan juga beberapa karyawannya yang kebetulan sudah berkumpul disana. Ia membungkuk sejenak dan mengecup kening eomma-nya sebelum ia berlari keluar dan menghampiri Baekhyun lagi.
"Maaf membuatmu menunggu"
"Tak apa"
Bakhyun tersenyum, memperhatikan balik Chanyeol yang juga tengah memandanginya sebelum ia menyadarkan lelaki tampan itu untuk segera lmelajukan mobilnya. Baekhyun mengalihkan pandangannya kesisi jendela ketika mobil itu sudah mulai melaju.
Ia tahu ini bukanlah perjalanan yang panjang, mengingat jarak restoran Chanyeol dan rumah sakit tempatnya bekerja tidak jauh. Ia maupun Chanyeol tidak nampak banyak bicara, malahan mereka hanya diam sambil sesekali saling melirik tanpa melontarkan kata-kata apapun.
Tak sampai memakan waktu 15 menit keduanya sudah samapi didepan rumah sakit besar tempat Baekhyun bekerja. Chanyeol sudah mematikan mesin mobilnya namun belum sama sekali melihat pergerakan dari Baekhyun. Ia menoleh kearah lelaki manis itu yang ternyata tengah melamun sambil tersenyum.
Chanyeol terkekh melihatnya, Baekhyun terlihat sangat menggemaskan dilihat dari posisi ini. Dan Chanyeol pun mengambil ponselnya, membuka aplikasi kameranya dan mengarahkan kearah Baekhyun.
Saat lampu berwarna putih itu terpancar dan menerangi wajah Baekhyun, lelaki manis itu tersadar. Ia menoleh dan mendapati Chanyeol yang tengah tersenyum-senyum tak jelas sambil menatap ponselnya.
"Hapus itu Chanyeol!"
"Tidak, kau sangat menggemaskan"
"Sudahlah. Kalau begitu terimakasih tumpangannya, aku berhutang banyak padamu"
"Ne, jangan terlalu dipikirkan. Aku senang mengantar kekasihku"
"A-ah, kalau begitu aku permisi. Kapan-kapan kita bertemu lagi ok"
"Ne, hati-hati Baekkie"
Baru saja Baekhyun hendak menutup pintu mobil Chanyeol, tapi lelaki tampan itu malah memanggilnya lagi. Mau tak mau pun Baekhyun menunggu lelaki tampan yang sialnya terlihat gugup itu untuk bicara.
"Apa malam ini kau ada waktu?"
"Waktu? Memangnya kenapa?"
"Hmm, maukah kau ikut bersamaku untuk makan malam bersama keluargaku?"
"Ah, jam berapa?"
"Mungkin sekitar jam 8"
"Hmm, baiklah. Jemput aku disini"
"Baiklah"
"Ne, kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa Future Husband"
Chanyeol terkekeh mendengarnya, ia menatap punggung Baekhyun yang menjauh meninggalkannya. Ia benar-benar menyukai lelaki manis itu dari segi apapun. Chanyeol tidak akan bisa untuk melewatkannya dan kalau sampai itu terjadi ia pasti benar-benar bodoh.
"Ohiya, tadi apa yang ia lakukan pada ponselku ya?"
Ia merogoh sakunya kembali, mengambil ponsel hitam yang wallpapernya sudah berganti menjadi wajah si manis Baekhyun. Ia membuka lockscreen-nya dan mulai menelusuri kontak-nya.
"PCY's Wife?"
"Benarkah?"
Chanyeol benar-benar terkejut melihatnya, ia bahkan sampai membolakan matanya dengan mulutnya yang terus merapalkan tulisan yang ia lihat. Ia baru saja ingin menghubungi nomer itu kalau tiba-tiba ponselnya tidak bergetar dan pesan masuk sudah terpampang disana.
Sampai jumpa nanti malam sayang
Aku menunggumu^^ :*
PCY's Wife
TBC
Annyeong~
Gimana? Gimana?
Kurang panjang kah?
Mian kalo begitu hehe^^
.
.
.
Ohiya buat yang nayain konflik, aku mungkin ga bakal bikin konflik yang berat-berat. Soalnya aku takut gakuat ngetiknya. Ngebayangin Chan sama Baek punya konflik berat tuh sulit gaes… tapi liat nanti aja deh. Kali aja aku berubah pikiran wkwk^^
Mind To Review?
