Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Romance / Angst

Rated: T

Pairing: SasuSaku

Original Story: Mr Endlessly by angel-puppeteer


Endless Memories

Rewritten by: Akina Takahashi

Chapter 4: The Meaning of Love

Sakura membolak-balikkan lembaran buku tebal yang ada di atas meja kerjanya. Wajahnya terlihat serius, matanya menelusuri tulisan-tulisan dengan saksama. Sampai akhirnya ia menemukan sesuatu. Matanya melebar kemudian ia mulai membaca tulisan yang tertera di bukunya.

"Amnesia merupakan penyakit kehilangan daya ingat. Amnesia dapat terjadi karena kerusakan otak atau kecelakaan, stroke, kanker otak, kekurangan vitamin B 12, kekurangan suplai darah ke daerah memori otak, atau karena faktor psikologis." Sakura berhenti membaca.

Sakura menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya kemudian melihat jam dinding yang terpampang di depannya. Jam itu menunjukkan pukul 23.00.

Pantas saja Sakura merasa matanya sangat lelah, ia bahkan belum istirahat sejak pagi tadi. Yah, sejak pagi tadi pasien berdatangan tanpa henti. Sakura baru bisa sedikit tenang beberapa menit yang lalu.

Matanya lelah, begitu juga tubuhnya, ia benar-benar butuh tidur sekarang.

"Sakura-chan." Suara Naruto mengagetkan Sakura.

"Ah, Naruto."

"Sakura-chan, kau tampak pucat. Kau sakit?" Naruto terlihat khawatir.

"Tidak apa-apa Naruto, aku hanya sedikit lelah dan mengantuk." Sakura tersenyum.

"Ayo pulang, Sakura-chan." Naruto menarik tangan Sakura.

"Kau datang kesini hanya untuk menjemputku?" tanya Sakura heran.

"Ya, begitulah. Hehe." Naruto tersenyum lebar sementara tangannya masih menarik tangan Sakura membimbingnya keluar rumah sakit.

"Naruto…" bisik Sakura.

"Ya, Sakura-chan." Naruto menggenggam erat tangan Sakura. Angin malam mulai menusuk tubuhnya.

Sakura mengangkat kepalanya menatap rembulan yang bersinar terang di langit "Bagaimana jika Sasuke-kun tak akan pernah mengingat diriku lagi?"

"DEG"

"Kenapa kau bicara seperti itu Sakura-chan?"

"Tidak, aku hanya berpikir tiga tahun itu adalah jangka waktu yang terlalu lama untuk suatu amnesia sesaat. Kupikir bisa saja, Sasuke mengalami amnesia permanen." Suara Sakura terdengar sedih.

"Kalau itu terjadi, jadilah masa depan baginya."

"Eh?"

"Kalau kau tidak bisa menjadi masa lalunya maka jadilah masa depan baginya. Lagipula cinta tak mengenal batas waktu kan?" Naruto tersenyum lembut

.

Lihat aku Sakura-chan.

Aku mencintaimu.

Aku akan melakukan apapun untukmu.

Sakura-chan.

.

Sakura menatap mata biru Naruto kemudian tersenyum. "Terima kasih Naruto."

"Aku benar-benar lelah, bisakah kau menggendongku Naruto?" Sakura berkata dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

"Tentu saja. Kau tampak tidak sehat Sakura." Naruto menggendong Sakura di punggungnya.

"Lain kali kau tidak boleh memaksakan diri seperti ini ya Sakura-chan. Aku mengkhawatirkanmu." Ujar Naruto pelan.

"Aku mencintaimu Sakura-chan, lebih dari siapapun. Aku akan membantumu menggapai kebahagiaanmu bagaimanapun caranya meskipun aku harus terluka." Naruto tersenyum pahit.

Naruto mendengar bunyi dengkuran halus di telinganya dia bersyukur Sakura tidak mendengar perkataannya tadi, karena jika Sakura mendengar, entah bagaimana perasaan Sakura.

"Selamat malam, Naruto-san" sapa seorang gadis berambut merah dan bermata hijau di sebelahnya tampak seorang Sasuke Uchiha.

"Ah, selamat malam Karin-san." Naruto mengalihkan pandangannya pada Sasuke yang berdiri dengan tampang bosan di depannya. "Selamat malam Sasuke."

"Wah, wah, Naruto-san benar-benar terlihat serasi dengan Sakura-san ya?" goda Karin ketika melihat sosok Sakura yang sedang tertidur di punggung Naruto.

Naruto merasa hatinya sakit. Ia berusaha mengendalikan emosinya. Ia hanya tersenyum menanggapi Karin.

"Ayo kita pulang Karin." Sasuke menarik tangan Karin. Wajahnya tampak kesal. Entah kenapa ia merasa hatinya panas. Entah kenapa ia iri melihat Naruto.

"Selamat tinggal Naruto-san!" Karin melambaikan tangannya pada Naruto.

.

.


Sakura-chan, aku akan selalu melindungimu.


.

.

Sakura membuka mata hijaunya perlahan. Seketika ia menyadari pemandangan yang dillihatnya tampak asing.

Ini bukan kamarnya.

"Sudah bangun Sakura-chan?" Suara Naruto mengagetkan Sakura.

"Uhh ini dimana?" Sakura memegangi kepalanya yang sedikit sakit.

"Kamarku." Jawab Naruto riang. "Semalam kau tidur nyenyak sekali di punggungku. Aku tidak punya kunci apartemenmu jadi kau kubawa kesini." Naruto mendudukkan dirinya di tepi single bed miliknya.

"Ah… iya." Sakura menganggukkan kepalanya pertanda ia telah mengingat semua kejadian semalam.

"Ah, tenang saja Sakura-chan. Aku tidak melakukan apa-apa padamu. Semalam aku tidur di sofa di ruang tamu kok." Naruto menjelaskan dengan sedikit panik.

"Haha tidak usah seperti itu Naruto. Aku percaya padamu kok. Aku yakin, kau tidak mungkin berani melakukan apapun padaku selagi aku tidur." Sakura tersenyum lebar menatap Naruto yang duduk di sampingnya.

"Hehe." Naruto tersenyum membalas senyuman Sakura.

"Sakura-chan." Panggil Naruto.

"Hmm."

"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"

"Soal apa?"

"Tentu saja soal Sasuke."

"Oh…" Wajah Sakura tampak sedih. "Aku tidak tahu."

"Hei, hei, kemana sakura-chan yang kukenal selama ini?" Naruto menghela napas sesaat. "Kemana perginya Sakura-chan yang selalu bersemangat walaupun di tengah badai sekalipun?"

"Dia sudah mati. Naruto."

"Eh?" Mata biru Naruto melebar.

"Sakura yang itu telah sadar bahwa dirinya tak akan bertahan. Ia memilih untuk mati. Ia memilih untuk menghilang selamanya dari dunia ini." Sakura menundukkan wajahnya menghindari tatapan mata biru Naruto.

"Sakura-chan…" Naruto menggenggam tangan Sakura dengan erat.

"Sudahlah Naruto, aku tidak apa-apa."

"Lalu, kau akan melepas Sasuke begitu saja? Membiarkan dia melupakanmu selamanya?"

"Ya. Dia sudah seharusnya bahagia. Dengan atau tanpa diriku. Aku tidak boleh egois dengan memaksakan cintaku padanya." Sakura tersenyum pahit. "Aku hanya akan mencintainya dari jauh. Berdoa agar ia selalu bahagia."

Naruto mengepalkan tangannya. Berbagai emosi melintas di bola mata birunya.

"Lalu bagaimana denganmu Sakura-chan? Kau juga berhak bahagia kan?" Suara Naruto bergetar.

"Asalkan dia bahagia, aku pun akan berbahagia untuknya." Jawab Sakura.

"Walaupun itu artinya dia akan menikah dengan orang lain dan meninggalkanmu sendirian?"

Uhh

Kali ini kata-kata Naruto benar-benar menusuk hati Sakura. Sakura memaksakan dirinya tersenyum kemudian berkata "Ya."

"Kau bohong, Sakura."

"Eh?" Mata hijau Sakura melebar.

"Wajahmu sama sekali tidak menunjukkan hal itu." Naruto menatap mata emerald Sakura dengan serius. Ia menahan semua emosi yang melintas di pikirannya.

"Kau ingin dia mengingatmu kan?" Naruto menghela napas. "Kau ingin dia membalas cintamu kan? Kau ingin dia bersamamu kan?"

Semua perkataan Naruto seakan menujam-nujam hati Sakura.

"Hentikan." Sakura berbisik lemah. Suaranya bergetar.

"Kau tidak boleh berbohong Sakura."

"Sudah hentikan. Aku tidak mau dengar lagi. Naruto kumohon." Sakura mencengkram lengan pergelangan tangan Naruto. Air mata berkumpul di kornea matanya.

"Sudah, jangan berbohong lagi." Naruto memeluk tubuh Sakura. "Katakan yang sebenarnya."

"Uhh hu hu…" tangis Sakura akhirnya pecah. "Aku mencintainya Naruto. Benar-benar mencintainya." Sakura menangis. Membenamkan wajahnya di dada Naruto.

"Sakura-chan." Naruto merasakan hatinya sakit. Hatinya sakit melihat gadis yang dicintainya seperti ini.

"…"

Aku mencintaimu Sasuke-kun

Selamanya…

-TSUZUKU—


Balesan Review dari chapter 2 sampe 3

Uchiha Ry-chan: ya, aku juga semangat nih buat ngelanjutin. tapi maaf kayanya bakal rada lama updatenya. Nanti deh aku ceritain di chap-chap selanjutnya alasan Sasu bisa ilang ingatan. Suigetsu dan Juugo mungkin ga bakal muncul di fic ini.
Tetep baca Endless ya!

Furu-pyon: Hiee jangan pundung dong Furu... aku bingung sih mau ngomong apa, jadinya pendek. hahaha

Chiwe-SasuSaku: Iya, Naruto jadi cakep. Ah dia mah emamg cakep cuman sifatnya aja yang bikin cakepnya ilang. Bapaknya lebih cakep lagi. Yah coba bapaknya masih ada... Sumpah aku ketawa ngakak pas baca kata aa UKE dan aa UTO. Ya allah, kenapa kesannya mereka jadi kaya tukang beca yang suka mangkal di deket taman lalu lintas? (Eh banci meureun itu mah.) Cih, Sasu UKE tapi belagak SEME... nanti aku bikin Sasu yang UKE ah... (Yaoinya kumat).

Weeehh aku ga bakal tega bikin Sasu nikahin Karin gembel itu. Si Karin mah mati aja! (gomen buat penggemar Karin). Iya nih update!

m4yura: Iya, aku bingung nih kalo ga kuganti Karin. Soalnya aku pengen bikin dia jadi antagonis. Tsubasa kan kesannya gimana gitu, jadi ga pas aja. Iya, NaruSaku so sweet banget ya... tapi tetep aja aku suka SasuSaku. Makasih ya!

Rye Hikaru: Iya ya? Kasian Naruto... liat aja nanti deh. Makasih ya

cumanumpanglewat: Makasih. Wah NaruSaku ya? liat nanti ya!

Myuuga Arai: Iya, rada beda sama yang punya angel-san. Sakura emang kubikin rada mellow, pendiam, dan gloomy gitu. biar sesuai sama image angst fic ini. Inti cerita? ga tau juga nih beda atau ngga tapi yang jelas bakal banyak adegan yang ga ada di Mr_endlessly. Makasih ya udah review.

UchiHAruno SasuSaku: Iya bapaknya Naruto ganteng ya? hahaha, Emang Sasuke tuh bego ya? ga nyadar-nyadar segitu si Saku sampe menderita gitu.

Ritsuki n Ritsuka: Iya, aku bedain... banyak malah. tapi nanti setelah chap-chap akhir. suka ficnya angel-san juga? keren banget ya semua bikinannya angel-san.

Hiryuka Nishimori: Iya dia emang nyebelin. Tenang aja dia ga bakal jadi ama Sasu kok.

Ceprutth DeiDei: Hehe ga apa-apa kok. Yang penting udah review. Eh aku ngakak banget baca ficmu, pengen nyoba bikin fic comedy deh...

Aku bener-bener butuh review kalian sebagai motivator aku nulis di tengah keruwetanku sebagai mahasiswa teknik.

Review kalian sangat kutunggu.

Arigatou

With Love,

Akina Takahashi