To Claim My Love
Pairing : Grimmjow Jeagerjaquez & Kuchiki Rukia
By : Nakki Desinta
.
.
.
Summary : Ada sebuah ikatan yang tak terikrarkan di antara mereka, keduanya saling melengkapi, namun yang satu tidak menyadarinya, dan yang satu tidak ingin mengakuinya. Sesungguhnya yang mereka butuhkan hanya jujur pada diri sendiri. Lalu apakah mereka tetap bisa jujur jika ada pihak ketiga di antara mereka?
.
.
Disclaimer : Bleach punya Tite Kubo Sensei
.
.
.
"Kau tahu berapa harga program yang aku buat?" tanya pria itu, tetap dengan alis berkerut dalam.
Rukia menggeleng dengan polosnya.
"Kau sudah menghancurkan hidupku, sekarang ikut aku. Kau harus mempertanggungjawabkan semuanya!"
Pria itu langsung mencengkram tangan Rukia, seolah takut Rukia akan kabur, dan Rukia yang sudah jatuh lemas karena menghadapi hari yang terlalu sial ini hanya ikut saja, karena dia memang bersalah dan harus bertanggungjawab penuh.
"Memangnya berapa yang harus aku ganti?" tanya Rukia datar, merasakan seluruh simpanannya akan melayang jika pria ini menyebut sebuah angka. Tapi jika dinilai dari penampilannya, sepertinya pria ini tidak terlalu hebat, lihat saja celana jeans buluk yang ia gunakan, serta kaos hitam yang warnanya hampir pudar itu, apalagi rambutnya yang berwarna putih, ia malah terlihat seperti seorang albino, pastinya ia tidak akan menyabut angka yang terlalu besar.
"Tidak akan cukup sekalipun kau bekerja seumur hidupmu padaku!" hardik pria itu seraya terus melangkah menuju area parkir sebuah pusat perbelanjaan.
Rukia diam saja menanggapi ucapan setinggi langit dari pria itu.
"Aku akan meminta Kakak membayarnya juga kalau aku tidak mampu membayarnya," gerutu Rukia sangat pelan.
"Kau bilang apa?" Pria itu terus bicara dengan nada tinggi, seolah Rukia adalah manusia tuli.
"Aku tidak mengatakan apa-apa," gumam Rukia dengan lirikan tajam.
"Berikan kartu identitasmu!"
"Kartu-"
Rukia baru saja teringat, kopernya ikut melayang saat ia dikejar orang-orang jahat tadi, dia meninggalkan seluruh surat-surat miliknya dalam koper dan yang ada dalam kantong jaketnya nya saat ini hanya ponsel dan dompet.
"Hilang," ucap Rukia datar.
"Kau mencoba berbohong?"
Rukia menggeleng dengan tenangnya.
"Memangnya kau tidak membawa apapun?"
Tiba-tiba pria itu mulai menggeledah jacket Rukia, dan Rukia langsung bergerak menjauh dari pria tidak sopan itu.
"Jaga tanganmu! Kurang ajar sekali kau! Sudah ku bilang hilang ya hilang! Aku baru sampai di bandara tiga puluh menit lalu dan dikejar orang jahat, koperku hilang! Kalau kau mau ambil ini!"
Rukia langsung mengeluarkan dompet dan ponselnya, menyerahkannya pada pria berambut putih itu. Pria itu pun menerimanya dengan santai, dia langsung menggeledah isi dompet Rukia, dia melihat sebuah kartu debit dengan identitas pemiliknya.
"Kuchiki Rukia, kau bukan penduduk London?"
Rukia mengangguk.
"Ini makin sulit, kau imigran gelap, ya kan?"
"Bukan, aku ke sini untuk melanjutkan kuliahku. Tapi…"
Rukia kembali lemas saat mengingat kopernya yang harus ia lempar tadi, dia sangat menyesal sudah melempar kopernya, hilang sudah semua dokumen dan harapannya untuk hidup di London, apalagi untuk kuliah, hancur sudah. Yang benar saja? Apa harus pulang, dan kembali ke Kakak Byakuya yang akan ceramah panjang lebar mengenai disiplin dan tanggungjawab sebagai seorang adik.
"Matsumoto, aku di area parkir!"
Rukia melirik pria yang sedang berbicara di ponselnya, dan entah mengapa kerut di dahinya menghilang begitu saja saat menyebut nama Matsumoto. Pria itu kembali mencengkram tangan Rukia setelah mengantongi ponselnya, dan tangannya yang bebas memegang benda berharga Rukia yang tersisa. Jari-jari pria itu sangat kurus dan pucat, entah mengapa Rukia merasa penasaran dengan warna yang serba pudar pada pria ini. Warna mata, rambut, bahkan kulit, semuanya sama pudarnya.
Perhatian Rukia teralihkan saat melihat sebuah mobil sport berwarna hitam metalik berhenti di depannya, kaca mobil turun dan menunjukkan seorang wanita bertubuh sintal dengan rambut berwarna orange bergelombang di balik kemudi.
"Siapa dia?" tanya wanita itu dengan dagu terangkat, menanyakan kehadiran Rukia.
"Pembawa bencana!" jawab pria itu sengit dan dia langsung mendorong Rukia masuk ke jok belakang kemudi, sementara ia mendorong Rukia untuk duduk bergeser agar ia bisa duduk di sampingnya.
"Wanita bertubuh mungil ini? Bencana apa maksudmu?" tatapan mata Matsumoto tertuju pada Rukia, tampak tidak percaya.
Mobil mulai melaju, dan sungguh kecepatan yang sangat tak terduga, Rukia sampai terhempas ke jok belakang karena wanita bernama Matsumoto itu menginjak pedal gasnya dalam-dalam.
"Dia menabrakku dan membuat laptopku jatuh, sudah ku pastikan laptopku tidak selamat karena sudah terlindas mobil."
Matsumoto langsung tertawa keras, menertawakan wajah kesal atasannya, matanya mengerling nakal pada Rukia.
"Kelihatannya dia lawan yang cocok untukmu, Toushiro!"
Untuk pertama kalinya Rukia mendengar nama pria yang duduk di sebelahnya. Sesungguhnya dia masih sangat bingung dengan semua situasi ini, dalam satu hari ini mengalami begitu banyak kejadian yang sepertinya akan menjadi langkah awal perubahan besar dalam hidupnya.
Perpisahan dengan Grimmjow, keputusan untuk kembali kuliah, hingga harapannya hilang sama sekali, dan terdampar dalam ancaman tanggungjawab pria bernama Toushiro ini.
"Kau mau bawa aku ke mana?" tanya Rukia saat melihat mobil masuk ke jalan area perkantoran dengan gedung berpuluh-puluh lantai.
"Kita lihat sejujur apa kau, dan baru itu ku serahkan kau pada polisi!" ancam Toushiro yang tak juga merasa tenang saat mengingat semua program yang ia sudah buat selama berbulan-bulan hilang semua.
Rukia hanya bungkam dan kembali memerhatikan jalan. Sesungguhnya dia agak risih dengan tangan Toushiro yang tidak juga melepasnya, padahal sudah berada dalam mobil dan tidak mungkin kabur dengan lompat dari mobil, kan?
.
.
.
Byakuya melihat layar ponselnya, dan sudah bosan menekan tombol call hingga ratusan kali, namun Rukia tidak pernah menjawabnya langsung, selalu suara operator.
Beberapa jam lalu Ulquiorra menelepon dan menanyakan keberadaan Rukia, sekarang Rukia sama sekali tidak bisa ia hubungi, dan setengah jam lalu ia dengar berita dari Ichigo, produser Rukia, bahwa Rukia mengambil cuti panjang.
"Ada yang tidak beres, tidak biasanya Rukia pergi tanpa meminta izinku," desis Byakuya yang kembali berjuang dengan ponselnya.
.
.
.
Grimmjow terduduk di tempat tidurnya, matanya kosong menatap sebuah titik di dinding kamarnya.
"Kau tidak benar-benar pergi kan, Rukia? Kau akan kembali, iya kan?"
Grimmjow mengusap wajahnya dengan kedua tangan, menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, semakin ia meyakinkan diri, semakin ia yakin Rukia telah jauh darinya. Sekarang ia hanya bisa menyesali semua kebodohannya yang selalu membanggakan Rukia sebagai tong sampahnya. Sesungguhnya posisi Rukia jauh lebih berharga dari itu, Rukia bukanlah tong sampah, Rukia adalah singgasana yang menempati tempat tertinggi di hatinya, dan Grimmjow akan selalu ke singgasana itu, bukan untuk mendudukinya, tapi untuk mengaguminya sebagai sosok yang kuat, kokoh dan selalu menawarkan tempat yang nyaman bagi siapapun.
.
.
.
.
Pandangan mata berwarna biru gelap itu memindai sekelilingnya, dari pertama memasuki lobby, masuk ke lift, bahkan memasuki sebuah ruangan dengan tulisan direktur, ia hanya bengong mendapati tatapan tanya setiap orang yang ia temui. Pandangan setiapnya pasti pertama kali tertuju pada tangannya yang berada dalam cengkraman Toushiro, lalu beralih pada wajahnya, dan setelah itu bisik-bisik menjadi penutup penasaran yang sangat sempurna.
Toushiro duduk di sofa, meletakkan ponsel dan dompet Rukia di meja depan sofa, dia tidak juga melepaskan tangan Rukia, hingga mau tidak mau Rukia duduk di sebelahnya. Perlahan Toushiro memijat kepalanya yang berdenyut hebat, sepertinya migraine kembali menyerangnya.
"Cari informasi tentangnya di internet!"
Matsumoto mengikuti perintah Toushiro, dan saat itu juga Rukia baru sadar dengan sebuah tanda pengenal yang menggantung di tiang gantungan mantel, foto pria albino di sebelahnya dengan jabatan Programmer.
Pandangan Rukia kembali ke pria yang tengah merilekskan diri di sofa itu, matanya kembali berpusat pada pakaian lusuh Toushiro.
"Kuchiki Rukia, umur 26 tahun, profesi psikolog dan penulis. Adik dari Kuchiki Byakuya, kepala kepolisian Jepang," tutur Matsumoto dengan mata mengerling nakal pada Rukia, dan dia membacakan semua data diri tentang Rukia, sejak ia masuk taman kanak-kanak hingga lulus kuliah.
Rukia kaget mendengar betapa detailnya data tentang dirinya, padahal ia tidak pernah meng-upload data dirinya, bahkan menjelaskannya pada siapapun.
"Heh? Kau juga memiliki hubungan dekat dengan bangsawan Grimmjow Jeagerjaquez?"
Toushiro yang sedari tadi masih duduk rileks, tiba-tiba saja tersentak, matanya langsung terbuka lebar dan tertuju pada Rukia seorang, tapi di detik selanjutnya dia langsung memicingkan matanya.
"Jadi kau benar-benar bukan imigran gelap?"
"Bukannya sudah aku jelaskan tadi?" kata Rukia dengan nada bosan.
"Berani sekali kau bicara seperti itu padaku? Kau tidak sadar besarnya kerugian yang kau timbulkan padaku?"
Rukia menghela napas, entah mengapa ia merasa orang ini sama sekali tidak pernah menurunkan nada bicaranya, membuat Rukia sedikit teringat dengan tabiat meledak-ledak milik Grimmjow, dan tiba-tiba rasa sakit itu kembali menyerangnya.
"Matsumoto!"
"Ya?" jawab wanita berdada besar itu.
"Hubungi Kakaknya, dan minta gan-"
"Jangan!" potong Rukia cepat, membuat dua itu langsung menoleh padanya. Rukia menekap mulutnya cepat, tidak menyangka akan sepanik ini saat Toushiro berniat menghubungi Kakak Byakuya. Dia tidak ingin secepat ini dipaksa pulang, dia tidak ingin kembali saat hatinya belum siap sepenuhnya, dia tidak akan membiarkan dirinya kembali sakit jika menjejak jalan yang pernah ia tapaki itu.
"Aku akan mengganti semua kerugian, tapi jangan pernah libatkan Kakakku," kata Rukia, berusaha nampak bertindak dewasa.
"Sepertinya kau kabur dari rumah." Toushiro mencondongkan tubuh, hingga dahinya hampir menyentuh dahi Rukia. Rukia reflek menghindar hingga punggungnya menyentuh armrest sofa.
"A-aku tidak kabur," jawab Rukia mendadak gagap saat merasakan hembusan napas Toushiro menyapa wajahnya.
"Sepertinya ini akan menjadi proses pertanggungjawaban yang sulit," gumam Toushiro yang mempertahankan posisinya.
"Aku akan membayarnya, aku akan bekerja jika semua tabunganku tidak cukup untuk membayarnya, bukankah itu sudah lebih dari cukup?"
Toushiro mengangkat alisnya tinggi-tinggi dan melihat kesungguhan di mata Rukia, menyadari wanita ini sepertinya tidak ingin kembali ke masa lalunya apapun alasannya, dan tiba-tiba saja ia merasa sangat tertarik untuk melihat isi hati wanita ini, serta kedekatannya dengan seorang bangsawan yang justru dia tidak manfaatkan, malah kabur ke negara lain, pasti ada alasan yang mendasari semuanya.
"Baiklah, sekarang aku jelaskan berapa biaya yang harus kau ganti."
Toushiro kembali tegak, menghilangkan kesenangan Matsumoto yang tengah menonton adegan intimidasi Toushiro yang sudah sejak sangat lama tidak ia lihat.
"Program yang kau rusak itu akan digunakan oleh pihak bandara untuk mengoperasikan semua pesawat dan pembagian waktunya, bisa kau bayangkan berapa harganya?" tanya Toushiro.
Rukia membelalak dan bibirnya terasa kelu.
"Seharga pesawat?" tebak Rukia sambil menelan ludah banyak-banyak.
"Lebih dari itu, mungkin seharga sebuah bandara dengan seluruh isinya," tambah Toushiro yang berusaha menahan tawanya saat melihat mata Rukia makin membesar.
Matsumoto tersenyum tipis, dia tidak pernah menyangka Toushiro akan tertarik pada wanita bertubuh mungil itu, sudah lama sekali sejak terakhir kali Toushiro menunjukkan ketertarikannya pada wanita.
"Kau pasti sedang menipuku kan?" kata Rukia setelah berhasil menguasai diri, karena dia sering melihat tipuan jenis ini untuk memeras seseorang dan jangan lupa kalau dia adalah psikiater.
Toushiro tampak terkesiap mendengar kalimat balasan Rukia, jujur saja dia memang berbohong bahwa programnya seharga bandara dengan isinya, sebenarnya program itu mungkin hanya seharga lima atau sepuluh unit pesawat jet, yah… dia hanya ingin terlihat sedikit lebih menggertak.
"Anggap saja aku berbohong tentang bandara beserta isinya, tapi apa kau bisa membayar harga senilai satu unit pesawat?" tantang Toushiro, dan Rukia menggeleng pasrah, membuatnya tersenyum penuh kemenangan.
"Sekarang sudah jelas, kan?" gelaknya penuh percaya diri, "Sekarang kau mau membayarnya atau ku serahkan kau pada polisi?"
Rukia terdiam, berpikir sejenak, dengan cepat otaknya bergerak menghitung jumlah simpanannya di bank beserta beberapa depositonya, mungkin kalau semuanya dikumpulkan, untuk membeli sayap pesawat saja tidak cukup, jika harus bekerja, berapa tahun harus ia habiskan demi menutup semua ganti rugi ini? Tapi kalau dilaporkan ke polisi, maka sudah pasti ia akan berakhir di tangan Kakak Byakuya.
Toushiro membaca kebimbangan di wajah Rukia, dia sudah mengira, sekaya apapun adik kepala polisi yang sekaligus penulis ini, tidak akan mampu membeli sebuah pesawat.
"Aku memiliki cara yang lebih mudah agar kau bisa membayar ganti rugi," tandas Toushiro.
Rukia memberikan tatapannya pada Toushiro.
"Berikan semua uang yang kau miliki, dan kekurangannya kau ganti dengan semua kemampuanmu."
"Maksudmu?"
"Kau penulis kan? Seharusnya kau bisa mengetik dengan cepat dan mengoperasikan beberapa program sederhana."
"Lalu?"
"Bantu aku menyelesaikan program yang kau rusak itu, dan kau bisa bebas setelahnya."
"Kau bicara seperti aku ini tahananmu saja," sahut Rukia sengit.
"Emm, mungkin status itu cukup tepat untuk kau yang tidak memiliki pilihan lain," celetuk Toushiro dengan senyum licik super lebar.
.
.
.
Sudah dua hari berlalu, dan sepertinya waktu tidak pernah beranjak bagi Grimmjow.
Ulquiorra memerhatikan temannya yang tidak juga bergerak dari tempat tidur, hanya menatap langit-langit kosong, dan itu sudah berlangsung selama berjam-jam.
"Kejar dia kalau kau memang sebegitu kehilangannya."
Grimmjow tidak menjawab, dia terus membiarkan matanya terbuka pada satu titik di bidang berwarna putih bersih itu.
"Aku tidak akan mengejarnya, bukankah dia bilang dia akan kembali jika waktunya sudah tepat?"
"Memangnya kau tahu kapan waktu yang tepat itu akan tiba?"
Grimmjow menggeleng pelan.
"Karena itu kejar dia, Grimm!"
"Aku tidak akan pergi," tandas Grimmjow dengan wajah kukuh.
Ulquiorra makin mengerutkan alis melihat sikap Grimmjow yang seolah tak ingin bergerak sedikitpun.
"Mungkin ini terdengar gila, tapi aku yakin dia akan kembali padaku. Sampai kapanpun dia akan tetap kembali padaku, dia akan sadar bahwa aku satu-satunya yang bisa ia miliki," lanjut Grimmjow seraya menghela napas, merasa dirinya sendiri bodoh telah membiarkan Rukia pergi dari hidupnya.
"Terserah kau saja, tapi kalau kau menyesal jangan salahkan aku, dan yang terpenting lagi jangan libatkan aku dalam permasalahanmu!" kata Ulquiorra penuh penekanan.
Grimmjow hanya mengangguk pasrah dan kembali memerhatikan titik yang sama di langit-langit kamarnya, ia ingin membiarkan hatinya berkabung untuk beberapa saat, tidak pernah ia sesedih ini saat ditinggalkan seseorang, dan tidak pernah ia membayangkan bahwa Rukia akan perginya, semua hanya berawal dari kesalahpahaman, dan kenapa begitu sulit untuk meluruskan semuanya ke jalur yang benar?
.
.
.
"Bagaimana bisa aku menjalankan program serumit ini?" sela Rukia saat Toushiro menyodorkannya laptop dengan screen menunjukkan pop up menu-menu yang berbaris dengan tulisan serta rumus fungsi yang terlalu banyak.
"Berapa nilai logaritmamu?" jawab Toushiro dengan mata tidak beralih dari laptopnya, mata aquanya bergerak cepat mengikuti gerakan cursornya, mengetik dan memeriksanya berdasarkan kertas yang tergeletak di mejanya, dia nampak tidak kesulitan sama sekali, bekerja sambil mengobrol, seolah konsentrasinya memang bisa bercabang sejak lahir.
"Aku lulusan psikolog, tidak ada bakat di logaritma!" tandas Rukia emosi.
Toushiro melepaskan kacamata yang ia kenakan, dan menatap Rukia dalam-dalam.
"Kalau begitu tinggalkan laptop itu dan buatkan aku kopi," katanya cepat.
"Kau-!" Rukia menggeram dalam-dalam, berusaha mengontrol emosinya.
"Memang apalagi yang bisa kau lakukan? Bukankah kau berjanji akan membantuku menyelesaikan programku?" seloroh Toushiro dengan senyum iblisnya.
"Dengan membuatkan kopi?" kejar Rukia tidak terima.
"Ehm, begitulah. Itu juga bisa disebut membantu."
Rukia menahan amarahnya, melihat wajah pucat menyebalkan itu sungguh memancing pengendalian emosinya untuk hancur berkeping-keping, betapa menghadapi Toushiro benar-benar mengujinya, menyita seluruh kesabaran dan ketenangannya.
Wanita bermata bulat itu beranjak dari kursi dan berjalan menuju pantry dengan helaan napas berat. Mungkin ini sangat terdengar konyol, tapi inilah yang ia jalani setelah pria albino ini membuat perjanjian sepihak untuk mengganti rugi program yang Rukia sendiri tidak begitu mengerti.
Awalnya Rukia mengira Toushiro, atau lebih lengkapnya Hitsugaya Toushiro, hanyalah pria lusuh yang pintar menipu, namun dalam dua hari ini ia dibuat melongo dengan segala hal yang tidak ia mengerti bagaimana bisa terjadi.
Hitsugaya Toushiro adalah 'Programmer' di perusahaan bernama Sky Net, dia lebih suka disebut seperti itu daripada disebut 'Direktur' yang menurut Matsumoto Rangiku – sekretaris Hitsugaya Toushiro-terdengar jauh lebih keren. Pria itu memutuskan Rukia tinggal di rumahnya yang berlantai tiga, yang pemetaannya ; lantai satu untuk tamu, lantai dua untuk perpustakaan serta ruang tidur, dan lantai tiga untuk bekerja, pembagian yang benar-benar sempurna, lengkap dengan pelayan di tiap lantainya, memenuhi semua kebutuhan penghuninya tanpa banyak menemui kesulitan.
Rukia merasa agak aneh tinggal satu atap dengan pria yang baru ia kenal, tapi mengingat pria ini juga mengancam akan melaporkan semuanya pada polisi, jadi ia menurut, toh hanya sampai program itu selesai, dan berdasarkan informasi Matsumoto, Toushiro bisa menyelesaikan sebuah program paling lambat tiga atau empat bulan.
Bersabar, hanya itu yang bisa Rukia lakukan hingga ia bisa bebas dari pria ini.
Matsumoto membeberkan semua rahasia Toushiro secara gamblang pada Rukia, sepertinya wanita bertubuh seksi ini memang suka sekali bergosip, dan dia memaksa Rukia memanggilnya dengan Rangiku, tapi Rukia menolak karena Toushiro memanggilnya begitu.
"Toushiro memang tidak pernah memanggil nama langsung jika bukan orang yang benar-benar dekat dengannya, dia lebih suka memanggil nama keluarga."
Dengan sedikit memaksa yang berlebihan, akhirnya Rukia menuruti permintaan Matsumoto. Sejak saat itu ia menceritakan semua tentang Toushiro, bahwa dia adalah pria yang selalu hidup sendirian sejak memasuki Sky Net, kariernya berawal dari seorang Enginer, hinga sekarang berhasil menjadi pemilik, bukan hal yang mudah, tapi pria itu bisa dengan lancar menginjakkan kakinya di posisi puncak setelah enam tahun berlalu sejak ia masuk ke Sky Net. Toushiro adalah pria yang kuat, ceria, namun juga penyendiri. Awal ia mengenal Toushiro, pria itu memang ramah, tapi agak menjauh dari sosial, namun setelah bertemu dengan Hinamori, seolah sisi lain Toushiro terbuka, dan sejak saat itu senyum ramah selalu merekah di wajah pucat itu, dan bisa berinteraksi dengan mudah.
Hingga suatu hari terdengar kabar bahwa Toushiro dicampakkan oleh Hinamori, padahal baru satu tahun mereka menjadi sepasang kekasih, tidak jelas apa penyebabnya, karena Hinamori langsung pindah ke luar kota dan sejak saat itu Toushiro tidak pernah menunjukkan dirinya tertarik untuk menjalin hubungan lagi. Hidupnya hanya dipenuhi program, program dan program. Rangiku pun mengingatkan Rukia untuk tidak menyinggung nama itu, atau Toushiro akan meledakkan amarah. Rukia tidak pernah membayangkan ledakan marah seperti apa jika pria yang tidak tinggi itu marah, toh sekarang saja selalu tampak seperti anjing menyalak kalau sedang marah.
Pernah sekali Rukia bertanya mengenai penampilan Toushiro yang selalu kelihatan lusuh, dan Rangiku tertawa lebar mendengar pertanyaan polos Rukia.
"Itu hobinya, dia tidak ingin tampak keren, dan dia ingin terus menggunakan pakaian yang ia suka."
"Pantas saja…" gumam Rukia saat itu.
Rukia pendengar yang baik, dan ia menyerap semua informasi tentang Toushiro, namun yang tidak pernah ia dengar adalah tentang orang tua pria itu, maupun kerabatnya, seperti ia memang terlahir sendirian di dunia ini.
"Lama sekali membuat kopinya?"
Rukia menoleh, tersadar dari kesibukan otaknya sendiri, dia melihat Toushiro berdiri di ambang pintu pantry, tangannya memegang kacamata yang seharusnya ia kenakan.
"Ku kira kau tersesat," ledek Toushiro seraya mendekat, dan Rukia tidak mempedulikannya, dia mengaduk kopi yang baru saja ia tuang air panas.
"Rumahmu hanya tiga lantai, mana mungkin aku tersesat. Ini kopimu," kata Rukia seraya menyodorkan cangkir kopi yang isinya masih mengepulkan asap panas.
"Baunya enak, kelihatannya kau berbakat jadi pelayan."
Rukia memberikan tatapan tajam untuk merespon ucapan Toushiro.
"Kenapa matamu? Kemasukan debu?"
"Iya! Debunya sebesar badanmu!"
Toushiro tertawa melihat Rukia menggertaknya, sangat tidak sesuai dengan ukuran badan.
"Kau sama sekali tidak manis," kata Toushiro santai.
Rukia tidak lagi mendengarkannya, dan melangkah menuju ruang kerja, melanjutkan pekerjaan yang dia harap ia bisa mengerti sekalipun sedikit, yah, berharap bisa mempercepat masa tahanannya di tempat Toushiro.
.
.
.
Byakuya meletakkan ponselnya, melihat ruang kosong di hadapannya hanya untuk meredakan cemas yang menderanya setelah mengakhiri sambungan telepon.
Dia seperti mendengar kabar kematiannya sendiri, dan ini lebih parah dari itu.
Kepolisian London meneleponnya, dan mengabarkan bahwa mereka menemukan barang-barang atas nama Kuchiki Rukia di tempat loak saat mereka melakukan razia, karena mereka melihat nama keluarga Kuchiki, mereka langsung memberi kabar pada Byakuya.
Ketidaktenangan langsung mendera Byakuya, berpikir bahwa sesuatu yang buruk tengah melanda Rukia, atau bahkan sudah membuat adiknya terluka.
"Renji!" panggil Byakuya dari pesawat teleponnya.
"Cari keberadaan Rukia di London, kabarkan setiap perkembangannya padaku. Aku ingin tahu keadaannya."
Byakuya kembali meletakkan pesawat teleponnya, dan merasakan cemas sudah menelusuri seluruh syarafnya, membuatnya sulit untuk bernapas.
"Aku akan segera menemukanmu, Rukia. Bertahanlah…" gumam Byakuya seraya mengusap wajahnya.
.
.
.
Rangiku menatap Rukia yang berdiri canggung di sisi Toushiro.
"Tenang saja, presentasi kali ini tidak akan gagal, jadi jangan berbeban seperti ini," bisik Rangiku, namun Toushiro bisa mendengarnya dengan jelas.
"Jangan sembarangan bicara, Matsumoto. Semua masalah ini kan dia yang membuat, jadi sudah seharusnya kalau dia merasa bersalah, awas saja kalau dia sampai tidak bisa meyakinkan para CEO," sahut Toushiro.
"Beres, Boss!" sahut Rangiku dengan salam hormat, tapi Rukia masih saja mengunci mulut, dia sudah mempersiapkan presentasi hari ini bersama Toushiro, presentasi yang dibuat kilat dalam waktu seminggu sebagai perkenalan awal program yang sedang dibuat Toushiro, berhubung program yang sudah selesai 75% itu rusak, jadi harus mulai lagi dari nol dan tanpa simulasi.
Rukia tidak pernah mempresentasikan sesuatu diluar bidang psikologi manusia, ini benar-benar dunia baru baginya.
"Sebentar!"
Toushiro menahan langkah Rukia saat mereka akan masuk ke ruang pertemuan yang sudah dijanjikan.
"Apa lagi?" tanya Rukia sebal.
Toushiro melihat Rukia dari ujung kaki hingga kepala, mata aquanya seperti berusaha mendeteksi ketidakberesan dalam diri Rukia. Toushiro mengangkat tangannya dan bergerak ragu saat akan menggapai Rukia, Rukia diam saja, dan memerhatikan warna wajah Toushiro yang mendadak berubah, ada raut tenang yang melintas sejenak dalam wajah pucat itu.
"Bereskan dulu penampilanmu sebelum masuk," Toushiro merapikan rambut Rukia yang jatuh ke depan, dan mengarahkannya untuk berada di belakang telinga, namun kembali jatuh ke depan.
"Hah, rambutnya pun seperti orangnya, susah diatur," gerutu Toushiro dalam helaan napas penuh sesal.
"Apa maksudmu?" ucap Rukia sinis.
"Ayo masuk, nyawa Sky Net ada di tanganmu sekarang," kata Toushiro seraya menyentuh puncak kepala Rukia sebelum masuk ke ruang pertemuan, Rukia membeku dan merasakan sentuhan yang entah mengapa terasa sangat akrab.
"Seperti sentuhan Grimmjow," gumam hati kecilnya.
Rukia mengepalkan tangannya, menyesali hatinya yang tiba-tiba saja mengingat Grimmjow, ketenangan yang sudah ia bangun sejak pagi tadi seperti menguap begitu saja, berganti dengan kegelisahan.
"Sudahlah, Rukia. Bukankah kau sudah berusaha menghapus semuanya? Apa sekarang kau menyesal dan ingin merebut Grimmjow kembali?"
"Aku tidak ingin mengakuinya, tapi aku ingin agar Grimmjow ke sini dan menjemputku," bisik bagian lain dalam diri Rukia.
"Kenapa malah bengong? Ayo masuk!" Rangiku menarik tangan Rukia masuk ke ruangan.
Toushiro duduk di kursi paling ujung pembicara, dan dia melihat perubahan drastis dalam ekspresi Rukia.
"Kenapa dia?" bisik Toushiro pada Rangiku yang duduk di sebelahnya, sementara Rukia duduk di sebelah Rangiku, matanya menerawang pada jajaran CEO yang memusatkan perhatian pada mereka.
"Aku tidak tahu, setelah kau masuk dia langsung bengong seperti itu, terlihat seperti akan menangis. Ku rasa dia mengingat sesuatu karena tindakanmu tadi," jawab Rangiku yang menunjuk pada tindakan Toushiro yang terlalu terbuka tadi, dan kerlingan mata genitnya membuat Toushiro hampir muntah.
Bisik-bisik di antara mereka langsung berakhir saat protokoler memulai acara. Toushiro melirik Rukia sejenak, dan merasa nyawanya semakin tipis jika Rukia tidak bisa mempresentasikan semuanya dengan benar.
"Rukia," desis Toushiro seraya menyentuh bahu Rukia, sontak Rukia menoleh padanya, melihat pria itu dari belakang punggung Rangiku.
"Lakukan presentasi ini dengan benar, atau ku buat kau bekerja seumur hidup padaku!" ancam Toushiro dengan senyum lebar nan manis, membuat Rukia merinding, pria ini seperti punya kepribadian ganda, antara baik dengan iblis pengancam, sungguh menyeramkan.
"Jangan harap aku akan bekerja untukmu selamanya!" jawab Rukia dengan senyum yang sama.
"Baguslah," respon Toushiro dengan mata mengerling nakal, dan Rukia cukup peka, kerlingan mata itu bukan dukungan, tapi ketok palu bahwa ancaman itu bukan isapan jempol belaka.
Protokoler menyebut nama Rukia, dan presentasi pun dimulai, tidak ada kegugupan saat ia berdiri dan membuka tampilan presentasinya, Toushiro melihat perubahan kepercayaan diri itu begitu cepat, wajah kosong yang penuh kesedihan itu langsung berganti dengan wajah meyakinkan, seolah menghipnotis siapapun yang mendengarnya bicara.
"Mungkin ini hebatnya seorang psikolog," komentar Toushiro dengan senyum puas saat tepuk tangan yang meriah untuk Rukia bergaung dalam ruang pertemuan.
"Ck, ck, ck. Lihat betapa terpesonanya kau," bisik Rangiku pada Toushiro.
Toushiro menoleh pada Rangiku dan merasa bualan Rangiku pantas sekali untuk ia tertawakan. Terpesona pada orang yang sudah mengancam pemasukannya? Sepertinya kemungkinan itu mendekati rasio nol, begitulah pendapat Touhsiro.
Acara presentasi berjalan dengan mulus, dan langkah awal mereka sungguh baik, Rukia membanggakan dirinya habis-habisan pada Toushiro, merasa dirinya tidaklah sebodoh itu, setidaknya bisa presentasi dengan baik sekalipun tidak bisa membuat programnya.
Matsumoto langsung pulang setelah mengantarkan Toushiro dan Rukia, dia sempat memberi kedipan mata pada Rukia, memuji kesuksesannya hari ini.
Toushiro menatap punggung Rukia yang tampak merosot lelah, langkahnya lemah menapaki anak tangga menuju kamarnya.
"Kuchiki."
Rukia yang baru saja hendak menekan tuas handle pintu kamarnya langsung berhenti dan berbalik, melihat Toushiro yang berdiri tegak dengan kedua tangan tersimpan rapi dalam saku, memberikan kesan keren dengan cahaya lampu yang tidak terlalu terang, menyembunyikan warna kulitnya yang pucat.
"Kenapa kau tidak pernah menyalakan ponselmu?"
Rukia bingung dengan pertanyaan Toushiro yang tiba-tiba.
"Kau ingin menutup hubungan dengan orang yang telah kau tinggalkan?"
Mata biru gelap Rukia membelalak lebar.
"Mungkin ini hanya perkiraanku, dan aku sendiri juga tidak begitu mengerti dengan masalahmu, tapi selesaikan apa yang telah kau mulai, jangan kabur. Kau pergi hingga sejauh ini pasti karena kau berpikir kabur akan menjadi penyelesaian yang baik, tapi kau salah besar. Jika kau tidak bisa mengakhirinya, jangan kabur dan jadi pengecut seperti ini, mungkin sakit, tapi kau harus menyelesaikannya."
Rukia tertegun mendengar ucapan Toushiro, seolah pria ini sangat mengerti apa yang ia rasakan.
"Kau bicara apa?" kata Rukia berusaha tersenyum, ingin terlihat rileks menertawakan ucapan Toushiro.
"Senyummu bahkan jauh lebih mengenaskan."
"Kau bicara seolah kau tahu apa masalahku saja," sahut Rukia tetap dengan wajah yang sama.
"Aku memang tidak tahu, tapi setidaknya aku pernah merasakannya, perasaan ditinggalkan dan dibuang dari sisi seseorang yang berarti untukku," gumam Toushiro seraya melangkah menjauh dari Rukia, membuat Rukia merasakan nyeri yang amat sangat.
Namun di sisi lain Rukia juga merasa seperti telah membuka luka hati Toushiro, pasti ia berkata seperti tadi karena mengingat kisahnya dengan Hinamori, kata-kata Toushiro menggema dalam hatinya.
"-perasaan ditinggalkan dan dibuang dari sisi seseorang yang berarti untukku."
Sebenarnya duka seperti ini dapat menimpa siapapun, dan Rukia sadar sepenuhnya bahwa ia harus secepat mungkin bangkit dari keterpurukan ini, yang ia butuhkan hanya menata kembali hidupnya. Seperti Toushiro yang bisa berdiri tegak kembali setelah dicampakkan Hinamori.
.
.
.
Byakuya mendengar dering ponselnya, dan melihat email masuk di layar ponselnya, dari Rukia, segera saja ia membukanya.
To : Kakak (Kuchiki Byakuya)
From : Rukia
.
Dear Kak Byakuya
Apa kabar? Aku sampaikan bahwa aku baik-baik saja, dan aku yakin kau sudah mengira aku pergi ke mana. Kau kepala polisi yang bisa dengan mudah mencari keberadaanku kan, Kak?
Tapi aku ingin mengatakan bahwa aku akan pulang jika waktunya sudah tepat. Maafkan aku yang sudah pergi tanpa izin, karena aku yakin jika aku minta izin kau tidak akan membiarkanku pergi. Sekarang ini aku hanya bisa mengirimkan email ini untukmu, aku akan menghubungimu lagi nanti, Kak.
Terima kasih
Rukia
PS. Jangan cari tahu penyebab kepergianku, karena aku pergi dengan keputusanku sendiri. Daripada mencari keberadaanku sebaiknya kau cari istri untuk membantumu mengurusi keperluanmu selama aku tidak ada ^_^
.
End Of Mesaage
Byakuya tersenyum tipis setelah membaca pesan pendek itu, dan dia merasa sangat lega Rukia ternyata baik-baik saja, setidaknya Rukia tidak sedang berada dalam bahaya.
Lalu mengenai mencari istri… Byakuya harus memikirkannya berulang-ulang kali, bukan karena sulit memutuskan siapa yang akan menjadi istrinya, tapi siapa yang mau menjadi istri kepala kepolisian?
Yah, pria satu ini sepertinya tidak menyadari ketampanannya sudah menghipnotis banyak wanita.
.
.
.
Grimmjow beranjak dari kamarnya setelah hampir selama dua minggu penuh hanya berdiam diri, tidak melakukan kegiatan yang berarti, bahkan dia mendiamkan kedua orangtuanya saat mereka datang untuk menjemputnya kembali ke rumah utama.
Napas kehidupannya hilang sama sekali setelah Rukia pergi darinya.
"Kau mau ke mana?" tanya Ulquiorra saat Grimmjow sudah rapi dengan pakaiannya.
"Bukankah hari ini ada jumpa fans untuk film terbaru ku?" tanya Grimmjow yang menunjukkan wajah malasnya.
"Kau sudah kembali sadar?" Ulquiorra langsung menyentuh dahi Grimmjow.
"Aku hanya perlu terbiasa dengan ketidakhadiran Rukia, dan aku sudah memutuskan untuk mengenyampingkan semuanya sampai ia kembali padaku. Sekarang jelaskan jadwalku untuk hari ini!" tegas Grimmjow dengan wajah pucat.
Sesungguhnya, sekalipun hatinya telah mantap untuk berpegang teguh pada keyakinannya, masih terselip keraguan dalam dirinya. Apakah Rukia akan kembali padanya? Apakah ikatan yang ia rasakan sama kuatnya dengan yang Rukia rasakan?
"Hanya kau dan aku yang memiliki ikatan seperti ini, Rukia. Kau akan tahu seperti apa hatiku jika kau mau mendengarkan hatimu sedikit saja," gumam Grimmjow.
.
.
.
"Akh!"
Rukia menarik jari tangannya yang tergores kertas, tiba-tiba saja ia merasakan pedih yang sama di hatinya, dan membuatnya teringat pada Grimmjow.
"Kenapa?" tanya Toushiro seraya mendekat.
"Tidak apa-apa, hanya tergores," jawab Rukia, namun ia merasakan sakit di tangannya menjalar hingga ke hatinya.
Toushiro meraih tangan Rukia dan memerhatikan luka di jari telunjuk Rukia yang perlahan mengalirkan darah.
"Pakai plester saja," katanya dingin, dan langsung sibuk sendiri, sungguh tidak peduli.
"Aku juga tahu," sahut Rukia seraya melangkah menuju pantry, mengambil kotak P3K.
Awan berwarna gelap menggantung di langit, dan tanpa peringatan apapun dia teringat pada Grimmjow, tiba-tiba merasa pedih seolah dirinya sedang diingatkan pada Grimmjow, selalu, sengaja atau tidak.
Rukia menoleh saat merasakan kehadiran seseorang di pantry, Toushiro berjalan mendekatinya yang berdiri di dekat jendela pantry yang mengarah pada taman utama rumah megah Toushiro, dia sempat melirik jari Rukia yang sudah terbalut plester. Pandangannya langsung beralih ke mana mata Rukia berpuast, melihat indahnya taman luas yang berpendar dalam cahaya lampu taman yang tertata dengan sempurna.
"Sepertinya ucapanku keterlaluan ya, sampai membuatmu sering bengong begitu," kata Toushiro.
"Bukan, aku sudah terbiasa dengan sikapmu yang selalu seenaknya, apalagi Rangiku sudah mengatakan bahwa aku jangan pernah mengambil hati semua perkataanmu."
Toushiro tampak sangat kesal mendengar Rangiku berkata seperti itu pada Rukia, ujung alisnya sampai berkedut-kedut karena kesal.
"Oh ya? Baguslah, sepertinya Matsumoto sudah memperingatkanmu dengan baik," sahut Toushiro yang kemudian ikut memerhatikan langit yang berawan.
"Boleh aku tanyakan satu hal padamu?"
"Kalau kau minta aku membebaskanmu, tidak akan ku jawab!"
"Aku juga tahu hal itu. Aku ingin menanyakan hal lain."
"Apa?"
Rukia merasa ragu sejenak, tapi ia ingin segera lepas dari penjara kesedihan ini, ia ingin segera menyelesaikannya, dan mungkin dengan bertanya pada Toushiro adalah salah satu jalan yang baik.
"Sebenarnya Rangiku sudah mengatakan bahwa aku tidak boleh menyinggung apapun tentang ini, tapi… aku ingin bertanya dari seseorang yang sudah pernah mengalaminya."
Toushiro menoleh pada Rukia, dan mata jernihnya langsung menangkap keraguan dalam mata Rukia, dan dengan cepat ia mengira ini pasti berhubungan apa yang ia ucapkan seminggu lalu. Perlahan perasaan berat itu merambati hatinya, namun ia berbesar hati dan mengesampingkannya untuk mendengar pertanyaan Rukia.
"Katakan saja," ucap Toushiro berusaha tampak tetap tenang.
"Aku hanya ingin tanya bagaimana kau menyelesaikannya?" bisik Rukia singkat.
Toushiro terdiam sejenak, matanya menatap langit yang semakin gelap dan dengan cepat rintik hujan jatuh membasahi belahan bumi yang mereka jejak.
"Awalnya aku berpikir semua adalah mimpi, bukan hal yang nyata yang bisa aku percayai, karena aku selalu percaya diri bahwa aku selalu mampu meraih apa yang aku inginkan, dan apa yang terjadi padaku adalah pukulan berat untukku," tutur Toushiro seraya menarik kursi di depan conter dan memosikannya tepat di samping Rukia.
Rukia tetap menunggu lanjutan kalimat Toushiro sementara pria berpakaian lusuh itu duduk di kursi.
"Dia meninggalkanku di saat aku membutuhkannya, dan berkata bahwa ia memiliki pria lain untuk ia nikahi. Aku berkata bahwa aku tidak akan menahannya, karena yang aku butuhkan adalah seseorang yang bersedia berada di sisiku, apapun yang terjadi padaku."
Toushiro menghela napas panjang, namun tidak menunjukkan duka sama sekali.
"Pernyataan yang sombong, hanya awalnya, karena kemudian aku malah berkabung dalam kesendirianku. Dalam keadaan seperti itu aku berpikir, bahwa aku akan menemukan seseorang yang jauh lebih baik, jadi ku biarkan sakit itu terus menyerang, hingga akhirnya aku terbiasa. Yang paling penting bagiku adalah…"
Mata berwarna aqua itu menerawang menembus titik-titik hujan yang membasahi taman.
"Aku sudah menyatakan bahwa aku tidak lagi bergantung padanya, menyelesaikan apa yang pernah terjalin di antara kami, dan mengenai rasa sakit itu, itu urusanku dan waktu yang akan membantuku," lanjut Toushiro tenang.
Rukia ikut melihat ke mana mata Toushiro melihat.
"Jika kau tidak mengakhirinya, maka selamanya kau akan berharap bisa kembali padanya."
Rukia tersentak, dan merasakan ucapan Toushiro menusuk tepat di hatinya, membuka dirinya, membuka matanya atas kenyataan yang tertutup selama ini.
"Jadi benar dugaanku kalau kau pergi untuk menghindari seseorang?"
Rukia tetap bungkam.
"Siapa? Bangsawan itu?"
Toushiro cukup cepat melihat sekilas perubahan yang muncul dalam gurat wajah Rukia, hanya sejenak tapi cukup membuatnya yakin bahwa Rukia mengakuinya dalam hati.
"Dari berita yang aku dengar, ia akan bertunangan dengan lawan mainnya. Apa itu yang membuatmu pergi darinya?"
Rukia memberikan sebuah gelengan kepala pada Toushiro.
"Tidak ada yang benar-benar membuatku yakin apa yang membuatku ingin pergi darinya. Aku berpikir dan berpegang teguh bahwa aku dan dia memiliki sebuah ikatan yang kuat, bahwa aku yang mengerti dirinya. Dalam genggaman tangan ini, akhirnya aku hanya tersadar bahwa sejak awal tidak ada ikatan itu, aku hanya sebagian kecil dari hidupnya sementara ia adalah bagian terbesar dalam hidupku. Aku tidak ingin ia menyatakannya saat ia menerima wanita lain, karena itu aku memilih pergi untuk menata kembali hidupku."
Rukia menunduk dalam.
"Tapi…" Rukia menarik napas berat, "Padahal sudah sejauh ini, tetap saja aku tidak juga bisa menghapus rasa sakit ini," tutur Rukia dalam suara purau.
Dia sendiri tidak tahu, mengapa bisa semudah ini bicara para pria asing ini, membeberkan rasa sakit yang ia simpan dari orang-orang yang dekat dengannya sekalipun.
"Yang kau perlukan hanya waktu yang sedikit lebih lama, ini mungkin baru bagi hatimu," kata Toushiro seraya beranjak dari kursi, dan tangan kurusnya mengusap puncak kepala Rukia, seraya melangkah pergi meninggalkan Rukia.
"Yang aku perlukan mungkin bukan waktu, tapi hati yang baru," gumam Rukia dalam diamnya.
.
.
.
Rukia melirik jam yang bersandar di sisi meja kerja Toushiro, menunjukkan hampir pukul dua dini hari, dan pria albino di sebelahnya seperti tidak pernah mengenal lelah, dia terus saja mengotak-atik laptopnya, dan memasukkan simulasi yang rumit dari catatan di bukunya.
Ia sudah selesai memasukkan semua data input sesuai dengan arahan Toushiro, waktu selama sebulan sudah cukup baginya untuk mengerti garis besar program ini, sehingga dia tidak menemui banyak halangan untuk mengerjakannya.
Sementara itu Toushiro melakukan pekerjaan lain, dan sudah tiga gelas kopi yang dihabiskan untuk membuat matanya tetap terbuka lebar menatap layar laptop.
"Kau tidak istirahat? Sudah dua malam kau tidak tidur."
Toushiro menggeleng cepat, dan kembali meraih pulpennya, menuliskan sesuatu di buku catatannya.
"Kenapa kau melakukan semuanya sendiri, kau kan punya staff, dan karyawan," lanjut Rukia, dia tetap bicara sekalipun Toushiro tidak menatapnya.
"Aku tidak ingin menyerahkan proyek sebesar ini pada orang yang tidak kompeten, kalau proyek kelas teri sih aku bisa saja serahkan pada mereka."
Rukia kembali memasukkan data, namun ada tulisan yang tidak ia mengerti hingga ia terpaksa bertanya pada Toushiro. Mau tidak mau ia beranjak dari kursinya, dan berdiri di samping Toushiro.
"Apa arti tulisan ini? Lalu kenapa item ini berwarna merah?" tanya Rukia seraya menunjuk sebuah tulisan yang warnanya paling beda sendiri, dan sulit untuk dinalarkan lambangnya, karena tulisan Toushiro sungguh-sungguh indah sampai sulit terbaca.
"Itu tanda sigma dari variable x. Aku sengaja menyettingnya agar berwarna merah setiap kali ada kerusakan sistem atau tanda-tanda spy atau virus yang menyerang, jadi bisa dicegah lebih awal, lalu ini-" ucapan Toushiro terhenti saat ia merasakan kepalanya pusing dan tiba-tiba sesuatu mengalir dari hidungnya, segera saja bau anyir menyapanya.
Mata Rukia langsung melebar saat melihat cairan merah itu mengalir cepat menetes ke pangkuan Toushiro.
"Kau mimisan!" Rukia bergegas meraih tissue di tengah meja, dan menutupi cuping hidung Toushiro, dengan cepat tissue putih bersih berubah warna jadi merah, seolah menyerap semua darah Toushiro.
Rukia langsung menarik Toushiro menuju sofa, dan tangannya bergerak cekatan mengganti tissue yang sudah berubah warna.
"Aku tidak apa-apa, Kuchiki. Aku biasa mimisan kalau sudah kelelahan," ucap Toushiro yang tidak enak melihat sikap panik Rukia.
"Tapi aku tidak pernah melihat orang mimisan sebegini banyak, darahmu seperti mengalir bagitu saja," jawab Rukia seraya meraih telepon dan menghubungi kepala pelayan rumah, memintanya memanggil dokter karena Toushiro mimisan parah.
"Apa kau punya obat rutin untuk mimisan seperti ini?" tanya Rukia saat melihat tissue yang ia berikan sudah hampir merah keseluruhan, segera saja ia menggantinya.
Toushiro tampak ragu untuk menjawab, dia berusaha tampak tetap kuat, tapi rupanya Rukia jauh lebih gigih menatapnya tajam, menuntut jawaban lewat sorot matanya.
"Ada di lemari buku," kata Toushiro berat, dia melihat Rukia langsung berlari menuju satu-satunya lemari dalam ruang kerjanya.
"Kotak cokelat paling bawah, botol nomor satu," lanjut Toushiro.
Rukia meraih kotak berwarna cokelat di bagian bawah lemari, kotak yang cukup besar untuk ukuran menyimpan obat, dan yang membuat Rukia lebih kaget lagi adalah saat ia membukanya, ada barisan botol obat yang berisi tablet, pil dan syrup yang berjumlah belasan. Obat sebanyak ini untuk apa? Namun Rukia berusaha mengenyahkan pikiran itu untuk sejenak dan segera meraih botol dengan tulisan angka satu di bagian tutupnya.
Dia menyambar gelas yang berisi air dari meja, sambil memacu kakinya kembali ke sofa.
"Berapa tablet?" tanya Rukia saat membuka tutup tablet.
"Tenanglah, Kuchiki. Aku tidak sedang sekarat," canda Toushiro dengan gelak tawa.
"Berapa?" tegas Rukia mengulang pertanyaannya, tidak menganggap lucu humor yang telah Toushiro lontarkan.
"Dua tablet," jawab Toushiro getir.
Rukia meraih dua tablet obat dalam botol, menyodorkannya pada Toushiro setelah membantunya sedikit mengangkat kepala. Rukia menopang kepala Toushiro sementara tangannya yang lain memasukkan obat ke mulut Toushiro, dan meneguk air banyak-banyak demi mendorong obat itu turun ke tengorokannya.
"Sudah ku bilang kau perlu istirahat!" kata Rukia seraya kembali merebahkan Toushiro di sofa, memosisikan bantal sofa senyaman mungkin untuk kepala Toushiro bersandar. Setelah Toushiro terlihat sedikit lebih stabil, Rukia memilih bertanya tentang stock obat yang bisa dibilang terlalu banyak di lemari.
"Kenapa ada obat sebanyak itu dalam lemarimu?"
Toushiro tidak menjawab, dan sudah mengira pertanyaan Rukia akan berentet pada stock obat yang ia simpan dalam lemari.
"Apa kau mengidap penyakit berat?"
Terdengar suara ketukan di pintu, membuat Toushiro menghela napas lega kerena dia tidak perlu menjawab pertanyaan Rukia saat ini juga.
"Tuan Hitsugaya, dokter sudah datang."
"Aku tidak apa-apa, Iba. Aku hanya mimisan, dan Kuchiki terlalu panik sampai meneleponmu," jawab Toushiro seraya bangun dari sofa.
"Siapa yang mengizinkanmu bangun?" hardik Rukia seraya mendorong bahu Toushiro agar kembali rebahan.
"Kau seperti nenek-nenek cerewet saja, Kuchiki. Sudah ku bilang aku tidak apa-apa."
Rukia memicingkan mata, melihat betapa Toushiro berusaha sangat keras untuk menutupi perasaan cemasnya sendiri, sedangkan bagi Rukia semua cemas itu terlihat sangat jelas.
"Dokter, silahkan periksa dia," ucap Rukia seraya beranjak untuk memberikan ruang bagi dokter.
Dokter tampak menggeleng pasrah sebelum mendekati Toushiro, dan mengeluarkan peralatannya untuk memeriksa Toushiro. Rukia dan Iba –kepala pelayan- menunggu dokter selesai memeriksa, Rukia melihat reaksi pasrah dalam wajah dokter sebelum kembali memasukkan peralatannya dalam tas.
"Tuan Hitsugaya, saya sudah peringatkan Anda untuk cukup istirahat, dan tidak ada obat baru yang akan saya berikan, karena yang saya berikan kemarin adalah obat yang memang Anda butuhkan, sekarang tinggal niat Anda sendiri untuk sembuh."
Toushiro menunduk dalam. "Aku tahu," jawabnya datar.
Dokter pun segera pamit setelah berpesan pada Iba untuk mengingatkan Toushiro beristirahat yang cukup.
Rukia mengantar Toushiro ke kamarnya, sementara Iba memapahnya untuk melangkah, kondisi tubuhnya langsung menurun drastis setelah mimisan tadi.
"Apa dia sering seperti ini?" tanya Rukia saat Iba menyelimuti Toushiro, dan membiarkan pria albino itu terlelap karena pengaruh obat.
"Sebenarnya kondisi Tuan sudah membaik tiga bulan lalu, tapi dia kembali sering tidur larut setelah mengerjakan proyek ini," tutur Iba.
Seketika Rukia merasa sangat bersalah, karena ia telah menjadi penyebab Toushiro memaksakan diri, kalau saja ia tidak merusak laptop Toushiro mungkin dia tidak akan membuat Toushiro berusaha sebegini keras.
"Mengenai obat di lemarinya itu…"
"Kalau tentang hal itu, sebaiknya Nona tanya sendiri pada Tuan. Saya tidak ingin lancang, sekarang saya permisi dulu. Pengaruh obat biasanya cukup lama, mungkin Tuan akan tidur hingga sore nanti," tutur Iba dengan satu anggukan dalam.
Rukia menjawab anggukan kepala Iba, dan mendekati ranjang Toushiro, memerhatikan wajah pucat yang sekarang memiliki warna lain, yaitu warna kehitaman di kantung matanya, menandakan betapa lelahnya sang pemilik mata yang tengah tertutup itu.
"Aku akan berusaha keras membantumu, jadi jangan paksakan dirimu," bisik Rukia seraya merapikan selimut Toushiro dan meninggalkannya untuk kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
.
.
.
Toushiro terbangun saat merasakan hangatnya sinar matahari, dan melihat sumber cahaya yang menyilaukan matanya, dia tidak ingin menyiksa matanya, tapi hangatnya cahaya itu membuatnya ingin melihat seberapa terang sinar yang ia miliki.
"Kau sudah bangun?"
Toushiro menyipitkan matanya untuk bisa melihat sosok yang bermandikan cahaya matahari sore itu, matanya silau.
"Kuchiki?" sebut Toushiro saat melihat sosok mungil itu mendekat padanya.
"Sengaja ku buka, tidak apa kan? Ku kira kau butuh sedikit udara segar."
"Jujur saja, sinar mataharinya membuatku buta, terlalu silau!" kata Toushiro langsung dan tegas.
"Seperti biasa mulutmu selalu tidak bisa direm ya? Hargai sedikit dong, aku kan sudah membantumu," kata Rukia sambil menjulurkan tangan untuk meraih baki makanan di meja dekat tempat tidur Toushiro.
"Membantu apa?" Toushiro memicingkan mata curiga, mencari kebenaran dalam wajah cerah Rukia.
"Kau lupa hari ini ada pertemuan dengan CEO mengenai penjelasan progress pengerjaan programnya?"
"Kau biarkan aku tertidur untuk acara sepenting itu?" seru Toushiro tidak terima.
Rukia mengangguk dalam dan tersenyum lebar.
"Tenang saja, aku dan Rangiku sudah membereskannya. Maaf aku mengambil filemu dan sedikit membuat simulasi di depan para CEO, bukannya itu yang akan kau lakukan? Jadi… aku meniru rencanamu, tapi kami berhasil, dan semua CEO puas sekali dengan perkembangan proyek ini."
Toushiro tersenyum lega, merasa sedikit kesal karena sudah dilangkahi Rukia, namun juga senang ada yang bisa diandalkan, dari pada Matsumoto yang selalu berteriak setiap kali make upnya luntur.
"Sekarang makan, baru setelah itu kau menjawab pertanyaanku!"
"Memang ada kewajiban bagiku untuk menjawabmu?" balas Toushiro sengit.
"Makan saja dulu!" suruh Rukia seraya agak membanting baki makanan di pangkuan Toushiro, hampir saja mangkuk yang berisi soup asparagus panas tumpah di paha Toushiro.
Toushiro tidak banyak protes lagi dan menyantap makanannya, sudah mengira bahwa ia harus menceritakan perihal obatnya pada Rukia, entah mengapa ia tidak merasa keberatan jika Rukia memang harus tahu, karena kelihatannya wanita ini cukup keras untuk memaksa seseorang agar menjawabnya.
"Tidak perlu bertanya, aku akan cerita," potong Toushiro saat melihat mulut Rukia terbuka, padahal ia baru saja menyelesaikan suapan terakhir makanannya.
"Aku terkena penyakit kanker pankreas lima tahun lalu, pengobatan yang diperlukan sudah dilakukan, tapi perawatan tetap harus ada, karena itu aku harus menyediakan obat sebanyak itu dalam lemariku." Mata aqua Toushiro melihat langit sore yang berwarna jingga menyala, seketika itu saja ia kehilangan hangat yang ia rasakan saat terbangun tadi.
Dia melanjutkan saat tidak mendengar respon dari Rukia.
"Awalnya aku bisa bertahan dengan sangat baik, begitu optimis karena ada seseorang yang menemaniku, ya, orang itu adalah Hinamori, tapi saat aku kembali kritis Hinamori datang padaku, mengatakan bahwa ia akan menikah dengan pria lain. Ha.. ha… ha… sial sekali nasibku ya?"
Rukia memilih diam, dan memasang wajah simpati dari pada menjawab pertanyaan Toushiro.
"Tapi aku bertahan hidup dengan bantuan obat, sekarang aku hanya membutuhkan istirahat yang cukup untuk menyembuhkan penyakitku," ucap Toushiro datar, dia menyembunyikan kenyataan bahwa istirahat hanya mencegahnya untuk memperpendek nyawa, bukan menyembuhkan penyakitnya.
Sejak vonis penyakit itu Toushiro tidak pernah ingin menjalin hubungan yang lebih dekat dengan siapapun, dia hanya ingin kesendirian dalam hidupnya yang hanya tinggal menghitung hari, bahkan ia sengaja melelahkan diri untuk memperpendek rasa sakit yang sering menderanya. Karena itu ia tidak akan membagi beban, terlebih melibatkan orang lain dalam kehidupannya, ia tidak ingin kembali diserang rasa sakit karena ditinggalkan.
"Baguslah kalau begitu, dan mulai sekarang aku akan menjadi tim yang bisa kau andalkan. Aku ini orang yang bertanggungjawab, jangan berpikir aku akan kabur setelah membuat masalah," kata Rukia bersemangat, dia ingin membuat Toushiro lebih optimis dan tidak berbeban menghadapi permasalahan yang ia buat dengan tidak sengaja.
"Bagus juga untukmu! Akhirnya kau sadar. Apa kau mendapat inspirasi setelah melihat aku mimisan?" canda Toushiro dan Rukia langsung mendorong bahu pria albino itu, hingga tubuh lemah itu hampir jatuh terhempas ke ranjang.
"Ok, sekarang waktunya aku melanjutkan kerja, aku tidak bisa membiarkan Rangiku mengacaukan semuanya."
"Matsumoto di sini?" tanya Toushiro tidak percaya.
"Tentu saja, tidak mungkin kan aku melakukan semuanya sendirian?" gumam Rukia seraya meninggalkan Toushiro.
Senyum cerah terukir jelas di wajah pucat Toushiro, merasa kelegaan yang amat sangat, dan kehangatan di hatinya adalah satu-satunya bukti bahwa Rukia sudah berhasil menyentuh hatinya. Toushiro yang berusaha menutup hatinya untuk siapapun, mungkin kali ini bisa membuka hatinya pada kebaikan Rukia, menerima Rukia sebagai seorang teman seperjuangan yang memiliki perasaan tersisih yang sama dengannya.
.
.
.
Waktu berlalu dengan cepat, Rukia mempelajari semua yang berhubungan dengan program yang ia dan Toushiro buat, menjadi seseorang yang belajar sungguh-sungguh pada dunia yang baru ia kenal, seketika saja semua hasratnya untuk melanjutkan jenjang kuliahnya terlupakan, seperti sosok Grimmjow yang semakin samar dalam hari-harinya. Kesibukannya untuk menyelesaikan program bersama Toushiro telah menyita seluruh waktu dan pikirannya, Rukia menjadi seorang asisten bagi Toushiro.
Toushiro menikmati waktunya saat bersama Rukia dan Rangiku, mengerjakan pekerjaan yang biasanya selalu dia lewati dengan perasaan tertekan karena deadline, sekarang ia justru sangat menanti esok hari untuk melanjutkannya, hingga tidak terasa tiga bulan telah berlalu untuknya sejak ia bertemu Rukia.
Seluruh euphoria kesenangan ini membuatnya tidak sadar bahwa tubuhnya tidak bisa menampung seluruh lelah yang ia peroleh, hingga saat-saat lemah itu kembali menyerangnya.
Toushiro harus kembali menghabiskan waktunya terbaring di ranjang selama berhari-hari, dia menolak perintah dokter yang akan membawanya ke rumah sakit, agar lebih mudah merawatnya dalam pengawasan intensif, tapi kekerasan hati Toushiro tidak terkalahkan, akhirnya alternatif terakhir diambil yaitu mendatangkan suster khusus untuk merawat Toushiro.
"Kuchiki?" nama itu yang pertama kali melintas dalam benak Toushiro saat ia terbangun dari tidur panjang yang justru membuatnya lelah.
"Ya? Kau butuh sesuatu?" Rukia langsung beranjak dari laptopnya, mendekati Toushiro yang berusaha duduk. Rukia makin tidak tega melihat Toushiro, karena dalam beberapa hari saja pria pemarah ini terlihat seperti mayat hidup, wajahnya semakin pucat, rambutnya yang bisa tegak sekarang lusuh berjatuhan ke bahu, pipinya pun semakin melesak masuk, karena itu Rukia berusaha menyelesaikan semua pekerjaan Toushiro dan ingin meluangkan waktunya untuk menemani Toushiro, memberi dukungan agar Toushiro cepat sembuh.
"Bagaimana dengan programnya?"
"Emm, sebentar lagi tahap kedua selesai, aku harap bisa menyelesaikan tahap akhir dalam dua minggu ini, dan setelah itu tinggal merevisi beberapa bagian, tentu saja saat kau sudah sehat lagi," jawab Rukia berusaha tetap terlihat riang, karena sesungguhnya jika orang yang tengah sakit melihat orang lain justru bersedih untuknya, hanya akan membebani sang pasien.
"Aku tegaskan ya, aku tidak sedang sekarat. Aku memang sering mengalami saat-saat drop seperti ini, dan biasanya berlangsung selama seminggu, setelah itu akan pulih seperti semula."
"Aku tahu, karena itu sembuhkan saja dirimu dulu, baru setelah itu lakukan apapun yang kau suka!" sahut Rukia menyemangati Toushiro.
"Awas saja kalau kau sampai merusak setting program yang sudah ku buat ya!" ancam Toushiro dengan senyum lemah.
"Siap, Boss. "
Pintu kamar terbuka, dan suster yang bertugas untuk merawat Toushiro membawa trolly yang berisi makanan dan obat yang harus Toushiro minum. Toushiro meminta agar suster pergi saja, karena dia akan melakukan semuanya sendiri, Toushiro merasa tidak terlalu sakit jika hanya untuk makan dan menelan obatnya.
Toushiro menyelesaikan semua ritualnya dalam waktu setengah jam, dan selama itu pula matanya selalu melirik kehadiran Rukia yang duduk dengan tenang di sisi tempat tidurnya. Ini adalah hal baru baginya, merasakan kehadiran seseorang yang membantu, bukan dokter ataupun suster, dan ini sungguh menghangatkan hatinya. Ternyata kepedulian dari seseorang begitu terasa hangat dalam hati.
"Kuchiki."
"Ehm?"
"Aku ingin jalan-jalan sebentar, kau bisa membantuku?"
Rukia tampak melongo dengan permintaan Toushiro, karena Toushiro terlihat masih sangat lemah, bagaimana kalau udara luar justru memperparah kondisinya yang sekarang?
"Aku cukup sehat, tenang saja," ucap Toushiro, berusaha menenangkan cemas yang hadir di wajah Rukia.
Rukia pun menurut, dia sedikit kasihan juga melihat Toushiro yang terus-terusan terbaring di tempat tidur, dan sepertinya kondisi Programmer ini sudah jauh lebih baik dibanding kemarin. Dia mengambil baju hangat untuk Toushiro, dan membantu pria itu beranjak dari tempat tidurnya, tapi saat melangkah menuju pintu Toushiro menolak papahan yang Rukia tawarkan.
Mereka berdua melangkah beriringan meniti anak tangga turun satu demi satu, awalnya langkah kaki Toushiro memang lambat, namun perlahan ia menemukan kekuatan yang lebih dan mampu lebih tegap dalam melangkahkan kakinya.
"Cahaya matahari sore memang sehangat ini ya?" gumam Toushiro saat sampai di depan taman rumahnya yang luas, hamparan pohon mawar serta beberapa bonsai yang tertata rapi menyapa matanya.
Rukia sebenarnya tidak setuju dengan pendapat Toushiro, karena dengan dress selutut lengan setali yang ia gunakan saat ini justru membuatnya merasa kedinginan saat angin menggigit kulitnya.
Keduanya memilih duduk di gazebo, menghirup udara segar di sana.
"Kau perlu minum atau sesuatu?" tanya Rukia setelah sekian lama Toushiro terdiam dengan mata berjelaga melihat taman yang entah mengapa terlihat jauh lebih indah dari sebelum-sebelumnya.
Toushiro menggeleng cepat dan bersandar pada salah satu tiang, memberi waktu pada tubuhnya sendiri untuk bersantai, mengirim ketenangan yang melegakan hatinya.
"Kuchiki, kenapa kau begitu peduli padaku? Bukankah ini justru kesempatan bagus untukmu? Kau bisa kabur kan?"
Rukia yang mengambil tempat di samping Toushiro langsung mengerutkan alis dalam-dalam, merasa terlecehkan dengan pernyataan Toushiro.
"Aku tidak akan kabur dari tanggungjawabku!" jawab Rukia tenang.
"Heh? Kau baik atau bodoh?" ledek Toushiro dengan seringai mencemooh.
"Sepertinya kau cukup sehat untuk memancing perkelahian!" balas Rukia dengan mata tajam.
Toushiro tersenyum lebar, merasakan kembali kehangatan saat menatap wajah Rukia. Jujur saja hal ini baru baginya, setelah bertahun-tahun ia lewati dalam kesendirian, dalam kesibukan pekerjaan yang menyita seluruh waktu dan pikirannya. Entah mengapa sekarang ia begitu ingin berlama-lama berada dalam sorot mata menenangkan berwarna biru gelap itu, ia ingin selamanya memiliki sorot mata itu untuk terus menatapnya, hanya melihatnya.
Rukia melihat warna wajah Toushiro yang perlahan menunjukkan semburat merah, menandakan pemiliknya sudah jauh lebih baik.
Tiba-tiba ide jahil itu muncul dalam benakToushiro, ia hanya ingin memastikan kembali hatinya, dan ia pun sengaja merosot turun dari sandarannya, dalam sekejap mata ia jatuh bersandar pada bahu Rukia.
"Kau kenapa?" tanya Rukia cemas.
"Rasanya kepalaku berat," gumam Toushiro, beralasan.
"Sebaiknya kita kembali ke kamar." Rukia langsung meraih bahu Toushiro, hendak membantunya berdiri, tapi Toushiro malah sengaja menahan diri.
"Aku masih ingin disini, sebentar saja…" bisik Toushiro dalam keraguan.
Detik berlalu, dan Toushiro semakin merasa jelas dentuman jantungnya tak beraturan, merasakan hangat dan lembutnya kulit Rukia di pipi, menyesap wangi yang menguar dari tubuh Rukia, hingga akhirnya gelenyar itu hadir dalam hatinya, membuatnya yakin bahwa hatinya memang sudah sepasrah ini bersandar pada Rukia.
Hanya dalam waktu tiga bulan ia sudah bisa menerima seseorang asing, dan dalam waktu sesingkat ini hatinya menyadari semua yang dilakukan wanita bermata biru gelap ini adalah kesungguhan hati yang tidak pernah ia rasakan dari siapapun.
Toushiro memejamkan matanya, ia ingin selamanya berada dalam kehangatan wanita ini.
Ingin. Selamanya.
Tidak ingin kehilangan lagi.
Namun tiba-tiba pertanyaan itu muncul dalam benaknya. Mungkinkah meraih hati wanita ini sebelum waktunya sendiri menginjak batas akhir?
"Apakah kau sudah menyelesaikan permasalahanmu dengan bangsawan Jeagerjaquez?"
Tubuh Rukia menegang seketika, dan Toushiro dapat merasakannya dengan jelas, bahkan napas Rukia jadi tidak beraturan saat ia menyebut nama yang hampir saja terlupa itu.
"Aku belum cukup berani untuk menghadapinya," jawab Rukia.
Angin sore berhembus kencang, membawa daun-daun kering bersamanya, dan membuat rambut Rukia bergerak pelan membelai wajah Toushiro.
"Kau harus menyelesaikannya, atau aku yang menyelesaikannya?" bisik Toushiro saat merasakan rasa ingin memiliki dalam hatinya semakin mendesak. Ia tidak ingin Rukia masih terpaku pada sosok lain.
"Apa maksudmu?" jawab Rukia bingung, benar-benar bingung karena ia berusaha melihat wajah Toushiro yang justru tersembunyi dari pandangannya, yang terlihat sekarang hanya sebagian wajah Toushiro, dan mata aqua miliknya menerawang kosong dalam udara hampa.
Toushiro terdiam sejenak, berpikir… mungkin ini masih terlalu cepat bagi dirinya maupun Rukia, namun ia juga sadar, waktunya tidaklah banyak, mungkin memiliki Rukia hanya tersisa selama ia mampu bernapas.
"Kau tidak bisa melanjutkan hidupmu jika kau terus terikat pada beban masa lalu," lanjut Toushiro seraya menarik diri dari Rukia, merasa berat karena kehilangan kontak dengan kehangatan yang nyaman.
"Aku tahu," jawab Rukia yang menunduk dalam.
"Karena itu," Toushiro meraih dagu Rukia, membuat mata mereka bertemu, "selesaikanlah," lanjut Toushiro menatap Rukia lekat-lekat.
Rukia sangat sadar dengan sorot mata itu, ia mengerti dengan baik kasih sayang yang tersirat dalam mata sendu milik Toushiro, pandangan yang hanya tertuju padanya, meminta seluruh perhatian dan esensi dalam dirinya hanya berpuasat pada dirinya seorang.
Seketika itu pula ia merasa sangat bersalah, bahwa ia telah membuat seseorang terjerat dalam kebaikan yang tidak ia tujukan untuk sebuah perasaan yang bernama 'cinta'.
"Toushiro, aku tidak bi-" ucapan Rukia terpotong saat tangan Toushiro meremas telapak tangannya, dan dingin dari tangan Toushiro langsung menyerangnya.
"Aku akan menunggu," potong Toushiro dalam suara bergetar , ia tahu apa yang tersirat dalam sorot mata Rukia.
Penolakan.
Namun ia tidak akan melepaskannya begitu saja, karena ia yakin bahwa kesempatan tidak akan datang dua kali, terlebih lagi untuknya. Dia selalu berpegang teguh pada prinsip, bahwa semua yang hadir dalam hidupnya adalah hasil kerja kerasnya, dan itu pula yang ia butuhkan untuk mendapatkan seseorang agar tetap tinggal di sisinya.
Toushiro merasakan dengan jelas ketakutan dalam dirinya, dia selalu hidup dalam kesendirian, orang tua, kerabat, bahkan orang yang ia sayangi pergi satu persatu darinya, dan saat ia sudah mulai berharap, ia tidak ingin kembali dihadapkan pada kenyataan pahit.
Toushiro tersenyum tipis, dan kembali bersandar pada bahu Rukia, tangannya terkepal kuat, melawan keinginan kuat untuk memeluk Rukia.
Rukia tidak bisa berlaku apa-apa, yang justru saat ini berlangsung dalam benaknya adalah kebimbangan.
Benar apa yang Toushiro katakan, dia tidak akan bisa melangkah lebih jauh jika tetap terpaku pada rasa sakit ini, namun ia juga tidak ingin menghapus perasaannya pada Grimmjow.
Dan uluran tangan Toushiro seperti keindahan di ujung jalan berkerikil yang sedang ia tapaki, memaksanya untuk segera meninggalkan jalan itu.
.
.
.
Grimmjow terdiam seketika, saat merasakan hatinya seperti tertusuk, nyeri dan perih. Yang mampu membuatnya merasa seperti ini hanya satu orang, Rukia. Pikirannya langsung kosong seketika.
"Cut!" teriak sutradara saat melihat bintangnya yang tiba-tiba terdiam tanpa ekspresi. "Grimmjow, kau harusnya tersenyum!" tambahnya saat melihat Grimmjow langsung menoleh pada sutradara.
"Maaf, aku hilang konsentrasi," jawab Grimmjow yang berusaha kembali fokus pada lawan aktingnya.
Rukia, dengarkan aku. Jika sampai kau melepaskan ikatan ini, terlebih lagi menyerahkan hatimu pada pria lain… Aku bersumpah akan membuatmu kembali padaku, apapun caranya. Karena kau hanya boleh melihatku, itu kontrak mati antara kau dan aku.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
A/N :
Di chapter ini kurang terasa GrimmxRuki-nya ya? Jadi author ini mau bikin GrimmRuki atau HitsuRuki sih?
Yah, begitulah *maksudnya?*
*Author ndak bisa jawab karena disumpal kaos kaki sama Grimm"
"Sampai jumpa di chapter depan," kata Rukia, mewakili author.
:-:-:-: Nakki :-:-:-:
06-12-2011
