Chapter 4 . Perjamuan pun Dimulai
Yes. This is lemon, guys.
... plis. Buat yang berpuasa, mungkin lebih baik kalian bacanya setelah buka puasa. Bukan hanya karena saya gak pengen menambah dosa setelah meng-update ini di tengah hari bulan puasa, tapi supaya kalian bisa lebih menikmati. Karena seperti kata orang-orang, berbukalah dengan yang manis. /paansi
Dan, uh. Ini lemon-nya beneran super cheesy. Agak lebay-lebay gimana gitu, bikin saya malu sendiri.
Btw, selamat membaca.
Beberapa hari sudah berlalu sejak tragedi itu. Mungkin sudah hampir setengah bulan. Tentu saja kedua orang tua Kaito sangat syok begitu dikabari bahwa Kaito nyaris digorok oleh orang yang tidak dikenal ketika berada di tempat keramaian seperti itu. Kaito terus-terusan meyakinkan mereka bahwa dia sudah baik-baik saja—meskipun sejujurnya masih ada bekas rasa sakit di bagian luka lehernya itu.
Semua teman-teman Kaito juga kaget saat berita itu sampai di sekolah mereka. Banyak dari mereka datang menjenguk, apalagi Gakupo yang dalam sehari bisa sampai dua kali datang.
Tiga hari yang lalu, Kaito pulang dari rumah sakit. Dia lega akhirnya tidak perlu lagi memakan makanan rumah sakit yang menurutnya hanya kumpulan benda lunak yang sama sekali tidak ada rasanya. Dia tahu itu sudah ditakar sesuai kondisi pasien, tapi tetap saja dia selalu mengganggapnya hina.
"Kau yakin mau menginap di sini malam ini?"
Gakupo mengangguk. Matanya melirik jendela sekilas. Di luar sana, hujan deras sekali. "Aku gak bisa pulang juga."
"Dan orang tuaku sedang pergi ke rumah saudara mereka." Kaito meringis selagi duduk selonjoran di atas tempat tidurnya sendiri, dengan leher mendapat beberapa kali jahitan dan kini diperban. Dia menolak keras luka itu dipasang kruk—oke, sebutannya bukan itu. Kaito tidak ingat apa namanya dan karena penampakannya mirip kruk, maka dia memanggilnya demikian. Jadilah, luka itu hanya dipasang perban yang ditempel dengan plester, mungkin sekitar lima senti yang memanjang dari leher menuju bahu.
Sementara itu, Gakupo duduk di samping kakinya, menghadap dirinya, dan terlihat sekali kegalauannya. Duh, kenapa nasibnya jadi seburuk ini sih? Kaito jadi merasa tidak enak. Bahkan setelah berhari-hari merenungkannya, Kaito masih belum merasa puas. "Aku senang kau di sini, Gakupo."
Alih-alih menyeringai seperti biasanya ketika menjawab, cowok berambut ungu itu hanya menatap Kaito. Wajahnya tidak menampakkan ekspresi apapun, tapi Kaito yakin mata itu memandanginya dengan sedih. "Lukanya masih sakit?"
"Oh, sakit dikit sih." Kaito jadi ikutan melankolis. Lalu dia tersadar bahwa jawabannya tadi malah membuat Gakupo terlihat semakin sedih, maka dia segera meralat ucapannya, "Bekasnya aja kok!"
Ketika mereka hanya berdua dalam satu ruangan, dia bisa melihat Gakupo menjadi lebih jujur dengan perasaannya sekarang.
Gakupo pun terdengar mendecih dan bergumam pelan, "Ck. Seandainya saja orang-orang gak berkerumun di dekatmu kemarin..."
"Sudahlah. Aku juga yang bodoh karena meskipun sadar bahwa orang itu memang sudah terlihat berbeda dari pertama kali aku melihatnya, aku gak menghindar dan malah tanpa sadar mendekatinya."
"Enggak. Itu bukan salahmu! Menurutku dia terlihat biasa saja dari luar. Siapa yang tahu kalau ternyata dia itu orang gila yang senang mengeluarkan pisau di tempat seperti itu!" Entah kenapa dari sini, Kaito melihat Gakupo marah-marah sendiri. "Dan lagi, sedang apa tim keamanan sebelum itu?!"
Kaito akhirnya memutuskan untuk diam walaupun tatapannya terpaku pada cowok bermata biru gelap itu. Dia tidak menduga Gakupo akan sekhawatir ini. "Apapun itu, yang penting aku sudah gak apa-apa, 'kan? Mereka juga mau bertanggung jawab menanggung biayanya."
Meskipun sesungguhnya, Kaito mungkin tidak akan berani ke tempat keramaian seperti Manga Fair itu lagi beberapa tahun ke depan. Setelah Gakupo dan Len menceritakan semuanya, dia akhirnya ingat. Dia sangat ingat bagaimana ujung pisau yang tajam menggores kulitnya. Tidak, itu masih belum seberapa. Situasi penyanderaan gaje yang dialaminya itu entah kenapa membuatnya takut akan mengalami hal yang serupa nantinya... apakah itu yang namanya trauma?
"Iya sih, tapi—"
Segera Kaito menarik kedua bahu Gakupo, dan memeluknya pelan. Berusaha berhati-hati pada luka di leher bagian kirinya. "A-aku baik-baik aja! Gak ada yang perlu disalahkan, apa yang sudah terjadi biarlah berlalu! Aku baik-baik aja kok, jangan sedih... jangan takut..."
Heck, siapa yang bicara ini? Kaito merasa seolah bukan dia pelakunya. Jarang-jarang dia bisa menghibur seseorang seperti ini. Dia seolah... spontan saja melakukannya.
Mungkin karena Gakupo juga sering melakukan hal itu padanya.
Kedua bahu Gakupo menegang, entah apakah itu pertanda bagus, tapi Kaito tetap tidak melepaskan pelukan mereka. Tidak ada permintaan untuk dilepaskan, maka Kaito yakin ini yang Gakupo—dan dirinya perlukan. Lalu perlahan sebuah tangan menjalari punggungnya, membalas pelukannya.
Ya, Gakupo memeluknya balik. "Terima kasih, Kaito. Seharusnya aku yang menghiburmu di sini."
Kaito memutuskan untuk tidak menjawab. Dia sendiri mengeratkan pelukan dan mengantukkan ujung hidungnya pada bahu lebar milik Gakupo. Ah, sudah lama sekali mereka tidak berpelukan. Dia baru sadar dia sangat merindukan momen-momen seperti ini.
"Malam ini aku tidur di sini ya?"
"Kau pikir aku akan menyuruhmu tidur di sofa ruang tamu?"
Kali ini Gakupo yang tidak menjawab. Dia melepaskan pelukan dan menatap langsung pada mata biru jernih milik sang pacar. Begitu jernih, begitu polos. Gakupo menyentuh pipi Kaito sesaat sebelum memberinya sebuah ciuman singkat di bibir.
"Kau gak menolak lagi saat aku cium, heh?"
"Kenapa? Ini bukan pertama kalinya aku gak menolak, 'kan?"
Lalu mereka berdua sama-sama tertawa. Dengan manis.
Perlahan Gakupo mendorong Kaito hingga cowok itu berbaring di bawahnya. Dapat Kaito rasakan intensitas detak jantungnya meningkat, tapi Kaito bungkam. Pada kenyataannya, itu bukan disebabkan oleh rasa takut. Dia hanya... tergugah. Ada sesuatu yang melintas dalam benaknya.
"Sudah, tidurlah," bisik Gakupo sambil sekilas mengusap ubun-ubun biru itu.
"... hei."
"Hm?" Baru saja Gakupo hendak menjauh, tiba-tiba Kaito membebankan kedua tangan pada lehernya, dan menariknya mendekat. "Kaito?"
"Kau mau ke mana?"
"Gak ke mana-mana. Memangnya kenapa?"
Kaito tidak menjawab. Dengan hati-hati, dia mendekatkan wajahnya pada Gakupo. Sengaja berdiam diri sementara dia memastikan bahwa napasnya yang mulai memberat dapat dirasakan oleh cowok berambut ungu itu. Dia hanya berharap, karena dia paling payah dalam menjelaskan keinginannya, semoga saja Gakupo mengerti apa yang saat ini dia inginkan.
Dan sepertinya Gakupo paham.
"Seharusnya kau mengatakannya terus-terang, bodoh," dengus Gakupo, kemudian dia menyeringai kecil. "Apa aku benar-benar tahu apa yang sedang kau maksud dari tadi?"
Kaito tertawa pelan. Dia merasakan dadanya semakin bergemuruh saat Gakupo melepaskan kedua tangannya perlahan dari leher cowok itu, lalu dia menaiki tempat tidur—sesuai dengan keinginannya. "Gakupo."
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Lugasnya kalimat itu terlontar menorehkan rona merah di wajah orang yang dialamatkan. Seingat Gakupo, baru kali ini Kaito duluan yang mengatakannya—sayang berubah jadi cinta, huh? Atau mungkin dulu juga sudah pernah? Ah, dia pikir itu tidak penting. Mungkin sentimentil yang sempat mengudara telah meracuni otak Kaito hingga bisa berkata demikian. Dia tidak keberatan. Dia menikmatinya.
"Aku mencintaimu juga, Kaito."
Sesegera setelahnya, Gakupo membawa Kaito dalam sebuah ciuman yang panjang.
.
.
Kaito sama sekali tidak bisa menahan suaranya ketika Gakupo mulai menenggelamkan wajahnya sendiri dalam kerah baju di bagian lehernya yang tidak terluka. Dia spontan menggigit bibir bawah sebelumnya, tapi pada akhirnya dia lepaskan begitu saja. Suaranya berbaur dengan melodi hujan yang semakin menderas di luar sana.
"Waktu itu aku melihat si brengsek itu menyentuhmu... di sini..."
Lidah Gakupo menari di dalam cekungan daun telinganya. Sempat membuat Kaito merinding—entah karena kelakuannya itu atau karena bisikannya tadi.
"... lalu di sini..."
Dia menurunkan bibirnya menuju sebelah kanan leher Kaito. Dia menciumi bagian itu, begitu perlahan dan seolah hanya menempelkan bibirnya saja di sana, hingga akhirnya Gakupo menggigit keras di bagian bahu.
"Ahh!"
"Lalu tangannya juga menyentuhmu di bagian sini."
Gakupo mulai meraih tangan kanan Kaito. Memberikan beberapa ciuman dari punggung tangannya, hingga bagian bisepsnya. Dia mengulangi hal yang sama pada tangan kirinya, dan berulang-ulang kali. Cowok itu menikmati bagaimana Kaito meresponsnya. Suaranya terdengar bergairah.
"Ngh..."
Dan Gakupo bersyukur Kaito tidak menolak.
"Kau tahu? Aku gak peduli aku dibilang posesif. Aku gak peduli seberapa banyak orang berusaha mencelakaimu. Aku bakal melindungimu. Aku bakal tetap mencintaimu. Aku gak mau kau terluka."
"Ugh... kau membuatku merasa malu hanya dengan mendengarnya."
"Hahaha, maaf. Aku cuma mau bilang itu."
Gakupo mengangkat dagu Kaito hingga mata mereka saling berpandangan. Kadang jika Gakupo mulai kumat menjadi seperti ini, Kaito bisa merasa takut menatap matanya. Dia takut dia akan tersedot ke dalam sana. Di dalam diri Gakupo yang tidak begitu dia kenal.
Mereka pun kembali berciuman.
Sementara itu kedua tangan Gakupo menelusup ke dalam kemeja putih polos yang sedang Kaito kenakan, menyentuh setiap jengkal tubuh ramping itu. Kaito menjengkit karena merasa geli, tapi dia tidak ingin berhenti. Rasanya menenangkan, jemari dan telapak tangan Gakupo menyentuhnya dengan perlahan seolah sedang berhati-hati selagi menikmati permukaan punggung Kaito yang halus. Begitu pun dengan dadanya, perutnya, dan pinggangnya.
Gakupo mencintai semua yang ada pada diri Kaito. Kaito yang amat dia sayang. Heh, permulaan yang konyol ternyata bisa membawa mereka pada akhir yang tak terduga seperti ini. Memang, terkadang permainan takdir terlalu nakal untuk bisa ditebak.
Tangan-tangan Kaito yang tidak sabaran berusaha melepaskan kemeja miliknya sendiri. Gakupo menyadarinya dan hanya tertawa dalam hati. Selagi menunggu cowok itu selesai mengenyahkan kemeja itu, Gakupo mencari kesibukan lainnya. Dia menurunkan dirinya, mulai menciumi perut langsing Kaito yang polos tanpa pertahanan. Kaito memekik pelan, dia pun membuang pakaian atasnya hingga dia bertelanjang dada.
Ketika cowok berambut biru itu tampaknya berencana melepaskan sendiri celana kainnya, Gakupo menghentikannya. "Biar aku yang melakukannya untukmu nanti."
"Aku... gerah..."
"Sabarlah, Kaito. Terburu-buru juga gak ada gunanya." Gakupo menatap sekilas pada buntalan yang terbentuk di bagian selangkangan yang masih terbalut kain itu. Oh, dia jadi gemas melihatnya. Ingin rasanya dia segera membuka celana itu. Tapi kini belum saatnya. Dia masih harus melakukan hal lainnya terlebih dahulu.
Gakupo mengalihkan pandangannya saat tangan-tangan Kaito kembali berusaha menjarah permukaan bajunya. Sepertinya cowok itu berencana ingin melepaskan bajunya juga. Gakupo pun mendengus geli dan menggenggam tangan Kaito yang terasa gemetar dalam telapak tangannya. "Kau mau secepat itu, hm?"
"Buat apa kita berlama-lama? Kau sendiri selama ini juga selalu gak sabaran—jangan bilang kau gak ingat."
Gakupo memilih untuk tidak menjawab. Menyaksikan Kaito yang jauh lebih agresif dibandingkan biasanya membuatnya jadi ikutan gerah. Atmosfer terasa dingin, pasti itu menjadi salah satu alasan mengapa Kaito terlihat gemetaran dari atas. Cowok itu pasti panas-dingin dikarenakan aktifitas mereka saat ini. Maka dari itu, Gakupo kembali melancarkan serangannya yang sempat tertunda. Kali ini lebih leluasa karena tiadanya pelindung.
Gakupo menciumi daerah sekitar tengkuk dan bahu Kaito. Bibir dan lidah Gakupo yang panas menyentuh kulit yang agak dingin akibat cuaca itu, membuat tubuh di bawahnya terasa menggigil dalam pegangan Gakupo. Tentu saja kedua tangan Gakupo tidak mau diam. Dia terus-terusan menyentuh bagian sensitif Kaito terutama di bagian pinggang. Kaito mendesah tertahan akibat perlakuannya itu.
Bibir Gakupo turun menuju bagian dada. Lidahnya bermain di sana, terkadang gigi ikut ambil peran. Kaito mulai merasa tidak karuan. Napasnya agak terengah-engah, dia sibuk menggigit bibir bawahnya walaupun pada akhirnya suara yang ditahan akan keluar begitu saja. Satu tangan berada di bahu kanan Gakupo, sedangkan tangan lainnya mengepal di samping tubuhnya. Antara ingin merenggut kain seprai di bawahnya atau menekan-nekan kasur, Kaito tidak memedulikannya.
Wajahnya panas sekali. Apalagi tubuhnya. Seperti ada yang menyalakan api di bawah tempat tidur. Kaito memekik saat Gakupo menggigit pelan salah satu puting susunya.
"Aaah!"
"Kau menikmatinya?" Gakupo berucap pelan sembari meminggirkan poni rambutnya sendiri ke belakang telinga tanpa sepenuhnya menghentikan pergerakannya. "Kaito?"
"Engh, iya—aku tau kau senang sekali melakukan itu."
"Ohh, melakukan apa? Melakukan ini?" Gakupo mengulangi apa yang dia lakukan sebelumnya. Kaito terdengar menahan suaranya. Pegangan pada bahu kanannya pun mengerat, tapi tidak ada tanda-tanda penolakan dari cowok itu. Gakupo kembali berbisik pelan, "Aku pastikan tandanya gak bakal kelihatan dari luar."
"Mm, seharusnya memang begitu—ngh!" Kalimat Kaito terputus tatkala Gakupo menjulurkan lidah dan menjilati tubuh Kaito dari bagian dada menuju bagian perut dengan gerakan cepat. Sesi berbicara selesai, saatnya mereka kembali.
Gakupo sedikit menahan kedua kaki Kaito yang bergerak-gerak gelisah dengan tubuhnya sendiri yang memiliki postur lebih besar dan kokoh. Kedua tangannya ikut turun pada bagian belakang Kaito, merabanya sekilas kemudian melepaskan keduanya untuk menahan dirinya yang berusaha untuk duduk. Meski pada akhirnya Gakupo duduk setengah bersimpuh di antara kedua kaki Kaito.
Rasanya suara Kaito yang terdengar tertahan jauh lebih menggodanya. Gakupo bisa merasakan napasnya ikut terengah pelan, walaupun tidak separah cowok di bawahnya itu.
Dia memperhatikan wajah Kaito yang dipenuhi dengan rona merah. Keringat dingin terlihat jelas dari atas, membasahi poni biru milik cowok itu. Dia tampak kehabisan napas karena kewalahan atas serangannya tadi. Melihat keadaan uke-nya saat itu membuat Gakupo entah kenapa berdecak bangga.
Dia berhasil melumpuhkan cowok ini, hingga yang bisa Kaito lakukan hanyalah menatapnya sayu dengan kedua mata biru yang setengah terbuka. Wajahnya begitu manis... membuat Gakupo ingin sesegera mungkin menerkamnya.
"Berhenti melihatku sambil menyeringai begitu! Kau membuatku takut...," desis Kaito sambil berusaha menutup wajahnya dengan tangannya. Gakupo pun tertawa menanggapinya.
"Maafkan aku. Kau manis sekali sih," jawab Gakupo jujur, membuat Kaito semakin salah tingkah di hadapannya. Sementara itu, cowok di atasnya mulai mendekatkan wajah mereka berdua dan menyingkirkan tangan Kaito dari wajahnya. "Jangan ada yang ditutupi dariku, Kaito. Aku ingin melihatmu."
Oh, suara Gakupo yang begitu pelan dan berat... itu perlahan membuat Kaito jadi gila...
Gakupo mulai melepaskan celana kain Kaito beserta dalamannya hingga akhirnya cowok itu terekspos tanpa adanya perlindungan apapun lagi. Begitu sadar bahwa dia telanjang bulat, Kaito otomatis panik. "G-Gakupo—!"
"Ohh, aku sangat mencintaimu, Kaito."
"Bangsat kau! LEBAY—! Ngh!"
Tiba-tiba Kaito tidak kuasa menuntaskan kalimatnya sendiri ketika Gakupo dengan santainya menurunkan kepalanya dan mulai menciumi organ kesejatiannya dengan lihai. Cowok sedeng itu tetap sibuk memanjakannya, tidak berucap apa-apa kali ini. Kaito mengenali sikapnya ini sebagai, "Now shut up, baby. Let me turn around your world with my magic stuff!"
"Ahh—"
Punggungnya terempas ketika seluruh tubuhnya seperti tersengat listrik. Secara insting dan tanpa dia kehendaki pun, suara desahan terlontar dari mulutnya dengan manis. Kaito mengepalkan tangannya, menekannya pada tempat tidur sambil menutup mata. Oh, dia tidak suka ini, tapi dia terus menginginkannya!
"Ohh—! Ga-Gakupo—!"
Sekarang barulah dia menyukainya, ketika kesejatiannya tersebut dilahap oleh kehangatan mulut itu. Naik dan turun secara simultan, memberikan sebuah blowjob yang indah bagi sang uke. Kaito pun mulai bergerak-gerak gelisah, seketika melupakan jahitan luka di lehernya.
Gakupo sendiri tidak ambil pusing dan hanya berusaha menahan tubuh—terutama pinggul cowok di bawahnya tersebut dengan kedua tangannya. Dia menikmati bagaimana cowok yang kesehariannya bagai memiliki dua kepribadian itu kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Suara maupun tubuhnya begitu selaras, memancingnya untuk lebih memanjakannya.
Kaito pastinya tidak akan pernah mau mengakuinya jika ditanya. Itulah kenapa Gakupo merasa satu-satunya kunci adalah dengan membaca bahasa tubuhnya.
"Uhmm... ahh—"
Ketika tubuh di bawahnya mulai bergetar, dia tahu orgasme sudah hampir mencapai batasnya pada cowok itu. Jadi dia segera menghentikan aktivitasnya. Gakupo mengeluarkan kesejatian itu dari mulutnya, menciptakan benang saliva yang masih terhubung antara mulutnya dan ujung kesejatian tersebut.
Dia menghapus sisa-sisa campuran saliva miliknya sendiri dan cairan pre-cum dari pinggir bibirnya dengan jempol, sembari menyeringai karena dia sadar Kaito memperhatikannya. Ah, saat memberengut pun, cowok itu tetap terlihat sangat, sangat manis.
"Kenapa berhenti?!"
"Itu tadi cuma pemanasan. Lagipula, gak bakal seru kalau kau duluan yang klimaks." Lalu Gakupo tertawa pelan. Dia menunduk lagi, kali ini untuk memberi ciuman pada bibir Kaito—sudah dia bilang tadi, 'kan? Kaito sangat manis, dia jadi tidak tahan. Dan dia harus mengatakannya pada cowok itu, tapi tidak dengan kata-kata. Melainkan dengan sentuhan.
Karena dia yakin, saat ini Kaito lebih menyukai hal seperti itu.
Ketika cowok berambut ungu itu mulai meraba-raba bagian belakang selangkangannya, Kaito spontan mencoba menghentikan pergerakan tangan itu. "U-uhm... l-langsung aja..."
"Hah? Apa?" Mendengar suara Kaito yang pelan seolah menahan malu, Gakupo kembali menyeringai. "Kau mau aku langsung apa?"
"Kau tahu apa maksudku!"
"Hm? Maksudmu apa?"
"B-bodoh!"
"Hahaha! Oh, ayolah. Aku cuma bercanda, dear. Aku tahu dan sangat paham apa maksudmu."
Ketika Kaito hanya memberinya sebuah tatapan seolah dia masih marah, Gakupo mengangkat sebelah alis. "Apa? Kemarin kau marah kupanggil sweetie."
"Soalnya itu mirip nama merek popok."
Gakupo tertawa pelan. "Baiklah, baiklah. Jadi apa kau yakin dengan yang langsung tadi?"
"I'm in the mood for the rough one." Kali ini giliran Kaito yang menyeringai. "Tenang. Aku gak bakal mati."
"Gampang sekali kau menyebut kata mati." Aku yakin kau bahkan gak sadar kalau beberapa hari yang lalu, kau nyaris mati konyol. Gakupo nyaris mengatakannya, tapi urung karena dia enggan menghancurkan suasana yang ada saat ini.
Sementara itu, Kaito pun tertawa atas sahutan Gakupo tersebut. Kemudian tawanya surut ketika cowok di atasnya itu mulai menghujaninya dengan ciuman-ciuman di wajahnya, terutama bibirnya. Turun ke leher, Kaito pun mendesah keras. Dia tidak puas hanya dengan bibir Gakupoo. Dia ingin semuanya dari sang seme.
Jadi saat Gakupo kembali menciumi bibirnya, Kaito membalasnya dengan ganas. Gakupo sempat tidak mengantisipasi perubahan mendadak ini, tapi akhirnya dia tersenyum saja. Dengan senang hati dia akan beradu dengan sang pacar.
"Kau paham sekali kalau aku gak mau membuang-buang waktu lagi." Sembari mengatakannya, Gakupo mulai melepaskan pakaiannya yang masih lengkap. Perlahan-lahan, Kaito jadi malu sendiri hanya dengan memperhatikannya. Dia bisa melihat Gakupo sengaja memperlambat gerakannya. Karena Gakupo mengenakan kaos oblong, jadi dia harus menaikkan bajunya ke atas kepala.
Oh, Kaito tidak akan mau mengakuinya. Bagian yang paling disukainya adalah bahu itu. Bagian yang paling senang dia sentuh.
Cowok ini memang senang membuatnya menjadi gila.
"Aku benar, 'kan—engh?!" Ucapan Kaito terhenti ketika sesuatu mengganjal di bagian bawahnya. Dia tidak perlu repot-repot menebak. Itu pasti Gakupo yang sedang berusaha menerobosnya. Kali ini mereka tidak memakai apa-apa, pelumas atau apapun itu. Kaito sudah memikirkan akan adanya luka internal, tapi dia tidak peduli. Dia ingin segera memiliki cowok ini.
Dan dia tidak yakin kalau dia sendiri bisa melakukannya, tapi dia sangat yakin bahwa Gakupo pasti bisa melakukannya.
"Mmh..."
"Sakit?"
"Ngh—nggak, cuma... rasanya aneh."
"Kau mau aku lanjut?"
"Pelan-pelan."
"Hmm, baiklah..."
Gakupo memerhatikan baik-baik wajah Kaito. Dia harus memastikan bahwa jika Kaito tidak menikmatinya, begitupun dengannya. Meskipun dirinya yang lain terus memaksanya untuk segera mengentak seluruh dunia sang pacar saat itu juga. Dia tahu itu hanya pengaruh dari betapa panasnya di dalam diri Kaito saat ini.
Maka ketika semakin dalam dirinya memasuki cowok itu, dan kerutan di dahi Kaito juga semakin dalam, dia bertanya kembali, "Sakit?"
Kaito mendesis. "Kh, sebelumnya gak sesakit ini."
"Coba kau rileks dulu. Aku rasa kau terlalu tegang."
Setelahnya, Gakupo menurunkan tubuhnya. Kembali menciumi cowok manis itu dengan lembut, dan penuh perasaan. Tangan kanan memanjakan kesejatian, sedangkan tangan kiri menahan agar tidak bergerak terlalu dalam tanpa disadarinya. Sayang saja, saat ini Kaito terlalu ganas untuk dihibur dengan lembut. Jadi pada akhirnya Gakupo mengikuti kemauan cowok itu.
Napas Kaito terdengar terputus-putus. Dia mencengkram bahu bidang cowok di atasnya dengan kedua tangan. Semua yang cowok itu lakukan padanya... membutakan seluruh akal sehat yang dimiliknya. "Gakupo... Gakupo..."
"Shh, gak apa-apa, Kaito. Aku di sini. Aku mencintaimu, Kaito. I love you, I love you..."
"Ngahhh!" Kaito mengerang dengan kedua bahu yang melengkung ke dalam kasur. Dia menutup mata rapat-rapat dengan wajah yang entah apakah bisa lebih memerah lagi daripada saat ini. Hal itu mungkin karena Gakupo mulai memberikan beberapa gigitan pada kulit putih Kaito, tapi bisa juga karena kata-kata dan suara rendah Gakupo yang terlalu menghanyutkannya. Melelehkan dirinya hidup-hidup. Dia tidak peduli yang manapun itu.
Dia mencoba membuka matanya. Ugh, Kaito baru sadar jantungnya berdebar sekeras ini. Mata birunya memerhatikan bagaimana cowok itu—cowok yang entah sedang berusaha menghiburnya, atau justru sekaligus mencoba menikmati tubuhnya, juga menutup kedua matanya. Seolah ingin menghayati apa yang sedang mereka lakukan.
Wajah Gakupo basah keringat, begitupun dengan anggota badannya yang lain. Rambut ungu panjangnya terlihat basah dan berantakan, tapi entah kenapa terkesan sangat serasi dengannya sekarang dan... seksi.
Ekspresinya juga terlihat sangat serius. Kaito seringkali lupa bahwa cowok ini adalah cowok yang sama dengan yang sering menggodanya dan selalu menyertakan sebuah seringai lebar selama itu. Kaito tahu Gakupo selalu serius masalah ini... dan, oh, demi siapapun yang ada di dunia ini, saat ini Gakupo sangat tampan. Dengan semua yang dia miliki saat ini.
Njir.
Sesegera mungkin, Kaito menurunkan pandangan matanya yang sayu dan menarik Gakupo mendekat. Dia berbisik, "B-bergeraklah..."
"Sudah gak sakit?"
"Hmm. Lagipula aku yang mau, 'kan?"
"Oh, the rough one thing."
Sambil menyeringai miring, Gakupo melihat sekali lagi pada keadaan Kaito saat ini. Rambut biru itu sudah tidak karuan bagaimana bentuknya, warna merah di wajahnya itu pun terlihat sangat cocok dengan iris mata birunya. Dada itu naik-turun dengan lembut, dia tahu dia ingin sekali melihatnya bergerak keras sebagai akibat dari pasokan oksigen yang menipis. Beberapa titik merah tersebar di bagian ini dan itu.
Dia senang sekali dengan yang baru saja dia lakukan terhadap cowok ini. Dia puas, dan dia belum benar-benar puas sebelum bisa menikamnya dengan keras, sesuai permintaan sang pacar, seolah tidak ada hari esok.
Oh, salahkanlah nafsu mereka berdua yang sama-sama besar.
"Aku mulai, Kaito."
Dalam satu dorongan, Gakupo berhasil menanamkan dirinya sendiri sepenuhnya dalam diri cowok itu. Kaito mengerang nyaring sekali, dan Gakupo sengaja tidak menahannya karena dia ingin benar-benar merasakan cowok itu. Persetan dengan tetangga, dia yakin suara hujan yang deras bisa menahan suara mereka.
Gakupo sembarang menaruh kedua tangannya. Yang satu ada di samping kepala Kaito, sedangkan yang satu lagi berada jauh dari kepala Kaito. Dari sudut ini, dia bisa memperhatikan semua yang terjadi pada cowok berambut biru itu.
"Santai, Kaito. Jadilah dirimu sendiri. Gak ada yang melihatmu sekarang kecuali aku."
Rasanya Kaito ingin menjerit sekeras mungkin. Dia gila, dia gila karena cowok ini. Apalagi ketika Gakupo mulai menghunjaminya dengan keras dan dalam, akhirnya Kaito tidak bisa menahan diri lagi. Dia benar-benar memekik.
"Ohh...!"
"Bagus, Kaito... aku... ingin mendengar suaramu...!"
Kedua tangan Kaito mencengkram erat pada tangan kekar Gakupo yang ada di sisi kanan-kirinya. Kepalanya terdorong ke dalam bantal, matanya menutup. Kedua bahunya terangkat, lalu segera normal kembali ketika luka jahitan di bahu kirinya mulai terasa aneh.
"Kenapa...?"
"Nggak... gak ada apa-apa..."
Tidak mendengar kata berhenti dari cowok itu, Gakupo kembali melancarkan invasinya terhadap dalam diri Kaito. Setiap kali dia bergerak, sepelan apapun, dia pasti mendengar suara respons yang beragam dari cowok berambut biru itu. Entah itu memekik, menjerit, mengerang, mendesah. Apapun itu. Bagian kesukaannya adalah ketika dia menelusuk jauh ke dalam, dia akan mendengar namanya terlantun dengan merdunya oleh sang uke.
Tidak ada orang lain. Tidak ada keramaian. Tidak ada musik band yang berisik. Tidak ada penyanderan konyol. Hanya ada dia dan Kaito. Itu sudah merupakan sesuatu yang sangat luar biasa saat ini.
... tentu saja selain rasa panas dan pijatan yang menyelubungi kesejatiannya di dalam diri Kaito, dia begitu menikmati semua yang mereka lewati malam ini. Dia tahu mereka bisa saja melakukan ini kapanpun mereka mau, apalagi setelah kelulusan. Tapi... dia selalu mencoba mengingatnya sebagai sesuatu yang sangat berharga.
Untuk kesekian kalinya, Kaito menjerit nyaring. Memanggil namanya. Tapi belum, Kaito belum mencapai batasnya. Begitupun dengan dirinya. Dia menatap lurus pada mata biru itu. "Kaito, kau keberatan kalau aku mengeluarkannya di luar?"
"Terserah kau..."
"Terima kasih, Kaito." Gakupo mencoba menciumi Kaito lagi, dan memasuki cowok itu. Tentu saja bukan karena dia tidak menyukainya—orgasme di dalam kehangatan tubuhnya adalah hal yang sangat Gakupo sukai. Tapi terakhir kali dia melakukan itu pada Kaito... cowok itu mengeluh seharian mulas. Jadi dia pikir lebih baik dia tidak pernah melakukan itu lagi.
"Gakupo—lebih—lebih!"
"Ahh—as your wish, my dear..."
Menenggelamkan wajahnya dalam bahu Kaito, Gakupo mempercepat gerakannya. Semakin keras, semakin dalam. Suara Kaito pun terdengar menipis, oktafnya lebih tinggi dibanding sebelumnya. Kaito mulai bergerak-gerak gelisah, berhasil meraih tubuh kokoh itu dalam pelukannya. Pada akhirnya mereka pun sama-sama bergerak selaras.
Malam serasa hanya milik mereka berdua.
"Kaito—"
"Ahh—Gakupo! Gakupo—I love you! I love you! Aishiteru—ohh!"
Sial. Malam ini Kaito jauh lebih liar daripada dia yang biasanya. Gakupo jadi terbawa suasana dan ikut mengerang. Menambah suhu panas ruang kamar itu.
"Gakupo—AHH!"
Sementara Kaito menjerit sembari menarik seprai tempat tidurnya sendiri, Gakupo memutuskan untuk lebih menenggelamkan kepalanya. Kedua tangannya turut mengusutkan seprai, dengan suara kenikmatan darinya yang dia tahan hingga membuatnya terdengar seperti menggeram dalam. Tapi ketika dia memberikan tusukan terakhir, dia lepas kendali.
Dia keluar di luar sesuai dengan yang dia katakan tadi. Akhirnya dia kembali mengerang. Mata Kaito pun terbuka setengah, merasakan jantungnya seperti sudah tidak berbentuk lagi saking... apa? Terpananya? Melihat Gakupo dalam kondisi afterglow.
Njir.
Mereka keluar hampir bersamaan.
Lalu ketika Kaito tersadar bahwa dia terlalu lama memperhatikan—dan juga mulai teringat dengan semua hal memalukan yang dia lakukan dari tadi, Kaito membuang muka dan berusaha menutupi wajahnya dengan tangan kirinya. Dia malu! Rasanya dia ingin menguburkan dirinya sendiri di dalam tanah!
"Kaito? Apa... aku menyakitimu?" Suara rendah Gakupo sama sekali tidak menolong. Kaito jadi semakin malu.
"Uhm... gak...," Kaito pun menjawab dengan suara yang pelan, hampir seperti mencicit.
"Benarkah?"
"Iya..."
Lega karena dia tidak mendengar adanya kebohongan dalam kata-kata singkat itu, Gakupo pun mendekat pada Kaito. Dia menciumi wajah cowok di bawahnya itu, membuat Kaito mengerang kecil. Dan dia mengakhirinya dengan sebuah ciuman di dahi.
Ahh... so sweet.
Oke. Kaito tidak tahu apakah dia bisa lebih merasa malu daripada ini.
"Lukamu bagaimana?" Sembari menanyakannya, Gakupo menilik pada perban yang masih tertempel rapi pada perpotongan antara leher dan bahu Kaito. Dia berpikir, sungguh ajaib cowok ini bisa selamat dari kejadian itu. Padahal seingat dia, bagian sini dekat dengan pembuluh nadi aorta yang katanya kalau tersayat... bisa berbahaya.
"Gak apa-apa kok. Setidaknya gak sakit gara-gara kita tadi."
"Kau sangat liar tadi! Aku pikir kau sedang kerasukan!"
"H-hei! Jangan bahas itu lagi!"
"Kenapa aku gak boleh membahasnya? Asalkan kau tahu, I like that rough side of yours."
Kaito melempar bantal yang ada di bawah kepalanya ke arah Gakupo.
"Hei!"
"Hahaha..."
Setidaknya, untuk masalah ini, mereka sudah selesai. Hal yang mereka sebut sebagai bencana ini pun telah usai. Yah, setidaknya, semuanya sudah kembali damai.
.
.
END.
.
.
A/N :
(trus gue nyongkel mata gue sendiri)
Uh. Pertama-tama. Saya mau minta maaf karena ingkar janji. Janjinya sebelum tanggal 26 April sudah tamat. Trus ternyata ada suatu musibah yang terjadi secara beruntun pada saya yang membuat saya jadi sangat amat down. :v Trus baru minggu lalu saya kembali bersemangat buat melanjutkan semua proyek saya. Jadi... maaf kalo yang ini kesannya agak terburu-buru dan maksa. :v
Merasa aneh sama lemonnya? Ya, soalnya ini lemon pertama saya www Saya senang lemon pertama saya bersama GakuKai. /apa/ Gak tau lagi deh gimana ini bentuknya fanfic, saya cuma peduli saya sudah bikin GakuKai happy-ending. www
Btw, sekedar pemberitahuan. GBH Series sama INCOMPETENCE (karya saya lainnya, YuumaPiko) itu berhubungan loh. /trusapa
Terima kasih sudah membaca!
13062017. GBH4:PPK4. YV
