4 AMOR ; ME TOO

--

"AH!"

Suara itu jelas terdengar oleh Taehyung dari kamarnya. Dia pasti berlari cepat kekamar Yoongi.

Selama 5 tahun ini, setelah kejadian naas yang menimpa kedua orang tuanya. Taehyung dan Yoongi yang awalnya sangat akrab layaknya saudara kandung asli sekarang malah bertingkah berjauhan layaknya tak kenal satu sama lain.

Jika bukan karena nenek dan bibinya Taehyung yang memberikannya nasehat dahulu, yang sedih bukan hanya dirinya sendiri, tapi begitupun Yoongi, mungkin dia tak akan memikirkannya.

Tidak seperti Taehyung yang memiliki banyak keluarga, Yoongi? Tidak ada.

Beruntungnya ibu Yoongi menikahi Ayah Taehyung yang sangat penyayang dan mementingkan keluarga, maka hidup mereka bahagia. Sayangnya, tidak lama.

Taehyung yang menyadari bahwa hidup tidak semudah yang ia pikirkan, kebahagiaan tidak selalu datang jika bukan kita sendiri yang membuatnya maka itu tak akan terjadi.

Maka disinilah Taehyung, mulai membuka diri untuk menyambut satu-satunya keluarganya yang ia sendiri tak ingin menganggap keluarga.

Yoongi.

Sosok yang pernah ia salahi atas kejadian buruk yang menimpa keluarganya. Padahal keluarganya sama saja dengan keluarga Yoongi, kesedihan Taehyung juga kesedihan Yoongi, dan jika bukan karena Taehyung yang membuat Yoongi sedih maka pastilah Yoongi akan bahagia.

Suatu hari itu Taehyung mulai bertekad saat Yoongi masuk rumah sakit dan operasi apendisitisnya, ia ingin memulai lagi hari-harinya dengan Yoongi dan bahagia layaknya kakak dan adik, saudara yang paling bahagia.

Tapi sayang, Yoongi sekarang menjadi lebih pendiam tidak seceria dahulu semenjak dia sakit, dia begitu lemah.

Taehyung tidak berani melakukan hal-hal aneh demi Yoongi. Dia harus menjadi pelindung Yoongi.

"Ada apa?" tanya Taehyung saat masuk kamar Yoongi.

Anak itu terlihat ketakutan di sudut kasurnya. Dia menutup telinganya selagi meringkuk dengan boneka kumamon di pelukannya.

Dia tengah ketakutan.

Sekarang pukul 3 pagi saat hujan mulai datang beberapa menit yang lalu, tidak tau apa karena terlalu nyenyak bagi Taehyung dia tidak sadar tadinya, tapi kilat dan petir begitu terlihat menembus jendela kamar Yoongi.

Anak itu takut dengan hal semacam ini, Taehyung tau, hanya saja dia lupa.

Sebuah petir menyambar kembali, memekakkan telinga mereka didalam kamar. Taehyung mendekati Yoongi di kasur.

"Tidak apa. Aku disini Yoongs."

"Tae.." Yoongi memanggil lirih sosok Taehyung yang sudah memeluknya. "AH!"

Kembali Yoongi berteriak dan memeluk Taehyung semakin erat kala petir itu seolah akan menyambar rumahnya.

Maka malam itu berakhir dengan mereka yang tidur berdua hingga pagi menjelang.

--

[taehyung pov]

Aku tidak tau kenapa, tapi apa hanya aku yang merasakan yoongi begitu manis.

Tidak, bukan hanya manis, tapi dia imut dan menggemaskan.

Apa yang harus aku lakukan.

Sadarlah Tae!

Aku membuka mata pagi itu, aku mengalami mimpi ini lagi. Mimpi dimana 10 tahun lalu saat pertama kalinya aku bertemu Yoongi dan ibunya. itu sungguh hari yang membahagiakan bagiku. Bertemu sosok imut sepertinya. Tapi tunggu. Apa aku tidak salah dengar.

Adik!?

Dia menjadi adikku kala kedua orang tua kami menikah. Tidak ada yang salah ternyata. Hanya pikiranku saja yang salah.

Aku menganggap Yoongi berlebihan, aku tau dia akan menjadi adikku, tapi aku masih memiliki perasaan padanya, perasaan jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan entah kenapa tidak berubah.

Saat aku terbangun pagi ini aku menyadari, sosok yang selama 5 tahun ini yang aku usahakan untuk menjaganya layak adik, bukan seperti itu adanya.

Aku hanya mencoba menahan diriku untuk tidak melakukan hal gila padanya karena mungkin aku bisa lebih jatuh cinta padanya jika aku tidak menahan diri.

Lihat dia, bahkan saat tidur dengan kaki menekuk seperti itu dia terlihat menggemaskan.

Itulah kenapa dulu aku berani menciuminya saat aku menolongnya dari jatuhan piring.

Dia begitu menggemaskan bahkan saat dia ingin menangis.

Dan kalian tau apa. bibirnya begitu manis.

Bibir tipis nan merah layaknya cherry itu sangat manis saat aku menciuminya.

Andai saja kebahagiaan itu tidak berakhir.

Aku sadar sekarang sudah pukul 6.

Aku harus bersiap ke sekolah.

"Yoongi-ya bangunlah, kita akan kesekolah."

Jika saja kebahagiaan bisa aku buat untuk Yoongi lagi akan aku usahakan. Tapi dia terlihat berbeda semenjak kelakuan burukku saat orang tua kami meninggal.

Dia pasti shock, begitupun aku. Dan kelakuanku memperburuknya. Meski aku sudah berusaha memberikan yang terbaik untuknya sebagai saudara. Aku tau itu tidak cukup.

Seharusnya aku lebih bisa membuatnya tersenyum bukan.

Apa yang harus aku lakukan Yoongi?

Tbc~

--

review juseyong =D