Mata obsidian pria itu tak dapat lepas dari sosok surai pink di tengah pesta. Sang pemilik surai pink memakai gaun ala eropa dengan make up tipis dan rambut ikal tertata rapi menuju bahu kanannya.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
Sangat cantik.
Bahkan kata-kata itu tidak pantas ditujukan pada pemilik rambut pink tersebut. Apabila ada kata yang lebih tinggi dari kata 'sangat cantik', maka kata itulah yang pantas.
"Rosaline, itukah Juliet sepupumu?" tanya pemilik obsidian itu kepada gadis bersurai gelap di sebelahnya.
.
Innocent For Love © Kiyuchire
.
"Ya Romeo. Dan yang sedang bersanding dengannya adalah Paris, calon tunangannya," jawab gadis yang menggunakan dress ala eropa juga itu singkat.
"Benarkah? Mereka nampak tidak saling mencintai," ucap sang pria yang dipanggil Romeo.
"Begitulah. Itulah keluarga kami, Capullet," jawab Rosaline singkat. Romeo paham dengan keadaan tersebut, ia memang paham sekali dengan sistem perjodohan yang selalu dilakukan oleh kaum bangsawan —tidak terkecuali Capullet. Sangat berbeda dengan dirinya yang seorang Montague.
Selang beberapa menit, Romeopun memutuskan untuk meninggalkan tempat itu ketika menyadari objek perhatiannya kini sudah berpindah tempat.
Rosaline yang melihat hal tersebut tersenyum sarkastik menatap pria yang mengaku mencintainya selama ini justru menatap sepupunya dengan tatapan penuh perasaan.
"Romeo, begitu dangkalnya cintamu," ucap Rosaline enteng.
.
Kiyuchire
.
Proudly present
.
Innocent For Love Chapter 4 (Love)
.
Romeo berasal dari keluarga Montague yang notabene adalah musuh utama keluarga Capullet. Awalnya ia pergi kemari hanya karena anjuran kedua sahabatnya —Benvolio dan Mercutio yang menyarankannya datang ke sini dengan berkata, "Rosaline akan terlihat seperti burung gagak saat bersanding dengan wanita cantik lainnya."
Romeo —yang memang sedang putus cinta karena cintanya ditolak oleh Rosaline akhirnya mengikuti saran sahabat-sahabatnya dan justru bertemu dengan Rosaline secara langsung di pesta. Dirinya tidak pernah menyangka, bahwa perasaannya pada Rosaline perlahan terangkat setiap kali dirinya melihat mata emerald Juliet.
.
"Hai," suara bariton itu menyadarkan lamunan Juliet di balkon.
"Apa maumu?" Jawab Juliet dengan nada tertahan dan beberapa jejak air mata masih menghiasi pipi porselinnya.
"Bila kau tidak menyukai perjodohan ini, aku bisa mengajakmu pergi,"
Juliet tersentak. Dirinya bukan tidak tahu bahwa sang pemilik obsidian memang daritadi terus menatapnya aneh sejak dari aula. Bukannya ia tidak menyukai tatapan itu, tapi entah mengapa ia begitu menyukainya. Dan tanpa ia sadari, ia menerima uluran tangan pria yang baru ia kenal beberapa menit yang lalu.
.
Prok! Prok! Prok!
Semua orang memberikan standing applouse pada penampilan Sasuke dan Sakura —tidak terlupakan Konan yang merupakan salah satu anggota teater yang juga ikut tampil dalam latihan perdana ini sebagai Rosaline.
"Luar biasa! Fabolous! Tidak salah sejak awal aku memilih kalian bertiga sebagai pemeran dalam drama ini!" Teriak Ino —selaku sutradara dari bangku penonton memberikan pujian pada penampilan —lebih tepatnya latihan pertama mereka sejak diumumkannya mereka sebagai pemeran Romeo and Juliet 2 minggu yang lalu.
Sakura yang dipuji seperti itu hanya tersenyum, entah sudah berapa lama ia tidak berakting kembali ditambah drama karya novel terkenal —William Shakespear kali ini begitu menantangnya.
"Sampai kapan kau mau menggenggam tanganku?" suara bariton itu menyadarkan Sakura untuk segera menarik tangan kanannya dari tangan Uchiha Sasuke. "Ti-tidak! Aku hanya terlalu menghayati peran. jangan berpikir macam-macam!" ucap Sakura memerah. Meski ini masih 2 minggu sejak diumumkannya mereka sebagai pemeran Romeo and Juliet, perlahan hubungan mereka membaik kembali seperti dulu. Meskipun terkadang masih ada keheningan tercipta diantara mereka dan Sakura yang terkesan menghindari interaksi secara langsung, tetapi perlahan namun pasti, hal tersebut mulai berkurang.
Sakura terlalu sibuk mengalihkan pandangannya dari mata obsidian milik laki-laki yang sudah mengacaukan pikirannya sejak sebulan lalu, sama sekali mengalihkan hingga tidak sadar bahwa—
—kini Uchiha Sasuke tengah tersenyum bahagia.
.
Mata putih itu berkelut, penuh dengan amarah kebencian dan kecemburuan yang mendalam menyaksikan pemandangan yang begitu menyakitkan mata juga hatinya. Rasanya dadanya seperti tertusuk belati hingga sangat dalam dan berbekas. Sesaat ia menampikan wajah sedih, namun itu hanya sesaat saat ia menunjukkan wajah datarnya.
"Uchiha Sasuke, kau benar-benar sangat menyebalkan."
Diremasnya botol plastik di tangan kanannya hingga rusak, membiarkan gerakan tersebut menjadi wakil dari perasaan hancurnya. Lalu, ia pun memilih untuk keluar dari ruangan khusus drama itu.
.
"Apa kau mau aku membantumu?"
Neji terkejut mendengar suara perempuan ketika dirinya baru saja keluar dari ruang teater. Manik putih itu berputar cepat ke arah kiri mencari sumber suara. Tampillah sosok perempuan berambut merah darah dengan kacamata yang bertengger di hidungnya sedang bersender di tembok dekat ruangan tersebut.
"Apa maumu?" Ucap Neji sarkastik. Dirinya bukan tidak tahu tabiat buruk gadis yang melepas 2 kancing teratasnya itu. Walaupun penampilan Karin —nama perempuan itu sangat seksi dengan belahan dada yang terbentuk sempurna, itu tidak membuat pemuda Hyuuga merasa tertarik. Justru ia merasa jijik dengan gadis —atau mungkin wanita yang lebih mirip pelacur itu.
"Kemauanku sama denganmu," jawab Karin singkat tetap mempertahankan posisinya bersandar pada tembok dengan tangan bersilang.
"Jangan sok tahu," ucap Neji langsung tanpa basa-basi dan langsung berniat meninggalkan tempat tersebut.
"Aku bisa membuat si pinky itu menjauh dari Sasuke dan menjadi milikmu,"
Satu kalimat itu sukses membuat Neji menghentikan langkahnya. Ia tahu betul siapa 'pinky' yang dimaksud oleh Karin. Sakura, ya tentu saja.
"Kau mau sampai kapan berdiam diri saja? Apa kau mau Sasuke itu merenggut semua yang harusnya menjadi milikmu? Atau kau mau biarkan Sasuke memerkosa lalu meninggalkan Sakura begitu saja?"
DEGGG!
Jantung Nejipun berdetak ketika mendengar kalimat yang terlontar dari bibir merah Karin. Tangannya ia kepalkan dengan sangat keras seolah hal itu bisa membuat emosinya tertahan. Tapi, ia tahu hal tersebut tentu percuma. Ia begitu takut, sangat takut bila Sakura akan meninggalkannya —dan mungkin akan disakiti oleh laki-laki bajingan macam Sasuke —menurutnya.
Bibirnya bergetar, entah sudah berapa besar cinta yang ia toreh kian menyiksanya.
Bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami, hal tersebut memang memungkinkan. Tetapi kemungkinan itu kecil atau justru nyaris tidak ada —dan bahkan dalam setiap pergerakannya akan melukai tubuh sendiri.
"Apa maumu?" Kata-kata itu pun terlontar dari bibir Neji yang bergetar. Karin tersenyum penuh kemenangan mendengar pertanyaan yang menunjukkan bahwa ia akan mendapatkan satu supporter untuk mendapatkan Sasuke untuk dirinya seorang.
"Ikuti saja aba-abaku,"
.
Temui aku di loteng ketika kau membaca surat ini. Kita latihan berdua saja, kebetulan latihan hari ini ditiadakan hingga waktu yang tak bisa ditentukan, sekalian ada hal yang ingin kubicarakan. Sasuke.
Sakura mengernyitkan alisnya. Aneh. Tidak pernah seorang Sasuke mengirimkan pesan begini. Biasanya ia akan mengajak secara langsung. Walaupun alasannya karena hubungan mereka retak, bukankah sekarang hubungan —pertemanan mereka sudah membaik?
Sakura tak ingin mengambil pusing, dengan gesit ia menuju loteng —tempat yang di beritahukan di kertas.
Ketika ia menaiki tangga pertama, ia menangkap sosok sahabat sejak kecilnya —Neji Hyuuga.
"Neji, Kamu lihat Sasuke?"
Jeda.
Hening.
Neji terdiam sejenak mendengar pertanyaan tersebut seolah sedang mengingat-ingat sesuatu. Ataukah justru—
"Tadi aku lihat ia menuju loteng,"
Sedang mempertimbangkan untuk menyatakan kebohongannya atau tidak?
"Oke! Terimakasih ya!" ucap Sakura segera meninggalkan Neji yang justru terdiam sejenak. Tatapannya kosong seolah pikirannya sedang melayang walau raganya berada di sana.
"Ini agar Sakura menjadi milikku," seolah kalimat tersebut adalah mantra penguat batinnya, ia tersenyum.
Nee, nee, nee... Hyuuga Neji, apakah kau sudah sebuta itukah oleh cinta tanpa sadar apa yang baru saja kau lakukan?
Sementara di sudut lain tampat sesosok yang sedang memperhatikan mereka yang kini menjadi 'Neji' seorang. Sosok itu tersenyum sarkastik seraya mengangkat ponselnya setelah mengetikan beberapa angka. Setelah sambungan telepon tersambung, sosok itu hanya berucap, "lakukan nanti. Bersabarlah. Mulailah sekitar sejam lagi" lalu mematikan ponselnya.
Lagi, ia tersenyum penuh kemenangan namun tanpa ia sadari —
"Setelah ini, Sasuke pasti akan menjadi milikku."
—setetes air mata justru keluar dari manik kanannya.
.
Cinta adalah anugerah terindah dari Tuhan. Rasanya begitu manis dan melekat kuat dalam hati.
Tetapi, roda selalu berputar. Tidak selamanya cinta indah saat tertoreh istilah "cinta bertepuk sebelah tangan". Rasanya begitu perih menyiksa bagai belati menghujam tepat di hatimu.
Cinta dapat membuat seseorang menjadi baik—
—juga membuat seseorang buta dan kehilangan diri hingga menghalalkan segala cara. Lalu, apakah cinta patut disalahkan?
.
Sasuke mengerutkan alisnya. Sudah hampir satu jam sejak bel tanda pulang —dimana artinya latihan drama harusnya dimulai justru sosok berambut pink tidak muncul.
Aneh.
"Ahh! Kemana perginya Sakura? Kalau begini terus latihan tidak bisa dimulai," keluh salah seorang di ruang panggung tersebut.
"Atau hari ini kita libur saja? Tidak mungkin kita memulai latihan tanpa pemeran utamanya, 'kan?" ucap yang lainnya.
Ino hanya terdiam menanggapi setiap komentar bawahannya —tentu dibilang bawahan mengingat Inolah sutradara dalam drama kali ini. Wajahnya sangat datar dan serius seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Apa kalian mau membiarkan gadis sombong itu untuk bekerja sama dengan kalian?" Tiba-tiba suara itu terdengar dari bangku belakang penonton dekat pintu keluar. Sosok pemilik suara itu tersenyum sarkastik seolah meremehkan kepercayaan mereka terhadap sang pemeran utama.
"Bagaimana kalian bisa memberikan peran sepenting ini terhadap sosok yang tidak bertanggung jawab sepertinya? Baru satu hari latihan dan dipuji, ia langsung besar kepala membiarkan semua orang kebingungan mencari sosoknya," lanjut sosok berambutkan merah dan berkacamata itu.
Semua orang terdiam. Bahkan ada beberapa orang menunjukkan mimik setuju terhadap hipotesis gadis berambut merah itu.
Tentu saja, beberapa diantara mereka sesungguhnya tidak suka ketika mengetahui Sakura —yang notabene keluar dari klub pada tahun pertamanya langsung bisa mengambil peran besar tahunan ini. Mereka tahu Sakura memang sangat bertalenta, tapi mereka menganggap bahwa Sakura adalah sosok yang tidak bertanggung jawab —mengingat dulu ia juga pernah diminta mengikuti seleksi drama tahunan pada tahun pertamanya tapi ia justru mengajukan surat pengunduran dirinya dari klub tiba-tiba.
"Kalau aku, pasti aku tidak akan mengecewakan kalian. Dan lihatlah! Aku juga bisa berakting lebih baik dari dirinya," lanjut sosok tersebut menunjukkan senyum guna meyakinkan semua orang yang berada di lokasi.
"Namaku Karin. Margaku Hanamura. Tentu kalian mengenal keluargaku, 'kan? Berhentikanlah gadis yak bertanggung jawab itu. Ingatlah dulu ia juga kabur dari tanggung jawab ketika tahun pertamanya! Dan aku bahkan juga akan menanggung semua biaya makan siang kalian, karena itu biarkan aku—"
BRAKKK!
Suara Karinpun terpotong ketika mendengar gebrakan meja. Semua mata langsung menuju ke arah sosok yang baru saja menggebrak meja tak bersalah itu, menampikan sesosok gadis berambut pirang dengan wajah memerah karena menahan emosi sedari tadi.
"Kalian ini kenapa mendengarkan orang luar yang berusaha mengambil peran Sakura?!" ucap Ino —sosok berambut pirang dengan manik laut tersebut.
"Ta-tapi Ino, yang dikatakan perempuan ini tidak ada yang sa—"
"DIAM!"
Ucapan seorang kru itupun terpotong saat Ino berteriak penuh emosi.
"Apa yang ada di otak kalian hah?! Makan siang gratis?! Kalian semua ini sangat bodoh dengan sikap materialistis kalian! SADARLAH WANITA JALANG INI SEDANG MENCOBA MENCUCI OTAK KITA!"
Semua orangpun terdiam mendengar raungan Ino —tak terkecuali Karin dan Hinata yang berada di sebelah Ino. Hanya Sasuke yang masih bersikap tidak peduli di bangku penonton menanti kelanjutan dari suasana mencekam ini.
"Kalian berpikir apa? Membiarkan gadis —atau mungkin sudah menjadi wanita ini menempati tempat Sakura? Sadarlah yang ia inginkan hanya untuk mendekati Sasuke!" Lanjut Ino mulai menunjuk-nunjuk sosok Karin yang membatu.
"A-Apa maksudmu?"
"Jangan pikir aku tidak tahu pada drama tahun lalu kau berkata pada senior yang menawarimu peran kalau kau hanya mau mengambil peran kalau bersama dengan Sasuke, 'kan?"
Karin terkesiap. Ia tidak mampu menjawab ucapan Ino, seolah Ino baru saja mengeluarkan skak mat untuk Karin.
"Dan untuk nona manja kaya yang tidak menghargai perasaan orang lain serta semua orang yang ada di sini, aku tegaskan. Alasan Sakura keluar dari klub karena KALIAN! AKU TEKANKAN! K-A-L-I-A-N!"
Semua orang mulai saling menatap heran satu sama lain seolah tak mengerti dengan maksud ucapan Ino.
"Ino, tenanglah...," akhirnya Hinata pun berusaha ikut angkat bicara seraya menenangkan diri Ino yang sudah terbakar emosi.
Perlahan, Hinata mulai berjalan mendekati Ino yang sudah menggertakkan giginya kesal, mencoba meraih pundak Ino untuk sekedar mengelus memberikan semangat pada gadis ekor kuda tersebut.
Hinatapun mendudukkan Ino untuk menenangkan dirinya. Ia mulai menatap semua orang yang berada dalam situasi menegangkan ini —tak terkecuali Karin.
"Saat itu, Sakura memutuskan untuk mengundurkan diri dari klub karena merasa tertekan," Hinata memilih untuk memperjelas apa yang sudah diberitahukan oleh Ino agar tidak ada lagi kesalahpahaman.
"Saat itu, semua orang selalu menatapnya iri karena apa-apa selalu ia yang ditunjuk. Padahal ia cukup sadar diri bahwa ia masih berada pada tahun pertama. Baginya, daripada justru hobinya dalam berakting menumbuhkan musuh dalam hidupnya, lebih baik ia mengundurkan diri dan menyelami hobinya yang lain," terang Hinata mencoba menggali ingatan masa lalunya saat Sakura selalu ditatap iri penuh kebencian oleh para seniornya. Lebih baik menggali hobinya dalam menulis, 'kan?
Seketika suasana menjadi hening, bahkan Inopun hanya menundukkan kepalanya dan membenamkannya di tangan-tangannya.
"Aku harap kalian mengerti. Hari ini latihan aku bubarkan sampai minggu depan. Dan aku berani jamin Haruno Sakura akan ikut latihan sampai hari H. Percayalah, ia sahabatku dan aku tahu ia tidak mungkin lari dari tanggung jawab tanpa sebab. Jadi, cepat semuanya tinggalkan ruangan," Inopun kembali berucap dengan nada lirih. Dirinya begitu sesak mendapati sahabatnya justru dipandang rendah oleh wanita rendahan yang tak tahu apapun. Benci. Itulah yang ia rasakan.
Akhirnya semua orang berangsur-angsur meninggalkan tempat melewati Karin yang sudah membatu di depan pintu keluar.
Bibirnya menjadi bisu hanya untuk berucap sepatah kata. Ia pikir, ia baru saja bisa mendapatkan kebahagiaannya sendiri. Tapi justru orang lain kembali merenggutnya dan membuatnya merasa sesak.
Kenapa harus Sakura? Kenapa dirinya tak pernah mendapatkan teman dan orang yang mencintainya tulus seperti Sakura yang dicintai oleh dua pria tulus sekaligus —Sasuke dan Neji juga memiliki sahabat yang membelanya mati-matian —Ino dan Hinata?
Apa yang salah?
Ia mengangkat kepalanya ketika dirasanya sepasang sepatu familiar jatuh tepat dipandangannya.
Sepatu Sasuke.
Perlahan ia menaikkan kepalanya untuk menatap sosok yang sudah menarik perhatiannya sejak setahun yang lalu.
Ia tersenyum, akhirnya Sasuke menatapnya seorang.
Tapi tunggu! Tatapan itu justru membuatnya tambah sesak.
Tatapan kebencian yang mendalam.
"Kau selalu saja mengusik hidupku," bisik Sasuke tepat di telinga Karin saat ia melewati Karin.
BRUKK!
Kaki Karin pun melemas, ia jatuh terduduk dalam suasana sunyi yang menemani.
Semakin lama, matanya makin memanas, membuat beberapa tetes air mata justru tumpah dari manik redupnya.
"Kau tahu, apa yang kau lakukan itu salah, 'kan?" tiba tiba sebuah suara tak asing terdengar di indera pendengaran Karin, membuatnya mendongak menatap pemilik suara dengan tatapan kosong dan mengucap nama pemilik suara itu, "Konan."
"Karin, kenapa kau masih tetap bersikap seperti ini?" tanya Konan selaku teman sekelasnya sejak masih di bangku TK.
"Kau tak mengerti, Konan! Orang yang selalu dikelilingi kasih sayang dan teman macam kau tak akan mengerti!" balas Karin dengan nada sarkastik dan parau. Tangisnya semakin pecah. Baginya, tak ada yang pernah mengerti dirinya. Semua orang di sekitarnya sangat egois bahkan hanya untuk melirik kesedihannya.
"Tidak Karin... Kaulah yang membuat dirimu sendirian," balas Konan tersenyum tulus. Diulurkannya tangan putihnya itu guna membantu Karin untuk berdiri.
Karin hanya menatap tangan itu dengan tatapan bingung.
"Aku tahu kau, Karin. Ingatlah bahwa kita sudah berteman sejak masih TK," ucap Konan —lagi dengan tersenyum.
Karin justru semakin menyunggingkan senyum sarkastiknya ketika mendengar kata 'teman' dari bibir Konan.
"Teman kau bilang? Kalau kau memang teman yang baik seharusnya kau bisa membelaku seperti Ino yang membela Sakura tadi," jawab Karin.
"Karin, ini tidak seperti yang ka—"
"DIAM!"
Konanpun terdiam. Dirinya bukan tidak tahu bagaimana perasaan Karin saat itu.
Ia tahu, Karin sebenarnya bukanlah orang yang jahat. Hanya saja keadaan dan tuntutan keegoisannyalah yang membuatnya terlihat jahat.
Di dunia ini tidak ada orang yang jahat tanpa sebab, 'kan?
"Kau dan yang lainnya tak mengerti! Tak pernah mengerti! Apa kau pikir menyenangkan memiliki teman yang hanya ingin berteman denganmu karena harta?! Apa kau kira menyenangkan bersikap menyebalkan untuk meraih keinginanmu?! AKU BENCI KALI—"
PLAKK!
Mata Karin membelalak, sungguh ini pertama kalinya ada yang berani menamparnya seperti ini.
"Kau sendiri yang merusak kebahagiaanmu Karin. Aku tidak menyalahkan sikapmu karena sekitarmulah yang membentuk kau seperti ini. Tapi sampai kapan kau melakukan hal buruk untuk meraih kebahagiaanmu sendiri? Sampai kapan kau tidak ingin bersikap tulus?!"
Sungguh, Karin tak percaya dengan apa yang didengarnya. Setiap perubahan nada dan lantunan kalimat Konan membuat hatinya terus memerih dan membuat tamparan tersendiri di relung hatinya.
Ia tahu ia salah, tapi dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Hey, apakah guratan takdir begitu kejam hingga ia tidak dibiarkan menjadi si baik yang berbahagia—
—ataukah justru dirinya sendiri yang membuat ia menjadi si menyedihkan yang malang?
.
Uchiha Sasuke baru saja meninggalkan ruangan teater yang baginya sangat memuakkan ketika ada sosok Karin tersebut. Ia merasa ada yang janggal dan aneh. Sakura tidak mungkin pergi tanpa alasan, 'kan? Apa lagi sekarang suasana sekolah sudah sangat sepi. Apa mungkin Sakura sudah pulang?
Di rogohnya saku celananya mencari ponsel berwarna senada dengan rambut emonya, dengan gesit tangannya mencari kontak Sakura dan menekan tombol call.
Tidak ada salahnya untuk memastikan keadaan, 'kan? Apalagi tidak dapat dipungkiri bahwa hatinya dipenuhi perasaan cemas dan firasat buruk.
"Moshi-moshi, Sasuke?" jawab sebuah suara menggantikan nada sambungan telepon Sasuke.
"Kau di mana saja? Tidak latihan?" balas Sasuke to the point.
"Hah? Apa maksudmu? bukannya kamu yang mengajakku bertemu di sini? Kau itu lama se—"
Kresek kresek!
Ummhh!
"Sakura, Sakura? Kau masih di sana?" ucap Sasuke dengan nada cemas saat sadar ucapan Sakura terputus dan menimbulkan suara seperti ponsel yang baru saja terjatuh.
"Sa... To—long, tuuttttt,"
Setelah ucapan yang tidak jelas itu terdengar, sambungan teleponpun terputus. Sasuke mulai panik mengingat Sakura yang berkata bahwa ia mengajak Sakura bertemu. Tapi bertemu di mana? Kapan ia mengajak Sakura bertemu? Sebenarnya, apa yang sedang terjadi?
.
"Ka-Karin... Jangan katakan bahwa—" ucapan Konan menggantung. Sungguh, ia tidak sanggup menyatakan pendapatnya pada kemungkinan terburuk sejak Karin menyatakan kebenarannya. Semua kebenaran tentang semua tingkahnya yang membuat Sasuke dan Sakura tidak pernah bisa menjadi sepasang kekasih.
Karin hanya mengangguk lemah dan terdiam. Wajahnya sangat memelas menunjukan rundungan sesal yang sedang menguasainya sejak dirinya mendapatkan ceramah habis-habisan.
Konan tak mau ambil pusing, dengan cepat ia langsung meninggalkan tempat itu guna mencari Sakura dan menyelamatkannya. Tetapi ia tidak sadar bahwa—
"Lagi-lagi aku salah dan sendirian. Hiks..."
—Karin mulai menangis kembali dalam kesendirian.
.
"Ne-Neji," ucap Sakura lirih penuh rasa tak percaya.
Tadi —saat ia sedang mengangkat telepon dari Sasuke, tiba-tiba tubuh dan mulutnya disekap. Membuat dirinya tanpa sadar meneriakan bantuan kepada Sasuke karena ia tidak sadar siapa yang sedang menyekapnya. Tapi siapa sangka justru manik hijaunya memantulkan sosok yang sangat dikenalnya —Neji Hyuuga?
Saat ini, Neji sedang menindih Sakura dan menatapnya dengan tatapan kelut yang kosong. Tatapan penuh amarah terpendam dan Sakura bisa melihat jelas bahwa—
"Kau akan jadi milikku, Sakura,"
—Mata Neji Hyuuga justru berkaca seolah menahan air matanya.
To Be Continue
Terimakasih karena sudah mau menunggu fic ini :D
Maaf tidak bisa bales review satu satu karena ini make laptop temenku XD
Special Thanks for:
Farberawz, Kumada Chiyu, Andrea brittania fleischer, Lhylia Kiryu, G Nara, azarien27, Hikari Sakura, Reako Mizuumi, CN Bluetory, NE, Love Foam, Uchiha Shesura-chan, Pink Kyukyu, Hatake Ridafi kun
Dan para silent rider :D
Ngomong-ngomong, add fb baruku ya! XD di Kiyuchire Tsukiyoshi
Aku menerima segala bentuk concrit begitu juga flame selama itu meningkatkan mutuku. apabila ada kesalahan pengetikan atau kesalahan penafsiran (aku sering begitu, sering salah warna gitu seperti Sakura tiba-tiba matanya sapphire -.-) katakanlah! Akan langsung aku perbaiki :D
Tinggalkan jejak bahwa kalian mau membantu mengembangkan penulisanku. (review gitu XD)
