XYOU

Sesuai janji mereka, hari ini Jeen dan Kaneki bertemu di toko buku.

Jeen berlari kencang menuju Kaneki yang duduk di tangga depan toko buku.

"Kaneki-san! Maaf aku terlambat." Kata Jeen dengan nafas tersegal-segal.

Kaneki segera bangkit berdiri. "Tidak apa-apa, aku juga baru datang kok." Katanya. Sepenuhnya berbohong! Sebenarnya Kaneki sudah menunggu di sana selama dua jam, tapi itu tidak penting karena dia benar-benar senang bisa bertemu dengan Jeen lagi.

Jeen menyipitkan matanya dan pura-pura menembak Kaneki dengan tangannya yang dibentuk seperti pistol. "Jadi seandainya aku tepat waktu, Kaneki-san yang membuatku menunggu selama dua jam."

"E-" Kaneki hanya tersenyum canggung, bingung harus merespon bagaimana.

Satu fakta yang sejauh ini Kaneki tahu tentang seorang Jeen Ohara: Jeen orangnya humoris. Kaneki sedikit tidak menyangka gadis secantik Jeen bisa bercanda dan bertingkah konyol dengan lepasnya. Yang mana mengingatkannya pada Hide.

Jeen tiba-tiba membungkuk, membuat Kaneki terheran. "Kaneki-san aku sangat sangat sangat menghargai bantuan ini, terima kasih banyak."

"T-Tidak perlu berlebihan begitu, ini bukan apa-apa."

Kaneki sangat berharap Jeen berhenti untuk 'berterima kasih' karena itu selalu membuat tubuhnya serasa akan meledak dan hancur berkeping-keping.

Mereka duduk di meja paling pojok di dalam toko buku. Kaneki memberikan tugas lamanya yang bernilai A+ pada Jeen.

Jeen mendengarkan dengan serius saat Kaneki menjelaskan. Penjelasan Kaneki sangat mudah dimengerti. Jeen senang memiliki Kaneki sebagai gurunya. Kalau les saja belum tentu begini, pikir Jeen.

"Kaneki-san, bisa tolong jelaskan ini?" Jeen mencondongkan tubuhnya ke arah Kaneki dan menunjuk bagian karakteristik tokoh dalam kertas.

Kaneki menelan ludah saat dada Jeen yang duduk di sampingnya tak sengaja menempel dengan lengan kirinya.

Setelah selesai dengan tugas Jeen dan Kaneki pindah ke food court atas untuk makan.

Kaneki memesan steak sapi dan segelas air putih. Sementara Jeen memesan ramen porsi besar, onigiri, burger, ayam teriyaki serta tiga gelas milkshake beda rasa.

"Jeen-san maaf kalau pertanyaanku menyinggungmu, tapi, apa posri makanmu selalu seperti ini?" Tanya Kaneki.

Jeen yang sedang mengunyah menjawab dengan sebuah senyuman.

Dia gadis yang istimewa, Kaneki tersenyum balik, lalu mulai memakan steak sapinya.


Kaneki sangat tidak enak karena Jeen mengtraktirnya makan.

"Jeen-san kau harusnya tidak membayar makananku juga." Kata Kaneki untuk kesekian kalinya.

"E-" Jeen tidak nyaman dengan situasi ini. "Tolong jangan membahas itu lagi Kaneki-san. Lagipula ini juga karenamu ayah memberiku uang jalan yang besar."

Kau tidak mengerti Jeen. Menggunakan uang gadis yang kau sukai mengikis harga diri seorang laki-laki. "Tapi..."

Mengetahui Kaneki akan tetap bersikeras untuk mengganti uangnya Jeen dengan cepat memotong. "...Tapi Kaneki-san bisa membayar balik dengan mengantarku pulang, bagaimana?"

Kaneki membeku sesaat karena senyuman Jeen yang mendamaikan.

Jeen tinggal sepuluh blok dari toko buku dan lima blok dari kafe Anteiku. Kaneki mengantarnya pulang. Gemerlap lampu-lampuu malam Tokyo yang cantik menemani mereka sepanjang perjalanan.

"Um, Jeen-san, apa maksudmu dengan karena aku ayahmu memberimu uang jalan yang besar?" Kaneki bertanya saat mereka menyebrangi jalan.

Jeen tersenyum sendu. "Ayah.. Dia benar benar senang ketika aku mengatakan aku keluar untuk belajar bersama seorang teman."

Raut wajah dan nada sedih Jeen memberitahu Kaneki dengan jelas ada cerita panjang dibalik ucapan Jeen. "Apa ini adalah kali pertama kau pergi berlajar bersama?"

Jeen segera menoleh untuk melirik tajam Kaneki. "Kejam. Aku tidak semalas itu, Kaneki-san." Katanya pura-pura marah.

"Ma-Maaf." kata Kaneki sungguh-sungguh, mengira Jeen benar-benar marah.

Jeen menyeringai kecil, Kaneki orang yang sangat mudah dikelabui. "Lebih tepatnya ini adalah kali pertama aku memiliki seseorang untuk menemaniku berlajar."

Kaneki tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Tidak hanya Kaneki, tentu semua orang pasti berpikir seorang gadis seperti Jeen tidak mungkin tidak memiliki banyak teman.

"Aku tidak memiliki teman," Jeen menundukan kepalanya. "Gadis-gadis di sekolah membenciku karena mereka menganggapku sebagai tukang rebut pacar dan selalu mencari perhatian anak laki-laki. Anak laki-laki membenciku karena aku selalu mengatakan tidak pada ajakan dan permintaan mereka."

Kaneki meletakan tangan kirinya di bahu Jeen. "Maaf kau harus melalui semua itu."

Jeen mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Kaneki. Gadis itu tersandung batu kecil trotoar karena tidak memperhatikan jalan dan hampir jatuh, untung saja Kaneki sigap menangkap tubuh mungilnya.

"Hati-hati Jeen-san!"

Jeen tertawa kecil sambil memperbaiki posisi berdirinya. "Ah- ini sangat memalukan."


"Terima kasih untuk hari ini." Kata Jeen dengan tubuh setengah membungkuk setibanya di halaman rumahnya.

Kaneki membungkukan tubuhnya dan membalas. "Tidak, aku yang terima kasih. Hari ini sangat menyenangkan."

"Kaneki-san..."

"Y-ya?"

"Aku benar-benar bersyukur kau mendatangi mejaku." Jeen tersenyum. Ia mengambil selangkah maju dan berjinjit kecil untuk mengecup pipi kanan Kaneki.

Waktu seolah berhenti bagi Kaneki. Ia tidak bisa mendengar apapun kecuali suara detak jantungnya.

DEG!

DEG!

DEG!

"Aku harus masuk sekarang." Kata Jeen.

Kaneki tidak memberikan respon karena masih mematung.

Jeen berbalik dan berjalan meninggalkan Kaneki menuju pintu masuk rumahnya. Sesampainya di depan pintu Jeen kembali membalik tubuhnya, ia melambai pada Kaneki dan sebelum masuk rumah dengan riang berkata: "Kaneki-kun hati-hati di jalan, sampai ketemu lagi!"

Dengan senyum lebar Kaneki berlari pulang. Ia tidak bisa menggambarkan kebahagiaannya dengan kata-kata, yang pasti dia akan selalu mengingat hari ini.

Aku mencintaimu.. Jeen Ohara.


Shou menyandarkan bahunya pada pinggiran pintu dan bertanya santai pada putri semata wayangnya. "Bagaimana belajar bersamanya?"

Jeen yang sedang mengganti sprei tempat tidur menoleh ke arah suara. Tiba-tiba gadis itu teringat pada salah satu kenangan buruknya di sekolah ketika dia jatuh di lapangan dan tidak ada yang menolongnya. "Rasanya melegakan memiliki seseorang yang menangkapmu saat kau terjatuh." Katanya, lalu berbagi senyum dengan ayahnya.

Malam ini langit dipenuhi bintang dan bulan bersinar sangat terang.