A/N: Selamat membaca chapter empat yang sudah saya upgrade juga! Enjoy reading it guys! *Hai = Baik/Iya, dalam bahasa Indonesia*


-69-

The Truth Behind the Mask

.

.

Presents by

Hiname Titania

Pairings

SasuHina, SasoHina

Warnings

AU, OOC, typos, mature contents, etc.

The story is based from my imagination

Don't Like Don't Read

Disclaimer

Naruto always belongs to Masashi Kishimoto.

.

.

Chapter 4

Two Choices

.

-69-


Sudah lima minggu semenjak penyamarannya di ketahui oleh Sasuke. Selama lima minggu itu pula kehidupannya seperti berada di neraka. Hinata diperlakukan bukan seperti pacarnya melainkan seperti pembantunya. Dia harus melakukan semua yang di perintahkannya, termasuk mencuci pakaiannya, menyetrika pakaiannya, memasak makanan kesukaannya, membersihkan rumahnya, dan harus tinggal di rumahnya! Mungkin dalam pikiran seorang Uchiha Sasuke, pacar sama dengan pembantu kali ya?

"Hinata-chan kemarilah!" perintah Sasuke dengan santai sambil meniup kopi pahit—yang tentu saja buatan Hinata.

Hinata masih belum terbiasa dengan panggilan chan yang Sasuke berikan kepadanya. Hal itu membuatnya merasa mual dan ingin muntah ke wajahnya yang sok itu.

'Kali ini apa yang 'Si Ayam' ingin aku lakukan,' pikirnya kesal.

"Hai, Uchiha-sama."

Selain dia mendapat panggilan chan, Hinata juga harus memanggil Si Ayam dengan sebutan Uchiha-sama dan setiap dia berada di rumah Sasuke dia harus mengenakan seragam maid! Bayangkan betapa harga dirinya terlukai karena hal tersebut. Dia, Hyuuga Hinata seorang wanita dengan harga diri tinggi di perintah menggunakan seragam maid, hal itu sama seperti penghinaan besar baginya. Kalau saja bukan untuk menjaga rahasianya agar tetap aman, dia tidak akan sudi melakukan semua itu. Namun, Hinata harus bersyukur karena ketika dia berada di Universitas Konoha, kehidupannya tidak pernah di ganggu oleh Si Ayam, dia tidak pernah mengganggunya dan penyamarannya pun masih aman.

Akan tetapi, sikap menyebalkan Sasuke selalu muncul ketika dia ada di rumahnya. Dia selalu memerintahnya baik itu dalam hal yang mudah sampai yang sulit sekali pun.

"Hinata-chan, siapkan air hangat untukku. Aku ingin mandi."

"Hai."

"Hinata-chan buatkan aku kopi hitam tanpa gula."

"Hai."

"Hinata-chan belikan aku keripik dan beberapa soda."

"Hai."

"Hinata-chan buatkan aku nasi goreng."

"Hai."

"Hinata-chan jangan lupa membereskan tempat tidurku.'

"Hai."

"Hinata-chan cepat siapkan makanan untuk tamuku.'

"Hai."

"Hinata-chan jangan hanya duduk santai, cepat bekerja!"

"Hai."

Dan teruslah seperti itu kehidupan Hyuuga Hinata yang malang.

-69-


Seperti biasa setiap malam minggu Hinata selalu berkumpul bersama teman-temannya. Untung saja setiap malam minggu, Sasuke tak pernah ada di rumahnya sehingga Hinata bisa berkumpul dengan teman-temannya dengan bebas.

"Yo Hinata, kemana saja kau? Akhir-akhir ini aku jarang melihatmu," tanya Deidara yang saat itu setengah mabuk.

Hinata tak menanggapinya dan memainkan gelas yang sedang digenggamnya.

"Hinata kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" ujar Deidara kesal, dia menipiskan jarak duduk antara mereka berdua.

"Jangan ganggu aku Deidara," tutur Hinata tegas.

"Sudahlah Deidara jangan mengganggu Hinata-chan, akhir-akhir ini dia memang sedang sibuk," timpal Konan, dia sengaja memanggilnya dengan akhiran –chan untuk membuatnya kesal karena dia mengetahui Sasuke selalu memanggilnya seperti itu. Deidara menggerutu pelan lalu pergi meninggalkan kedua gadis tersebut.

"Hinata, bagaimana kabar Si Ayam ?" tanya Konan masih ingin menggodanya, dia tahu betul Hinata sangat tidak suka dengan topik yang berhubungan dengan Si Ayam.

"Aku tidak peduli. Jangan membicarakan orang itu di depanku, Konan," balasnya sinis.

"Kau menyukainya, ya?" goda Konan lagi, dia memang senang menggoda gadis yang sudah di anggapnya seperti adiknya sendiri itu.

"Demi Tuhan, Konan! Jangan membicarakan orang itu lagi dan tidak, aku sangat membencinya," tutur Hinata penuh penekanan di setiap kata-katanya itu.

Konan tertawa kecil melihat ekspresi marah sahabatnya itu. "Baiklah… baiklah, maafkan aku," tapi Konan sepertinya masih ingin menggoda sahabatnya itu lagi. "Kau tau Hinata, benci dan cinta itu beda tipis."

Hinata menatap tajam sahabatnya itu. "Sudahlah Konan, berhenti menggodaku! Aku sama sekali tidak menyukainya. Se-di-kit-pun."

"Hmm…" Konan memandang Hinata tak percaya. "Suka juga tak apa-apa kok Hinata-chan," godanya lagi sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Hinata.

Hinata hendak memberikan pukulan kecil pada sahabatnya yang terus menggodanya itu, tapi sayangnya calon korban sudah terlebih dahulu menyelamatkan diri dengan mengumpat di balik pelukan kekasihnya yang baru saja tiba di bar. "Hari ini kau lolos Konan," umpatnya sebal.

"Kau sedang menyukai seseorang, ya?"

Hinata langsung mempusatkan perhatiannya ke arah sumber suara di belakangnya itu. Rasanya sudah lama sekali dia tidak mendengar suara yang selalu menghangatkan hatinya itu. Siapa lagi kalau bukan suara Sasori.

Betapa dia sangat merindukannya.

"Itu urusanku, kau tak perlu mengetahuinya." Kembali Hinata menutupi perasaannya pada Sasori dengan perkataannya yang terkesan dingin.

"Hmm begitu ya," Sasori hanya tersenyum kecil dan memperhatikannya cukup lama.

Merasa kikuk karena di perhatikan Sasori, dia pun memulai pembicaran berharap mengurangi rasa gugup di hatinya. "Sasori, kemana cewek-cewekmu itu? Tumben kau sendirian."

Biasanya Sasori memang selalu bersama wanita-wanita di sampingnya, jarang sekali dia terlihat sendirian seperti sekarang.

"Itu urusanku, kau tak perlu mengetahuinya," Sasori tersenyum menggoda kepadanya, dia sengaja meniru ucapannya yang tadi.

"Baiklah, terserah kau sajalah." Hinata merasa sangat malu sekaligus dongkol, dia pun memilih menghindar dari Sasori dengan bangkit berdiri dari posisi duduknya, tetapi sayangnya tangan Sasori mencegahnya dan memaksanya untuk duduk kembali.

"Jangan marah…" bisiknya lembut. "Aku senang kau memperhatikanku," ucapnya sambil membelai pipi Hinata.

Hinata segera menepis tangan Sasori yang membelai pipinya. "Aku tidak memperhatikanmu dan jangan menyentuhku!" Matanya menatap tajam Sasori. "Cari saja wanita lain sana, aku bukan mainanmu!"

Sasori hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Hinata, matanya memandangnya lurus. "Kau tau Hinata, aku tak pernah berniat menjadikanmu mainanku. Kau terlalu berharga."

Sontak kedua bola mata Hinata membulat bersamaan dengan kedua pipinya yang memanas. "J-Jangan me-merayuku!" Dia segera menundukan kepalanya berharap Sasori tidak melihat rona merah di pipinya.

Sasori mengangkat dagu Hinata, memperlihatkan wajahnya yang masih memerah. "Dengar, aku tidak merayumu itu kenyataannya, Hime."

Sasori menatap mata Hinata dengan sangat dalam membuatnya terhanyut ke dalam tatapan mata hazel—nya itu. Tanpa disadarinya, dia telah menutup kedua bola matanya dan merasakan setiap hembusan nafas Sasori yang semakin lama semakin mendekatinya.

"Hinata?"

To be continued

Hehe bercanda kok.. pisssss (^_^)v *ditendang readers*

Panggilan itu berhasil mengagetkan kedua insan tersebut. Hinata langsung membuka kedua matanya, karena panik dia segera mendorong tubuh Sasori agar menjauh darinya.

"S-Sasuke? A-Apa yang sedang kau lakukan d-di sini?" tanya Hinata kaget dan panik melihat Sasuke berada di bar yang sama dengannya, wajahnya masih memerah karena kejadian beberapa detik sebelumnya.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Bukankah aku yang seharusnya bertanya. Aku kira kau sedang berada di rumahku."

"A-Ano ..." Hinata tidak tau harus berbicara apa. Kalau sampai Sasuke marah padanya bisa-bisa dia membongkar rahasianya keesokan harinya. Hinata harus berhati-hati dengan Sasuke .

"Siapa dia, Hinata?" tanya Sasori, dia menatap sebal pria yang telah mengganggu acaranya itu.

Hinata seperti baru teringat akan kehadiran Sasori segera memandangnya, wajahnya kembali memerah ketika bertemu pandang dengan Sasori. "Um Sasori, dia-dia ..." Dia bingung harus mengatakan apa padanya, dia takut salah ucap.

"Aku pacarnya," ujar Sasuke tenang.

Kedua mata Sasori membesar tidak percaya akan pendengarannya.

Hinata menundukan wajahnya menahan amarah karena Sasuke dengan seenaknya mengatakan hal itu pada Sasori. Dia ingin menyangkall pernyataan Sasuke itu, tetapi kenyataannya memang demikian. Sekarang, Hinata merasa terjebak dengan situasinya sendiri, hatinya ingin menyangkal, tapi tidak bisa. Alhasil dia memilih diam, tidak menyangkal atau pun mengiyakan pernyataannnya tersebut.

"Ayo kita pulang Hinata," ucap Sasuke. Dia lalu menarik Hinata pergi dari bar dan juga dari Sasori. Hinata tak berani melihat ke belakang. Rasanya dia ingin menangis karena ketidakberdayaannya itu, hatinya sangat ingin berlari pada Sasori dan menjelaskan semuanya pada Sasori, dia tidak ingin Sasori salah paham.

Tetapi, mau tidak mau dia harus mengorbankan salah satunya, keamanan rahasianya atau Sasori.

'Bagaimana pun juga aku tidak bisa menjadi egois.' Kedua matanya berair. 'Sasori…'

Sasuke memandang Hinata yang berjalan tertunduk di sampingnya. Dia yakin, Hinata menyukai lelaki yang di temuinya tadi. Senyuman licik merekah di bibirnya, sekarang dia mempunyai ide yang lebih menarik untuk membuat hidup Hyuuga Hinata lebih menderita.

Sasori menatap tajam punggung Sasuke, kedua tangannya terkepal erat. Kemarahan terlukis sangat jelas dari wajahnya.

-69-


Sinar matahari menembus jendela kamar Hinata, menyinarinya dan membangunkannya dari tidur lelapnya. Dengan malas-malasan dia membuka kedua matanya. Kemudian, matanya memandang jam yang menempel di depan tempat tidurnya. Waktu menunjukan pukul tujuh pagi.

'Masih pagi,' pikirnya .

Hinata akan melanjutkan tidurnya andai saja dia tidak mendengar suara getaran dari dalam tasnya yang tersimpan di meja etalase samping tempat tidurnya. Dia segera bangkit dari posisi tidurnya dan segera mengambil tasnya itu. Setelah di bukanya tasnya itu, dia segera menarik keluar handphone-nya yang masih bergetar. Setelah melihat ID penelpon, dia pun segera menjawabnya.

"Halo Kon—?"

"Hinata! Kau baik-baik saja?" potong Konan cepat, dia terdengar panik.

"Hah?" Hinata yang pada dasarnya baru bangun dari tidurnya, tidak mengerti dengan kepanikan sahabatnya itu.

"Hinata? Kau baik-baik saja, kan?" tanya Konan sekali lagi.

"Iya, aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir."

"Syukurlah..." Hinata bisa mendengar helaan nafas lega Konan di balik telpon.

"Kau tidak tau betapa khawatirnya aku, mengetahui kau tiba-tiba menghilang dari bar. Aku sangat cemas. Aku berulang kali menelponmu tapi kau tak mengangkat telponnya. Aku juga mengirimimu e-mail tapi tak ada satupun yang kau balas. Sebenarnya kau kemana sih?" Sekarang suara Konan terdengar marah.

Hatinya diliputi rasa bersalah karena telah membuat sahabatnya itu khawatir. "Maafkan aku Konan, tapi tadi malam Si Ayam tiba-tiba muncul dan menyeretku pergi. Aku jadi tak sempat memberitahumu dan aku langsung tidur sesampai di rumahnya."

Ya, tadi malam setelah dia sampai di Rumah Sasuke dia segera pergi tidur. Tubuhnya sangat kelelahan dan juga otaknya lelah terus-terusan berpikir tentang nasibnya, Sasori, Sasuke, dan penyamarannya. Selain itu, handphone-nya dia mode vibrate.

"Oh, jadi ini ulah Si Ayam. Lain kali aku harus memukulnya," ucap Konan geram.

Hinata tersenyum mendengar ucapan Konan. "Kau memang harus memukulnya."

"Kau tau Hinata, tadi malam ada yang tidak beres dengan Sasori," ucap Konan mengganti topik pembicaraan.

"Apa? Apa yang terjadi padanya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Hinata khawatir.

"Hei girl, calm down... ya dia baik-baik saja, tapi kemarin dia sangat mabuk. Yahiko saja sampai kena pukul! Dia marah-marah tak jelas, kira-kira ada apa dengannya ya?"

Hinata terdiam mendengarkan cerita Konan. 'Apakah ini gara-gara kemarin aku meninggalkannya begitu saja?'

"Hmm entahlah Konan, aku tidak tau..." Dia memilih tak menceritakan kejadian tadi malam terhadap Konan.

"Baiklah kalau begitu. Aku sudah mengetahui keadaanmu sekarang, kalau begitu aku tutup dulu telponnya , nanti malam ku telpon lagi. Bye Hinata!"

"Ya, bye Konan." Setelah menutup telponnya, pikiran Hinata kembali mengkhawatirkan keadaan Sasori.

Selama mengenal Sasori, Hinata belum pernah mendengar Sasori semabuk itu sampai-sampai memukul temannya sendiri. 'Sasori, ada apa dengannya?'

Rasa kantuknya sudah hilang, dia tidak jadi meneruskan tidurnya. Hinata segera bangkit dari tempat tidurnya lalu menuju kamar mandi menggosok giginya dan membilas wajahnya. Setelah selesai dengan rutinitas pokoknya setelah bangun itu, dia mengikat rambutnya asal dan segera menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk tuannya, Sasuke.

Ketika Hinata menuju dapur dia sempat kaget melihat Sasuke telah berada di dapur. Biasanya jam segini Sasuke masih berada di kamarnya. Wajahnya tak terlihat karena dia memunggungi Hinata menatap halaman luarnya di balik jendela geser dapurnya.

"Kau sudah bangun rupanya." Sasuke membalikkan tubuhnya mengahadapi Hinata tangannya memegang secangkir kopi.

"Hai, Uchiha-sama."

"Hinata, mulai sekarang kau tak usah memanggilku Uchiha-sama lagi," tuturnya sambil menyimpan gelas yang tadi dipegangnya di atas meja makan di sampingnya.

"Hah? Jadi aku harus memanggilmu apa?" tanya Hinata heran.

"Sasuke-kun."

Hinata bergidik ngeri mendengar permintaan Sasuke itu, dia lebih baik memanggilnya Uchiha-sama dibandingkan dengan menyebutnya Sasuke-kun seumur hidupnya dia belum pernah memanggil seseorang dengan embel-embel –kun ,kecuali kalau Sasori yang memintanya Hinata akan dengan senang hati menurutinya.

Dengan terpaksa Hinata menganggukan kepalanya.

"Bagus. Mulai sekarang juga kau tak perlu mengerjakan pekerjaan rumah lagi," lanjutnya.

Hinata tersenyum senang mendengarnya, jarang-jarang Sasuke mengatakan sesuatu yang baik padanya. Akhirnya, dia bisa terbebas dari semua penderitaannya.

"Dan mulai sekarang, kau harus bertingkah layaknya seorang pacar dan kau tak boleh menolak jika aku memperlakukanmu seperti pacarku," ujar Sasuke tegas.

"A-Apa?! maksudmu aku tak boleh menolak jika kau memelukku, menciumku, dan hal lainnya yang biasa dilakukan pasangan kekasih ?" Hinata menyesal telah memuji Sasuke, di lihat dari manapun Sasuke memang menyebalkan dan mesum.

Sasuke mengangguk dan menyilangkan kedua tangannya. "Kenapa? kau keberatan?"

"Tentu saja aku keberatan! Aku menolaknya!" ujar Hinata sengit, menatap tajam mata Sasuke.

"Jadi kau lebih senang aku membongkar rahasiamu, Hinata-chan?" ujar Sasuke nadanya serius dan berbahaya.

Hinata terdiam cukup lama, matanya menatap tajam Sasuke. Sasuke menatapnya tak kalah tajam matanya menunjukan keseriusannya dan tak berniat untuk bernegosiasi dengannya.

"Tch, kau memang sangat menyebalkan Sasuke. Aku sangat membencimu," bisik Hinata geram.

"Aku tak peduli. Jadi, kau setuju atau tidak?"

"Memangnya aku punya pilihan lain selain setuju," sindir Hinata kesal, dia sangat ingin memukul wajah Sasuke dan dia juga sangat membenci akan ketidakberdayaanya untuk menolak permintaan Sasuke tersebut.

Sasuke menyeringai. "Anak pintar, jadi apa yang akan kita lakukan sekarang sebagai pasangan kekasih?" tanya Sasuke sambil berjalan mendekati Hinata. Matanya tak pernah lepas dari mata Hinata. Hal itu membuatnya memasang sikap siaga. Ada sesuatu yang sangat tidak di sukainya dari seringaian Sasuke itu.

"Mau apa kau? Jangan mendekatiku!" Hinata berjalan mundur berusaha menjauh dari Sasuke, tapi Sasuke tak menghiraukannya, dia terus berjalan dan menyudutkan Hinata yang tak bisa memundurkan kakinya lagi karena terhalang oleh tembok di belakangnya.

Setelah mereka saling berhadapan, Sasuke meletakkan kedua tangannya di tembok tepat di sisi wajahnya, menerangkapnya di penjara buatan tubuhnya.

"Aku mau menciummu," bisik Sasuke di telinganya.

Hinata segera memalingkan wajahnya ke sebelah kanan, tangannya menahan tubuh Sasuke agar tidak semakin mendekat. " Tidak boleh!"

"Kenapa? Bukankah kita sudah pernah melakukannya?" godanya, dia sengaja menyentuhkan bibirnya pada telinganya ketika berbicara.

Hinata bisa merasakan hembusan nafas dan juga sentuhan-sentuhan bibir Sasuke yang menggelitik daerah telinganya. Dia sangat tidak menyukai posisi terjebaknya saat ini.

"Pokoknya tidak boleh, ya tidak boleh! Kau memang pria mesum Sasuke!" hajatnya berusaha menyingkirkan perasaan panas yang menjalar darii tubuhnya.

Sasuke mengabaikannya, lalu dengan cepat dia menarik kedua tangan Hinata ke atas kepalanya, dan tangannya yang lain menarik paksa wajah Hinata agar menghadap padanya. Sebelum Hinata kembali mengeluarkan protesannya, Sasuke sudah terlebih dahulu mengunci bibir Hinata dengan bibirnya.

Sasuke lalu mulai memperdalam ciumannya itu. Mulut Hinata yang sedikit terbuka memberikan Sasuke kesempatan untuk memasukan lidahnya ke dalam mulutnya. Hinata mengerang pelan, Sasuke tersenyum puas. Dia berniat membuat gadis yang sedang di ciumnya saat ini ketagihan dengan ciumannya. Dengan piawai Sasuke telah memberikan ciuman yang sangat sensual bagi Hinata. Ciuman sensual yang pertama kali di rasakan seorang Hyuuga Hinata.

'Kami-sama tolong aku.'

.

.

To be continued...

-69-


A/N: Gimana readers? Hahaha… saya emang suka evil Sasuke makannya saya demen banget sama Sasuke yang ada di animanganya. Oh ya buat para fans Hinata, Hinata ga akan saya buat terlalu menderita kok ;)

Beritahu saya semua apa yang ada di pikiran kalian tentang chapter ini keluarin semuanya tanpa ada sisa oke, berikan saya saran-saran agar saya menjadi author yang lebih baik lagi dan tentunya bisa memberikan cerita-cerita yang lebih baik dan lebih menghibur untuk para dear readers.

SPECIAL THANKS TO:

Mizuki Kana, anon, Aiwha,Moku-chan, Yukio Hisa, RK-Hime, sasuhina-caem, Hizuka Miyuki, sasuhinashy, Hanyou Dark, Zae-Hime, Evil, n, Lollytha-chan, Animea Lover Ya-ha, hanazono suzumiya.

Thanks guys for your support, karena kalian saya semangat menulis fic ini love u all :3

Edited: 24.06.2014