Disclaimer :
Cerita in hanya fiktif belaka karena memang cerita dan kejadian hanya khayalan semata. Saya hanya meminjam nama pemeran.
- GS For Uke
- Don't like don't read
- No Flame, No bash, No war, Typo
.
.
.
.
Setelah kejadian tadi sore, semakin sangat terlihat jelas jarak antara Kris dan Zitao. Setelah tiba di apartemen gadis panda itu terus mengurung dirinya di dalam kamar yang menurutnya adalah tempat yang paling nyaman di apartemen ini. Saat ini sudah pukul 21.00, ia sungguh tidak menyadarinya. Bahwa ia sejak tiba tadi hingga sekarang, hanya membaringkan tubuhnya di ranjangnya yang bersprei motif panda kesukaannya dengan melamunkan masalah yang sama. Busananya masih sama. Ia seakan tak memiliki tenaga hanya untuk menggantinya. Zitao tampak sangat mengenaskan saat ini. Kris juga tidak berusaha menahannya ketika ia berlari tadi. Ia juga tak tau apakah Kris sudah pulang atau belum. Bunyi perutnya menyadarkannya dari lamunannya. Zitao terkekeh miris.
"Hanya karena orang itu, aku menjadi kelaparan seperti ini?" Gumam Zitao sambil mengusap perutnya. Ia mulai bangun dari ranjangnya dan mengganti pakaiannya dengan baby doll selutut, berwarna pink salem dengan tali spageti di bahunya. Ia mengikat keatas rambutnya. Menampilkan leher jenjang mulusnya yang jika lelaki melihatnya, akan sangat bersedia memberikan tanda kepemilikan di leher itu. Zitao keluar dari kamarnya dan melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke dapur. Ketika tiba di ruang tengah, langkahnya terhenti. Ia melihat sosok Kris yang tengah menonton Tv. Zitao segera melanjutkan langkahnya. Namun, suara baritone yang sangat akrab bagi Zitao itu, menghentikan langkahnya.
"Zi..." Kris memandang punggung Zitao lekat.
"Hm?" Gumam Zitao tanpa membalikkan badannya. Sungguh ia sangat membenci jantungnya saat ini. Bisanya jantung ini berdetak lebih kencang di saat sudah jelas sekali bahwa Kris telah menyakitinya. Zitao mencengkram babydoll nya. Ia sangat gugup saat ini. Kris memandang punggung gadis yang ia klaim miliknya ini tengah bergetar.
"Tidak." Jawab Kris. See? Sungguh orang yang sangat menyebalkan.
"Kau sudah makan?" Oh Ya Tuhan Zitao!, Bagaimana bisa kau malah menanyakan hal itu?!. Zitao merutuki bibirnya yang tanpa sadar mengucapkannya. Sungguh ia merasa sangat bodoh.
"Belum" Jawab Kris datar. Mendengar itu, Zitao segera menuju dapur. Ia dalam keadaan mood yang sangat buruk. Ia hanya membuat ramyun 2 porsi. Ya, 2 porsi. Untuknya dan untuk Kris. Ia bahkan membuatkan kopi kesukaan Kris dan menghidangkan apel yang telah ia potong menyerupai bentuk kelinci. Sungguh, saat ini Zitao tengah merutuki diri dalam batinnya. Ia tidak bisa mengontrol tubuhnya untuk berhenti. Zitao menaruhnya ke nampan dan membawanya ke ruang tengah yang mana tempat Kris berada tadi. Ia menaruh nampannya di meja, dan menghidangkannya di hadapan Kris. Zitao mengambil mangkuknya dan berdiri, bermaksud untuk meninggalkan Kris dan menikmati ramyunnya di dalam kamarnya. Namun, sebuah tangan menahan tangannya. Zitao hanya memandang heran sang pelaku.
"Ayah dan ibumu, ingin kita besok untuk menginap di rumahmu,Zi" Kris berkata dengan menatap wajah Zitao tajam.
"Hmm...baiklah. Bisa kau lepaskan tanganmu, ge?" Jawab Zitao dingin. Kris melepas tangannya dari tangan Zitao. Zitao berharap ada ekspresi kekecewaan pada raut wajah Kris. Ketika Zitao mulai memandangnya. Yahh, harapan gadis itu jelas sia – sia. Raut wajah Kris saat ini adalah ... datar.
Zitao segera membalikkan badan dan melangkahkan kaki jenjangnya menuju kamarnya. Kris hanya memandangi punggung yang terlihat ringkih itu semakin menjauh.
Di dalam kamarnya, Zitao menghabiskan ramyunnya dengan raut wajah kesal. Bagaimana bisa kekasihnya tidak mencoba membujuk agar tidak marah lagi terhadapnya. Ia iri. Sangaaat iri dengan perlakuan Chanyeol kepada Baekhyun. Kekasih sahabatnya itu selalu melontarkan kata – kata manis yang selalu membuat wajah Baekhyun merah padam. Jangankan Baekhyun yang memang kekasihnya. Zitao saja jika mendengar kata – kata Chanyeol untuk Baekhyun, wajahnya ikut merona. Ya mungkin tidak semerah Baekhyun.
Zitao meminum kuah ramyunnya hingga habis. Ia menaruh mangkuknya di meja. Tiba – tiba ia teringat akan sesuatu.
"Chanyeol" Gumamnya. Ia teringat jika Chanyeol tadi sore, ingin mengatakan sesuatu yang nampaknya sangat penting tentang Kris.
"Ya aku akan menanyakannya nanti" Gumamnya dengan mata berbinar.
Zitao keluar kamar menuju dapur untuk menaruh mangkuknya. Ia melewati ruang tengah begitu saja. Ia tau, bahwa Kris sempat menatapnya. Di tempat cuci piring, mangkuk dan gelas Kris sudah berada disana. Zitao mencuci semuanya hingga bersih. Zitao membuka pintu kulkas, ia mengambil sebotol air mineral dan meneguknya perlahan. Ditaruhnya botol itu dan mebalikkan badannya. Seketika Zitao dikejutkan oleh Kris yang sedang bersedekap sambil memandangnya tajam.
"A..ada apa, ge?. Jawab gadis panda itu tergagap tak berani memandang matanya.
Ia melangkahkan kakinya mendekat hingga dapat terdengar deru nafasnya. Zitao semakin menundukkan kepalanya, seraya menghindari tatapan mata setajam elang itu. Kris memegang dagunya dan menaikkannya.
" Tatap aku! Jangan abaikan aku seolah aku tak ada, Zi! "
Sudah cukup! Sudah cukup Zitao merasa dipermainkan seperti ini. Zitao menghirup udara dengan berat sambil memejamkan matanya. Ia tak bisa lagi menahan amarahnya.
" Sudah cukup! Aku benar – benar tak tahan lagi, ge!. Bagaimana aku bisa menganggapmu ada jika kau saja tak pernah menganggapku. Kau pikir selama ini aku bahagia bersamamu, ge?" –Tidak, aku bahagia hanya denganmu saja itu cukup -. Jawab Zitao dengan menaikkan nada bicaranya. Matanya mulai berkaca – kaca sambil menahan rasa sakit di hatinya.
"Jadi, selama ini kau merasa seperti itu? Kau muak bersamaku? Tak kusangka kau sama saja dengan gadis lainnya." Jawab Kris dengan senyuman sinisnya. Mendengar ucapan Kris, air mata Zitao mulai mengalir membasahi pipi putih nan mulusnya.
" Iya, kau benar. Aku benar – benar muak bersamamu!. Bagaimana bisa aku terus bertahan dengan lelaki yang tak mencintaiku namun selalu mengekangku dalam sangkar seperti harus menuruti semua apa katamu. Sedangkan kau? Kau selalu mengabaikanku!"
" Aku hanya tak percaya pada cinta, Zi. Hanya saja ... " Kris mencengkram erat lengan Zitao.
" Hanya saja apa, ge? Lalu untuk apa hubungan kita selama ini? " Zitao memandang Kris dengan mata penuh benci.
" Eehm.. itu.." Jawab Kris terbata – bata.
" Ah sudahlah,ge. Aku sudah muak. Aku tak tahan lagi denganmu!" Kris terkejut mendengar ucapan Zitao. Gadisnya tak pernah semarah ini dengannya. Merasa cengkraman tangan Kris di lengannya mulai mengendur, Zitao segera melepas tangan Kris dengan paksa dan berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Kris yang masih termangu menatap punggung yang selama ini ingin di rengkuhnya. Punggung yang saat ini terlihat bergetar dan rapuh. Lama – kelamaan punggung gadisnya tak terlihat lagi. Dan Kris? Ia masih saja diam sambil menundukkan kepalanya. Tak terasa setetes air mata mengalir di pipinya.
TBC
Maaf banget baru update . lagi banyak kegiatan sekolah sama opera mininya abis gangguan /? dan terimakasih banyak untuk semua yang udah mau baca,fav,follow dan review FF yang sudah berdebu ini hehehe.
