Naruto belong to Masashi Kishimoto

Plot By Yadika Putri (based on novel "Pernikahan Wasiat")

I own the story, and please enjoy.

Welcome to my imagination.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Love and Trust

.

.

.

.

.

Summary: "Setelah ini kau wajib menggunakan transportasi umum karena aku tidak bisa sewaktu-waktu mengantarkanmu."/ "Hajimashite. Haruno Sakura desu. Douzo Yorishiku Onegaishimasu. (Salam kenal. Haruno Sakura. Senang berkenalan dan mohon kerjasamanya.)"/ "Hai Alien baru. Dari Planet mana asalmu?"/ "Namikaze Shion. Senang mengenalmu Sakura. Eh, boleh kan aku memanggil nama kecilmu?"/ "Don't staring me."/ "Baka! Dia itu bukan fans mu Sasuke..."/ "Aku jadi membayangkannya menikah dengan kakakku dan membuat keluarga kecil seperti Mama dan Papa./ "Apa aku tidak boleh mengaku kalau aku istrimu, Naruto-nii?"/ "Setelah kau mengaku, apa yang akan kau lakukan?"/ "Ka... Kau... Tertarik de... dengan anak baru i...itu, Sasuke?"/ "Dia satu-satunya gadis yang tidak membuatku terganggu."/ "Kita akan lebih sulit terpisah kalau kau terus-terusan mendekat. Kau akan lebih banyak terluka."/ "Dasar bocah."/ "Aku bukan bocah."/ "Baiklah cengeng. Masuk ke kamar mandi dan akan kubantu merapikan tempat tidurmu."/ "Morning kiss-ku."/

.

.

.

.

.

.

.

.

4. She is Back

.

"Hentikan itu Shikamaru. Kau terlihat bodoh dengan boneka itu."tegur Naruto dengan ekspresi jengah. Bagaimana tidak?

Shikamaru bertingkah layaknya pria yang tidak tau malu dengan mengajak boneka doraemon bicara. Dia bahkan lebih konyol dari bayi ketika melakukannya. Dan setelah itu menikmati 30 menit jam makan siang di kantor Naruto untuk tidur di atas 'pangkuan' sang doraemon.

"Sayangnya Ino masih terlalu kecil untuk dinikahi."

"Kau menyindirku?"

"Tidak. Memangnya apa hubungannya Ino dengan dirimu selain Bibi kecil dan keponakan?"

"Kau lupa? Aku menikah dengan teman baik bibi kecilku, Shika."

"Ah! Soal itu rupanya." Shikamaru terkekeh dan meletakkan kembali boneka doraemon itu di sudut sofa. "Pernikahan kalian belum resmi. Kalau kau memutuskan berpisahpun tidak akan ada yang memberatkan. Kalian hanya perlu sepakat dan tinggal di tempat yang berbeda."

"Dia bahkan belum lulus SMA."

"Dan?"

"Kau tau betapa bodohnya mengatakan kalau aku sudah seperti lolicon?"

"Bukankah itu sedikit berlebihan?"

Naruto menarik nafas panjang. Frustasi dengan takdir yang membelitnya dengan rumit. "Tingkah yang dilakukannya membuat kepalaku semakin pusing. Dia menganggap apa yang kulakukan adalah bagian dari pernikahan. Kau tau aku tidak mungkin melakukan kekonyolan di saat aku mencintai wanita lain. Dan aku ini pria normal Shika."

"Kuning, sebenarnya permasalahanmu ini sederhana." Shikamaru terkekeh dan menatap lurus sahabatnya. "Kau hanya tinggal memilih apakah kau harus berpisah atau kau mempertahankannya dengan mendaftarkan pernikahan kalian. Dia bukan anak kecil. Kurasa dia akan paham dengan apa yang kau putuskan."

"Apa sesederhana itu penyelesaiannya?"

Shikamaru mengerutkan dahinya dan menatap sahabatnya dengan tatapan tajam. "Apa kau sudah mulai memiliki perasaan dengan gadis yang kau sebut bocah itu? Kalau iya, hentikan semua perasaanmu pada gadis masa lalumu dan mulai pernikahanmu dengan cara yang benar. Jangan mempermainkan perasaan perempuan, Naruto."

"Apa aku terlihat seperti orang yang mempermainkan pernikahan?"

"Tidak. Tapi kita tidak tau apa yang akan terjadi di masa depan. Jatuh cinta adalah tanggung jawab paling merepotkan, Bos. Aku hanya khawatir kau salah presepsi dan langkah."

Naruto menarik nafas sebal dan menonjok bahu sahabatnya. Tidak peduli wajah protes sang Nara. Dia sedang tidak ingin bercanda. Dan kehadiran Sakura yang seolah memenuhi apartemennya sedikit mengusik hatinya.

"Ah... Bicara soal cinta, aku mendapat kabar yang kurang menyenangkan dari Gaara. Dokter Panda Merah itu bercerita kalau orang tuanya menjodohkannya dengan seorang gadis antah berantah. Aku tidak tau apa maksudnya. Dia bilang dia akan melakukan konfirmasi di sini."

"Konfirmasi bagaimana?"

"Dia tidak mencintai gadis itu. Tapi dia tidak bisa mengatakan apapun. Gadis itu memberi keuntungan pada rumah sakit keluarganya karena dia juga seorang dokter dan ayahnya merupakan pengacara terkenal."

"Pernikahan politik?"

Shikamaru mengangkat bahunya. "Setidaknya kau dan aku lebih beruntung. Jatuh cinta dengan seseorang. Walau dalam kasusmu, kau ditinggalkan dan harus menikah dengan 'bocah'."

"Kulempar kau menuju Merkurius, Nanas."

Pria berambut hitam itu tertawa geli. "Aku akan lebih dulu tertidur sebelum sampai planet itu. Dan... Aku sedikit penasaran. Kau menyebutnya bocah secara terus menerus sementara di mataku Ino terlihat seperti wanita pada umumnya. Mereka seumuran. Jadi..." Shikamaru menjeda dengan senyum jahil sialan yang merontokkan sisa kesabaran Naruto. "Apa dia rata seperti anak usia 5 tahun?"tanya Shikamaru dengan polosnya. Sementara tangannya mengusap bagian depan tubuhnya seolah menunjukkan bagian mana yang mungkin terlihat 'rata'.

"Diam atau aku akan mengirimmu ke Neptunus sekarang dasar nanas mesum! Kau mengatai gadis kecilku dengan sebutan yang tidak pantas!"

Shikamaru tertawa dan bersiap lari dari ruangan Naruto. Meninggalkan pria itu dengan segudang keluhan dan serapah. Yang membuat tawa pria berkuncir itu adalah Naruto menyebut istrinya sebagai 'gadis kecilku'. Bukankah itu sebagai tanda kalau hati pria itu mulai terbuka?

"Kalau kau berakhir jatuh cinta kau akan benar-benar kerepotan, Rubah."kekehnya sebelum tenggelam dalam perabotan yang oh sangat menyebalkan tanpa menggerutu. Hari yang sibuk.

.

000

.

Sakura sudah sangat mampu beradaptasi di sekolahnya. Sekalipun ada bagian yang sangat disesalkan olehnya karena dia tidak bisa ikut dalam klub apapun kecuali menemani para sahabat barunya. Klub tidak pernah menerima anggota baru yang berada di kelas 3. Tapi mereka sangat ramah dan menjadikan Sakura sebagai bagian dari klub mereka secara tidak resmi (salahkan saja nepotisme yang dilakukan Shion dan juga Ino).

Hal yang paling menarik adalah ketika Sakura berada di bench tempat latihan para pemain baseball sekolah. Banyak sekali teriakan untuk Sasuke (yang menurut Sakura cukup lucu. Bahkan sesekali dia ikut berteriak untuk memperkeruh suasana karena ketika dia berteriak Sasuke pasti berhenti bermain dan menepuk jidatnya sebelum mengajak Sakura duduk di kursi pemain dengan sebotol air dingin sebagai teman latihan. Teriakan Sakura dianggap sebagai pengalih perhatian Sasuke dan itu membuat seluruh sekolah iri).

Shion yang lebih suka kegiatan tulis menulis mengajak Sakura untuk ikut di klub cerita misteri dimana seluruh anggotanya suka mengumpulkan tentang creepy pasta dari seluruh dunia. Terkadang mereka akan mengkaji kasus-kasus yang pernah dan belum dipecahkan polisi sebagai bahan diskusi. Menarik tentu saja. Sakura benar-benar tidak menyangka bahwa keluarga Namikaze dan juga Uchiha sangat menarik dari berbagai macam sisi.

Terkadang juga dia ikut bersama Ino yang secara mengejutkan memiliki kegiatan di 2 klub yaitu klub panahan dan juga cheerleader. Terlebih gadis pirang itu juga sering sekali memenangkan kejuaraan memanah. Atlet yang luar biasa. Dia juga memiliki kemampuan di bidang memasak dan merias diri. Gabungan yang menarik bukan?

Wali kelas Sakura sendiri merupakan sosok periang yang membuat Sakura mudah beradaptasi. Dengan beberapa teman yang menyebut diri mereka 'alien' dan menghabiskan makan siang bersama di dalam kelas sebelum melakukan aktivitas lain.

Tapi ada yang benar-benar membuatnya terganggu. Sikap Sasuke. Pria itu memang tidak banyak bicara (dan itu menyebalkan. Demi ubur-ubur, apakah semua keluarga pria dingin itu begitu?) tapi tingkah yang seolah telang meng'klaim' Sakura di depan para siswa membuat Sakura sedikit... jengah. Baik, itu berlebihan. Sikap itu memang tidak dilakukan secara langsung. Namun seluruh dunia sepertinya sudah tau.

Omong-omong, dimana letak kesalahannya? Sejujurnya, tidak ada. Tapi yakinlah bahwa seluruh kelas (dan bahkan Shion yang merupakan manusia paling tidak peka di dunia mengatakan kalau Sasuke hanya akan mengatakan paling banyak 500 kata perhari) atau seluruh isi sekolah memaksanya untuk mencoba membayangkan bagaimana bisa pangeran es sekolah berubah menjadi ramah (tersenyum lebih dari 5 kali dalam sehari dan berbicara dengan lebih dari 500 kata tanpa diminta) ketika bersamanya?

Jawabannya sederhana. Sakura sendiri tidak tau. Dia tidak pernah jatuh cinta karena sepanjang kehidupan masa sekolahnya dulu dia hanya mengubur diri dalam buku, bela diri, memasak, dan mengunjungi klinik untuk kegiatan amal rutin keluarganya. Lagipula, dua kakak laki-lakinya membuat Sakura menjaga jarak paling tidak 10 meter dari makhluk jantan jenis apapun. Entah karena posesif atau apa, bahkan Sasori melarangnya mengadopsi kucing jantan hanya karena dia... jantan. Apalagi?

Dan soal cinta... Sakura memang sedang mencoba mencintai suaminya. Yah... Lagi-lagi alasannya cukup sederhana. Entah karena polos atau bodoh, tapi Sakura mencoba hal tersebut karena jika dia jatuh cinta, dia harus memilih objek yang tepat dan benar untuk dicintai. Dan siapa orang di dunia yang akan menyalahkan dirinya kalau dia jatuh cinta dengan suaminya sendiri?

.

000

.

"Menikah bukan akhir dari dunia, Gaara."ejek Menma dengan senyum jahilnya. Gaara tersulut emosi dan melemparkan bantal ke arah pria itu. Ya Tuhan... Dia datang kemari bukan untuk membuat seseorang mengejeknya.

"Tapi serius, bukankah kau sendiri sudah mengenal Matsuri sejak lama? Dia rekan kerjamu di Rumah Sakit kan?"tanggap Shikamaru dengan alis terangkat.

"Justru karena itu aku ingin menolaknya, Nanas. Aku tidak suka menikah dengan tukang perintah. Dia sudah menguasai ruang operasi ketika kami ada di dalam satu tim. Dia bahkan memicingkan mata penuh permusuhan hanya karena aku tidak sengaja masuk di ruang ganti yang salah waktu itu. Dia pikir tubuhnya indah apa untuk dilihat? Lagipula, bukan dia satu-satunya orang yang harus berganti pakaian setelah operasi selesai. Dasar dokter gila!"

"Aku rasa tidak seburuk kelihatannya. Lagipula, kau mungkin akan mendapatkan hal yang lebih baik dari sekedar teman hidup."nasehat Naruto.

"Yeah, kecuali kau mau membayangkan meniduri wanita yang tidak ku cintai, Rubah. rasanya menggelikan. Apalagi kau sudah terlibat permusuhan dengannya sejak lama. Rasanya seperti bercinta dengan scalpel."

Shikamaru meringis ngilu membayangkan pisau bedah menusuk dirinya. Terutama jika bayangan itu Ino yang melakukannya. Bukannya apa. Pisau itu kecil, tipis, dan sangat tajam. Kulitmu akan mulai sobek tanpa kau sadari kalau kau memainkannya dengan ceroboh.

"Jangan terlalu pesimis terhadap sesuatu, Gaara. Bukan hal yang baik."tanggap Menma setelah merasa suasana ruangan berubah menjadi tidak kondusif.

"Untuk ukuran pecinta anak kecil seperti kau dan Shikamaru, kalian benar-benar mengerikan. Shikamaru yang mencintai bibi kecil Naruto dan Menma yang mencintai adik Naruto. Lolicon."

"Hei!"

"$*%#!"

Teriak Shikamaru dan Menma bersamaan. Keduanya melotot ke arah Gaara tidak terima. Dia yang dijodohkan tapi malah pria itu yang berubah menjengkelkan.

"Dengar, bahkan Jacob dalam seri Twilight Saga bisa jatuh cinta pada Renesmee putri Bella dan Edward Cullen. Kau tau Bella adalah cinta pertama Jacob kan? Dan tidak ada masalah dengan mereka karena mereka sudah mengalami imprint. Jangan mengejek cinta seseorang hanya karena perbedaan usia yang jauh. Lagipula jarak usiaku dengan Shion hanya 10 tahun. Dalam 4 tahun lagi jika aku menikahinya tidak akan ada yang mengejekku lollicon dasar panda merah, mesum, menyebalkan!"cerocos Menma tanpa ampun.

"Kenapa kalian marah? Bukankah itu fakta?"tanya Gaara dengan wajah geli. Kekesalannya telah terbalaskan dengan membuat kedua sahabatnya berubah wajah menjadi buas dan nafas yang memburu karena amarah.

"Kau mengataiku sementara Naruto lebih parah? Ya Tuhan! Tolong berikan kemudahan untuk pernikahan panda merah ini dan jatuhkan cintanya hanya pada Matsuri tersayang hingga dia menelan ludahnya sendiri dan berakhir dengan mencumbu scalpel nya karena gengsi mengakui cintanya pada sang istri."gerutu Shikamaru tidak terima.

"Naruto... kau juga..." Menma sedikit terbata. Namun sedetik kemudian senyum mengembang di wajahnya dan dengan sigap memeluk pria pirang itu. "Aku tau di antara kita yang error hanya panda merah itu. Kita sama normalnya karena mencintai gadis yang lebih muda itu menyenangkan."

Sementara itu, Naruto hanya bisa melotot gusar ke arah Shikamaru yang terlihat terlampau tidak peduli. "Bukan dia. Naruto adalah bos yang baik dan 'teladan'. Yang perlu kalian tau hanya aku saja yang lollicon. Jadi sekian dan terima kasih. Aku banyak pekerjaan kecuali bosku yang baik mau menaikkan gajiku."tukas Shikamaru sebelum menguap kembali. Amarahnya mulai reda karena berhasil menjadikan Naruto umpan ejekan dari Gaara. Lagipula, terjebak terlalu lama dengan para pria bujang menyebalkan ini akan membuat pekerjaannya terbengkalai.

"Kalian memang benar-benar sahabat terburuk dengan kalimat mutiara yang membuatku ingin menendang kalian ke dunia bikini bottom milik Spongebob."kekeh Gaara. "Aku akan tetap menikahi wanita arogan itu bagaimanapun juga. Dan kami tetap harus memiliki anak. Semoga prosesnya cepat dan aku tidak perlu terjebak dalam penderitaan karena menikahinya."

"Terserah saja. Keluar dari sini dan aku ingin bicara 4 mata dengan calon kakak iparku."usir Menma. Gaara hanya menggelengkan kepala sebelum menginggalkan ruangan.

"Jadi... Kau ingin bicara apa, Menma?"tanya Naruto sinis. Khawatir jika pria bermata buah badam itu menyodorkan ribuan pertanyaan perihal pedofil dan semacamnya. Demi Kami-sama! Dia tidak siap.

"Apa kau akan memberiku restu menikahi Shion?"

"Kalau aku menolak?"

"Aku akan mengatakan pada orang tuamu kalau kau sudah menjadi pedofil."

Sial!

Ini semua gara-gara Nanas mesin gosip!

.

000

.

"Sebentar!"pekik Sakura. Tangannya gesit mematikan kompor dan menitiskan sosis yang dia goreng sebelum berlari menuju pintu.

Senyum mengembang di wajahnya ketika wajah yang akrab dilihatnya belakangan ini berada tepat di hadapannya. Pria pirang tampan. Suaminya. Aih... Dia seharusnya memamerkan pria satu ini ke seluruh kelas dan menghentikan para mesin gosip yang menjodohkannya dengan Sasuke. Sakura sudah menikah dan otomatis dia tidak boleh melihat pria tampan lain sekalipun pria itu memiliki kualifikasi luar biasa. Sasuke luar biasa menarik. Kalau saja dia belum menikah, Sakura cukup yakin akan menjadi salah satu pengagum berat pria itu.

"Kau mengganti password apartemen?"tanya Naruto dengan nada datar.

"Sesekali aku juga ingin menyambut suamiku pulang. Naruto-nii tidak pernah membangunkanku kalau aku menunggu dan tertidur."

"Alasan macam apa itu?"

Sakura terkekeh dan mengambil tas sekaligus jas kerja Naruto. "Ayolah. Jangan marah begitu. Aku akan memberitahukan password itu pada Naruto-nii dan berjanji tidak akan mengubahnya."

Naruto menghela nafas panjang dan masuk ke dalam apartemen tanpa mengatakan apapun. Dia sudah lelah dengan agenda menyebalkan para sahabatnya. Dan dia tidak butuh drama lainnya.

"Aku sudah mengisi bathtub dengan air hangat dan meneteskan aroma terapi di dalamnya. Makan malam akan siap 30 menit lagi."ujar Sakura mengingatkan. Tidak ada reaksi apapun dari sang suami selain pria itu masuk begitu saja ke dalam kamar. Tapi Sakura cukup yakin pria itu mendengarkannya dengan baik karena air hangat adalah cara mandi kegemaran pria itu belakangan ini. Dan gadis bunga itu tersenyum riang sebelum kembali berkutat pada makan malam yang sedang dibuatnya.

.

.

.

Naruto terpaksa mengakui kalau kehidupan bersama Sakura (sekalipun terasa seperti ide gila) mampu membuatnya dalam taraf hidup nyaman dalam arti yang sesungguhnya. Walaupun Demi Tuhan tingkah dan mulut cerewet gadis itu membuatnya sebal dalam beberapa hal. Bahkan banyak sekali hal kecil yang sudah dilakukan gadis itu untuknya. Menyiapkan air hangat untuk mandi, baju ganti, makanan, dan kondisi apartemen yang terkesan hangat. Terlalu banyak kejutan dalam diri gadis itu.

Bicara soal kejutan, Naruto mengerutkan dahinya ketika mendapati meja makan kosong dan Sakura tidak ada di dapur maupun ruang makan. Kemana gadis itu?

"Ya! Banting dia. Kau akan menambah poin banyak kalau seluruh tubuhnya terjatuh! Bagus sekali!"pekik Sakura dengan konyol.

Mengikuti pekikan sumbang gadis itu, Naruto nyaris saja dibuat mematung di tempat ketika mendapati sofa yang sudah dirubah menjadi tempat yang sangat nyaman untuk bergelung dan makanan yang terlihat seperti akan dibawa piknik sementara gadis itu memekik dan terlunjak-lunjak dari duduknya karena melihat...

Tunggu!

Merlin! Apa gadis itu terlihat senang karena menonton wrestling?

"Naruto-nii sudah selesai mandi?"tanya Sakura dengan senyum lebar. Euforia karena melihat pemain kesukaannya berhasil memenangkan pertandingan jelas kentara di wajah mungilnya.

"Kau hobi menonton gulat?"tanya Naruto sanksi dan mengabaikan pertanyaan retoris dari Sakura.

"Aku suka melihat para pegulat. Mereka terlihat hebat, kuat, dan berkeringat."aku Sakura.

Pria pirang itu menatap sanksi ke arah layar televisi 64 inch miliknya dan terlihat ngeri dengan pegulat yang tampaknya baru saja menang itu.

"Kau suka pria bertelanjang dada, berkeringat, dan memiliki bulu dada?"tuduh Naruto tanpa ampun. Ya Tuhan... kenapa bisa dia menikah dengan gadis langka ini?

"Ng... Aku tidak pernah mengatakan itu kriteria laki-laki yang kusuka. Tapi bukan karena alasan itu aku menyukai gulat. Asal Naruto-nii tau, gulat wanita juga sering kutonton. Dan mereka tidak memiliki bulu dada seperti yang Naruto-nii deskripsikan."

"Baiklah. Tapi bagaimana dengan makan malamnya?"

Sakura tersenyum dan menarik tangan Naruto untuk duduk di sampingnya. Tangannya menggapai kotak makan dan menyodorkannya pada Naruto.

"Serius? Kita piknik malam hari dengan makan bento?"tanya Naruto sanksi.

"Aku ingin piknik di luar. Tapi Naruto-nii sibuk bahkan di hari libur. Jadi... Begini saja sudah cukup."aku gadis bunga itu dengan riang.

Jawaban polos itu terang saja membuat Naruto mematung. Apa dia seabai itu terhadap kondisi Sakura? Apa dia terlihat seperti mengurung gadis itu dengan tidak membawanya kemanapun?

"Jangan banyak berpikir dan makan saja. Aku juga akan makan sembari menunggu pertandingan selanjutnya."

Celetukan itu langsung membuat Naruto tersadar dari lamunannya. Dalam diam dia merutuki pemandangan pria berkumis yang berbadan dempal, berbulu dada, dan berkeringat yang terpampang di layar televisinya. Bukan hal yang baik mengingat dia membeli televisi dengan layar yang lebar. Mata gadis itu sudah rusak dengan pemandangan tidak senonoh. Apa sih bagusnya menonton pria bertarung di atas ring? Bahkan jika dibandingkan dengan keseluruhan pria dempal mengerikan itu tubuh Naruto lebih terlihat 'indah' karena dia cukup rajin berolahraga selama ini.

"Ganti acaranya dengan yang lain, bisakah?"pinta Naruto. "Aku jadi tidak selera makan karena pilihan tontonanmu."

"Kupikir pria justru menyukai hal yang seperti ini."

"Ya. Tapi tontonan ini tidak sehat untukmu, Sakura. Pria yang bertelanjang dada di mana-mana. Tidak. Kau tidak boleh menontonnya. Aku melarangmu dengan keras."

"Kenapa? Lagipula aku juga sudah sering melihat pria bertelanjang dada. Dan menurutku tidak ada istimewanya sama sekali."

"APA?!"

Sakura memutas kedua bola matanya dengan jengah. "Apa lagi? Aku sering melihat Naruto-nii bertelanjang dada setiap pagi setelah lari dan mandi. Jadi kenapa dengan telanjang dadanya pria lain? Bukannya sama saja?"

Gadis itu menggerutu kesal sembari menyumpit sushi gulung dan menyumpalkannya ke dalam mulut Naruto. "Di pantai juga ada pria bertelanjang dada. Di kolam renang juga. Kenapa banyak sekali aturan? Bahkan bela diri pun juga ada yang bertelanjang dada. Menyebalkan."

"Hei, dengarkan aku dulu. Kau hanya boleh melihat tubuhku. Bukan tubuh pria asing yang hanya hobi bertarung bahkan dengan orang yang bukan musuhnya. Matamu harus tetap suci dengan melihat apa saja yang boleh kau lihat, mengerti?"terang Naruto setelah menelan sushi yang disumpalkan istrinya.

"Baiklah." Sakura meraih remote TV dan mengganti programnya dengan film Hunger Games yang ditayangkan oleh salah satu channel internasional. "Kita lihat ini dan makan."

Naruto tersenyum penuh kemenangan dan melanjutkan melahap menu yang tersedia di bento. Sekalipun menyebalkan, masakan gadis itu luar biasa. Tanpa disangka pria itu, Sakura terus mendecih melihat tingkah konyol suaminya ketika makanan masuk ke mulutnya. Apa pria itu tidak tau ada butiran nasi yang terselip di sudut bibirnya?

Tanpa disadari Sakura, gadis itu sudah mendekat dan menggigit ujung bibir Naruto untuk mengambil butiran nasi yang menempel. Namun aksi absurd itu sukses membuat keduanya mematung.

"Go...Gomen."bisik Sakura dengan wajah yang memerah layaknya kepiting rebus.

Naruto masih mematung dengan sensasi lembut, strawberry, dan manis. Pria itu melirik bento yang dimasak oleh istrinya. Tidak ada satupun jenis makanan yang memiliki rasa seperti bibir gadis itu. Bagaimana bisa?

"Itu tadi..."

"Aku tidak sengaja, Naruto-nii. Aku hanya ingin mengambil butiran nasi. Hanya bercan...hmppp.."

Sakura pikir Naruto sudah tidak waras. Pria itu mengulum bibirnya dengan mata tertutup seolah sedang menikmati apa yang saat ini dicecapnya. Oke, bolehkan Sakura merasa pusing sekarang? Kepalanya berkunang-kunang dan tubuhnya melemas. Nafasnya megap-megap karena tidak tau bagaimana caranya mengimbangi ciuman itu atau dia harus lebih memilih mengambil nafas secara normal.

"Naruto-nii... Nghh..."

Namun sepertinya pria pirang itu tidak mendengarkannya. Naruto terlalu sibuk dengan sensasi menyenangkan yang baru saja dirasakannya. Manis. Sangat manis sampai membuatnya terhanyut dengan segala rasa tersebut.

"Strawberry..."gumam Naruto disela kecupannya.

Merasa Sakura sudah mulai kehabisan nafas, Naruto melepaskan pagutannya dan mulai mengecupi rahang dan seluruh permukaan wajah gadis itu. Terutama jidat lebar yang entah kenapa jadi terkesan sexy. Ya Tuhan... Terbuat dari apa sebenarnya gadis ini? Strawberry shortcake dengan tambahan krim?

Kurangnya respon dari Sakura membuat Naruto menghentikan serangannya. Pelukannya sedikit ia longgarkan dan tubuh istrinya itu malah melorot jatuh dalam pelukan bagaikan tubuh tanpa tulang.

"Sakura?"panggil Naruto. Gadis itu masih terdiam.

"Pingsan?"tanya Naruto dengan geli. Sakura bahkan tidak bergeming ketika Naruto sedikit mengguncang bahunya.

"Ya Tuhan... Dia benar-benar polos."gumam Naruto sebelum mengubah posisi Sakura menjadi terlentang dengan benar. Menutup bento dan mematikan televisi. Selimut yang disampirkan Sakura di lengan sofa ditutupkannya pada tubuh mereka berdua. Kepala Sakura diangkat dan diletakkannya dengan nyaman di lengan atasnya. Naruto memeluk tubuh mungil itu dan menenggelamkan wajahnya di rambut rosegold gadisnya.

"Oyasumi, gadis kecil."

.

000

.

Ya Tuhan...

Kami-sama...

Kemarin...

Sakura menggelengkan kepalanya kuat-kuat ketika adegan berciuman dengan Naruto berputar kembali di kepalanya. Sangat lembut, memabukkan, dan membuat nafas terhenti secara tiba-tiba.

Apa berciuman memang selalu terasa seperti itu? Bagaimana caranya berciuman tanpa kehilangan nafas hingga dia tidak pingsan? Bagaimana caranya dia mengendalikan detak jantungnya yang sangat norak ketika Naruto berada di sekitarnya?

Tanpa sadar, pikiran tentang malam itu membuat Sakura melamun dan wajahnya berubah menjadi sewarna tomat yang sedang dicemil Sasuke. Pria itu mengerutkan kedua alisnya menatap gadis menarik yang menyedot atensinya belakangan ini. Kerutan alis itu juga muncul di wajah Ino dan Shion. Demi ubur-ubur yang hobi menyengat di kartun spongebob, wajah Sakura benar-benar aneh saat ini. Karin sampai mengusap kacamatanya berkali-kali karena takut kacamatanya sudah tidak berfungsi. Pun saudara kembar Karin, Pein.

"Ada apa dengannya?"tanya Karin sanksi.

Kompak yang lain hanya menggelengkan kepala. Hanya Pein yang memiliki keberanian dengan mengguncang bahu Sakura dan membuat gadis itu sadar dari lamunannya.

"Kenapa kalian menatapku seperti itu?"cicit Sakura salah tingkah.

"Kami yang harusnya bertanya ada apa denganmu sebenarnya."tuding Karin. Gadis yang juga anggota chearleader dan belakangan menjadi akrab dengan Sakura itu menatap penuh selidik.

"Aku baik-baik saja. Kalian membuatku takut, Baka."bisik Sakura mengalihkan perhatian para teman akrabnya. Dia segera memberesi buku yang semula dibacanya ke dalam tas dan mengambil jus jeruknya.

"Sungguh? Aku justru merasa dia baru saja mendapatkan ciuman pertama makanya dia bisa bertingkah seperti ini."celetuk Shion tiba-tiba.

Uhuk!

Sakura tersedak dan nyaris menyemburkan minumannya ke arah Sasuke. Tapi pria itu berhasil menghindar dengan baik berkat latihan baseball yang dijalaninya. Sial. Apa ada seseorang yang sudah mendahuluinya untuk mencium Sakura? Batin Sasuke kesal. Omong-omong, kemungkinan itu membuatnya meradang. Sesuatu yang tidak pernah dirasakan olehnya sebelum ini.

"Serius? Ciuman pertama?"tanya Ino dengan lebih antusias.

"A... Apa itu penting? Lagipula aku sedang tidak..."

"Jangan main-main. Tentu saja penting. Jadi, bagaimana rasanya?"potong Shion tanpa ampun.

"Aku tidak ingin membahasnya. Lagipula aku hanya melamun. Bukannya mengingat ciuman pertama."

"Eh? Kami bahkan tidak bertanya soal kau ingat atau tidak?"tanya Pein dengan senyum jahil. Sakura terlihat baru saja memakan umpan dari para sahabatnya.

Blush!

"Po.. Pokoknya aku mau pulang. Terserah kalian ingin menuduhku apa."tukas Sakura sembari beranjak pergi.

"Hee? Dia marah hanya karena kita bertanya tentang ciuman pertama?"komentar Shion yang langsung diberi anggukan oleh para sahabatnya.

.

000

.

Shikamaru menyerahkan ponsel pada Naruto. Sial. Bukan lagi menyerahkan tapi memaksa Naruto berbicara dengan siapapun yang sedang mengganggu pekerjaan Naruto. Pria itu menggerutu sekaligus memaki Shikamaru sampai suara dari seberang ponsel tersebut menyapa ruang pendengarannya.

"Kami perlu bicara denganmu, son. Kenapa kau menghilang bagaikan angin semenjak pemakanan kakekmu? Kau lupa kalau kau masih punya orang tua?"sindir Kushina dengan tajam.

"Ibu... Aku..."

"Kalau kau masih menganggapku Ibu, seharusnya kau muncul untuk membuatku senang. Aku bahkan lupa kalau aku memiliki 2 anak karena keseriusanmu berbakti pada orang tua."

Pria pirang itu menghela nafas panjang. Jika sudah begini dia lebih memilih menyerah dan menuruti apapun yang ibunya katakan.

"Aku akan ke rumah. Ibu tidak perlu memaksaku."

"Baiklah. Ibu dan Ayah menunggumu. Ingat, sampai jam makan malam selesai baru boleh pulang. Kalau perlu kau wajib menginap."

"Kita lihat saja nanti."

"Jangan durhaka pada ibumu ini atau aku akan mengutukmu jadi batu, son."

Pip.

Sambungan ponsel mati sementara Shikamaru mengangkat salah satu alisnya. Kebiasaan yang dilakukan pria nanas itu jika dia ingin mengorek sesuatu tanpa bertanya secara verbal. Manusia astral tukang tidur itu memang...

"Aku akan ke rumah kedua orang tuaku. Kau ikut juga."ujar Naruto yang langsung dibalas senyum tipis dari bibir sang sahabat.

"Ya, aku tau kau senang karena ada bibi kecilku. Nikmati itu saja nanas. Tapi jangan coba untuk menyentuhnya atau aku akan mematahkan tanganmu."ancam Naruto sembari memberesi berkas yang ada di meja.

.

.

.

Ino menahan nafasnya ketika sosok berambut nanas menyembul dari mobil keponakan 'tua' nya. Pria itu memiliki perawakan tinggi dan mata yang selalu terlihat tajam sekaligus mengantuk. Ada apa sebenarnya dengan mata itu sampai Ino jadi kaku di tempat?

"Ada apa?"tanya Shion penuh selidik. Matanya berusaha mengintip sosok yang menjadi objek penglihatan bibi kecilnya. Dan terang saja senyum langsung terbit.

"Ada calon Paman rupanya."goda Shion tanpa ampun.

"Diam dan bantu Kushina-nee di dapur sana."

Shion terkekeh melihat tingkah malu Ino. Bibi kecilnya itu memang terlihat punya banyak 'pengalaman' dibandingkan kebanyakan remaja. Tapi Ino sangat polos dan bahkan tidak pernah duduk dekat dengan laki-laki selain keluarganya dalam jarak 1 meter. Apalagi kontak fisik? Jangan harap bisa dekat-dekat karena kegalakannya yang luar biasa. Entah darimana sikap brutal itu berasal.

"Tadaima."seru Naruto.

"Okaeri."sambut Tsunade dengan merentangkan kedua tangannya. Memeluk cucu tertuanya yang sudah lama tidak menampakkan ujung hidungnya sejak kecelakaan yang dialami oleh Jiraiya.

"Ada apa ini, Nenek?"tanya Naruto penasaran karena secara tidak biasa keluarganya berkumpul dengan khitmat. Bahkan sang ayah kini sudah duduk dengan manis di ruang tamu keluarga.

"Kami memiliki kejutan untukmu. Dan mungkin ini satu-satunya kabar bahagia yang bisa kami berikan."terang Tsunade dengan senyum yang masih menghias.

"Dan apakah itu, Nenek?"

Tsunade menarik tangan Naruto masuk ke dalam ruang tamu keluarga Namikaze. Pria itu masih menatap tidak mengerti sampai suara yang tak lagi asing baginya menyapa ruang pendengarannya. Netra birunya terbelalak mendapati sosok yang selama ini ada dalam ruang rindunya, dalam mimpinya, dalam semua doa yang sempat dipanjatkannya.

"Okaeri, Naruto-kun."

"Ma... Mariko..."

.

000

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

Olla Minna. Chiyo desu. Bagaimana? Apakah kalian suka sama chapter kali ini? Oh ya. Untuk menjawab salah satu pertanyaan reviewer soal selisih umur Naruto dan Sakura... Mereka beda 10 tahun dengan lebih tua Naruto. Sakura itu seumuran sama Ino, Shion, dan juga Sasuke plus Sasori (karena ceritanya Sasori itus saudara kembar Sakura. Untuk yang minta update... Nih udah update. hehehehehe. Perihal keterlambatan, itu semua nggak sengaja soalnya keyboard lapto chiyo rusak. hiks. Tapi ya... Chiyo akan tetap usahakan melakukan segala macam cara buat update. Ditunggu review dan fav dari kalian. Semakin banyak Chiyo akan semakin semangat untuk melanjutkan cerita ini. Jaa Matta ne Minna.