Damnation: Hannibal
Genre: Crime, School, Advent, Survive
Summary: It just, Boy With A Damnation.
~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~
Chap 4
Arc. Serenade of Sitri (Prolog)
Serafall Sitri terlahir sebagai seorang anak yang cerdas di keluarga Sitri. Keluarga Sitri adalah keluarga yakuza yang menguasai kota Kyoto, sejak beberapa generasi yang berlanjut sampai generasi sekarang. Mereka mendominasi bukan dari kekuatan dan diskriminasi, namun dengan memanipulasi aparatur pemerintahan lokal maupun pusat. Dengan kecerdasannya Serafall seharusnya menjadi aset yang berharga bagi keluarga yakuza Sitri, tapi dia menolak. Lebih tepatnya dia tidak akan bisa menjadi penerus keluarga Sitri.
Serafall sangatlah lembek, pesimistis, dan hatinya terlalu baik untuk menjadi seorang yakuza. Sejak kecil dia sangat dekat dengan ibunya yang memang memiliki karakter serupa. Seiring berjalannya waktu karakter Serafall semakin tumbuh menjadi gadis kebanyakan tanpa sedikitpun mencerminkan sifat penerus organisasi yakuza.
Menginjak masa remaja, Serafall sangat paham arti dari kelemahannya jadi agar tidak merepotkan keluarganya, Serafall memutuskan untuk tumbuh sebagai gadis biasa dan memutus semua hubungannya dengan keluarga Sitri. Menempuh pendidikan formal sampai jenjang kuliah hingga akhirnya bekerja di Kuoh Gakuen sebagai guru termuda lalu hidup mandiri dengan nama baru diluar wilayah keluarga Yakuza Sitri.
Serafall Levi adalah nama yang dipilih Serafall untuk identitas barunya, dia tidak membuang nama Serafall yang merupakan pemberian dari kedua orangtuanya dan hanya mengganti marganya. Sebenarnya hubungan Serafall dengan keluarga yakuza Sitri masih belum jelas, keduanya seperti terjebak dalam Gray Area. Keluarga yakuza Sitri masih sangat terbuka untuk kembali menerima Serafall, namun Serafall sendiri pasti tidak akan cocok dengan gaya hidup yakuza.
Untungnya Serafall punya Imouto yang penuh dengan potensi untuk meneruskan keluarga yakuza Sitri, namanya Sona. Sejak kecil Sona sudah menunjukkan sifat yang berkebalikan dari kakaknya sewaktu kecil. Sifat Sona inilah yang digunakan Serafall untuk memutuskan hubungannya dengan keluarga yakuza Sitri. Akibat dari kejadian itu hubungan antara Sona dan Serafall sedikit banyak telah berubah.
Sona menganggap jika kakaknya, Serafall tega menyerahkan semua tanggung jawab keluarga yakuza Sitri kepada dirinya seorang. Sementara itu Serafall menganggap dirinya hanya akan menghambat kewajiban Sona sebagai penerus keluarga yang lebih kompeten darinya jika terus berada di dekatnya. Kedua pemikiran kakak beradik yang saling berseberangan ini membuat komunikasi diantara mereka berubah menjadi seperti orang asing yang tidak saling kenal.
Sapaan akrab telah berubah menjadi salam formal, sementara itu di setiap bertemu Sona juga mengatakan hal yang sama secara berulang-ulang. "Keluarga Sitri akan menerimamu dengan tangan terbuka jika ingin kembali." Ajakan yang semestinya berisi perasaan mendalam antar anggota keluarga itu kini hanya sebatas sebagai formalitas karena kepala keluarga Sitri saat ini masih mengakui Serafall.
Cukup dengan nostalgianya. Saat ini Serafall telah sampai di kompleks perumahan keluarga Sitri. Berbeda dengan Mansion Hyoudo yang merupakan gambaran dari kamp orientasi, pelatihan, sampai markas besar, kompleks perumahan Sitri terlihat seperti sebuah distrik. Tentunya bukan distrik biasa, melainkan distrik kriminal yang mendistribusikan berbagai barang-barang ilegal mulai dari obat-obatan, mainan ilegal, rokok tanpa pita cukai, hewan langka, sampai organ dalam manusia. Memangnya apa yang kau harapkan dari bisnis yakuza selain sesuatu yang ilegal?
Ketika pintu Limusin itu terbuka, sontak Serafall dan Sona menjadi pusat perhatian. Tidak seperti yakuza Hyoudo, yakuza Sitri lebih memperhatikan rasio jenis kelamin anggotanya. Buktinya jumlah anggota laki-laki dan wanitanya cukup seimbang, meski begitu mereka tetap saja yakuza. Tidak peduli jenis kelamin dan sebagainya, mereka bisa saja menimbulkan gangguang keamanan dan ketertiban dalam skala kota.
Serafall mendapati berbagai jenis tatapan mulai dari "Siapa dia, kenapa bisa bersama dengan Sona-Ojousama?" hingga "Dasar tidak tahu diri." masih belum berubah banyak dari beberapa tahun yang lalu. Sadar dengan tatapan tidak enak yang mengintai kakaknya, Sona langsung mengajak Serafall menuju ke aula utama keluarga yakuza Sitri.
Sepanjang perjalanan dua kakak beradik itu hanya diam, tidak ada yang mencoba membuka percakapan meski hanya sekedar basa-basi. Sepanjang jalan menuju aula utama, Sera melihat pemandangan yang tidak banyak berubah meski telah dia tinggal beberapa tahun. Ada sebagian orang khusus yang mempersiapkan upacara Serenade, upacara memanjatkan doa yang biasa dilaksanakan oleh keluarga yakuza Sitri setiap tahunnya.
Upacara Serenade dipimpin oleh miko yang berasal dari keluarga inti Sitri itu sendiri, dan sekarang posisi itu jatuh diantara Sona dan Serafall. Namun Lady Sitri bersikeras agar Serafall yang memimpin upacara ini setiap tahunnya sebagai syarat dia keluar dari keluarga yakuza Sitri, hal ini dilakukan agar Serafall mau mengunjungi kompleks perumahan Sitri meski dia sudah memutuskan hubungannya.
Karena keputusan itulah setiap tahunnya Sona dan Serafall juga dapat bertemu, pertemuan tahunan ini setidaknya dapat menjaga jarak diantara mereka agar tidak semakin menjauh lagi.
"Serafall-sama, Lord dan Lady Sitri pasti tidak akan senang melihat wajah cemberut anda." Akhirnya Sona membuka pembicaraan, meski begitu tidak ada waktu bagi Serafall untuk membalasnya karena mereka sudah sampai di depan pintu aula utama.
Serafall sendiri sebenarnya tidak membenci perannya di upacara Serenade meski telah membuat kesannya keluar dari keluarga Sitri menjadi setengah hati, bahkan Serafall suka dengan acara ini karena dia bisa bertemu dengan orang tuanya sekaligus menunjukkan pencapaiannya selama hidup mandiri diluar keluarga Sitri. Alasan Serafall cemberut adalah karena dia memikirkan Namikaze yang berhasil menghancurkan keluarga yakuza Hyoudo seorang diri.
Menurut perkirannya Namikaze pasti menyerang keluarga Hyoudo secara mendadak, dia pasti memilih bertarung secara Stealth yang lebih masuk akal dilakukan sendirian daripada Rush yang terlihat sangat heroik dalam beberapa aspek. Hyoudo yang termahsyur secara kekuatan namun juga terkenal emosional, menurutnya hanya bisa dihancurkan dengan terlebih dahulu membunuh pemimpinnya atau orang yang berpengaruh di dalamnya.
"Sera..." Akibat dari pikirannya itu Serafall nampak tidak sadar jika dia telah masuk ke dalam aula utama, sampai-sampai Lady Sitri khawatir dengan tingkah laku putri sulungnya.
"Apa yang kau pikirkan?" Lanjut Lady Sitri.
"Hyou..."
"Issei, Hyoudo hancur karena penerusnya tidak berbakat dalam hal selain bertarung. Kita tidak bisa berbuat apa-apa meski telah tahu perawakan fisik pelakunya." Belum sempat Serafall mengutarakan isi pikirannya, Lord Sitri menginterupsi perkataan Serafall. Topik ini sedikit sensitif jika dibahas sekarang, atau setidaknya jika dibahas dengannya. Bayangkan saja, dia baru kehilangan salah satu sekutu yang terkenal kuat hanya dalam hitungan jam, apalagi Lord Sitri juga melihat sendiri bagaimana pemuda itu membantai pemimpin keluarga yakuza Hyoudo yang notaben setara dengannya, dibunuh dengan keji bahkan mayatnya juga dimanfaatkan dalam rencana selanjutnya. Monster yang berwujud manusia adalah satu-satunya frasa yang cocok untuk menggambarkan berbagai kelakuan biadab pemuda pirang itu.
Ngomong-ngomong soal monster, Lord Sitri sedikit melirik ke arah Lady Sitri, beberapa detik kemudian pandangannya kembali ke arah kedua anaknya.
Pembicaraan selanjutnya mengarah pada pelaksanaan upacara Serenade, meski sebenarnya kegiatan itu hanyalah gimmik yang digunakan oleh keluarga Sitri untuk bisa berkumpul bersama dengan seluruh anggotanya.
MEANWHILE...
Saat ini Namikaze telah sampai di alamat yang ditulis oleh Ichiraku dengan adonan mie ramennya, alamat itu berada di kota Kyoto, kota yang dikuasai oleh keluarga yakuza Sitri. Mengingat sifat orang yang tinggal di alamat ini, Namikaze tidak terlalu yakin jika dia bisa keluar kota Kyoto dengan bebas. Tidak mau terganggu oleh memorinya sendiri Namikaze langsung memarkir motornya lalu memencet tombol bel yang ada di pintu depan.
Ketika pintu terbuka Namikaze dikejutkan dengan pemandangan yang tidak pernah dia bayangkan akan dia lihat disini. Di depannya ada seorang pria yang berpose ala vampir menghisap darah dari film-film mainstream lengkap dengan mangsanya yang berupa wanita muda. Namun Namikaze sadar kalo yang dia lihat bukanlah bagian dari syuting film, bahkan bau daranya bisa dicium oleh Namikaze sekaligus mengkonfirmasi kalau orang di depannya ini adalah seorang kanibal.
Pria yang membuka pintu tadi sangat cuek dengan reaksi Namikaze, dia hanya membuka pintu dengan alasan suara belnya akan mengganggu kegiatan minumnya. Tak berselang lama muncul figur baru yang cukup dikenal oleh Namikaze, orang itu langsung menarik temannya yang sedang asyik meminum darah lalu menyuruhnya untuk melanjutkan minumnya di dalam, ruangan yang sangat dalam.
Setelah pemandangan yang cukup menjijikkan itu menghilang dari pandangannya barulah Namikaze bisa fokus dengan figur baru yang muncuk di depannya, dialah sang Human Hunt Kakuzu.
"Ada urusan apa? Tidakkah kau sadar kalau kau itu sangat hipokrit, Menma?" Tanya Kakuzu secara beruntun. Dia masih ingat dengan sosok pemuda di depannya, bukan hanya secara fisik namun juga semua yang dia lakukan saat mengganggu bisnisnya dulu. Sebenarnya Kakuzu bukanlah target yang diincar oleh Namikaze namun karena hubungannya dengan Ocean Dust, dia ikut terkena getahnya, dan sekarang dia memulai lagi bisnisnya dari titik awal.
"Apa kau punya link dengan Sitri?" Tanya Namikaze tanpa basa-basi. Dia tidak mempermasalahkan nama Menma yang disematkan padanya. Saat ini ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar meluruskan kesalah pahaman itu.
"Apa urusanmu dengan mereka? Gara-gara kau ikut campur masalah Ocean Dust, aku harus memulai semuanya dari awal. Kalau kau ingin macam-macam dengan mereka lebih baik kau mati di..."
"Ichiraku." Potong Namikaze singkat. Fakta bahwa Ichiraku mengenal Kakuzu bisa dia artikan dengan 2 hal, yaitu kenal dengan baik atau kenal sebagai musuh. Dengan menyebutkan nama Ichiraku disini, Namikaze sedang bertaruh dengan sedikit informasi yang dia punya.
Tanpa banyak tanya, Kakuzu langsung memberi isyarat Namikaze untuk masuk ke dalam rumahnya. Untuk meladeni pembicaraan yang rahasia, Kakuzu telah menyiapkan ruangan khusus yang kedap suara. Percakapan yang akan terjadi mulai sekarang terlalu sensitif jika sampai menyebar ke lingkungan sekitar.
Ruangan khusus yang dimaksud Kakuzu mirip seperti ruang tamu biasa namun setiap sisinya dilengkapi dengan peredam suara yang membuat suara dari dalam tidak bocor keluar, begitu pula sebaliknya. Tanpa menunggu diperintah, Namikaze langsung mengambil inisiatif duduk di sofa kemudian diikuti oleh Kakuzu.
"Singkatnya Ichiraku adalah salah satu pemasok organ saat aku masih bermitra dengan Ocean Dust. Dia tidak peduli berapa yang kubayarkan, dan barang yang dia bawa selalu dalam kondisi utuh dan segar, dia adalah supplier terbaikku." Kata Kakuzu mengawali percakapan mereka. Sedikit banyak orang di depannya ini pasti penasaran tentang hubungannya dengan Ichiraku tempo dulu.
Sementara itu Namikaze sama sekali tidak merespon pernyataan Kakuzu. Baginya hubungan mereka sudah jelas, Kakuzu sang Human Hunt yang terlibat dalam penjualan organ manusia bahkan manusia itu sendiri sedangkan Ichiraku seorang pembunuh bayaran. Dibayangkan sekilas saja sudah pasti hubungan mereka mirip seperti pemasok dan distributor.
"Sitri adalah mitra yang penting bagiku. Aku tidak akan membiarkan mereka terusik karena bisnisku pasti akan hancur sekali lagi." Ujar Kakuzu mendeklarasikan hubungannya dengan keluarga yakuza Sitri.
Bukk...
"Serafall, aku perlu menemukan seseorang yang bernama Serafall di keluarga yakuza Sitri. Setelah itu aku akan pergi." Namikaze sudah muak dengan omong kosong seputar kemitraan yang telah diulang-ulang oleh Kakuzu. Sampai-sampai Namikaze mengeluarkan pisau lipat lalu menggebuk sofa yang dia duduki.
Menutup matanya, Kakuzu mencoba untuk berpikir dengan jernih. Dia sudah melihat sendiri bagaimana reputasi pemuda di depannya beberapa tahun yang lalu, membiarkan dia bertindak tanpa pengawasan sangatlah berbahaya. Tapi disisi lain tidak ada orang yang cukup gila hingga sanggup mengawasi Namikaze Menma. Kalau begitu pilihannya hanya bertaruh pada pihak ketiga.
"Serafall... adalah nama dari anak sulung keluarga yakuza Sitri sekaligus pewaris yang sah. Intinya dia memutus hubungannya dengan keluarga Siti, namun setiap tahun dia pasti berkunjung ke kompleks perumahan Sitri untuk memimpin upacara Serenade. Hanya itu yang bisa aku kataka..."
Bukk!
"Upacaranya akan diadakan sore ini, sekitar 2-3 jam dari sekarang. Sekarang pergilah dari hadapanku sebelum aku aku berubah pikiran." Kakuzu sudah menyerah, maksud awalnya adalah membicarakan hal ini secara baik-baik namun sifat keras kepala Menma tetap tidak berubah.
"Apa kau punya... satu set pakaian formal?" Setelah beberapa saat tanggapan itulah yang keluar dari mulut Namikaze.
"Hah...?"
TIME SKIP
Saat ini Namikaze telah memakai setelan formal khas seorang pelayan restoran yang didapat dari Kakuzu. Kakuzu bilang kalau setelan ini adalah pakaian cadangan milik Ichiraku yang ada di rumahnya, daripada dibiarkan berdebu lebih baik dia berikan kepada orang yang membutuhkannya, lagipula Ichiraku sudah pensiun.
"Aku berjanji. Tidak akan ada satupun keluarga yakuza Sitri yang terbunuh." Ucap Namikaze selagi berjalan keluar dari rumah Kakuzu. Daripada mengucapkan terima kasih dia lebih memilih untuk mengucapkan janji yang dia rasa lebih dibutuhkan oleh Kakuzu.
"Ngomong-ngomong aku titip ranselku." Setelah mengucapkan kalimat itu Namikaze langsung menggeber motor hasil rampasannya, tujuannya hanya satu tempat yaitu kompleks perumahan Sitri.
Sementara itu Kakuzu hanya bersikap acuh setelah mendengar ucapan Menma sebelum pergi dari rumahnya. Setelah yakin Menma sudah tidak terlihat dari pandangannya, Kakuzu mengeluarkan smartphone miliknya dan menghubungi sebuah nomor.
"Ada apa Kakuzu? Saat ini aku sedang sibuk." Tanya kesal sebuah suara dari seberang telepon Kakuzu, terdengar jelas suara hiruk pikuk yang ada disana.
"Aku hanya memberi pelangganku servis tambahan. Berhati-hatilah, Kokabiel." Setelah mengatakan itu Kakuzu langsung menutup sambungan teleponnya. Dia memberikan peringatan yang mungkin bisa sangat berguna bagi pelanggannya yang sudah memberikan penawaran tertinggi hanya untuk sebuah informasi dan menjamin kelangsungan bisnisnya.
'Beberapa jam lagi, kompleks perumahan Sitri akan menjadi medan pertempuran. Senang berbisnis denganmu.' Kakuzu kemudian masuk ke dalam rumahnya, kedatangan Menma membuat pekerjaannya sedikit terhambat. Masih ada banyak pesanan yang harus dia siapkan.
"Hidan! Kita harus bekerja!"
~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~
A.N:
Well... saya baru mengubah beberapa hal seperti penambahan Summary, dan memberikan nama untuk arc yang saat ini sedang berjalan karena ada reviewer yang bingung memahami ceritanya. Ya gak salah juga sih kalo bingung soalnya saat chap 3 kemarin, arc PROLOG belum kelar udah muncul chara lain buat nyambung ke chap 4. Untuk chap 1-3 itu anggep aja itu chap prolog.
Ada saran? Apa aja mulai dari pengembangan karakter, soal penulisan, dan sebagainya. Saat ini saya udah sampe mensegmentasi karakter untuk jadi keluarga yakuza yang lain, hubungan mereka gimana, dan konfliknya apa.
Apa Namikaze terlihat TERLALU DIGDAYA? Sampai saat ini saya gak akan mengkonfirmasi Namikaze itu siapa (makanya gaya rambutnya saya ubah jadi poni lempar biar gak spoiler ke spesifik karakternya). Naruto, Menma atau bahkan Minato mungkin bisa aja tergantung bagaimana ceritanya berkembang.
Saya dengan senang hati menerima PM seputar apa saja. Tanya, saran, atau sekedar ngobrol biasa. Selain PM, saya rasa diskusi di grup facebook fanfiction indonesia juga bisa.
Word terlalu pendek? Ini membuat saya lebih mudah membagi arcnya jadi prolog, main event, ending. Plus gak stress juga.
